
Selesai sholat subuh, Mimi menyiapkan kue yang semalam mereka buat dan dimasukkan ke dalam tempat kue. Namun semua sudah di bereskan oleh ketiga sahabatnya.
Mimi hanya menghelakan nafas nya, mimpi yang begitu nyata. Bahkan dia tak tau itu mimpi atau nyata. Karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh ketiga sahabatnya, Mimi pun menjadi bingung harus mengerjakan apa untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
Mimi seperti orang linglung yang kehilangan arah, sesekali dia menoleh ke pintu berharap jika itu bukan mimpi.
"Mi, ayo sarapan." ajak Muthia, tanpa menjawab Mimi duduk dan menerima sepiring mie goreng buatan Irma.
Mimi masih duduk dengan mata yang selalu menatap pintu sambil mengunyah mie goreng.
"Mi.." panggil Selfia.
''Hah emm." Jawab Mimi.
"Udah deh Mi, dimakan yang benar mie nya. Itu hanya mimpi Mi." Ucap Selfia.
"Mi, emang kamu mimpi apa semalam?" tanya Muthia.
"Hummm huh, kalian ingat kan Mimi pernah cerita bermimpi di ruangan berwarna tosca?" tanya Mimi kepada ketiga sahabatnya.
"Iya terus?" tanya Irma.
"Kalian tau ruang berwarna tosca itu identik dengan apa?" tanya Mimi lagi.
"Hmmm" jawab Muthia dan yang lain hanya mengangguk lemah.
Sebenarnya mereka bertiga sudah menebak saat Mimi menceritakan mimpinya di sebuah ruangan berwarna tosca kalau itu adalah seperti ruangan di rumah sakit, cuma mereka bertiga diam tak ingin melihat Mimi semakin bersedih.
"Semalam di mimpi, Mimi sangat penasaran siapa dibalik tirai itu." ucap Mimi dengan nada seak menahan isak tangis.
"Mi, itu hanya bunga tidur." ucap Irma.
"Ya bunga tidur yang terlihat nyata,hiks hiks.. Di balik tirai itu hiks kak..hiks.. kak hiks kak Syah hiks ril." ucap Mimi terisak. Muthia memeluk Mimi begitu pula dengan kedua sahabatnya Selfia dan Irma
"Hiks hiks hiks huhuhu.." Mimi semakin tergugu di dalam pelukan mereka.
Baru kali ini mereka melihat Mimi rapuh, walau selama ini Mimi berusaha tegar namun kali ini runtuh lah ketegarannya.
Ketiga sahabat Mimi ikut bersedih melihat Mimi yang terlihat rapuh.
"Hiks hiks hiks kalian tau di saat Mimi berteriak namanya dan kaki Mimi tak bisa lagi menompang badan Mimi, disaat Mimi jatuh terduduk di balik ranjang itu, dia memeluk Mimi dan berucap kalau dia baik-baik saja dan dia juga yang menyuruh Mimi agar tidur kembali.. hiks hiks." Mimi menceritakan kejadian dalam mimpinya dengan deraian air mata.
"Hiks hiks bahkan dia memeluk Mimi dan berbaring disebelah Mimi, itu seperti nyata huhuhu." Mimi terus bercerita, ketiga sahabat ikut merasakan kesedihan Mimi.
"Ini Mi, minum dulu." ucap Irma dengan memberi Mimi air minum.
"Emm Mi, udah ya.. Do'a kan saja kak Syahril baik-baik aja. Mimi harus kuat. Ingat Mi, kita lagi ujian.. Jangan sampe ujian nanti membuat Mimi tidak fokus. Kalau kak Syahril tau pasti dia juga akaan marah. Sudah ya.." ucap Muthia.
"Yaudah yok kita ngampus ntar telat." ajak Selfia.
"Mimi cuci muka dulu gih, jadi jelek kalau begini." ucap Muthia dengan menghapus sisa air mata Mimi.
