
Mimi masih di tangani oleh dokter untuk menetralkan senyawa yang berada dalam obat perangsang di dalam tubuh Mimi.
Mimi belum sadarkan diri karena obat yang dimasukkan kedalam minumannya melebihi dosis yang seharusnya.
Dan gak ternyata mereka tak menaruh pada minuman yang Mimi minum, namun mereka menaruh beberapa camilan coklat ke dalam kue yang Mimi ambil.
Dillah dan Satria masih menunggu dinluae ruang UGD, tak lama Irsyad berserta abinya datang dan menanyai leaadan Mimi.
"Kak, bagaimana dengan Mimi?" tanya Irsyad setelah berada di depan mereka.
"Iya nak, bagaimana keadaan Mimi?" tanya Abi.
"Belum tau Om, sampai sekarang dokter belum keluar." jawab Dillah.
"Om, maafkan saya." ucap Dillah meminta maaf.
"Minta maaf buat apa?" tanya Abi yang masih terlihat tenang.
"Maaf saya tidak bisa menjaga Mimi, seharusnya saya menemaninya malam ini. Tapi saya ada tugas dan meeeting di luar kota." Dillah memberikan alasannya kepada Abi.
"Sudahlah tidak apa. Semua di luar batas kemampuan kita, orang-orang Abi pun sudah menjaganya namun masih bisa kecolongan." terang Abi dengan !menepuk bahu Dillah.
Saat mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing siapa dalang semua ini, tak lama dokter pun keluar.
"Dok bagaimana Mimi?" tanya Dillah yang langsung berlari ke arah pintu setelah melihat pintu terbuka.
"Iya dok, bagaimana dengan anak saya?" tanya Abi.
"Dia untuk saat ini belum sadar, syukur alhamdulillah senyawa yang berada di dalam tubuhnya sudah kita netralkan." jawab dokter.
"Kalau sudah dinetralkan kenapa belum sadar?" tanya Irsyad.
"Karena pengaruh obat yang dia minum dan makan dengan dosis tinggi membuat dia kehilangan kendali. Ditambah dia berusaha menahan agar tidak terpancing gairah karena pengaruh obat tersebut, karena shock juga yang dia hadapi sehingga membuat tekanan darahnya rendah." ucap dokter.
"Kapan dia bisa sadar dok?" tanya Dillah.
"Tidak lama lagi dia juga akan sadar," jawab dokter.
"Dok, emmm Mimi masih kan?" tanya Irsyad yang ragu mengungkap kan. Dokter tersenyum pada Irsyad dan yang lain. Dokyerntaj apanyang dimaksud dari Irsyad.
"Iya, dia masih ORI. Beruntung kalian cepat menyelamatkan nya." jawab sang dokter dengan menekankan kata ori.
"Alhamdulillah." jawab semua.
"Ya sudah saya permisi dulu, emm pasien juga akan di bawa ke ruang rawat." jawab sang dokter.
"Baik dok, makasih." ucap Abi.
"Sama-sama pak." jawab sang dokter dan berlalu pergi.
Afnan dan Afkar telah sampai bandara Ahmad Yani, afnan
angsung menghubungi Abi dan menanyakan keadaan Mimi.
Setelah mengelabui Mimi berada dirumah sakit, mereka pun langsung pergi ke rumah sakit.
Afan dan Afkar berjalan menelusuri ruangan menuju ruangan Mimi. Sesampainya disana, mereka melihat Abi sedang berbicara via telpon.
"Assalamualaikum Abi." ucap mereka.
"Waalaikum salam sudah nyampai saja kalian disini.'" ucap Abi.
"Hmm, bagaimana Mimi Bi?" tanya Afkar.
"Alhamdulillah susah di tangani dokter dan sudah di beri obat penetral melelaui infuse juga." jawab Abi.
"Kok ramai Bi?" tanya Afnan melihat ruangan Mimi ramai.
"Itu para sahabatnya Mimi, ayo masuk." jawab Abi dan mengajak mereka masuk kedalam ruangan.
Afnan melihat Mimi yang masih terpejam dengan bibir yang membengkak. Afnan melihat kondisi seperti menjadi geram.
"Apa Abi sudah tau siapa orang yang !membuat Mimk seperti ini Bi?" tanya Afnan.
"Kalau yang me!buatnya seperti ini sudah Abi amankan, cuma kita belum menemukan skala dalangnya dan apa motif nya." Jawab Abi.
"Siapa yang ngasih makanan atau minuman itu sama dia?" tanya Afkar.
