
Mimi ambil amplop tersebut dan melihat isinya, Mimi menganga dan melouot melihat isi dari amplop itu.
"Ya Allah, amplop siapa ini? apa ini amplop orang ruko yang jual nih lemari, tapi.. Ah kalau iya punya dia kok berada di bawah baju." Mimi terus berbicara dengan dirinya.
Karena penasaran punya siapa dan hari pun telah terlihat matahari dari bilik jendela. Mimi menyimpannya kembali dalam lemari dimana amplop itu berada.
Saat Mimi akan membuka pintu, Mimi dikejutkan oleh seseorang di balik pintu tersebut dengan menampilkan senyuman terindahnya.
"Ah nggak mungkin, pasti hanya mimpi." ucap Mimi sembari mengerjapkan matanya berkali-kali, menepuk kedua pipinya bahkan Mimi kembali masuk dan menutup pintu kosan nya kembali.
"Auh sakit." Mimi mengaduk ketika mencubit kedua pipinya yang chuby untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Mimi mengintip di balik jendela untuk memastikan apakah penglihatannya benar atau tidak. Saat mengintip seseorang tersebut tersenyum bahkan tertawa kecil sambil !melambaikan tangannya.
Mimi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, lagi-lagi Mimi mencubit lengannya dengan kuat.
"Auh, sakitt." ucap Mimi dan suaranya terdengar sampe luar. Seseorang tersebut mendengar Mimi mengatakan sakit diapun panik dan khawatir takut terjadi apa-apa dengan Mimi.
**
Di apartemen Dillah, dia masih di atas kasur king sizenya. Dia merasa malas untuk berbuat sesuatu hari ini, namun tiba-tiba dia ingin sekali bertemu dengan Mimi dinkosannya. Tapi dia tak punya alasan untuk datang kesana.
"Ahhh." ucap nya dengan gusar dan pusing akan pikirannya.
"Siapa sebenarnya? kenapa kamu dan cewek itu selalu berada di pelupuk mataku." Dillah terus berbicara dengan dirinya.
Dillah yang gusar duduk diatas kasurnya dengan menghembuskan nafasnya kasar dan berkali-kali dirinya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya tuhan, ada apa denganku. Lebih baik aku mandi saja." ucap Dillah dan diapun segera masuk ke dalam kamar mandi dan diapun berendam air hangat di bathub nya berupaya merilekskan pikirannya.
Dillah semakin kacau bila melihat Mimi selalu bersama cowok, apa lagi dia seolah tak memiliki celah untuk mendekati.
Ada kebimbangan di hati Dillah, dia harus memilih antara ceweknyang sudah mengisi hati nya sedsrimtiga tahun lalu yang belum diketahui siapa orangnya atau mengejar Mimi yang juga kini sedang menganggu pikirannya.
Sudah hampir satu jam, Dillah berendam sampai dia merasa tubuhnya sudah sedikit rileks. Setelah itu dia kembali mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin yang langsung mengalir dari shower.
Sehabis mandi Dillah mengenakan pakaian santai nan casualnya, dia perencana akan pergi ke resto dan cafe nya saja untuk menghilangkan kejenuhannya.
**
Di ruangan Bryan, dokter memeriksa keadaan Bryan yang masih dalam pantauan tim medis. Pasca operasi transplantasi, Bryan maaih dalam pengawasan tim medis untuk melihat reaksi organ baru tersebut teehadap tubuh Bryan.
Sebelum dokter itu keluar, dokter memberikan sepucuk surat buat Bryan. Bryan pun menerimanya dengan rasa heran.
"Maaf dok, ini apa?" tanya Bryan kepada dokter.
"Itu adalah titipan dari seseorang buat kamu, dia berpesan agar memberikan kepadamu langsung saat kamu sadar. Maka dari itu saya berikan saat ini sama kamu." jawab dokter sambil menepuk lengan Bryan.
Semua orang disan melihat semua itu dan hal itu membuat semua yang ada di dalam ruangan tersebut menjadi tanda tanya.
"Dari siapa nak?" tanya sang papi kepada Bryan.
"Nggak tau pi, oh ya pi.. Papi tau nggak siapa yang mendonorkan hatinya buat Iyan." Bryan menjawab dan kembali bertanya kepada sang papi.