Tanpa menjawab Mimi langsung berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka nya. Setelah mencuci muka Mimi kembali masuk kedalam kamar untuk sekedar memoles bedak di pipinya dan memakai lipglos serta mengganti hijabnya.
"Udah siap?" tanya Muthia dan Mimi pun mengangguk, mereka pun berjalan menuju kampus mereka.
Sesampainya di kampus, Mimi menitipkan kue-kue nya pada Bu Ruminah, hari ini Mimi tak banyak bicara, setelah menitipkan kue Mimi langsung ke kelasnya.
Walau hati dan pikiran tak menentu, Mimi berusaha untuk fokus mengisi soal-soal. Walau helaan nafas sering diam keluar kan.
Beruntungnya hari ini ujian hanya satu materi mata pelajaran jadi mereka cepat untuk pulang.
Trio SDR telah mengetahui masalah Mimi, siapa lagi yang bercerita kalau bukan Irma. Irma bercerita pada Riko dan Riko pun memberitahukan kepada kedua sahabatnya.
Dimas berinisiatif akan mengajak Mimi dan yang lain untuk jalan-jalan sekedar hangout bersama.
"Eh kita nonton yuk." ajak Dimas dengan mata selalu melihat ke arah Mimi yang tidak meresponnya.
"Iya nih ada film baru loh" sahut Riko.
"Boleh tuh, kuyy lah." jawab Selfia.
Lagi-lagi Mimi hanya diam, mereka merasa iba baru kali ini mereka melihat Mimi sampe segitunya.
"Mi.. Kita nonton yuk." ajak Dimas, Mimi melihat ke arah Dimas dan ke yang lain yang juga menunggu jawaban Mimi. Mimi menghelakan nafasnya dan mengangguk menyetujui.
Sebelum pergi, tak lupa Mimi ke kantin dulu untuk melihat apakah kuenya habis atau belum, ternyata kue-kuenya sudah pada habis maka dari itu Mimi langsung membawa wadah kuenya dan tak lupa setoran dari Bu Ruminah.
Bu Ruminah yang melihat Mimi tak seperti biasanya hanya bisa berdoa dalam hatinya agar Mimi selalu diberi kesehatan. Bu Ruminah juga sudah mengetahui tentang masalah Mimi karena Muthia menceritakan kepada Bu Ruminah tadi pagi saat mereka menitipkan kue pada Bu Ruminah.
Mereka semua naik satu mobil yaitu mobil Dimas, Dimas yang membawa mobilnya jadi Mimi duduk didepan bersama Dimas.
Sepanjang jalan Mimi hanya diam, hingga di tengah jalan menuju transmart terjadi kemacetan sehingga laju mobil jadi pelan.
"Ada apa sih, tumben macet gini." ucap Muthia.
"Mungkin ada perbaikan jalan." jawab Dimas.
Mimi hanya diam namun matanya mencoba melihat kedepan ada apa yang terjadi didepan mereka.
Riko membuka pintu dan keluar untuk melihat keadaan didepan mereka, tak lama Riko kembali ke dalam mobil.
"Ada apa yank?" tanya Irma.
"Ada kecelakaan beruntun di depan." jawab Riko.
"Wah pantesan macet nya ampe gini amat." ucap Selfia yang duduk di belakang bersama Saridi. Taukan seseorang yang lagi ngejar cinta seseorang rela duduk dimana aja asal bersama orang yang disukai nya walau duduk di belakang.
"Iya Fi, karena mobil satunya melintang ditengah jalan jadi belum di evakuasi." ucap Riko.
"Hmm lewat jalan lain aja lah Dim." sahut Muthia.
"Nggak bisa Muth, nih kita posisinya maju kena mundur kena, dah di apit mobil kita." jawab Dimas.
Tiga puluh menit mereka terjebak dan akhirnya mobil sudah mulai bisa melaju walau pelan-pelan karena evakuasi belum sepenuhnya selesai.
