DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kegundahan Mimi


__ADS_3

Di'ah yang sedang dirumah sendirian, membersihkan semua ruang rumah, bahkan pakaiannya telah selesai di cuci.


Saat menjemur Di'ah melihat anak-anak didik Mimi ada di kebun mereka. Di'ah yang telah siap menjemur, dia pun turun dari rumah mendekati anak-anak yang sedang bertanam di kebun Mimi.


"Kalian sedang apa?" tanya Di'ah ramah.


"Lagi tanam jagung Bu dokter." jawab Raka. Di'ah melihat Soni adik Sofyan sedang menunggal ( membuat lubang lada tanah pakai kayu yang sudah di bentuk bulat di ujungnya )dan Raka memasukkan bibit jagung ke dalamnya.


Sedangkan Riki dan Ryan, mereka berdua menanam batang ubi kayu dan ubi jalar di kebun sebelahnya.


"Itu ubi buat ambil isi atau sayur Ki?" tanya Di'ah, yang mengambil batang ubi jalar.


"Yang ini buat isi Bu, kalau yang sayur di samping rumah." ucap Riki.


"Ndak usah Bu, biar kami saja." ucap Sofyan mencegah Di'ah yang akan ikut menanamkan bibit tanaman.


"Ndak apa, ibu bantu. Ibu juga ndak ada kegiatan." ucap Di'ah.


Tak lama sehabis menanam, Di'ah naik ke rumah untuk mengambil air es untuk anak-anak.


"Ayo minum duku, maafnya ibu ndak buat makanan." ucap Di'ah.


"Ndak apa Bu." jawab Riki dan yang lain.


"Emm Riki, Sofyan kalian bisa ndak pasang luka?" ucap Di'ah.


"Bisa Bu." jawab mereka berdua.


"Emm kalau gitu bisa bantu ubi untuk kadang luka nya Ndak. Soalnya stok lauk di rumah tinggal buat sekali masak lagi." jawab Di'ah.


"Boleh bu, dimana luka nya biar saya ambil.'' ucap Sofyan.


"Biar ibu aja, oh ya pakai umpan ya. Umlannya apa?" tanya Di'ah.


"Kau ada nasi pakek minyak kelo Bu." sahut Raka.


(Minyak kelo\= minyak jelantah)


"Oo ok." Jawab Di'ah dan beranjak mengambil nasi serta minyak jelantah dan luka nya.


Mereka Kun bersama-sama menuju sungai belakang rumah, Riki dan Sofyan memasang luka dan dia memberitahukan kepada Di'ah cara mengambil luka nya esok pagi.


Di'ah merasa senang bisa berteman dan bercengkrama dengan anak-anak, Di'ah bisa merasakan apa yang Mimi rasakan dengan berteman sama mereka.


Diah juga mengajak mereka untuk mancing udang setelah Di'ah bertanya bagaimana mereka kemarin-kemarin bisa mendapatkan udang.


Tapi hasil yang di dapatkan Diah tidak lah banyak seperti Mimi dan yang lain. Namun dia merasa sangat bersyukur bisa memperoleh pelajaran sederhana dari anak-anak ini.


Di Jambi, keluarga besar Syahril telah menemui keluarga sang gadis dua hari lalu. Keluarga sang gadis sang bahagia atas kedatangan mereka bahkan mereka pun telah membuat perencanaan secara matang.


Orang tua gadis juga ingin agar pernikahan ini disegerakan apa lagi usia anak-anak mereka tak lagi muda, bisa di bilang sudah cukup untuk berumah tangga. Namun semua juga tinggal menunggu sang gadis yang sedang tak berada di rumah


Sang kakek juga berharap keluarga sang gadis menerima dan menyegerakan pernikahan cucu nya Syahril. Dia ingin melihat Syahril bahagia dan dia ingin bisa melihat kedua cucunya segera menikah karena kakek akhir-akhir ini sehingga sakit-sakitan dan dia takut tak bisa melihat kebahagiaan kedua cucunya dari anak pertamanya itu.


Kakek juga ingin melihat cucunya Zacky dari anak keduanya menikah, namun dia tak bisa berbuat apa-apa apa lagi cucunya Zacky sedang menempuh pendidikan di luar negeri.


