
Beberapa hari berlalu, Mimi pun sudah mulai aktif berkerja sebagai dokter spesialis jantung di tiga dirumah sakit..
Untuk sebulan kedepannya, Mimi akan lebih banyak standby di rumah sakit Nurani bunda karena akan menjalankan amanah dari dokter Rayhan yang sedang cuti.
Selama lima hari Mimi sudah berada di kota Padang, Mimi bekum juga mendapat kabar dari Dilllah.
Kali ini Mimi pasrah kedepannya bagaimana, jika dia tak muncul-muncul juga dalam Minggu ini, Mimi akan melupakan semua akan janji yang pernah di ucapkannya.
Tiga hari kedepannya Mimi telah membuat jadwal operasi pada pasien-pasien yang memang di butuhkan penanganan segera.
Ayah Brata pun sudah memberitahukan jadwal pemberangkatan tim riset di akhir tahun ini. Mimi pun menerimanya karena Mimi merasa Dilllah pun tidak memberinya kepastiannya.
Mimi juga mulai membuka situs online sebuah universitas di negara yang sama dengan dimana akan diadakan riset tersebut.
Mimi pun mengirim data ke sebuah universitas di LA dan di bukan depannya akan ada ujian untuk penerimaan beasiswa.
Dua Minggu berlalu, entah ada angin apa Dillah pun datang menemui Mimi di rumah sakit Nurani bunda.
Namun saat dia datang Mimi sedang melakukan tindakan operasi. Dillah pun kembali ke kantor nya dan dia hanya menitipkan pesan pada asisten Mimi.
"Dok'' panggil asisten Mimi Kaka Mimi akan memasuki ruangannya.
"Emm iya sus, ada apa?" tanya Mimi sembari terus berjalan menuju westafel untuk mencuci tangannya kembali.
''Tadi ada yang nyariin.'' ucapnya.
''Siapa?" tanya Mimi, masih terus membersihkan tangannya
"Kang masnya dokter" jawabnya, Miki pun berhenti sejenak dari aktifitasnya.
"Katanya nanti sore dia akan jemput dokter." imbuhnya.
"Kamu nggak bilang, kalau saya masih ada jadwal operasi hingga malam." ucap Mimi mengingatkan.
"Astaghfirullah, saya lupa dok." jawab asistern Mimi.
"Dokter telpon saja dia," Ucap si asisten. Mimi hanya tersenyum.
"Nanti kamu bilang saja, kalau dia kesini lagi.'' jawab Mimi.
''Emm pesanan saya mana?" tanya Mimi yang menanyakan pesanan nasi bungkus.
"Iya bentar, tadi nitip Susan yang keluar dok." jawab nya.
"Dok." panggilnya.
"Hmm" ucap Mimi dengan terus mengecek rekam medis pasien yang akan di operasi selanjutnya.
"Kok dokter biasa aja dengar kangmasnya mau jemput." ucapnya.
"Terus saya harus bagaimana?" Mimi bertanya balik pada asistennya.
"Ya senang gitu dok, kan lama nggak ketemuan." jawabnya, Mimi hanya tersenyum.
"Keg anak ABG aja." jawab Mimi dan langsung memeriksa rekam medis pasiennya.
Tak lama asisten Mimi pun keluar untuk mengambil pesanan makan siang mereka, sebenarnya di rumah sakit juga ada kantin buat lara karyawannya, namun Mimi jarang makan di kantin.
Malam hari jam delapan malam Mimi baru keluar dari ruang operasi. Mimi langsung berjalan menuju ruangannya dan sang asisten sudah menyiapkan air untuk Mimi mandi.
"Makasih ya sus, udah nyiapin air mandinya." ucap Mimi.
"Iya dok sama-sama, em dok saya pulang duluan ya nanti." ucap sang asisten.
"Lo kenapa, serempak aja lah. Kamu mau pulang pakai apa?" ucap Mimi.
Ya sekarang sang asisten tinggal bersama Mimi di kontrakan.
"Em dokter kan di jemput sama kangmasnya." ucap sang asisten, Mimi berhenti sejenak dan melihat ke arah asisten.
"Iya dia menjemput dokter, tadi sih dia nunggu di kursi depan tali nggak tau kemana dia sekarang." ucap asisten memberitahu.
"Oo, kamu tetap disini jangan kemana-mana, saya mau mandi dulu." ucap Mimi.
"Siap dok." jawab asisten nya.
Beberapa menit kemudian, Mimi pun telah selesai mandi bahkan Mimi juga sudah mengambil air wudhu.
Mimi akan mengqodo sholat Maghrib yang terlewatkan tadi setelah sholat isya.
Setelah Mimi selsai menjalankan sholat isya Mimi segera melanjutkan sholat Maghrib yang dia tinggalkan saat sedang dalam tindakan operasi.