__ADS_1
"Wah banyak polisi ganteng Muth.." seru Selfia yang memajukan badannya untuk melihat keluar.
"Iya Fi, lihat tuh ada polisi ganteng banget.." seru Muthia.
"Ya Allah Tia mau satu seperti itu polisi." jawab Muthia.
"Wah tuh polisi satu kayaknya melihat ke arah kita deh." ucap Irma yang juga antusias melihat polisi-polisi ganyengnyang sudah bertugas.
"Iya Ir, kayaknya itu komandannya deh Ir.." sahut Fia.
"Iya Fi, gantengnya." ucap Irma yang lupa sang kekasih duduk disampingnya.
"Ehemm." Riko berdehem..
"Eh ayank ,hehehe." ucap Irma cengir.
"Gantengan juga aku yank." ucap Riko dengan PD nya.
"Hahahaaa makanya Ir, kalau mau cuci mata lihat dulu di samping." sahut Fia.
Mereka sengaja membuka kaca mobil karena jalan mobil masih kayak semut, begitu pula dengan Mimi yang ikut melihat ke arah depan.
Seorang polisi tanpa sengaja memandang ke arah mobil yang Mimi tumpangi. Bagaikan pucuk dicinta ulam pun tiba polisi melihat kaca mobil bagian terbuka dan terlihat lah wajah Mimi.
Bagai mendapatkan asupan nutrisi dan vitamin karena lelah nya hari ini, baru juga dia bebas piket harus masuk lagi membantu teman-teman serta anggota nya untuk menangani kecelakaan beruntun di jalan Y ini.
Polisi tersebut terus memandangi Mimi sehingga sahabatnya Mimi mengira polisi tersebut melihat ke arah mereka.
"Eh tapi kayaknya tuh polisi melihatnya ke arah Mimi deh." ucap Irma.
"Ir ingat di samping." seru Saridi yang ikut memanasi Riko
"Hehhee tenang bang cintaku hanya ayank Riko sahaaja kok hehee." Jawab Irma dengan mengedipkan matanya kepada Riko.
"Kenapa matamu Ir?" tanya Dimas dari balik spion.
"Kelilipan Dim." jawab Irma.
Mimi melihat ke arah keramaian tersebut tanpa disengaja Mimi dan si pak polisi bersitatap muka. Si polisi yang tak lain Adit tersenyum dan mengangguk serta melambaikan tangan.
"Tunggu-tunggu tuh pak polisi ganteng melambai tangan sama siapa?" seru Muthia.
"Sama akulah Muth," seru Selfia.
"Emm Mi kamu kenal sama tuh polisi?" tanya Irma.
"Nggak Ir." jawab Mimi tapi Mimi masih melihat ke arah sana,
lagi-lagi Adit melambaikan tangannya, Mimi hanya acuh karena merasa tak kenal.
Tak lama mobil Dimas pun telah melaju meninggalkan TKP, Adit hanya menatap nanar mobil yang dikemudikan Dimas.
"Mi.. beneran kamu nggak kenal?" tanya Irma lagi.
"Tapi apa Mi?" tanya Muthia
"Ah mungkin hanya mirip aja." jawab Mimi.
Mereka pun sampai di mall yang di tuju, meeeka lanhsung naik ke lantai atas dan Riko langsung memesan tiket nya, setelah memesan tiket mereka kembali ke foodcourt di lantai bawah untuk makan siang terlebih dahulu.
"Eh ngomong-ngomong pakpol tadi, kalau dia beneran kenal sama Mimi bisa gawat nih." ucap Selfia sambil melihat reaksi antara Saridi dan Dimas.
"Gawat apa Fi?" tanya Mimi.
"Iya Fi, kok bisa gawat?" tanya Muthia.
"Ya gawat lah, gawatnya bukan pada Mimi tapi pada Dimas." ucapnya.
