DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
murka dan posesif


__ADS_3

Sekejap Mimi terdiam melihat dirinya terutama bagian leher dan dada nya masih terlihat lebam kebiruan bekas kecupan Mario, walau sudah mulai pudar namun masih tercetak jelas di dua area itu.


Perlahan Mimi mendekati kaca dan melihat dengan jelas bekas-bekas kecupan itu, tak terasa air mata Mimi kembali menetes. Mimi mengambil handuk kecil dan Mimi mulai mengosokkan handuk terebut di leher dan dada sambil menangis.


Sesekali Mimi memukul dirinya sendiri yang dianggapnya merasa kotor. Semakin lama tangisan nya menjadi tangisan histeris.


"Maaak, Paaak, maafkan Mimi huhuhuhuhuu maffakna Mimiiiii aaaaaa praank" Mimi melempar apa yang ada kedepannya cermin westafel, beruntung kaca ini terbuat dari bahan yang kuat sehingga tidak mudah untuk pecah.


Mbak Aish dan Dillah yang berada di luar mendengar suara lemparan menjadi panik sendiri.


"Ya Allah dek" ucap mbak Aish yang langsung berdiri menuju kamar mandi


"Ya Allah Mimi.." Dillah pun langsung berlari menuju pintu kamar mandi dan langsung menggedor pintu.


"Braak braak dek buka pintunya." ucap Dillah dari luar.


"Tok tok tok Dek, Mimi buka pintunya dek." ucap mbak Aish.


Mereka berulang mengetuk serta menggedor pintu namun tidak di huraukan Mimi.


"Maaaak, paaaak, maafkan Mimiii aaaaa" Mimk terus histeria di dalam kamar mandi.


Afnan, Afkar dan Baim alias Ibrahim tiba di ruangan Mimi, saat mereka baru masuk mereka dikejutkan dengan dua orang yang mengetuk serta menggedor pintu berulang kali.


"Ada apa ini?" tanya Afnan dengan nada dingin nya.


"Iya ada apa ini, apa yang terjadi." tanya Ibrahim.


"Bang, Mimi bang." jawab mbak Aish. Dillah masih berusaha mengpgedoe dan sesekali dia mendobrak pintu kamar mandinya.


"Awas" ucap Afnan yang langsung membawa selimut, Afnan mendobrak namjn untuk masih terlalu kuat, Afnan menendang pintu sekuat tenaga nya dan taknlama pintu terbuka.


Dilihatnya Mimk sudah meringkuk di bawah shower dengan setengah te****g, Afna. menarik nafasnya.


"Aish, kamu yang masuk. Ini segera kamu ganti pakaian Mimi." ucap Afnan dengan menyerahjan selimut pada mbak Aish.


"Baik bang." ucap mbak Aish.


"Biar aku aaja mbak, bang." ucap Dillah dengan meebjt selimut darintangan Afnan namun di tahan oleh Afnan.


"Kamu mau ngapain di dalam?" ucap Afnan dengan sorot mata tajam.


"Aku mau bantuin Mimi bang." ucap Dillah dengan kekhawatiran nya.


"Kau bukan mahram nya, biarkan Aish yang masuk." ucap Afnan dan segera menyuruh mbak Aish masuk dengan dagunya.


Mbak aish mengangguk dan segera masuk ke dalam.


"Tapi bang." ucap Dillah yang juga masih hendak membantu Mimi.


"Nggak ada tapi-tapian, biarkan Aish yang mengurusnya." Ucap Afnan dan menarik Dillah untuk duduk di sofa. Dillah menghelakan nafasnya dan menurut apanyang diperintahkan oleh Afnan.


Dikamar mandi, mbak Aish berusaha membujuk Mimi.


"Dek, sudah ayo kita ganti pakaiannya." ucap mbak Aish.


"Mbaaak, Mimi kotor mbak hiks Mimi kotor." ucap Mimi dengan terus menggosok leher dan dada nya yang sudah terlihat memerah akibat gksokan yang dia lakukan.


"Sudah dek, sduah jangan kamu sakiti diri kamu sepeti ini. Stop dek stop." ucap mbak Asih dengan menarik tangan Mimi yang terus menerus menggosok leher serta dada nya.


Mbak Aish menyabuni tubuh Mimi, mimj hanya diam dengan deraian air mata yang masih setia menemani nya.


Mbak Aish memandikan Mimi hingga selesai, mbak Aish juga memakaikan pakaian baru ke Mimi. Taknluoa mbak Aish mengoleskan salep buat luka memar di leher dan dada Mimi.


