DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
mengenang masa lalu


__ADS_3

Pasca malam itu, ketiga gadis itu akhirnya Mimi terima kembali untuk belajar dengannya.


Awalnya Mimi enggan menerima mereka kembali, namun orang tua ketiga gadis itu datang kerumah dan memohon agar Mimi dan yang lain mau membantu anak-anak mereka dalam belajar.


Orang tua gadis itu mengetahui perihal perilaku anaknya saat ketiga gadis itu pulang cepat padahal baru sebentar merek pergi.


Keesokan harinya orang tua Fika datang ke rumah Riki dan ibu dari Fika bertanya pada Riki.


"Ki" panggil ibu Fika, saat melihat Riki dan adik serta Sofyan dan adiknya nya berjalan keluar rumah.


"Yo Wak." jawab Riki.


"Wak nak nanyo, semalam kamu-kamu tu dak jadi belajar api macam mano?"


( Wak mau tanya, semalam kalian itu tidak belajar atau bagaimana?)


"Ayuk Fika kau cepat nian balek nyo. Iyo nian ayuk Fika kau tu pegi ke rumah dokter Mimi tu." pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan ke Riki oleh ibu Fika.


(Ayuk Fika kau cepat sekali pulangnya. Apa iya Ayuk Fika kau itu pergi ke rumah dokter Mimi?)


Raka adik Riki melihat ke arah Riki yang masih diam, karena Raka melihat Riki tak kunjung menjawab akhirnya Raka yang menjawab pertanyaan dari ibunya Fika.


"Ayuk Fika samo kawan nyo dak jadi ikut Wak, Inyo di suruh balek samo dokter Mimi, samo dokter Syahril.''


(Atuk Fika sama kawannya tidak jadi ikut Wak, dia di suruh pulang sama dokter Mimi dan dokter Syahril)


"Ayu Fika samo kawan-kawannyo tu kekanjian, Dio pegi bukan nak belajar, dio tu cuma nak nengok dokter Syahril Samo dokter Ryan be." adu Raka.


(Ayuk Fika sama kawan-kawannya itu kegatalan/kegenitan/keganjenan, dia pergi buka mau belajar, dia itu cuma mau lihat dokter Syahril sama dokter Ryan saja)


"Iyo nian apo yang di katokan Raka tu Ki?" tanya ibu Fika yang tidak percaya dengan Adian Raka.


(Apa betul yang dikatakan Raka Ki?)


"Ah Wak ko, dak cayo nian samo Raka. Dak cuma di rumah dokter Mimi be Ayuk Fika tu kekanjian, di sekolah jugo asek la bacewek an." ucap Raka.


(Ah Wak ini, tidak percaya nian sama Raka. Tidak cuma di rumah dokter Mimi saja Ayuk Fika itu kegenitan/keganjenan, di sekolah pun juga kerjanya pacaran)


Ibu Fika terkejut kala mendengar aduan Raka. Selama ini dia percaya sama ank gadisnya, dia sangat percaya kalau Fika akan serius bersekolah di kecamatan, orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses.


Segala upaya mereka kerahkan agar sang anak bisa mendapatkan pendidikan tinggi. Segala nasehat juga mereka layangkan, apa lagi mereka jauh dan tak tinggal satu rumah.


Ibu Fika masih melihat ke Riki, dia menunggu jawaban jujur dari Riki ataupun Sofyan. Bukan dia tak mempercayai Raka, dia dan Raka biasa bergurau sehingga apa yang dikatakan Raka di anggapnya sebuah gurauan semata.


"Apo yang dikatokan tu Raka betul Wak." jawab Riki dengan tenang.


(Apa yang dikatakan Raka itu betul Wak.)


Ibu Fika yang mendengar kebenaran tentang anaknya hanya bisa mengelus dada nya. Sungguh ria tidak percaya jika anak gadisnya bisa seperti itu.


"Kalu macam tu, malu Wak samo dokter Mimi dengan dokter yang lain. Apo lah pikiran Ayuk Fika kau tu, la jelas dokter Ryan samo dokter Syahril la punyo bini," ucap ibu Fika kecewa.


(Kalau begitu, malu Wak sama dokter Mimi, dokter Syahril dan dokter Ryan. Apalah pikiran Ayuk Fika kau itu, sudah jelas kalau dokter Ryan sama dokter Syahril sudah punya istri.


Setelah mendapatkan jawaban dari ponakannya ibu Fika pun pulang dan dia pun mulai menanyakan kebenaran pada anaknya di depan suaminya.


