DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
hanya mirip kah?


__ADS_3

Bunda menatap foto-foto yang ada di dalam kamar Abidzar, tak terasa air mata kerinduan itu pun mulai membasahi pipi nya. Ayah Brata sedang mencari bunda di dalam kamar mendiang anaknya. Terlihat sang istri menatap salah satu foto anaknya yang tak lain adalah Abidzar.


"Bund" panggil ayah Brata sambil memeluk bunda dari belakang.


"Jangan kau tangisi lagi, cukup kau do'a kan saja. Semoga anak kita di tempatkan di surga nya Allah SWT." ucap ayah Brata sambil mengelus pundak bunda.


"Bunda kangen dengan Abi Yah." ucap bunda dengan deraian air mata. Yah bunda tidak menampik jika dirinya sangat merindukan sang buah hati, anak bungsu di keluarga nya, anak yang menjadi kebanggaan di keluarganya bahkan anak yang sangat di sayang serta di manakah di keluarganya.


"Bunda kangen" ulang bunda sambil memegang kedua tangan ayah ya g berada di pundak nya.


"Apa lagi melihat wajah si kembar," ucap bunda dengan di iringi isakan tangis.


"Wajah si kembar mengingatkan bunda sama Abi waktu bayi Yah. Huhuhu" ucap bunda di iringi tangisan yang terdengar pilu.


"Bunda kangen naakk." ucapnya, ayah Brata pun memeluk bunda dan bunda mengeratkan pelukannya dan wajah nya di telungsupkan di dada ayah Brata.


"Sudah lah bund, kasian Abidzar. Kota do'akan saja Abi ya." ucap ayah Brata, yang juga ikut menitikkan air mata nya.


Hati orang tua mana yang tidak merasakan kehilangan, apa lagi kehilangan anak yang sangat di sayangi oleh setiap anggota keluarga.


Apa lagi dengan melihat wajah si kembar, seolah mengingatkan mereka atau bahkan seolah mereka kedatangan anggota keluarga mereka yang telah lama tiada.


Ayah Brata dan bunda sendiri telah memiliki cucu 6 orang, 4 lelaki dan 2 perempuan namun di 4 lelaki cucu mereka tidak ada yang wajahnya mirip dengan anak bungsu mereka yang telah tiada.


Tetapi kenapa? disaat mereka telah lama berdamai dengan kesedihan akan kehilangan anggota keluarga, kini mereka di hadirkan kembali dengan wajah anggota keluarga mereka dalam versi anak-anak.


Jika anak-anak itu merupakan anak dari mendiang tanpa melakukan tes apa pun orang akan menyangka jika itu adalah anak nya karena wajah mereka tak hanya mirip namun memang lah serupa bak pinang di belah dua.


Tak hanya ayah Brata dan bunda Rahmah saja yang menganggap kemiripan itu, anak tertua dan kedua mereka pun tak menyangkal akan kemiripan di kembar dengan mendiang adik mereka.


Bahkan tak hanya keluarga besar ayah Brata, Syahril dan Mimi pun merasakan hal yang sama, begitu pula dengan kedua orang tua mereka.


Wajah Abidzar sangat mirip dengan wajah ayah Brata begitu pula dengan wajah baby twins yang sangat mirip dengan wajah Abidzar atau pun ayah Brata.


Namun semua ini masih menjadi teka-teki bagi mereka. Karena konon nya terutama di keluarga Mimi maupun Syahril mengetahui jika di keluarga ayah Brata tidak ada anak kembar.


Termasuk lah Abidzar yang terlahir tunggal, jadi mereka pun hanya beranggapan jika kemiripan itu hanya sebatas kemiripan saja.


Seperti halnya mitos di dunia ini yang menyatakan ada 7 kemiripan manusia yang bisa di katakan kembar tak sedarah. Namun walau pun ada kemiripan itu ada titik yang membedakan.


