DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Duka Membawa Nikmat


__ADS_3

Kekecewaan yang dirasakan Muthia juga dirasakan oleh ketiga sahabatnya. Muthia merasa kecewa kepada kedua orang tuanya yang mengambil keputusan sepihak tanpa membicarakan nya terlebih dahulu pada nya.


Hari-hari Muthia hanya diisi dengan !e!ikirkan bagaimana caranya dia !membatalkan perjodohan itu tanpa mempermalukan kedua orangtuanya.


"Muth, udah dong." ucap Selfia yang melihat Muthia tak bersemangat menjalani hari-harinya.


"Iya Muth, coba kamu bicarakan sama kak Satria. Mungkin dia ada solusinya." ucap Mimi, Muthia hanya me ghelaka. nafas panjang.


"Muth, coba kamu hubungi orang tua kamu atau kamu pulang duku dan tanyakan sama mereka dan kalau perlu nih ya kamu ajak tuh calonmu bertemu." ucap Irma memberikan usulnya.


"Iya betul tuh Muth, mana tau dengan kalian bertemu terus berbicara satu sama lain ada solusi terbaik buat kalian." Selfia menimpali dan membenarkan usul dari Irma.


"Iya, tapi rencana Tia pulangnya bersama kak Satria."


"Tia ingin sekalian mengenalkan kak satria sama Abi dan Ami ya kalau perlu sekalian sama calon dari Abi dan Ami." jawab Muthia berujung lirih.


"Apa kami sduah kasih tau bang Sat Muth?" tanya Selfia dan Muthia meggeleng.


"Lebih baik kamu segera menceritakan nya Muth." ucal Irma.


"Iya lebih cepat lebih baik, kalau dia serius sama kamu biar dia cepat pulang dan segera bawa kamu pulang kampung." ucap Mimi. Muthia menghelakan nafas panjangnya.


"Waktu untuk ngomong sama dia itu nggak ada, setiap kali Tia mau ngomongin masalah ini dia sudah dikejar waktu untuk meeting lah, ketemu klien lah." ucap Muthia pasrah.


Hari demi hari Muthia menanti Satria pulang, tanpa sepengetahuan Muthia Satria telah pulang namun lagi-lagi disibukkan dengan planning yang telah dia persiapkan jauh hari.


Setiap Dillah ke kosan Mimi, Satria tidak pernah ikut. Muthia selalu menanyakan Satria pada Dillah tapi Muthia selalu mendapatkan jawaban yang tidak menyenangkan.


"Kak, kak Satria beneran dah pulang dari Amrik?" tanya Muthia pada Dillah.


"Iya sudah seminggu lalu." jawab Dillah.


"Kok dia nggak kesini ya?" gumam Muthia pelan tapi masih dapat di dengar oleh ketiga sahabatnya dan Dillah serta Yogi.


"Emang dia nggak ada ngasih tau?" tanya Dillah, Muthia hanya menggeleng.


Mimi melihat ada rasa sedih dan kecewa di mata Muthia. Muthia yang merasa hati nya kacau pun beranjak masuk ke dalam kamar.


MimI dan kedua sahabatnya hanya bisa menghelakan nafasnya. Mimi tau bagaimana perasaan Muthia saat ini.


Sedih dan kecewa tentu Muthia rasaakan, saat sedang sayang-sayang nya kkta di jodohkan oleh orang tua dan orang yang kita kasihi lun tidak ada merespon bahkan menampakkan diri pun tidak.


Selfia dan Irma ikut beranjak masuk kamar untuk menenangkan hati Muthia. Terlihat Muthia menelungkup dan menangis di balik bantal.


Duka itu yangbkini Muthia rasakan, dia berduka kan nasib nya sendiri. Putus cinta adalah hal yang wajar dalam sebuah hubungan namun jika putus komunikasi bahkan tidak memberi kepastian yang pasti sakitnya lebih dari sakit putus di tinggal kekasih.


"Muth" panggil Irma dengan mengelus punggung Muthia.