"Papi juga nggak tau nak, ini pihak dokter yang menemukannya. Itu saat jantung kalian melemah dan kami hanya fokus kepada kalian waktu itu." ucap sang Papi.
"Emang kenapa sayang?" tanya sang Mami.
"Nggak apa Mi, Iyan cuma mau tau saja." ucap Bryan.
"Oh, kita juga sedang mencari tau nak. Dan dokter mengatakan kalau orang yang mendonorkan itu juga sudah meninggal." jawab sang Mami.
"Apa? me me meninggal mam." jawab bryan dengan terbata-bata.
"Iya nak, kita juga nggak tau siapa keluarganya." ucap sang mami dengan !menarik nafasnya dalam.
"Mi, cari siapa keluarganya Mi dan kita beri dia santunan." ucap Bryan.
"Tanpa kamu katakan Pali juga sedang mencari tau nak." ucap sang papi.
Bryan merasa penasaran akan sepucuk surat tersebut, perlahan. dia pun membuka nya dan membacanya.
"Dear Bryan.
Mungkin setelah suratku sampai ke tanganmu, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maafkan aku jika selama ini aku membuatmu kesal atau pun marah.
Bry aku sangat menyayangi mu, aku sangat mencintaimu. Walau kau mendekati ku hanya sebagai permainan cintamu saja, aku sangat bahagia.
__ADS_1
Bry, selama kita menjalin hubungan. Aku tau kau juga menjalin hubungan dengan perempuan lainnya. Jujur aku kecewa sama kamu Bry, hatiku sakit ternyata kau menjalin hubungan denganku hanya sebagai taruhanmu.
Bry, aku sangat mencintaimu walau kau tak me!berikan hati!u dengan tulus kepadaku tapi aku sangat tulus memberinya untuk mu.
Maafkan aku yang mencari tau perihal dirimu yang lama tak masuk dan setelah aku mengetahui kalau kau sangat membutuhkan donor, aku pun memberanikan diri cek keadaan hatiku pada dokter di rumah sakit ini dan ternyata hatiku cocok dengan tubuhnmu.
Aku berniat memberikan hatiku untukmu, karena aku tau bahwa usiaku juga tak lama lagi.
Bry, aku mohon jaga baik hatiku ya.. Dan aku berharap kau berubah jangan lagi kau sakit hati para perempuan.
Maafkan aku yang gak pandai menulis surat ini hehheee..
Semoga lekas sembuh dan hatiku akan selalu cocok dengan tubuhmu.
❤❤salam sayang Berliana.❤❤
Seketika hati Bryan merasa terhiris setelah membaca surat dari seseorang yang dia tau kalau dia Berliana tulus mencintai nya.
Yah berliana adalah salah satu cewek yang didekati oleh Bryan. Berliana adalah anak yatim piatu dan tinggal disalah satu panti asuhan yang berada tak seberapa jauh dari kampusnya.
Bryan meremas surat itu dengan berlinang air mata, dia merasa bersalah pada Berliana.
Bryan menjalin hubungan dengan Berliana karena dia ikut taruhan dengan teman sekelasnya yang juga sesama playboy. Berliana yang memang suka dengan Bryan sejak pertama masuk kampus diapun menerima Bryan saat Bryan menembaknya di depan teman-temannya.
Berliana yang kutu buku tidak tau kalau dirinya hanya sebagai kekasih taruhan Bryan semata. Sang mami yang melihat keadaan anaknya pun mendekat dan bertanya.
"Sayang kamu kenapa nak?" tanya sang mami.
"Mi, Bryan banyak dosa Mi," ucap Bryan dengan tangisnya.
"Kamei kenapa Yan, itu surat apa?" tanya sang abang yang berada di ranjang sebelah Bryan.
Tanpa menunggu jawaban Bryan sang papi mengambil surat itu dan membacanya.
"Dia tinggal dimana nak?" tanya papi kepada Bryan.
"Dia anak panti asuhan kasih bunda Pi." jawab Bryan.
"Apa dia anak dari pengasuh panti atau gimana nak?" tanya mami.
