DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
selalu mengenang nya


__ADS_3

Dua hari setelah Mimi menghadap direktur di kedua rumah sakit, Mimi tidak langsung masuk kerja. Mimi di beri waktu dua bulan tenggang, selama dua bulan itu pula Mimi membereskan kontrakannya dan Mimi juga akan kembali ke Jambi terlebih dahulu.


Mimi sangat bersyukur mendapatkan kontrakan yang murah, tak hanya murah, lokasinya pun tak begitu jauh dari tempat kerjanya. Hampir sama antara kosan nya dulu menuju simpang luar.


Mimi memulai dengan membeli peralatan untuk membersihkan rumah, dari sapu hingga kain pel.


Kontrakannya kali ini pun sama besarnya dengan kosannya dahulu, cuma kontrakannya memiliki skat antara kamar, ruang keluarga, ruang tamu dan dapur serta kamar mandi.


Untuk peralatan dapur Mimi tidak membelinya lagi karena Mimi sedang menunggu kiriman barang-barang nya yang dari pulau Jawa.


Mimi sengaja mengambil keputusan ini, karena Mimi ingin mencoba mandiri. Di Semarang Mimi merasa segala kebutuhannya telah terpenuhi, apa lagi semenjak dia telah menjadi bagian dari keluarga Abizar.


Foto dirinya dan Abizar saat pertunangan selalu di bawanya. Entah mengapa hati Mimi tidak ingin melupakan Abizar.


"Mas, bantu Mimi untuk semangat jalani hidup ya.'' ucap Mimi kala akan menaruh bingkai di meja dalam kamarnya.


Dikosan ini tidak ada peralatan bahkan tempat tidurnya, jadi Mimi membeli kasur lipat, guling dan bantal baru untuk dirinya bermalam.


Kali ini Mimi juga mengganti ponselnya kembali, karena Mimi tidak ingin di ketahui oleh siapapun dirinya berada. Bukan Mimi menghindari semua, namun Mimi tidak ingin keberadaannya di lacak dan Mimi juga tidak ingin dirinya selalu di awasi walau pun dari jauh.


Mimi sengaja menunggu barang-barang nya nyampai terdahulu baru dia akan pulang ke Jambi. Untuk mengisi waktu luangnya menjelang pulang ke Jambi, Mimi berinteraksi dengan tetangga sekitar.


Bahkan ibu dari kontrakan ini rumahnya juga tidak jauh. Rumahnya berada di depan rumah kontrakan Mimi. Mimi memanggilnya dengan makwo Ju, makwo Ju adalah janda tanpa anak.


Hari-hari nya menjual sarapan dan dianjjga membuka rumah makan di depan rumahnya.


Posisi rumahnya kontrakan Mimi merupakan komplek perumahan namun komplek ini kebanyakan hanya sebuah investasi bagi pemilik


Rumah-rumah disini kebanyakan dijadikan temlatbkks maupun kontrakan. Kebanyakan anaknkos disini merupakan mahasiswa dan karyawan-karyawan perusahaan disini.


Mimi beberapa hari ini selalu ke warung makan makwo, Mimi juga tidak degan untuk membantunya jualan.


Makwo Ju pun sangat senang kepada Mimi yang selalu membantunya. Baru kali ini makwo di bangun oleh anak yang ngontrak dirumah nya.


Makwo Ju memiliki beberapa rumah yang mana rumah tersebut dikontrakkan sebagai kos-kosan. Namun Mimi mengontrak nya secara tunggal karena Mimi ingin memiliki ruang privasi.


Semenjak Mimi membantu di warung makan makwo, warung makan makwo semakin ramai. Banyak pemuda-pemuda yang makan disana. Tak hanya sekedar makan tetapi mereka mencoba mendekati Mimi.


Mimi tidak pernah membuka Jati dirinya, jika di tanya Mimi hanya menjawab kalau dia berkerja di kota ini.


Seminggu sudah Mimi di kota ini dan barang-barang Mimi pun telah tiba. Saat barang-barang Mimi tiba banyak pemuda-pemuda yang ngekos didaerah sini membantu Mimi.


Setelah semua tersusun pada tempatnya, Mimi pun berencana kan pulang ke Jambi esok hari.


Keesokan harinya Mimi menitipkan rumah pada kakek karena dia akan naik bus dari pull nya ( loket ) jam enam pagi.