Dari semua anak-anak kakek yang laki-laki anaknya yang pertama yang beruntung. Yah itu adalah Syarif babahnya Syahril anak pertama yang pernah di usirnya.


Babah beruntung menikah dengan Umma yang Nita Bene adalah ank dari pengusaha sukses pada zamannya.


Umma sebenarnya bukanlah anak tunggal, dia punya Abang namun abangnya telah meninggal saat akan melangsungkan pernikahan. Semenjak itu umma menjadi anak tunggal di keluarganya.


Terkadang kakek merasa menyesal memaksa kehendaknya dulu pada anak-anaknya. Sekarang anak-anaknya yang menentang kehendaknya telah berhasil dan bahagia mendakpatkan pasangan yang merupakan pengusaha.


Penyesalan memang selalu datang belakangan, sifat yang keras yang sering di banggakan nya membuat dia menjauh dari anak menantu, tali sekarang kakek bahagia anak-anak nya memaafkan atas segala kelakuannya dulu


Mimi dan Syahril telah sampai di dusun Bungin, ternyata di dusun Bungin tak turun hujan namun hanya mendung saja.


Mereka berdua turun dari mobil, terlihat rumah yang sepi tak berpenghuni.


"Pada kemana orangnya." ucap Syahril melihat dalam rumah sunyi.


"Lagi keluar kali kak." ucap Mimi berusaha bersikap tenang.


"Masa iya sudah jam segini mereka masih di luar dek." ucap Ryan dengan melihat ke arlojinya yang sudah menunjukkan jam 5.30 sore.


"Mungkin lagi jalan-jalan." jawab Mimi sembari masuk kamar mengambil handuk dan baju gantinya, gak lupa Mimi membawa pakaian-oakaian kotor nya yang akan dia cuci.


Walau hatinya Mimi sedang gundah mendengar kabar dari Syahril tadi, dia berusaha untuk tegar. Jika kedepannnya Syahril kembali di jodohkan dan Syahril lun menyetujui nya seperti yang dia ucapkan tadi di jalan. Mimi berusaha akan mengikhlaskan nya, walau lagi-lagi sakit hati yang akan di terima nya.


Di dalam kamar mandi Mimi segera menghidupkan mesin cucinya, setelah hidup Mimi mencurahkan rasa yang sesak di dadanya di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Mimi menangisi nasibnya sendiri, dia tidak tau harus berbuat apa. Dia merasa kecewa bahkan merasa egois dengan dirinya sendiri.


"Kenapa tuhan, kenapa aku lagi-lagi harus kehilangan orang yang aku cintai.." ucap Mimi.


"Apa aku tidak berhak bahagia, apa aku terlaku egois menunda pernikahan ku."


"Ya Tuhan, kenapa mereka tidak ingin bersabar, hanya tinggal hitungan beberapa bulan kedepan ya Allah.."


"Kenapa merak malah menjodohkan kembali, padahal kami telah bertunangan, terus apa gunanya semua ini." ucap Mimi mencurahkan segala isi hatinya.


"Aku capek, mas Abi.. kenapa mas tinggalin Mimi masa." ucap Mimi yang seketika terkenang almarhum Abizar.


"Kenapa semua meninggalkan Mimi. Apa salah dan dosaku Rabb sehingga aku tak berhak mendapatkan kebahagiaan ku." Mimi terus meluapkan emosi nya. Mimi merasa dirinya tak mendapatkan kebahagiaan.


Keberhasilan nya dalam meraih kesuksesan dalam berkarir tetapi dia kalah dalam percintaan.


Sudah begitu lama Mimi di dalam kamar mandi sehingga membuat Syahril khawatir.


"Dek Dek." panggil Syahril dengan mengetuk kamar mandi.


"Emm" jawab Mimi.


"Sudah belum, kok lama." ucap Syahril.


"Emm bentar lagi." jawab Mimi yang akhirnya memulai mandinya dengan cepat kilat.


"Lagi ngapain di dalam, buruan dek dah mau Maghrib nih." seru Syahril, Mimi tak menjawabnya, Syahril duduk di kursi sambil menunggu Mimi selesai.


Tak lama Ryan dan Di'ah masuk kedalam rumah lewat pintu belakang, Syahril melihat mereka berdua senang karena telah akur kembali.


"Dah pulang Riil?" tanya Ryan.


