
Mimi dan Syahril terus berjalan melewati jalanan yang kiri kanannya terbentang hamparan padi.
"Kak, kita lewat depan sana aja ya. Lewat yang ada rukonya itu." ucap Mimi.
"Jauh dek, kita malah mutar nanti menuju rumah" jawab Syahril.
"Memangnya mau beli apa?" tanya Syahril dengan membenarkan bawaan nya.
"Belum tau mau beli apa nya," jawab Mimi.
"Hah, belum tau kenapa mau kesana? emang bawa duit!" ucap Syahril.
"Ada lima lembar di kantong." jawab Mimi.
"Nanti aja kalau mau beli-beli, kakak juga mau masuk kerja njh." ucap Syahril.
"Emm iya lah." jawab Mimi. Syahril tersenyum melihat Mimi cemberut.
Bukan Syahril tak ingin menuruti kemauan Mimi, karena waktunya sangat mepet bila mereka lewat sana Mereka harus berputar arah atau keliling untuk sampai rumah.
Sedangkan syahril harus berangkat ke Puskesmas dengan segera, tak hanya itu saja yang pasti tangannya sudah pegal membawa hasil panen yang bisa si maafkan satu tim dokter nya itu.
Sesampainya di rumah, Mimi melihat Ryan yang sudah siap dengan pakaian kerjanya begitu juga dengan Di'ah yang sudah rapi.
Ryan dan Di'ah melongo melihat dua anak manusia yang baru pulang membawa sayuran dan menenteng beberapa
kantong plastik.
"Kalian dari merampok?" tanya Ryan,
"Iya" jawab Syahril dengan terus membawa bawaannya ke belakang.
Setelah menaruh barang bawaannya Syahril langsung beranjak mengambil handuk dan segera masuk kamar mandi. Sedangkan Mimi langsung menuju belakang rumah yaitu teras di belakang untuk membersihkan ikannya dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Mi, ikut ke Puskesmas ndak?" seru Di'ah, Mimi melihat ke Di'ah dan menggeleng.
"Emm yaudah aku duluan ya." ucapnya dan Mimi mengangguk.
Setelah Di'ah pergi Mimi kembali memilah ikan bawaannya tadi, yang hidup akan Mimi sisihkan dan akan dimasukkan kedalam ember untuk lauk besok pagi.
Ada beberapa ikan lele dan ikan gabus mati itu yang Mimi siangi ( bersihkan).
Tak lama Syahril ya gbtelah selesai mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggang nya mencari keberadaan Mimi.
"Dek" seru nya, Mimi pun kembali melihat ke sumber suara.
"Ikut ke Puskesmas ndak?" ucap Syahril sembari mendekati Mimi.
"Ndak kak, Mimi di rumah saja masak." jawab Mimi.
"Emm adek marah?" tanya nya, Mimi menggeleng.
"Kalau tidak marah kenapa diam gitu?" tanya Syahril lagi.
"Siapa yang marah, terus Mimi harus bagaimana? mimi kan lagi nyiangi ikan masa iya nyiangi ikan sambil ngomel." ucap Mimi dengan terus membersihkan ikan nya.
"Ikut ke Puskesmas aja yuk." ajak Syahril.
"Ndak kak, kalau Mimi ikut ini ikan gimana? Di rumah ini kan tidak ada kulkas."
"Mimi dirumah aja, masak makan siang buat kalian." ucap Mimi dengan tangan terus berkerja.
Setelah semua ikan selesai dibersihkan, Mimi oun segera mencucinya dan tempat dimana dia menyiangi ikan tadi pun segera di cucinya.
Semua ikan telah beres tinggal di kasih asam garam dan di goreng. Mimi beranjak masuk ke dalam dan meninggalkan Syahril yang masih diam memandangi Mimi yang bersikap cuek padanya.
Syahril menghela nafasnya, dia tau kalau Mimi sedang marah dengan nya karena tidak menuruti kemauannya.
Saat samlai di dapur Mimi jadi kebingungan dengan melihat peralatan di dapur ini tidak lengkap.
"Huh" ucap Mimi semakin kesal dan dongkol di hati nya.
"Mau masak saja ada saja yang kurang" ucap Mimi dengan mencari keberadaan garam di rumah ini.
