DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
penculikan


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, hampir satu tahun Mimi di negara orang. Di'ah juga sudah mulai beradaptasi. Tinggal hitungan bulan Di'ah akan melangsungkan pernikahannya, yah tinggal empat bulan lagi Ryan dan Di'ah akan mengarungi bahtera rumah tangga.


Di'ah mulai memasukkan bahan nya untuk kuliah di kampus Mimi, Diah mencoba memakai jalur beasiswa.


Hari ini selepas Mimi dan Di'ah dari kampus mereka berdua pergi ke mall untuk sekedar menghilangkan rasa penat.


Tanpa disangka Mimi bertemu dengan teman lamanya, teman yang menikam dirinya dari belakang. ini kali kedua Mimi teman lamanya itu.


"Di'ah, kita duduk disana yok" ajak Mimi.


''Hmm ayok, aku pesan minum dulu yo." jawab Di'ah dan dia berlalu menuju stand minuman.


Mimi berjalan menuju meja dalam cafe itu namun sebelumnya Mimi berhenti di meja dimana teman lamanya sedang menikmati secangkir capuchino.


"Hai, Riska." ucap Mimi dengan senyum, garis itu m lihat ke arah Mimi.


"Eh Mimi." ucapnya canggung.


"Sendirian Ris?" tanya Mimi.


"Hmm iya, ayo Mi duduk." ucap nya dan mempersilahkan Mimi duduk, Mimi tersenyum mengangguk dan duduk di hadapannya.


"Apa kabarnya Ris?" tanya Mimi lagi.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat." ucapnya sembari mengaduk capuchino nya.


"Mimi sendirian?" Riska balik tanya pada Mimi.


"Emm ndak, tuh sama teman mimi.'' ucap Mimi dengan menunjuk ke arah Diah yang sedang mengantri.


"Riska lagi liburan ya?" tanya Mimi.


"Hemm nggak mi, aku tinggal disini ikut suami." ujarnya.


"Wah Riska udah merid? selamat ya, sama.." ucap Mimi sembari mengulurkan tangan memberi selamat.


"Emm nggak, suamiku pengusaha berasal dari sini, makanya aku ikut tinggal disini." ucapnya.


"Oo" ucap Mimi manggut-manggut.


"Oh ya, beberapa bulan lalu Mimi ada lihat Riska di Harvard university, Riska kuliah disana?" ucap Mimi.


"Hemm, iya rencana bulan lalu mau ambil jalur beasiswa tapi dah kosong." ucapnya sembari menyeruput capuchino nya.


"Iya, harusnya Riska melalui online ambilnya jadi cepat." ucap Mimi.


"Hmm, aku sebenarnya nggak ada rencana juga sih Mi, cuma ya dari pada di rumah sendirian bosan, jadi aku pikir buat kuliah aja lagi." ucapnya, Mimi manggut-manggut mendengarkan nya.


"Awalnya aku nggak mau merepotkan suami makanya nyoba nyari info jalur beasiswa eh tali dah kosong, kata suami aku kalau mau kuliah ya tinggal kuliah, dia mampu membayarnya." ucapnya.


"Hemm suami pengusaha jelas banyak duitnya dong Ris." ucap Mimi bercanda.


''Iya mi, kemarin aku datang lagi ke kampus itu, suami aku langsung nemuin salah satu rekannya ya Alhamdulillah akhirnya aku bisa.' ujarnya.


"Ya, kalau banyak duit mah gampang Ris mau masuk dimana aja, yang penting Jang berbicara plus ada orang dalam nya."


"Kalau kayak Mimi mah Riska tau sendiri, mana bisa mengandalkan uang, lah uang aja nggak punya jadi ya yang di andalin otak." ucap Mimi.


"Iya mi, sekarang itu apa-apa harus uang duluan yang main." ucapnya.


