DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
aku masih merindukanmu


__ADS_3

Syahril melihat setiap langkah Mimi dan Selfia menuju lift, ingin rasa hati mengejar cintanya kembali, tetapi dia tidak boleh egois.


Syahril yakin jika ada rencana Allah yang lebih dari pertemuannya kali ini.


Mimi yang sedang berjalan dengan Selfia meras jantung nya berdetak kembali, Mimi tahu jika Syahril pasti mengawasinya. Mimk berusaha tenang, Mimi tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya.


"Maafkan Mimi kak," ucap Mimi dalam hati yang terasa perih menahan rindu.


"Maafkan kakak dek" ucap syahril lirih yang ternyata kata itu terucap serentak dengan suara hati Mimi.


Syahril berjalan kembali menuju aula dimana acara Muthia di gelar. Dia kembali duduk di kursinya, Ryan melihat raut wajah Syahril yang memendam luka.


"Emm Riil, yok kita duluan." ajak Ryan, syahril pun mengangguk.


"Ky, kita duluan ya soalnya jam sepuluh malam ini kita mau langsung take off." ucap Syahril.


"Yah kenapa tidak besok saja Riil,Yan, ini dah malam Lo." ucap Zacky mencoba menganalisis mereka berdua.


"Emm Ky, tiket sudah kita pesan sedari kemarin. Kita juga mau kumpul bersama keluarga di Jambi dulu." ucap Ryan.


"Oh yaudah, kalau gitu kita ke atas dulu ya." ajak Zacky dengan merangkul mereka berdua.


Zavky terlebih dulu berjalan dan memberi selamat pada status dan terakhir Muthia.


"Selamatnya adek Abang yang cerewet." ucap Zacky dengan candaan.


"Ihh Abang, maaf yo Abang Tia yang sok kegagahan. Tia langkah Abang." jawab Muthia dengan candaan juga.


"Si*al, Abang memang lah gagah dek." jawab Zacky.


"Gagah dari sedotan." ucap Muthia.


"Tia" Ami menegur Tia yangbgakmoernah akur dengan Zacky.


"Kamu juga Ky, selalu saja begitu sama adeknya." ucap Aminya Muthia


"Hehee maaf Ami, oh ya ini kawan Zacky di LA Ami, Abi." Zacky memperkenalkan Syahril dan Ryan.


Saat Syahril dan Ryan bersalaman dan me!ebri selamat PDA Satria, Satria bersikap sewajarnya. Satria tidak tau atau bahkan tidak mengingat wajah Syahril.


Tapi beda dengan Muthia, saat Syahril dan Ryan menyalaminya. Muthia terlihat shock dan kaget. Muthia hanya bisa menatap sendu kepada Syahril, mulutnya tak mampu berucap seakan lidahnya kelu untuk melontarkan kata.


"Selamat ya Muth." ucap Syahril denagn senyum,


"Selamat ya Muth, semkga samara." Ucap Ryan, Muthia hanya diam terpaku melihat orang yang lama tak di jumpainya.


Muthia langsung!mencari keberadaan Mimi saat Syahril dan Ryan kembali bersalaman dengan orang tuanya.


"Ya Allah apa Mimi melihta kak Syahril." gumam Muthia dalam hati dengan mata terus menelisik setiap meja.


"Ya Allah apa jadinya jika mereka bertemu,"


"Atau jangan-jangan mereka sudah bertemu"


"Ya tuhan, lindungilah mereka. Jangan sampai ada kesalahpahaman." ucap Muthia dengan gusar.


Kegusaran Muthia tak lepas dari pantauan Satria, Satria yang melihat Muthia begitu gusar pun akhirnya bertanya.


"Dek kamu kenapa?" tanya Satria dengan berbisik.


"Emm nggak apa-apa." jawab Muthia namun masih terlihat kecemasan di wajahnya.


"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa kamu terlihat gelisah gitu?" tanya Satria.