"Apa ndak masak Di'ah beberapa hari ini, sampe ndak ada bahan-bahan dapur." sungut Mimi.
Syahril yang melihat Mimi dengan muka masam nya jadi mengerti kenapa Mimi meminta dia lewat jalan yang di tunjuk Mimi.
Yah selama dia di dusun ini juga jarang masak, palingan mereka masak nasi dan lauk pauknya merek beli.
Mimi yang tidak menemukan keberadaan garam, akhirnya Mimi menutup ikan yang sudah di bersihkan nya. Mimi berjalan melewati Syahril menuju kamar untuk mengambil handuk.
Syahril mengikuti Mimk sampe kedalam kamar. Syahril melihat Mimi mengambil pakaian kerjanya dan meletakkan nya di atas kasur, setelah itu Mimi kembali hendak keluar kamar dengan membawa handuk serta pakaian gantinya.
Syahril melihat Mimi yang tidak juga menegurnya dan menciuminya pun langsung menutup pintu kamar sehingga Mimi tidak bisa keluar.
__ADS_1
Mimi menghelakan nafas melihat kelakuan Syahril yang menutup pintunya. Mimi tetap diam dan berusaha untuk me!buka pintunya namun di cegah Syahril.
"Kak buka, Mimi mau mandi." ucap Mimi. Syahril tidak menggubris dia terus memandang Mimi.
"Awas" ucap Mimi, entah mengapa Mimi merasa kesal sendiri.
Syahril memeluk Mimi erat dan menciumi kepala Mimi.
"Maafkan kakak kalau kakak salah." bisiknya.
"Kakak hari ini ada jadwal ke dusun sebelah untuk memeriksa ibu hamil disana." Ucapnya.
"Kamu ikut ya, ucapnya dan membalikan badan Mimi menjadi menghadap ke arahnya.
Mimi diam, Syahril melihat Mimk hanya diam langsung mencium bibirnya.
"Ih kakak, emmm" ucap Mimi, Mimi terus berontak untuk melepaskan diri dari Syahril. Namun Syahril tak menggubrisnya dan semakin memperdalam ciumannya. Syahril menarik tekuk Mimi dan dia terus menghujami ciumannya ke dalam mulut Mimi.
Sudah merasa puas syahril lun melepaskannya, Mimi menarik nafas dalam-dalam karena dia kekurangan pasokan oksigen.
"Dah sana mandi, jangan manyun terus tambah jelek." ucap Syahril, Mimi tambah memanyunkan bibirnya dan beranjak pergi dari kamar.
Saat mandi Mimi baru teringat kalau kemarin sewaktu belanja dia membeli garam dan antek-anteknya. Mimi oun mempercepat mandinya. Karena ulah Syahril tadi Mimi meluoakan bajunganti nya yang terlepas di lantai kamar.
"Aiss lupa pula." ucap Mimi.
"Mana baju tadi sudah kerendam lagi." ucapnya dengan melihat pakaian yang dia pakai tadi sudah terendam cantik dalam ember. Mimi menghelakan nafasnya dan akhirnya dia memasrahkan diri untuk keluar dengan memakai handuk dengan rambut yang basah.
Syahril yang baru selesai memakai pakaiannya dan melihat Mimi masuk tanpa memakai pakaian ganti hanya tersenyum. Ini kali pertama nya dia melihat Mimi hanya memakai handuk.
"Jangan di liatin " ucap Mimi dan segera !mengambil bajunya yang tergeletak dilantai dekat kasur. Syahril tidak menggubrisnya, Syahril semakin mendekati Mimi.
"Kak jangan macam-macam," ucap Mimi yang melihat pandangan Syahril penuh dengan gairah.
"Kak." ucap Mimi, Syahril memeluk Mimi erat dan menghirup dalam wangi dari tubuh Mimi.
"Lain kali jangan begini lagi, ini hanya punya kakak. Jangan sampe terulang apalagi dilihat laki-laki lain." ucap Syahril dengan mengecup leher Mimi.
"Achh kaaak " ucap Mimi ketika merasa Syahril mengecup dengan hisapan di leher balik telinganya.
Tak hanya satu Syahril mengecup berulang ulang dan Mimi terdengar leguhan dari Syahril yang seakan menikmati permainannya.
"Kak lepaass." ucap Mimi, Syahril pun melihat nanar ke wajah Mimi.
