DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
206


__ADS_3

Hari terus berlalu hari ini adalah hari Rabu yang mana hari ini Mimi akan mengantar pesanan si ibu yang order kue dengannya dan Simbah.


Beruntungnya Mimi hari ini mata kuliah pagi di tunda siang hari karena dosen bersangkutan sedang ada keperluan keluarga dan kebetulan siang juga tidak ada mata kuliah jadi sang dosen meminta agar mata kuliahnya dinganti pada siang hari.


Semua kue pesanan telah siap dan telah dimasukkan kedalam box, Mimi akan mengantarkan pesanan menggunakan taxi online dan di temani oleh Muthia.


"Mi, udah cukup semua kan kuenya, ntar ada ketinggalan lagi." ucap Muthia mengingatkan Mimi.


"Sudah Muth, didalam juga udah nggak ada box." jawab Mimi.


"Yaudah, tuh taxi onlinenya dah tiba." ucap Muthia dengan menunjukkan ke arah depan dimana taxi tersebut sudah terparkir.


"Oh yaudah yok kita angkat box nya." ucap Mimi degan mengajak Muthia untuk mengangkat box yang berisi kue-kue buatan Mimi.


"Pak tolong bantuin ya?" ucap Muthia kepada bapak si supir taxi.


Bapak tersebut mengangguk dan berlalu berjalan ke arah kosan Mimi dan mulai mengangkut box-box kue dan di susun rapi di bagian belakang mobil.


Setelah semua beres, mobil taxi pun langsung melaju menuju alamat yang sesuai dengan yang telah di beri si ibu itu.


Memakan waktu dua puluh menit menuju alamat si ibu dan tak lama kami pun sampai di kompleks perumahan elit di kota ini.


"Waw Mi, tajir nih si ibu." ucap Muthia.


"Hmm.." jawab Mimi.


Mimi turun terlebih dahulu untuk menuju ke pos security dan meminta izin bhat masuk.


"Maaf pak, apa betul ini rumah ibu Salma?" tanya Mimi kepada pak security


"Iya betul, mbak siapa? ada keperluan apa?" tanya sang security.


"Saya Mimi pak, mau mengantar pesanan Bu Salma." jawab Mimi.


"Oo mbak Mimi, mari mbak masuk sudah di tunggu oleh ibu." ucap security seraya membuka pintu pagar.


"Baik pak makasih, saya suruh supirnya masuk." ucap Mimi.


"Baik mbak.." jawab pak security.


Mimi pun kembali menuju mobil dan masuk kedalam mobil serta menyuruh sang supir untuk masuk kedalam.


Setelah sampai depan rumahnya, tersebut begitu indah rumahnya, Mimi dan Muthia terperangah melihat keindahan bak istana tersebut.


"Gila Mi.. Beruntungnya yang jadi mantu dirumah ini." ucap Muthia.


"Hussss ayo buruan bantuin turunkan boxnya." ucap Mimk dan Muthia pun mengangguk dan cengengesan namun tangan tetap berkerja menurunkan blx-box kue.


Pintu rumah terbuka dan terlihat Bu Salma dan beberapa art nya berjalan menghampiri Mimi.


"Wah nak Mimi sudah sampai." ucap Bu Salma


"Iya Bu, maaf sebelumnya bu, Mimi harus ngantarnya pagi, karena siang ada mata kuliah." jawab Mimi dan meminta maaf kepada Bu Salma karena sebelumnya Mimk berjanji akan mengantar kue di siang hari.


"Iya nggak apa kok, yang dari pasar juga udah di jemput." jawab bu Salma.


"Ayo masuk dulu." ucap Bu Salma mengajak Mimi dan Muthia masuk.


"Emm iya Bu, bentar saya bayar taxi nya dulu." jawab Mimk dan kembali mendekat ke arah supir taxi.


"Udah biar ibu yang bayar." ucap Bu Salma


"Emm nggak usah Bu, biar Mimi saja." ucap Mimi namun tak di gubris sama Bu Salma.


"Berapa pak?" tanya Bu Salma kepada pak supir.


"Enam puluh ribu buk " ucapnya dan Bu Salma langsung memberikan uang selembar berwarna merah.


"Ini pak." ucap ibu Salma dan supir taksi hendak mengembalikan kembalian namun Bu Salma menolak menerimanya.


"Nggak usah pak, buat anak-anak di rumah." ucap Bu Salma.


"Tapi Bu, ini banyak sisanya." ucap pak supir.


"Nggak apa rezeki anak-anak." jawab bu Salma.


