
Sehabis makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Ryan juga ikut bergabung dengan keluarga besar Syahril dan Mimi.
Babah Di'ah mulai di rawat di rumah sakit Abidzar, semua itu di rekomendasikan oleh ayah Brata. Ryan sangat bersyukur atas semua ini.
"Yah sekali lagi Ryan ucapkan terimakasih." ucap Ryan kepada ayah Brata.
"Tidak perlu terimakasih Yan, kamu juga merupakan anak ayah, keluarga ayah." jawab ayah Brata.
"Semoga dengan perawatan disini ayah mertua mu segera pulih kembali." ucap ayah Brata.
"Amin semoga ya Yah." ucap Ryan.
"Memang sudah berapa lama ayah mertua mu stroke Yan?" tanya bunda.
"Sudah 12tahun Bun." jawab Ryan.
"Oo memang belum ada penanganan sebelumnya?" tanya bunda lagi.
"Katanya sih sudah Bun, tapi ya masih saja begitu. Alhamdulillah semenjak setahun lalu di bantu perawatan di rumah sakit Umma ada perubahan setidaknya Babah sudah bisa duduk walau tidak bisa lama." ucap Ryan.
"Emm ya semoga saja dengan perawatan di sini mertua mu itu bisa pulih, ya walau membutuhkan waktu yang cukup lama." ucap bunda.
"Iya Bun, semoga saja." jawab Ryan.
"Oh ya Riil jadi siapa nama twins?" ucap bunda mengalih ke arah Syahril saat terdengar kekehan twins yang sedang bermain dengan Syahril.
Terdengar kekeh-kekehan khas baby, Syahril menciumi pipi gembul kedua anaknya.
Saat mendengar pertanyaan bunda Syahril pun berhenti menciumi pipi gembul nan menggemaskan itu.
"Emm menurut bunda dan yang lain bagaimana?" tanya Syahril.
"Ya terserah kamu dan Mimi Riil," ucap Umma
"Emm gimana dek?" ucap Syahril yang bertanya pada Mimi.
"Ya seperti yang kita bahas sebelumnya kak." jawab Mimi.
"Emm Syahril dan Mimi pernah membahas ini dan kami ingin meminta izin pada ayah dan bunda" ucap Syahril.
"Izin apa nak?" tanya bunda Rahmah
"Kami berdua minta izin memakai nama-nama bang Alzam untuk si twins Bun." jawab Syahril. Bunda terharu bahkan bunda tak bisa berkata apa-apa, bunda di peluk oleh ayah Brata yang berada di sampingnya.
"Memangnya mau kau beri nama siapa nak buat twins." tanya ayah Brata.
"Em bismillah, kami ingin menamai mereka buat si Abang Zavier Alzam Mirza dan si adek Xavier Abidzar Mirza." ucap Syahril.
"Emm yang mana artinya dari Zavier dan Xavier itu sama-sama bersinar semoga kehadiran mereka di keluarga kita ini dapat terus menyinari kebahagian pada kita." imbuh Syahril.
"Sedangkan Mirza itu artinya anak yang baik dan Mirza juga merupakan singkatan dari nama dari kedua orang tua mereka, Amir dan Zahra." imbuh Mimi.
"Sedangkan Alzam dan Abidzar kami sengaja memasukkan nama mendiang mas Abi yang mana artinya dari Alzam adalah tekun dan Abidzar adalah tambang emas. Jadi artinya semoga menjadi anak baik yang terus bersinar, tekun dan menyebarkan sinar kebaikan di kehidupannya." ucap Syahril.
Si twin tersenyum melihat Syahril saat memberitahukan nama mereka.
**
Di apartemen Ryan, Di'ah baru saja pulang. Di'ah belum tahu jika Ryan serta orang tuanya berada di negara ini.
Tampak wajahnya yang lelah, Di'ah langsung masuk ke dalam kamar nya dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ryan juga telah pulang ke apartemen nya, Ryan masuk ke dalam kamar nya dan duduk di atas king bad nya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Ryan tersenyum ketika melihat Di'ah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutup dada sampai di atas lutut.
Di'ah belum menyadari keberadaan Ryan di dalam kamarnya. Di'ah masih menyibukkan handuk yang berada di atas kepalanya.