Mimi diam dengan deraian air mata, tatapan yang kosong bagaikan tubuh tanpa raga.


Mbak Aish yang melihat keadaan Mimi seperti itu merasa hatinya sakit, mbak Aish juga meneteskan air matanya.


"Kamu ndak kotor dek, kamu masih bersih, kamu masih utuh, jangan, kamu sakiti dirimu dek. Mbak mohon." ucap mbak Aish.


"Mimi kotor mbak, lihat ini, ini mungkin semuanya sudah dia sentuh mbaak, hiks hiks hiks Mimi kotor mbak." ucap Mimk terisak dengan menunjukkan leher dan dadanya.


"Nggak dek, kq!i nggak kotor. Ayo" ucap mbak Aish dan menggandeng Mimi keluar kamar mandi. Mimi berjalan dengan lunglai, infus nya pun sudah Mimi kelas dengan paksa hingga sempat mengeluarkan darah dari lengannya.


Afkar sudah memanggil dokter, dokter pun menyarankan agar Mimk di bantu psikiater untuk memulihkan psikis nya. Mimk sudah dipasang infus lagi karena kondisi Mimi belum begitu stabil.


Dillah mendekati Mimi dan menatap Mimi iba, Dillah sanagt merasa bersalah pada Mimi.


"Maafkan aku dek, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." ucap Dillah dengan memegang tangan Mimi.

__ADS_1


Afnan, Afkar dan Ibrahim melihat interaksi Dillah yang begitu sangat terpukul !melihat keadaan Mimi.


"Oh ya Nan, bagaimana apa Veronica dan Angela sudah ditemukan?" tanya Ibrahim.


"Belum Im, mereka berdua sangat licik, Sparringa mereka sudah memprediksi bahwa kedepannya mereka pasti bakal di cari." jawab Afnan, Dillah mempertajam pendengarannya mendengar obrolan Afnan dengan sahabatnya.


Ya Ibrahim tunangan mbak asih adalah sahabat Afnan, mereka adalah pengusaha-pengusaha muda yang berbakat disetiap bidang mereka.


"Apa benar mereka di Korea?" tanya Dillah pada Afnan.


"Tidak, mereka tidak pergi Korea. Jalan satu-satunya yaitu menjatuhkan perusahaan orang tua mereka." ucap Afnan.


Dengan hitungan detik Afnan, Afkar, Ibrahim dan Abi sudah menarik saham mereka pada perusahaan orang tua Angela dan Veronica.


Orang tua gadis itu terlihat syok saat melihat saham mereka menurun drastis dan di ambang kehancuran. Orang tua mereka pun mengubungi anak mereka dan tentunya dengan kemurkaannya.


Mereka tidak tau jika anak mereka sampai melakukan hal sekeji itu, karena perbuatan anaknya perusahaan yang mereka rintis bahkan perusahaan dari orang tua mereka harus mengalami failed dalam sekejap.


Veronica dan Angela serta Andita yang berada di luar negeri melihat bisa mereka tidak dapat di gunakan menjadi kelabakan sendiri.


"Aduh, kok bisa nya nggak aktif ya?" ucal Veronica saat akan membayar tas branded nya.


"Sama punya ku juga." jawab Angela.


"Kamu gimana dek?" tanya Angela lada Andita.


"Sama kak." jawab Andita.


Disaat mereka kebingungan akan visa mereka yang tidak bisa di gunakan. Mereka bertiga dimgelpkn Sam orang tua mereka masing-masing bahwasanya orang tua mereka mengabari jika mereka kini sudah jatuh miskin.


Bagai disambar petir, mereka yang sedang berada di sebuah mall ternama paris terperangah dan merasa sesak di dalam dada mereka.


Apalagi sang ayah yang menelpj mereka dengan suara bentakan yang seumur hidup belum pernah mereka dapatkan.


"Kak, apa yang harus kita lakukan?" ucap Andita.


"Sialan, apa Mario ketangkap dan memberitahu semuanya." ucap Angela.


"Terus kita gimana nih? mana uang cash tinggal segini lagi." ucap Veronica dengan menunjukkan beberapa lembar Dollar seratusan dalam dompetnya.


"Sama punya Dita juga." ucap Andita.


"Lah kok salahin aku, bukannya kalian juga membenci anak kampung itu. Ini semua ya gara-gara anak kampung itu." ucal Andita.


"Udah-udah jangan lada saling menyalahkan, sekarang itu yang harus kita pikirkan bagaimana nasib kita." ucap Angela.


