DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Libur musim dingin (akhir tahun )


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, musim dingin akan segera tiba. Mimi berencana musim dingin tahun ini akan pulang ke Indonesia.


Kuliah Mimi juga tinggal hitungan bulan, Mimi juga sudah mengajukan bahan untuk ikut ujian akhir lebih cepat dari yang lain dan syukurnya bahannya di terima oleh pihak kampus serta di setujui oleh rektor.


Menjelang ujian yang akan diadakan sehabis liburan musim dingin, Mimi akan mengajukan cuti kembali pada Jonathan.


"Jo." panggil Mimi ketika sudah berada di ruangan Jonathan.


"Iya Mi." sahut nya.


"Assalamualaikum" ucap mbak Surti yang ternyata ada di dalam ruangan Jonathan.


"Waalaikum salam hehehe." jawab Mimi malu.


"Dah makan Mi?" tanya Mbak Surti yang memang sedang membuka wadah bekal untuk Jo.


"Belum mbak." jawab Mimi jujur.


"Emm yaudah ini buat kamu, Di'ah mana?" ucap mbak Surti dengan memberikan satu bekal makan siang buat Mimi.


"Lagi kerja kali mbak." jawab Mimi dengan langsung membuka bekal nya.


"Emm Jo." panggil Mimi lagi. Jonathan yang ingin menyuapkan makanan yang sudah berada di depan mulutnya menjadi tertunda dan melihat ke arah Mimi denagn sendok masih di depan mulutnya.


"Mimi mau ajukan cuti ya," ucap Mimi, Jonathan tak menanggapi dan langsung memasukkan makanan yang sedari tadi menunggu kedalam mulutnya.


Mimi diam m nunggu jawaban dari Jonathan yang asik dengan makanan makan siangnya.


"Udah makan dulu." ucap mbak Surti.


Sekarang Mbak Surti juga berkerja di rumah sakit ini sebagai staf administrasi dan kadang dia juga membantu Jonathan.


Mimi yang manyun karena belum mendapat jawaban Jonathan akhirnya menikmati masakan Mbak Surti.


Tak lama Di'ah juga masuk kedalam ruangan Jonathan karena di telpon oleh Mbak Surti untuk makan siang bersama.


"Makasih mbak." ucap Di'ah ketika menerima satu bekal makan siangnya.


"Sama-sama Di'ah, ayo di makan." jawab Mbak Surti, mereka pun makan siang bersama tanpa ada yang mengeluarkan suara.


Sehabis makan, Mimi kembali bertanya pada Jonathan.


"Jo, boleh ya?" ucap Mimi, Jonathan menarik nafas dalam.


"Berapa lama?" tanya Jonathan.


"Aya selama libur musim dingin bulan depan Jo." jawab Mimi.


"Emang mau kemana Mi?" tanya Di'ah.


"Mau balik Di'ah." jawab Mimi.


"Jangan lama-lama Mi, tidak enak dengan yang lain." ucap Jonathan.


"Aku juga ya Jo." ucap Di'ah, Jonathan kembali melihat ke arah Di'ah, Di'ah tersenyum manis.


"Huh kalian berdua ini. Emang nya kalian mau kemana? dan kamu Di'ah kamu pulang juga tidak ketemu sama Ryan." ucap Jonathan.


"Rencana Mimi mau nyusul Syahril Jo, ya sekalian lah sama Di'ah." ucap Mimi.


"Jangan macam-macam dek." sahut mbak Surti.


"Nggak macam-macam kok mbak, cuma semacam aja hehhee." jawab Mimi.


"Boleh ya Jo, Mimi mau mencegah ibu-ibu disana Jo." ucap Mimi mengiba.


"Emang apa yang mau kamu cegah?" tanya Jonathan.


"Iya harus dicegah Jo, masa iya mereka mau menjodohkan anak-anak mereka sama Syahril." jawab Mimi.


"Iya benar itu Jo, masa suami ku juga mau di jodoh-jodohin juga sama ibu-ibu disana. Boleh ya Jo." sahut Di'ah.


"Huh.. Emm oke tapi cuma dua minggu lewat dari itu pitong gaji." ucap Jonathan tegas.


"Ya Jo, libur musim dinginnya kan sebulan Jo." ucap Mimi.


"Terserah mau potong gaji atau tidak." ucapnya.


"Nggak di gaji juga Ndak apa asal bisa lama." jawab Mimi.


"Yah Mi, Ndak bisa gitu Mi. kalau gaji aku di potong, berkurang aku ngirim buat Babah." ucap Di'ah, Jonathan tersenyum kecil.


