DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
153


__ADS_3

Setelah dirasa cukup beristirahat, Mimi beranjak keluar dan Mimi melihat kedua lelaki yang selalu ada buat dirinya masih tertidur pulas. Mimi langsung berlalu menuju kamar mandi untuk mandi dan langsung berwudhu.


Setelahnya Mimi membangunkedua lelaki yang masih pulas.


"Kak bangun,." ucap Mimi namun belum ada pergerakan dari mereka berdua.


"Kak Ariil, kak Ryan. Bangun." Mimi membangunkan mereka kembali tanpa menyentuh karena Mimi telah berwudhu.


Karena tak di gubris Mimi ragu akan membangunkan mereka dengan cara menggoyangkan badan Syahril.


"Ehmm ausah amat kalau sudah berurusan membangunkan mereka." gumam Mimi dengan terus berpikir cara ampuh tanpa membatalkan wudhu nya.


Mimi celingak celingukan mencari benda yang sekiranya dapat membantu membangunkan mereka di dekat mereka, namun Mimi tak menemukan satu pun yang bisa membantu.


Mimi lihat ke arah handuk yang berada di batas kepalanya.


"Kalau di pukul pakek ini apa gak apa ya? emm sopan nggak ya?" gumam Mimi dengan melihat handuk yang telah berada di tangannya.


"Aiss ah sudahlah mending sholat aja dulu baru kembali bangunin mereka. Tapi kan mau ngajak mereka sholat berjamaah." gumam Mimi bimbang dan akhirnya Mimi mencoba membangunkan mereka sekali lagi.


Mimi ambil ponselnya dan Mimi mendeal no kontak Syahril namun rencana Mimi tak jua berhasil ternyata hp Syahril ndak kunjung mengeluarkan suara dering nya karena ke!ungkinan HP nya ngedrob atau dalam keadaannmood sillent.


"Huh, ndak bisa juga dengan cara ini." gumam Mimi dengan memutar-mutar ponselnya, dan seketika Mimi tersenyum jahil.


Sebelumnya Mimi besarkan volume ponselnya dan Mimi buka ke aplikasi musik dan setelahnya Mimi buka salah satu nada seram dan Mimi taruh ponselnya tepat di telinga Syahril.


Dengan seketika Syahril kaget dan dia pun mengambil ponsel Mimi yang berada di telinganya tanpa sadar dan hendak di hempaskannya.


"Ehh jangan di banting." ucap Mimi dan Syahril dengan wajah tidur nya pun melihat ke arah Mimi.


"Hemm." jawabnya belum sadar.


"Iss kak, bangun buruan ambil wudhu kita sholat lagi." ucap Mimi dan Syahril melihat ke arah arloji yang bertengger di lengannya.


"Hem." jawabnya dan hendak beranjak namun dihentikan sama Mimi.


"Kak, sekalian bangunin kak Ryan ya, Mimi siapkan sajadahnya." ucap Mimi lagi.


"Hem." jawab Syahril dengan deheman dan diun menggoyangkan badan kak Ryan.


"Yan bangun, sholat lagi kita." ucapnya sambil menggoyangkan badan kak Ryan.


"Bentar lagi Riil," jawab kak Ryan yang masih enggan bangun.


"Ayo Yan buruan ntar terlambat ngantar nyonya." ucapnya dengan canda dengan melihat ke arah Mimi yang sedang mengatur sajadah untuk mereka sholat berjamaah.


Mimi yang mendengar kata nyonya menoleh ke arhnkak Syahril dengan tatapan tak mengerti dan kak Syahril hanya senyum dan memainkan matanya sebelah.


Kak Ryan mendengarkan Syahril menyebut nyonya dia pun langsung bangun dan berlalu pergi menuju dapur dan langsung bersih-bersih dari hadast kecil nya.


Ya untuk menjalankan ibadah sholat hendaklah kita dalam keadaan suci bersih dari segala hadast. Apalagi kita


telah melakukan aktivitas dalam kesehariannya. Namun, ada beberapa situasi yang membuat kita berada dalam keadaan suci maupun tidak dalam keaadan yang suci.


Keaadaan yang tidak suci ini adalah yang disebut dengan hadas. Keadaan hadas ini membuat kita tidak diperbolehkan untuk melakukan ibadah seperti sholat, berpuasa, memegang Al-Qur’an dan lain sebagainya.