Mengqodo sholat Maghrib tata caranya sama dengan sholat Maghrib biasanya, hanya niatnya saja yang berbeda.
Niat Qodho Sholat Maghrib:
"Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka'aatin mustaqbilal qiblati qodho'an lilaahi ta'aalaa."
Artinya: "Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, serta qodho karena allah ta'aalaa."
Setelah selesai menjalankan perintah illahi, Mimi pun keluar dari ruangannya. Terlihat Dilllah sedang mengobrol dengan Maryam asisten Mimi.
"Sudah dok?" tanya sang asisten, Mimi pun mengangguk dan tersenyum.
"Em kalau gitu aku duluan ya dok." jawab sang asisten.
"Sekalian aja ikut Mar." ucap Mimi.
"Emm nggak usah dok, nggak enak aku nanti gangguin lagi hehee." jawabnya.
"Em yaudah hati-hati ya, kunci rumah di kamu kan?'' ucap Mimi.
"Iya di aku dok, yaudah aku duluan ya.'' ucapnya dan berlalu pergi.
"Waalaikum salam" jawab Mimi dan Dilllah.
"Dek"Panggil Dilllah ketika Maryam telah berlalu pergi.
"Hmm, oh ya minal aidzin walfaidzin." ucap Mimi dengan mengulurkan tangan ke Dillah.
"Eh sama yank, mohon maaf lahir batin ya." ucap nya dengan menerima ukuran tangan Mimi.
__ADS_1
"Hemm" jawab Mimi dengan senyum.
"Yaudah kita keluar sekarang." ajak Mimi yang tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.
"Hemm iya ayok.'' jawab nya.
Saat akan melangkah, beberapa dokter yang baru pulang pun menyapa Mimi.
"Hai mi, baru pulang?" tanya dokter spesialis kandungan.
"Iya kak, kakak juga?" ucap Mimi dan kembali bertanya.
"Iya tadi kakak ada operasi, wah di jemput nih.. Yaudah kakak duluan ya." ucap si dokter kandungan dengan melambaikan tangannya.
"Iya kak, hati-hati." jawab Mimi.
"Waw Mi, dah di jemput aja." ucap dokter syaraf.
"Iya bang, baru mau pulang bang?" ucap Mimi.
"Iya, wah rencana Abang mau ngajak kamu dinner tadi, eh dah di jemput. Yaudah Abang duluan ya." ucapnya dengan melemparkan candaannya.
"Iya bang, lain kali aja. Hati-hati ya bang.'' jawab Mimi.
"Yo i, kamu juga hati-hati." ucapnya sambil berjalan menuju lift mengejar dokter kandungan tadi.
"Ayok kang." ajak Mimi.
"Emang kamu sering makan malam sama dia yank?" tanya Dillah, Mimi hanya diam enggan untuk menjawab.
"Yank" panggilnya, ketika melihat Mimi enggan untuk berbicara dengannya.
"Kamu sering makan malam dengan dia?" Dilllah mengulangi pertanyaannya.
"Iya." jawab Mimi singkat.
"Oo gitu." jawab Dillah dengan nada dingin, Mimi hanya diam tak menggubris nya dan terus berjalan menuju lift.
Didalam lift hanya ada mereka berdua, Mimi tetap dengan diamnya. Sejujurnya Mimi sangat capek dan mengantuk. Niat hati dia akan segera pulang setelah sholat dan akan segera mengistirahatkan badannya sesegera mungkin.
"Yank, berapa kali kamu makan malam dengan dia?" tanya Dillah, Mimi hanya memandang ke arah nya sebentar dan kembali menatap ke dinding depan lift.
"Yaank" panggilnya lagi.
"Sering buka dinas malam." jawab Mimi ala adanya.
"Sesering itu?" tanyanya.
"Ya" jawab Mimi.
"Emm berarti malam ini rencana kalian akan makan malam lagi? kalian sudah janjian gitu?" ucap Dilllah sedikit menekankan tiap katanya.
"Maybe" jawab Mimi, emang biasanya mereka akan makan malam bersama jika mereka serentak dinas dan pulang malam.
"Oo gitu.. Jadi kamu main di belakang aku yank?" ucapnya yang langsung menuduh Mimi.
"Maksud akang?" tanya Mimi ketus dengan menghadap ke arah Dilllah dan mengigit bibir bawahnya.
"Sepucik itukah Mimi di mata akang?" ucap Mimi dan terus melangkah keluar dari lift.
"Dek tunggu." ucapnya dengan mencekal lengan Mimi.
"Jika ingin bicara atau menyelesaikan nya saat ini juga silahkan cari tempat." ucap Mimi.
"Dek" ucapnya.
"Silahkan cari tempat, disini bukan tempat untuk berdebat." ucap Mimi dengan ketus dan langsung melanjutkan langkahnya.