"Te terima kasih Bu, semoga dilancarkan rezekinya." ucap si bapak.


"Sama-sama." ucap Bu Salma.


"Kalau begitu saya permisi." ucap pak supir dan Bu Salma hanya mengangguk.


"Ayo masuk," Ajak Bu Salma dengan menggandeng tangan Mimi. Mimi pun mengangguk dan tersenyum.


Setelah sampai kedalam ruangan nya, lagi-lagi Mimi dan Muthia terperangah melihat keindahan di dalamnya. Berjejer guci-guci nan cantik dan klasik, di dinding juga terpasang foto keluarga yang kelihatan harmonis dan bahagia.


Di ruang tamu terdapat sofa yang elegan, meja yang terbuat dari crystal, begitu pula dengan lampu hias yang bertengger di atas nya..


Walau terlihat mewah namun bersifat klasik dan membuat mata gak jenuh untuk memandangi nya.


"Ayo duduk, anggap rumah sendiri." ucap Bu Salma.


"Makasih Bu." jawab Mimi dan Muthia. Tak lama datang dua orang art membawa minuman dan makanan ringan.


"Ayo di minum dulu." ucap Bu Salma dan Mimi hanya mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun duduk bersama sambil bercerita, Bu Salma bercerita kalau dia memiliki tiga orang anak laki-laki dan 1orang perempuan. Namun yang perempuan keluar dari rumah karena di usir oleh suaminya.


Bu Salma bercerita dengan sorot mata yang sendu dan mulai berkaca-kaca, suaminya mengusir anak perempuannya bukan tanpa alasan. Sang anak lebih memilih lelaki yang disukainya dan entah kemana dia sekarang.


Bu Salma menunjukkan foto anaknya kepada Mimi dan Muthia, Muthia yang melihat foto itu berulang kali melihat ke arah Mimi dan ke arah foto itu.


"Kenapa?" kata Bu Salma kepada Muthia yang terus memperhatikan antara foto dan Mimi.


"Bu, ini bukan Mimi kan?" tanya Muthia.


"Kalau boleh ibu berharap iya.." jawab bu Salma dengan senyum.


"Mirip kamu Mi." tanya Muthia dengan menyandingkan foto itu dekat ke wajah Mimi.


"Kalau kamu nggak pakai hijab mirip banget Mi, cuma satu yang membedakannya." ucap Muthia dengan senyum mengejek.


"Hemmm." ucap Mimi cemberut yang tau kemana arah pembicaraan Muthia.


"Heeeheee pisssss jangan cemberut tambah cantik entar." ucap Muthia dengan menunjukan dua jarinya.


"Iya dia sangat mirip sama kamu nak," ucap Bu Salma dengan mata berkaca-kaca terlihat dari matanya kalau dirinya sedang merindukan anaknya.


"Emang kenapa Bu dia di usir? kenapa ndak direstui aja." tanya Muthia.


"Hmmmm fiuhhh, Dia seumuran kalian. Dia di usir saat menjelang kelulusan sekolahnya, Daddy nya sangat marah ketika mengetahui anak perempuannya memiliki hubungan dengan seorang laki-laki yang seumuran dengan abangnya." ucap Bu Salma dengan sekali-kali menghelakan nafas beratnya.


"Bukannya bagus Bu dia berhubungan dengan orang yang lebih dewasa dari dia?" tanya Mimi yang juga ikut penasaran.


"Emmm.." Bu Salma tersenyum.


"Daddy nya tidak memandang siapapun yang dekat dengan anaknya, Daddy nya memberikan kebebasan kepada anak-anak nya untuk berteman dan untuk menjalin hubungan. Daddy nya tidak pernah memandang kasta maupun status sosial seseorang, namun satu yang tidak di sukai dan tidak mengizinkan anak-anak nya menjalin hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan." ucap si Ibu.


"Apa lagi Qodri tidak hanya menjalin hubungan berupa pacaran namun dia juga ternyata diam-diam telah menikah dengan laki-laki itu, itu yang membuat dadyy dan abang-abang nya murka." ucap si ibu dengan meneteskan air matanya.


Mimi merasa iba melihat Bu Salma yang begitu memendam kerinduannya terhadap Putri satu-satunya. Mimi mengangkat tangannya dan menghapus air mata Bu Salma dengan kedua tangannya.


Bu Salma yang melihat Mimi menjadi bahagia dan dia langsung memeluk Mimi dengan erat. Mimi membiarkan Bu Salma memeluk dirinya mungkin dengan begitu Bu Salma dapat mengurangi rasa rindunya kepada sang anak.


