DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
251 kembali Ke diri sendiri


__ADS_3

Kepergian Syahril menyisahkan kenangan terindah bagi Mimi, Mimi membalikkan diri menghadap ke arah danau buatan itu. Mimi menghelakan badannya berulangkali untuk menetralkan perasaan nya saat ini.


"Tuhan, ampuni hamba bila hamba egois." ucap Mimi lirih dengan melihat ke arah dua angsa yang selaing pandang itu.


Mimi sendiri dintaman ini, semula dia bersama tiga orang lelaki yang selalu menjaga nya kini semua tinggal kenangan.


Dulu pertama kali dia di daerah ini merasa ada orang yang selalu mendukung dan menjaganya, mulai saat ini dia harus berdiri tegak dengan kaki nya sendiri.


Sepergian mereka beberapa menit lalu !membuat hari ini merasa sepi.


"Ya Allah ini baru beberapa menit hatiku sepi dan hampa, bagaimana Mangindaan seterusnya." ucap Mimi lirih dan gak terasa air mata nya menetes lagi.


Menyesal akan ucapan dan keputusan? tidak Mimk tidak merasakan hal itu. Dia akan lebih menyesal bila hubungan nya dilanjutkan namun !melihat orangnyanh disayangi menanggung buah pahit kebahagiaannya itu.


Mimi menatap langit yang cerah berangsur mendung, angin mulai berhembus. Mimi menarik nafasnya dalam.


"Ya Allah tuntunlah hamba," ucap Mimi dengan memejamkan matanya. Setelah itu Mimi mringkuk menaruh kepalanya dan menenggelamkannya di antara dua lututnya.


Sakit itu yang dia rasakan saat ini, sepi tiada teman yang bisa menemani nya. Sahabat-sahabatnya sudah pulang ke kampung halaman.


Saat Mimi merasapi kejadian demi kejadian dalam hidupnya, Mimi merasa ada seseorang duduk di sampingnya. Mimi tak menganggapi orang tersebut.


"Jika ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan karena itu akan membuat dada mu sesak." ucaonya tapi Mimi tetap tidak menggubrisnya.


"Jangan pernah meratapi satu orang sehingga mengabaikan orang yang mendekatimu." sindirnya, Mimi masih tidak menanggapi omongan orang tersebut. Taknlaama terdengar suara gemuruh di langit menandakan hari akan turun hujan.


Mimi mengangkat kepalanya dan melihat ke arah langit yang sudah mulai gelap itu.


Mimi seakan linglung karena mulai saat ini dirinya hanya sendiri. Tidak ada lagi tempat untuknya berbagi, tidak ada lagi tempat untuknya berkeluh-kesah, tidak ada lagi tempat untuknya bermanja-manja. Saat ini, mulai saat ini inilah Mimi Akifah mahirah seorang mahasiswi yang merantau mengadu nasib dalam ilmu pengetahuan.


Berkali-kali Mimi menarik nafasnya yang terasa sesak, itu tak luput dari pandangan seseorang yang duduk disampingnya.


Ada rasa takut didiri Mimi, dia takut apa dia bisa menjalani kehidupan di perantauan ini seorang diri. Mimi ingin berteriak atau mengeluarkan rasa sesak di dada nya. Mimi memukul dada yang terasa sesak itu.


"Jangan kqunsiksa dirimu seperti itu, itu tidak akan membuatmu lega." ucap seseorang itu, Mimi melihat ke arah samping dilihatnya orang tersebut yang tersnyum. Walau Mimi pernah berkenalan dan bertemu dengannya, Mimi ingat siapa orang tersebut.


Yah dia adalah Sa'id Abdillah, orang yang pertama kali Mimi tabrak saat dia masuk universitas undipo ini.


Mimk hanya menatapnya sekilas dan Mimi hanya diam saja serta melihat ke arah depan.


"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega, jangan kau tahan." ucapnya seraya menatap lurus ke depan.


"Jika perlu sandaran, jadikanlah pundakku untuk sandaran mu." ucapnya. Mimi masih dalam diamnya dan menutup matanya.


Sejujurnya memang saat ini dia sangat membutuhkan sandaran tapi dia juga tidak mau ke sembarang orang. Apa lagi dia bukan tipe orang yang mudah menceritakan masalah nya pada orang lain.


Suasana hati yang sedang tak menentu, ingin rasanya dia pulang dan memeluk emaknya. Ingin dia meluapkan segala kesedihannya pada orang yang malahirkannya.


