
syahril dan Mimi kembali ke aula, sebelum mereka keluar kamar Mimi bercermin melihat penampilannya terlebih dahulu.
"Sudah yank jangan cantik-cantik amat." ucap Syahril.
"Ckk kakak nih," jawab Mimi dengan maaih menelisik wajah serta pakaiannya.
"Udah ah, pecah lama-lama tuh cermin melihat kecantikan adek." ucap syahril dengan langsung menarik tangan Mimi menjauh dari cermin, Mimi hanya menghelakan nafasnya.
Mereka berdua berjalan dengan tangan Syahril yang selalu menggenggam erat tangan Mimi.
Sesampainya di aula, Mimk celingak-celinguk mencari keberadaan kedua sahabatnya.
Dari jauh di pelaminan, Selfia melihat Mimi dan syahril saling bergandengan tangan merasa sangat bahagia. Terukir senyuman lebar di bibir Selfia, senyuman puas dan bahagia sehingga membuat sang suami berada disampingnya merasa heran melihat sang istri tersenyum selebar itu.
"Yank, kamu kenapa?" bisik sang suami.
"Itu yank lihat Mimi." jawab Selfia dan sang suami pun melihat ke arah mana !ata sang istri memandang.
"Itu Mimi sama siapa yank?" tanya sang suami.
"Sama cinta pertamanya." jawab Selfia yang masih tersenyum haru.
"Cinta pertama?" sang suami mengulangi, Selfia mengangguk.
"Bukan yang sudah meninggal itu?" tanya sang suami penasaran.
"Bukan, kak Syahril cinta pertama Mimi." ucal Selfia sembari menarik nafasnya.
"Mereka terpisah karena perjodohan, namun di hati mereka masih saling mencintai dan saling peduli satu sama lain."
"Kisah Mimi dan Syahril harus kandas karena perjodohan yang dilakukan oleh Kakek nya kak Syahril. Tapi Fia yakin mereka akan kembali bersatu." ucap Selfia, sang suami hanya diam meresapi setiap kata dari cerita Selfia.
Syahril yang melihat Selfia melihat ke arah nya pun tersenyum dan mengangguk.
"Yok dek, kita ke sana beri ucapan selamat sama pengantin baru ." ucap Syahril.
"Pengantin baru apaan, dah lama pengantinya." jawab Mimi.
"Dah lama gimana?" tanya Syahril.
"Mereka itu menikah dah sebulan lalu, resepsi nya aja baru sekarang karena si Abang mendadak ada kerjaan diluar negeri." jawab Mimi dengan mata masih mencari dua sosok sahabatnya yang tak kunjung kelihatan.
Di pelaminan Selfia dan sang suami masih !membahas Mimi dan Syahril.
"Syahril?" tanya sang suaminya.
"Iya bang, kak Syahril. Emang ada apa bang? apa Abang kenal dia?" tanya Selfia yang melihat wajah sang suami seperti sedang mengingat.
"Hmm namanya sih seperti familiar tapi entah apa sama atau tidak." jawab sang suami.
"Oo" jawab Selfia.
Di'ah dan Ryan yang masih berada dalam kamar, entah apa yang mereka lakukan. Yang pasti Ryan selalu meminta Di'ah untuk berganti pakaian.
"Dek, ganti pakaiannya." ucap Ryan.
"Mau ganti apa sih kak." ucap Di'ah yang sudah jengah dengan sikap Ryan yang selalu meminta dirinya ganti pakaian.
"Ya pokonya ganti, Jagan pakek yang itu." ucap Ryan yang selalu mengomentari penampilan Di'ah.
"Ckk emang ada masalah apa dengan aku pakai pakaian ini? ini itu dari Fia kak, ndak mungkinkah aku nggak pakek." ucap Di'ah.
"Iya tapi.. Ah sudah lah pokonya ganti. Jangan pakek baju itu."
"Itu terlalu cantik dek dan terlalu mengeluarkan aur a kecantikan kamu."
"Kakak ndak mau tau pokoknya kamu harus ganti yang lebih natural, biar ndak ada yang melirik ke kamu."
"Ingat kamu itu hanya milik kakak, milik Ryan seorang. Ingat itu." Ryan terus mengomentari, Di'ah hanya menarik nafasnya dengan memandangi penampilan nya di cermin.
Di'ah terus bercermin melihat penampilan yang tidak memiliki kesalahan, pakaiannya lun tertutup dan tidak !memperlihatkan lekuk badannya, sambil berputar kiri kanan Di'ah mencari letak kesalahan dari gaun yang dia pakai, sesekali Di'ah memiringkan bibir nya ke kiri dan ke kanan.
"Nggak ada yang salah." ucap Di'ah. Ryan yang sedari tadi melihat tingkah Di'ah menjadi gemes sendiri. Perlahan Ryan berjalan mendekati Di'ah dan Ryan langsung memeluk Di'ah dari belakang dengan erat.
"Eh kak," ucap Di'ah yang yeelekjat saat Ryan memeluk nya dari belakang.
"Kakak rindu sama kamu dek, kakak tidak mau orang lain melihat kecantikan kamu. Kamu hanya milik kakak." ucapnya sembari mengendus-endus telinga Di'ah yang tertutupi oleh hijab.