Beda halnya dengan wajah baby twins dengan wajah Abidzar atau pun ayah Brata. Mereka mirip sangat amat mirip bahkan serupa dari ketegasan wajah mereka. Apa lagi dengan ketegasan wajah Zavier yang sangat contras dengan wajah Abidzar ataupun ayah Brata.


Mereka tidak ingin berasumsi secara detail nya karena kenyataannya para tetua ini belum melihat wajah dari kedua orangtuanya si baby twins.


**


Mimi dan Syahril pulang ke apartemen pada pukul delapan malam, yah tadi Mimi melakukan tindakan di rumah sakit C dua kali.


Disaat dia telah selesai melakukan tindakan pemasangan ring jantung dan di saat dia akan pulang ternyata ada pasien UGD yang harus di tindak lanjuti segera karena ada nya kejadian yang biasa terjadi di negara ini.


Yah pasien gawat darurat tadi yaitu dilakukan tindakan pengeluaran timah panas yang hampir mengenai jantung si pasien.


"Assalamualaikum" ucap Mimi dan Syahril ketika mereka telah masuk kedalam apartemen.


"Waalaikum salam" jawab para tetua di dalam apartemen ini.


Yang bikin hati Mimi dan Syahril bahagia di kala kedua anak mereka memanggil mereka.


"Yah yah mam mam" ucap kedua baby twins dengan tangan yang terus di gerakkan seolah meminta di ambil oleh Mimi dan Syahril.


"O yoyoyo, anak ayah pada belum bobok yah." ucap Syahril dengan wajah yang gemes terhadap baby twins, sedangkan Baby twins di bilang begitu sama ayah mereka menjadi ketawa khas anak bayi.


"Mam mam mam" seru baby twins saat melihat Mimi tidak menghampiri mereka.


"Iya sayang nya mommy, nanti ya sayang mommy sama ayah bersih-bersih dulu." ucap Mimi dan di terima sama baby twins dengan tawa.


"Mak, Umma, bunda, Mimi ke atas dulu mau bersih-bersih." ucap Mimi minta izin kepada para ibu.


"Iya sana bersih-bersih dulu baru main sama si kembar." ucap emak dan bunda yang hampir serentak.


"Iya" jawab Mimi.


"Ayok kak kita bersih-bersih dulu." ucap Mimi dengan mengajak Syahril untuk naik ke atas.


Di dalam kamar Mimi dan Syahril tak langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih melainkan mereka saling bertautan bibir, di sini Syahril yang langsung menerkam bibir Mimi saat mereka berduaan.


"Emm kak, kita mandi dulu" ucap Mimi


"Emm nanti saja sekalian." jawab Syahril.


"Kaak, kita di tungguin di bawah." ucap Mimi.


"Biarin aja dek, kakak lagi kepingin." jawab Syahril.


"Hah, tadi siangkan sudah." ucap Mimi.


"Itu siang, ini malam dek." jawab Syahril dengan terus bergerilya di wajah Mimi, tak hanya mulutnya yang bergerilya namun tangannya pun ikut memacu.


"Aaach kaaak, nanti saja di lanjuti nya." ucap Mimi berusaha menyadarkan Syahril jika mereka saat ini di tunggu oleh para tetua.


"Nanti ya nanti yang" ucapnya dan sekarang kepala Syahril sudah berada di dalam pakaian Mimi dan tangannya berupaya membuka pakaian yang Mimi pakai sekarang.


Mimi heran melihat Syahril saat ini, Mimi merasa Syahril saat ini bukan Syahril yang dia kenal sebelumnya.


Syahril yang dulu dapat menahan hasratnya namun yang sekarang berbeda. Sedangkan Syahril dia merasa dirinya seperti kecanduan dengan apa yang ada di tubuh Mimi.


Bahkan Syahril merasa dia ingin terus dekat dan memonopoli seluruh aset di tubuh Mimi, apa ini merupakan balas dendam hasrat nya yang telah lama tak tersalurkan.


Mimi tidak bisa menghentikan kemauan Syahril dan Mimi pun lama kelamaan semakin terbuai akan permainan Syahril.


