DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
surprise yang menharukan


__ADS_3

Tak biasanya Mimi tidur lebih cepat dari sebelumnya, entah mengapa pula tubuhnya terasa sangat lelah dan mata yang tak bisa di ajak kompromi, apa itu karena lelah? entahlah yang jelas dirinya lelah lahir batin.


Setelah berwudhu, mulut tak hentinya menguap. Sebelum memasuki kamar dia berpamitan terlebih dahulu kepada ketiga sahabatnya untuk langsung tidur.


"Ir, Fi, Muth, Mimi langsung tidur ya.." pamit Mimi sebelum masuk kamar.


"Iya Mi." jawab mereka yang masih bergelut dengan buku. Sehabis sholat isya Mimi yang sudah mengantuk berat langsung tertidur pulas.


Di jam sembilan malam terdengar suara mobil dan tak lama terdengar suara ketukan pintu..


"Siapa ya guys, malam-malam bertamu?" tanya Irma.


"Emm sebaiknya kita ambil jilbab Ir." ucap Muthia yang langsung beranjak menuju kamar untuk mengambil jilbabnya. Tak lupa dia jga mengambilkan jilbab irm yang tersangkut di balik pintu.


"Nih Ir." ucap Muthia dengan memberikan jilbab Irma.


"Makasih Muth." jawab Irma.


Ketukan maaih terus terdengar dan kemudian terdengar ucapan salam.


"Assalamualaikum." ucap seseorang dari luar.


"Waalaikum salam." jawab Irma, Selfia dan Muthia.


Muthia berdiri dan membuka pintu, saat pintu terbuka Muthia terdiam mematung melihat siapa yang datang malam-malam..


Ada rasa haru, rasa kesal yang dirasakan Muthia namun bibirnya kelu dengan melihat ketiga orang yang berada di balik pintu.


Irma dan Selfia yang melihat tidak ada reaksi dari Muthia pun bertanya sambil ikut !mendekat ke arah pintu.


"Siapa Muth?" tanya Irma dan Selfia yang ikut melihat ke arah pintu, mereka berdua juga ikut terkejut dan mematung saat ketiga orang itu.


Dihati mereka ingin sekali mencabik-cabik muka salah satu diantaranya, tak hanya mencabik mungkin sumpah serapah pun ingin mereka layangkan, namun itu hanya ada dalam pikiran mereka karena otot syaraf gerak di mulut maupun tangan mereka kelu bagai tak ada tenaga untuk melakukan semua itu.


**


Disebuah apartemen, seorang pemuda sedikit galau kala satu Minggu tak melihat bahkan menikmati kue buatan orang yang di sayangi dalam diamnya.


Entah mengapa hati Dillah tak tenang, satu minggu tak bisa menatap gadis pujaan hatinya, bahkan tak bisa menikmati olahan tangan sang pujaan.


Dia tau sang pujaan sedang melaksanakan ujian dan ujian itu diadakan di luar kampus, namun setidaknya yang diharapkannya adalah tak bisa menikmati dengan memandang wajah setidaknya menikmati olahan tangannya saja.


Berbaring, duduk, berdiri, mondar mandir kembali lagi ke awal itulah yang dilakukan Dillah. Dikampus pun dia melakukan hal yang sama dengan memondar mandirkan diri ke kantin Bu Ruminah sehingga membuat kedua sahabatnya lelah melihat tingkah nya.


Tak beda jauh dari Dillah, Adit seorang inspektur dua di Polda kota ini pun ikut gelisah hatinya.


Semenjak pertemuan pertamanya sejak dari 4th lebih lamanya baru bisa melihatnya lagi adalah hal yang sangat sangat membuat hatinya bahagia.


Adit bertugas pada malam ini dan dia juga sedang menangani kasus serius, kasus gerbong narkob*. Malam ini mereka akan mengadakan operasi semut di sudut perkampungan di kota ini, yang mana mereka mendapat laporan ada pesta hijau alias pesta narkob* disalah satu perkampungan disana.


Dia ikut turun bersama para rekannya menuju lokasi yang telah menjadi target utama mereka.


Disini mereka juga harus waspada karena mereka mendapat kabar salah satu gerbong mereka membawa senjat* api.