Awalnya Fika mengelak namun dengan segala bukti yang dikatakan Raka akhirnya Fika pun berkata jujur. Malu.. Itu yang dirasakan oleh kedua orangtuanya.


Sejak pagi itu, malam nya orang tua Fika dan Fika datang ke rumah Syahril dan mereka meminta maaf atas nama anaknya dan mereka juga meminta agar dokter Mimi dan dokter Syahril mau mengajari anaknya.


Tiap hari Syahril selalu mengajak Mimi untuk pergi kunjungan ke puskesmas pembantu di sekitar dusun Bungin.


Mimi pernah menak karena dia akan rebahan atau sekedar membersihkan kebun dan ingin memancing sama anak-anak, namun Syahril mencegahnya dan Syahril tidak ingin ada penolakan, maka akhirnya Mimi selalu mendampingi Syahril kemana pun.


Diperjalanan Syahril dan Mimi saling bercerita, saling berbagi ilmu. Syahril juga bertanya tentang Di'ah pada Mimi.


"Dek." panggil Syahril kala Mimi hendak memasang ear set ke telinganya.


"Hmm" jawab Mimi.


"Kakak boleh tanya?" tanya Syahril. Mimi melihat dengan memicingkan matanya.


"Tumben mau tanya pakek tanya dulu." jawab Mimi. Syahril tersenyum dan menggaruk kepala nya dengan tangan sebelah.


"Tanya aja, emang mau tanya apa?" tanya Mimi, terlihat Syahril diam, dia bingung mau bertanya mulai dari mananya.


"Emm, gini. Kakak perhatikan ni ya, dari duku hingga sekarang adek itu selalu saja sama Di'ah." tanya Syahril, Mimi diam dengan melihat Syahril. Mimi merasa aneh dengan pertanyaan Syahril karena sejatinya Syahril tau bagaimana Mimi dan Di'ah sedari dulu.

__ADS_1


"Emm maksudnya kakak itu, apa kalian pernah bertengkar?" imbuh Syahril ketika melihat Mimi curiga dengan pertanyaannya nya.


"Emm, kalau bertengkar emm nggak tau." Jawab Mimi.


"Kok nggak tau?" tanya Syahril.


"Ya nggak tau," jawab Mimi, Syahril menautkan kedua alisnya.


"Kok bisa nggak tau?" tanya Syahril lagi.


"Ya nggak tau kak, karena Mimi tidak merasa pernah bertengkar sama dia atau yang lain." jawab Mimi.


"Kalau diam-diaman sering"Imbuh Mimi.


"Hmm" ucap Syahril melihat Miki sejenak dengan menautkan alisnya bingung.


"Iya, kalau bertengkar adu mulut atau semacamnya Mimi tidak pernah, kakak tau sendiri kan."


"Nah kalau diam-diaman secara tiba-tiba itu sering dan itu ya mereka termasuk Di'ah yang sering mendiamkan Mimi." ucap Mimi mulai menceritakan masa lalu nya dan Syahril lun semangat untuk menyimak.


"Kadang mereka diamin Mimi tanpa Mimi tau apa salah nya Mimi. Mimi merasa tidak pernah buat salah ya cuek aja."


"Kadang tidak hanya sehari dua hari, bahkan kadang sampe seminggu dua Minggu."


"Mimi yang tidak tahan di diamin tambah sebab, sering Mimi bertanya namun mereka tidak pernah menjawabnya."


"Kadang Mimi merasa, apa karena Mimi ini orang pendatang mereka enggan berteman dengan Mimi."


"Kalau Di'ah, sedari SD juga sering begitu. Bahkan jika dia merasa Mimi punya salah mulai ngajak teman lain untuk tidak berteman sama Mimi."


"Duku pernah sempat waktu SD Mimi tidak betah sekolah di Jambi. Ya karena Mimi tidak punya teman."


"Teman Mimi sedari SD Mimi pindah di Jambi ya paling banyak cowok." ucap Mimi dengan senyum mengenang masa lalunya.


"Ternyata tidak hanya sewaktu SD saja SMP dan SMA pun sama. Kadang Mimi heran, apa ini merupakan sifat orang sini jika tidak suka dengan kita langsung hasut teman lain untuk tidak berteman dengan kita."


"Setiap di tanya, jawabnya tidak ada. Tapi kalau jawaban mereka tidak ada terus kenapa Mimi di jauhi."


"Hingga kini, Mimi heran aja jika mengenang itu." ucap Mimi.