"Betul Ris, kalau uang banyak ada orang dalam otak minus pun bisa lulus, kalau orang yang nggak punya uang dan ngandalin main otak tanpa uang dan dekengan bisa-bisa kena tendang, yah walau Ndak semua masih adalah seribu satu yang pakai otak lulus murni." ucap Mimi.


Riska diam dan mengelakkan tangannya, ketika Mimi mengucapkan otak minus.


Tak lama Di'ah datang dengan membawa dua cup capuchino dingin.


"Oh ya Ris, kita duluan ya kayaknya mau turun hujan, maklum kita pejalan kaki soalnya hehehe" ucap Mimi dengan termehek.


"Hemm" jawab Riska dengan senyum terpaksa.


Mimi dan Di'ah pun berlalu dari cafe itu, Riska yang sedari tadi menahan amarah nya langsung di lampiaskan nya pada meja dengan menggebrak nya.


"Hei are you oke." tiba-tiba datang perempuan berpakaian seksi menghampiri Riska. Riska hanya menoleh sejenak dengan mengeratkan giginya.


"Kamu kenal dengan perempuan tadi?" tanya perempuan itu.


"Siapa kamu?" tanya Riska.


"Kenalkan aku Jessika" ucap perempuan itu mengenalkan dirinya.


"Aku Riska." jawab Riska.


"Sepertinya kau bukan dari sini?" tanya Jessi.


"Hmm aku dari Indonesia." ujar Riska.


"I see" ucap Jessika.


"Kau kenal dengan perempuan tadi?" tanya Jessika lagi.


"Iya dia teman kuliah ku di Indonesia dulu." jawab Riska.


"Teman, emm tapi kenapa kau terlihat kesal dengannya?"


"Karena dia hidupku hancur, karena dia papah dan mamah ku bercerai dan harta kami habis." ucap Riska.


"Wawww maksudnya dia perempuan tidak benar gitu?" tanya Jessi dengan senyum miring merasa ada partner untuk membantunya membalas dendam.


"Apa dia simpanan atau wanita ja**ng papahmu?" tanya Jessi lagi.


"Bukan" jawab Riska.


"Ah kau tak perlu tau." ucap Riska.


"Heidi calm down, kita bisa bersatu untuk membalas rasa sakit hatimu." ucap Jessika, Riska melihat Jessika mencari sebuah kebenaran.


"Jangan menatapku seperti itu, kau tau. Perempuan tadi itu juga merebut lelaki yang aku sukai. Tak hanya lelaki yang aku sukai, tapi sekarang dia juga merebut lelaki yang di sukai oleh adek ku." ucap Jessika.

__ADS_1


Jessika dan Riska pun saling bertukar cerita dan akhirnya mereka berdua menjalin persekutuan untuk membalas rasa sakit hati mereka.


dua bulan setelah itu Jessika dan Riska serta kedua adik Jessika yang telah mengatur siasat untuk menjatuhkan Mimi ataupun Di'ah.


"Kita tidak bisa terjun langsung, kita harus ajak satu lagi." ucap Riska.


"Hemm siapa?" tanya Jenny.


"Cindy." jawab Riska, yah Riska dan Cindy semakin dekat di kampus, Riska juga mengetahui jika Cindy merasa cemburu karena Dimas lebih memperhatikan Mimi daripada dirinya, padahal apa yang dipikirkan Cindy adalah salah, sehingga Cindy pun akan dijadikan kambing hitam oleh Riska.


"Waw boleh." ucap Jenny.


Keesokan hari nya, mereka mulai menjalankan rencana mereka. Di'ah yang berkerja pagi hari sedangkan Mimi pagi hari berada di kampus karena dia ada ujian.


Saat pulang kerja Di'ah di hampiri Carol.


"Hai Di'ah." sapa Carol


"Hai Carol." Di'ah kembali menyapa


"Kau habis ini mau kemana Di'ah?" tanya Carol yang memang akhir-akhir ini berupaya baik dengan Di'ah.


