DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Chapter 36 Senyummu Kebahagiaanku.


__ADS_3

"Cinta kasih di dalam hati itu terbagi-bagi bagaikan dahan-dahan pohon cedar. Jika pohon itu kehilangan satu dahan yang kuat, ia akan menderita namun tidak mati. Pohon itu akan menumpahkan seluruh daya hidupnya ke dalam dahan berikutnya, sehingga ia akan tumbuh dan mengisi tempat yang kosong.”


Syahril yang tampak frustasi dan kusut menyesal kenapa bisa-bisanya dia kesiangan, menyesal kenapa dia lupa untuk memberitahukan kepada sang pujaan hati.


Mimi adalah orang pertama yang bisa memporak-porandakan hatinya. Walaupun sebelumnya dia pernah pacaran hanya sebatas pacaran semu tapi dia tak pernah merasakan seperti apa yang dia rasakan terhadap Mimi.


Entah apa yang dia rasakan terhadap Mimi diapun tak tau, yang jelas dia rasakan dia ingin selalu bersama Mimi dan dia ingin selama hidupnya hanya selalu bersama Mimi.


Tiap sujudnya dia selalu meminta kepada sang pencipta, jika dia ingin suatu saat jodohnya hanyalah Mimi, walau apa yang dia minta itu adalah hal yang mustahil, karena kehidupan ini adalah misteri sang Illahi.


Karena tak menemukan sang pujaan hati mereka pun menaiki mobil dan tujuan mereka yang terakhir mereka akan pergi kekedai roti dan cafe mereka untuk sekedar mengecek keuangan.


Disaat mobil yang sedang melaju melewati keluar dari persimpangan toko buku, Ryan yang sedang memperhatikan arah kiri dan kanan untuk melihat keadaan jalan. Ryan sepintas melihat rombongan Mimi berjalan menuju masuk ke persimpangan jalan di sebelah kanan mereka.


Ryan yang melihat spontan langsung menurunkan jendela dan memanggil Mimi namun karena jarak nya pun jauh dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan, Mimi tak mendengar panggilan tersebut.


Syahril yang mendengar dan melihat tingkah Ryan pun dia langsung melihat ke arah kanan namun setelah melihat kendaran yang sudah lengang dia tak melihat keberadaan Mimi di sana.


"Eh Yan, tadi lo manggil Mimi dimana?" Tanya Syahril dan terus menyapu setiap jalan yang berada di sebelah kanan mereka.


"Iya tadi aku lihat Mimi dan yang lain belok ke arah persimpangan swalayan itu." Jawab Ryan serta menunjuk ke arah swalayan yang dimaksud.


Mendengar itu Syahril pun memerintahkan Ryan untuk menuju ke arah Swalayan tersebut.


Karena menuju Swalayan tersebut mereka harus mengikuti jalur dan harus berputar arah terlebih dahulu. Sesampainya di persimpangan Swalayan mereka pun masuk dan menelusuri setiap jalan di sana yang berjejer ruko-ruko dan Ryan melajukan mobilnya secara perlahan.


"Apa mungkin dia masuk ke Swalayan dulu." Ucap Ryan.


"Kurasa mereka gak masuk swalayan, seperti gak kenal mereka aja." Ucap Andri.


"Iya mereka kalau punya tujuan satu pasti satu itu aja yang mereka kunjungi, kecuali mereka punya planning lain." Ucap Syahril dan matanya terus menyapu setiap orang yang jalan di sepanjang ruko-ruko.


Tepat di depan gapura Ryan melihat Mimi dan kawan-kawan akan menyeberang jalan, Ryan sedikit kencang melajukan mobilnya dan sambil mengklakson mobil "tintin... tintin.. Tintin."


Sekali lagi mereka telat mengejar Mimi, Mimi keburu telah menyeberangi jalan.


Syahril tak tahan menunggu, untuk mengejar Mimi diapun turun dan berlari mengejar., karena jika memakai mobil mereka harus lewat jalur lain lagi dan itu memakan waktu lama lagi.


"Stop Yan, lo ma Andri naik mobil aja kita ketemu di WTC ya.. Aku turun disini aja." Ucap Syahril dan dia terus turun dari mobil dan langsung berlari menyeberang tanpa mendengar jawaban dari sahabatnya lagi.