"Kakak lihat sendiri kan teman cewek yang dekat sama Mimi hanya mereka saja, ya walau kadang mereka tanpa sebab menjauhi Mimi. Namun mereka tetap berteman dengan Mimi."


"Jadi ya sama teman lainnya Mimi tetap berteman biasa aja." ucap Mimi.


"Jadi Di'ah sering diamin adek? dia diamin adek karena apa?" tanya Syahril.


"Kalau waktu sekolah sering kak, ya.. Seperti yang Mimi bilang, Mimi ndak tau dia diamin Mimi itu karena apa." jawab Mimi.


"Duku biasanya kalau dia diamin adek sampe berapa lama?" tanya Syahril.


"Ndak tau, ndak nentu hehehe. Sampe mood nya kembali mau negur Mimi kali." jawab Mimi.


"Adek merasa nggak mungkin Di'ah cemburu atau iri gitu?" ucap Syahril dengan terus fokus nyetir.


"Emm" ucap Mimi sambil mengingat-ingat.


"Emm dia kalau Mimi ingat-ingat, emm setiap mau ulangan atau ujian mulai dia diamin Mimi, apa lagi kalau nilai sudah keluar bisa lama dia diamin Mimi bahkan sampe nggak mau main sama Mimi." ucap Mimi sambil mengingat-ingat.


"Emm gitu, apa hasil nilai dia bagus dek?" tanya Syahril.


"Emm bagus sih, cuma di bawah Mimi nilai dia. Apa lagi kan waktu SD Mimi baru di sini, kelas enam Mimi baru sekolah dijambi"


"Ya sewaktu Mimi baru masuk banyak lah yang mau berteman tapu kebanyakan cowok karena di lokal kami ceweknya dikit." jawab Mimi.


"Nah setiap latihan, pr atau ulangan dan ujian nilai Mimi lebih tinggi nah mulai tuh dia diamin." jawab Mimi, Syahril manggut-manggut, sekarang dia mengerti kenapa Di'ah sekarang begitu.


"Adek merasa Ndak kalau Di'ah sekarang diamin adek?" tanya Syahril, Mimi hanya tersenyum.


"Biarin aja, nanti juga negur sendiri." jawab Mimi.


"Jadi adek tau?" tanya Syahril, Mimi mengangguk kecil.


"Adek kira dia begitu karena apa?" tanya Syahril penasaran. Mimi hanya mengangkat bahunya.


"Apa dia iri sama adek?" tanya Syahril.


"Iri? iri kenapa? apa yang mau di irikan dari Mimi." jawab Mimi.

__ADS_1


"Ya mungkin dia iri, melihat adek sukses atau apalah." ucap Syahril.


"Lah kenapa harus iri melihat orang sukses. Nggak ada gunanya kita beri iri hati, apa lagi melihat teman sendiri sukses."


"Kalau dia merasa iri dengan melihat Mimi suskses, seharusnya dia tau dong bagaimana Mimi meraih semua ini."


"Dan lagian Mimi merasa belum sukses dan Mimi masih merasa terus belajar dan belajar. Jadi apa yang dia iri kan." jawab Mimi.


"Ya mungkin dia iri dengan kesuksesan adek, apa yang adek inginkan bisa ada wujudkan, adek bisa membeli, adek bisa memberi apa yang menurut adek mau adek bisa dapatkan." ucap Syahril.


"Hmm, kalau dia sampe berpikiran begitu ya bodoh lah pikirannya. Dia kan tau bagaimana perjuangan Mimi, untuk bisa kuliah saja Mimi harus mengandalkan otak bukan uang." jawab Mimi


"Dia juga tau bagaimana orang tua Mimi dan keluarga Mimi sempat tidak mengizinkan Mimi kuliah apa lagi kuliah jauh-jauh. Masa iya dia harus iri." ucap Mimi dengan membenarkan duduknya.


"Ndak mungkin dia menutup matanya bagaimana Mimi dulu, untuk tes Akper Akbid saja Mimi dengan kemauan Mimi sendiri, Mimi dengan nekat ikut tes itu sedangkan dia.. Dia di dukung oleh orang tuanya, oleh keluarganya ndak lulus tes saja dia masih bisa kuliah walau akhirnya di swasta."


"Sedangkan Mimi, ndak lulus ya nganggur atau cari kerja." ucap Mimi.


"Kalau sekarang dia melihat atau menilai Mimi sukses, seharusnya dia melihat sebelum Mimi mendapatkan semua ini."