Semua sahabat Mimi diam begitu oula dillah dan oara sahabatnya melihat aura menakutkan dari Afnan maupun Afkar.
"Emm itu yang kita belum tau bang," Irsyad menjawab pertanyaan Afkar.
"Tapi dek katamu, Mimi pergi ke toilet bersama teman nya. Apa temannya itu sudah kamu amankan?" tanya Afnan.
"Sudah bang, cuma tadi sewaktu kita ke kosannya kkta tidak berhasil membawanya karena kosan di temlatnha di jaga oleh satpam dan kkta juga harus menaati peraturan kos disana, karena itu kosan Putri." kali ini Dimas yang menjawab.
Yah setelah Dimas, saeidi dan Riko mengetahui kalau Mimi sebelumnya pergi bersama Syifa, mereka langsung pergi ke kosan Syifa. Namun mereka gagal membawa Syifa keluar.
"Oo gitu, emm Bi. apa Abi sudah kasih tau sama.. untuk menjaga di sekitaran kosan tuh anak." jawab Afkar.
"Sudah, mereka sudah stanby disana." jawab Abi.
"Syukurlah, jadi dia tidak bisa kabur." Jawa Afkar.
"Afnan akan kerahkan anak buah Afnan Bi, nanti Afnan mjnta rekaman CCTV untuk menyelidiki siapa dua perempuan itu. Afnan tidak akan melepaskan mereka." ucap Afnan.
"Iya, rekaman itu juga sudah di copy dan diselamatkan Irsyad. Lebih baik kalian pulang saja. Ummi kalian pasti telah menunggu kalian berdua." jawab Abi.
__ADS_1
"Iya Bi, emm saya harap masalah ini tidak menyebar. Kalau sampai tersebar saya anggap kalian lah dalangnya." ucap Afnan sebelum keluar kepada sahabatnya Mimi dan Dillah.
"Syad kamu ndak pulang?" tanya Abi.
"Ndak Bi, Irsyad disini aja nemani Mimi dan yang lain." jawab Irsyad.
"Kalian?" tanya BI lada sahabat Mimi
"Kita juga mau disini saja nemani Mimi Bi." jawab Muthia dan diangguki oleh kedua sahabatnya.
"Yaudah, jangan berisik. Nanti ganggu pasien lain." Abi mengiyakan pada mereka.
"Siap Bi" ucap Muthia, Irma dan Selfia.
Setelah kepergian Afnan, Afkar dan Abi mereka semua di sofa ada juga duduk lesehan karena tidak muat.
"Kalian tidur saja." ucap Dillah ketika melihat Muthia yang sudah berulang kali menguap.
"Iya kak." jawab Muthia dan Selfia.
Irsyad, Reno, Satria, Yogi dan yang lain mencoba meneliti siapa dua gadis yang berada di CCTV itu.
Saat mereka sedang sibuk dengan memperhatikan dua gadisyang tertangkap cctv di layar laptop Reno. Mereka mendengar Mimi mengigau.
"Kak Syahril tolong kak"
"Mak, bapak maafkan Mimi Mak pak"
"Maafkan Mimi"
"Kak Syahril maafkan Mimi kak, maafkan Mimi tidak bisa menjaganya hiks hiks"
Mimi terus mengigau bahkan Mimi menyebut nama Syahril dalam igauannya.
Dillah yang berada disampingnya hanya bisa menghelakan nafasnya.
"Dek, bangun dek." Dillah mencoba menyadarkan Mimi namunnmimintidak juga sadar dan terus mengigau.
"Dek," panggil Dillah dan setelah itu Dillah membacakan ayat di telinga Mimi sehingga Mimi kembali tenang.
"Segitu kau mencintainya dek"
"Sekian lama kalian tidak bersama, tetapi dia selalu ada di hatimu"
"Apa aku tidak berarti di dirimu?"
"Apa aku bisa menggantikan posisi dia dinjagi kamu."
Dillah terus bergumam dengan dirinya di dalam hati serta mengusap wajahnya.
"Kaungqk akan bisa melupakan atau menyingkirkannya dari hatimu Mi" gumam Dimas yang juga mendengar igauan Mimi, begitu pula dengan yang lain memiliki opini tersendiri.
Dillah akhirnya beranjak dari duduknya dan hendak keluar.
"Mau kemana Dil?" tanya Reno.
"Mau ke mushola dah adzan subuh tuh." jawab Dillah.
"Eh iya dah subuh aja." sahut Yogi.
"Yaudah kita sholat dulu." ajal Reno dan mereka para lelaki semuanya pergi ke musholla yang berada di rumah sakit ini.