"Yaudah kita keluar dari mall ini, liat tu orang-orang pada ngeliatin kita." ucap Veronica dan mereka pun meminta maaf pada kasir bahwa mereka tidak menjadi membeli tas yang lagi elimited edition itu.


Mereka berjalan kaki menuju hotel mereka, beruntungnya mereka sudah membayar hotel tersebut selama dua Minggu, jadi untuk sementara delapan hari ke depan mereka masih aman.


Namun yang kini khawatirkan bukanlah tempat tinggal mereka tetapi biaya makan mereka delapan hari ke depan.


Seminggu sudah Mimi dirawat dan besok Mimk sudah diperbolehkan pulang. Malam ini sahabat-sahabatnya Mimi dan Dillah menemani Mimi di rumah sakit seperti biasanya.


Disaat semua orang telah tertidur pulas, Mimi terbangun karena merasa hendak membuang air kecil. sebelum Mimi turun dari ranjang dilihatnya Dillah sedang menjalankan sholat sunnah.


Mimi melihatnya dengan tersenyum. Apa lagi mengingat beberapa hari ini Dillah tidak pernah meninggalkannya sendirian barang sedetik pun.


"Terimakasih atas perhatianmu." gumam Mimi dan setelah itu Mimk turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Dillah yang baru selesai sholat Sunnah dan dzikir nya beranjak berdiri dan membereskan alat sholatnya. Saat dia berbalik badan dilihatnya Mimk tidak ada si atas ranjang.


"Astaghfirullah, dek kamu dimana?" tanya Dillah seraya cepat-cepat memeriksa luar kamar, dilihatnya suasana sepi setelah itu dia mencoba mendekati kamar mandi dan terdengar suara air yang dibuka dari keran barulah dillah merasa tenanh.


Dillah masih berdiri di dinding pembatas kamar mandi dan ruangan dalam kamar. Dillah menunggu Mimi hingga keluarganya.


"Kaak" panggil Mimi dan Dillah hanya tersenyum.


"Iya dek, ayo." ucap nya dan mengajak Mimi kembali ke ranjangnya dengan memegang sebelah tangan Mimi.


"Kakak ngapain berdiri depan toilet?" tanya Mimi


"Nungguin kamu" jawab Dillah dengan menuntun Mimi.


"Ngapain pakek ditunggu segala kak, Mimk cuma buang air kecil saja kok." u ao Mimi.


"Kamu tau dek, aku kaget saat selesai sholat, kamunn nggak ada di ranjang, aku car sampei luar pintu kamar kamu juga nggak ada." ucap Dillah.


"Maaf ya kak.' ucap Mimi dengan meinya maaf.

__ADS_1


"Minta maaf buat apa?" tanya Dillah.


"Maaf sudah buat kakak kahawatir." ucap Mimi sembari duduk diatas ranjang nya.


"Iya nggak apa, kamu tidur lagi gih atau mau minum?" ucap Dillah.


"Iya Mimi mau minum." jawab Mimi, Dillah pun mengambilkan air mineral botol yang disediakan khusus buat Mimi.


"Malasihnya kak." ucap Mimi saat menerima botol air mineral itu.


"Sama-sama, kamu mau apa lagi?" tanya Dillah, Mimi hanya menggeleng karena dia sedang minum air mineralnya.


"Emm nggak ada kak." jawab Mimi setelah mengeuk air mineralnya.


"Emm dek, besok kan dah boleh pulang nih.. Kami kalau kemana-mana harus sama aku ya. Aku nggak mau kamu pergi sendirian lagi sekalipun itu sama sahabat kamu."


"Aku nggak mau hal seperti ini terulang lagi dek, aku ngak bisa melihat kamu sepeti itu beberapa hari ini. Aku mohon ya?" ucap Dillah dengan memohon dan memegang kedua tangan Mimi.


Mimi merasa terharu pada Dillah, Mimi pun mengangguk menyetujui.


"Maafkan Mimi ya kak, maafkan Mimi yang tidak mendengarkan ucapan kakak waktu itu." ucap Mimi dengan meneteskan air mata penyesalan.


"Iya tali bhat selanjutnya kalau akungidak bisa menemani kaua nggakmusah pergi lebih baik di kosan aja ya sayang." ucap Dillah dengan memeluk Mimi. Mimk menggangguk dalam dekapan Dillah.


