
Keesokan harinya setelah mengambil kesepakatan bersama semalam, hari ini mereka akan melakukan tes DNA kepada si kembar dengan ayah Brata.
Syahril mengambil sampel darah si kembar dan ayah Brata di pagi hari.
"Nak, nanti minta tolong aja sama dokter Nicholas agar bisa cepat keluar hasilnya." ucap Bunda.
"Iya bund" jawab Syahril tanpa melihat bunda karena Syahril sedang berusaha mengambil si Ampel darah Xavier yang sedari tadi berontak di gendongan Umma karena takut melihat jarum suntik.
"Sini kak biar Mimi yang ambil." ucap Mimi yang tidak tega melihat Xavier yang terus menangis dan berontak kala di dekati Syahril.
"Cup cup cup, anak mommy yang tampan nggak boleh nangis dong." ucap Mimi mencoba menenangkan Xavier.
Xavier menjadi takut saat Syahril mengambil sampel darah Zavier dan saat itu Xavier yang sedang main di dekat Zavier melihat bagaimana Syahril menancapkan injection itu di lengan Zavier.
Dan saat Zavier menjerit kaget saat merasa ada yang menancap lengannya sontak Xavier ikut menjerit dan menangis.
Zavier melihat Xavier menangis malah tertawa riang. sambil bertepuk tangan. Xavier yang mungkin merasa di ketawain semakin kuat mengeluarkan suara tangisnya.
Mimi mengambil alih Syahril untuk mengambil sampel Xavier, Mimi mendekati Xavier sambil terus menenangkan anak tampannya itu.
"Coba kamu ***** ni aja nak, nanti biar Syahril yang mengambil nya." ucap Emak.
"Iya nak coba dengan cara begitu" ucap bunda menyetujui usul dari emak.
Akhirnya Mimi tidak jadi mengambil alih dan Mimi menyerahkan injeksi tersebut pada Syahril kembali, namun Umma tidak mengizinkan Syahril kembali melakukan nya.
"Sudah biar Umma aja yang ambil, nanti yang ada anak mu trauma di dekati kamu." ucap Umma sembari mengambil injeksi itu dari tangan Syahril.
"Nih nak, kamu susui Xavier" ucap Umma dengan memberikan Xavier pada Mimi.
Mimi memangku Xavier dan Mimi mulai memberikan asi nya pada Xavier. Xavier pun langsung diam namun masih tersisa Isak tangis nya.
Setelah Xavier merasa tenang, dengan perlahan Umma mendekatinya sambil mengajak Xavier bicara dan tangan bunda langsung melakukan eksekusi nya.
Awalnya Xavier menjerit kala merasakan ada sesuatu di lengannya namun karena Umma terus mengajak nya bicara dan bibirnya masih terus pada tempat favoritnya maka jeritan Xavier tidak menjadi sebuah tangisan.
"Nah dah siap." ucap Umma setelah mendapatkan sampel darah Xavier.
"Kamu ini Riil Riil dah lama jadi dokter kok ndak bisa menanganinya." ucap Umma dengan memberikan sampel tersebut pada Syahril.
"Emm bukan Ndak bisa Umma, Xavier nya aja yang takut dengan jarum suntik seperti ... (Syahril melihat ke arah Mimi) seperti mommy nya" ucap Syahril.
Mimi yang merasa di ledeki melihat ke arah Syahril dengan memicingkan mata.
"Hah jadi Mimi takut jarum suntik" seru istri dari mas Chalik.
Yah apartemen Mimi pagi ini ramai oleh keluarga besar nya. mas Chalik dan mas Adam beserta istri dan anak mereka telah tiba semalam.
"Iya mbak, Mimi paling anti dengan jarum suntik." ledek Syahril lagi.
"Kok bisa dek?" seru mas Adam.
"Ya bisa aja lah mas." ucap Mimi cemberut karena merasa malu hal yang di takuti di ketahui keluarga lainnya dari keluarga mendiang.
"Ya kok bisa" ucap mas Adam lagi.
"Ya bisa lah mas." ucap Mimi lagi dengan kesal.