"Dia anak yatim piatu Pi, dia dibesarkan oleh pendiri panti asuhan, dia kuliah satu jurusan dengan Bryan Pi." jawab Bryan dengan lirih.
"Pi, Bryan ikut ya kalau kalian kesana." ucap Bryan.
"Nak kamu belum pulih benar, jadi biar papi sama mami saja yang kesana besok." ucap sang papi.
Papi langsung memerintahkan anak buahnya untuk melihat panti yang dimaksud oleh anaknya, anak buahnya Papi pun bergerak dengan cepat dan tak lama anak buah Papi menelpon memberitahu kalau tanah panti tersebut akan di tarik oleh ahli waris pemilik tanah
Sang papi pun memutuskan anak buahnya untuk mencari tahu siapa ahli waris tanah tersebut dan Papi juga mengatakan kepada anak buahnya kalau dia akan membeli tanah itu dan segera para anak buahnya papi langsung mencari tau siapa pemilik ahli waris tanah tersebut.
Mami yang melihat sang papi berbicara serius di balik telpon bertanya.
"Ada apa pi?" tanya Mami mendekat ke arah papi. Papi menarik nafas ya dalam dan duduk di sofa dan diikuti oleh mami yang sedang !menunggu jawabannya.
"Panti kasih bunda akan di tarik tanahnya oleh ahli waris pemilik tanah mam." jawab sang Papi.
"Innalilahi, kok bisa Pi?" tanya Mami.
"Emm kalau itu papi nggak tau, anak buah papi sudah papi perintahkan untuk mencari lebih lanjut. Karena kata mereka batas akhir mereka tinggal di panti sana adalah esok hari." jawab sang papi.
Panti asuhan bunda di dirikan oleh almh ibu hj. Aisyah sebelum dia meninggal dia telah menghibahkan tanah tersebut sebagai panti asuhan, namun setelah sekian puluhan tahun anak dari ibu Aisyah ini menuntut tanah yang di tempati sebagai panti asuhan.
Saat ini panti tersbut di pegang oleh bunda Ainun dan di panti ada anak-anak sebanyak 30 orang diantaranya mereka masih ada yang balita, SD SMP dan SMA. Berliana lah anak panti yang paling besar dari yang lain.
"Pi, bagaimana kalau kita kesana sekarang aja pi. Kasian anak-anak disana." ucap sang mami.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak Mi." ucap papi dengan melihat ke arah kedua anak nya.
"Mi, Pi, kami tidak apa di tinggal, kan ada suster yang jaga. Mami dan papi pergi saja kesana segera." ucap Arya.
"Yaudah kalau gitu, papi dan mami kesana dulu ya nak. Kalau ada apa-apa diantara kalian harus segera hubungi papi atau mami." Mami mewanti-wanti kedua anak nya.
"Iya mi." jawab Bryan dan Arya. Sebelum pergi Mami dan papi mencium kening kedua anaknya.
"Yaudah mami dan papi pergi dulu, do'a in semoga orang nya mau bernegosiasi sama kita. Assalamualaikum." ucap sang Papi.
"Amin, waalaikum salam." jawab Bryan dan Arya.
__ADS_1
Tinggal lah kini Bryan dan Arya di ruangan ini, serasa sepi yang mereka rasakan.
"Sepi juga ya bang." ucap Bryan.
"Iya dek, coba kamu hubungi teman-teman kamu aja dan suruh mereka kesini." jawab sang abang.
"Hmm bagus juga ide Abang mau sekalian pesan makanan nggak bang " ucap bryan dengan semangat.
"Hmmm kamu ini, kita mana boleh makan makanan dari luar, kalau sampai mami dan papi tau habis kita kena omel sama mami." ucap Arya.
"Hehehe iya juga ya bang, Bryan bahagia banget bang mami dan papi ada disini kumpul sama kita." ucap Bryan.
"Semoga aja mami dan papi nggak sibuk dengan kerjaannya lagi ya bang." ucap Bryan penuh harap.
"Iya dek, semoga aja kita selalu kumpul bersama seperti Ini." Jawab Arya yang penuh harap pula.
Mereka saling bercerita satu sama lain sehingga Bryan lupa untuk menghubungi teman-temannya sampailah mereka terlelap.