Hadas terbagi menjadi dua yaitu hadas kecil dan hadas besar. Secara umum, ulama dan ahli ilmu fiqh sudah menyepakati bahwa buang air kecil, buang air besar (BAB), kentut, mengeluarkan mazi dan wadi yang dikeluarkan dalam keadaan sehat adalah termasuk hadas kecil.


Selain itu, tidur dengan pantat atau punggung yang tidak menempel di alas permukaan, gila atau hilang akal, bersentuhan kulit dengan lawan jenis, menyentuh kemal*an adalah hal-hal yang menyebabkan hadas kecil sehingga diwajibkan untuk bersuci kembali. Jika sedang dalam keadaan hadas kecil, kita tidak dapat melakukan ibadah seperti mendirikan sholat, menyentuh Al-Qur’an, atau melakukan tawaf.


Sementara hadas besar adalah hadas yang berada pada seluruh tubuh manusia sehingga harus disucikan seluruh tubuhnya dan dilarang untuk melakukan ibadah sebelum mandi wajib atau mandi besar.


Menurut para ulama dan ahli fiqh, hadas besar terdiri dari mengeluarkan man* (dalam keadaan sadar maupun tidur atau mimpi basah), berhubungan badan, dalam keadaan haid atau nifas. Tiga perkara ini adalah hadas besar yang jika terjadi tidak boleh melakukan perkara seperti sholat, membaca Al-Qur’an, Berpuasa, memasuki masjid, tawaf dan lainnya sebelum bersuci.


Seperti yang sudah tertulis di dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 6 yang artinya :


“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Maidah : 6)


Untuk mensucikan tubuh dari hadas, ada beberapa cara untuk bersuci sesuai dengan perkaranya. Jika buang air kecil, buang air besar, mengeluarkan mazi atau wadi dapat dilakukan dengan membersihkan kemal*an atau lubang keluar kemudian berwudhu.


Sementara jika melakukan perkara yang menyebabkan hadas kecil dapat bersuci dengan berwudhu. Sementara jika ingin bersuci dari hadas besar harus dilakukan dengan mandi wajib atau mandi besar. Wallahua’lam.


Kak Syahril yang melihat kak Ryan langsung berlalu meninggalkannya pun hanya berdecak kesal dan langsung menyusul kak Ryan menuju dapur untuk !w!bersihkan diri dan berwudhu. Setelah nya mereka pun sholat Dzuhur berjamaah.


Sehabis sholat merek bertiga makan siang terlebih dahulu sebelum pergi ke sekolahan Mimi. Tak lama mereka selesai !akan Di'ah datang menghampiri.


"Assalamualaikum." ucap Di'ah dan langsung masuk karena pintu tak tertutup.

__ADS_1


"Waalaikum salam, Eh Di'ah dan siap?" jawab Mimi dan bertanya kepada Di'ah.


"Ckk, jamuran aku nunggu kalian." ucapnya sembari langsung duduk.


"Hehe maaf Di'ah, tahu sendiri lah kalau sudah tertidur ada yang susah dibangunin." jawab Mimi dengan melirik ke arah kak Syahril dan kak Ryan yang telah duduk di sofa.


"Di'ah sudah makan?" tanya Mimi berbasa-basi.


"Sudah Mi, ayo ntar tutup lagi sekolahannya. Mana Emma dan yang lain sibuk hubungi aku sedari tadi." jawab Di'ah dengan ocehannya.


"Bentar Mimi ambil tas dulu." jawab Mimi dan berlalu mengambil tas.


"Dah ayo Mimi dah siap." ucap Mimi setelah sampai di teras dan mengajak mereka semua.


"Yaudah ayo." jawab mereka dan kami pun langsung berangkat dan sebelumnya pamit dahulu sama Nyai.


Sampainya disekolah Emma dan yang lain telah menunggu kami semua di koridor depan kelas.


"Ckk kebiasaan jam karet." ucap Emma menyindir kami semua.


"Maaf Ma hehehe." ucap Mimi dan Di'ah sedangkan kak Syahril dan kak Ryan cuek bebek.


"Oh ya kalian sudah tanda tangan?" tanya Mimi kepada emm dan kawan-kawan.


"Belum, kita sengaja nunggu kalian berdua." jawab Sila.


"Oo, emm." ucap Mimi dan celingukan !mencari seseorang yang tak kelihatan.


Sila yang tau akan maksud dari Mimi pun dia menjawab.


"Cari Manda? dia sudah tadi pagi." ucap Sila.


"O gitu." jawab Mimi dengan menganggukkan kepala. Disaat kami sedang canda sambil menunggu giliran nama kami di panggil dua pasang pengantin baru pun tiba.