Disebuah rumah yang tidak terbilang mewah namun luas, seorang laki-laki babak belur belum sadarkan diri dan masih dalam penanganan dokter karena kedua tangan yang patah.
Afnan dan Afkar serta Abi pagi-pagi sehabis sarapan langsung pergi kerumah itu. Dua jam perjalanan menuju rumah tersebut.
Sesampai di dalam ruangan terlihat lelaki itu sedang tertidur.
Afnan, Afkar dan Abi masuk ke dalam ruangan itu dan melihat nasib lelaki yang sudah babak belur.
Afnan menghidupkan lampu kamar tersebut sehingga tampak terang benderang dan membjat mata lelaki untuk mengerjap.
Afkar sudah duduk di tepi ranjang lelaki itu dan tersenyum smirk padanya.
"Si si siapa ka kalian?" tanya lelaki itu terbata karena melihat wajaah asing dihadapannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Afkar.
"Baat ala kau menanyakan keadaanku, apa untungnya buatmu." jawab si lelaki.
"Oo aku hanya ingin tau saja, masalah untung.. Kau tak menguntungkan bagiku karena nyawamu masih ada di dirimu." ucal Afkar.
"Siapa kalian" tanyanya.
Afnan dengan tenang berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Kau tidak perlu tau siapa kami, yang jelas kami ingin tau. Kau berkerja sendiri atau ada yang menyuruhmu." ucap Afnan dengan memainkan pisau bedah.
"Apa maksudmu?" tanya si lelaki tersebut.
"Kau masih bertanya apa maksud ku?" ucap Afnan dengan memainkan pisau bedah di pipi lelaki tersebut.
Lelaki tersebut merasa bergetar saat pisau bedah berada di pipinya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk memperlakukan hal yang senonoh pada adikku" ucap Afkar dengan memegang sedikit kuat sehingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.
Di sebuah rumah mewah anak gadis dari salah satu pengusaha di kota ini tengah bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri bersama kedua sepupunya dan tiket mereka bertiga akan berangkat di jam sebelas malam.
__ADS_1
Dirumah sakit, jam enam pagi Mimi terbangun dari tidur nya. Dilihatnya semua yang berada di ruangan terkapar di sofa maupun di lantai dengan beralasan ambal.
Mimi merasa haus dan hendak beranjak dari rebahannya untuk mengambil air minum di atas nakas..
Perlahan Mimi mendudukan dirinya, kepalanya masih merasa pusing.
"Sejak jalan aku ada di rumah sakit." gumam Mimi dan seraya mengambil gelas yang telah berisi air.
Saat ingin meminumnya Mimi teringat akan kejadian semalam. Mimk melatakkan kembali gelas yang gelas berisi air itu namun tidak telat lada temlatnya sehingga gelasnitunjatuh dan pecah.
Praang Dillah yang terlelap pun terbangun bwgigunouoa dengan yang lain.
"Dek" panggil Dillah
"Mimi" ucap yang lain seraya mendekat.
Mimi terisak dan mengibaskan tangannya kepada mereka semua.
"Tidak tidak huhuhu, Mimi sudah kotor huhuhu tidak." ucap Mimk dengan menggosokkan tangannya pada keseluruhan tubuhnya.
"Dek, hai jangan dek." ucap Dillah dengan memeluk Mimi erat.
"Huhuhu Mimi sudah kotor, maafkan Mimi Mak, pak huhuhu" ucap Mimk dalam dekapan Dillah.
"Tidak sayang, kamu tidak kotor . Jangan lakukan itu lagi, maafkan aku." ucap Dillah dengan terus memeluk Mimi dengan deraian air mata.
"Mimi kotor, lepaass Mimi sudah kotor.." ucap Mimi berusaha melepaskan dirinya dari delapan Dillah.
"Tidak sayang, tidak kamu tidak kotor. Apapun kamu bagaimanapun kondisi kamu aku akan selalu bersama kamu." ucap Dillah menenangkan Mimi.
Mimi yang terus berontak akhirnya diberi suntikan penenang sehingga Mimi kembali tertidur.
Dillah terlihat sangat terpukul melihat Mimi yang berontak dan menangis histeris.
"Nggak akan aku biarkan Lo Mario" ucap Dillah dengan mengepalkan tangannya.
"Kakak kenal dengan cowok itu?" tanya Irsyad.
"Hmm, dimana dia Syad. Akan aku habisi dia." ucap Dillah dengan geram.
