
Matahari sudah berada di atas kepala tandanya hari telah siang, dagangan Simbah dan Mimi pun sudah habis. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang memesan brownies cup, kue basah ciri khas Jambi seperti engkak dan maksubah juga dipesannya tak lupa ibu tersebut juga memesan lemper dan jajan tradisional asli Semarang.
Rezeki tidak akan kemana jika kita terus berusaha dengan keikhlasan hati. Bagian lemper dan kue tradisional kota ini Mimi serahkan kepada simbah sedangkan Mimi bagian kue tradisional Jambi nya.
Ibu itu memesan untuk arisan keluarga hari Rabu sore, maka dari itu dia akan menjemputnya di hari Rabu pagi.
"Oh ya dek, Rabu pagi saya jemput nya ya. Bisa kan?" tanya si ibu.
Sebelum menjawab Mimi lihat ke arah Simbah karena Mimi menyerahkan lemper dan yang lainnya kepada Simbah karena kue tersebut adalah dagangan Simbah yang di icip sama si ibu.
Setelah Simbah mengangguk Mimi pun menyetujui nya.
"Baik lab Bu, cuma... " jawab Mimi.
"Cuma apa?" tanya si ibu.
"Gini Bu, lemper dan kue tradisional asli sini yang buat Simbah* nah kalau brownies cup dan kue tradisional Jambi ini saya yang buat Bu. Emmm jadi ibu harus menjemput dia tempat kue lemper dan yang lainnya dari Simbah ibu bisa jemput di pasar ini nah kalau kue yang dari saya apa ibu bisa jemput di jl mm belakang kampus undipo?" ucap Mimi.
"Emm atau saya antar ke alamat ibu siangnya.Soalnya pagi saya kuliah." ucap Mimi lagi.
"Oh kamu masih kuliah?" tanya si ibu.
"Iya Bu, saya di pasar ini hanya di hari Minggu aja." jawab Mimi.
"Oh baik lah, saya pinta no HP kamu nanti saya shareloc alamat rumah saya." ucap si ibu.
"Oh ya ini saya langsung beri saja uangnya ya." ucap si ibu dengan memberikan lembaran merah tersebut kepada Mimi.
"Ini langsung saya bayar lunas ya.." ucap ibu itu lagi.
"Emm tapi bu, emm lebih baik DP aja." ucap Mimi.
"Tidak apa, saya percaya sama kamu." jawab si ibu yang mengerti jika ada keraguan pada Mimi, ibu tersebut tersenyum dan mengelus pipi Mimi.
Ibu itu terus memandang Mimi, ada raut wajah sedih bahkan ada secercah kebahagiaan di mata nya.
"Emm kalau begitu makasih Bu atas percayaan nya kepada kami, insya Allah kami usahakan tepat waktu." ucap Mimi dan si ibu mengangguk.
"Baiklah kaalau gitu saya pamit dulu, Rabu pagi nanti saya suruh sir saya jemput disini ya Mbah." ucap si ibu.
"Nnjeh Bu." jawab simbah.
"Saya pamit dulu, assalamualaikum." ucap si ibu.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan Simbah.
Seperginya ibu itu, Mimk dan Simbah berencana akan me!beli bahan-bahan untuk kue namun sebelumnya Mimi menghitung uang pemberian si ibu dan akan !e!berikan bagian buat Simbah.
"Alhamdulillah Mbah, rezeki Simbah." ucap Mimi.
"Iya ndok, nggak nyangka Simbah bisa dapat orderan begini." jawab Simbah dengan logat Jawa yang masih menempel.
"Emmm wah Mbah nih ibu ngasih nya kelebihan Mbah." ucap Mimi ketika telah menghitung total keseluruhan orderan buat dirinya dan Simbah.
"Yaudah lebihnya kamu simpan ndok, nanti ya kamu kembalikan sama ibunya lagi." jawab Simbah dengan menerima bagian dirinya.