Tak hanya satu lokasi yang akan mereka tuju malam ini, namun mereka juga akan mengoperasi lokasi sekitar pantai yang katanya juga dijadikan tempat pesta mir*s dan sab*.


Dia bersama sahabat ikut turun, karena operasi kali ini tak hanya kelas terinya namun ada raja nya juga.


Pengepungan di lokasi target telah dilakukan oleh aparat yang bertugas dan mereka segera menyusupi jalan-jalan sempit karena lokasi utama tepat didalam gang sempit.


Mereka tepat waktu datang ke lokasi, target tampak sedang berpesta sab* dan yang lain nya, semua target dapat dilumpuhkan walau ada sedikit kejar-kejaran. Di lokasi mereka tak hanya menemukan barang bukti berupa sab* dan alat pengisap lainnya, disana jpmereka juga menemukan beberapa mesin jud* jackpot.


Tapi sayang mereka belum bisa menangkap gerbong besar yang sering datang disana, kemungkinan besar operasi mereka telah bocor ke gerbongnya.


"Siap Ndan, semua sudah di bekuk." ucap salah satu anggota.


"Oke, apa semua sudah di angkut?" tanya nya.


"Siap Ndan, sudah dan siap kita angkut ke kantor." jawab anggotanya.


"Baik, lakukan." ucapnya.


"Siap Ndan." jawab si anggota dan beranjak menjalankannya.


Adit dan sisa anggotanya yang lain melanjutkan ke lokasi target kedua, semoga target mereka kali ini tidak terendus oleh mereka yang biasa berpesta di tempat itu.


Mereka langsung melanjutkan jalan ke target berikutnya di area tak jauh dari pantai. Sesampainya di sana mereka mulai menyusup mengikuti jalan setapak, baru juga mereka sampai ternyata mereka para peserta pesta sudah berhamburan berpencar melarikan diri, lagi-lagi operasi mereka terendus.

__ADS_1


Para anggota berlari mengejar mereka yang telah setengah oleng dan meringkusnya. Di operasi kedua ini mereka terlibat baku hantam bahkan terjadi pula tembak menembak.


Dua anggota terkena tembakan di lengan, demi kesejahteraan dan ketentraman masyarakat setempat para anggota tidak patah arang, mereka terus membekuk kawanan pesta mir*s dan sa*u itu. Hingga misi mereka selesai di saat adzan subuh berkumandang.


Adit dan rekannya kembali ke kantor sampai waktu aplusan, lelah itulah yang mereka rasakan. Tak hanya dua anggotanya saja yang terkena tembakan dirinya juga ikut tertembak namun tak separah kedua anggotanya yang mana peluru tembus ke bahu tangannya.


Adit hanya tersenggol peluru saja sehingga tidak begitu parah. Hal seperti ini sudah biasa bagi mereka yang sedang bertugas menghadapi penjahat masyarakat.


Luka adit hanya di beri betadhin dan di balut dengan kasa saja, walau hanya tergores namun rasa sakit dan nyeri juga dirasakannya. Namun rasa sakit itu sebanding dengan kerja keras mereka malam ini walau sang gerbong belum mereka dapatkan.


Jam aplusan tiba, Adit tak langsung pulang dia masih berada dalam ruangan nya untuk menyelesaikan beberapa tugas. Karena tangan nya yang luka sebelah kanan itu membuat ruang geraknya terbatas.


Baru dia selesai menyelesaikan sedikit kerjaannya dia di ajak IPDA Rio untuk sarapan dan mereka pun sarapan berdua diluar, IPDA Jordy dia sedang patroli anggota-anggotanya di kanit satlantas, yang mana dia mendapatkan laporan terjadinya kecelakaan di lokasi Y.


Saat Adit dan Rio jalan ke tempat sarapan yang mereka tuju, mereka dihadapkan dengan kemacetan yang padat.


Jordi yang melihat kedua rekannya, melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya. Adit mendekati jordi bersama Rio.


"Apa yang terjadi sob?" tanya Adit ketika telah sampai dekat Jordi dan bersalaman ala mereka.


"Biasa ada lakalantas." jawab Jordi.


"Kalian baru pulang jam segini?" tanya Jordi dengan melihat ke arlojinya.


"Hmm iya, ada kerjaan dikit." sahut Adit.


"Kalian mau kemana emangnya?" tanya Jordi.


"Rencana mau sarapan tempat biasa,." ucap Adit.


