DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Syahril posesif


__ADS_3

"Emm bang Adit ya, emm dia orangnya baik, kayaknya juga perhatian dan bang Adit orang nya juga manis wajahnya." puji Mimi kepada Aditya.


Syahril yang mendengar sang kekasih memuji lelaki lain membuat hatinya sakit akibat cemburu buta nya. Syahril melihat Mimi menceritakan lelaki lain dengan riangnya membuatnya cemburu dan tanpa sepengetahuan Mimi lagi-lagi dia memblokir nomor yang menghubungi Mimi tadi.


Ya orang yang menghubungi Mimi bernama Aditya Warman anak kuliahan jurusan hukum berwajah hitam manis yang nyambi ngojek di waktu luangnya, anaknya juga welcome gak pakek jaim.


"Segitu detailnya dek muji dia." Ucap Syahril walau di hati mendidih namun ida juga ingin mendengarkan dan ingin mengetahui apakah Mimi menyukai atau sekedar kagum.


"Hehehe kenapa kak? kakak cemburu ya?" canda Mimi dan membuat Syahril mendengus.


"Salah apa kalau kakak cemburu?" ucap Syahril dengan nada sendu yang dibuat.


"Emm ndak juga." Jawab Mimi cuek.


"Adek suka sama dia?" tanya Syahril.


Entah apa yang Syahril ucapkan sehingga membuat Mimi heran.


"Kenapa emangnya kak?"


"Gak apa sih, jujur aja ceritakan semua sejauh mana kedekatan adek sama dia." ucap Syahril tapi mata menerawang jauh kedepan.


"Seperti yang Mimi katakan tadi bang Adit orangnya baik dan wajahnya juga manis." Mimi mengulangi apa yang sudah dia katakan sebelumnya.


"Tapi kakak liat sewaktu adek nelpon kayaknya kalian sudah akrab." Syahril terus aja bertanya.


"Di bilang akrab juga ndak akrab kak, Mimi cuma mengikuti alur aja. Kalau orang nya baik dan enak di ajak bicara ya oke lah." Jawab Mimi gamblang.


"Kakak kenapa sih kok seolah menginterogasi Mimi gini sih." imbuh Mimi karena merasa alur pembicaraan yang sudah tak kan ada ujungnya jika terus di lanjutkan.


"Ndak, itu hanya perasaan adek aja. Karena adek merasa bersalah kali sama kakak." Jawab Syahril yang semakin ngawur.


"Maksud kakak apa sih, kenapa juga Mimi harus merasa bersalah toh Mimi ndak berbuat salah." Ucap Mimi. "Kakak cemburu sama bang Adit?"


"Iya kakak cemburu, adek dengan gamblangnya adek memuji cowok lain sama kakak." Jawabnya dengan emosi.


"Loh kenapa kakak jadi marah gini, bukannya kakak tadi yang bertanya ya Mimi jawab apa adanya tidak mengurangi dan tidak juga melebihkan." Jawab Mimi yang ikut tersulut emosi.


Baru pertama kalinya Mimi berkata sedikit meninggi kepada Syahril.


"Oo jadi adek tidak terima kalau kakak bertanya siapa Adit kepada adek gitu!" Ucapnya ketus.


"Ah sudahlah, terserah adek." Ucapnya lagi.


"Kakak ini kenapa? kakak tanya sudah Mimi jawab tapi kenapa kakak jadi marah gini? terserah kakak mau beranggapan apa, jadi orang itu jangan cemburu buta gitu lah." jawab Mimi yang sudah malas berdebat.


Disaat Syahril ingin berdebat kali dengan Mimi HP Mimi berdering dan Mimi pun langsung mengangkat tanpa melihat no yang menghubungi.


📲"Ya hallo assalamu'alaikum"


📲"Waalaikumsalam, dek kok tadi di matikan telponnya dan abang nelpon lagi gak bisa, adek blokir ya no abang." cerocos seseorang di seberang sana. Mimi melihat ke arah Syahril dan akan minta penjelasannya kembali.


Sedangkan Syahril mendengar seseorang tersebut masih bisa menghubungi Mimi merasa geram di hatinya. "Ndak bisa di biarkan ni orang, selalu ada aja caranya." Syahril ngebatin.


📲"Oo gitu ya bang, maaf mungkin tadi Mimi kepencet, Mimi kota abang yang mutusin telponnya." Jawab Mimi dengan beralasan telpon terputus oleh dari si penelpon.