"Iya deh Mbah, Mimi simpan. Ayo Mbah Mimi bantu Simbah beli bahan-bahan kue nya." ucap Mimi sembari membereskan tempat-tempat kue yang sudah kosong.
"Eh nggak usah, Simbah bisa kok sendiri." jawab Simbah.
''Nggak apa mbah, nanti Mimi bantu bawain." ucap Mimi.
"Yo wes kalo gitu, ayo kota ke toko sana." ucap Simbah dengan !menunjukan arah sebuah toko bahan kue yang ada di pasar ini
"Ayo Mbah, bude.. Mimi titip ini dulu ya." Mimi mengajak Simbah dengan semangat dan menutup tempat kuenya kepada bude di sebelah.
"Iyo Mi." jawab bude.
Mimi dan Simbah berjalan beriringan menuju toko bahan kue, TK lupa Mimi terus menggandeng tangan Simbah. Mimi merasa dekat dengan simbah dan bisa mengurangi rasa rindunya kepada Nyai serta orangtuanya.
Begitu pula Simbah, dia sangat menyayangi Mimi. Simbah telah !menganggap Mimi sebagai cucunya sendiri. Tak urung jika Mimi kembali kepasar Simbah selalu memberikan ciuman rindunya kepada Mimi bertubi-tubi.
Mimi dan Simbah membeli berbagai macam bahan kue di toko tersebut. Karena disini juga lengkap, Mimi pun belanja bahan kue nya disini.
Toko bahan kue di pasar ini selain lengkap harganya pun murah kualitas juga sama dengan yang terjual di market lainnya.
Sehabis belanja, barang belanjaan mimk titip terlebih dahulu di lapak nya mbah lanang yang berada di luar pasar. Mimi kembali masuk menuju ke lapak simbah untuk mengambil tempat kue nya.
Setelah mengambil tempat-tempat kue Mimi kembali keluar menuju lapak mbah lanang, ternyata Mbah Lanang dan Simbah sudah bersiap-siap hendak pulang.
"Udah ndok?" tanya Simbah dengan senyum khasnya.
"Udah Mbah." jawab Mimi.
"Mbah mau pulang sekarang?" tanya Mimi kembali.
"Iya ndok, biar cepat sampe rumahnya." Mbah Lanang menjawab.
Terkadang ada rasa tak rela di hati Mimi di tinggal mereka berdua, namun apalah daya Mimi. Melihat sepasang insan yang sudah masuk usia senja tersebut, membuat hati Mimi sedih.
Apa lagi mereka pergi dan pulang kepasar dengan mengandalkan kendaraan sepeda. Mungkin jika dua sepeda mereka bisa beriringan naik sepeda, namun ini hanya punya satu sepeda yang mana jika mereka membawa barang dagangan banyak, mereka berdua akan berjalan kaki pergi maupun pulang.
Tak terbayangkan mereka berjalan kaki menempuh jalanan yang berkilo kilo meter. Apa lagi Simbah pernah bercerita kalau pulang kadang bisa sampai Maghrib baru sampai.
__ADS_1
Ingin membantu lebih tapi apalah daya Mimi hanya seorang mahasiswa yang juga merantau di daerah ini dan mengandalkan kiriman dari kedua orangtuanya yang hanya cukup buat makam sehari-hari nya.
"Mbah pulang dulu ya ndok." pamit Simbah.
"Iya Mbah hati-hati." jawab Mimi sembari !menyalami mereka berdua.
"Iya, kamu juga hati-hati lo." ucap Simbah.
"Iya Mbah. Emm mbah.." ucap Mimi.
"Emm apa nggak sebaiknya Mbah pulang naik mobil aja." ucap mimi yang mana melihat Simbah membawa barang yang juga lumayan banyak karena tadi Simbah habis membeli bahan-bahan kue dan perlengkapan kue.
"Nggak usah ndok, kalau Mbah naik mobil kasian Mbah Lanang jalan sendiri." jawab si Mbah.
Begitu setianya hati mbak Putri yang selalu ingin berdua dengan pasangan nya dalam suka maupun duka, mereka selalu berbagi jika sakit maka keduanya juga harus merasakan sakitnya begitu pula sebaliknya.
