
Esok hari nya seperti rutinitas biasanya Mimi mencuci piring-piring kotor setelah itu Mimi mencuci pakaian kotornya, oakaian adek serta emaknya. setelah selesai Mimi lanjut menjemur dan menyapu rumah.
Karena hari ini Mimi akan menemani Emak ke pasar untuk mncari seragam sekolah Ay, karena badan Ay bongsor maka tiap tahun Ay selalu ganti seragamnya.
Walau sebenarnya rasa capek masih ada demi emak Mimi pun menanggalkan rasa capeknya. Emak dan Mimi serta Ay pergi ke pasar khusus menjual pakaian seragam anak sekolah.
Kalau pergi ke pasar bersama Emak tak cukup hanya satu tujuan saja, emak mengajak Mimi berputar-putar mengelilingi pasar sekalian mencari pakaian model terbaru untuk barang dagangannya.
Karena belanjaan Emak banyak dan Mimi sudah tak sanggup untuk jalan, Mimi dan emak naik ojek untuk ke rumah
Pergi dari rumah jam 9 pagi kami pulang ke rumah sudah jam 2 siang, sungguh lelah tubuh Mimi mengikuti Emak dari satu toko ke toko lain.
Sampai rumah Mimi dan emak langsung berwudhu karena waktu Dzuhur kami sudah lewat. Sehabis sholat Mimi langsung merebahkan tubuhnya yang lelah dan terlelap hingga sore hari.
Pov Syahril
Syahril hari ini akan pergi meninjau kedai roti serta cafe dan resto yang di kelolanya bersama ketiga sepupunya.
Ya mereka akan mengecek keuangan serta pengeluaran bulanannya di setiap usahanya.
Setelah diadakan rapat bersama stafnya Syahril kembali berdiskusi kepada ketiga sahabatnya tentang usahanya kelak siapa yang akan memantau.
"Oh ya Riil, jadi kita harusenunjuk siapa untuk memantau ini semua kalau kita sudah aktif kuliah." tanya Ryan.
"Menurut Lo siapa yang harus kita ajukan?" tanya Syahril.
"Iya selama ini kan kita selalu kerja sama bersama Erwan,Idho dan Ridho ya kalau menurut gue mereka aja kita beri kepercayaan buat memantau ini semua." usul Andri.
"Iya juga sih, tapi kita harus tanya mereka dulu, atau kita bagi mereka tugas satu-satu aja." ucap Syahril.
"Bisa juga sih, nanti Ridho untuk mengawasi kegiatan di kedai roti, Idho di cafe dan Erwan di resto. Gimana?" Ryan memberi usul.
"Iya bisa juga itu tapi intinya kita tanya mereka terlebih dahulu, mampu nggak mereka membagi waktunya." ucap Rudi.
"Iya nanti aja kita adakan meeting lagi, setelah gue pulang dari rumah Mimi." ucap Syahril.
"Rumah Mimi? maksudnya apa Riil?" tanya Andri.
"Iya rencana besok gue mau ikut Mimi pulang ke rumahnya." jawab Syahril dengan senyuman.
"Wah Lo, nggak ngajak kita-kita nih ceritanya!" ucap Ryan.
"Ya kalau kalian mau silahkan." jawab Syahril.
"Ya mau lah, ayank-ayank kita ikut ndak Riil?" tanya Andri.
"Wah kau itu gue kagak tau Ndri, coba Lo tanya sendiri ama cewek Lo lah." ucap Syahril.
"Iya ntar gue mau tanya Di'ah dianmaunikut juga nggak." uaco Ryan seraya langsung mengirim pesan kepada Di'ah.
"Emm gue rada Manda gak bakal ikut. pasti dia pulang kerumah orang tuanya." ucap Andri lesu.
"Ya kalau dia gak ikut ya Lo jadi obat nyamuk kita aja Ndri." ejek Rudi.
"Emang Rani mau ikut Rud?" tanya Syahril.
"Nggak tau." jawab Rudi dengan menggaruk kepala nya.