"Payah lah kalau la jadi pengantin baru, jam menjadinmelar." sindir Emma.


"Makanya MA buruan minta halalin sama bang Erwan." balas Novi.


"Aiss aku dak getek kayak kau Nov hehehe wee." ucap Emma dengan mencibir ke arah Novi.


"Hmm iya Ma buruan minta halalin sama Erwan." sahut kak Rendi.


"Ha-ha-ha." kak Rendi tertawa renyah melihat tingkah Emma.


"Waw Ndri kegnya habis mandi basah nih." Sindir kak Rendi melihat ke arah rambut kak Andri dan Dewi yang terlihat lembab.


"Ah kau Rend mau tau bae." jawab kak Andri dan langsung duduk di kursi yang berada di koridor samping kelas.


"Hahahahahaa ya tau lah bro secara kita sama." jawab kak Rendi dan itu membuat Novi dan Dewi bersemu merona menahan malu atas kelakuan sang suami.


"Dasar bocor halus." ucap kak Ryan.


"Maka Yan, buruan halalin Di'ah." ucap kak Rendi.


"Kalau Di'ah nya mau mah ayoo, ya nggak say." jawab kak Ryan melihat ke arah Di'ah dengan mengedipkan matanya sebelah.


"Beuh kalian ini sudah hilang apa rasa malunya ngomong masalah itu di lingkungan sekolah gini, malu tuh sama anak di bawah umur." ucap kak Syahril menimpali namun berujung dengan candaan.


"Anak bawah numur nya dah bisa buat anak ya kak." ucap Novi menimpali.


"Iya begitulah." jawab kak Syahril cuek.


Mimi dan Di'ah mendengarbobrolan mereka yang telah lewat jalur, mereka berdua menyibukkan diri mereka dengan ponsel mereka terkecuali Sila dia juga suka ikut nimbrung jika menyangkut obrolan abstrak.


Satu persatu nama mereka di panggil dan urusan Mimi dengan sekolah ini pun telah usai. Sebelum mereka pulang, mereka bersalaman kepada para guru untuk berpamitan dan tak lupa berswafoto sebagai kenangan.


Novi dannkak Rendi pun menyempatkan diri membagikan undangan resepsi mereka Minggu ini kepada para guru.


Setelah semua selesai mereka tak langsung pulang melainkan mereka pergi ke cafe dan resto kak Syahril.


Sepanjang jalan Mimi maaih kepikiran dengan langkah apa yang harus di ambilnya bila kedua orang tua serta keluarganya tak kunjung memberi izin.


**


Hari terus berlalu Mimi belum juga mendapatkan jawaban dari orang tuanya. Sedangkan waktu Tempo juga terus berjalan, Mimi terus berupaya menjelaskan dan memberikan pengertian kepada kedua orangtuanya dan keluarga lainnya.


Seperti hari ini Mimi kembali menghubungi orang tuanya dan menjelaskan kembali.

__ADS_1


"Mi," ucap emak yang tak tau harus memberi jawaban apa lagi.


"Mak, Mimi mohon Mak. Izinkan Mimi mak, ini impian dan cita-cita Mimi Mak." jawab Mimi dengan isakan tangis dan derainair mata di seberang telpon.


"Itu jauh nak, kalau Mimi sakit kayak mana? dan biaya nya juga, emak takut nanti Mimi patah di tengah jalan." ucap emak.


"Mak, Mimi disini dapat beasiswa Mak, jadi masalah biaya kuliah Mimi sudah di tanggung Mak, dan disini juga dituliskan ada asrama bagi mahasiswa luar pulau yang mendapatkan beasiswa. Mak.. Mimi mohon Mak." Mimi menjelaskan kembali dan berupaya membujuk emaknya dengan suara serak karena Mimi tak hentinya menangis.


"Nak, emak mau tanya. Apa Mimi jadi mabil jurusan kedokteran?" tanya emak dengan suara yang serak juga.


"Iya Mak, Mimi ambil kedokteran sesuai dengan cita-cita Mimi Mak." jawab Mimi.


"Kata Om Mimi, kedokteran itu mahal biaya nya nak dan nanti ada praktek-praktek nya dan itu butuh biaya juga walau biaya kuliah Mimi di tanggung tali biaya praktenya tidak." ucap emak.