Mimi celingakkan celingukan mencari mobil pickup, dan diseberang jalan Mimi melihat ada mobil pickup up yang kata Simbah sering dipakai para pedagang pergi maupun pulang.
Ya mobil pickup cateran, Mimi pernah bertanya sama Simbah kenapa Mbah tidak ikut mencatar mobil seperti mereka.
Kata Simbah ongkosnya mahal dan belum tentu dagangan nya habis dalam sehari, walau cater bersama dikenakan 50-70rb/orang dari kampung Simbah ke pasar ini dan satu mobil pickup hanya bisa menampung 4 orang bersama dagangannya
"M ah tunggu bentar ya.." ucap Mimi sembari berlalu berjalan menuju seberang pasar.
Mimi menemui mas-mas pemilik mobil cateran tersebut dan Mimi pun bernegosiasi dan akhirnya masnya mau dengan tawaran yang Mimi berikan.
Mimi meminta mas nya untuk mendekat ke arah Simbah dan Mimi meminta masnya menunggu Mimi kembali kesana.
Mimi berjalan ke seberang jalan yang mana disana ada warung nasi Padang. Mimi membeli nasi 4 bungkus dengan lauk yang di ppisah dan dengan plastik terpisah pula, ya dua buat Simbah dan Mimk melebihi lauknya buat makan malamnya dan satu buat sinsupir mobil dan satu nya buat Mimi. Setelah nasi siap Mimi kembali menuju depan pasar.
"Ndok, ini kok kata masnya kamu yang minta dia kesini." ucap Simbah.
"Iya Mbah, biar Mbah nggak kecapekan dan hari juga dan tengah hari Mbah panas." ucap Mimi.
"Mas, tolong bantu naikkan sepeda Simbah nya juga ya?" ucap !ini dan di angguki oleh supir mobil itu.
"Lah nanti kamu gimana?" tanya Simbah.
"Mimk nggak usah dipikirin Mbah, nih Mimi juga udah pesan mobil bentar lagi mobilnya nyampe." jawab Mimi.
Yap Mimi juga memesan taxi online karen a Mimk juga ingin segera sampai rumah, kalau naik angkot Mimi nggak tau harus bagaimana membawa barang-barang bahan kue yang dibelinya tadi.
"Yaudah kalau gitu Mbah nunggu dirimu naik mobil juga ya ndok." ucap Simbah yang juga berat meninggalkan Mimi sendirian. Ya jika setiap Mimi kepasar Simbah selalu melihat Mimi naik angkot dulu baru mereka berdua jalan.
"Nggak usah Mbah, tuh mobil yang Mimi pesan datang. Ohnya ini buat simbah buat makan siang di rumah" ucap Mimi dengan memberikan kantong plastik berisi dua bungkus nasi dan berbagai macam lauk didalamnya dan kebetulan taxi online nya pun tiba pas di depan Mimi.
"Mas, ini buat makan siang mas nanti." ucap mimi yang mendekat ke supir dan memberikan satu kantong berisi satu Bungku nasi.
"Makasih mbak " ucap si supir dan Mimk hanya mengangguk
"Mbah,Mimi pulang dulu ya." ucap Mimi sembari menyalami mereka berdua kembali.
"Iya hati-hati ndok, Mbah juga pulang. Makasih ya ndok." ucap Simbah sembari memeluk Mimi dengan deraian air matanya.
"Iya Mbah, ih mbah kenapa nangis." ucap Mimi yang melihat Simbah nangis.
"Mbah, nggak tau harus balas kamu dengan apa ndok." ucap nya.
"Cukup Mbah do'akan Mimi, mudahkan rezeki Mimi, dan do'a kan Mimk agar kuliah Mimi lancar dan menjadi dokter yang sukses." ucap Mimi dengan mengambil kedua tangannya.