"Sabar kak," ucap Mimi dengan mengelus wajah Syahril.
Mimi baru bis bernafas lega, dirinya juga takut khilaf karena dia juga sempat terbuai dengan perlakuan lembut Syahril. Begitu pula Syahril langsung !engusap wajahnya.
"Ya Allah" gu!am Syahril, pagi ini keimanan nya di uji oelha Mimi yang hanya mengenakan handuk. Kemolekan tubuh Mimi seakan langsung tersimpan di benak dan pikiran Syahril.
"Ya Allah dek, kamu menguji kesabaran kakak." ucal nya dan segera menuju dapur untuk mencari sarapan.
Mimk sudah siap dengan pakaian dan dandan senatural mungkin.
"Cari apa kak?" tanya Mimi.
"Emang Di'ah nggak buat sarapan apa?" ucaonya tidak menemukan sarapan di atas meja.
"Bentar biar Mimi buatkan." ucap Mimi, Mimi membuka kardus belanjaan nya kemarin, Mimi mengambil garam dan langsung di lumuri ke ikannya tadi, tunggu beberapa menit Mimj langsung menggoreng nya.
"Dek roti yang adek beli kemarin masih?" tanya Syahril.
"Emm masih di kamar kak." ucap Mimi dan langsung mengambil roti di dalam kamar.
"Nih" ucap Mimi kemudian Mimi membuatkan kopi susu buat Syahril.
"Sudah ada garamnya?" tanya Syahril.
"Emm ada kemarin beli, lupa tadi." jawab Mimi dengan memakan sepotong roti dan Mimi celupkan kedalam susu hangatnya.
Setelah habis sepotong roti, Mimi melihat ikannya. Setelah uang digoreng pertama matang Mimi kembali memasukkan ikan kedalam wajan.
Sambil menunggu ikan ipyang di wajan masak, Mimi menggiling megiris cabe dan bawang nya. Sebenarnya Mimi ingin buat sambal ikan namun di rumah ini tidak ada penggiling.
Ikan semua telah selesai di goreng, Mimi lavsungbmenumks cabe yang sudah di irianya jadikan Mimi memasak sambal ikan cabe iris.
"Kakak mau makan nasi?" tanya Mimi.
"Emm iya dek, emang nasi dah masak?" tanya Syahril. Udah nih barusan. Yah Mimi saat menggoreng ikan swka!Ian menanak nasi.
Mimi menyajikan nai hangat dengan sambal ikan cabe iris.
"Cuma ini kak lauknya, sayurnya ndak keburu." jawab Mimi.
"Emm ndak apa dek." jawab Syahril dengan !mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Ini sambal atau apa?" tanya Syahril yang baru menyadari kalau sambal yang dimakannya beda.
"Anggap aja s!anak pecah " jawab Mimi.
"Penggilingan cabe ndak ada, bagaimana Mimi mau masak sambal. Kakak di ajak tadi ndak mau." ucap Mimi.
"Emm maaf, nnamgi kita belanja ya. Kamu lihat saja apa yang tidak ada di dapur ini." ucal Syahril.
"Emm" ucap Mimi mengangguk. Sehabis sarapan mereka berdua pun pergi ke Puskesmas.
"Kak pakai mobil aja, kakak dah terlambat juga." ucap Mimi.
"Iya dah terlambat 20 menit. " jawab Syahril, mereka pun pergi memakai mobil Mimi, Mimi tidak lupa membawa peralatan medis miliknya yang selalu dia bawa kemana-mana.
Sesampainya di Puskesmas, terlihat orang berlalu lalang untuk berobat. Puskesmas dusun ini tee!aauk puskemas yang besar tapi bukan induk. Puskesmas induk berada di kekecamatan.
Puskesmas ini mencakup 4 dusun di daerah ini, di 4 duun itu ada anak Puskesmas nya namun jika ada warga yang memerlukan medis lengkap maka larinya ke Puskesmas ini.
Mimi mengikuti langkah Syahril menuju rumah dokter, terlihat disana lara dokter sedang mengerjakan perkerjaan dan ada juga yang mulai bergerak akan masuk ke rumah prakteknya.
"Mi" panggil dokter Maya.
"Iya kak." jawab Mimi.
"Bantu kakak yok" ucapnya.