"Ckk, emang kak Ryan Ndak ngasih nafkah apa." ucap Mimi lada Di'ah.


"Ya kasih tapi kan.. " Ucap Di'ah.


"Ya udah dua minggu." ucap Mimi mengalah, Mimi tau kalau sebagian gaji Di'ah di peruntukkan buat orang tuanya.


Mimi dan Di'ah pun mengisi form pengajuan cutinya, mereka berdua akan berangkat ke Indonesia dua minggu lagi.


Selama sebelum keberangkatannya, Mimi mulai menjadwalkan pasien yang memang sekiranya diperlukan tindakan operasi.


Hari yang di tunggu pun tiba, Mimi dan Di'ah diantar sama Jonathan dan Mbak Surti ke bandara.


"Mi, pulang nanti bawa kerupuk ikan buatan bicik ya?" ucap mbak Surti.


"Emm iya, apa nggak apa mbak telat makannya nanti." ucap Mimi.


"Ya nggak apa lah, di Sri kemarin mbak kepingin makan kerupuk ikan buatan bicik." jawab nya.


"Kenapa ndak bilang, kan bisa di kirim via paket mbak." jawab Mimi.


"Sama aja mi, lama juga kalah dikirim via paket." jawab Mbak Surti.


"Ntar kalau kamu kesemarang beliin petis ya." ucapnya lagi, Mimi hanya melongo mendengar permintaan bumil satu ini.


"Yah mbak, Mimi kan ndak kesemarang mbak." jawab Mimi.


"Ya mi.." ucap mbak Surti sendu.


"Emm yaudah nanti biar Mimi minta tolong ayah buat minta tolong ke mas Chalik ayah mas Adam beliin dan paketin ke sini ya." ucap Mimi dan Mbak Surti menggeleng.

__ADS_1


"Lah terus gimana?" ucap Mimi bingung.


"Mbak maunya kamu yang beli langsung Mi, tolong ya.." ucap nya mengiba.


"Ya mbak.. Mimi kan..'' ucap Mimi manyun,Mbak Surti mengiba dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Yaudah nanti Mimi berangkatnya dari Semarang." jawab Mimi mengalah, seketika mbak Surti kembali ke mood bahagia.


"Makasih ya dek, nanti kalau Mbak kepingin apa lagi mbak telpon kamu." ucapnya dan Mimi hanya mengangguk pasrah.


Jonathan hanya tersenyum simpul, Miki m lihat Jonathan tersenyum memanyunkan bibirnya.


"Demi ponakan." ucap Jonathan.


"Hmm, ponakan aunty kamu juga harus Monata sesuatu sama Daddy mu ya, minta yang susah-susah." ucap Miki dengan mengelus perut Mbak Surti yang mulai terlihat membuncit.


"Eh, jangan ya anaknya Daddy jangan minta uang susah-susah, minta yang ada di kota ini saja ya." ucap Jonathan tak mau kalah.


"Udah-udah kamu masuk Mi tuh bentar lagi pesawat take off." ucap mbak Surti.


"Iya mbak, kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum" ucap Mimi.


"Waalaikum salam." jawab Jonathan dan Mbak Surti.


Mimi dan Di'ah pun segera masuk kedalam, tak lama mereka pun masuk kedalam pesawat..


Hampir dua hari perjalanan mereka pun sampai di kota Jambi di sore hari nya, sebelumnya Mimi sudah memberitahukan pada kedua orang tuanya kalau dia pulang namun dia berencana akan langsung ke tempat Syahril.


Awalnya kedua orang tua Mimi menolak namun dengan segala upaya Mimi meyakinkan mereka dan akhirnya mereka pun menyetujui.


Saat Samali bandara, adik laki-laki Mimi telah menunggunya di sana karena atas permintaan Mimi, tak hanya adik Mimi saja, adik Di'ah pun juga sudah menunggunya.


Mimi maupun Di'ah sengaja menyuruh adik-adiknya untuk menjemput barang berupa oleh-oleh buat keluarga.


Setelah memberikan koper berisi oleh-oleh untuk keluarganya, Mimi dan Di'ah pergi ke loket travel menuju perkampungan dimana Syahril dan Ryan berada.


Terjadi perdebatan antara Mimi dan supir travel karena sang supir meminta biaya lebih namun tidak mengantar dirinya sampai tujuan.


"Yang benar bae pak, kami nyatar mobil bapak lebih dari hargo biasonyo, tapi bapak Ndak nda ngantar kami sampe temlat." ucap Mimi lada sang supir.