"Oo ohnya Dit tangan kamu kenapa?" tanya Jordi lagi ketika melihat tangan Adit di perban


"Ah biasa Jo.. Tergeser dikit." jawab Adit dengan senyum.


"Gimana berhasil tadi malam?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah cuma gerbongnya belum." jawab Adit.


"Emm gitu, emang licin tuh gerbong. Atau jangan-jangan ada yang bocorkan operasi kalian." ucap Jordi.


"Hmm entahlah." jawab Adit.


"Kecelakaan tabrakan beruntun, truk pembawa barang oleng dan bus nabrak jadilah Mimi bus di belakang bus ikut tabrakan." ucap Jordi.


"Oo, emm berapa banyak korban? udah telpon ambulance?" tanya Rio.


"Udah Yo, ya karena padat begini jadi kerja mereka sedikit terhambat. Kalian bantuin aku atur lalu lintas yuk." ucap Jordi dan mengajak kedua sahabatnya mengatur lalu lintas agar evakuasi berjalan lancar dengan kedipan mata.


"Kita mau sarapan dulu Jo.." ucap Rio.


"Sarapan apa jam segini bro." ucap Jordi.


"Yah setidaknya nih perut diisi dululah." jawab Rio.


"Ya tapi kan jalan masih padat gitu. Emm bentar, di mobilku ada roti kalian mau?" ucap Jordi.


"Bolehlah setidaknya bisa mengganjal." jawab Rio dan Jordi pun mengambil roti yang dibelinya sebelum meluncur ke lokasi ini.


Sehabis mengganjal perut dengan roti isi selai, Adit dan Rio me!bantu Jordi dan rekan lainnya mengatur lalu lintas agar evakuasimberjalan lancar dan jalanan kembali lancar.


Saat Adit mengatur jalanan, tanpa sengaja matanya menangkap seseorang yang dirindukannya kurang lebih 4th lebih ini yah bisa di bilang hampir 5th kurang hehee.


Dan tanpa disangka miminoun melihat ke arah nya, lebih tepatnya Mimi bukan melihat ke arah dia melainkan lihatnke arah jalanan yang tampak macet total.


Dengan PD nya Adit tersenyum dan melambaikan tangannya, bagaikan dapat tambahan imun dan vitamin dikala badannya yang lelalh habis aplusan kerja kembali berkerja membantu sahabatnya.


Turun sudah pangkat yang disandangnya ketika melihat gadis idamannya yang berada di dalam mobil tak begitu jauh jaraknya dari tepat dia berdiri, rasa lelahnya berganti daya yang full.


Saat jalanan mulai berjalan teratur dan mobil yang di tumpangi Mimi mulai berjalan serta kaca mobil di tutup kembali, Adit melihat mobil itu dengan tatapan nanar nya.


**back to kosan Mimi**


Ketiga sahabat Mimi masih diam terpatung melihat seseorang di depannya, tak lama di belakang seseorang itu datang lagi dua orang pemuda dengan gaya cool.


Geram, kesal itulah yang dirasakan oleh Muthia dan yang lain. dua orang pemuda di belakang pemuda yang lebih dulu ikut tercengang melihat temannya hanya diam berdiri dengan ketiga gadis di depannya dengan tatapan intimidasi.


Ketiga pemuda yang baru datang tersebut menelan salkvanya ketika melihat gaya ketiga gadis tersebut sangat mengerikan seperti emak-emak yang menangkap basah anak-anak nya pulang malam atau pulang terlambat.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap mereka bertiga tetapi tak di tanggapi oleh ketiga gadis itu.


"Ehem.. Nggak jawab salam dosa Loh." sindir salah seorang pemuda.


"Hem! waalaikum salam." jawab mereka ketus.


"Nah gitu dong hehee.. Ngomong-ngomong apa kita nggak di kasih izin masuk gitu.." ucap seorang pemuda lagi.


"Emm ngomong-ngomong Mimk di ma..." tanya seroang yang masih berada didepan Muthia yang sedang berkecak pinggang ( kedua tangan yang di taruh di pinggang ). Namun ucapannya terhenti karena mendengar suara teriakan dari arah dalam.


"Tolong jangan, tolong jangan, itu milik saya, tolooonng jangan di ambil," begitulah yang mereak dengar.