📲"Ndak dek, bukan abang yang mutusin. Ah sudah lah besok malam abang kerumah ya?" Ucapnya.


Mimi melihat ke Syahril dan terlihat Syahril menatap Mimi dengan sorot mata tajam.


📲"Emm maaf bang, malam besok Mimi ada acara bang." tolak Mimi dengan halus.


📲"Loh bukannya tadi katanya tidak ada acara ya?"


📲"Iya bang maaf tadi cowok Mimi nelpon dan dia mau ajak Mimi keluar." Mimi hanya beralasan.


📲"Oo gitu, dah baikkan ya dengan cowok adek."


📲"Emm iya bang hehe, udah dulu ya bang assalamu'alaikum." Mimi mengakhiri sbungan telpon karena Mimi juga sudah tidak nyaman dengan kondisi saat ini.


Syahril masih menatap Mimi dengan intens.


"Jadi adek menceritakan kalau adek bermasalah sama kakak gitu!"


"Aduh kenapa bang Adit sampe ngomong gitu sih, yang tadi aja belum kelar nambah lagi deh" Mimi ngebatin.


Yah pertama kali saat masuk sekolah dan Syahril tak jua menghubungi Mimi bahkan menegur pun tidak, Mimi setiap pulang sekolah naik ojek hanya karena Mimi menghindar agar hatinya tak merasa sakit bila selalu pulang bersama orang yang di sayangi tapi bagai orang yang bermusuhan tak saling tegur sapa.


Dan mulai dari situlah Mimi selalu naik ojek dan kebetulan pula beberapa hari itu selalu ketemu dan bertepatan ojek yang sama pula.


Karena Mimi telah bertekad untuk menata hatinya sewaktu itu maka Mimi berusaha menghindari dengan cara perlahan menjauh dari Syahril. Untuk menunjang rencana nya Mimi pun meminta sang ojek menjadinojek langganan nya dan agar bisa menjemputnya tepat di depan sekolah setelah jam sekolah usai.


Maka dari itu agar sang ojek tidak narik orang lain sewaktu jam sekolah usai, Mimi minta sang ojek sudah stay depan gerbang.


Entah kenapa sang ojek pun meminta no hp Mimi dengan alasan pabila dia ada mata kuliah dia bisa memberitahukan ke Mimi agar Mimi tidak menunggu dia, karena Mimi tidak hafal no hp nya maka Mimi yang meminta no hp sang ojek dan menyimpannya dalam kontak.

__ADS_1


Dengan keseringan naik ojek itu pula Mimi dan Adit dekat dan mereka saling bercerita. kadang Adit juga mengajak Mimi sekedar makan bakso dan Mimi pun mengiyakan karena Adit selalu memaksa.


flashback on


Hari ke lima Mimi naik ojek dan sesuai permintaan Mimi sebelumnya Adit sudah berada tepat di luar gerbang, Mimi yang melihat ojeknya telah tiba tersenyum melihat Adit dan adegan itu tak luput dari pandangan teman-temannya.


"Emm Mimi duluan ya guys ojek Mimi sudah datang." Ucap Mimi kepada teman-temannya dengan senyum.


Yah sebelumnya Mimi juga sudah menceritakan kepada temannya kalau mulai saat itu Mimi akan naik ojek pulangnya tapi Mimi tidak menceritakan masalah yang sedang di hadapi kepada teman-temannya.


Teman-temannya mini awalnya curiga jika Mimi lagi ada masalah tapi Mimi selalu memberikan alasan kalau Mimi ingin cepat sampai dan ingin cepat menyelesaikan tugas dari bimbelnya, teman-temannya Mimi juga tau kalau Mimi ikut bimbel tersebut sedari SMP dan mereka juga telah melihat paket bimbel itu berupa soal-soal yang harus di isi dan harus di kirim balik ke pihak bimbel.


Bukan maksud Mimi untuk menceritakan masalah pribadinya namun Adit bertanya apa Mimi telah memiliki pacar dan Mimi lun menjawab nya iya


"Oke Mi, hati-hati." Ucap mereka semua dan Mimi pun langsung menghampiri sang ojek.


"Hai bang." sapa Mimi kepada sang ojek dengan senyum.


"Hai juga Mi, dah pulang." Basa-basi Adit dengan balas senyum juga


Sapaan Mimi ke sang ojek menjadi perhatian teman-temannya. Ya Mimi sudah akrab dengan Adit walau belum terlalu akrab namun seiring berjalan nya waktu Mimi pun akrab dengan Adit karena sifat Adit yang tidak jaim dan selalu bikin senang.