"Emm perut Tia merasa tidak enak kak." jawab Muthia dengan beralasan perutnya tidak enak.


"Apa kamu nyeri haid?" tanya Satria dan Mutia mengangguk.


"Kamu mqunistirahat sekarang?" tanya Satria dan Muthia hanya menggeleng.


"Emm nggak usah, Tia duduk aja nanti juga enakan sendiri." jawab Muthia dengan duduk gelisah.


Syahril dan Ryan sebelum turun melihat ke arah Muthia yang tengah gusar. Syahril tersenyum melihat Muthia ketika Muthia juga melihat ke arahnya.


"Entah pertanda apa ini ya Rabb, kenpa bisa menjadi kebetulan begini." ucap Muthia dalam hati.


"Mii, semoga kamu tidak bertemu dengan kak Syahril Mi." ucap Muthia dalam hati.


Muthia sangat mengetahui siapa Mimi, begitu berat Mimi membuka hati untuk orang lain. Mungkin sampai saat ini pun Muthia meyakini kalau di hati Mimi memilliki ruang khusus untuk Syahril.


Muthia tidak bisa membayangkan jika mereka berdua bertemu, apa lagi Muthia melihat jika syahril juga masih sangat mencintai Mimi.


"Ya Allah, kenapa aku yang jadi pusing memikirkan mereka bertemu atau tidak." gumam hati Muthia.


"Muthia yakin ada rencana terindahmu di balik semua ini buat Mimi dan kak Syahril." ucap Muthia dengan memejamkan mata nya.


Didalam kamar Mimi dan Selfia duduk di balkon sembari menunggu Dillah. Tak lama terdengar suara bell, Fia langsung beranjak dan berjalan menuju pintu.


"Kak" panggil Selfia dan dilkahnoun menoleh dengan memicingkan matanya.


"Mimi duduk di balkon." ucap Muthia yang mengerti arti tatapan Dillah.


"Oh, apa perutnya masih sakit?" tanya Dillah khawatir.


"Emm masuk aja kak " ucap Selfia dan mempersilahkan Dillah maauk. Dillah pun mengangguk dan masuk langsung menuju balkon.


"Dek" panggil Dillah, Mimi menoleh dan tersenyum.


"Ini," ucap Dillah dengan memberikan kantong berisi roti pesanan Mimi, Mimi pun menerima kantong tersebut dn melihat isinya.


"Emm kak, banyak amat." ucap Mimi ketika melihat ada 5 merk serta ada beberapa mereka yang berbeda ukuran.

__ADS_1


"Habis bingung mau pilih yang mana, ternyata banyak merk nya terus banyak juga macamnya yaudah ambil aja beberapa merek dan jenisnya." jawab Dillah.


"Itu ada juga minumannya dek, kata si mbak kasurnya bagus buat istri yang lagi haid, jadi ya kakang beli aja." ucap Dillah dengan menunjukkan beberapa botol minuman kunyit asam.


"Wah Mi, mau jualan jamu?" tanya Selfia.


"Emm" jawab Mimi.


"Oh ya Mi, kamu jadi pulang besok?" tanya Selfia.


"Jadi Fi. Kamu jadi ikut nggak?" jawab Mimi dan bertanya pada Selfia.


"Iya jadilah, kalau mau pulang ke Papua besar ongkos Mi hehee." jawab Selfia.


"Perhitungan amat kamu Fi." ucap Dillah.


"Bukan perhitungan kangmas, duitnya nggak cukup." ucap Selfia.


"Goh nanfinpapah sama mamah juga bakal datang kok." ucap Selfia.


"Emm kamuboulang ke Jambi ya dek?" tanya Dillah.


"Iya kang, kakang mau ikut?" tanya Mimi.


"Ayo kangmas ikut, sekalian ketemu camer minta Restu gitu." ucap Selfia.


"Emm maunya sih, tapi maaf kakang besok juga mau langsung ke Singapore."