"Semoga aja Rani gak bisa ikut Aamiin." ucap Andri dengan menengadahkan kedua tangannya.
"Sialan Lo." ucap Rudi dengan melempar kertas yang sudah di buat seperti bola olehnya.
"Hahahaaa." ketawa Ryan dan Syahril.
"Ketawa Lo Yan, emang Di'ah diizinkan Ama emaknya." ucap Andri.
"Hehe semoga diizinkan lah Wee." ucap Ryan.
"Semoga Di'ah juga gak di kasih izin Aaminn" ucap Rudi yang mengikuti gaya Andri.
"Ah sialan Lo berdua, ntar gue minta tolong ma Mimi hmm" ucap Ryan dengan angkuhnya.
"Ehem Riil," panggil Andri memanggil Syahril.
'Apa!" sahut Syahril.
"Dah berapa kali Lo nyosor Mimi?" tanya Andri to the poin.
"Hah." Rudi terperangah karena kaget.
"Maksud Lo!" ucap Syahril dengan tatapan tajam.
"Jangan bohong deh Riil." ucap Ryan menimpali.
"Tunggu tunggu tunggu apa ada yang gue lewatkan?" tanya Rudi dengan ancang-ancang dan memajukan duduk nya menghadap dan menatap Syahril penuh dengan tanya.
"Ckk kalian ini ngomong apa sih!" jawab Syahril yang masih mengelak.
"Ckk masih mau ngelak Lo Riil," ucap Andri.
"Kita berdua liat Riil malam itu." ucap Ryan.
"Hmm" ucap Syahril
"Hah! what! lihat apa kalian?" tanya Rudi yang penasaran.
"Ah Lo Rud, kenapa Lo kemal amat sih." ucap Ryan.
"Pa tuh kemal?" tanya Rudi.
"Kepo maksimal." jawab Ryan ketus.
"Swear gue kepo dengan apa yang Lo berdua ucapkan tadi. Emang Lo berdua lihat Syahril lagi apaan?" tanya Rudi.
"Tanya aja ma orangnya!" jawab Andri ketus.
"Riil,! panggil Rudi.
"Ckk kalian ini, Lo Yan, Ndri kapan Lo liat? perasan malam itu kagak ada kalian juga." ucap Syahril.
"Haduh kalian ini bertele-tele emang ada apaan sih?" tanya Rudi yang kepo.
"Apa kalian berdua melihat Syahril nyium Mimi?" tanya Rudi kembali dan membuat mereka bertiga melihat ke arah Rudi.
"Lo tau Rud?" tanya Ryan yang balik kepo karena setau dia hanya dia dan Andri yang ada waktu itu.
"Ckk kalau itu gue tau lah." ucap Rudi dengan senyum jahil.
"Dimana Lo liat?" tanya Andri.
"Gue lihat waktu di kamar Mimi." jawab Rudi.
"Hah." mereka bertiga terperangah atas pengakuan Rudi apa lagi Syahril menelan salivanya dengan erat.
__ADS_1
Setelah pengakuan dari Rudi itu Andri dan Ryan kembali menatap Syahril tajam.
"Ckk, kalian ini macam kalian tak pernah melakukan aja." jawab Syahril cuek.
"Maksud Lo Riil?" tanya Rudi.
"Ya Lo tanya aja Ama mereka berdua!" Syahril balik menyerang Andri dan Ryan.
"Ckk kalian bertiga ini lucu." jawab Rudi.
"Lucu gimana?'' tanya Andri.
"Yah lucu aja, niat elo ma Ryan tadi awalnya mo bully Syahril tapi akhirnya kalian terbully balik hahahaaa." jawab Rudi bahagia.
"Emm ya gue ngaku gue emang udah nyium Manda kemaren." ucap Andri.
"Gue juga." jawab Ryan.
"Kalian ini nyium atau nyipok nih aslinya?" tanya Rudi.
"Nyipok" jawab Ryan dan Andri bersamaan.
"Hahahaha" akhirnya mereka bertiga ketawa.