Dillah berjalan di belakang Mimi dan saat akan keluar dari rumah sakit menuju parkiran, Mimi bertemu kembali dengan dua dokter yang menyapanya sebelumnya.
"Mi, kita duluan ya." teriak dokter Friska dokter kandungan.
"Iya kak, hati-hati" jawab Mimi dengan senyum.
Dillah yang melihat kedua dokter itu hanya diam secara kedua dokter tersebut saling bergandengan.
"Ayok dek." ajaknya, Mimi hanya diam dan mengikuti langkahnya sampai ke parkirannya.
Sepanjang jalan Mimi hanya diam di dalam mobil, Dillah hanya menghelakan nafasnya kasar.
"Dek, maaf." ucapnya. Mimi tak menggubrisnya dan memandang ke arah luar.
"Yank" ucapnya lagi.
"Fokus aja lada jalanan." ucap Mimi tanpa melihat ke arah Dilllah.
Dilllah mengajak Mimi makan di pinggir pantai, Saat sampai lantai pun Mimi hanya diam.
Dillah yang melihat Mimi hanya diam, dia terus menghelakan nafasnya.
"Maaf." ucapnya dengan mengambil kedua tangan Mimi.
"Akang tidak mau berpisah dari kamu dek." ucapnya lagi, Mimi hanya diam acuh dan terus menggigit bibir bawahnya.
"Akang cemburu jika kamu menyapa atau disapa laki-laki lain." ucapnya lagi.
"Dek, jangan diamin akang. Lebih baik adek marah-marah dari diam begini." Ucapnya dan menghelakan nafasnya.
"Cemburu!!" ucap Mimi.
"Iya dek akang cemburu, akang lihat dia menyukai adek." jawabnya.
"Hahaa, segitunya akang menilai orang. Bagaimana dengan rekan kakang saat makan malam, apa Mimi juga akan mengatakan hal serupa?"
"Akang terlalu rendah menilai Mimi, akang lihat kan saat kita akan keluar? mereka bergandengan tangan. Meraka berdua itu adalah suami istri."
"Dan satu lagi, baik itu mereka atau yang lain. Mereka adalah rekan kerja Mimi." ucap Mimi mengeluarkan kekesalannya.
"Maafkan akang, akang tidak bermaksud begitu dek, akang hanya cemburu, akang tidak mau ada laki-laki lain mendekati kamu dek." ucapnya
"Akang sangat sayang sama kamu, akang tidak mau kehilangan kamu." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Nggak mau kehilangan , tapi selalu di cuekin bahkan hilang tanpa kabar dan mengatakan hp hilang, terus kembali begitu saja." ucap Mimi dengan menyindir nya.
"Maafkan akang, bentar ya, akang pesankan makanan dan minuman dulu." ucapnya dengan senyum dan mengelus kedua tangan Mimi.
Sepergian Dilllah memesan makanan, Mimi menghelakan nafasnya dengan berat.
"Ya Allah, langkah apa yang harus hamba tempuh. Diakah jodohku? jika iya lancarkan hubungan kami,namun jika bukan berikanlah hamba petunjuk mu segera." gumam Mimi dalam hati,. Mimi dalam kegamangannya, ingin dia memutuskannya sekarang tapi dia juga tak ingin mengambil keputusan sepihak hanya dengan alasan yang menurut Mimi belumlah pas.
Dillah setelah memesan makanan dan minuman, dia kembali duduk di hadapan Mimi. Ditatapnya wanita yang dirindukannya itu dengan dalam.
Dillah tau jika orang yang dicintainya kini sedang marah padanya.
''Yank" panggilnya, Mimi hanya memandangnya sekilas dan kembali melihat ke hp nya.
"Yank, akang kangen tau masa di cuekin." ucapnya, ini diam dan tak memperdulikan nya.
"Yank, maaf kalau akang akhir-akhir ini sibuk dan tidak bisa menghubungi kamu."
"Apa lagi hp akang hilang di dalam lautan." ucapnya, Mimi yang mendengar masalah hp. Menghentikan aktifitas chatting bersama sahabatnya dan melihat ke arah Dillah.
"HP akang Cemplung ke laut yank." ucapnya, Mimi menautkan kedua alisnya. Dillah tau kalau Mimi tidak akan semudah itu untuk percaya, Dilllah pun menceritakan segalanya.
"Emm sebenarnya bukan sengaja kecemplung tapi disengaja di buang ke lautan." ucapnya, Mimi hanya diam dan masih melihat ke arah Dillah.
"Emm seminggu sebelum lebaran, keponakan mami datang, namanya Erika."
"Saat itu dia meminjam hp akang untuk menghubungi mami dan saat itu hp berdering dan itu dari kamu."
Dia nanya siapa kamu dan akang bilang kalau kamu calon istri akang. Saat akang mau minta hp akang, dia lempar hp akang ke lautan itu." Ucap ya dengan menunjuk ke arah tengah laut.