Nyaman, itu yang Mimi rasakan saat berada dalam dekaan Dillah. Aroma parfum Dillah aroma parfum yang sama dengan Syahril aroma Flamboyan. Mimi mengeratkan pelukannya dan Dillah pun tersenyum bahagia


Afnan, afkar serta Ibrahim sudah kembali ke Jakarta. Begitu pula Umma dan Babah mereka berdua juga ikut ke!balimkejakarta terlebih dahulu baru pulang ke Jambi.


Umma merasa bahagia melihat Mimi bahagia dan ditemani oleh Dillah yang terlihat bertanggungjawab di mata umma. Namun di hatinya, Umma merasa tidak rela Mimk bersama orang lain.


"Ya Tuhan, aku bahagia melihat Mimk mendapatkan orang yang bertanggung jawab seperti pemuda itu. Tapi kenapa hati ku tidak rela jika Mimi dimiliki oleh orang lain." ucap Umma dalam hati.


"Aku berserah dirilah padamu Rabb, jika Mimk bukanlah jodoh buat anakku. Berikanlah Mimk dan anakku kebahagiaan. Namun jika mereka kelak kau bukakan pintu jodoh, aku tetap menerima Mimi apapun dan bagaimanapun kelak dirinya." Umma berdoa memohon pada illahi rabbi, jujur dari hatinya paling dalam dia masih mengharapkan Mimi sebagai menantunya.


Syahril juga bahagia mendengar cerita Ummi maupun Umma nya kalau senior Mimi itu selalu ada di rumah sakit, tak pernah barang sedetik pun dia meninggalkan Mimk seorang diri.


Namun hatinya juga sakit bagai di tusuk sembilu, ada rasa hati kecilnya tidak menyukai dan ikhlas Mimi bersama orang lain.


"Ya Allah, aku senang jika dia mendalta pengganti lebih dari diriku, tapi jujur aku sakit mendengarnya Rabb. Aku tidak rela dia bersama orang lain." ucap Syahril di atas sajadah nya.


"Aku ridak bisa raab, ampunkan aku bila aku belum bisa mengikhlaskan nya." ucap Syahril lagi.


Terkadang mulut bisa berkata ikhlas dan menerima namun hati kita tidak ada yang tau. Ikhlas, kata yang mudah untuk di ucapkan tapi susah untuk diterapkan.


Syahril berusaha tegar dalam kerapuhannya, Syahril mengalihkan rasa sakit dihatinya dengan terus fokus pada kuliahnya dan pekerjaan nya.


Mimi sudah berada di kosan beberapa hari ini, Dillah nyeeus berpesan pada ketiga sahabat Mimi untuk tidak meninggalkan Mimk seorang, Dillah juga tidak mengizinkan sahabat Mimi membawa Mimi keluar tanpa dirinya ikut juga.


Terkadang ada rasa senang di hati para sahabat Mimi yang melihat Dillah begitu perhatian dan peduli sama Mimi gali ada rasa jengah bila Dillah yang selalu memberikan ultimatum kepada mereka jika itu bersangkutan dengan Mimi.


Dillah menjadi posesif bahkan overprotektif pada Mimi, terkadang sangking over protektif nya Dillah pada dirinya Mimi pun merasa kesal.


"Huh gila aja tuh kak Dillah, banyak amat persyaratan bhat ngajak Mimi keluar." keluh Irma.


"Iya ujung-ujungnya dia juga ikut." keluh Muthia.


"Ckk belum jadi bini, kak Dillah sudah over protektif dan posesif gitu, gimana kalau dah jadi bini." ucap Selfia.


"Iya bisa-bisa Mimi dikerangkeng nggak boleh keluar." ucap !Muthia.


"Kamu betah Mi sama kak Dillah?" tanya Muthia.


"Emm nggak tau, anggap saja semua yang dianlakukan demi kebaikan kita semua." jawab Mimi.


"Nih kalau bukan karena Syifa ikut-ikutan sama nenek sihir itu. Nggak bakalan seperti ini." ucap Selfia.


"Sudahlah mungkin dia khilaf" ucap Mimi.


"Iya khilaf karena ditawari uang ampe puluhan juta." sungut Muthia kesal.


"Ihh kenapa sih dia nggak ikut di tangkap juga." ucal Selfia kesal.


"Sudah lah, dia melakukan itu juga karena terpaksa.' jawab Mimi.


"Ah kamu nih Mimi, kalau ada selalu orang melakukan itu lagi kamu bilang juga karena terpaksa." kesal Irma.


"Udah ah yang jelas akhirnya dia membongkar semua rencana tersebut di pengadilan, mending kita tidur aja yok. Capek Mimi." ucap Mimk dan mereka pun tidur dengan nyenyak.


tbc

__ADS_1


__ADS_2