Dari kecupan kecupan kecil di seluruh wajah bahkan kecupan itu pun menjadi lumayan dalam di mulut dan bibir Mimi.


Dan semakin seiringnya waktu kecupan itu tak berada di bagian wajah melainkan sudah melanglang buana dari telinga, leher, bahkan seluruh tubuh Mimi.


Permainan yang Syahril lakukan sangat-sangat lembut sehingga membuat Mimi melayang-layang dan menikmati dari setiap permainan yang Syahril mainkan.


Leguhan dan ******* pun silih berganti menyauti mengisi keheningan dalam kamar nya, beruntungnya kamar Syahril telah di pasang alat peredam suara, jika tidak entah apa kata para tetua di luar sana.

__ADS_1


Pertarungan panas itu di mulai dan memakan waktu tidak sedikit, para tetua di bawah sudah mulai geleng-geleng kepala kala melihat jam terus berputar namun dua sejoli yang izin buat bersih-bersih tak kunjung tampak batang hidungnya.


Dari waktu permintaan izin hingga kini telah berjalan satu jam setengah.


"Nih bocah bersih-bersih atau tidur." ucap Bunda Rahmah.


"Iya sepertinya ketiduran mereka" sahut emak.


"Seperti tidak pernah muda aja bund." sahut ayah Brata.


"Ckk, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya." ucap Umma dan di dengar oleh semua.


"Maksudnya jeng?" tanya bunda.


"Yah itu tu jeng, buah itu nggak jauh jatuhnya." jawab Umma.


"Umma seperti nggak merasa aja." sahut Babah.


"Benar tuh San, padahal nyenangi istri juga kan pahala." ucap Ayah Brata.


"Ckk pahala ya pahala Yah, tapi ini nggak tau sedang di tunggu." ucap bunda.


Disaat para tetua mengomentari duo sejoli yang memadu kasih, yang jadi bahan topik pun menampakkan batang hidungnya.


"Nah tuh mereka" ucap bapak yang melihat Mimi dan Syahril telah turun dari tangga.


"Hehehe ada apa Umma?" tanya Syahril cengengesan kala melihat Umma nya melihat dirinya dengan tampang yang siap mengoyak mangsa.


"Iiihhhh di tungguin dari tadi. Izin bersih-bersih emang lagi bersihin kamar mandi apa" ucap Umma dengan menjewer telinga Syahril.


"Aduh aduh ampun Umma, ya ela Umma macam Ndak pernah muda Bae." ucap Syahril sambil mengusap telinga bekas jeweran umma.


"Dasar anak sama bapak nya sama aja." ucap Umma.


"Ya namanya juga babahnya." sahut Syahril.


"Like son like father" seru ayah.


"Yaudah udah ayo kita makan dulu." ucap bunda Rahmah menengahi.


"Lah emang bum pada makan?" tanya Syahril tanpa dosa. Umma, emak dan bunda melihat ke arah Syahril dengan tatapan yang bervariasi.


"Dari tadi kami menunggu kalian." ucap emak yang langsung berjalan ke arah meja makan.


"Sangking sebentarnya menunggu masakan panas menjadi dingin." sambung emak dengan sindiran.


"Emm maaf Mak." ucap Mimi dengan memeluk lengan emaknya.


"Ckk bikin sakit perut saja." gerutu Ay yang sudah merasa kelaparan.


"Ya maaf ya adik kakak yang cantik." ucap Syahril.


"Ckk." ucap Ay dengan mengikuti gaya ucapan Syahril namun tak mengeluarkan suaranya.


Mimi dan emak memanasi kembali lauk yang berkuah dan setelah selesai mereka pun menyantap makan malam yang telah lewat karena mereka menunggu duo sejoli yang tidak ingat waktu.


Baby twins jika telah mimik asi sangat lahap, yang semula terasa kencang setelah di sedot oleh duo mulut mungil sekarang menjadi lapang.


Mimi sangat bersyukur sampe saat ini ASI-nya tetap lancar, ini merupakan anugerah terindah buat Mimi yang notabenenya belum pernah merasa hamil atau pun melahirkan.