(Yang benar saja lak, kami menyewa mobil bapak lebih dari harga sewa biasanya, tali bapak tidak mau antar kami sampe alamat.)


"Kalau mau antar sampe tempat tambah lagi." ucap sang supir yang masih ngotot.


''Kalau macam itu enak kami naik biaso bae, jatuh nyo kagek kami jugo naik mobil lain ke dalamnyo." ucap Mimi.


( kalau begitu kami naik bayar biasa saja, jatuhnya nanti kami naik mobil lain juga ke alamat)"


Saat perdebatan Mimi dan supir travel belum usai, pemilik CV melihat perdebatan mereka.


"Ada apa ini?" tanya si pemilik CV.


"Ini pak, saya mau catar /sewa mobil


Tapi bapak ini minta dengan di hitung per kepala tapi tidak mau antar langsung ke lokasi." jawab Mimi. Sang pemilik CV melihat ke arah supir yang sudah sedikit berumur itu.


"Memang nya kamu mau kemana?" tanya si pemilik CV.


"Saya mau ke dusun Bungin pak." jawab Mimi.


"Bentar, nah kalian pakai dia saja." ucap pemilik CV ketika melihat ada seorang laki-laki baru masuk kedalam.


"Ndi." panggil pemilik CV pada karyawannya.


"Yo bang." jawab Andi.


"Kau ado trip ke dusun Bungin kan?" tanya si pemilik CV.


"Iyo ado bang tapi besok. Ado dokter yang nak balek." jawabnya.


( Iya ada tali besok. ada dokter yang mau pulang.)


"Nah sekalian Bae kau berangkat sore ni, nih Ado yang nak catar ke dusun tu." ucap si pemilik CV. Andi pun melihat ke arah Mimi dan Di'ah.


(Nah sekalian saja kau berangkat sore ini, ini ada yang mau sewa ke dusun itu )


"Emm, habis Maghrib aja ya mbak kita, tanggung." ucap si Andy dengan melihat arlojinya. Mimi dan Di'ah pun sontak melihat ke arah arlojinya.


"O baik lah." jawab Mimi.


Setelah sholat Maghrib mereka pun berangkat, supir yang Mimi sewa membawa satu teman sebagai supir serap nya.


Di perjalanan saat melintasi market yang masih terbuka, Mimi meminta supir berhenti. Miki dan Di'ah pun berbelanja keperluan mereka selama disana.


Mereka.berbelanja kebutuhan pokok, ingin Mimi membeli daging, ikan atau semacamnya namun takut busuk sampai lokasi.


Setelah selesai berbelanja yang se bajibun, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Mereka berjalan nyantai, sang supir mengikuti apa kemauan Mimi maupun Di'ah.


Saat melintasi orang jual, makanan mereka berhenti untuk makan.


Yang seharusnya mereka sampai subuh, karena jalan santai dan banyak berhenti mereka sampai lokasi tepat di pukul delapan pagi.


Saat memasuki perkampungan itu, terlihat begitu ramai orang beralalu lalang, ada yang membawa cangkul, ada pula yang membawa ternak mereka dan ada pula yang berjalan menuju arah kerumunan yang tak begitu jauh dari pandangan Mimi.


"Ada apa mereka ramai-ramai begitu?" tanya Mimi.


"Oo itu biasanya ada penyuluhan atau berobat gratis mbak." ucap Andi.


"Mbak ini kesini bertugas sebagai tim kesehatan juga atau warga sini." tanya teman Andi.


"Ok kami, kami kau menemui suami-suami kami." jawab Mimi.


"Hah mbak berdua sudah bersuami?' tanya nya.


"Iya," jawab Mimi.


"Suami mbak tugas disini? Siapa?" tanya Andi.


"Suami saya dokter yang bertugas disini." jawab Di'ah, Mimi sibuk melihat ke arah kerumunan.

__ADS_1


"Dokter siapa mbak? dokter Ryan atau Syahril? sialnya setau saya yang tidak membawa istri kesini cuma mereka berdua." ucap si Andi.


"Saya istri Dokter Ryan, dan teman saya ini calon istri dokter Syahril." jawab Di'ah.


"Oo" jawab Andi lesu. Yah semenjak Andi melihat Mimi di loket ada ketertarikan di hatinya.


Ditambah sifat Mimi yang baik sama siapa saja membuatnya merasa nyaman.


"Eh ya Ndi, berhenti di sana ya." ucap Mimi.


"Ok.'' jawab nya dan mobil pun berhenti menuju balai kampung.


Miki dan Di'ah turun, Mimi menyuruh Andi untuk tunggu di tempat karena barang mereka masih berada di dalam mobil.