"Muth, kalau mau nangis nangis aja jangan ditahan." ucap Selfia.


"Apa salah Tia Ir, Fi. Kalau dia sudah bosan lebih baik mgomkng baik-baik." ucap Muthia dengan sesegukan.


Mimi mendengar curahan Muthia ikut bersedih. Berulang kali Mimi menarik nafasnya ketika Muthia mencurahkan isi hatinya pada Irma dan Selfia.


Dillah dan Yogi pun ikut prihatin namun mereka berdua tidak bisa membantu.


Dillah melihat Mimi sesekali menghapus air mata menjadi ikut kesal karena ulah Satria.


"Dek." panggil Dillah.


"Emm Mimi ikut sedih kang. Kang" jawab Mimi dan juga memanggil Dillah.


"Hmm, ya kita nggak bisa membantu lebih dek." ucap Dillah.


"Emang kang Said nggak tau kemana kak Satria?" tanya Mimi dan Dillah menggeleng.


"Emm.." jawab Dillah.


Yogi terlihat diam namun tangannya memegang hp. Tak tau apa yang sedang dilakukan nya.


Hari berganti Minggu bahkan bulan, dua bulan sudah Satria tidak pernah mengunjungi Muthia lagi. Jika ditelpon Satria selalu beralasan sedang sibuk dinkangor papahnya.


Bahkan Muthia pun sampai datang ke apartemen serta rumh orang tua Satria, Satria memang tidak ada di apartemen bhkn rumah orangtua nya.


Muthia pasrah dan akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke Banda Aceh. Dengan perasaan yang campur aduk, Muthia mulai membereskan pakaiannya.


Tak lupa dia pun sekali lagi menghubungi Satria untuk yang terakhir kali lagi. Berulang kali Muthia mendeal nomor Satria namun tidak di angkat.


"Sesibuk itukah kamu kak." ucap Muthia lirih dengan deraian air mata.


Mimi, Selfia dan Irma hanya bisa melihatnya iba.


"Mi, kkta harus berbuat apa?" tanya Irma.


"Mimi juga ndak tau Ir" jawab Mimi dengan menarik nafasnya panjang.


"Kasian Tia, lihat saja kalau Fia ketemu sama kak Satria akan Fia buat perhitungan nanti." ucap selfia geram dengan memukul-mukul telapak tangannya.


Di rumah Satria semua orang telah disibukkan mengurus segala keperluan Satria nanti. WO serta keperluan lain nya juga telah di persiakan dengan matang.

__ADS_1


Katering nya juga sudah di boking jauh hari, keluarga Satria berkerja sama dengan keluarga pihak perempuan untuk mengatur segala nya.


Mereka bagaikan kedua keluarga yang saling kompak, mereka ingin pernikahan anak mereka berjalan dengan lancar dan mereka juga ingin pernikahan ini sekali seumur hidup untuk kedua anak mereka.


"Gimana San? ala maajhnada yang kurang?" tanya mamah Satria kepada calon besannya.


"Emm sepertinya sudah semua San, tinggal fitting baju nya saja." jawab si calon besan.


"Humm emm iya juga, ah kalau itu pasti terlaksana nanti. Oh ya San nanti kamu susurub aja anak kami ke butik te!an aku aja ya say semua sudah namun koordinir." ucap mamah Satria.


"Iya, nanti akaan akunsuruh anakku ke sana.'' jawab calon besan.


Mamah Satria dan calon besannya terlihat akrab. Tak hanya pada mamah, para papah pun terlihat begitu kompak mengatur apansaja yang diperlukan dalam acara pernikahan anak mereka nanti.


Yah beberapa bulan ini Satria disibukkan oleh pekerjaan yang diberikan oleh sang papah, tak hanya pekerjaan dia juga ikut turun tangan membantu mengatur semua perihal pernikahannya nanti.


Yap Satria disibukkan dengan perencanaan pernikahan nya sehingga dia tidak memiliki waktu untuk berleha-leha, dia ingin hari pernikahannya tampak sempurna.