Mimi diam dan diam hanya pikirannya yang berkecamuk sehingga membuatnya sedikit pusing. Mimi kembali menundukkan kepalanya di kedua lututnya.


Kepingan-kepingan kejadian sebelumnya kembali mengitari otaknya. Berulang kali pula dia menghelakan nafas beratnya.


"Ya Allah bangun hamba, bantu tenangkan hati hamba. Jaga lah dia, berikanlah dia kesehatan." doa Mimi dalam hati untuk dirinya dan untuk orang yang dengan ikhlas di lepaskan nya.


Ikhlas? entahlah, apa dia ikhlas atau tidak. Berat pasti berat mengambil keputusan itu, jalinan asmara yang mereka rajut bukan hanya setahun dua tahun melainkan sudah lima tahun.


Asmara yang direstui oleh kedua pihak orang tua harus kandas karena keegoan. Ego? apakah disini Mimi yang ego atau sang kakek dengan kegoannya.


"Maafkan Mimi kak." ucapnya lirih.


"Maafkan Mimi." ucaonya lagi, Dillah yang mendengarkan nya disamping turut iba.


Yah Dillah melihat Mimi dari awal Mimi masuk hingga perpisahan itu walau Dillah tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Namun Dillah tau bila mereka berpisah karena dilihat cowok Mimi dan kedua orang bersamanya meninggalkan Mimi dan itu Mimi yang mengusir mereka.


"Begitu cintanya kamjndengan dirinya, tapi kenapa kau mengusirnya?" benak Dillah terus bertanya.


Tak lama Dillah mendengar isakan tangis dari orang disampingnya, yah Mimi terisak kembali. Ada rasa bersalah di hatinya !mengambil keputusan itu ada rasa takut di hatinya.


Mimi takut terjadi sesuatu pada Syahril, apa lagi Syahril pasca operasi dan masih dalam !asa pemulihan. Mimi baru teringat akan hal itu saat ini. Namun jika dia tunda maka semua juga tidak akan baik-baik saja.


"Hiks hiks hiks hiks, ampuni aku ya rabb, ampuni aku." ucap Mimi lirih di balik isaknya.

__ADS_1


"Menangislah.. Bila itu dapat menenangkan hati mu. Jangan kau tahan karena itu dapat menyiksa batin MU." ucap Dillah, Mimi mengangkat kepalanya dan melihat kearah samping nya dengan deraian air mata.


Dillah yang melihat Mimi berserakan air mata memberikan sapuntangannya pada Mimi.


"Jika masih ingin menangis, menangislah sepuas hatimu setelah itu hapuslah air mata mu. Jangan lagi kau keluarkan air mata itu, tataplah kedepan masa depanmu masih panjang." ucapnya dengan tangan masih mengulurkan sapu tangannya yang belum di ambil oleh Mimi.


"Sapu tanganku bersih kok, ini ambil. Hapuslah air mata mu itu, lihat matamu semakin bengkak akibat kau menangis. Apa kau tidak kasihan dengan mata indahmu itu?" ucap Dillah dengan guyonannya.


Perlahan Mimi pun mengambil sapu tangan merah ati itu, Mimi pun menghapus air matanya namun semakin dia hapus semakin deras air matanya mengalir.


Entah punya keberanian apa, Dillah yang melihat Mimi semakin terisak sambil menghapus air mata dia mengulurkan tangannya dan menarik tubuh Mimi untuk di dekat nya.


"Menangislah." ucapnya dengan mendekap kepala Mimi di dadanya.


"Mimi pun menangis menumpahkan kesedihannya di dada Dillah.


Yogi, Reno dan Satria melihat Dillah melakukan hal itu tercengang.


"Wah sob garcep juga tuh Dillah." ucap Yogi.


"Iya gile bener dah tuh anak ngebet banget mau meluk Mimi." ucap Satria tak kalah hebohnya dengan menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Reno hanya melihatnya saja tanpa berucap apa-apa. Mereka semua tau pasti Mimi juga sangat membutuhkan sandaran untuk kesedihannya. Mereka juga tau jika Mimi sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Hari ini seakan mereka adalah saksi hidup akan kesedihan Mimi, Saksi hidup akan perpisahan Mimi dengan sang cowok. Tak hanya mereka, taman yang baru buka ini pun saksi dari perpisahan mereka.


"Lo mau kemana Ren?" tanya Satria ketika !melihat Reno beranjak pergi.


"Mau beli minum." jawab Reno singkat dan terus berjalan.