"Hemm rencana aku mau langsung pulang tapi teringat kalau bahan di apartemen habis jadi ya mau ke supermarket dekat sana aja dulu." ucap Di'ah.


"Wah, aku boleh ikut? aku bosan kalau langsung pulang." ucap Carol semanis mungkin.


"Boleh, ayok." ucap Di'ah dan mereka pun berjalan kaki menuju supermarket itu.


Sedangkan di kampus, saat akan pulang Mimi di hampiri Cindy.


"Kak Mimi." teriak Cindy dengan berlari.


"Huh huh huh" Cindy ngos-ngosan


"Ada apa dek?" tanya Mimi, yah Mimi sudah menganggap Cindy seperti adek nya sendiri karena dia adalah adek dari Revano.


"Kak Mimi, bisa bantuin Mimi nggak?" ucap Cindy.


"Bantu apa? emang Dimas kemana?" tanya Mimi


"Huh kak Dimas kalau pulang ngampus langsung pergi ke rumah sakit kak." ucap Cindy.


"Emm terus mau minta bantu apa?" tanya Mimi.


"Ini kak, aku ada tugas. Aku kurang ngerti maksudnya, kakak bisa nggak ajarin aku, soalnya ntar sore ngumpulnya." ucap Cindy.


"Aku lupa kalau tugas ini di kumpul hari ini, ku kira besok." ucapnya dengan mengerucut kan bibirnya.


"Yaudah ayo, emm kita kesana aja gimana?'' ucap Mimi dengan menunjuk ke sebuah taman di kampus itu.


"Emm kalau di cafe aja gimana kak, sekalian minum gitu." ucap Cindy


"Yaudah ayok." ucap Mimi dan mereka pun menuju sebuah cafe yang tak begitu jauh jaraknya dari apartemen Mimi.


Sepanjang jalan menuju cafe Cindy selalu bercerita mengenai anak Revano dan mbak Revan, mereka berdua pun saling tertawa di jalanan.


Mereka berdua saling bercerita, Di'ah tidak menaruh curiga karena Carol bercerita bagaimana saat dia mulai berkerja di rumah sakit itu.


Tak lama mereka berdua memutuskan untuk pulang namun saat mereka melangkah keluar tiba-tiba mata Diah terasa berat.


"Di'ah, kau baik-baik saja?" tanya Carol.


"Hemm kepala ku sedikit sakit dan berat. Mungkin magh ku kambuh." ucap Di'ah.


"Kau juga sih tadi ku tawarin makan tak mau." ucap Carol sok ketus.


"Hemm aku tidak suka makanan itu" jawab Di'ah dengan terus mengerjakan mata serta mengurut kepalanya.


"Ya sudah, ayo aku antar kau pulang." ucap Carol dengan memapah Di'ah keluar menuju mobil yang tiba-tiba sudah berada di depan mereka.


Di'ah yang merasa gak kuat lagi hanya mengikuti Carol. Carol merasa puas, namun Carol melihat dari spion jika ada mobil yang mengikutinya, dia pun menyuruh orang suruhannya untuk mempercepat laju mobilnya.


Di sebuah cafe Cindy sengaja mengajak Mimi duduk di meja paling belakang yang mana dekat dengan pintu keluar dari belakang.


Yah mereka sedang berada di cafe yang lokasinya dekat dengan jalan besar.


Mimi dan Cindy duduk berdua, Cindy mulai membuka bukunya dan segera bertanya tentang pelajaran yang tidak dimengertinya.


Tak lama datang pramusaji mengantar tiga gelas jus jeruk ke meja nya. Mimi heran kala pramusaji tersebut menaruh 3 gelas jus jeruk itu.


"Kamu yang pesan dek?" tanya Mimi pada Cindy dan Cindy menggeleng.


"Bukan kak, Cindy baru mau pesan." ucap Cindy.