"Amin, semoga kelak dirimu jadi dokter yang sukses. setiap sholat, setiap sujud Mbah, setiap do'a Mbah. Simbah selalu menyebut namamu cah ayu." ucap Simbah dengan mengelus pipi Mimi.
"Makasih Mbah." jawab Mimi dan memeluk Mbah lagi dan akhirnya Mimi pun pamit untuk pulang.
Dari kejauhan empat orang pemuda masih melihat ke arah Mimi, melihat bagaiman interaksi Mimi dengan simbah
"Sungguh beruntung orang yang memiliki Mimi." ucap Yogi.
Yah orang yang ngintilin Mimi tiap minggu kepasar adalah Dillah dan sahabatnya.
"Maksud koe opo toh Gi Gi." ucap Satria.
"Iya, noh liat.. Mimi emang orangnya baik tanpa memandang siapa orang yang ditolongnya. Ya cuma kita aja yang terlalu percaya apa dengan yang kita lihat sebelumnya sampai kita menjudge dia." ucap Yogi.
"Kita, kali aja kali.." ucap Reno yang tak terima, ya karena dirinya tak pernah ikut menjelekkan Mimi.
"Hmm iya kecuali Lo puas.." ucap Yogi.
"Puas lah, emang aku nggak ikutan kalian menjelekkan orang tanpa bukti akurat." jawab Reno.
"Ya karena Lo nggak cerita sama kita Ren." ucap Dillah yang tak mau disalahkan.
"Makanya nanya." jawab Reno.
"Dan kamu lagi Dil, heran aku.. Kamu kan suka sama Mimi tapi sewaktu Mimi mendapatkan masalah di kampus kok kamu nggak pasang badan, malah seolah kamu nggak peduli gitu sih." ucap Yogi dengan jawanya yang masih medok alias kental.
"Iyak betul itu Gi.." sahut Satria.
"Bukan aku ndak mau pasang badan, aku hanya nggak mau menambah masalah buat dia aja. Apa lagi kita tau Mimi. sudah tunangan, apa kata yang lain nanti. Apa nggak nambah beban dia aja nanti.'' ucap Dillah.
"Lah emang masalahnya ada di kamu Dil Dil. " ucap Yogi.
"Iya heran juga aku, apa sih yang di liat cewek-cewek dari kamu Dil, sampe rela mereka mengotori diri mereka dengan membuat fitnahan gitu dan anehnya mereka itu buat fitnah nya ke Mimi yang jelas-jelas noleh ke kamu aja nggak." ucap Satria.
__ADS_1
"Mimi iya nggak noleh ke Dillah, lah Dillah nya tiap ada ada Mimi lewat matanya nggak bisa kecil lagi.. noh keg sekarang mobil yang di tumpangi Mimi dah jalan aja dia masih liatin ampe mutarin badannya." ucap Reno sekalian nyindir Dillah karena apa yang sikatan Reno benar adanya.
"Ckk, kalian ini.. Ayo Gi jalankan mobilnya." ucap Dillah kepada Yogi yang duduk di bangku kemudi.
"Heleeeh... seng kasmaran sopo seng kenek getae sopo..." ucap Yogi.
"Wess Gi, ojo keakehan ngedumel, mengko tambah keluar taringe raja kasmaran iki." sahut Satria yang berada di samping Yogi..
"Nasib nasib dadi pengawal.." ucap Yogi dan langsung menghidupkan mobil dan melajukannya meninggalkan area pasar.
Didalam mobil supir taksi online bertanya kepada Mimi tentang Simbah.
"Maaf mbak,tadi itu simbahnya toh?" tanya pak supir.
"Iya pak, Simbah kenal disini." jawab Mimi.
"Maksudnya mbak." tanya pak supir.
Mimi tersenyum mendengar pak supir yang masih kepo itu.
"Iya pak, saya kenal mereka ya di sini, di pasar ini. Tapi saya udah anggap mereka seperti keluarga." ucap Mimi.
"Lah emang mbak bukan orang sini toh?" tanya pak supir lagi.