Muthia belum mengetahui jika Satria sedang mempersiapkan pernikahan hingga Muthia datang kembali ke rumah orang tua Satria dan tak sengaja Muthia mendengar para art Satria mengatakan bila Satria calon pengantin yang tampan dan pastinya calon wanita nya juga sangat cantik.


Belum sempat Muthia mengetuk dan masuk ke dalam rumah, Muthia telah mendengar kabar itu dari art yang tengah membersihkan rumah Satria.


Hancur, itu yang dirasakan Muthia dengan seketika. Muthia langsung memutar badannya dan tidak jadi bertamu di rumah Satria.


"Kenapa kamu tega kak, kenapaaaa." ucap Muthia sembari berlari keluar gerbang dan kembali masuk kedalam taksinya.


Niat hati Muthia ingin berpamitan pada Satria, Muthia sengaja datang kerumah Satria pagi-pagi sekali agar bisa ketemu dengan Satria sebelum dia berangkat ke bandara, namun belum juga bertemu dia sudah dihadapkan dengan kenyataan yang tidak diharapkannya.


Sepanjang jalan menuju bandara, tak henti-hentinya Muthia mengeluarkan air matanya.


"Jadi ini kak alasan kamu hiks"


"Kamu sengaja menghindari Tia karena kamu akan menikah hiks hiks"


"Jika memang tidak ada cinta di hati kamu buat Tia, terus apa yang kamu katakan selama ini." Tia terus berbicara di dalam hatinya.


"Bodohnya akuu huhuhu" ucap Tia dengan tangisan membjat supir taksi merasa iba melihat kearah Muthia


"Non dah sampai." ucap sisupir, Muthia celingukan dengan mata sembabnya.


"Makasih pak." ucap Muthia dengan memberikan uang sebesar yang tertulis di Argo taksi.


Muthia menghelakan nafas panjang saat turun dari taksi dan !asuk kedalam bandara, setelah check-in dan sudah mendapatkan boardingpass nya, Muthia langsung masuk ke dalam ruang tunggu.


Satria mengetahui pagi ini Muthia datang kembali kerumahnya. Saat Muthia meminta izin pada satpam rumahnya dan satoam lun menghubungi Satria.


Satria melihat wajah Muthia yang sedih dari CCTV rumahnya.


Waktu wisuda tinggal 1,5 bulan lagi, Muthia sudah berada di kampung halamannya. Muthia akhirnya menerima pilihan orangtuanya.


Muthia merasa setengah hatinya hilang, dia hanya menurut apa yang dikatakan oleh Ami dan abinya tanpa bantahan lagi. Muthia juga sudah melakukan fitting bajunya.


Namun hingga beberapa hari Muthia berada di kampung halaman, tak pernah bertemu sammaa calonnya.


Setiap Muthia bertanya sama Ami mau abinya selalu beralasan jika calonnya sedang tidak berada di kampung. Muthia tak pantang menyerah, dia pun bertanya pada Abang dan kakak serta sepupunya namun semua juga menjawab sama.


Di dalam kamarnya, Muthia selalu menangis seorang diri. Jika hatinya gundah dan ingin menangis, Muthia akaan masuk ke dalam kamar bahkan dirinya mengurung diri di dalam kamar.


Dia merasa menderita, sang kekasih juga tengah mempersiapkan pernikahan dan dirinya juga sedang menanti hari pernikahannya.


Mimi dan Selfia juga akan pergi ke Banda Aceh seminggu sebelum hari H nya Muthia bersama Dillah, Yogi dan Bryan serta Reno dan istrinya. Irma dia akan pergi dari kota pedang karena irma sudah pulang ke kota pedang, begitupula saeidi dan kedua temannya akan berangkat sendiri-sendiri daeinkmoungbhalaman mereka.


"Mi, kira-kira kak Satria menikah dengan siapa ya?" tanya Selfia. Yah ketiga sahabat Muthia sudah mengetahui kalau Satria juga akan menikah, Muthia menceritakan semua apa yang dia dengar hatinitu pada ketiga sahabatnya.