"Mak, kalau masalah itu insya Allah Mimi bisa Mak, Mimi ada sedikit tabungan Mak dan nanti juga Mimi dapat uang dari beasiswa nya nah uang itu bisa Mimi buat biaya praktek nya nanti." jawab Mimi dengan masih sesenggukan.


"Nanti emak bicarakan lagi sama bapak dan yang lain ya nak." ucap emak.


"Mak, Mimi cuma butuh persetujuan dari emak dan bapak Mak. Mimi mohon maaf. huhuhu." jawab Mimi dengan menangis.


"Iya nanti Mak bicarakan dengan bapak dulu, sudah dulu ya Mak mau masak." ucap emak dengan mengakhiri panggilan telponnya.


Mimi masih sesenggukan menangis di dalam kamarnya, beberapa hari ini Mimi terus menghubungi orang tuanya guna !mendapat kan izin dan Mimi juga enggan keluar kamar selain mandi berwudhu dan mencuci pakaiannya.


Semenjak selesai tanda tangan berkas skhu dan ijazah nya Mimi tak langsung kembali pulang ke rumah orang tuanya.


Pakcik yang selalu mendengar isakan tangis Mimi dari luar kamar pun ikut iba, apa lagi akhir-akhir ini Mimi jarang terlihat oleh nya.


"Mi.." panggil Pakcik dari luar dan Mimi tak menjawabnya.


"Mi, ayo makan dulu." panggil Pakcik lagi dan mengajak Mimi buat makan karena sedari tadi dia melihat Mimi tak satupun masuk makanan.


"Mimi masih kenyang cik." sahut Mimi dari dalam.


"Kenyang dari mana, ayoo keluar makan lagi." jawab Pakcik.


"Mimi masih kenyang cik," sahut Mimi lagi yang enggan dan tak berselera makan.


Pakcik pun tak mengganggu Mimi lagi dan dia pun mencari bicik dan bertanya kepada bicik.


"Dek, apa Mimi sudah makan tadi?" tanya Pakcik kepada bicik.


"Hmmm, dari kemarin kata Mak Mimi ndak makan." jawab bicik.


"Dan Mimi juga dak mau keluar kamar." imbuh bicik.


"Emangnya apa masalah nya kalau Mimi kuliah di Jawa?" tanya Pakcik.


"Huh Abang nih kayaknya mana, Mimi itu anak gadis bang. Kepasar aja dia ditemani sama Di'ah, pulang kerumah Mak bapaknya aja di jemput, nah ini nak jauh pula dari keluarga." ucap bicik.


"Tapi kan Mimi sudah besar pastilah dia bisa mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Kasihan kalau apa yang di cita-cita lainnya harus kandas kayak ini." ucap Pakcik.


"Apa lagi ini dia mendapat kan beasiswa dan dia juga sebagai mahasiswa undangan. Jarang orang bisa dapatkan itu. Kadang ada yang dapat beasiswa tapi bukan sebagai mahasiswa undangan, nah ada pula sebagai mahasiswa undangan tali ndak dapat beasiswa. Sedangkan Mimi mendapat kan keduanya, seharusnya kita sebagai orang tuanya bangga dan bersyukur karena Mimi memiliki prestasi yang membanggakan." imbuh Pakcik lagi mencoba membujuk bicik agar bisa membantu Mimi mendapat kan izin dari kedua orangtuanya.


"Bukan kita tak bangga dan tak bersyukur bang, cuma.... Abang tau lah sendiri Mimi itu tak pernah jauh dari kita bang, mau kemana pun dia tak pernah sendirian. Nah nanti disana dia tunggal sama siapa? makannya gimana." jawab bicik dengan segala kekhawatiran nya.


"Mimi kan disana tinggal di asrama yang disediakan pihak kampus, jadi buat apa lagi dikhawatirkan." ucap Pakcik.


"Masalah makan, pasti Mimi bisa urus dan kita bantu kirim uang nanti tiap bulannya. Kasian lihatnya tuh darinkemarin nangis terus, bisa-bisa sakit anak tu. Nah apalagi katanya dari kemarin Mimi ndak makan." ucap Pakcik lagi.


"Hemm entahlah bang, nanti biar dibicarakan lagi dengan yang lain." ucap bicik mengakhiri obrolan mereka.


__________


tbc


Alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up kembali hari ini. Terimakasih yang masih setia menunggu, mohon maaf jika jarang up nya.


Jangan lupa terus beri dukungannya berupa


FAVORIT


RATE


VOTE


LIKE

__ADS_1


KOMEN


...TERIMAKASIH...


__ADS_2