"Oh ya Ndri, Yan, Riil gimana reaksi cewek Lo saat Lo ***** dia." tanya Rudi.
"Hmm." jawab Riil.
"Ah Lo Riil, gak asik jawabannya." ucap Rudi.
"Kalau gue Manda bisa balas ******* gue dikit sepertinya dia keg udah berpengalaman." jawab Andri.
"Kalau Lo Yan?" tanya Rudi penasaran.
"Di'ah! Emm dia diam aja kayaknya belum pernah negalkuin itu." jawab Ryan jujur.
"Jadi itu first kiss nya Di'ah dong Yan?" tanya Rudi.
"Yah gitu deh." jawab Ryan.
"Nah kalo Riil? yang pasti itu ******* Lo yang kedua kan ama Mimi?" tanya Rudi.
"Hemm, iya itu ciumannya yang kedua Ama gue.'' jawab Syahril.
"Udahlah nggak usah bahas gituan, jadi kangen gue ama dia." ucap Syahril.
"Cie cie cie dah candu Lo Riil." ucap Rudi mengejek.
"Iya gue candu ma bibirnya." jawab Syahril cuek.
"Tapi Riil.. gue dengar dari Abi semalam kakek nelpon Babah lagi." ucap Ryan dengan sendu.
"iya gue denger dari Abang gue juga." ucap Andri.
"Hemm entah lah. Andai Mimi mau gue ajak kawin lari gue jabani saat ini juga. Tapi Mimi kukuh ama pendiriannya." jawab Syahril dengan meraup rambutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kakek masih gitu ya? padahal anaknya dua yang dijodohkan aja tak berjalan mulus. Ini pakek maksain Lo lagi hanya demi perjanjian dia ma temannya itu." ucap Ryan.
"Udah lah nggak usah bahas itu, bikin badmood gue aja." ucap Syahril.
"Yaudah dah sore kita pulang yok." ajak Syahril. Mereka pun pulang bersama.
Authore POV
Mimi dan yang lain akan pulang pada hari Selasa siang, paginya Syahril pergi lagi ke kedai rotinya u tuk membeli berbagai macam roti yang akan dibawa nya kerumah Mimi di Tungkal.
Untuk selama liburan ini Mimi mengambil uang tabungan buat bantu mamak nya belanja selama mereka liburan disana.
Dalam perjalanan Syahril selalu bertanya setiap daerah yang kami lewati kepada mamak.
Tepat jam dua siang kami pun sampai rumah Mimi, rumah yang berada di kawasan kebun sawit.
"Alhamdulillah sampai juga." ucap Ryan.
"Iya alhamdulillah"Sahut mereka bersama.
"Gil* jalannya keg sedang berpacu kuda aja." sahut Andri
"Iya pegal-pegal badan gue Lo buat terbang-terbang," jawab Rudi sambil mematahkan badannya ke kiri dan ke kanan .
"Sorry bro gue gak lihat kalau ada lobang tadi." ucap Andri.
"Emang begitu ya mi jalannya?" tanya Rudi.
"Iya kak begitulah jalan kami disini, maklum inikan perjalanan lalu lintas perusahaan." jawab Mimi.
"Hemm disini nyaman juga ya!" seru Rudi sambil merentangkan tangannya.
"Iya disini gak berdebu keg di luar tadi." Ryan menimpali.
"Iya kak kan sini tidak ada mobil-mobil besar lewat." jawab Mimi.
"Wah ternyata ada kolam ikan juga di rumah Mimi." ucap Rudi yang ternyata sudah berada di pinggiran kolam.
"Ayoo nak masuk dulu istirahat." seru emak kepada kami semua.
"Iya Mak, kami disini aja dulu Mak." ucap Syahril seraya membantu membawakan barang-barang yang sudah dikeluarkan dari bagasi masuk ke dalam rumah.
"Makasih" ucap emaknku Syahril yang telah membawakan barang-barang nya.
"Sama-sama Mak, Syahril gabung sama teman-teman dulu ya Mak." jawab Syahril.