"Ya maksudnya mas kok bisa kamu jadi dokter." ucap mas Adam dengan memangku Xavier.
"Ya bisa aja, kan Mimi yang menyuntik bukan Mimi yang di suntik." ucap Mimi.
"Yakin kamu nggak di suntik" ucap mas Adam.
"Ya iyalah" jawab Mimi yang juga sedang bermain dengan anak mas Adam yang bungsu.
"Yakin" ucap mas Adam lagi.
"Ya yakin lah." ucap Mimi.
"Nggak percaya mas" ucap mas Adam lagi.
"Ya terserah mas mau percaya apa tidak. secara logika aja masa pasien menyuntikkan jarum suntik pada pasiennya." ucap Mimi lagi.
"Bisa aja kan?" ucap mas Adam yang terus meladeni Mimi.
"Ya bisa sih tapi ya tetap nggak mungkinlah mas. Jadi ya Mimi yang sebagai dokter lah yang menyuntiknya ya walau semua telah di lakukan oleh suster atau petugas anastesi." ucap Mimi.
"Mas percaya kau kamu tidak pernah di suntik sama yang lain, tapi mas tidak percaya kalau kamu tidak pernah di suntik sama Syahril." ucap mas Adam.
"Lah emang kak Syahril tidak pernah kok menyuntik Mimi, ya mungkin bisa jadi belum." ucap Mimi.
"Yakin?" ucap mas Adam.
"yakinlah." jawab Mimi.
"Beneran?" tanya mas Adam.
"Beneran mas Adam Brata Wijaya." ucap Mimi yang sudah mulai kesal.
"Nggak percaya mas, mas tanya sama Syahril aja kalau gitu." ucap mas Adam.
__ADS_1
"Tanya aja." jawab Mimi.
"Oke lah kau begitu. Riil riil." ucap mas Adam dan langsung memanggil Syahril.
"Ya mas" seru Syahril dan langsung mendekati mas Adam.
"Kamu ini Dam Dam,suka bener ledekin adiknya." ucap mas Chalik, mas Adam hanya tersenyum jahil.
"Ada apa sih kalian ini" tanya bunda.
"Ini loh bund, Adam nanya sama Mimi apa dia tidak pernah di suntik sama Syahril kata dia tidak pernah. Makanya Adam mau tanya sama Syahril." jawab mas Adam.
"Hah beneran nak? tidak atau belum?" ucap bunda yang sudah mengerti maksud dari ucapan Adam.
"Iya bunda beneran lah,kan Mimi jarang sakit kalau pun sakit Mimi mana mau di suntik." jawab Mimi. Bunda hanya memeluk jidat nya sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala dengan senyum di kulum.
Syahril yang telah berada di dekat mas Adam pun bertanya.
"Ada apa mas?" tanya Syahril.
"Gini mas mau tanya, apa bener sampai saat ini kamu belum menyuntik Mimi?" tanya mas Adam,Syahril yang ditanya seperti itu hanya menautkan kedua alisnya.
"Ckk mas Adam ini nggak percayaan amat di bilangi." cerocos Mimi.
"Lah emang iya, mas nggak percaya sama kamu makanya mas tanya sama Syahril." jawab mas Adam.
"Serah deh, bilang aja sama kak Syahril." ucap Mimi.
"Iya ini kan mas lagi nanyain."ucap mas Adam.
"Sudah sudah, kamu ini Dam suka banget ledekin adiknya." ucap bunda melerai.
"Iya kamu ni dek suka bener bikin Mimi malu dan merona." ucap istri mas Chalik.
"Gimana Riil,?" tanya mas Adam ya g tidak peduli leraian bunda dan kakak iparnya.
"Gimana apa nya mas?" tanya Syahril.
"Ckk kamu ini" jawab mas Adam, Mimi hanya tersenyum meledek mas Adam.
"Gini riil, katanya kan Mimi takut jarum suntik ( Syahril mengangguk membenarkan) nah tadi mas tanya sama dia apa dia pernah dia di suntik sama kamu, jawab nya tidak pernah atau mungkin belum." terang mas Adam.
