
Sesuai rencana keesokan hari nya mereka akan pergi menjelajahi destinasi wisata tersembunyi di daerah ini yaitu bukit batu.
Malam ini pertama kalinya mereka berkumpul di rumah Mimi, Rame itulah yang kini dirasakan Mimi dan kedua orang tuanya.
Yang biasa mereka cuma bertiga dengan Ay di tambah rumah no dua paling ujung jalan tepatnya tiga rumah di blok rumah orang tua Mimi namun dua rumah yang paling ujung rumahnya berhadapan di bongkar karena sioemilik rumah menjadikan lahan perumahan tersebut sebagai kebun sawit.
Malam hari seperti malam sebelumnya kami semua berkumpul di luar cuma kali ini kami tidak bisa membuat api unggun di tengah halaman karena tempat itu jadi tempat parkir mobil.
Makwo depan rumah depan rumah datang ke rumah Mimi dengan mengantar dua kantong plastik rambutan dan setengah dari sebuah nangka matang.
"Assalamualaikum," ucap makwo dengan tergopoh-gopoh berjalan kearah kami.
"Waalaikum salam." jawab kami serentak.
"Ini mi, tadi bang Jhon kau nurunin rambutan nah ada dua kantong plastik makwo tinggalin buat Mimi, di rumah juga ada buah nangka bisa Syahril ambilkan di rumah makwo" Ucapnya dengan menyerahkan dua kantong plastik jumbo rambutannya.
"Oh boleh makwo, biar Syahril yang ambilkan" jawab kak Syahril.
Makwo ini suaminya pensiunan kopral dan dia disini hidup berdua dengan suaminya, anak-anak mereka hidup di rumah masing-masing yang jauh dari desa kami, ada yang tinggal di kota Jambi, di kota pedang dan ada tinggal di Kuala Tungkal.
Makwo sangat dekat dengan kedua orang tua Mimi dan dia menganggap Mimi dan adiknya sebagai anaknya. Maka dari itu kalau setiap Mimi liburan dan jika musim buah dia selalu mengantarkan ke rumah atau bila mamak ke Jambi jika musim buah maka dia akan nitip ke mamak buat Mimi.
Syahril pergi kerumah makwo dan disana sudah ada pakai yang sedang duduk di kursi sambil menonton tv.
"Assalamualaikum pakwo." ucap kak Syahril.
"Waalaikum salam, ada apa Riil?" jawab pakwo dan pakwo juga. bertanya kepada Syahril.
"Ini pakwo Syahril disuruh makwo ambil buah nangka." ucap kak Syahril.
"Oo buah nangka disitu Riil di atas meja, ambil aja sendiri ya penyakit pakwo lagi kumat ." ucap pakwo.
"Iyo pakwo, Ariil ambil ya." jawab Kaka Syahril dan langsung masuk menuju meja yang berada diruangan itu.
"Pakwo, sudah Ariil ambil Aril bawa ya pakwo." ucap kak Syahril.
"Iya Riil, oh ya Riil suruh makwo pulang ya." ucap pakwo.
"Iyo pakwo, Aril balik ke rumah dulu makasih pakwo assalamuakaikum." ucap kak Syahril.
"Waalaikum salam." jawab pakwo.
Kak Syahril pun kembali kerumah Mimi dengan membawa setengah dari sebuah nangka yang besar.
"Waaw makwo besar nangkanya." ucap Ryan.
"Iya Yan, ada dua yang masak tadi satu di bawah bang Jhon kau ke Kuala nah setengah buat makwo dan buat kamu." jawab makwo ikut memakan gorengan.
"Oh ya makwo pakwo nyuruh makwo pulang." ucap Kaka Syahril.
"Aiss pakwo kau tu dak bisa nian liat makwo lama dikit disini." ucap makwo.
"Yaudah makwo pulang dulu." ucap makwo pamit dan hendak melangkahkan kaki namun di berhentikan oleh Mimi.
"Makwo tunggu." ucap Mimi yang masih berjalan dari arah dapur menuju teras rumah dengan membawa sepiring pempek yang baru di gorengnya.
"Iya Mi,ada apa?" tanya makwo.
"Ini buat makwo sama pakwo." ucap Mimi dengan memberikan sepiring pempek beserta cuka yang di bungkus kedalam plastik.
"Wah makasih Mi, ini pasti Mimi buat sendiri." ucap makwo.
"Hehe biasalah makwo lagi kepengin." jawab Mimi.