"Bukan pak, saya dari Sumatra, kuliah disini." jawab Mimi.
"Oh gitu, jauh juga ya mbak dari Sumatra." ucap pak supir.
"Iya Pak, namanya juga mau nuntut ilmu pak." jawab Mimi. "
"Iya juga mbak, semoga sukses mbak." pak supir mendo'akan Mimi.
"Amin, makasih pak.. Rame pak hari ini?" jawab Mimi dan Mimi berbasa basi bertanya kepada pak supir.
"Emm sepi mbak, ini baru mbak yang saya angkut hari ini." ucapnya.
"Oh, apa banyak yang jadi supir online juga ya pak?" tanya Mimi.
"Iya mbak, kebanyakan mereka mobil sendiri, lah kalau saya mobil bos saya dan saya tiap hari harus setor ke dia" ucapnya.
"Kalau nyetor emang berapa setornya pak?" tanya Mimi.
"Dikit sih mbak, cuma ya kalau sepi begini jadi bingung nyetornya." ucapnya.
"Em sabar ya pak, jangan lupa berdoa. Semoga rezeki bapak hari ini banyak dan bisa menyetor ke bos nya dan buat keluarga juga." ucap Mimk ikut mendoakan.
"Amin, makasih mbak." ucap pak supir.
Setelah sampai depan kosan pak supir membantu membawakan barang-barang belanjaan Mimi sampai depan pintu kos.
"Makasih pak, dah bantuin." ucap Mimi dan memberikan uang sesuai dengan limitnya.
"Iya mbak sama-sama, saya permisi dulu." jawab pak supir dan berlalu menuju mobilnya.
"Emm Pak.. tunggu." panggil Mimi.
"Iya mbak, apa ada yang ketinggalan." tanya pak supir.
Mimi berjalan mendekat ke pak supir dan memberikan kantong plastik kepada pak supir.
"Ini buat bapak." ucap Mimk dengan memberikan kantong plastik ke pak supir.
"Lah ini apa mbak?" tanya paks supir.
"Itu buat makan siang bapak," ucap Mimi dengan tersenyum.
"Tapi kan ini buat si mbak, kalau mbak kasih ke saya mbaknya makan siang pakai apa." ucap pak supir tak enak hati untuk menerimanya.
"Nggak apa pak, itu rezeki buat bapak, jangan di tolak. Makan siang saya ada kok di dalam." ucap Mimi.
"Makasih ya mbak, nanti saya bawa pulang biar bisa dimakan bersama anak istri di rumah.." ucap pak supir.
Deg
"Ya Allah, apa cukup nasi sebungkus." batin Mimi.
"I iya pak, tapi maaf anak bapak berapa?" tanya Mimi.
"Anak saya tiga mbak, yang paling besar SMP, yang kedua kelas tiga SD dan yang kecil belum sekolah." ucapnya.
"Emm, pak.. ambil ini. Nanti bapak belikan lagi nasi bungkusnya, takut nanti nggak cukup nasi itu." jawab Mimi dengan memberi uang 50rb.
"Nggak usah mbak, ini cukup kok." ucap pak supir menolak.
"Ambillah pak, anggap aja ini rezeki buat anak-anak bapak dirumah." ucap Mimi
"Ma makasih mbak, semoga Allah lancarkan rezeki mbak." ucapnya hari dengan deraian air mata.
"Amin, begitu pula dengan bapak." jawab Mimi.
"Kalau gitu saya pamit Mbak, saya mau langsung beli nasi buat anak-anak." ucap pak supir.
"Iya pak hati-hati." ucap Mimi dan pak supir pun berlalu meninggalkan kosan Mimi.
__ADS_1
"Ya Allah terimakasih atas rezeki yang kau berikan kepada hamba, semoga kelak rezeki yang kau berikan dapat hamba pergunakan dengan sebaik-baiknya." doa Mimi dalam hati, setelah mobil taxi online gak kelihatan lagi Mimi pun masuk kedalam kosannya.
Alhamdulillah, bisa up.. makasih semua nya..