"Nah jadi mas nanya sama kamu, apa benar sampai saat ini kamu belum menyuntik Mimi?" tanya mas Adam, Syahril diam untuk mencerna ucapan mas Adam, setelah dia mengerti Syahril pun tersenyum.
"Nah kamu tersenyum berarti itu tandanya sudah ya?" ucap mas Adam.
"Apa perlu di jawab mas" jawab Syahril.
"Yee kan emang tidak pernah dan belum pernah kak." sahut Mimi.
"Lah kemarin emang kak nyuntik Mimi? mana ada. Lah orang Mimi tidak sakit." ucap Mimi.
Syahril tersenyum dengan mendekati Mimi dan dia membisikkan ke telinga Mimi.
"Kemarin kan kita memang lagi main suntik-suntikan. Suntikan enak dan nagih." bisik Syahril, Mimi terdiam mencernanya.
Syahril dan mas Adam serta yang lain melihat ke arah Mimi yang terdiam. Setelah sadar jika dirinya sedang di permainkan maka Mimi dengan langsung melemparkan bantal sofa pada mas Adam namun karena mas Adam telah membaca situasi dia segera kabur.
"Maaaas Adaaaaam" teriak Mimi.
"Husss kamu ini nak tuh lihat si kembar dan anak-anak pada kaget." seru bunda. Mimi melihat ke arah si kembar dan anak-anak yang melihat ke arah nya.
"Hahahahha" si kembar dan anak-anak malah tertawa. Mimi mengkerucutkan bibirnya.
"Mas Adam itu Bun resek bener." ucap Mimi.
"Lah kamu di tanyain keg gitu malah meladeninya ndok ndok." ucap bunda dengan di akhiri kekehan.
Ayah Brata, Babah dan bapak hanya menggelengkan kepala.
"Ya kan tadi lagi bahan injeksi jarum suntik Bun kenapa larinya jauh." ucap Mimi.
"Lah itu juga jarum suntik dek, suntik vitamin biar tambah stamina.". seru mas Adam dengan senyum jahil.
"Udah Dam kamu ini, lihat tuh Mimi nya malu." ucap ayah Brata yang ikut meledek Mimi.
"Tapi memang beneran kamu belum di suntik Syahril nak?" tanya bunda yang kepo.
"Iss apaan sih bunda." jawab Mimi malu-malu.
"Jadi beneran?" tanya bunda lagi.
"Wah hebat kamu Riil bisa tahan gitu." seru mas Chalik.
"Iya hebat kamu bisa nahan berbulan-bulan." ucap mas Adam.
"Tapi Riil, kalau dah sekali aja kamu merasakannya bakalan nagih kamu. Hahaha" ucap mas Adam dengan ketawa.
"Iya mas bikin nagih." seru Syahril.
"Yok dek, kita pergi dan bawa hasil suntik-suntikan kita ini." ajak Syahril dengan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Kakak ihh" jawab Mimi malu.
"Lah kan kita mau antar sampel ini, ayok." ucap Syahril dengan membawa sampel bag.
"Oo ya udah ayo.." jawab Mimi yang memang dah siap untuk berkerja.
"Masih kerja dek?" tanya mas Chalik.
"Masih mas, cuma mau nyelesain yang udah terjadwal aja." jawab Mimi dengan mengambil tas selempang nya.
Mimi dan Syahril menyalami semua orang di apartemen ini dan tak lupa mencium pipi gembul si kembar.
"Kami pergi dulu yah, bah pak, Mak, bund Umma dan semua" ucap Mimi berpamitan.
"Ya hati-hati di jalan, jangan lupa berdo'a MB Elsebelum melakukan tindakan." ucapan emak dan yang lain.
"Iya Mak, bund, Umma. Assalamualaikum." ucap Mimi.
"Waalaikum salam" jawab mereka. Mimi dan Syahril pun berangkat ke rumah sakit dengan terus bergandengan tangan.
Ini hari ketiga Syahril dan keluarga yang lain berada di sini namun sampai hari ini Mimi tidak pernah melihat Di'ah maupun Ryan.