"Emm setengah jam lalu." jawab Syahril


"Terus kenapa kamu di sini?' tanya Ryan.


"Nunggu Mimi mandi." jawab Syahril.


"Ckk dari pada nunggu lama mending mandi di luar Riil Riil " ucap Ryan dengan menepuk bahu Syahril.


"Thanks" bisiknya dan Ryan lun berlalu menyusul sang istri ke kamar. Syahril tersenyum bahagia melihat sepupunya bisa mengatasi masalah rumah tangga nya.


Tak lama Mimi keluar dari kamar mandi, dengan berpakaian lengkap serta rambut di gelung pakai handuk.


"Boker dulu tadi." jawab Mimi beralasan. Syahril masuk kemar mandi dan Mimi berjalan menuju kamar nya.


Di dekan cermin Mimi melihat dirinya di pantulan cermin itu.


"Kau kurang beruntung Mi." ucap Mimi lada bayangannya di cermin. Berulang kali Mimi menarik nafasnya, Mimi menyisir rambut panjangnya yang basah, semakin ingin Mimi melupakan ucapan-ucapan Syahril tadi semakin terngiang pula ucapan itu di telinganya.


Mimi menyiapkan pakaian Syahril yang akan dikenakannya ke masjid. Sehabis mandi dan bersiap-siap Syahril, Ryan dan Di'ah pergi ke masjid. Kali ini Mimi yang tidak ikut, Mimi beralasan kalau kepala nya pusing.


Mimi sholat Maghrib seorang diri di rumah, sehabis sholat Mimi curahkan segala yang ada di hatinya pada penciptanya. Mimi kembali mengadu pada sang khalik. Setelah itu baru Mimi mengaji.


Ketiga penghuni rumah ternyata tak langsung pulang, mereka tetap di masjid bersama Kadus. Entah apa yang mereka bicarakan.


Mimi yang memang lagi pusing dengan jalan hidupnya memilih rebahan dan akhirnya tertidur.


Syahril dan yang lain pulang melihat rumah sunyi.


"Kemana Mimi Riil?" tanya Ryan.


"Apa dia ikut ke masjid juga tadi nyusul kita gitu." imbuh Ryan.


"Palingan tertidur, ala lagi tadi katanya dia lagi pusing." jawab Syahril dan langsung menuju kamarnya.


Terlihat Mimi tertidur dengan pulas, Syahril mengusap rambut Mimi dan mengecup kepala Mimi. Syahril juga menaikkan selimut Mimi yang melorot ke bawah.


Syahril keluar kamar dan menuju dapur. Ryan dan Di'ah sudah berada di dapur, Di'ah melayani Ryan.


"Maan Mimi kak?" tanya Di'ah.


"Dia dah tidur." jawab Syahril.


"Lah nanti siapa yang ngajar anak-anak." tanya Di'ah.


"Ya sementara kita saja." jawab Syahril.


"Apa Mimi sudah makan Riil?" tanya Ryan.


"Kayaknya belum deh kak, nih lauk aja masih utuh." jawab Di'ah.

__ADS_1


"Mungkin dia makan mie ayam baksonya." jawab Syahril yang melihat baksonya berkurang satu.


"Kamu Ndak makan Riil?" tanya Ryan.


"Aku makan mie ayam bakso aja Yan, nih kalian nanti habisin juga bagian kalian." ucap Syahril dengan menunjukkan kantong plastik berisi mie ayam bakso itu.


"Sini kak, biar aku saja yang panasi." ucap Di'ah saat melihat Syahril beranjak akan memanaskan kuah bakso.


"Tidak usah Di'ah, makasih." jawab Syahril dan Syahril Kun mulai memanaskan kuah bakso nya.


Tak lama anak-anak pun tiba, Syahril meminta Di'ah untuk memberikan mereka mie ayam bakso yang dibeli Mimi tadi. Di'ah pun dengan segera beranjak ke dapur dan Di'ah langsung menandakan kuah baksonya terlebih dahulu sebelum menyajikan pada anak-anak'


"Ayo ini dimakan dulu selagi hangat." ucap Syahril ketika Di'ah menyajikan mangkok mie ayam bakso yang disajikan Di'ah.