Di cafe dan resto Dillah langsung mengecek bahan baku di cafe dan resto nya, setelah itu dia mengecek pemasukan Minggu ini. Sambil memeriksa laporan, Dillah juga selalu mengecek chat WA group kampusnya.
Saat asik dengan laporan, Reno dkk pun datang ke cafe dan resto dan mereka langsung menuju rumahnya Dillah.
"Sibuk bro?" ucap Reno yang nyelonong masuk dalam ruangan Dillah, Dillah yang mendengar suara pun hanya mendongakkan mukanya sebentar dan setelah itu dia kembali ke kertas-kertas laporan tersebut.
"Ckkk sibuk amat pak." ucap Yogi pula ketika kedatangan !mereka tak direspon sama Dillah.
"Hmm" jawab Dillah.
"Eh kita jenguk Bryan yok?" ucap Satria !mengajak sahabatnya untuk jenguk Bryan.
"Kalian aja deh, aku lagi banyak kerajaan." ucap Dillah.
"Emang ada masalah Dil?" tanya Reno.
"Nggak ada sih, ya cuma Minggu ini omset menurun." jawab Dillah dengan mimijit pangkal hidungnya.
"Emm Dil, gimana kalau tambah menu aja Dil buat resto dan cafe kita." Satria memberi usul kepada Dillah dan teman-temannya.
"Menu apa?" tanya Reno.
"Emm. Menu yang sekiranya diminati para mahasiswa dan nggak menguras kantong." jawab Satria.
"Emm gimana kalau seperti jajanan pasar, namun kita buat berbagai variannya." usul Yogi.
"Hemm boleh, contoh!" ucap Dillah.
"Contoh seperti cilok, nah kita buat varian cilok isi gitu. yah kita isi keju, cilok larva isinya cabe rawit giling atau sebagainya." Yogi memberi kan usulnya.
"Boleh juga tuh, apa lagi nih ya aku lihat di kantin mereka juga pada pesan cilok, ada juga pesan cilok bakso kuah dari pada makanan lain. Sepertinya jajanan seperti itu sangat digemari bagi kalangan mahasiswa." sahut Reno.
"Bagus juga, Next kita coba buat menu itu di cafe dan resto kita." ucap Dillah.
"Oh ya selain itu apa yang sering diminati mahasiswa?" tanya Dillah kembali.
"Yah bagaimana kalau kita buat jajan tradisional Dil, seperti getuk gitu." ucap Yogi.
"Emm getuk, cuma apa laku kalau kita buat menu itu disini?" tanya Dillah ragu.
"Ya kita coba aja Dil, kita buat dengan varian berbagai rasa lah. Vanila, coklat atau yang lain." jawab Yogi.
"Iya juga ya, itu bisa kita buat sebagai menu disert dicafe kita, nah kalau menu berat nya apa?" tanya Dillah yang juga ingin menambah menu khusus !akaan berat nya.
"Emm, perasaan semua udah lengkap kalau menu berat nya Dil. Kita kan juga menyediakan menu western dan tradisional juga. tapi apa ya yang kurang." jawab Reno sambil mengingat satu-persatu menu di cafe resto mereka.
"Emm. ngomong-ngomong makanan, cacing diperutku ikut demo nih, makan dulu yok dah siang juga." ucap yogi
"Iya juga ya, yaudah kita kebawah aja makannya gimana?" usul Reno.
"Boleh juga, ayok lah " ucap mereka serentak dan mereka pun turun ke lantai bawah untuk makanan siang.
Di kosan Mimi masih dengan rasa penasaran dan ketidak percayaan akan apa yang dilihatnya di balik pintu kosannya.
"Ya Allah, ini beneran nggak ya." Mimk bermonolog sendiri sedangkan orang di balik pintu sudah menahan ketawa nya.
Sekali lagi Mimi mengintip lewat jendela dan Mimi mencubit lengannya dan ternyata cubitan nya lumayan sakit juga sehingga Mimi !engaduh sendiri.
"Auhhh sakit" ucap Mimi dan itu membuat seseorang di balik pintu khawatir dengan Mimi sehingga seseorang itu mengedor pintu kosan Mimi.
__ADS_1
Nah kira-kira siapa kah itu?????? Next bab ya..
"Tb