"Yaudah makwo bawa ya, makasih." ucap makwo dan diapun berlalu pulang kerumahnya.
Kami semua masih menikmati pempek udang dan rambutan.
"Emm nangka ini enaknya di buat es buah dek." ucap Syahril.
"Iya nih es buah malam-malam gini seger" sahut Ryan dan di sahuti mereka semua.
"Huh.. banyak maunya." ucap Mimi dan berlalu masuk untuk mengambil sisa gorengan pempeknya.
"Es buah nya besok aja" kata Mimi kembali lagi ke teras dengan membawa sisa pempek buatan para cewek.
"Iya malam ini yang ada aja dulu, jangan tau nya makan aja." sahut kak Rani.
"Nah besok turunin lagi dogan buat campuran es buahnya." ucap mamak yang ikut nimbrung.
"Emm pak, kapan bapak panen sawit lagi?" tanya Syahril.
"Sabtu Riil jatah blok bapak." jawab bapak.
"Yaudah kalau gitu kita undur Minggu aja ya pulangnya." usul Ryan.
"Iya kita undur Minggu sore aja." sahut Rudi.
"Iya bagus juga itu, kita bantu bapak dulu Sabtu ini." sahut Andri.
"Emang kalian bisa apa panen sawit?" tanya Rendi.
"Bisa lah kita gitu loch!" ucap Rudi dengan bangganya menepuk dadanya.
"Iya bisa bawanya aja." sahut Ryan.
"Heleh kalau bawa nya aku juga bisa." ucap Rendi.
"Beneran Rend? ucap Syahril.
"Kecil mah cuma sawit doang." jawab Rendi meremehkan.
"Oke kita taruhan gimana?" ucap Ryan menantang Rendi.
__ADS_1
"Siapa takut!" ucap Rendi yang masih meremehkan.
"Oke siapa lagi nih yang mau ikutan?" tanya Ryan.
"Aku." jawab Arfan.
"Aku" jawab Erwan
"Aku" jawab Ridho
"Oke, kau Ndak ikutan Dho?" tanya Syahril kepada bang Idho.
"Ndak aku Ndak ikutan karena aku tau kok gimana buah sawit." jawab bang Idho dengan senyum.
"Oke kita taruhan, kalian bisa bawa berapa buah dalam satu troli/angkong ini sekali angkut nya." ucap Andri dengan membawa angkong dari belakang.
"Hah, emang bawa buah sawitnya pakek itu?" tanya Rendi.
"Ya iyalah masa ya iya dong." ucap Rudi.
"Aku bisa bawa 20." ucap Rendi dengan songongnya.
Andri Ryan Syahril Rudi dan bang Idho hanya melongo, dikiranya buah sawit itu kecil kali ya.
"Aku sama." jawab Arfan.
"Aku juga." jawab Erwan dan Ridho.
"Oke kalau kalian ndak bisa bawa segitu apa taruhan kalian?" tanya Syahril.
"Emm selama seminggu aku traktir kalian." ucap Erwan.
"Aku isi minyak mobil kalian berdua aja deh pulang ke jambinya." ucap Ridho.
"Gue kasih 10jt." ucap Arfan.
"Sama gue juga." ucap Rendi.
"Oke deal ya." ucap Ryan, Andri, Rudi, Syahril dan bang Idho dengan senyuman yang tak mengenakkan karena mereka telah mencoba paling banyak mereka hanya mampu membawa 12 janjang buah sawit itupun sering jatuh-jatuh buahnya.
"oke deal" ucapan Rendi dengan mengulurkan tangannya pertanda taruhan di sepakati.
"Oke." jawab mereka semua dengan mengulurkan tangan yang tersusun satu sama lain seperti main hompimpah.
"Eh tapi besok kita pergi jam berapa dan bawa apa aja?" tanya kak Jenie kepada kami semua.
"Emm kita berangkat jam satu atau habis dzuhur aja, karena kata bapak jarak tempuh ke sana sekitar 2-2.5 jam dari rumah belum lagi masuk ke area dalam menuju bukitnya." ucap Mimi.
"Kalau jam satu berarti sampai sana sekitar hampir jam empat atau jam limaan dong." jawab Rani.
"Iya kak, ya mudahan besok tidak hujan." ucap Mimi.
"Oo masuk ke dalam nya jauh nggak mi?" tanya Arfan.
"Wah padahal belum terealisasi tapi dah ada pos jaga." ucap Rendi dengan manggut-manggut.