"Emang ada pasien jantung kak?" tanya Mimi lagi.
"Kemaren ada Mi, mungkin mereka akan datang lagi kesini hari ini karena kakak janjiin smaa mereka bisa meteu kamu hari ini." ucal dokter Maya ya g merupakan dokter spesialis penyakit dalam.
"Emang Ryan nsk ada ngomong?" tanya dokter Maya, Mimi menggeleng. Ryan yang namanya disebut hanya tersenyum ketika dokter Maya melihat ke arahnya.
"Lupa kak." sahut Ryan.
Hari ini miminoun membantu tim pra medis di Puskesmas ini. Tak lama apa yang dikatakan dokter Maya pun benar adanya. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang datang dan mengeluh jika dadanya sebekah kiri sering sakit.
Mimi dengan cekatan nya memeriksa pasien itu dengan menggunakan peralatan yang dia bawa. Mimi pun meminta orang tersebut untuk pergi kerumah sakit kota untuk melakukan rongent.
Mimi juga hanya memberi kan obat penahan rasa sakitnya dan meminta mereka untuk stop mengonsumsi makanan berlemak dan berminyak.
Syahril akhirnya pergi ke dusun sebelah untuk meninjau ibu hamil disana pergi dengan seorang suster, karena Syahril melihat Mimk juga sangat sibuk dengan pasien-pasien di Puskesmas. Tapi sebelumnya Syahril meminta izin terlebih dahulu pada Mimi.
Awalnya Mimi tidak setuju, namun Mimi harus mengenyampingkan masalah pribadi nya dan ini juga semua adalah sebuah kerajaan.
"Dek, jadinikut kakak!" tanya syahril saat Mimi senggang
"Mimi juga kebahagian pasien kak, tuh." ucap Mimk dengan menunjuk beberapa pasien yang sudah mengantri untuk memeriksa jantung nya.
"Yah jadi kakak pergi sama perawat aja nih." ucap nya.
"Perawatnya kami atau perempuan?" tanya Mimi.
"Ya perempuan lah dek, kan kakak memeriksa ibu hamil " ucap Syahril.
"Hemm!!" jawab Mimi.
"Kerja sayang." Ucapnya.
"Yaudah mau gimana lagi. Tapi awaas jangan macam-macam." ucap Mimi dengan menatap Syahril tajam.
"Ckk ndak selera dek, kalau sama adek baru " bisiknya.
"Aisss udah ah sana, hati-hati" ucap Mimi.
"Iya sayang." ucapnya dan mengulurkan tangannya, Mimi menerima uluran tangan itu dan mencium nya, syahril membalas mencium kening Mimi.
Perlakuan mereka berdua, di lihat gak hanya satu pasang mata namun di lihat beberapa pasang mata.
"Cieee," ucap perawat yang ada disana.
"Woy bermesraan ndak tau tempat." ucal dokter Ridwan.
"Hahaaa, by sayang." ucap Syahril dengan tertawa.
Mimi pun melanjutkan pekerjaannya, Mimi disini hanya sebagai dokter relawan semata. Karena dia membantu Naya dan pak Rojali banyak orang yang mengeluh sesak serta sakit di dada sebelah kiri langsung memeriksakan diri ke Puskesmas ini.
Syahril pergi ke dusun sebelah menggunakan ambulance Puskesmas ini, sebenarnya Syahril juga merasa risih pergi bersama orang lain. Awalnya dia mau mengajak Di'ah namun dilarang sama Ryan.
"Aiss Ryan " Gumamnya dalam hati sambil mata terus fokus pada jalanan.
Tak ada pembicaraan selama diperjalanan, hanya saat tunjukkan arah saja baru ada percakapan di antara mereka.
Supir ambulance hanya satu yang masuk, yang satunya khususnya sulit ambulance yang Syahril bawa ini sedang sakit dan sulit satunya juga sedang pergi menuju Puskesmas kecamatan mengantar pasien yang memerlukan rawat inap.
Puskesmas di dusun ini juga sedang mengajukan proposal perluasan pembangunan agar bisa menampung lain rawat inap tanla harus di operasi ke Puskesmas induk.
__ADS_1
Dan proposal itu jugabyekah disetujui oleh pihak pemerintah daerah namun entah kapan akan dilakukan pembangunan nya.
tbc