Sekuat tenaga Syahril berlari setelah hampir dekat dengan Mimi dia mencoba memperlambat larinya dan berjalan sambil mengendap seperti orang ingin menangkap maling saja ☺☺☺.


Setelah dekat dia dengan cueknya menerobos jalan di tengah-tengah Emma Manda dan Novi untuk menuju ke arah Mimi.


Emma yang merasa ada yang menerobos dengan spontan dia mengumpat dan sumpah serapah keluar dari mulutnya.


"Eh kamp***t, s****n, buta apa ya." Emma mengumpat sambil menghantam badan Syahril dengan tas nya.


Begitu pula dengan Manda yang hendak berteriak copet namun terhenti ketika yang dia liat adalah Syahril, Syahril hanya tersenyum dan menyuruh mereka diam dengan telunjuknya di arahkan ke bibirnya. Emma Manda dan Novi tau maksudnya mereka pun diam.


Syahril langsung melanjutkan aksinya untuk mengagetkan Mimi dengan cara langsung merangkul kan tangannya di pundak Mimi.


Mimi yang merasa ada orang asing yang merengkuh pundaknya pun spontan menghantamkan kantong plastik yang berisi buku-buku ke arah sampingnya.


Mimi terus menghantam dan Syahril mengaduh. Mimi yang seakan mendengar suara dari Syahril pun dia berhenti menghantam dan dia lihat kalau itu adalah Syahril Mimi hanya diam mematung tak percaya.


Syahril yang melihat Mimi diam mematung diapun mengibaskan tangannya ke arah Mimi dan Mimi belum meresponnya, akhirnya Syahril merangkul kembali Mimi spontan Mimi pun sadar dari lamunannya.


Mereka pun melanjutkan jalan, Mimi yang masih dalam rangkulan Syahril hanya diam tak ingin bersuara.


"Kok kak Syahril tiba-tiba ada disini," Tanya Emma dan pandangan Emma menyapu sekeliling tapi yang ada hanya Syahril seorang.


"Iya tadi kaka liat kalian, diklakson tapi keburu kalian nyeberang. " Ucap Syahril dengan terus tersenyum.


"Hmm kalau kakak klakson terus mobilnya mana?" Tanya Manda.


"Mobil dibawa Ryan sama Andri." Ucap Syahril singkat dan terus tersenyum ke arah Mimi namun Mimi masih membisu.


"Jadi.." Belum selesai Di'ah bertanya sudah di potong sama Syahril.


"Udah kita jalan aja nanti kita langsung ke WTC ya, Ryan sama Andri langsung kesana." Jawab Syahril dan mereka terus berjalan menelusuri pasar tradisional yang masih padat oleh para khalayak.

__ADS_1


Terbebas dari penatnya orang-orang di pasar mereka menyebrang jalan menuju Ramayana yang mana WTC berada di samping mall tersebut.


Syahril yang melihat Mimi masih dengan kebisuan nya. Dia pun berusaha untuk menjahili dan mengajaknya bicara namun Syahril hanya mendapatkan jawaban pelototan dari mata Mimi.


Melihat Mimi melotot Syahril hanya ketawa-ketawa dan sekali-kali mencolek hidung Mimi. Sekali lagi Syahril hanya mendapatkan cemberutan dari Mimi.


Mereka pun sampai di WTC dan mereka masuk ke Sola**a dan di sana Ryan dan Andri sudah menunggu mereka.


Ryan melihat sang pujaan hatinya Di'ah serasa berbunga-bunga dan bahagia, begitu pula dengan Andri yang melihat Manda.


Emma yang melihat ketiga sahabatnya telah bertemu dengan pujaan hati diapun berceloteh.


"Hemm enak nih yang sudah ketemuan ma pujan hati." Ucap Emma sambil mengerucutkan bibirnya.


Mereka semua duduk di kursi yang telah di pesan oleh Ryan dan Andri.


Di'ah duduk disamping Ryan, Manda duduk disamping Andri. Syahril duduk disamping dengan Mimi sedangkan Emma, Novi dan Sila duduk bersama di meja di sebelahnya.


Mereka semua bercengkerama dan menanyakan kemana saja mereka selama satu minggu ini, sebelum para lelaki menjawab Ryan melihat Mimi yang sedari nyampe hingga kini masih terdiam dia pun mencolek Di'ah dan menanyakan ada apa secara berbisik.