"Emang belum terealisasi oleh pemerintahan daerah kak, karena belum banyak yang tau. Ya yang datang hanya anak-anak muda sekitar dan anak-anak mahasiswa dari Kuala dan kota Jambi aja." jelas Mimi.
"Wah kau sudah terealisasi dan sudah di tetapkan sebagai tempat wisata pasti bakal ramai dan biaya masuk lebih mahal dong, tapi bagus juga jadi ada pemasukan buat kas daerah." ucap Erwan.
"Iya bang, kalau saat ini masih gratis tapi ndak tau juga kalau ada preman kampung malakin kita ntar hehehe karena kan sudah viral." jawab Mimi.
"Lah kalau gratis terus pos jaga itu buat apa?" tanya Arfan.
"Oh itu pos jaga dari perusahaan kak, karena itu termasuk wilayah perusahaan terbesar disini naungan S*narm*s, ya jadi setiap memasuki wilayahnya pasti ada pos security nya." jelas Mimi.
"Oo jadi bukit batu punya S*narm*s juga?" tanya Rendi.
"Kalau itu Mimi kurang tau kak, yang jelas wilayah perusahaan itu luas, nah disekitar tempat itu kan ada wilayah PT." jelas Mimi.
Author nya sok tau ya guys, ya tau lah sedikit karena authore tinggal di wilayah ini dan suami authore kerja disini hehehe.
"Wah keren ya Sin*rm*s banyak lahan nya." ucap Rendi.
"Ya gitu lah." ucap Mimi.
Karena malam semakin larut mereka pun memutuskan untuk istirahat.
Dan malam ini kamar Ay dipakai untuk kak Rani, kak Jenie, Manda, Novi dan Sila.
Di kamar Mimi ada Diah dan Emma karena kamar Mimi pakai ranjang jadi muatnya dikit sedangkan kamar Ay tak pakai ranjang jadi bisa di bentang kasur santai disana.
Kemana Ay? Ay ngungsi tidur sama mamak dan bapak di kamar belakang.
Para cowok tidur di ruang tengah dan ada juga tidur bersama Ari dikamarnya.
Adzan subuh berkumandang kami semua sudah terbangun dan bergantian masuk kamar mandi untuk berwudhu dan kami juga bergantian sholat subuh nya.
Setelah sholat Mimi membuka hp nya dan ternyata ada chat wa dari Tante Zia dia memberitahukan kalau Acik udang akan naik di malam Kamis dan malam Jum'at.
Setelah membaca pesan tersebut Mimi langsung keluar kamar akan memberitahukan kepada kak Syahril.
Saat Mimi keluar Kak Syahril pun telah selesai sholat dan Mimi segera mendekat ke arah nya.
"Kak, Kakak jadi beli udang nya?" tanya Mimi kepada Syahril.
"Jadi dek, jadi kapan bapak itu turun." jawab kak Syahril dengan membuka sarungnya.
"Nih tadi Tante Zia wa katanya Acik udang naik di malam Kamis dan malam Jum'at." Mimi memberitahukan ke Syahril dengan menunjukkan hp nya ke Syahril.
"Maksudnya naik itu apa dek?' tanya Syahril yang tidak tau maksudnya.
"Maksudnya Acik udang itu angkat bladnya di malam Kamis dan malam Jum'at kak." jelas Mimi.
__ADS_1
"Oo yaudah, tapi kan malam ini kita di bukit batu dek." ucap Syahril.
"Ya kita bisa jemput jumatnya kak pas air pasang atau kita juga bisa lewat jalur darat tapi keliling." ucap Mimi.
"Emm gimana kalau kita habis dari bukit langsung kesana aja Mi?" usul Andri.
"Iya Mi, kita kan pagi Kamis pulang dari bukit nah kita langsung aja ke rumah pakdo." ucap kak Rudi.
"Bagus juga karena rumah pakdo lebih dekat dari bukit batu jadi kita langsung aja ke sana, nanti Mimi kasih tau Tante Zia. Tapi.." ucap Mimi terputus karena dia bingung mau bicara apa.
"Tapi apa dek?" tanya Syahril.
"Tapi kita Ndak bisa nginap kak, kalau kita pergi semua. Kakak kan tau mess pakdo gimana." jawab Mimi.
"Ya kita sehabis ambil udangnya kita langsung pulang aja dek." ucap kak Syahril.
"Iya Mi, sehabis ambil udang langsung pulang aja gimana?" Andri menimpali.