"Kok pada aku Fi, emang aku ngapain?" tanya Dimas berusaha tenang wlau baginya pun membenarkan ucapan Selfia.
"Ya jelas sama kamu lah Dim, secara nih ya kalau itu pakpol menyukai Mimi maka bertambah sainganmu hehee." ucap Selfia dengan cengengesan.
Saridi hatinya mencelos atas ucapan Selfia, dia berusaha untuk menerima Mimi sebagai sahabat atau bahkan sebagai adik namun hatinya belum bisa.
Begitupula dengan Dimas, dia juga ingin menerima permintaan Mimi untuk mengganggap Mimi sebagai sahabat tapi dia belum bisa bahkan semakin dia melupakan rasa nya semakin besar pula rasa itu.
"Apa-apaan sih kalian ini," ucap Mimi.
"Mi, kalau kenal kasih ke Tia aja ya.. " ucap Muthia.
"Eh kok ke Tia, ke Fia aja Mi ya ya.." ucap Selfia dengan mengedipkan matanya.
"Huh kalian ini." ucap Mimi tak menanggapi ocehan mereka, kedua sahabatnya itu hanya mendengus kesal.
Dimas terus memperhatikan Mimi, dia merasa bahagia melihat Mimi mulai mau untuk sekedar berbicara sama sahabat-sahabat nya.
"Udah udah, singkirkan pak polisi nya buruan dimakan ntar dingin." ucap Riko.
"Hahaa Riko jealous " ucap Selfia dengan tawa.
Mereka menyantap makan siang mereka dengan makanan siap saji di mall ini dan setelah itu baru mereka menonton film-film action.
Mimi duduk di samping Dimas dan Muthia, sedangkan Selfia duduk bersama Saridi , begitu pula dengan Irma yang duduk dengan Riko.
Sehabis menonton Dimas akan mengajak mereka jalan-jalan namun Mimi menolak.
"Eh habis nih kita jalan dulu yok?" ajak Dimas.
"Wah dimana tuh?" tanya Irma.
"Ke taman bunga yok?" ucap Dimas.
"Emm boleh tuh," seru Selfia.
"Mimi nggak ikut ya.. Kalau kalian mau kesana pergi aja tapi tolong antar Mimi ke kosan dulu ya." ucap Mimi.
__ADS_1
"Yah Mi, nggak asik dong." sahut Selfia.
"Maaf Fi, Mimi nggak bisa. Mimi mau buat kue dan belajar. Kita besok masih ujian Fi." ucap Mimi mengingatkan Selfia.
"Hmm sesekali Mi." ucap Selfia.
"Maaf Fi kalau nggak kalian pergi saja, Mimi mau pulang naik taxi aja." jawab Mimi dan berlalu meninggalkan mereka dan segera menyetop taksi.
"Kamu kenapa sih Fi?" sungut Muthia.
"Lah aku emangnya kenapa?" tanya Selfia.
"Udah ah, aku juga mau pulang ke kosan, sorry kalau kalian mau pergi silahkan." jawab Muthia yang juga mengikuti jejak Mimi dan pergi meninggalkan mereka.
"Emang aku salah ya?" ucap Selfia lirih.
Selfia yang terkadang masih bersikap ke kanak-kanakan karena dia anak bungsu jadi selalu dimanja di keluarganya.
"Kamu nggak lihat sikon Fi" ucap Saridi.
"Lah, apa yang salah kalau kita pergi jalan-jalan dulu toh masih siang juga." ucap Selfia.
"Udah jadi gimana ini?" tanya Riko.
"Terserah kalian." jawab Dimas.
"Emm, gimana yank?" tanya Riko pada Irma.
"Terserah aku ngikut aja." jawab Irma walau hatinya ingin bilang tidak tapi dia tak enak menolak Riko.
"Yaudah Dim kita ke taman bunga aja yok. Suntuk juga aku." ucap Riko.
"Hemm, kamu yang bawa ya Rik." ucap Dimas dengan menyerahkan kunci kepada Riko.