Setelah lama di rumah Bu Salma, Mimi dan Muthia pun pulang dan di antar oleh supir keluarga Bu Salma, tak lupa Mimi pun mengembalikan uang yang kelebihan tempo hari, namun bu Salma tidak mau menerima dan uang itu diberikan kepada Mimi bahkan Bu Salamah menambah uang dan diberikan kepada Mimi.


Seperti hari sebelumnya Mimi menjalani aktifitas nya dikampus, terbesit rasa keinginan di hatinya untuk mengikuti jejak sang pujaan hati yang bisa mengikuti ujian OSCE dan kata sang pujaan hati jika nilai-nilai Mimi di tiap blok nya bagus maka Mimi bisa mengajukan ujian tersebut.


Muthia terus memuji anak-anak Bu Salma sehingga membuat Irma maupun Fia serta yang lain keheranan dengan anak satu ini.


Mereka heran begitu cepat Muthia move on karena di tinggal nikah pacarnya.


"Heleh kemarin aja mewek ampe tujuh hari tujuh malam." sindir Irma.


"Iya, eh sekarang baru lihat foto langsung berbinar tuh mata." sahut Fia.


"Beuh mulai nih anak menghayal." ucap Saridi dengan menoyor jidat Muthia dan muthie cemberut.


Mimi dan yang lain melihat Muthia cemberut dan mengomel ketawa sehingga membuat mata seseorang tak pernah lepas untuk memandanginya.


"Begitu manis senyummu." Gumamnya dalam hati.


"Oii bro kondisi kan tuh mata." ucap Yogi.


"Iya bro, ingat dia milik orang walau janur kuning belum melengkung." ucap Satria.


"Jangan sampe jadi pebinor Lo." sahut Reno.


"Ckk kalian ini." ucap Dillah tapi matanya tak bisa berpaling ke yang lain.


Dillah sudah tau siapa Mimi dan gadis yang ditemukan nya secara tak sengaja itu. Gadis itu adalah Mimi, orang yang selama ini di carinya.


Awalnya dia belum tau, Dillah semenjak dia melihat Mimi berjalan dengan Syahril di pasar waktu itu. Dia berusaha mengubur keinginannya untuk mendekati Mimi walau hatinya terus meminta untuk selalu mendekati Mimi.


flasback on


Sampai suatu hari di saat di Jatim!ana dia wisuda S1 nya dia melaksanakan keinginan nya untuk mencari tau siapa gadis berambut!but panjang itu.


Dillah pergi ke Sumatra khususnya kota Jambi, dia juga sudah memberitahu teman seperkenalannya saat pertukaran mahasiswa waktu itu.


Dia temani oleh teman nya itu ke SMANJU dan disana Dillah mencoba cari tau. Namun dengan tidak adanya barang penunjang maka pencariannya sia-sia. Hingga dia kembali ke daerah nya.


Para sahabat yang melihat kegigihannya menjadi terharu, ada senang dan ada sedihnya karena Dillah tak menemukannya gadis itu.


"Gimana Dil ketemu?" tanya Bryan.


"Nggak ketemu," jawab Dillah lesu.


"Ya gimana mau ketemu, la wong kamu mencari tanpa ada identitasnya." sahut Satria dan Dillah hanya menghelakan nafasnya kasar.


Dillah membenarkan apa yang diucapkan Satria, bagaimana dia mencari seseorang namun tidak tau siapa namanya, dan tidak memiliki keterangan yang dapat menunjang pencariannya.


Ibarat pepatah mencari jarum dalam tumpukan jerami, itulah yang pantas diibaratkan untuk Dillah, dia hanya mengandalkan ingatan semata itu pun yang diingatnya senyuman dan rambutnya saja.


"Huh emang nasib MU Dil Dil, sekali mau dekatin Mimi eh nggak taunya orangnya sama aja dengan cewek lain nggak bener, cari yang Lo cari-cari nggak tau siapa orangnya." ucap Yogi.


"Hussss kalau ngomong itu di jaga mulutnya." ucap Reno yang tidak suka akan ucapan Yogi.


"Kenapa sih Ren Lo kayaknya selalu membela Mimi kalaunkota bahas tingkah lakunya." sahut Satria.


"Iya Ren, jangan-jangan kamu salah satu bawaan dia ha." ucap Yogi.

__ADS_1


"Sembarangan, kalau ngomong. Apa kalian ada bukti nya sampe !enuduh Mimi begitu? awas ntar Lo pada nyesel sudah mencemoohin dia, nggak boleh suudzon dulu jadinorang napa." ucap Reno.