"Dek, Mimi kenapa?" tanya nya.


Di'ah hanya menjawab dengan menggidikkan kedua bahunya. Ryan yang tidak puas dengan cara jawaban sangat kekasih diapun ingin menanyakan langsung kepada Mimi, sebelum bertanya dia sudah melihat dari sorotan tajam di mata Mimi dia pun terdiam.


Mimi yang duduk berdekatan dengan Di'ah mendengarnya dan memberikan tatapan dengan sorotan tajam kepada Ryan dan Mimi juga melihat ke arah ketiga lelaki tersebut secara bersamaan berharap mereka menjawab segera apa yang di tanyakan oleh teman-temannya tadi, namun mereka belum juga menjawab bahkan Syahril selalu menggodanya dengan senyuman-senyuman.


Lama Mimi menunggu jawaban mereka namun tak kunjung terjawab Mimi pun merasa jengah dan Mimi beranjak pamit untuk pulang duluan kepada mereka semua.


"Maaf Mimi pulang duluan." Pamit Mimi dan dia langsung menuju ke pintu keluar tanpa harus menunggu jawaban dari mereka.


Mereka semua di sana tercengang dengan tingkah Mimi terutama teman-temannya yang tau bahwa Mimi sangat merindukan Syahril tapi kenapa Mimi seperti ini.


Disaat Mimi sudah berada diluar Syahril tersadar dari tercengang nya lalu dia berlari keluar mengejar Mimi, sebelum lari dia minta kunci mobil kepada Ryan.


Dia terus mengejar Mimi yang hampir berada di pintu luar mall, Syahril langsung memegang tangan Mimi dengan cara mencengkeram nya, Mimi yang merasa tangannya berada dalam cengkeraman Mimi pun berusaha untuk melepaskan nya.


"Kak lepaskan!!" ucap Mimi sambil mengayunkan tangannya dari cengkeraman Syahril. Namun apalah daya cengkeraman Syahril lebih kuat dari tenaga Mimi.


Syahril menarik tangan Mimi agar mengikuti langkahnya, Mimi yang ditarik pun mengikuti langkahnya dan tangan Mimi berada dalam genggaman Syahril.


Disaat Syahril ingin mengangkat tubuhnya Mimi langsung aja masuk ke dalam dan duduk dengan diam.


Syahril masuk dan duduk di bangku kemudi, lama mereka berada di dalam mobil hanya kesunyian yang ada disana.


"Ada apa dek?" Tanya Syahril yang terus memandang Mimi.


Mimi masih diam tak ingin menjawab namun bergumam dalam bathinnya "Masih nanya kenapa? dasar laki-laki."


Syahril yang melihat Mimi masih diam dan tak ingin menjawab nya dia pun bertanya kembali dengan intonasi sedikit keras.


"Sebenarnya ada apa? jawab dong dek." Tanya Syahril dengan frustasinya.


Mimi yang mendengar ucapan Syahril dengan intonasi yang meninggi merasa terenyuh di hatinya, tak terasa tercipta bendungan di kedua pelupuk mata Mimi.


"Lebih baik adek marahin dan maki-maki kakak dari pada adek terus diamin kakak seperti ini...Aiss." Ucap Syahril lagi dengan gusar dan meremas rambutnya.


Mimi yang mendengarnya merasa sesak di dadanya, ingin dia keluarkan segala unek-unek, ingin dia berteriak memarahi, memaki tapi Mimi tak memiliki kemampuan untuk itu semua.


Mimi juga tidak tau kenapa dia seperti ini, dia tidak tau apa yang sedang dirasain nya. senang kah atau kecewa kah , entahlah.


Mimi ingin menuangkan segala kerinduanya kepada lelaki disampingnya, ingin memeluknya, ingin menumpahkan segalanya tapi Mimi tak mempunyai keberanian untuk semua itu.


Orang yang telah dia rindukan selama satu minggu ini, telah berada disampingnya tapi tangan tak sanggup untuk mendekapnya.


Mimi menolehkan wajahnya ke arah luar jendela, tak terasa bendungan itupun akhirnya tumpah sudah, hanya air mata yang bisa ia tumpahkan sedangkan unek-unek dalam dada tak sanggup untuk dia tumpahkan.


Syahril yang melihat ada getaran di tubuh Mimi getaran seperti orang menahan isak tangis dia pun merengkuh badan Mimi dan dia coba membalikkan badan Mimi agar melihat ke arahnya.