"Emm ndak tau juga Mimi Fi." jawab Mimi.


"Jadi kita beli kado nya dari sini atau kkta belindi sana aja?" tanya Selfia.


"Dari sini aha lah Fi, belum tentu nanti kita bisa keluar." jawab Mimi.


"Iya juga ya, yaudah kita ngemall yok." ajak Selfia.


"Iya bentar tunggu pawangnya." ucap Mimi dengan senyum.


"Ckk selalu aja di kawal, jalan ada we time Mi.." sungut Selfia.


"Yah kan Fia tau sendiri hehe" jawab Mimi


"Hmm" jawab Selfia.


"Fi" panggil Mimi.


"Hmm" jawab nya.


"Ham hem ham hem" ucap Mimi.


"Ada apa Mi?" akhirnya Selfia pun bertanya.


"Kayaknya kak Yogi suka seh sama Fia" ucap Mimi.

__ADS_1


"Jadi orang itu jangan ngaco Mi, yuk lah buruan kita bersiap-siap jangan sampe nanti si pawangmu datang menunggu lama." ucap Selfia yang langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Mimi yang sudah mandi pun langsung mengganti pakaian dan berdandan natural saja.


Setelah semua siap dan Dillah pun telah tiba, mereka pun


langsung berangkat ke sebuah mall di kota ini. Dillah gak hanya sendiri melainkan dia bersama Yogi.


Bryan dan Satria tidak ikut sedangkan Reno masih asik dengan masa pengantin barunya.


Bryan pergi ke panti hanya sekedar bertemu dan bermain dengan anaknya. Yah akhirnya kita dan keluarga Mita mengizinkan Bryan untuk bertemu dengan Zian tetapi mereka hanya bisa bertemu di panti dan Bryan tidak boleh membawa pulang Zian.


Zian anak biologis Bryan yang menginjak usia tiga tahun memiliki paras wajah kedua orang tuanya. Zia juga anak yang pintar dan memiliki saya ingat yang kuat.


Zian juga sudah mengenal siapa ayahnya dari video yang di berikan oleh Mita di setiap ulang tahun nya.


Yah sebelum Berliana mendonorkan hatinya, Berliana sudah mempersiapkan segala nya buat si buah hati.


Berliana yang memiliki hati yang baik, dia tidak ingin anaknya tidak mengetahui siapa ayah nya. Maka dari itu, Berliana membuat video da sudah di save ke dalam CD sebagai ulang tahun anaknya di setiap ulang tahunnya hingga anaknya berusia 17th.


Zian sangat senang saat bermain bersama dengan Bryan, begitu pula dengan Bryan. Bryan tak pernah melewati momennya bersama sang buah hati nya, walau terkadang dia ingin membawa Zian pulang kerumahnya namun dia telah menyepakati jika dia tidak akan membawa Zian pulang asalkan dia bisa bertemu!p dengan anaknya.


Celotehan Zian selalu di video kan oleh Bryan.


"Kamu lucu sekali sih nak." ucap Bryan dengan menciumi pipi gembul Zian, Zian yang merasa geli hanya ketawa girang.


"Ampun Daddy ampun." ucap Zian dengan memanggil Bryan dengan sebutan Daddy. Bryan berhenti menciumi si pipi gembul


"Hahaaa, Daddy teltipu" ucap Zian dengan langsung berlari.


"Eh, awas ya Daddy kejar nih..." ucap Bryan dengan mengejar Zian, Zian langsung bersembunyi di balik mommy nya mommy Mita.


Saat beyan akan menangkap Zian, Zian susah bersembunyi sehingga Bryan menangkan tubuh Mita.


Mita terdiam mematung kala tubuh bagian bawahnya di peluk Bryan. Tak hanya Mita, Bryan pun tiba-tiba terdiam mematung.


Detakan jantung mereka berdua seolah saling bergerak!a satu sama lain.


