
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Dillah tinggal hitungan hari, dia sangat antusias untuk mengajak Mimi kesebuah butik ternama di kota ini.
Mimi sudah mempersiapkan kado untuk Dillah, tidak hanya kado berupa barang, tapi ada sebuah kado yang ter spesial yang akan dia berikan pada Dillah.
Saat hari H tiba pagi-pagi sekali mungkin setalh sholat subuh Dillah langsung ke kosan Mimi. Dillah akan mengajukannya Mimi kesalon terlebih dahulu.
Dillah yang merasa trauma akan kejadian Mimk waktu itu, dia tidak akan membiarkan Mimi pergi sendiri atau ditemani oleh sahabatnya sendiri.
Dillah seolah tidak bisa mempercayai siapapun termasuk sahabat Mimi sendiri.
"Assalamualaikum." ucap Dillah mengucap salam
"Waalaikum salam, dan nyape aja kak." jawab Muthia yang kebetulan dia yang membukakan pintu.
"Iya,, Mimi dah bangun?" tanya Dillah.
"Udah, tuh dah siap dia." jawab Muthia.
"Dah nyampe kak, sarapan dulu ya?" ucap Mimi dan mengajak Dillah untuk sarapan, Dillah hanya mengangguk dan akhirnya mereka berempat sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.
Saat ini Muthia lagi dekat dengan Satria dan Muthia juga di pinta Satria untuk menemaninya. Satria juga akan mengenalkan Muthia pada orang tuanya.
sehabis sarapan mereka berempat segera berangkat, jika saat digelarnya wisuda seperti saat ini maka jalanan area menuju universitas akan terjadi kemacetan.
Sesampai nya di salon yang sudah Dillah booking, Mimk dan Muthia segera di make over oleh periasnya. Dillah dan Satria menunggu Mimi dan Muthia sekalian juga mereka berdua berganti pakaian di salon.
Satu jam berlalu, Mimk dan Muthia pun telah siap di make over.
"Ya saalaaam, kita langsung ke KUA aja dek yok?" ucap Satria pada Muthia yang terlihat cantik setelah di make over, bahkan Dillah maupun Satria tak bisa berkedip lagi.
Pangling, itulah yang mereka berdua rasakan. Mimi maupun Muthia memang jarang berhias. Mereka berdua lebih ke natural saja tanpa harus memakai ragam jenis make up.
"Dil, setelah ini kita langsing ke KUA aja yuk. Kita nikahin saja mereka berdua sekalian." ucap Satria.
"Enak aja Lo mau nikahin keduanya." ucap Dillah.
"Ye maksud gue Lo sama Mimi gue sama Tia, sensi amat lo." ucap Satria yang mana matabterus memandang ke arah Mimi dan Muthia.
"Kalau itu gue setuju." jawab Dillah dengan senyum.
"Kalian kenapa kak?" tanya Mimi ketika telah sampai didepan mereka berdua dan melihat mereka dengan senyum sendiri.
"Cantik" ucap Dillah.
"Ke KUA aja yok?" ucap Satria mengajak kedua gadis ini ke KUA.
"Hai kalian ngelindur ya?" tanya Muthia.
"Eh enggak kok, kita serius." ucap Satria, Muthia tersipu malu.
"Yaudah kak, ayo kita segera ke kampus." ucap Mimi.
"Hmm" ucap Dillah dan menyikukan tangan kanan nya, Mimi yang mengerti maksudnya lun langsung memasukkan lengannya dan akhirnya mereka pun segera pergi ke kampus.
Sesuai dengan perdugaan jalan mulai di terpa kemacetan, kurang lebih hampir satu jam akhirnya merek pun sampai di area kampus.
Saat Dillah membukakan pintu mobil dengan di ikuti Satria, Mimi dan Muthia pun keluar mobil.