Syahril berhasil membalikkan badan Mimi dan dia melihat wajah Mimi sudah basah karena air mata yang tak sanggup di bendung lagi.


Syahril menangkup wajah Mimi dengan kedua tanganya dan dia hapus air mata yang masih mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Maafkan kakak, kakak tak bermaksud untuk membentakmu." Ucap Syahril dan terus mengusap lembut kedua pipi Mimi.


Entah dapat keberanian dari mana Syahril mencium kening Mimi dengan sentuhan dalam dan dia juga mencium kedua mata Mimi yang basah karena air mata.


Mimi yang mendapatkan ciuman mendadak seperti itu tercengang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Syahril.


Setelah Syahril mencium Mimi dia terus mengucapkan kata maaf.


"Maaf, kakak tau kakak salah dek,.. Maaf." Ucap Syahril dan terus menatap Mimi dan akhirnya dia menarik tubuh Mimi dalam dekapannya.


Ini kali pertama Mimi merasakan di dalam dekapan seorang lelaki, ada rasa nyaman dan getaran yang tak menentu di dalam dada Mimi begitu pula dengan Syahril saat dia memeluk Mimi jantungnya berdegup dengan kencang, Syahril terus memeluk Mimi dengan erat.


"Jangan pernah diami kakak dek, kakak tidak sanggup jika melihat adek diam membisu seperti ini."


"Kakak sangat sayang sama adek, kakak rindu adek."


Mimi mencoba untuk lepas dari pelukan Syahril yang begitu erat sehingga membuat Mimi sulit untuk bernafas apa lagi dengan posisi duduk di dalam mobil.


"Kak, lepas.." Ucap Mimi dengan terus mendorong tubuh Syahril, namun Syahril semakin mempererat pelukannya dan tak ingin melepaskannya.


"Ndak dek kakak ndak mau melepaskannya." Jawab nya.


"Kak.. Lepas.. Mimi ndak bisa na fas." Ucap Mimi terbata dan Syahril yang mendengarnya tersenyum dan melepaskan pelukannya.


Mimi memanyun kan bibirnya melihat Syahril yang terus-terusan tersenyum.


"Dihhh bibirnya, gak kuat abang dek. abang cium ya.." Ucap Syahril dengan candaan.


"Apaan sih.. Ndak ndak ndak.." Jawab Mimi dengan menutup bibirnya dengan satu tangan dan tangan satunya dia melambaikan ke arah Syahril.


Syahril yang melihat tingkah Mimi dia terus ketawa terbahak dan terus menggoda Mimi.


"Senyum dong dek, kakak rindu dengan senyuman adek." Ucapnya sambil memainkan kedua matanya dengan senyuman yang terus merekah.


Mimi yang melihat tingkah Syahril ingin juga dia ketawa tapi dia gengsi untuk melakukannya dan Mimi terus cemberut.


"Jadi kita mau kemana yank." Ucapnya.


"Terserah." Jawab Mimi ketus


"Ketus amat sih dek." Ucap Syahril dengan terus menggoda dan mentoel dagu Mimi.


Tak lama suara dering HP Syahril berbunyi dan ternyata yang memanggil adalah Ryan


dan dia pun mengangkatnya.


"Ya bro."


"Dimana lo bro, jadi kita di tinggal nih." Tanya Ryan di seberang sana.


"Parkiran." Jawabnya singkat.


"Yaudah kita kesana ya." Ucap Ryan dan langsung dimatikan sambungannya dan langsung menuju parkiran.


Mereka telah sampai parkiran dan masuk kedalam. Emma yang melihat Mimi masih dengan diamnya.


"Mi.. Are you oke." Ucap Emma.


Mimi hanya menganggukkan kepalanya.


Satu mobil penuh oleh penumpang, Syahril mengajak semua ke tempat yang bisa menenangkan hati.


Syahril terus memandangi Mimi dan bergumam dalam hati.. "Senyummu adalah kebahagianku dek."


**HAI HAI PARA READERS DOKTER JANTUNGKU YUK TERUS IKUTI SETIAP ALUR CERITANYA YA..


JANGAN LUPA DUKUNGAN DAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.


RATE⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE

__ADS_1


LIKE❓❓❓❓


KOMEN**


__ADS_2