Jadilah merek pergi ke taman bunga tanpa Mimi dan Muthia.
Mimi dan Muthia telah sampai dikosannya, mimi terkejut melihat Muthia juga pulang.
"Loh Muth, kamu kok ikut pulang?" tanya Mimi.
"Aku mau belajar Mi." jawab Muthia. Mimi hanya tersenyum dan mengangguk, mereka pun masuk ke dalam rumah.
Mimi mengganti pakaian nya setelah itu dia mulai mengambil bahan-bahan kuenya dan siap mengadon. Muthia membantu Mimi memoles mentega pada cup-cup dan loyang.
Mereka membuat kue berdua sambil belajar saling bertukar soal satu sama lain.
Muthia juga bukan berasal dari keluarga kaya namun dia juga tidak ingin menyia-nyiakan waktu nya, dia banyak belajar dari Mimi apalagi Mimi kuliah sambil berjualan kue.
Adzan ashar telah berkumandang, Mimi dan Muthia bergantian untuk sholat. Tak terasa tiga jenis kuenya telah siap semua Mimi dan Muthia bahu membahu membersihkan peralatan yang kotor.
Hingga sehabis Maghrib barulah Irma dan Selfia nyampe kosan. Mereka membawa makanan ke kosan.
"Eh guys nih ada lumpia sama bakpia." ucap Selfia dengan menaeuhnmakann tersebut di atas piring.
"Makasih " Jawab Mimi dengan senyum.
"Mi, cetakan nya udah Tia olesin minyak ya." seru Muthia dari belakang
"Iya Muth, bentar Mimi siapkan bahannya." jawab Mimi.
"Loh Mi, kok cuma bahan kue Muso saja." ucap Muthia.
"Emm kita buat kue Muso aja Muth, sebenarnya mata Mimi dah ngantuk banget.
"Mimi buat adonannya ya.." ucap Mimi dengan terus mengadon.
Selfia dan Irma hanya diam melihat Mimi dan Muthia sibuk, ada di hati mereka merasa tak enak karena hari ini mereka tidak seperti biasanya.
Berkali-kali Mimi menguap namun kue musonya tinggal beberapa kali kukus lagi.
"Mi, kalau mau tidur, tidur aja biar aku yang selesain." ucap Irma.
"Emm nanti aja Ir, nanggung." jawab Mimi menolak.
"Udah Mi sana, biar aku dan Irma yang lanjuti." ucap Selfia.
"Makasih Fi, tapi ngak usah bentar lagi juga siap kok." ucap Mimi dengan mengambil kue yang telah masak.
"Mi.. Mimi marah?" tanya Selfia merasa gak enak karena Mimk bersikap acuh.
"Nggak Fi, ini tanggung tinggal sekali lagi. Jadi lebih baik waktunya Fia buat untuk belajar." ucap Mimi sambil menaruh lagi
adonan kedalam kukusan.
Saat semua selesai, Muthia membantu Mimi meletakkan ke tempat yang besar dan tak lupa di tutup dengan koran.
Mimi mengambil Wudhu untuk menjalankan sholat isya dan setelah itu dia akan segera tidur karena matanya sangat berat.
"Ir, Fi, Muth, Mimi langsung tidur ya.." pamit Mimi sebelum masuk kamar.
"Iya Mi." jawab mereka. Sehabis sholat isya Mimi langsung tertidur pulas.
Di jam sembilan malam terdengar suara mobil dan suara ketukan pintu..
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari luar.
"Waalaikum salam." jawab Irma, Selfia dan Muthia.
Muthia berdiri dan membuka pintu, saat pintu terbuka Muthia diam mematung melihat siapa yang datang malam-malam..
"Siapa Muth?" tanya Irma dan Selfia yang ikut melihat ke arah pintu, mereka berdua juga ikut terkejut dan mematung.
tbc
Selanjutnya di next bab selamat malam assalamualaikum
__ADS_1