Banyak mata memandang ke arah mereka. Tak hanya mahasiswi, para mahasiswa pun melihat ke arah mereka. Lebih tepatnya melihat ke arah Mimk dan Muthia.
"Wawww.."
"Wah gila Dillah, pantesan banyak yang dekat nggak mau." ucal mahasiswa lainnya.
"Ya gimana mau melihat yang lain, kalau yang bersama nya adalah bidadari surga." sahut yang lain.
"Iya bener, ya Allah beri hamba satu seperti mereka." sahut mahasiswa satunya.
Dillah yang melihat dan mendengar bisikan dan ucapan-ucapan dari mahasiswa lain merasa jengah, dia semakin mempererat gandengan nya.
"Ckk mata ni orang minta di colok kali ya Dil" bisik Satria yang ternyata juga tidak merasa senang pujaan hatinya jadi bahan ghibahan dan bahan kekaguman orang lain.
"Dek, besok-besok nggakmusah dandan keg ini lagi ya" ucap Satria pada Muthia, Muthia hanya heran dan mengatakan alisnya.
"Betul tuh, lihat aja mata mereka." Dillah membenarkan, Mimi dan Muthia pun melihat ke sekeliling nya, benar adanya semua mata tertuju pada mereka.
"Mereka kan hanya melihat kak" ucap Satria.
"Iya melihat tapi matanya tidak dikondisikan" ucap Satria dengan kesal.
"Udah lah, mereka punya mata ya untuk melihat." sahut Mimi.
"Hmm ya awas aja kalian mereka dekatin kamu nanti." ucap Dillah.
Tak berselang lama Dillah pun bertemu Reno dan Yogi. Mereka berempat masuk menuju ruangan khusus para mahasiswa/mahasiswi yang akan di wisuda sebelumnya mereka mengantar Mimi dan Muthia ke tempat yang dikhususkan untuk para undangan.
Muthia dan Mimi sudah diperkenalkan dengan orang tua Satria, Reno dan Yogi. Hanya Dillah yang tidak si hadiri oleh kedua orang tuanya.
Dillah tak pernah mengeluhkan hal itu, karena baginya itu sudah biasa. Akibat biasa itu maka Dillah telah terbiasa tanpa ada kehadiran kedua orang tua di setiap momen spesialnya. ajelaan nafas yang hanya dikeluarkan Dillah ketika para sahabat dipeluk hangat oleh kedua orang tuanya.
Mimi melihat ke arah Dillah merasa iba ketika Mimi melihat Dillah menghelakan nafasnya saat melihat para sahabat saling berpelukan hangat dengan kedua orang tuanya.
Mimi memegang erat dan mengelus lengan Dillah untuk menguatkan hatinya. Dillah merasa lengannya di pegang erat dan di elus menoleh ke arah Mimi dengan senyuman yang dipaksakan.
Yah setegar apapun itu, di hati kecil seseorang pasti ada akan merasa kesedihan bila dimana hari spesial mereka tidak di dampingi oleh kedua orang tua.
"Makasih ya dek." ucapnya dengan mata yang terlihat ada kesedihan di dalamnya. Mimi hanya mengangguk dan mempererat pegangannya.
Saat mereka dipisahkan oleh temlat duduk, Dillah selalu melihat ke arah Mimi duduk dan memberikan senyumannya pada Mimi.
__ADS_1
Dillah merasa bersyukur ada Mimi di sampingnya. Setidaknya dia merasa maaih ada yang peduli dengan dirinya. Di wisudanya dua tahun lalu pun dia ingin mengajak Mimi mendampingi dirinya, namun saat itu dia merasa ragu karena Mimi juga masih ada yang punya.
Cara wsud telah dimulai, banyak orang tua yang menangis haru ketika mendengar rektor berpidato. Banyak para orang tua yang haru kala melihat anak mereka bisa mencapai hingga setinggi ini.