Reno membeli beberapa botol minuman mineral dan beberapa botol mkpinjman kaleng dari penjual di luar.


Reno membawa minuman itu masuk dia terus berjalan tali tujuannya bukan dimana dia duduk sebelumnya namun dia terus berjalan mendekati Mimi dan Dillah.


Setelah sampai dekat Mimk dan Dillah, Reno duduk di samping Mimi.


"Danau yang indah, tapi sayang danau yang indah ini tidak ada kecerahan di dalamnya." ucap Reno dengan gombalannya.


Mimi tersentak dan menjauhkan kepalanya dari dada Dillah.


"Tidak apa." jawab Dillah namun hati Dillah merutuki Reno yang menganggu momen nya.


Dillah menatap Reno dengan sorot mata yang tajam, Reno hanya acuh dan memandangnya arah danau.


"Ini minum dulu, tubuh juga butuh cairan ala lagi cairan yang ada di tubuhmu sudah dikeluarkan sedari tadi." ucap Reno dengan memberi sebotol minuman mineral. Mimi hanya melihatnya dan enggan untuk mengambil.


"Tenang aja nggak aku kasih racun kok, ayo di ambil. Pegal nih tangan kakak." ucap Reno me!Aksa Mimi untuk mengambil minuman di tangannya. Perlahan Mimi mengangkat tanganya dan mengambil minuman itu.


"Nah gitu dong, di minum gih pasti haus kan. Jangan sampe dehidrasi akibat putus cinta." ucap Reno lagi yang berniat bercanda tapi membuat Mimi bersedih.


"Eh maaf, bukan maksud aku menyinggung itu." ucap Reno saat melihat Mimi kembali menitikkan air mata.


"Nggak apa-apa kak, makasih." ucap Mimk dengan memutar perlahan tutup botol air mineral itu.


Berulang kali Mimi menckba membukanya namun itu tutup tak mau terbuka juga. Enatah tutupnya yang terlalu erat atau Mimi yang sudah tak bertenaga. Dillah yang melihat Mimi kesusahan membuka tutup botol nya, Dillah mengambil botol itu dari tangan Mimi dan dia membukanya dengan sekali putar.


"Nih." ucap Dillah dan memberi botol itu ke Mimi lagi. Mimi mengangguk dan menerimanya.


"Terimakasih." ucap Mimk dan !meneguk air itu hingga setengahnya. Reno dan Dillah melongo melihat Mimi minum hingga setengah botol.


"Wah ternyata kamu haus banget ya?" canda Reno dengan senyum, Mimi melihat Reno dengan cemberut, Dillah maupun Reno melihat Mimi cemberut merasa lucu dan gemesin di tambah mata mimi yang bengkak.


"Hahaaa lucu banget sih kamu dek." ucap Reno dengan ketawa


"Apa nya yang lucu." ucap Mimi dengan cemberut.


"Orang putus cinta kan juga perlu minum, haus tau nangis terus." celetuk Mimi dan itu semakin !membuat Reno ketawa ngakak, Dillah hanya tersenyum mendengar celetukan Mimi.


Yogi dan Satria yang ditinggal reno berdecak kesal dan akhirnya mereka pun ikut bergabung bersama Mimi.


Langit semakin redup menandakan waktu Maghrib akan segera tiba, tak lama suara mengaji di masjid terdengar , yok kita ke masjid, bentar lagi maghrib." ajak Dillah kepada yang lain.

__ADS_1


"Iya ayok, sedih boleh tapi jangan lupa sama kewajiban." sindir Reno yang memang melihat Mimi dari Dzuhur dan ashar tak beranjak dari tempat nya.


"Kalian saja, Mimi masih mau disini." ucap Mimi.


"Emang nggak sholat?" tanya Dillah dan Mimi hanya mengangguk.


"Udah ikut aja, nggak baik anak gadis disini sendirian apa lagi lagi M, ayok." ucap Reno dan mengajak Mimi.


Mimi pun tiba-tiba merasa merinding, dia pun mengangguk dan mengikuti para lelaki menuju masjid yang tak jauh dari taman.


Disaat mereka melangkahkan kaki, hujan pun turun mengguyur mereka. Mereka sontak berlari cepat agar segera sampai masjid, sekua t apa pun mereka berlari tetap basah karena jarak masjid yang lumayan juga dari taman.


Mereka harus keluar taman dahulu baru berbelok ke kanan untuk menuju masjid.