"Itu aku yang pesan, aku lihat ada kalian dan belum ada minuman jadi aku pesan sekalian." ucap Riska yang tiba-tiba berada di meja mereka.


"Wah makasih kak." ucap Cindy.


"Makasih ya Ris" ucap Mimi.


"Sibuk amat kalian berdua." ucap Riska dengan melihat ada beberapa buku di atas meja.


"Iya kak, ini aku ada tugas dan lupa ngerjainnya. Aku lupa kalau tugas ini hari ini ngumpulnya." jawab Cindy.


"Yaudah, ayo kita minum dulu. Kalian mau pesan makan nggak?" tanya Riska.


"Nggak Ris, makasih.'' ucap Mimi dan mengambil gelas berisi jus jeruk dan meminumnya.


Tak lama ponsel Cindy berdering dan ternyata itu dari Dimas.


"Bentar ya kak, aku angkat telpon kak Dimas dulu." ucap Cindy dengan membawa tas ranselnya dan mengangkat telpon dari Dimas di luar.


"Kok bawa tas dek?" tanya Mimi.


"Hehee Cindy mo sekalian ke kamar kecil kak, biasa ini." ucap Cindy dengan menunjuk isi di dalam tas nya.


"Oo yaudah, jangan lama-lama." ucap Mimi, Cindy lun mengangguk dan pergi.

__ADS_1


Mimi menyesal kembali jus jeruk nya karena memang dia merasa haus, namun saat jus itu tunggal sedikit lagi kepala nya merasa pusing.


"Ya Tuhan" ucap Mimi.


"Kamu kenapa Mi?' ucap Riska.


"Apa yang kau lakukan Ris." ucap Mimi dengan berusaha menahan rasa kantuk dan panas dalam dirinya.


"Apa maksud kamu?" tanya Riska.


"Apa mau mu Ris." ucap Mimi dengan geram. yah Mimi merasa jika dia telah di kerjain.


"Aku hanya mau kau hancur." bisik Riska dengan senyum sinis.


Mimi berusaha beranjak untuk segera meninggalkan cafe itu dan berusaha untuk meminta bantuan namun naas Riska lebih dulu merangkul Mimi.


Mimi berusaha berontak, namun tubuhnya seakan lemas. Riska membawa Mimi keluar melalui pintu belakang karena Riska sudah di beritahu jenny kalau Mimi ada yang ikutin.


Saat keluar Mimi tanpa sengaja menabrak seseorang, Mimi melihat dan meminta bantuan dengan tatapan sendunya.


Riska langsung menarik Mimi masuk kedalam mobil dan membawa Mimi pergi segera.


Orang yang ditabrak Mimi masih melihat ke arah mobil itu, terlihat Mimi masih melihat ke arahnya sebelum akhirnya Mimi tak sadarkan diri.


Orang tersebut mencoba mengingat wajah itu dan tak seberapa lama orang berpakaian serba jas hitam keluar.


"Bos" ucapnya ketika bertemu dengan orang yang di tabrak Mimi.


"Kalian disini?" ucapnya dengan dingin.


"Iya bos, apa bos lihat nona muda bersama seorang wanita lewat sini?" tanya orang tersebut.


"Jadi maksud kamu.. Ya tuhan, cepat kau kejar mobil itu." ucap orang tersebut yang tak lain adalah Jack atau bang Jack.


"Ada apa?" tanya sang istri.


"Perempuan tadi adalah Mimi, ati kita kejar mobil itu." ucapnya dengan menarik tangan sang istri untuk kembali ke mobilnya.


Orang suruhan Jenny yang tau bahwa mereka pasti akan dikejar mengubah jalur mereka.


Jack dan anak buahnya saling berhubungan lewat Earpiece.


"Bagaimana?" tanya Jack.


"Maaf bos kota kehilangan jejak." ucap mereka.


"Kerahkan semua anak buah mu." ucap Jack.