"Iya Bang, ayo jalan." Ajak Mimi dan mereka pun jalan.


Syahril dan sahabatnya melihat akhir-akhir ini Mimi selalu naik ojek dan Mimi kelihatan akrab. mereka pun bertanya kepada Syahril.


"Riil, aku lihat akhir-akhir ini Mimi selalu naik ojek, apa kalian ada masalah?" Tanya bang Idho.


"Iya Riil, kalian ada masalah? kalau ada masalah cepat diselesaikan." Ucap Erwan.


Ryan dan Andri hanya diam tak banyak komentar karena merekalah saksi hidup akan permasalahan yang sedang dihadapi Syahril.


Mereka juga menasehati Syahril dengan berbagai cara tapi semua nihil.


"Riil, jangan sampe nanti menyesal." Ridho menimpali.


Syahril hanya diam, dia gamang di satu sisi dia sangat menyayangi Mimi dan tak ingin berpisah dengan Mimi dan disatu sisi sang kakek yang sangat di sayangi pula tapi dia tidak terima apa yang dilakukan oleh sang kakek.


Hari berganti minggu Mimi dan Adit semakin akrab dan Adit pun terkadang mengajak Mimi sekedar makan bakso.


Hari ini Adit wa kalau dia akan sedikit telat menjemput karena dia ada mata kuliah hingga jam satu siang, jarak antara kampusnya ke SMA Mimi memakan kurang lebih 45 menit.


Karena Adit telat menjemput hari ini Mimi pulang bersama teman-teman sambil menunggu Adit di jalan.


Bukan pula Mimi egois tak ingin mendahului tapi Syahril nya sendiri yang seolah menghindar dan itu semakin membuat hati Mimi sakit.


Belum sampai di perbatasan simpang tiga dari kejauhan Mimi sudah melihat Adit dan Mimi pun memberhentikan nya dengan mengayunkan tangan nya kesamping agar Adit melihat. Adit pun berhenti dan Mimi pun langsung menaik ke atas motor.


"Ayo naik." Ucap Adit.


"Lo bang, belokkan dulu motornya." jawab Mimi.


"Ndak perlu kita lewat sana aja, payah mo belok lagi banyak orang." jawabnya pula dan Mimi pun naik ke atas motor.


"Dek makan bakso dulu ya?"ucapnya kala motor telah berjalan.


"Langsung pulang aja lah bang, Mimi ada tugas." jawab Mimi.


"Bentar aja, abang lapar soalnya." Jawabnya.


Adit sengaja membawa motor perlahan dan lewat jalan memutar agar dia bisa lebih lama bersama Mimi. Mimi yang merasa jalan motor lamban merasa risih walaupun mimi sudah akrab dengan Adit bukan berarti Mimi mau menjalin hubungan lebih.


Diua puluh menit berlalu Adit pun memberhentikan motornya di kedai bakso yang biasa Mimi dan teman-temannya makan. Disaat Mimi akan memilih meja Mimi melihat teman-temannya juga sudah berada disana tapi mereka tak melihat Mimi hanya Syahril yang melihat itupun karena tak sengaja mata mereka beradu.


Mimi memilih meja yang jauh dari teman-temannya karena Mimi tak ingin lihat Syahril tak lama Adit pun duduk di samping Mimi dengan senyum.


sambil menunggu pesanan Mimi dan Adit saling bercerita, Adit mengajak Mimi makan bakso sebenarnya berniat ingin mengungkapkan hatinya.


"Dek, abang boleh tanya?" ucap Adit, Mimi pun beralih melihat ke arah Adit.


"Nanya apa bang?" jawab Mimi.


"Apa adek sudah punya pacar?" Tanya Adit.


"Emm sudah bang." jawab Mimi jujur.


"Oo" ucap Adit.


"Kenapa bang?" Tanya Mimi.


"Emm gak apa-apa, cowok adek anak sekolahan atau sudah kuliah?" Tanya Adit balik.


"Masih sekolah bang, masih Satu sekolah" Jawab Mimi.


"kalau satu sekolah kok abang lihat satu bulan ini adek selalu naik ojek pulang nya."Ucapnya.

__ADS_1


Mimi ingin menjawab tapi pesanannya sudah tiba.


"Ayo dimakan." ucap Adit dan di anggukkan oleh Mimi.