"Kenapa kau ndi?" tanya teman Andi.


"Eh ternyata dia miliknya dokter bro." ucap Andi.


"Makanya jangan ketinggian menghayal." jawab temannya.


"Alah kau pun sama." ucap Andi.


''Ya juga, yah apalah kita Ndi tak selevel sama mereka. Gadis sekarang kan banyak pilih dokter atau orang berduit saja." ucap teman Andi dengan merentangkan tangannya.


Miki dan Di'ah berjalan menuju kerukunan itu, saat mereka berjalan banyak mata melihat ke arah mereka.


Bisik bisik tetangga pun mulai terdengar di telinga mereka.


"Siapo cewek tu." ucap si gadis di kampung ini.


"Iyo, apo Dio dokter yang tugas di siko jugo." sahut temannya.


(Iya, apa dia dokter yang tugas disini juga).


"Aiss ndak mungkinlah." jawab yang lain.


"Biso jadi Bae." sahut yang lain


(Bisa jadi saja)


"Kalu Iyo, Ado saingan Kito buat ambek ati dokter Ryan Samo dokter Syahril." ucap yang lain.


Mimi dan Di'ah mendengar itu saling pandang.


Banyak lagi bisik bisik tetangga yang lain dari gadis-gadis, bapak-bapak serta ibu-ibu yang lain.


Mimi dan Di'ah hanya cuek, sesekali mereka tersenyum kepada warga.


Mimi dan Di'ah celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang jadi per bincangan para gadis disini.


"Gila Di'ah, gadis disini memang mengincar milik kita." ucap Mimi.


"Iya mi, Ndak bisa di biarkan ini. Enak aja laki aku mau direbut." ucap Di'ah.


"Lah pada kemana mereka Di'ah, kok belum kelihatan." ucap Mimi melihat sekitar belum melihat orang yang mereka cari.


"Belum sampai mungkin." jawab Di'ah.


Saat Mimi dan Di'ah celingak-celinguk ada seorang ibu menegur mereka.


"Kalian orang baru?" tanya ibu itu.


"Eh emm iya Bu." jawab Mimi.


"Kalian mau cari siapa?" tanya nya lagi.


"Ok kami mencari dokter Syahril dan dokter Ryan.


"Hah, kalian fans nya juga." ucap si ibu. Mimi dan Di'ah saling pandang dan mengangguk tersenyum.


"Yah tambah saingan aku." jawab nya, lagi-lagi Mimi dan Di'ah saling pandang.


Ternyata tak hanya gadis-gadis yang ngefans lada mereka berdua namun ibu-ibu seperti yang menyala mereka pun menyukainya.


"Ibu ngefans sama mereka?" tanya Mimi.


"Bukan ngefans lagi, tapi aku suka sama salah satunya. Aku suka dokter Syahril, aku janda belum punya anak." ucap nya.


"Hah" Mimi dan Di'ah melongo.


"Kenapa, apa salah aku janda?" tanya nya, Mio dan Di'ah menggeleng.


"Kalian jangan suka ya sama mereka, terutama dokter Syahril dia akan menjadi milik ku." ucapnya. Mimi dan Di'ah saling pandang, Di'ah tersenyum mengejek pada Mimi dan Mimi cemberut.


Di mobil Andi dan temannya juga mengghibah kan Mimi dan Di'ah.


"Bakal banyak orang k ce a nanti tu bro." ucap Andi.


"Kecewa kenapa?'' tanya temuannya.


"Aya kecewa ternyata dokter idaman mereka sudah punya bini." jawab Andi.


"Hahaa iya bakal kecewa lah. Di tambah bini dua dokter itu cantik bening gitu." ucap nya.


"Kita aja yang baru kenal kecewa tingkat tinggi" imbuh teman Andi.


"Yah bagaimana tidak kecewa bro, susah nyari bini kayak mereka."


"Cantik, baik, sederhana, Sholehah lagi. Pokoknya perfeck lah buat jadi bini idaman." ucap Andi.


"Hmm semoga bae kita di ketimpa jodoh sama seperti mereka." jawab teman Andi.


"Amin" ucap Andi.


Mimi dan Di'ah seketika menjadi bahan perbincangan para ibu-ibu yang ada disana, banyak ibu-ibu sudah menaruh tidak suka terhadap mereka berdua karena mereka menganggap Mimi maupun Di'ah adalah saingan bagi mereka.


Mimi dan Di'ah masih diam tak menggubris ibu-ibu yang membicarakan mereka. Mimi masih menunggu sang pujaan hati nya ada di hadapannya.


tbc


selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2