Walau ASI-nya lancar tak lupa Mimi selalu meminum vitamin buat pelancar asi dan terapi nya pun tetap Mimi jalani walau tidak seintens pertama kali.


Setelah merasa kenyang baby twins pun tertidur dan malam ini mereka tidak banyak bermain dengan ayah mereka, apa lagi waktu bermain mereka di ha Iskan dengan ayah mereka untuk bermain berdua dengan mommy mereka.


Setelah menidurkan baby twins di kasurnya, Mimi kembali turun kebawah dan berkumpul dengan para tetua dan suaminya.


"Oh ya Mi, jadi bagaimana cerita nya si baby twins?" tanya Umma yang ingin tahu perihal baby twins, emak dan bunda juga menunggu cerita tersebut. tak hanya para ibu-ibu para bapak-bapak nya pun menunggu ingin tahu.


Sebelum menceritakan nya Mimi menarik nafas nya dalam-dalam. Setelah itu Mimi pun menceritakan semuanya seperti Mimi menceritakan pada Syahril sebelumnya.


Emak, Umma bahkan bunda menitikkan air mata saat Mimi menceritakan bagaimana ibu dan ayah baby twins saat di tabrak dengan sengaja.


Umpatan-umpatan pun keluar dari mulut para ibu-ibu negara ini.


"Ya Allah, tega benar ya tuh orang tua mereka. Dasar orang tua nggak punya hati." ucap bunda.


"Iya benar, binatang aja sayang sama anaknya." sahut emak.


"Dasar orang tua nya aja yang nggak beriman" sahut Umma.


"Ihhk kalau aku ketemu dengan mereka pengen tak bejek-bejek tuh muka orang tua nya." ucap bunda dengan tangan satunya di giling-giling kan ke dalam telapak tangan satunya.


"Namun umpatan-umpatan itu tak berlangsung lama namun dihati mereka masih terlihat kesal. Tak hanya para ibu-ibu negara para bapak-bapak negara pun sama hanya saja mereka hanya menggerutu dalam hati mereka.


Bahkan umpatan-umpatan para bapak-bapak lebih ekstrem dari para ibu-ibu.


"Kelak kalau si kembar ketemu sama keluarganya itu jangan sampe tu orang ambil ke dua cucu ku" ucap emak yang masih menuntaskan kekesalannya.


"Bener itu, hadapi dulu Rahmah kalau mereka berani mengusik kedua cucu ku." ucap bunda.


"Kalau mereka nekat ku suntik kick aja." ucap Umma dengan gaya tangan yang di tusuk ke lehernya.


"Emm nak ngomong-ngomong apa kamu ada foto mereka? foto orang tua si kembar?" tanya ayah Brata, yang entah kenapa dia ingin melihat foto orang tua kandung si kembar.


"Ada Yah, bentar Mimi ambil hp Mimi dulu." ucap Mimi sembari beranjak melangkah menuju kamar nya untuk mengambil ponselnya.


Sambil menunggu Mimi, para tetua khususnya para ibu-ibu masih mengeluarkan unek-unek nya, sedangkan para bapak-bapak hanya bisa menghelakan nafas panjang dan menggelengkan kepala.


"Oh ya Riil, apa kamu jadi ingin meneruskan tugas di sini?" tanya Babah.


"Insya Allah jadi Bah." jawab Syahril.


"Benaran kamu jadi di sini nak?" tanya ayah Brata. Yah ayah Brata telah lama meminta Syahril untuk melanjutkan perjuanagn Abidzar namun Syahril tidak mau bukan tidak mau namun belum mau karena dia ingin mencoba masa pengabdian seperti sahabat-sahabat nya.


"Iya Yah, insyaallah. Syahril akan melanjutkan perjuangan bang Alzam." jawab Syahril.


"Kalau emang jadi, nanti tugas Mimi biar kamu yang jalani." ucap ayah Brata.