"Dia tidak tau saja bagiamana Mimi duku dan sekarang. Hingga sekarang saja Mimi merasa bekum sukses" jawab Mimi menggebu, Syahril tersenyum kecil.


Syahril tau persis bagaimana perjuangan orang yang di cintai nya ini. Terkadang dia juga berpikir kenapa Di'ah sebagai sahabat Mimi bisa memiliki rasa iri itu.


Akhirnya Syahril mengetahui jika sifat iri adalah sifat dari Di'ah, Syahril berharap Ryan bisa membimbing Di'ah dan menghilangkan rasa jri di hati Di'ah.


Tak lama mereka pun sampai di puskesmas pembantu, Mimi dan Syahril seperti biasa mereka berdua saling bahu membahu.


Syahril merasa bahagia Allah mempertemukan dia dengan Mimi, dia juga berharap kelak Mimi merupakan istri dan ibu yang baik untuk dirinya dan anak-anak nya kelak.


Mimi yang Syahril kenal masih seperti Mimi yang dulu, Mimi yang baik hati.


Siang hari nya Syahril dan Mimi kembali ke kecamatan karena temlat mereka juga dekat dengan arah ke kecamatan.


Syahril akan mengirim file laporan nya ke dinas kesehatan daerah dan propinsi.


Di warung mie ayam bakso, Syahril memilih tempat di dalam. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya, Mimi juga mulai berselancar dengan ponselnya.


Mimi menelpon emak dan keluarganya, Mimi juga menelpon ayah Brata serta bunda Rahma, Mimi juga menelpon sahabatnya sewaktu kuliah.


Di rumah Ryan terus berupaya menasehati Di'ah. Yah siang ini Ryan mengajak Di'ah untuk masak bersama.


"Ternyata enak juga ya dek masak berdua begini." ucap Ryan memuji kebersamaan mereka.


"Iya kak." jawab Di'ah dengan semangat memasak gulai pucuk ubi.


"Nah lain kali, kalau siang kita yang masak ya dek. Kalau sore atau pagi biar Mimi sama Syahril." ucap Ryan.


"Hemm" jawab Di'ah.


"Pantesan Syahril sangat suka membantu Mimi, ternyata asik. Emm apa lagi kalau masak nya begini." ucap Ryan sambil memeluk Di'ah dari belakang secara tiba-tiba.


"Kak" ucap Di'ah saat Ryan mulai mencium leher sang istri.


"Emm." ucap Ryan dengan terus mencumb*i leher, telinga serta tengkuk Di'ah. Di'ah yang sedang memasak pun menjadi terganggu, apa lagi memang dia sedang ingin sedari kemaren.


"Kaak." ucap Di'ah terengah karena aliran darahnya seolah mulai menyengat gair*hnya.


"Kakak rindu dek," ucap Ryan mendayu di telinga Di'ah.


Yah sudah tiga hari mereka tak lagi menikmati nikmatnya surga dunia, mereka sama-sama di ambang keinginan menuju indahnya cinta.


Ryan terus memeluk bahkan tangan nya mulai meraja lela mencari tempat ternyaman nya.


"Achhhh kaaak." ucap Di'ah saat tangan itu telah sampai tempat ternyaman nya.


"Se le sai kan ma sa kannya du luuu aaach." ucap Di'ah yang sudah beda dari biasanya..


Seluruh tubuh Di'ah seolah tersengat listrik ribuan volt. Gair*h yang tertutup karena ego seakan membuncah ingin keluar segera.


"Ryan mematikan kompor dan dia membalikkan tubuh Di'ah, di tatapnya wajah sang istri penuh nafs* dan gairah. Perlahan Ryan pun mencumbu sang istri.


Decakan demi decapan mereka ciptakan di dapur ini. Di'ah mengalungkan kedua tangannya di leher Ryan. Di'ah juga mulai mengeluarkan segala hasrat nya.


Satu persatu kancing baju Di'ah pun terlepas, resleting span nya pun telah terlepas hingga kini tinggallah sepasang kaca mata kuda dan segitiga bermuda yang masih melekat.


"Kaaak, ini da pur." ucap Di'ah saat Ryan akan memulai aksi nya.

__ADS_1


"Kita cari suasana berbeda dek.." ucap Ryan, akhirnya Ryan dan Di'ah pun meluapkan hasr*t mereka di dapur setelah puas di dapur barulah Ryan mengangkat tubuh sang istri menuju kamar.


tbc


__ADS_2