"Kak, kok kak Ryan sama Di'ah ndak pernah keluar ya? apa terjadi sesuatu sama mereka?" tanya Mimi dengan khawatir.
"Emm ndak tau juga kakak, mungkin mereka lagi enak-enak ndak mau di ganggu." jawab Syahril.
"Oo" ucap Mimi dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Di apartemen setelah keberangkatan Mimi dan Syahril mereka masih membahas tentang si kembar.
"Jadi bunda yakin kalau si kembar ini cocok dengan kita?" tanya mas Adam.
"Bunda juga nggak begitu yakin nak, cuma hati bunda mengatakan yakin. Huh, tapi jika nanti hasilnya cocok bagaimana?" ucap bunda dengan lirih.
"Awal mas lihat wajah si kembar saat mengazani nya waktu itu mas ngerasa melihat Abidzar dan Syaquena waktu dilahirkan." ucap mas khalik.
"Apa kamu juga melihat ibunya kembar mas?" tanya istri mas Chalik.
"Emm, sepintas melihatnya wajahnya mirip Abidzar. Mas melihatnya hanya sekilas di tambah dia memakai jilbab." ucap mas Chalik.
"Bund, apa dia Syaquena ya bund." ucap mas Chalik.
"Kenapa mas bisa berkata seperti itu?" tanya sang istri.
"Hemm mas hanya menduga saja. Entah kenapa semenjak itu mas selalu memimpikannya" ucap mas Chalik.
"Memimpikannya?" ucap istri mas Chalik tidak suka.
Mas Chalik tersenyum dan mengusap tangan istrinya.
"Kenapa bisa kamu memimpikannya nak?" tanya bunda.
"Kamu jangan prasangka dulu." ucap mas Chalik membujuk sang istri yang sudah keburu merajuk dan cemburu.
"Mas juga nggak tau bund, padahal maa hanya melihat nya sebentar itu pun hanya sekilas saja." ucap mas Chalik.
"Entah kenapa hati mas waktu itu merasa dekat dengan dia bund. Tapi itu kan nggak mungkin kan bund." ucap mas Chalik.
"Itu mungkin hanya perasaan mu saja nak." ucap Ayah Brata.
"Itu mungkin karena darah yang mengalir di tubuh kalian adalah sama." seru Emak.
"Kenapa Emak mengatakan seperti itu?" tanya mas Adam.
"Gini em mak tanya sama kamu Chalik, perasaan macam apa yang kamu rasakan saat melihatnya?" tanya emak
"Apa rasa sayang seperti rasa sayang pada adik-adik mu atau keluarga mu atau ada rasa seperti kamu sedang jatuh cinta." tanya emak lagi.
Istri mas Chalik melihat ke arah mas Chalik karena dia juga merasa penasaran akan jawaban sang suami.
"Jawab mas." ucap sang istri, mas Chalik tersenyum melihat sang istri yang masih cemberut.
"Emm seperti rasa saya sama Mimi mak, seperti juga rasa kepada adik-adik saya. Saya juga merasa detakan di jantung saya." jawab mas Chalik.
"Saya merasa ada yang memenuhi sebagian dari hati saya yang seperti telah lama hilang." imbuhnya.
"Waktu bunda mu melahirkan adik mu itu apa kamu melihat wajah adik mu itu?" tanya emak dan mas Chalik mengangguk.
"Iya Mak, waktu itu saya, Abidzar dan ayah yang selalu menemani bunda di rumah sakit. Bahkan yang memberikan nama buat adik kecil kami adalah Chalik dan Abidzar."
"Kami memberikan nama Syaqueena Azzahra." ucap Chalik.
Deg bunda merasa jantungnya seakan berhenti.
"Ya allah.." ucap bunda dengan memegang dada nya.
"Bund, bunda kenapa?" tanya ayah khawatir.
"Bund" ucap anak dan menantunya.
"Astaghfirullahal adziim" ucap bunda.
__ADS_1
"Bund, bunda kenapa?" tanya ayah Brata, adam dan Chalik.
tbc