Di'ah berjalan menuju lemari pakaian yang berada di dalam walk-in closet. Namun saat dia akan membuka pintu walk-in closet, Di'ah melihat bayangan seseorang yang sangat familiar dan sangat amat dirindukannya dari pantulan kaca pintu.
Awalnya Di'ah merasa itu hanya kehaluanya saja.
"Huh, sabar ya dek semoga ayah cepat datang ya." ucap Di'ah dengan mengelus perut nya yang sudah mulai kelihatan buncit.
Lagi-lagi Di'ah mengurungkan niatnya untuk membuka pintu walk-in closet hanya untuk melihat bayangan sang suami. Mungkin karena akibat hormon kehamilan dan selama kehamilan dirinya berjauhan dengan sang suami, sehingga membuat semua apa yang di lihatnya adalah bayangan semata.
Di'ah semakin terdiam memperhatikan bayangan dari dalam kaca tersebut apa lagi dia melihat bayangan itu tersenyum dan mulai berdiri mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Di'ah masih larut dalam khayalan atau imajinasi nya yang berharap jika itu adalah sebuah kenyataan.
Ryan yang telah mendekat dan berada di belakang Di'ah hanya tersenyum melihat Di'ah yang belum menyadari keberadaannya.
Ryan memeluk Di'ah dan mencium aroma sabun serta aroma sampo di tubuh dan rambut Di'ah yang masih tertutup handuk.
Di'ah masih terdiam bahkan Di'ah menutupkan matanya, dia berharap ini adalah nyata. Saat Ryan memeluk nya pun Di'ah masih terdiam dan tak ingin membuka matanya.
"Dek, bunda merasa ayah memeluk kita dek" ucap Di'ah dengan mata yang terpejam dan mengelus perut yang terlihat mulai membuncit.
"Bunda Ndak mau membuka mata dek, bunda takut saat bunda membuka mata bayangan ayahmu hilang." ucap Di'ah lagi sambil menikmati pelukan Ryan.
Ryan hanya tersenyum mendengar ucapan Di'ah dan Ryan semakin mengeratkan pelukannya.
Ryan masih tak ingin mengeluarkan suaranya, begitu pula Di'ah tak ingin membuka matanya. Perlahan Ryan mencium leher, telinga bahkan Ryan telah membalikkan tubuh Di'ah untuk menghadap ke arahnya.
Ryan tersenyum melihat Di'ah masih betah memejamkan matanya. Ryan mengelus pipi Di'ah dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya masih memeluk Di'ah.
"Hikss bunda rindu sama ayah mu dek. Ini nyata atau hanya khayalan bunda ya dek." ucap Di'ah yang masih betah memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan dari Ryan.
Tak terasa air mata Di'ah meleleh dan mengalir di kedua pipinya, dia masih tak ingin membuka matanya. Dia ingin tetap merasakan belaian tangan bahkan ciuman dari Ryan.
Sedangkan Ryan yang melihat air mata jatuh di pipi Di'ah langsung menghapus dengan kedua jempolnya.
Ryan mengecup bibir Di'ah, Di'ah yang merasa bibir nya di kecup semakin membuat air mata nya mengalir.
"Bukalah matamu dek." ucap Ryan dengan mengecup air mata yang mengalir di pipi Di'ah.
"Tidak, aku tidak mau membuka mata ini. Aku tidak mau setelah membuka mata ini aku kehilangan momen yang sangat ku rindukan hiks hiks." ucap Di'ah, Ryan memeluk Di'ah erat dan mengelus punggung Di'ah dan terus membisikan ke telinga Di'ah untuk membuka matanya.
"Bukalah, kakak ada di sini. Kamu tidak sedang berkhayal sayang. Bukalah." bisik Ryan.
"Benaran.. Jika aku buka kakak ku tidak menghilang." ucap nya dengan sedikit isakan.
"Iya, apa kamu tidak merasa pelukan dan ciuman ku hmm" ucap Ryan dan kembali mengecup bibir Di'ah.
Perlahan Di'ah membuka matanya, semakin mata terbuka dan semakin jelas wajah yang dirindukan terlihat membuat air mata nya terus mengalir tanpa bisa dia ungkapkan dengan kata-kata dan Di'ah langsung memeluk erat Ryan.
"Ini beneran kakak kan" ucap nya dengan suara yang serak.