"Assalamualaikum makwo." ucap Mimi ketika melihat makwo sudah mulai mengeluarkan beberapa makanan buat sarapan.


"Makwo, Mimi titip rumah ya?" ucap Mimi.


"Emm lai jadi Mimi pulang ka Jambi?" tanya makwo.


"Iyo makwo, Nih miminjga minta tolong antar Andre." ucap Mimi kepada makwo dan menunjuk ke arah lelaki yang sudah mengeluarkan motornya.


Andre adalah mahasiswa kedokteran di UNOH, dia juga mengontrak rumah yang tak jauh dari Mimi. Beberapa hari ini Mimk dekat dengan Andre takmhanyanhati Andre dengan !ajsiswa lain pun ini dekat.


"Dah siap Ndre?" tanya Mimi.


"Udah kak, ayo." ucap nya.


"Emm oke, makwo mii berangkat dulu ya, assalamualaikum" ucap Mimk dan menyalami tangan makwo.


"Waalaikum salam, hati-hati." jawab makwo.


"Eh tunggu banta Mi," ucap makwo menghentikan langkah Mimi.


Dengan cekatan makwo membungkus pecal dan beberapa kue untuk Mimi.


"Ini buat sarapan dijalan nanti." ucap makwo dengan memberikan makanan yang telah di bungkus itu.


"Buek Andre ma makwo?" ucap Andre dengan canda.


(Buat Andre mana makwo)


"Aiss buek waang beko lah abih sepulang nganta Mimi." jawab makwo.


("Aiss buat kamu nanti habis pulang dari mengantar Mimi.)


"Iyola, beli awal tagiih, Andre pai duku makwo. Assalamualaikum'' ucap Andre dengan langsung menghidupkan motor nya.


"Waalaikum salam, hati-hati." jawab makwo.


Jarak antara kosan ke pull bus tidak begitu jauh hanya lima belas menit dari kosan. Samlai pull/loket mobil pun sudah di penuhi penumpang.

__ADS_1


"Kak, hati-hati." ucap Andre.


"Iya ndre, makasih ya." jawab Mimi taknluoa Mimi memberikan Andre uang sebagai ongkos ojek.


"Ndak usah kak, Andre ikhlas mengantar kakak." jawab Andre menolak pemberian uang oleh Mimi.


"Sudah ambil saja buat beli bensin. Dah ya kakak pergi dulu. assalamualaikum" ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab Andre.


Andre menunggui hingga bus yang Mimi tumpangi sampai tak terlihat lagi baru dia kembali pulang ke kontrakan.


Mimi sangat senang pada Andre, dia anak yang tekun, rajin. Dia juga merupakan anak mahasiswa dari beasiswa. Andre juga bukan dari keluarga yangberada, namun dengan tekatnya dia ingin mengejar cita-cita serta ingin membuat kedua orang tua nya bangga serta dia ingin mengangkat derajat orang tuanya dikampung


Jam enam pagi Mimi berangkat dari pull/loket Padang, jam enam sore Mimi sampai pull/loket jambi.


Penat itunyang Mimi rasakan, bukan Mimi tak ingin naik pesawat cuma Mimi ingin mencoba berhemat apa lagi dua bulan bukanlah sebentar. Selama dua bulan Mimi tidak berkerja maka dua bukan itu pula Mimi tidak ada pemasukan.


Walau uang mahar/adat pemberian Abizar saat lamaran masih utuh, Mimi belum ingin menggunakan nya. Mimi pernah mengembalikan uang tersebut pada orang tua Abizar namun mereka menolak karena kata mereka itu sudah menjadi milik Mimi walau takdir tidak menyatukan Mimi dengan Abizar.


Mimi langsung memesan taksi untuk pulang kerumah Nyai, sesampainya di rumah Nyai Mimi disambut dengan Isak tangis Nyai.


Sebenarnya ini yang membuat Mimk tidak ingin pulang ke Jambi, tapi Mimi sedari lukus hingga lamaran kemaren Mimi belum pulang.


"Ya Allah cooong." ucap Nyai dengan tangisan dan ternyata Nyai sudah menunggu Mimi sedari tadi. Yah sebelumnya Mimi memberitahukan kalau Mimi akan pulang.


"Assalamualaikum." ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab nyai dan yang lain. Nyai langsung memeluk Mimi dan menciumi pipi kiri dan kanan Mimi.