"Rencana kakang mau ngajak kamu dek besok, coba kamu ngomong lebihnawal kalau kamu pulang ke Jambi jadi bisa kakang pending ke sana nya " ucap Dillah.


"Emm kakangbjuga nggak ada mgomkng mau ngajak Mimi ke Singapura." jawab Mimi.


"Rencana mau bikin surprise buat kamu dek." ucap Dillah.


"Yaudah berarti bukan rezeki Mimi untuk jalan-jalan ke sana." jawab Mimi.


"Emm bentar ah Mimi mau ganti dulu." ucap Mimi dan beranjak tak lupa membawa satu bungkus roti kedalam kamar mandi.


"Pending aja swkaenag kangmas ke Singapura nya." Ucap Selfia yang tengah duduk berdua dengan Dillah.


"Nggak bisa Fi, soalnya ini sangat penting." jawab Dillah.


"Mana penting ketemu camer sama kerjaan?" tanya Selfia, Dillah diam.


Bagi Dillah kedua nya penting, ke Singapura sudah lama dia planning kan dan dia juga telah membuat kesalahan untuk bertemu dengan klien esok.


Ketemu camer juga penting karena dia ingin serius dengan Mimi, tapi setelah di pertimbangkan Dillah tetap memilih ke Singapore karena baginya itu bhat masa depannya juga kelak bersama Mimi, jika bertemu camer bisa saja dia ketemu waktu acara wisuda nanti.


Mimi telah bergabung dengan mereka berdua, terlihat Dillah maaih menimang-nimang keputusannya. Keduanya merupakan masa depannya.


Jika membatalkan dengan klien di Singapore maka dia juga akan kehilangan kerja sama dengan kalian itu. Jika ikut Mimi sekarang toh nanti dia juga bakal ketemu saat wisuda.


"Kakang kenapa?" tanya Mimi.


"Emm maaf kang, ini saja tadi mamak barusan nelpon nanyai n kapan pulang." jawab Mimi.


"Emm, sebenarnya kakang kepingin ikut kamu dan ketemu orang tua kamu. Tapi..." ucal Dillah gamang.


"Emm ikuti kata hati kakang saja, jangan sampai nanti ada penyesalan." jawab Mimi.


Dillah terdiam, kata hatinya pun dia ragukan. Tali demi masa depannya kelak dia akhirnya tetap memutuskan perginke Singapore.


"Em.. Maaf ya dek, kakang tidak bisa ikut. Ini juga demi masa depan kita nanti dan ini kakang sudah lama plan nya." ucap Dillah, Mimi hanya tersenyum dan mengangguk.


Dalam hati Mimi sangat ingin Dillah mementingkan dirinya sebagai bagian dari plan nomor satunya, namun Mimi tidak boleh egois, siapalah dirinya hanya seorang kekasih bukan istri.


Karena dah larut, Dillah pun pamit kembali ke kamarnya. Selfia sudah sedei tadi mengarungi mimpi, Irma dia masih di aula atau mungkin sudah jalan-jalan keluar bersama Riko.


"Yaudah kakang balik ke kamar ya, kamu segera istirahat." ucal Dillah.


"Iya kang, kakang juga segera istirahat." jawab Mimi sembari mengantar Dillah sampai kepintu.


"Selamat malam sayang, cup" ucap Dillah dengan mengecup kening Mimi.


"Malam juga kang" jawab Mimi dan menyalami nya dengan menciumi punggung tangannya.


Saat adegan itu ada sepasang mata melihatnya saat dia akan berbelok ke koridor dari kamarnya.p menuju lift. Kamar Dillah dan Mimi berbeda lantai jadi Dillah setelah berpamitan langsung menuju lift.


Mimi tersenyum melihat Dillah yang berjala mundur menuju lift. Saat Dillah telah masuk lift Mimi pun berbalik hendak masuk kamar saat Mimi berbalik Mimi melihat di ujung lorong ada seorang yang tengah melihatnya.