__ADS_1


"Tidak usah Yah, biar lah Mimi tetap pada posisinya dan Syahril tetap pada posisi Syahril seperti sebelumnya." jawab Syahril yang tidak ingin mengubah posisi kepemimpinan.


"Tapi nak, jika kau yang pegang jadi Mimi lebih banyak fokusnya ke si kembar." ucap ayah Brata.


"Betul tuh nak." sahut bunda.


"Bunda yakin jika rumah sakit ini kelak akan semakin maju dalam pegangan kalian." ucap bunda.


"Dan bunda yakin, Abi pasti sudah meneliti nya dan pastinya Abi juga sudah menaruh harapan itu pada kian berdua." ucap bunda lagi.


"Insya Allah bund, tapi menurut Aril biarlah Mimi yang memimpin dan Syahril tetap ke posisi Syahril sebagai wakil." ucap Syahril lagi.


Ayah Brata merasa sangat beruntung memiliki Mimi dan Syahril. Walau mereka di beri kewenangan mereka tidak ingin semena-mena bahkan merak selalu merendah diri.


"Kalau menurut saya san, apa yang di katakan Syahril benar juga, karena di sini Mimi telah di beri wewenang oleh Abi nya sendiri." ucap Babah yang juga tidak ingin nanti anaknya di katakan aji mumpung.


"Bukan begitu san, di surat wasiat Abi mengatakan kalau rumah sakit ini memang di berikan kepada Mimi dan Syahril, jadi Syahril juga bisa memangku kewenangan. Dengan begitu Mimi juga bisa punya waktu yang lebih untuk si kembar." ucap ayah Brata.


"Kalau begitu nanti coba kita tanya kan saja pada Mimi mana baiknya." sahut Babah lagi.


"Yah emang sebaiknya kita diskusikan ini dengan Mimi." sahut Umma.


Mimi yang baru saja berada di bawah heran kenapa mereka menyebut nama nya. Mimi kembali duduk di dekat Syahril.


Mimi tak hanya mengambil ponselnya saja namun Mimi juga mengambil dan membawa laptop nya.


Foto serta video tentang baby twins juga sudah tersimpan di dalam laptop Mimi.


Mimi membuka galeri di dalam laptopnya dan menunjuk kepada para tetua.


"Nah ini Yah, Bah, Pak foto orang tua si kembar." ucap Mimi dengan mengarahkan gambar foto di dalam laptopnya ke arah ayah Brata, bapak dan Babah.


Ayah Brata terdiam kala melihat kedua orang tua kandung baby twins, begitu pula dengan Babah.


"Kok wajah lelaki ini seperti pernah lihat yah" ucap Babah dengan terus memperhatikan foto Syamir.


"Hmm iya aku juga seperti pernah lihat" sahut ayah Brata.


Bunda, emak dan Umma yang penasaran juga mendekat untuk melihat foto itu. Jika kedua bapak fokus dengan foto yang lelaki beda dengan bunda yang fokus pada foto yang perempuan.


Lama bunda terdiam dalam fokusnya dia menelisik wajah ibu kandung si kembar. Entah mengapa hatinya merasa seperti bagaimana dia merasakan kala dekat dengan si kembar.


Hati bunda merasa ada relung hati yang terisi, seolah relung hati itu telah lama tiada. Ada rasa kerinduan, ada rasa kepemilikan disaat dia melihat wajah perempuan yang tak lain adalah Azzahra.


"Sepertinya si kembar mirip dengan wajah ibunya ya." celetuk emak dan di anggukan oleh emak dan membuat hati bunda semakin berdegup kencang.


"Kalau di telisik lagi wajah nya ini mirip dengan wajah Abidzar tapi versi cewek." ucap emak dengan analisis nya.


Yah walau emak Mimi hanya pendidikan SD itu pun tak selesai namun emak Mimi memiliki IQ dan pengamatan nya yang tinggi.


Disaat emak mengungkap kan analisis nya bunda membenarkan ucapan itu.


"Iya sangat mirip" ucap bunda dengan mata masih melihat ke arah foto itu.