"Iya" ucap Mak dan langsung berlalu menuju dapur.
"Wah Riil enak mancing nih kita sore ini." seru Rudi.
"Boleh kak, tuh pancingnya." jawab Mimi dengan menundukkan pancing yang tersender di dinding rumahnya.
"Yaudah biar gue ambil pancingnya." seru Syahril.
"Rud, Lo cari cacing ya?" seru Syahril kembali seraya menuju dimana pancing berada dan sekalian pula dia mengambil cangkul.
"Beres lah kalau cari pancing buruan bawa cangkulnya." seru Rudi.
Tak ada Syahril pun sampai di tepian kolam ikan.
"Nih Rud cangkulnya Lo cari cacing nya disana aja." ucap Syahril dengan menyerahkan cangkul kepada Rudi.
Rudi langsung menuju ke tanah yang berada di belakang sedikit menjauh dari kolam dan dia pun langsung mencangkul untuk mencari cacing bersama Ryan.
"Oh ya dek ini isinya ikan apa aja?" tanya Syahril kepada Mimi.
"Ikan nila, ikan patin dan ikan lele kak." jawab Mimi.
__ADS_1
Iya bapak membuat kolam di bawah-bawah pohon sawit. ada empat kolam yang mana terdiri untuk satu kolam ikan patin, satu ikan lele dan dua untuk ikan nila dan mujazair." jelas Mimi.
"Wah banyak juga ya mi." ucap Di'ah.
"Emm jadi kita pancing ikan apa nih?" tanya Rudi yang sudah menenteng cangkul dan Ryan membawa batok kelapa yang berisi cacing-cacing.
"Terserah kakak mau pancing ikan apa, tapi alangkah baiknya nanti aja karena adzan ashar sudah berkumandang nih ?" jawab Mimi.
"Iya juga yaudah ayo kita masuk." ucap Syahril dan mereka pun masuk untuk berwudhu dan melaksanakan sholat.
Sehabis sholat mereka kembali melanjutkan mancing mania mereka dan Mimi juga menyiapkan air es pakai sirup rasa mangga kepada mereka.
"Oh ya Mimi masuk dulu ya mau bantu mamak masak buat makan malam kita." ucap Mimi.
"Yaudah Mi, aku ikut ayoo." jawab Di'ah dan mereka pun masuk ke dalam rumah
Di dalam rumah ternyata mamak sedang menyiangi ikan lele yang sudah di ambil bapak.
"Mi nih tolong bersihkan ikan yang sudah Mak siangi" ucap emak.
Tanpa menjawab Mimi langsung membantu emak membersihkan ikan lele yang sudah disianginya.
"Mau dimasak apa Mak ikannya?" tanya Mimi.
"Disambal Bae lah, sudah sore juga." jawab Mak.
Setelah selesai membersihkan ikan dengan bersih Mimi langsung beri asam dan garam pada ikannya.
"Emm Mi,ikannya mau disambal atau digoreng aja dan buat samabal terasi?" tanya emak yang akhirnya ragu mau diapakan ikan lele nya.
"Goreng aja lah Mak dan buat samabal terasi terus lalapan timun sama selada." ucap Mimi karena Mimi melihat ada selada di antara sayuran yang ada.
"Yaudah kau gitu emak buat samabal terasinya, Di'ah tolong bersihkan daun selada timun sama kemangi ini ya." ucap emak dengan menyerahkan sayuran kepada Di'ah.
Emak menggiling cabe ijo, Di'ah membantu.
Kami bertiga memasak dan tak terasa hari pun telah menjelang maghrib.
Selama liburan kurang lebih 10 hari mereka menikmati suasana yang berbeda disebuah pedesaan yang jauh dari keramaian hiruk pikuk.
Malam pundahbtiba sehabis Maghrib kami makannmalam dengan menu seadanya ikan lele goreng sambal terasi dan lalapan. kami semua makan dengan lahap apa lagi Syahril, Ryan, Andri dan Rudi makan hingga bertambah berkali-kali karena ikan yang mereka makan terasa manis.