"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Mimi.
"Emm, sebenarnya dia menyukai akang, tapi berulang kali akang katakan kalau akang hanya menganggap nya adik."
"Terus kenapa tidak beli hp lagi?" tanya Mimi.
"Akang sengaja tidak membeli hp lagi, karena akang tidak mau dia selaku menghubungi akang." jawabnya yang menurut Mimi tidak masuk akal.
"Emm habis ini temani akang beli hp ya." ucapnya.
"Oh ya dek? kapan kamu ada offday nya?' tanya Dillah.
"Kenapa?" tanya Mimi balik.
"Kita ke Jambi yuk, akang mau ketemu sama mamak dan bapak adek. Akang mau minta maaf sama mereka dan akang mau mengutarakan niat akang sama mereka."
"Akang mau minta izin untuk meminang kami menjadi istri akang dek." ucapnya.
"Emm orang tua akang bagaimana?" tanya Mimi.
"Orang tua akang akhir tahun baru bisa pulang ke tanah air. Maksud akang, akang akan bicara terlebih dahulu sama orang tua adek, sebelum akang membawa kedua orang tua akang." ucapnya.
"Apa akang yakin orang tua akang akan menerima Mimi?" tanya Mimi.
"Orang tua akang sudah menyetujui nya dek, Akang sudah bicara sama mereka dan mereka menyerahkan semuanya kepada akang.''
"Mereka tidak ingin memaksakan kehendak mereka lagi lada akang." ucapnya dengan mengelus kepala Mimi.
"Oh ya kok kamu tau hp akang hilang?btau darimana?" tanya Dillah.
"Dari kak Satria". jawab Mimi.
"Satria? Kamu ketemu sama dia? dimana?" tanya Dillah.
"Disemarang." jawab Mimi.
"Semarang? kapan? kok adek nggak bilang kalau mau kesemarang," tanya Dillah lagi.
"Lebaran kedua, keg mana mau bilang wa a aja selalu di cuekin terus ujungnya centang satu." jawab Mimi.
"Emm maaf." ucapnya.
"Kamu kesemarang kerumah siapa dek?" tanya nya lagi.
"Kerumah ayah Brata." jawab Mimi.
"Emm kamu masih berhubungan dengan keluarga mendiang calonmu itu ya." ucapnya, Mimi diam dan melihat ke arah Dillah.
"Mereka baik sama Mimi maka Mimi baik juga sama mereka, mereka tak hanya menganggap Mimi sebagai calon yang taj jadi tali mereka sudah menganggap Mimi anaknya sendiri sedari dulu hingga sekarang."
"Bagi Mimi mereka juga merupakan keluarga Mimi, mereka adalah orang tua Mimi sampai kapanpun." ucap Mimi.
"Emm apa kelak kamu juga akan menganggap orang tua ku juga sebagai orangtuamu?" Tanya Dillah.
"Kenapa akang bertanya seperti itu?" tanya Mimi.
"Emm nggak apa-apa, sialnya mereka pernah menentang kita, apa kelak kamu menyayangi mereka sebagi orangtuamu juga?" ucapnya.
"Masa lalu biarlah sebagai masa lalu, jika dimasa dekan mereka menerima Mimi apa adanya, mereka juga menyayangi Mimi sebagaimana mereka menyayangi akang, maka Mimi Kun akan menyayangi mereka sepenuh hati Mimi." jawab Mimi.
"Jika mereka belum menerima kamu sepenuhnya bagaimana, ini misal dek." ucapnya.
"Jika mereka belum menerima Mimi dan tidak merestui hubungan kita, lebih baik kita tidak meneruskan hubungan kita ke jenjang lebih lanjut." jawab Mimi.
"Kenapa begitu?" tanya Dillah.
"Menurut akang gimana? kita ganti posisi buka orang tua Mimi bekum menerima ajang sepenuhnya, mereka menerima akang hanya keterpaksaan semata gimana?" tanya Mimi.
"Akang akan berusaha mengambil hati mereka." jawabnya.
"Terus kenapa adik tidak berusaha untuk mengambil hati mereka juga kelak." ucapnya.
"Sekarang Mimi tanya sama akang, apa orang tua akang belum menerima Mimi?" tanya Mimi. Dillah diam sesaat dan kemudian tersenyum.
"Mereka hanya menuruti apa yang akang mau." jawab Dillah.
"Em yaudah yok dek dah malam, kayaknya konter hp juga dah tutup.'' ucap Dillah dan mengajak Mimi pulang.
"Tuh konter di depan sana masih buka jam segini." jawab Mimi.
"Yaudah kalau gitu kita kesana sekarang." ajaknya dan mereka berdua pun pergi menuju konter hp.
__ADS_1
tbc