Ayah Brata yang mendengar itu pun mengalihkan penglihatan nya ke arah foto perempuannya.


Deg entah kenapa jantung ayah pun berdetak seperti bunda. Dengan melihat foto itu ada seperti aliran darah yang menghangat ke seluruh tubuhnya.


Ayah terus memperhatikan dan mencocokan foto tersebut seperti emak Mimi yang mencocokan nya sebelumnya.


"Mimi pun merasa begitu." ucap Mimi, semua para tetua dan Syahril melihat ke arah Mimi.


"Pertama kali Mimi melihatnya, Mimi seperti melihat mas Abi namun ke versi cewek." imbuh Mimi.


"Dan waktu dia meminta pada Mimi untuk menyetujui permintaan nya, hati Mimi mengatakan untuk iya."


"Dan Mimi merasa dekat juga dengan dia, padahal hari itu adalah hari pertama dan terakhir Mimi melihatnya." ucap Mimi lagi.


"Apa lagi semakin kembar besar wajah mereka semakin menonjol ke arah wajah mas Abi, terutama Zavier." ucap Mimi


Ucapan-ucapan Mimi itu di benarkan oleh bunda dalam hatinya. Hati bunda pun mengatakan hal yang sama jika wajah si kembar terutama Zavier wajah nya sangat dominan bahkan kontras ke Abidzar atau ayah Brata.


"Bund, Yah. Apa mas Abi ada kembaran?" akhirnya Mimi mengucapkan hal yang selama ini ingin dia ucapkan dan tanyakan kepada ayah Brata dan bunda Rahmah.


"Ti tidak nak, Abidzar tidak punya kembaran bahkan bunda tidak pernah melahirkan anak kembar." jawab bunda Rahmah.


"Tapi kenapa wajah si kembar terutama wajah Zavier sama dengan wajah ayah? atau mungkin bunda melahirkan anak kembar terus anaknya di ambil orang" tanya Mimi dengan pertanyaan yang konyol, bunda hanya bisa menggeleng dia juga tidak tau bahkan tidak mengerti dengan semua ini.


Ada apa dengan takdir nya, bunda Rahmah berkali-kali menggeleng. Dia terus mengingat-ingat kalau dia tidak pernah melahirkan anak kembar.


"Bundamu benar nak, dia tidak pernah melahirkan anak kembar." ucap ayah Brata membenarkan ucapan sang istri.


"Apa kamu tau usianya si Zahrah ini?" tanya ayah Brata.


"Emm usianya sekitar 30 Yah." ucap Mimi.


"Tiga puluh." ucap bunda dan ayah Brata mengulangi ucapan Mimi, Mimi mengangguk membenarkan.


"Dari usianya saja beda jauh dengan Abi." ucap Ayah Brata.


"Abi saja jika dia masih ada saat ini usia nya 38th." ucap ayah Brata lagi.


"Jadi bagaimana bisa Abi dan Zahrah kembar dan di ambil orang." ucap ayah dengan di selingi candaan. Mimi hanya tersenyum malu.


"Mungkin bisa saja ini seperti mitos yang banyak di yakini orang kalau kita di dunia ini ada tujuh wajah kembar." ucap bapak.


"Hmm bisa jadi." sahut Babah dengan menganggukan kepala.


"Tapi.." ucap Mimi terhenti.


"Tapi apa nak?" tanya emak.


"Apa mungkin ada begitu? kembar tak sedarah?" tanya Mimi.


"Wallahu a'lam, tapi sering kita jumpai ada orang yang berwajah mirip namun mereka bukan saudara kandung bahkan tak sedarah." ucap emak lagi.


"Tapi kalau emak lihat antara wajah Zahrah, pak Brata, Abidzar dan si kembar terutama Zavier memang sangat amat mirip, apa lagi garis rahang nya, Zavier sangat mirip dengan Abidzar dan pak Brata.

__ADS_1


Mereka terus mencoba menganalisa wajah baby twins, Abidzar, ayah Brata dan Azzahra.


__ADS_2