"Cup jangan nangis lagi." ucap Ryan denga. menciumi seluruh wajah Di'ah.
"Kakak sangat merindukanmu." ucap Ryan dan langsung ******* bibir Di'ah, Di'ah yang memang telah teramat rindu menerima serta membalas ciuman Ryan hingga pasokan udara menulis barulah mereka berhenti.
Ryan mengangkat tubuh Di'ah dan di dudukkan di atas kasur.
"Bagaimana si kecil hmm" ucap Ryan yang sudah berada di depan perut Di'ah dengan posisi berjongkok di hadapan perut Di'ah.
"Dia sangat baik, tidak rewel dan kuat." ucap Di'ah dengan mengelus rambut Ryan yang sedang menciumi perut Di'ah.
"Maafkan ayah ya dek, baru datang sekarang." ucap Ryan dengan mengelus perut Di'ah.
Ryan melihat Di'ah begitu pula Di'ah menatap mata Ryan dengan sorot mata yang sangat amat memendam kerinduan.
Ryan berdiri dan duduk di samping Di'ah dan membawa tubuh Di'ah dalam pelukannya. Nyaman itu yang dirasakan Di'ah saat ini yang sedang berada dalam dekapan sang suami.
"Kakak kapan datang?" tanya Di'ah.
"Jam setengah tujuh tadi kakak sampai." jawab Ryan dengan terus mengecup kening Di'ah.
"Emm jadi sewaktu kakak telpon kakak sudah ada di sini?" tanya Di'ah dengan kepala yang masih menempel di dada Ryan dan tangan nya bermain di dada Ryan.
"Iya, sewaktu nelpon tadi kakak baru sampai di bandara." jawab Ryan dengan terus mengecup kening Di'ah.
Perlahan Ryan melepaskan handuk yang masih berada di kepala Di'ah.. Ryan menangkap wajah Di'ah dan di arahkan untuk menghadap ke arah nya.
Perlahan bibir Ryan menuju ke arah bibir Di'ah dan akhirnya bibir itu pun mendarat mulus ke bibir Di'ah. Bak dayung bersambut Di'ah pun membalas kecupan itu hingga mereka berdua larut dalam gelora yang tak tertahankan.
Dengan nafas terengah, Ryan menatap wajah Di'ah.
"Boleh ya?'' ucap Ryan dan Di'ah mengangguk.
Ryan yang mendapat anggukan pun memulai kecupan aksinya dari kening, mata hidung, kedua pipi hingga bibir. Tak hanya bibir leher serta bagian-bagian inti yang lain pun tak luput dari kecupan sehingga malam itu Ryan dan Di'ah pun mengabiskan waktu malam mereka berdua dengan menuntaskan kerinduan mereka.
Di apartemen Mimi suasana masih ramai, apa lagi si twins yang malam ini seakan enggan menutup mata. Baby X dan Baby Z masih bermain dengan Syahril.
"Lihat lah san, si twins sepertinya ingin menganggu ayah mereka." ucap Babah pada bapak dan ayah Brata.
__ADS_1
"Iya, twins sangat bahagia begitu juga dengan Syahril." ucap ayah Brata.
Kekeh-kekehan twins semakin terdengar kala Syahril membuat kelucuan di depan mereka.
"Yah yah yah yah." ucap twins
"Eh anak ayah panggil ayah ya umm" ucap Syahril dengan menciumi pipi gembul baby X dan Z, lagi-lagi mereka tertawa.
"Eh mi lihat twins panggil Syahril ayah." seru bunda.
"Iya ajaib benar nih baby X dan Z" ucap Umma.
"Anak ajaib, anak baru usia 4,5 bukan dah bisa panggil ayah." ucap emak.
Mereka terus memperhatikan interaksi baby twins dan Syahril. Baby twins semakin menjadi terkekeh kala Syahril terus menciumi pipi gembul dan sesekali perut mereka dan baby twins pun terus mengucapkan "yah yah yah"
Mimi melihat jam telah jam sembilan, Mimi pun mengambil salah satu baby yang duduk di baby chair untuk digendongnya.
"Saatnya bobok ya sayang" ucap Mimi yang telah menggendong baby Zavier.
Zavier berontak dan merengek tidak mau di gendong.