Nyai terus menangis mengenang nasib Mimi dan dia gak sedikit pun melepaskan pelukannya dari Mimi.


"Nyai kenapa nangis?" tanya Mimi dengan menghapus air mata Nyai.Nyai tak menjawab dengan kata-kata melainkan dia menjawab dengan tangisan.


"Sudah lah, jangan menangis lagi. Do'akan bae Mimi baik-baik saja dan maa Abizar dilapangkan kuburnya dan ditempatkan di surganya Allah." Ucap Mimi kepada Nyai.


"Iyo Mak, jangan di tangisi lagi." ucap bicik.


"Dah yok kita masuk." ajak Mimi dan merangkul Nyai untuk masuk kedalam rumah.


Bicik maupun Pakcik takmingin bertanya banyak soal kejadian waktu itu, mereka tidak ingin melihat Mimi bersedih.


"Kenapa tidak langsung pulang ke Jambi kemarin Mi?" tanya bicik.


"Mimi juga harus cari kontrakan cepat supaya tidak lama-lama nginap di hotel hehe" jawab Mimi


"Yaudah Mimi istirahat saja pasti capek lama naik bus." ucap Pakcik.


"Iya cik, Mimk mau mandi dulu." ucap Mimi.


"La makan mi?" tanya Nyai.


"Sudah Nyai, tadi makan di jalan." jawab Mimi.


"Wm Mimi mandi dulu nyai yo." ucap mimi dengan membawa handuk serta pakaian tidurnya.


Sehabis mandi dan sholat, Mimi langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang selalu setia menemani Mimi sedari dulu.


Sebelum tidur Mimi membuka-buka galeri foto di ponselnya, ponsel pemberian Abizar saat ulang tahun Mimi. Di gakeri itu hanya ada foto Mimi beserta dirinya.


"Mas, Mimi kangen." ucap Mimi ketika melihat foto Abizar tersenyum dengan mengenakan pakaian kebesarannya.


"Semoga Allah melapangkan kuburmu mas, memberikan jannah firdausnya untuk mu."


"Apa kelak kita bisa bertemu di surganya mas?" ucap Mimi dan tak terasa air matanya luruh juga. Mimi terkenang saat-saat berdua dengan Abizar.


Saat mereka sama-sama menangani pasien, dan banyak lagi. Mimi teringat akan ucapannya ketika Carla datang ke rumah sakit waktu itu.


flaabcak on


Saat Mimi selesai operasi Mimi kembali masuk kedalam ruangannya tetapi Abizar sudah tak ada di dalam ruangan nya. Mimi membersihkan diri nya di dalam kamar mandi.


Sehabis mandi dan telah berpakaian lengkap Mimk mengecek ponselnya dan di lihat ada WA dari Abizar dan Abizar meminta Mimi untuk datang ke ruangannya jika Mimk sudah selesai operasi.


Tak tunggu lama lagi, Mimi pun langsung meluncur menuju ruangannya tak lupa Mimi membawa tas nya sekalian karena sudah waktunya pulang.


"Assalamualaikum." ucap Mimi dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, namun tidak ada sahutan, miminoun membuka pintu ruangan Abizar tetapi Abizar tidak ada di dalam.


Mimi duduk di sofa yang ada di dalam ruangan nya untuk menunggu Abizar. Tak lama Abizar keluar dari kamar mandi nya dan sudah terlihat fress.


"Mass" panggil Mimi.p dengan mendekat.


"Eh dek, dah selesai operasinya?" tanya Abizar dan miminoun mengangguk.

__ADS_1


Terlihat Abizar akan menyisir rambut nya, Mimi hanya melihatnya, calon imam yang tampan Mimi tak bosan-bosannya memandang wajahnya.


"Emm mas nggak kemana-mana kok " ucap Abizar kala Mimi begiguninyens melihat wajah nya.


"Emm siapa juga nanya maa mau kemana." ucap Mimi.


"Terus ngapain ngelihatin mas dengan segitunya." ucap Abizar yang telah selesai menyisir rambut dan menghadap ke arah Mimi.


"Nggak ada, Mimi hanya suka aja ngelihatin wajaah mas." ucap Mimi.


"Tiap hari juga udah ngelihatin, emangbnggak bosan?" bisa ajzae dengan mentoel hidung Mimi.