"Mending kita ambil mobil saja." tariak Yogi.


"Iya, kita ke ruko aja dulu " seru Satria tak kalah berteriak karena hujan semakin deras.


Jadilah mereka menuju ke ruko depan taman. Dillah menggandeng Mimi hingga mereka sampai ke ruko.


"Huh, kenapa tiba-tiba hujan deras sih " gerutu Yogi dengan mengibaskan pakaian basahnya.


"Iya gimana mau sholat basah kuyup gini." sahut Satria yang juga mengibaskan tangannya ke baju.


"Namanya hujan, emang dia harus minta izin dulu sama kalian." sahut Reno.


"Jadi gimana?" tanya Satria.


"Kalau kita ke masjid sekarang yang ada masjid basah karena ulah kita." ucap Yogi.


"Yaudah kita ke apartemen Dillah aja, kan dekat dengan daerah sini." ucap Reno !memberi usul dan mereka pun setuju.


"Giman Mi?" tanya Dillah yang!elihatbmimi hanya diam.


"Emm." mimintakmperlu bisa memberi jawaban nya, karena Mimi tidak biasa ke rumah cowom yang baru dikenal nya.


"Tenang, aman kalau sama kita." ucap Yogi meyakinkan lama Mimk berdiam akhirnya miminoun mengangguk dan menyetujuinya.


Ya Mimk setuju karena jika dia tinggal disini sendirian dia pun takut walau tak mungkin mereka akan meninggalkan nya sendirian.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke apartemen Dillah yang jarang nya tidak begitu jauh dari daerah sini sekitar tiga puluh menit.


Dillah mengambil mobilnya dan dia pun menghentikan mobilnya tepat di depan mereka. Kebetulan mereka hari ini hanya memakai satu mobil.


Dillah keluar mobilnya dengan membawa jaket nya, karena tanpa dia sengaja Dillah melihat baju Mimi yang basah dan menampakkan lekuk tubuhnya.


Dillah memakaikan jaketnya asal ke tubuh Mimi untuk menutupi lekuk tubuh Mimi, Saat Dillah memakaikan jaket itu Mimi melihat ke arah Dillah dan tanpa sengaja mereka bersitatap.


Dillah tersenyum dan mengangguk, Mimi lun mengangguk.


"Makasih." ucap Mimi ketika jaket itu sudah menutupi lekukan tubuhnya nya. Dillah merangkul Mimi dan membawa Mimi ke mobilnya.


Dillah membuka pintu mobil bagian depan dan mempersilakan Mimi masuk. Mimi pun mengangguk dan masuk kedalam mobil.


Tindakan yang dilakukan Dillah tak luput dari pandangan ketiga sahabat nya. Ketiga sahabat hanya menggelengkan kepala dan mengikuti Dillah menuju mobil. Mereka pun segera meninggal kan tempat itu.


Suasana di dalam mobil hanya ada keheningan tidak ada yang mau mengeluarkan kata demi kata untuk memecahkan keheningan itu.


Satria yang biasa heboh pun hanya diam, dia diam melihat ke arah Dillah yang selalu melirik ke Mimi, begitu pula dengan Yogi dan Reno. Mereka hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah Dillah yang memperhatikan Mimi dalam diam.


Mimk hanya duduk diam sambil memeluk jaket Dillah karena dia merasa kedinginan. Dingin karena baju yang basah dan terkena terpaan ac. Walau Mimi mengarahkan ac tersebut ke tempat lain tetap rasa dingin itu ada.


"Dil, mending matiin aja deh ac nya." ucap Reno yang melihat Mimi kedinginan.


"Iya Dil, dah tau dingin gini ac tetap di hidupin." sahut Satria.


"Betul banget, ini dingin bukan karena hujan di luar aja Dil, tapi karena baju kita basah ditambah terkena ac." ucap Yogi. Dillah pun mematikan ac nya.


"Nah coba dari tadi keg, ya nggak Mi?." sungut Satria yang duduk ditengah yang emang posisinya langsung terkena ac dari depan.


"Iya." jawab Mimi, Dillah hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya. Entah mengapa Dillah tidak merasakan kedinginan yang di rasakan saat ini adalah hangat dan hangat.

__ADS_1


tbc


Assalamualaikum, selamat pagi, selamat beraktifitas. Terimakasih tas segala dukungannya, terimakasih akan komentar yang diberikan dan terimakasih atas koreksi atas tulisan authore yang banyak typo. Selamat membaca.


__ADS_2