"Mimi.." ucap ketiga gadis.


"Mimi, ada ala dengan dia?" tanya seorang berada yang berdiri didepan Muthia panik dan langsung nyelonong masuk dengan menyingkirkan badan Muthia serta Selfia yang menghalangi jalan.


Pemuda itu langsung meletakkan tasnya asal dan langsung masuk kamar, Muthia hendak memberitahu namun pemuda sudah masuk kamar yang ternyata kosong.


"Dimana Mimi." tanya nya yang masih panik di tambah melihat kamar kosong.


"Mimi di kamar sebelah, tapi tungg" jawab Selfia namun belum selesai bicara sang pemuda langsung melesat menuju kamar sebelah, kamar yang biasa ditempatinya bila datang ke kota ini.


Yah yang datang adalah Syahril, Ryan dan Irsyad. Irsyad selalu !mengikuti merek berdua kalau berada di kota ini, biasanya tak hanya Irsyad, mbak Aish pun ikut mengawali mereka berdua.


Syahril langsung membuka pintunya, terlihat wajah yang selalu dirindukannya, wajah yang selalu membuat dirinya untuk segera memiliki diia seutuhnya.


Perlahan dia mendekati ranjang saat beberapa langkah dia berhenti karena dia lupa kalau Mimi hanya mengenakan baju tidur yang bertali minim.


Syahril berbelok arah dan segera menghalangi sepupunya yang juga ingin masuk.


"Stop, kalian tidak boleh masuk." ucap Syahril kepada Ryan dan Irsyad.


"Kenapa?" tanya Irsyad.


"Karena aku tak sudi kalian melihat nya saat ini." jawab Syahril dan mendorong mereka berdua.


Begitu pula ketiga gadis yang !e!asang wajah jutek juga ikut !menarik mereka berdua.


Setelah semua keluar, Syahril mendekati Mimi kembali. Terlihat Mimi masih gelisah dalam tidur nya dan meracau dengan deraian keringat di dahinya.


"Tolong, jangan ambil. tolong jangan." racau Mimi.


"Tolong, itu milikku.. tolong jangan ambil, kembalikan hiks.." uracau Mimi lagi dan kali ini dengan air mata yang menetes di sela ledu matanya.


"Sayang." Syahril memanggil Mimi tapi Mimi belum juga sadar.


"Apa yang sebenarnya terjadi dek, kami lagi mimpi apa? dan kenapa kamu jadi kurus gini." ucap Syahril yang menelisik setiap jengkal tubuh Mimi yang terbalut selimut.


"Tidurlah, kakak tidak akan meninggalkanmu lagi." ucapnya sembari merebahkan tubuhnya di samping Mimi dan memeluknya dari belakang.


Seketika Mimi berhenti meracau seakan Mimi mendapatkan sebuah ketenangan. Mimi kembali tertidur pulas.


Syahril melihat Mimi sudah tenang tidurnya, diapun tersenyum sambil mengecup kening Mimi.


"Tidur lah dek, kakak ada disini." bisiknya. Mimipun dengan erat memeluk Syahril.


di ruang tamu ketiga gadis masih terlihat jutek melihat kearah Ryan dan Irsyad, mereka diam namun mata masih melihat ke arah dua pemuda itu seolah me!inga penjelasannya.


"Emmm Muth, nggak dikasih minum gitu!" ucap Irsyad memecah keheningan diantara mereka..


"Nggak." jawab ketiga gadis itu dengan keras.


"Astaghfirullah, kompak banget kalian." sahut kak Ryan.


"Fi, nggak ada camilan ya?" tanya kak Ryan.


"Nggak." jawab ketiga gadis itu lagi dengan ketus.


"Huummmm fuuuuh" kedua cowok itu menarik nafas dan menghembusnya kasar.


Irsyad berdiri hendak ke belakang untuk mengambil minunu namun dihentikan oleh Muthia.


"Mau kemana kamu!! Ucap Muthiamseketokamorsyad berhenti dan menoleh ke arah Muthia.


" Main kebelakang Muth, haus.'' jawab Irsyad. "Kamu mau ambilkan?" tanya Irsyad lagi


"Hmmm ogah." jawab Muthia.

__ADS_1


"Huummmm fuuh ckk." ucap Irsyad dan kembali berjalan ke dapur.


tbc


__ADS_2