"Bukti apa lagi sih Ren, di kampus dia selalu jalan sama anak management bisnis, di luar dia jalan ma cowok lain, kan Lo liatin sendiri waktu itu." ucap Yogi.


"Terserah kalian, tapi jangan lah kalian menuduh orang tanpa bukti." ucap Reno.


"Ah sudahlah." ucap Satria.


Bryan hanya diam tidak lagi ingin memperebutkan Mimi, ditambah dia dengar cerita dari Yogi dan Satria bahkan dibenarkan oleh Dillah.


Dan gak hanya itu Bryan saat ini lagi mencari cara bagaimana dia bisa ketemu dengan anak biologisnya.


Sampai saat ini dia belum melihat anaknya bahkan fotonya pun belum lihat, bagaiman wajah anak itu. Ya g dia tahu anaknya itu laki-laki dan kata Mami nya anaknya mirip dengan dirinya sewaktu bayi.


Sedangkan babg Zian hidup bahagia di tengah keluarga Damian Perez.


"Kenapa Lo Bry?" tanya Dillah yang melihat Bryan banyak diam.


"Nggak apa-apa." jawab Bryan.


"Lo nggak ikut bully Mimi Bry?" tanya Reno memancing.


"Hmm.. Itu urusan dia." ucap Bryan dingin.


"Tumebn biasanya Lo kalau dengan tentang Mimi pling depan." ucap Satria.


"Itu dulu." ucapnya.


"Lo kenapa?" tanya Dillah.


"Kamu masih kepikiran anak Berliana?" ucap Reno telat pada sasaran.


"Hmm anak gue Ren." ucapnya dingin.


"Hahahaha anak Lo!! kemana aja Lo waktu Berliana minta pertanggungjawaban Lo." ucap Reno.


"Ahhh sudahlah." ucap Bryan dengan menggusar rambutnya dengan kasar.


"Apa Lo nggak cari tau sama bunda Ainun?" tanya Satria.


"Bunda Ainun bilang dia sudah di adopsi." ucap Bryan lesu.


"Sabar." ucap Dillah.


"Kapan Lo berangkat?" tanya Reno


"Lusa." jawab Bryan.


"Jangan Lo ulangi lagi." ucap Dillah mengingat kan Bryan.


"Susah la bro apa lagi disana bebas pergaulannya, Bryan bisa tinggal pilih." ucap Yogi.


"Ah kenapa kalian jadi bahas gue, noh kembalinlompada bahas Dillah sama Mimi." ucap Bryan.


"Jadi beneran Dil Lo nggak bisa ketemu ma tu cewek? minimal alamatnya gitu!" ucap Satria.


"Nggak." jawab Dillah.


"Percuma Dil Lo nyari jauh-jauh, andai lompeka pastinlontau siapa orang yang Lo cari." ucap Reno teka teki.


"Maksud Lo gimana Ren?" tanya Satria dan semua juga ikut memandang Reno.


"Kenapa lonpada ngeliatin gue." tanya Reno acuh.


"Maksud Lo apa!" ucap Dillah.


"Ckkk, Dil.. Selama ini apa yang elo rasakan dengan cewek hayalan Lo sama Mimi." ucap Reno.


"Ah Ren Lo pakek teka teki segala." ucap Yogi dan Reno hanya acuh.


"Kenapa dikaitkan dengan Mimi?" tanya Dillah.


"Ya gue cuma nanya doang " ucap Reno.


"Gak bisa gitu lah Ren, merem jelas beda lah." ucap Dillah.


"Menurut Lo!" ucap Reno maaih acuh.


"Oh ha Dil, jangan-jangan cewek dalam angan Lo dah ada yang punya?" tanya Satria berandai-andai.


"Emang dia dah ada yang punya." jawab Reno.


"Maksud Lo Ren??" semua bertanya pada Reno...


"Emmm.." ucap Reno dengan menaikkan kedua bahunya.


"Gue curiga ama Lo Ren?" ucap Yogi.


"Iya sama." ucap Satria.


"Terserah kalian, dan Lo Dil. Gue rasa Lo cuma ambisi doang," ucap Reno.


"Kalau Lo emang punya hati sama tuh cewek Mala Lo peka akan keberadaan dia, tali ayang disaat lompeka ruh cewek sudah ada yang punya." ucap Reno...


Dillah hanya diam memikirkan ucapan Reno, apa benar yang di ucapkan Reno, Allah dia hanya berada!bisa semata..

__ADS_1


Kita bahas di Next bab aja yMimi


__ADS_2