Mimi terdiam terpaku melihat orang yang sanagt dirindukannya. Ingin Mimi berlari untuk memeluk nya dengan erat tali apalah daya kalau mereka tak mungkin bisa melakukan itu.


Syahril menatap Mimi penuh dengan kerinduan, begitu luka dengan Mimi. Mimi memejamkan matanya dan kemudian Mimi memaksakan diri untuk masuk kedalam kamarnya dan segera mengunci kamarnya.


Syahril merasa sedih saat Mimi tidak ingin berbasa basi padanya. Syahril pun berjalan gontai menuju lift bersama Ryan.


"Apa kau akan pergi kak." ucap Mimi yang baru tersadar jika saat dia melihat Syahril membawa koper. Mimi merasa nyeri kala melihat Syahril menenteng koper.


Mimi gamang ingin dia mengejar Syahril dan memeluknya untuk terakhir kali nya atau dia diam saja.


"Ya Allah ampuni Mimi yang telah berdosa ini." ucap Mimi, perlahan. Mimi kembali menuju pintu kamar dan membukanya perlahan.


Mimi melihat di balik pintu Syahril berjalan menuju lift, saat lift terbuka dan Syahril melangkahkan kakinya, nafas Mimk terasa berat, Mimi keluar kamarnya.


"Kakaak" Mimi memanggilnya, Syahril yang akan menekan tombol menundanya dan melihat Mimi.


"Riil," panggil Ryan dengan menggelengkan kepala, Syahril ragu ini seperti ujian bagi mereka berdua.


Mimi berjalan perlahan menuju lift, Syahril pun beranjak keluar namun di cegah oleh Ryan.


"Riil" ucap Ryan.

__ADS_1


Saat Samali depan lift, Mimi melihat Syahril dengan deraian air mata.


"Maafkan Mimi" ucap Mimi, Syahril hanya diam bibir nya kelu tubuhnya menginginkan memeluk Mimi.


"Maafkan Mimi kak " ucap Mimk yangbkangsnub memeluknya di dalam lift. Setelah memluk Syahril dan Syahril oun memeluk erat Mimi, saat Syahril akan mengeratkan pelukannya lagi.


"Maafkan Mimi," ucap Mimi dan Mimi kembali keluar lift dan berlari menuju kamarnya dan masuk kedalam kamar tanpa melihat kiri kanan lagi.


Syahril terdiam seolah dirinya pun rapuh.


"Maafin kakak dek." ucapnya. Ryan hanya diam menghelakan nafas dan setelah itu Ryan menekan tombol lobi.


Mimi langsung masuk kedalam kamar mandi, Mimi meluapkan rasa sesaknya di dalam kamar mandi.


"Ya Allah, ampuni Mimi ya Allah."


"Kang Said maafkan Mimi" ucap Mimi dengan deraian air matanya.


"Tak lama terdengar suara bel kamar, mimi pun menghentikan tangisannya, Mimi keluar dari kamar mandi dan menuju pintu.


Sebelum membukanya Mimi melihat terlebih dahulu lewat celah pintu kamar. Setelah mengetahui siapa yang memencet bel Mimi pun membuka pintunya.


Mimi melihat Irma dan riko, setelah itu Mimi langsung menuju kasurnya.


"Mi" panggil Irma setelah dia mengunci pintu.


"Hmm" jawab Mimi.


"Mi, Kamu belum tidurkan?" tanya Irma.


"Kenapa Ir?" Mimi berusaha bersikap biasa saja walau suara nya sedikit serak.


"Mi, tadi di lobi aku.." ucap Irma yang seketika ragu untuk memberitahu Mimi, Mimi tau kalau Irma kan mengatakan kalau dia bertemu dengan Syahril.


"Sudahlah ir," ucap Mimi.


"Mi," panggil Irma.


"Apa Mimi juga sudah bertemu dengan.." ucap Irma terhenti kala Mimi mengangguk. Irma terdiqm ketika melihat mata Mimk sedikit sembab.