"Nggak, Mimi nggak pernah bosan-bosannya memandang wajah mas." jawab Mimi dengan jujur.


"Emm nggak lama lagi juga bakal ngelihatin setiap hat0ri, setiap menit." ucap Abizar.


"Iya." jawab Mimi. Mimk dan Abizar duduk di sofa berdua, entah mengapa Mimi ingin memeluk Abizar hari itu. Saat duduk berdua di sofa, Mimk terus-terusan merangkul pinggang Abizar dan menaruh kepalanya di pundak Abizar.


"Ada apa?" tanya Abizar dengan menoleh ke kanan


"Nggak ada apa-apa, pengin meluk mas aja." jawab Mimi dengan menoleh ke arah Abizar juga, mereka bersitatap dan hidung mereka pun hampir bersentuhan.


Abizae melihat wajah Mimi sedekat itu sangat menggoda imannya. Perlahan Abizar mencium kening Mimi.


"Ada apa? tumben manja ginj?" tanya Abizar.


"Nggak ada mas, Mimi hanya ingin seperti ini aja." jawab Mimi dengan terus mengeratkan pelukan nya. Mimi memejamkan matanya di atas pundak Abizar, Mimi menghirup wangi tubuhnya Abizar.


Saat Mimi sedang menikmati aroma tubuh Abizar, Abizar yang juga suka bila Mimi bermanja-manja dengannya hanya tersenyum kallaa melihat mimi mengendus tubuhnya hingga hidung Mimi menempel di lehernya.


Abizar memeluk erat pinggang mikk dan tangannya terus mengelus lengan Mimi.


"Emm dek." ucapnya kala hidung Mimk gak terasa terus menempel dilehernya.


"Hmm" jawab Mimi.


"Jangan begitu, nanti mas khilaf." ucapnya dan Mimi membuka matanya dan saat terbuka mimj melihat leher putih itu dengan hidung berada di sana bahkan bukan hanya hidung bibir Mimi lun sudah menempel disana.


Mimk menjauhi wajahnya dan menatap wajah Abizar. Abizar hanya tersenyum dan mencium pipi Mimi.


"Besok kalau sudah halal, baru deh adik luasin ne!plok disana." goda nya.


"Ihh mass" ucap Mimi. Abizar hanya terkekeh.


"Dek," panggil Abizar


"Iya mas" jawab Mimi


"Dek, kamu kalau ketemu dia lebih baik menghindar ya." ucap Abizar.


"Dia?" jawab Mimi yang belum mengerti.


"Iya jika kamu bertemu di jalan atau dimana aja sama Clara, kamu menghindar aja ya." ucal Abizar.


"Kenapa gitu mas?" tanya Mimi.


"Dia itu orangnya nekatan dek, mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." ucapnya.


"Kallau ada mas, mas akan melindungi kamu. Bahkan jika dia nekat menyelakain kamu, mas rela gantiin kamu." ucap Abizar.


"Jika maa nggak ada di samping kamu, kamu harus bisa jaga diri. Kalau bisa dihindari hindari aja." ucap Abizar.


"Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa, !as sangat menyayangi kamu.'' ucap Abizar dengan mengelus wajah Mimi.


"Makasihnya mas, insya Allah akan selalu Mimi ingat pesan mas."


"Mimi juga sa yang sama mas." ucap Mimi dengan mengeratkan pelukannya.


"Mas juga sayang" ucap Abizar dengan mengecup kening Mimi.


Mereka berdua saling mengeratkan pelukan hingga lupa waktu jika mereka masih di rumah sakit dan melupakan waktu pulang mereka.


Entah sejak kapan Mimi menyukai menghirup wangi tubuh Abizar, bahkan beberapa hari setelah mereka tunangan Mimi merasa ingin selalu memeluk dirinya, Mimi ingin selalu berada di dekatnya bahkan Mimi seakan tak ingin jauh dari Abizar.


Flasback off


"Maas apa itu semua merupakan tanda bahwa mas akan meninggalkan Mimi." gumam Mimi dengan terus melihat foto Abizar.


Mimi menitikkan air mata nya dan menciumi wajah Abizar walaunhanya merupakan potonya saja.


Mimi memeluk pakaian Abizar yang Mimk ambil dari lemarinya dan Mimi membawa nya satu.


Hanya bisa memeluk pakaian nya dikala Mimi merindukan sosok Abizar.

__ADS_1


tbc


__ADS_2