Saat Mimi melihat kearah Dillah, Mimi terkenang Syahril. Hanya saja waktu Syahril wisuda Mimi tak dapat datang. Mimi menghelakan nafasnya.
"Ya Allah kuatkan hamba," ucap Mimi dalam hatinya.
"Bangun hamba ya Allah, bantu hamba untuk melupakan perasaan ini, berikan lah dia kebahagiaan dan lindungilah dia dimanpun berada." Mimk terus mendoakan yang terbaik untuk Syahril.
Hari ini adalah hari dimana telat satu tahun nya Mimi menyatakan dan mengambil keputusan nya. Dan hari ini pula dia dan Syahril telah putus dari asmara mereka.
"Hmm dua Minggu lagi tepat satu tahun pernikahanmu kak, semoga kau bahagia." gumam Mimi dalam hati.
Beda Mimi beda pula dengan Syahril. Syahril juga mengingat hari ini adalah tepat satuntahunnya dia kehilangan orag yang sangat dia cintai.
"Satu tahun sduah kota berpisah dek." Ucap Syahril berdiri di dinding kaca yang terbentang di ruangannya dengan melihat kota LA dari atas gedung rumah sakit.
"Apa kah kau juga mengingat kakak dek? kakak sangat merindukanmu"
"Maafkan kakak, kakak tak bisa melupakanmu, maafkan kakak tak bisa mengikhlaskan mu bersama dengan yang lain." ucap Syahril dengan pandangan mata di layar ponselnya.
Acara wisuda pun selesai, setiap mahasiswa dan mahasiswi saling berswafoto bersama teman kampus dan keluarga nya. Begitu pula dengan Dillah dan para sahabat.
Setelah selesai berswa foto mereka pergi ke studio foto untuk mendokumentasikan kebersamaan kembali. Setelah itu mereka pergi ke restoran untuk makan bersama keluarga maupun sahabat tak lupa para sahabt Mimi pun ikejt serta.
Malam harinya Dillah mengajak Mimi untuk dinner, bagitu pula dengan Satria yang juga mengajak Muthia untuk dinner.
Dillah telah membooking tempat khusus buat mereka berdua.
"Kita mau kemana sih kak?" tanya Mimi setelah mereka sampai di sebuah resto namun di ajak ke lantai paling atas.
"Emm ntar lihat saja." ucap Dillah.
Setelah sampai di atas terlihat tempat yang sudah di hiasi dengan lilin dan kuntum bunga mawar putih.
"Kak" ucap Mimi dan Dillah tersenyum dan menuntun Mimi ke meja. Saat mereka duduk datang seorang violonis dan langsung menggesekkan alunan nada melalui biolanya.
Nada romantis yang dimainkan menjadi suasana malam itu semakin romantis.
Nada instrumen dari bruno mars yang berjudul just the way you are.
Oh, her eyes, her eyes
Make the stars look like they're not shinin'
Her hair, her hair
Falls perfectly without her tryin'
She's so beautiful and I tell her everyday
When I compliment her, she won't believe me
And it's so, it's so
Sad to think that she don't see what I see
But every time she asks me, "Do I look okay?"
I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
Yeah
Her lips, her lips
I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh, her laugh
She hates, but I think it's so sexy
She's so beautiful and I tell her everyday
Oh, you know, you know
You know I'd never ask you to change
If perfect's what you're searchin' for, then just stay the same
So don't even bother askin' if you look okay
You know I'll say
__ADS_1
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
Girl, you're amazing
Just the way you are
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
Yeah
Dillah request nada lagu dari Bruno mars pada sang biokimia. Secara tidak langsung gesekan demi gesekan ini mewakili perasaannya terhadap Mimi.
Tak hanya satu lagu, Dillah telah merequest tiga lagu malam ini untuk melengkapi mome kebersamaan nya dengan Mimi.
"Dek, makasih ya?" ucap Dillah dengan memegang kedua tangan Mimi.