"Siapa dia kak? apa hubungan dia dengan semua ini? atau ada dendam diantara kalian?" tanya Muthia yang baru tiba dan mendengar obrolan mereka.
"Mario adalah teman sekolah kami duku di SMA. Sedari dulu dia selalu ingin mendapatkan apa yang Dillah punya." ucap Satria.
"Apa dia anak kampus kita? kok aku ndak pernah lihat?" tanya Dimas.
"Iya tapi dia sudah tidak melanjutkan lagi karena di DO akibat kasus nark*ba sehari menjelang ujian skripsi." jawab Reno.
"Seharusnya nya dia penjara 4th penjara tapi entah kenapa dia bisa keluar cepat" sahut Yogi.
"Tapi apa hubungannya dengan Mimi." tanya Selfia.
"Setau aku dia dulu juga pernah menyukai Mimi bahkan mereka taruhan untuk mendapatkan Mimi." ucap Dillah.
"Taruhan? Dengan siapa?" tanya Saridi.
"Dengan sepupunya Nicko dan Bryan tapi waktu itu Bryan menolak karena dia tidak mau bertaruh demi mendapat kan cewek." terang Satria dengan helaan nafas.
"Kenapa harus Mimi? apa salah Mimi." ucap Muthia.
"Entah lah, kemungkinan besar karena Mimi dekat dengan Dillah. Mario sejak dulu sifatnya memang begitu sama Dillah. Apa
Abi semenjak adiknya meninggal, dia selalu menyalahkan Dillah padahal adiknya meninggal karena dirinya sendiri." ucap Reno.
"Adiknya?" tanya Irma.
"Hmm, iya adik kembarannya Maria. Sewaktu SMA Maria wlalu mengejar Dillah namun Dillah tidak pernah menggubris cewek manapun."
"Tak hanya Maria, ternyata ceweknyang sedang jadi incaran Mario pun juga menyukai Dillah, Dillah dengan cewek incaran Mario hanya sebatas sahabat. Entah mengapa suatu hari Siska menangis meminta pengakuan Dillah bahwa dia hamil."
"Apa hamil??" Sergah Selfia, Irma dan Muthia.
"Iya, Siska hamil tetapi dia meminta Dillah mengakuinya padahal Dillah tidak pernah tidur apa lagi dekat bersama dia, usut punya usut ternyata Mario lah pelakunya. Dia menaruh obat perangasang diminuman Siska dan obat tidur di minuman Dillah saat kami mengadakan malam perpisahan."
"Maria yang tau dia langsung murka pada Mario dan Maria akan mengatakan semuanya pada Dillah namun naas saat Maria pergi menemui Dillah di cafe, Mario mengejar Maria hingga saat Maria keluar mobil dan menuju cafe tanpa sengaja Mario yang telah dibakar amarah menabrak maria tepat di depan Dillah yang saat itu akan keluar cafe.
"Terus bagaimana dengan Siska?" tanya Selfia.
"Dillah yang merasa buka dia yang meniduri hingga menghamili Siska menolak untuk bertanggung jawab, Siska tidak terima karena dia menrima video dan foto saat tidur bersama Dillah."
"Dillah juga tidak terima, bahwa dia tidak merasa menggauli Siska, maka saat usia kandungan Siska lima bulan Dillah beserta keluarga Siska mengadakan tes dna."
"Hasilnya apa kak?" tanya Irma.
"Negatif, dna tidak sesuai dengan Dillah. Hingga Siska tidak bisa terima semua itu dan dia mengakhiri hidupnya." terang Reno.
"Apa Mario itu sekarang motifnya dendam?" ucap Riko dengan opininya.
"Bisa jadi, tapi kita juga belum tahu karena ada dua cewek lagi yang juga ikut andil." ucal Reno.
"Kalau begitu kunci utmaanya adalah.." ucap Selfia seketika diam dan saling kandang dengan kedua sahabatnya.
"Syifa" ucap mereka bertiga.
"Ayo Ir, Muth kita seret dia. Awas saja dia akan ku kucek-kucek mukanya." ucap Selfia dan mengajak kedua sahabtnya untuk menemui Syifa.
Para bodyguard suruhan Abi yang selalu stay di sana tidak melihat orang yang dimaksud keluar maupun masuk di kosan Putri itu. Bahkan mereka juga epbertanya sama satoam dan satoam mengatakan kalau Syifa tidak ada si kosan sedari dua hari lalu namun mereka tidak percaya dan maaih mengintai kosan itu
__ADS_1
tbc
Maaf telah up, HP nya di bajak sikecil mulu. hehee.