"Bisa tapi kita lewat jalan keliling kak apa ndak apa." tanya Mimi.
"Coba tanya Tante Zia malam nya jam berapa?" yah kalau sekiranya tengah malam baru naik bapaknya kita otomatis subuh baliknya. Karenakan mesti dipilih juga udangnya." ucap Syahril.
"Iya bentar Mimi wa." jawab Mimi dan langsung kirim pesan melalui wa ke no Tante Zia.
"Mi, kita sarapan apa nih pagi ini?" tanya Di'ah.
"Emm kita masak mie goreng aja gimana?" tanya Mimi dan ternyata disetujui semua orang yang ada.
"Oke kalau setuju kita masak mie goreng aja, dan kebetulan udang yang ukuran sedang juga masih ada jadi kita buat mie goreng seafood aja." ucap Mimi.
"Oke lah yok kita eksekusi." Ajak Emma.
"Ayoo." ucap Manda, Novi dan yang lain.
"Yaudah kak, Mimi bantu yang lain buat sarapan." ucap Mimi dan berlalu menuju ke dapur bergabung dengan mereka.
Sesampainya di dapur kami telah berbagi tugas, ada yang mengiris bawang merah, bawang putih serta cabai. Ada yang mengupas kulit udang, ada yang menyucikan sawi dan ada juga yang merebus mie instan nya.
Mimi melihat isi magic com ternyata kosong dan Mimi pun menanak nasi, karena kebiasaan orang kita walau makan mie yang mengandung karbohidrat tetap menambah karbohidrat lagi yaitu nasi.
Setalah menanak nasi ke dalam magic com Mimi langsung masak telor mata sapi sebagai temannya mie goreng mereka.
Setalah semua beres di kerjakan kak Rani mulai menumis bumbu iris dan setelah itu dimasukkannya udang setelah itu dimasukkan mie instan yang telah di aduk dengan bumbunya dan terakhir daun sawi serta daun bawang yang sudah di iris, kak Rani mengaduk rata semua nya.
Karena rame jadi masakan kali ini memakai wajan besar biar tidak memasak dua kali mie nya.
Empat puluh menit berkutat di dapur akhirnya sarapan mereka pun siap dan tinggal membuat air teh dan kopi setalah itu kami pun menyajinya tak lupa nasi.
Sarapan kali ini tidak ada satupun yang sudah mandi kecuali mamak, karena mamak telah biasa mandi subuh sebelum sholat mamak selalu mandi terlebih dahulu.
"Hahaha kita pada jorok ya, belum mandi langsung makan." ucap Rendi dengan tertawa.
"Nanti aja mandinya Rend, sehabis sarapan yang penting udah cuci muka dan sikat gigi." sahut Rudi yang sudah mengunyah mie plus nasi.
"Gini lah kita walau makan mie yang bercarbo tapi tetap menambah carbo." ucap Syahril dengan menambah nasi ke dalam piringnya.
Nasi semagiccom, mie goreng sebaskom stainless ludes tak tersisah, Mie goreng yang dimasak sebanyak 30bungkus yang makan hanya 20 orang termasuk Ay tak tersisah.
"Alhamdulillah, begitu nikmat sarapan pagi ini." ucap Rendi.
"Iya Ren betul kata Lo." Jawab Arfan.
"Jadi selama kalian disini makanan seperti ini ya?' tanya Erwan.
"Ya beginilah Wan, kami selalu makan enak walau menu sederhana." ucap Syahril.
"Pantas kalian gemukan kulihat." ucap Ridho.
"Kalau kita lebih lama disini dah jadi bos-bos ya perutnya besar." ucap Rendi dengan memegang perutnya.
"Hahaha Lo aja Rend bos-bos perut besar gue mah ogah." sahut Ryan.
"Yaudah kita mandi yok ke sumur." ajak Syahril.
"Eh nanti aja kak." ucap Mimi yang akan mengangkat piring bekas sarapan tadi.
"Kenapa Mi?" tanya Arfan.
"Soalnya disumur tetangga sebelah masih pakek." jawab Mimi.
"Oh iya kalau jam segini tetangga masih pakek buat cuci baju." ucap Syahril.
Dan akhirnya mereka pun mandi di jam sembilan pagi.
****
Assalamualaikum Alhamdulillah dokter jantungku up di sore hari, maaf ya riders.
Jangan lupa selalu beri dukungannya dan tinggalkan Krisan nya di kolom komentar
Jangan lupa pula tinggalkan
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
TERIMAKASIH
__ADS_1