"Sayang kau coba lacak GPS di kalung Mimi dari Abizar atau Syahril." ucap Jack dan sang istri pun dengan sigap langsung membuka notebook dan langsung melacak GPS itu.


"Oh ya sekalian kau suruh Sandra mengecek kalung Di'ah, aku yakin dia juga kena." ucap Jack, sang istri pun langsung menghubungi rekannya dan sang rekan pun langsung melacak keberadaan nya itu.


Nak buah Jack maupun anak buah Jonathan langsung beraksi mencari keberadaan Mimi dan Di'ah.


Di'ah di bawa Carol hingga keluar kota, sesampainya di markas, Carol menyuruh anak buahnya untuk mengikat Di'ah di atas ranjangnya.


Sedangkan Mimi di bawa ke sebuah apartemen di pinggiran kota, disana ternyata sudah menunggu Jessika dan Jenny serta seorang lelaki yang akan mereka gunakan untuk mengambil foto Mimi.


Berkat Kakung yang di selalu di pakai Mimi dan Di'ah, jejak Mimi dan Di'ah pun akhirnya diketahui.


Jack yang masih berada di jalan mencoba menghubungi Syahril atau Ryan namun ponsel mereka tidak dapat terhubungkan, Jack menelpon Andri, Jack sangka Andri masih satu kota dengan Syahril dan Ryan namun Jack salah.


Tetapi saat Andri menerima kabar itu dia langsung menghubungi bang Afnan dan bang Afkar, Andri juga langsung memesan tiket untuk pergi ke LA malam itu juga.


Di Jambi Afnan yang sudah terlelap mendapat kabar itu langsung bangun dan membangunkan Afkar, umma yang terbangun untuk sholat tahajud akhirnya bertanya.


"Ada apa nak?" tanya umma.


"Katakan jangan bohongi umma." ucap umma.


"Ada ala dengan Mimi?" ucap umma lagi, yang mana sebenarnya umma terbangun karena bermimpi Mimi di lukai orang.


"Kata Andri Miki di culik umma." ucap Afnan.


Jam menunjukan masih pukul sebelas malam, mereka semua memang tidur cepat malammini karena entah mengapa mata mereka selalu mengantuk.


Syahril dan Ryan uang baru pulang merasa heran melihat keluarganya sudah bersiap-siap semua.


"Ada apa?'' tanya Syahril yang merasa ada sesuatu.


"Kemana hp kamu?" tanya Afkar.


"Hp Ariil lowbat bang, ada apa?" tanya nya lagi.


"Sudah sekarang juga kita berangkat, ayo." ucap Afnan yang sudah berjalan lebih dulu sambil menggendong anak sulungnya sedang sang istri menggendong anak bungsunya.


"Ada apa?" tanya Ryan yang juga merasa ada sesuatu ketika melihat semua anggota keluarga Syahril sudah keluar menuju mobil.


"Sudah sambil jalan saja." ucap Babah yang sudah masuk kedalam mobil,.


"Yan hp kau mana?'' tanya Syahril.


"Lowbat Riil." ucap Ryan.


"Sial, ayo kita segera masuk." ucap Syahril, mereka semua langsung pergi ke bandara,


Satu jam perjalanan mereka pun sampai bandara, beruntungnya Afnan ke Jambi menggunakan pesawat pribadi jadi mereka langsung pergi ke la menggunakan pesawat pribadi.


Tak hanya keluarga Syahril yang berangkat ke LA mendadak, keluarga ayah Brata pun setelah mendapat kabar dari anak.buahnya langsung berangkat malam itu juga.


tbc


Maaf ya kalau ceritanya kurang menarik, namun jika langsung ke cerita Mimi bahagia maka alurnya nggak dapat.


Dan maaf jarang up karena selain sinyal disini sering gangguan ho ku juga kadang error, pakai hp lama nulisnya yaitu banyak typo dan harus pelan-pelan nulisnya.


Sekali lagi maaf kalau tidak nyaman dengan ceritanya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2