Sehabis makan kami semua bercanda bersenda gurau bersama sambil menonton acara tv.
"Oh ya besok kita kemana nih?" tanya Ryan.
"Emm pak, besok bapak pergi kesawit Ndak?" tanya Syahril kepada bapak.
"Iya besok bapak mau panen sawit di lahan." jawab bapak.
"Wah kamibbiso ikut dak pak?" tanya Syahril.
"Boleh kalau kalian mau, jangan lupa pakai baju lengan panjang dan celana panjang." jawab bapak. "karena disana banyak agas." ucap bapak kembali.
"Siap pak kami sudah siapkan itu semua." jawab Syahril.
Yah sebelumnya Syahril sudah banyak bertanya sama mamak tentang pekerjaan bapak dan dia berencana ingin ikut maka dari itu dia pun menyuruh ketiga sepupunya mempersiapkan bajunkalain dan celana training panjang.
Esok harinya mereka telah siap dengan bersemangat akan pergi ke lahan sawit. Syahril, Andri dan Ryan berangkat bersama bapak menggunakan mobil Syahril yang mana Syahril juga sudah bertanya apa disana bisa dilalui mobil atau tidak.
Troli buat angkat sawit pun telah siap dimasukkan ke dalam mobil.
Sedangkan Rudi akan menjadi supir untuk makan, Mimi dan Di'ah serta Ay untuk membawa bekal makan siang mereka nanti.
Jam sembilan Rudi dengan rombongannya pun berangkat ke lahan sawit. Sesampainya disana Syahril dan Ryan sudah mengangsur buah sawit ke arah tempat timbangan.
Syahril dan Ryan yang melihat kami datang pun tersenyum
"dah sampai dek?" tanya Syahril.
"Iya kak barusan, nih minum dulu." jawab Mimi denganemberikan air mineral kepada Syahril dan Ryan.
"makasih." ucap mereka.
"Ayo Rudi, ikut kami." ajak Syahril kepada Rudi untuk melanjutkan kerjaan mereka.
Mamak Mimi Diah dan ay juga ikut serta menelusuri ke arah belakang sawit.
Mimi melihat ke empat cowok tersebut bersemangat seakan mereka bahagia mengerjakan ini semua.
Ada rasa syukur di hati Mimi karena mengenal mereka yang tidak memandang status seseorang. Terutama pada Syahril Mimi bersyukur jika sang kekasih menerima nya apa adanya.
Setelah semua buah sawit terkumpul dan tak ada yang terlewati kami semua pun juga berkumpul dekat timbangan tersebut dan menggelar kan karpet plastik.
Mimi sajikan makan siang dengan menu ikan nila sambal ijo, pindang ikan patin dan tumis pedas kangkung serta kerupuk goreng. Tak lupa pula Mimi membawa air es sirup. kami menyantap makan siang kami dengan lahap hingga tak bersisah.
"Alhamdulillah." ucap kami bersyukur atas rezeki kami hari ini.
"Kalau lama disini bisa naik nih timbangan." celetuk Rudi sambil memegang perut yang kekenyangan.
"Iya, makannya selalu nambah." sahut Ryan
"Betul, apa yang dimakan terasa nikmat." jawab Andri pula.
Tak lama petugas penimbangan sawit pun menghampiri karena saat nya sawit bapak yang ditimbang sebelum mobil pengangkut tiba.
Tak berapa lama timbangan selesai kami pun beranjak pulang.
Sungguh kenikmatan itu datang pabila kita mensyukuri setiap anugerah yang dilimpahkan Allah SWT kepada kita.
Assalamualaikum alhamdulillah malam ini bisa up
Jangan lupa selalu beri dukungannya dan jangan lupa Krisan nya.
vote
rate
like
favorit
komen
MAKASIH
"Emm kalau Manda sih dia bisa balas ciuman
VOTE
RATE
LIKE
__ADS_1
KOMEN
Dukung sebanyak-banyaknya ya MAKASIH