"Sama-sama kak, selamat ya atas wisuda nya." ucap Mimi dan Mimi mengambil sesuatu dalam tas nya dan mengeluarkannya.
"Kak, maaf Mimi tidak tau harus memberikan hadiah buat kakak apa. Semoga ini bermanfaat buat kakak ya." ucap Mimi dan menyerahkan bungkusan kotak kepada Dillah.
"Apa ini dek?" tanya Dillah.
"Buka aja, tapi jangan dilihat dari harganya ya. Maklum anak kos.'' ucap Mimi dengan candaan.
Dillah pun membuka, bungkusan kado itu hingga terlihatlah kotak arloji bermerk namun harga yang tidak fantastis. Dillah melihat Mimi dan memicingkan matanya. Yah Dillah taj harga standar dari arloji itu.
"Maaf, jangan di nilai harga nya ya." ucap Mimi ketika Dillah melirik ke dirinya.
"Makasih dek, tapi seharusnya ini tidak perlu. Dengan kamu mau menemani aku, aku sangat bahagia apa lagi jika.." ucap Dillah berterima kasih dan mengharap sesuatu yang lebih pada Mimi.
"Semoga arloji ini bisa mengingatkan kakak akan arti sebuah waktu. Dan semoga arloji ini juga dapat mengingatkan kakak sebuah arti penantian. Maafkan Mimi jika Mimi selama ini belum menerima kakak." Dillah terdiam dia masih sabar untuk menunggu Mimi sampai kapanpun, dia bahkan berharap jika malam ini Mimi menerima dirinya dan mereka mengesahkan jadian mereka.
Namun apa yang di dengar Dillah dari ucapan Mimi barusan ada rasa sedikit kecewa bahasa harapannya hanya sebatas harapan.
Mimi melihat Dillah tertunduk lesu hanya tersenyum, Mimi memegang kedua tangan Dillah, Dillah melihat Mimi dan Mimi oun melihat Dillah.
"Malam ini Mimi terima kakak, malam ini Mimk terima cinta kakak." ucap Mimi seketika Dillah terperangah takmoercaya dengan apa yang didengarnya.
"A apa maksud adek?" tanya nya.
"Iya malam ini Mimi Akifah menerima kak Said Abdillah sebagai kekasihnya." ucap Mimi ketika Dillah langsung berbinar dan berdiri dan memeluk Mimi.
"Terimakasih atas kado teristimewa ini dek, terimakasih." ucapnya dengan terus mengeratkan pelukannya.
"Jadi malammini kita sah ya sebagai kekasih bukan ttm lagi." ucap Dillah dan Mimi tersenyum memgangguk.
"Yeee, emm gimana kalau kita langsung nikah aja dek." ucap Dillah dan kalimini Mimi yang terperangah.
"Hmm Mimi belum kepikiran kesana." jawab Mimi dan Dillah terkekeh kecil.
"Aku hanya bercanda, tali bisa nggaknaku request panggilannya." tanya Dillah.
"Hah panggilan apa?" tanya Mimi balik.
"Kami sama mantan kan manggilnya kakak, bisa nggak kalau sama aku nggahk sama dengan dia." ucaonya mengutarakan keinginannya.
"Emang mau dipanggil apa?" tanya Mimi
"Terserah, beb boleh, ayank juga boleh asal jangan kakak." ucapnya.
"Emm kakak kan asli Jawa nih, gimana kalau Mimi panggilnya kang aja, kang Said gitu.'" ucap Mimi.
"Emm boleh deh, tali sesekali yank atau beb ya." ucal nya dan Mimi pun mengangguk.
Malam romantis mereka pun berlangsung hingga hampir larut dengan di temani bintang-bintang yang bertaburan di langit malam ini.
tbc
__ADS_1
Maaf nggak bisa sering up dalam Minggu ini ya, karena lagi ada cara di rumah. Insya Allah disempatkan untuk up. Makasih