Syahril juga telah memberitahu pada anak-anak kalau Mimi tidak bisa mengajari mereka malam ini, karena Mimi sedang pusing dan tak enak badan. Merak mengerti dan mereka mulai belajar seperti biasa setelah selesai makan mie ayam bakso.


Di dini hari Mimi terbangun, Mimi melihat Syahril tertidur di sampingnya sambil memeluk erat Mimi.


Mimi melihat wajah teduh Syahril yang sedang tertidur pulas.


"Apa kita tak memiliki jodoh kak." gumam Mimi dalam hati.


"Kenapa cinta kita selalu di uji. Apa kota tak ada jodoh dalam hidup kita."


"Jika kakak menerima dan menyetujui pilihan mereka, kenapa kakak tetap seperti ini pada Mimi."


"Jangan beri Mimi harapan semu kak." ucap Mimi dalam hati.


Perlahan Mimi melepaskan tangan Syahril yang berada di pinggangnya, perlahan Mimi turun dari ranjang dan keluar kamar menuju dapur.


Mimi merasa perutnya lapar, Mimi melihat dalam lemari makan yang terbuat dari kayu itu. Masih ada lauk goreng udang tepung, sambal petai. Mimi mengambil nasi dan dia pun makan malam di dini hari.


Perlahan Mimi mengunyah, dia gak berselera makan namun perutnya terasa perih. berulang kali dia menarik nafasnya.


Entah berapa lama Mimi berada di dapur untuk mengunyah makanan itu. Akhirnya nasi dalam piring pun habis.


Mimi segera mencuci piringnya di kamar mandi dan setelah itu dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam nya.


Keesokan paginya, Syahril tidak pergi kemana-mana, dia dinas tetao di dusun. Saat sarapan Syahril mengatakan kalau mereka semua mendapat undangan di acara nikahan anak pak Kadus.


"Emm kapan?" tanya Mimi.


"Hari Minggu besok ini dek." jawab saya Syahril.


"Emm Mimi Ndak bawa baju buat kondangan kak." jawab Mimi.


"Mau beli?" tanya Syahril, Mimi melihat ke arah Syahril dan mengangkat kedua bahunya.


"Yaudah siang ini pulang kerja kita ke kota." ucap Syahril.


"Emm benaran?" tanya Mimi dan Syahril mengangguk.


"Kalian ikut bdak Yan, Di'ah." ucap Syahril.


"Ikut lah Riil, aku dan Di'ah juga Ndak punah baju buat kondangan.'' jawab Ryan.


"Yaudah kalau gitu siang nanti kita berangkat. Emm dek kamu mau ikut ke puskesmas atau di rumah?" ucap Ryan dan bertanya lada Mimi.


"Mimi di rumah saja, sekalian nanti mau bilang ke Riki kalau malam ini tidak belajar." jawab Mimi.


"Yaudah, Kaka berangkat dulu ya" ucap Syahril berpamitan setelah sarapannya selesai.


"Emm iya." jawab Mimi dengan berbagai mengikuti Syahril kedepan.


Di'ah yang masih berada di dapur, membereskan meja dan dia segera mencuci piring kotor dengan segera.


"Kakak berangkat ya, kamu hati-hati di rumah, assalamualaikum. " ucapo Syahril dengan mengulurkan tangannya.


"Iya waalaikum salam." jawab Mimi dengan mencium tangan Syahril dan Syahril mengecup kening Mimi dan mengusap kepala Mimi.


Tak lama Ryan dan Di'ah pun berpamitan.


"Mi, kami berangkat dulu ya." ucap Di'ah.


"Iya hati-hati." jawab Mimi dengan senyum.


"Assalamualaikum." ucap Ryan dan Di'ah.


"Waalaikum salam." jawab Mimi. Setelah mereka pergi, Mimi melihat halaman rumahnya kotor pergi kebelakang untuk mengambil sapu lidi. namun sebelumnya Mimi akan mencuci piring dan menjemur pakaian nya terlebih dahulu.


Saat di dapur Mimi tidak menemukan piring kotor bahkan meja makan pun telah rapi. Mimi tersenyum senang. tugas Mimi tinggal menjemur pakaian nya.

__ADS_1


Walau hatinya tak menentu Mimi tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja, Mimi pun mengisi waktu luangnya dengan membersihkan halaman rumahnya.


tbc


__ADS_2