Bryan melihat ke arah atas dan Mita melihat ke arah bawah sehingga mereka saling bersitatap.


Mita merasakan desiran hebat pada dirinya, dia tidak tau perasaan apa itu. Begitu pula dengan Bryan yang juga merasa ada yang aneh pada dirinya terutama pada hatinya.


Perlahan Bryan berdiri dan berhadapan dengan Mita, jarak mereka sangat dekat sehingga nafas mereka saling menyeruak ke wajah mereka berdua.


Zian melihat kedua orang tuanya saling berhadapan pun dengan inisiatif Zian menggenggam tangan Bryan dan Mita. Bryan dan Mita sontak melihat ke arah tangan mereka, terlihat Zian tersenyum kepada mereka berdua.


Zian mengangkat tangan Bryan dan disatukan dengan Mita, di tatapnya kedua orang tuanya dengan senyuman manisnya.


"Zian mau tinggal sama mommy dan Daddy sepelti Careen." ucap Zian. Bryan dan Mita saling pandang mendengar permintaan Zian.


Hari H Muthia telah tiba, para sahabat Muthia telah tiba di rumahnya, begitu pula Dillah dan para sahabt juga ada di Banda Aceh, Bryan mengajak Mita serta Zian ikut serta.


Habis ba'da Zuhur acara ijab akan diselenggarakan, Muthia sedari semalam hanya mengisi nasibnya. Dia tidak menyangka jika dia akan menikah bukan dengan orang yang di cintai nya. walau hatinya berusaha ikhlas namun hati kecilnya tetap merasakan pedih.


"Muth, udah dong. Nantinluntur loh makeup nya." ucal Selfia yang juga ikut menitikkan air matanya.


"Ikhlas Muth." ucap Mimi berusaha menenangkan Muthia.


"Aku sduah berusaha ikhlas Mi, tapi... Huhuhu." ucal Muthia sembari menangis.


Sang MUA hanya bisa bersabar ketika kliennya terus menangis, untungnya keluarga nya dan pihak keluarga lelaki memilih MUA yang terbaik, sehingga sebanyak apa pun Muthia menangis tidak akan membuat hiasannya luntur.


"Apa sudah siap?" tanya Ami yang maauk kedalam kamar Muthia.


"Udah Ami." jawab Mimi dan yang lain.


Ami terlihat tersenyum melihat anak bungsunya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.


"Sudah, jangan nangis lagi." ucap Ami dengan menghapus air mata Muthia dan memeluk anak bungsunya.


"Ami, Tia itu sedang berduka Ami." ucap Selfia sontak membuat Ami meleraiboekukannya dan melihat ke arah Selfia dan Muthia.


"Berduka?" tanya Ami dengan gaya kagetnya.


"Iya Ami, Muthia itu sedang berduka dengan dirinya sendiri." jawab Selfia.


"Kok bisa?" tanya Ami dengan meenhan senyumnya.


"Iya bisalah Ami, Muthia akan menikah dengan orang yang tidak dikenalnya, apa orangnya baik, tampan dan kaya Ami?" tanya Selfia


"Hahaaa" akhirnya Ami tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Ada-ada aja kamu, udah bentar lagi kita berangkat ke masjid dan kamu sayang biarlah saat ini kamu berduka ( dengan menahan senyum) tapi nanti duka mu itu akan membawa nikmat." ucap Ami dengan memegang kedua bahu anak bungsungpya dengan tersenyum getir.


Ami tidak menyengka jika anak bungsunya sudah dewasa dan kelak akan meninggalkannya.


"Ami ini ada-ada aja, mana ada suka membawa nikmat yang ada nih duka tabah suka karena tidak tau siapa suaminya.'' celteuk Selfia.


"Udah-udah kalian bersiap-siap aja." ucap Ami dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Mereka pun bersiap dan tak lama mereka pun pergi ke masjid karena acara ijab Kabul akan dilaksanakan di masjid yang tak jauh dari rumah Muthia.


tbc


__ADS_2