"Cup cup cup, besok lagi main sama ayah nya ya. Sekarang Abang dan adek bobok dulu ya." ucap Mimi dengan menimang baby Z. Seolah mengerti baby Z pun tidak meronta lagi.
"Kak, ayok kita bawa twins masuk kedalam kamar." ucap Mimi, Syahril pun mengangguk dan mengambil baby Xavier dan menggendongnya.
"Ammi, eyang uti dan eyang Ino Abang sama adek bobok dulu ya." ucap Mimi kepada para nenek
"Datok, eyang adek sama Abang mau bobok dulu." ucap Syahril kepada para kakek.
"Yaudah kalian tidurkan twins, kami juga mau istirahat." ucap ayah Brata.
"Assalamualaikum " ucap Mimi dan Syahril saat mereka akan naik ke atas.
"Waalaikum salam" jawab para nenek dan kakek.
"Oh ya san kami istirahat dulu." pamit ayah Brata.
"Iya san, selamat beristirahat." ucap bapak dan Babah.
Ayah Brata dan bunda Rahmah pulang ke apartemen sebelah apartemen Abidzar. Apartemen Abidzar sekarang di huni oleh Mbak Surti dan Jonathan atas permintaan Mimi dan bunda. Mimi tidak ingin apartemen itu kosong.
Yah walaupun kamar Abidzar tetap tak di huni karena Mbak Surti dan Jonathan menempati kamar yang berada di lantai bawah.
Mimi dan Syahril masuk kedalam kamar baby twins, kedua baby sitter twins masuk kedalam kamar yang di sebelah kamar baby twins.
Mimi mengambil botol serta kantong asi yang berada di dalam freezer dan Mimi mulai memanasi alat untuk memanaskan asi.
"Gimana dek,apa asi mu masih lancar?" tanya Syahril, yang meletakkan baby X ke atas kasur perlahan.
"Alhamdulillah, masih lancar kan." jawab Mimi sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air hangat.
Setelah mengambil air hangat dan Mimi telah berada di dekat anak dan ayah ini, Mimi pun langsung membuka diapers baby Z dan Syahril membuka diapers baby X. Mimi mengelap bagian int*m baby Z dengan washlap yang sudah di basahi dengan air hangat.
Begitu pula dengan Syahril yang juga membersihkan bagian int*m baby X seperti yang Mimi lakukan, stelah itu mereka pun memakai kan diapers baru dan barulah mereka memberikan ASI kepada baby twins.
Baby Zavier meminum asi langsung dari pabrik nya sedangkan baby Xavier melalui botol. Syahril yang melihat Zavier begitu lahap dan menikmati pabrik ASI-nya membuat Syahril yang melihat nya meneguk air liur nya sampai beberapa kali zakun nya naik turun.
Mimi hanya diam dan cuek dan pura-pura tidak melihatnya.
"Dek, lihat Abang menguasai pabrik nya sendirian dek." ucap Syahril pada baby Xavier.
Seolah mengerti apa yang di ucapkan Syahril baby Xavier menoleh ke arah Mimi dan kemudian menoleh ke arah Syahril dan itu dilakukan berulang kali dengan bibir terus mengenyot dot.
"Emm adek Ndak mau gitu kayak Abang." ucap Syahril seolah memprovokasi baby Xavier. Baby Xavier melihat Syahril dan setelah itu melengos.
"Hmm kalau adek Ndak mau buat ayah saja ya." ucap Syahril lagi, baby Xavier melihat ke arah Syahril dengan sorot mata tajam. begitu pula Zavier yang mendengar itu berhenti sejenak dan melepaskan penghubung pabrik ke mulutnya untuk melihat Syahril dengan sorot mata tajam pula.
"Yah mom, anakmu mom mengintimidasi ayah mom." ucap Syahril seolah mengadu, Mimi hanya menggelengkan kepala.
Setelah Zavier dan Xavier puas menyusu tak lama mata mereka pun terlelap. Setelah di pastikan terlelap Mimi dan Syahril memasang besi di setiap sisi kasur untuk menjaga agar baby twins tidak terjatuh.
Yah kasur khusus baby twins sudah di pesan langsung sama Syahril dengan memakai pengaman di sisi kiri dan kanan serta bagian bawah kaki mereka.
Setelah dipastikan keamanan terpasang, Mimi dan Syahril pun keluar dan menuju kamar mereka berdua
***TBC***
__ADS_1