Mimi mulai meracik baksonya dengan seleranya dan itu tak luput dari pandangan Syahril. Adit yang minat Mimi meracik baksonya dengan canai yang banyak dia pun bertanya


"Apa ndak sakit dek perutnya kalau banyak cabe gitu?" Tanya Adit.


"Ndak bang, Mimi dah biasa." Jawab Mimi, tanpa di duga Adit menyendokkan sendoknya ke dalam bakso Mimi dan mencicipi bakso Mimi.


"Gila dek, pedas gini di bilang gak sakit perut nanti." ujarnya setelah mencicipi bakso Mimi.


Tindakan Adit tak luput dari sorot mata tajam Syahril, Mimi melihat ke arah Syahril karena Mimi tau Syahril selalu memperhatikan nya diam-diam dan Mimi semakin membuat hati Syahril cmburu dikala Mimi mencoba beri suapan baksonya kepada Adit.


"Ndak pedas kok bang coba aja, aa" Ucap Mimi dengan menyendokkan baksonya dan ingin menyuapi Adit.


Pucuk di cinta ulampun tiba bagai gayung disambut Adit pun menerima suapan itu dan membuat wajah Syahril merah padam.


Tak lama makanan Mimi pun selesai dan Mimi meminta Adit segera mengantarnya pulang dan mereka pun pulang sedangkan rombongan Syahril masih berada di kedai bakso.


Sebelum naik motor Adit masih menanyakan hal tadi.


"Gimana dek?" tanyanya.


"Gimana apa bang?" jawab Mimi


"Kenapa adek kok dak pulang bersama cowoknya?" Tanya nya kepo sambil menaiki motor dan menghidupkannya.


"Gak kenapa-napa bang." jawab Mimi sembari duduk di atas jok motor dan motor lun melaju.


Syahril yang masih kepo tak putus arang dia selalu menanyakan hal yang sama dak akhirnya Mimi pun menjawab kalau dia sedang ada masalah dikit.


Sesungguhnya Syahril sakit melihat sang pujaan hati tersenyum dan akrab bersama laki-laki lain tapi egonya melebihi dari segalanya dan membuat menyakiti dirinya sendiri.


Melihat Mimi meracik bakso ingin rasanya dia mendekat dan melakukan seperti biasa mereka lakukan disaat makan bakso.


Hampir satu bulan dia selalu melihat Mimi memberikan senyum kepada orang lain itu membuat hati Syahril semakin bergejolak di tambah melihat Mimi makan bakso bersama itu membuat hatinya murka tapi kalah dengan egonya.


flashback off.


Syahril melihat Mimi diam ketika dia bertanya diapun menanyakan kembali kepada Mimi.


"Kenapa diam dek?" tanyanya dan Mimi hanya melihat sekilas ke arahnya.


"Segitu dekatnya adek sama dia sampai-sampai adek menceritakan suatu waktu kakak tidak bersama adek." ucap Syahril dengan segala opininya.


"Dan kakak ingat adek juga makan bakso bersama dia di kedai bakso pakai suapin dia lagi." ucap Syahril ketus.


Diam-diam Mimi tersenyum ketika mengingat gimana dia menyuapi Adit dan melihat Syahril dengan mata melotot dan muka merah padam.


"Kenapa senyam senyum" Ucap Syahril ketika melihat Mimi tersenyum.


"Gak, gak kenapa-napa kok." jawab Mimi.


"Kalau gak kenapa-napa kenala senyum, senang nyuapin dia bakso." ujar Syahril.


"Apaan sih kak?"


"Jawab dek."


"Lah apa yang harus dijawab."


Syahril mendengus dengan jawaban Mimi.


"Kenapa kakak harus marah kalau Mimi dekat dengan orang lain waktu itu, toh kakak sendiri yang mengabaikan Mimi."


Syahril sadar emang dia salah karena telah emang dia telah mengabaikan sang pujaan hatinya, tapi dia juga tak ingin sang pujaan hati dekat dengan orang lain walau sampai kini dia belum menceritakan permasalahannya kepada Mimi.


Apakah Mimi akan mengurungkan niatnya untuk pulang liburan setelah melihat Syahril yang cemburu buta.


__tbc_


HAI PARA RIDERS ASSALAMU'ALAIKUM SELAMAT SIANG, TERIMAKASIH BAGI YANG MASIH SETIA DI DOKTER JANTUNGKU


JANGAN LUPA SELALU BERI DUKUNGAN DAN JEJAK KALIAN YA,


VOTE


RATE


LIKE


KOMEN


💖💖💖💖TERIMAKASIH💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2