"Mi, apa kalian saling berbicara?" tanya Irma dan Mimk menggeleng dengan deraian air mata. Irma langsung memeluk Mimi.


"Kenapa kami harus bertemu lagi Ir." ucap Mimi dalam pelukan Irma.


"Yang sabar ya Mi." ucap Irma.


Selfia yang sedari tadi terbangun kala Mimi memanggil kakak dan dia juga melihat bagaimana Mimi melihat serta memeluk Syahril. Selfia ikut bersedih dengan keadaan Mimk saat ini.


Sebenarnya Selfia juga sudah mengetahui keberadaan Syahril saat Selfia menyusul Mimi ke toilet namun sampai toilet selfia bersebunyi di dalaam toilet lain saat melihat Syahril, dan saat Mimi pergi ke aula dan meninggal kan Syahril seorang diri barulah Selfia keluar.


Selfia bangun dan duduk, dia melihat Irma memluk Mimi diapun juga ikut memeluk Mimi.


"Yang sabbar ya Mi." ucap Selfia.


"Fi, maaf." ucap Mimi.


"Maaf buat apa?" tanya Selfia.


"Ya maaf jadi buat kamu terbangun dari tidur." jawab Mimi.


"Fia terbangun sedari tadi Mi saat mendengar kamu berteriak manggil Kakak." ucap Selfia.


"Jadi Fia." ucap Mimi dan Fia mengangguk.


"Bahkan Fia juga udah ketemu dan bicara kok Samma kaak Syahril." ucap Selfia, Mimi dan Irma saling pandang.


"Bahkan mungkin Muthia juga sudah ketemu dengan kak Syahril." ucap Selfia menebak.


"Kok bisa?" tanya Mimi dan Irma


"Kak Syahril dan kak Ryan adalah sahabat dari abang sepupunya Muthia."


"Kak Syahril awalnya tidak tau kalau yang dimaksud Muthia itu adalah Muthia nya kita"


"Niatbhati kak Syahril hanya ingin liburan serta merefresh pikirannya disini, tapi.." Ucap Muthia menggantung.


"Tapi ternyata Allah merefresh pikirannya dengan bertemu langsung dengan kamu Mi." ucap Selfia.


"Waktulah yang memisahkan kalian dan mungkin waktu Lula yang akan menyatukan kalian kelak."


"Allah mempertemukan kalian saat ini mungkin nih ya menurut Fia, Allah sedang menguji perasaan kalian berdua."


"Fiq kasian melihat kak Syahril, dia hanya bisa meluapkan rasa rindunya dnganbmelihatmu dari jauh Mi"


"Fia juga yakin, kalian masih saling mencintai karena jantung kalian satu, hangungbitunakan berdetak saatbkaain berada dekat." ucap Selfia.


"Aku pun tadi kasian melihat kak Syahril, ada bekas air mata di pipinya dan matanya juga memerah."


"Saat dia akan pergi dia berpesan padaku, dia menitipi kamu dan dia juga meminta aku untuk menjaga kamu Mi." ucap Irma.


"Bagaima perawan kamu Mi?" raya Selfia.


"Entahlah Fi, tadinaku tidak bisa menahan diri. Aku sangat merindukannya, sampai-sampai aku tidak bisa mengontrol dirinya." jawab Mimi.


"Aku harus bisa melupakannya, karena saat ini ada kang Dillah yang harus aku jaga hati nya." ucap Mimi.


"Apa kamu bisa? maksud aku, apa kamu bisa melupakan kak Syahril yang telah memiliki ruang tersendiri di hatimu?" tanya Selfia.


"Melupakannya secara keseluruhan tidak, setidaknya aku harus bisa mengendalikan dalikan diri." jawab Mimi.


Didalam kamar Mimi dan kedua sahabatnya membahas Syahril sedangkan di kamar pengantin Satria merasa gerah karena si rencong nya saat melihat Muthia melepaskan gaunnya tidak bisa di ajak kompromi.

__ADS_1


tbc


__ADS_2