Ada rasa nyaman di hati Di'ah saat Ryan memeluknya erat, sesungguhnya hati nya pun masih sangat mencintai Ryan, namun dia belum bisa menerima Ryan laginlarena status yang disandangnya.
Dengan status yang disandangnya kini, Di'ah takut tidak di terima di keluarga Ryan bahkan Di'ah takut jika akan menjadi rumor di kampungnya seorang janda kembali ke pacara lamanya.
Ryan membalikkan tubuh Di'ah, mereka pun saling berhadapan.
"Katakan yang jujur, apa di hati adek masih ada kakak disana?" tanya Ryan, Di'ah diam dengan melihat wajah serta mata Ryan.
"Katakan dek, apa maaih ada kakak di relung hatimu?". Ryan mengulangi pertanyaannya nya.
Perlahan Di'ah mengangkat tangannya dan memegang wajah Ryan, wajah yang teduh dan selalu ada di dalam otaknya. Di usapnya lembut wajah itu, wajah yang tak pernah bosan untuk di pandang.
"Apa aku harus mengatakan dengan kata-kata?" tanya Di'ah. Yah Di'ah tak bisa menjawab pertanyaan Ryan dengan kata-kata namun dari tindakan yang tanpa di pinta pun telah menunjukkan kalau dirinya juga masih sangat mencintai Ryan.
__ADS_1
Ryan tersenyum dan mengambil tangan Di'ah yang masih mengelus wajahnya, si genggamnya erat tangan itu dan di ciumnya berulang kali.
"Kakak yakin, kakak masih bahkan akan selalu di hati kamu dek. Begitu pula di hati kakak hanya ada kamu hingga kini." Ucanya sembari tangan Ryan juga mengelus wajah Di'ah.
"Mari kitabrajut asa kita menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." ucap Ryan secara langsung mengajak Di'ah untuk menikah.
"Tapi kak, apa mungkin." ucap Di'ah.
"Apa yang tidak mungkin dek, kakak mencintai mu dari hati, Kaka mencintai mu karena Allah, karena disetiap sujud serta istikharah kakak selalu menyebut namamu." ucap Ryan meyakinkannya.
"Tapi kak, aku bukan Di'ah yang dulu." ucap Di'ah dengan menunduk.
"Aku memiliki status yang mungkin sebagian orang akan memandang rendah akan status ku." ucap Di'ah lagi.
"Kakak tidak peduli dengan status mu, Mau kamu gadis atau tidak yang penting kita saling mencintai, saling membutuhkan , saling menerima satu sama lain." ucap Ryan.
"Tapi bagaimana dengan keluarga kakak, keluarga besar kakak. Aku tidak mau membuat mereka malu." ucap Di'ah.
"Mereka selalu mendukung, bahkan Ummi dan Abi pun setuju jika kita kembali. Semua ada di tangan kamu dek, mereka siap untuk datang ke orang tua mu, untuk meminta dirimu menjadi menantu mereka." ucap Ryan. Di'ah merasa terharu, dari dulu keluarga itu selalu baik dengannya.
Yah Di'ah seing bertemu dengan Ummi entah itu rumah sakit atau di jalan. Mereka tetap seperti dulu terkadang Ummi Parida juga mengajak Di'ah makan siang saat jam istirahat.
Melihat Di'ah diam Ryan memeluknya denagn erat, Ryan yang memiliki postur tubuh yang tinggi dari Di'ah, saat Ryan memeluk Di'ah maka wajah Di'ah tepat di dada bidang Ryan.
Di'ah memejamkan matanya menikmati momen kenyamanannya, Di'ah juga mengeratkan pelukannya, sesekali Di'ah ngangakt wajahnya untuk melihat Ryan.
Perlahan Ryan menurunkan wajahnya dan tangannya menangkup wajah Di'ah. Di ciumnya seluruh wajah Di'ah dan terakhir Ryan terdiam kala melihat bibir Di'ah yang bergincu soft pink itu.
Perlahan jempol Ryan mengusap bibirnya Di'ah dan kemudian. bibirnya pun mendarat ke landasan yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Awal hanya sekedar kecupan namun lama kelamaan kecupan dan kecapan pun saling berganti satu sama lain sehingga
pasokan udara mereka berdua menipis.
Di'ah ngos-ngosan saat tautan itu terlepas, Ryan tersenyum melihat ada rona malu di wajah Di'ah.
"Kakak mencintai mu." bisiknya dan memeluk erat tubuh Di'ah.
"Aku juga mencintaimu." jawab Diah dengan membalas pelukan Ryan.
Entah berapa lama mereka saling berpelukan meluapkan rasa cinta, rasa rindu dihati mereka.
Tak ada lagi rasa ragudi hati Di'ah untuk menerima kembali Ryan, Apa lagi sepulang dari mereka belanja ketemu dengan Arfan dan Siska. Mimi juga telah memberikan nasehat kepada Di'ah agar Di'ah tidak lagi membohongi dirinya atau jangan terlalu berlebihan dalam persahabatan sehingga melukai perasaan sendiri.
Mimi juga meminta kepada Di'ah agar Di'ah menerima kembali cinta Ryan, karena Mimi tau jika sahabatnya itu masih mencintai Ryan. Mimk juga meyakinkan ke Di'ah kalau keluarga Ryan pasti akan menerima Di'ah apa adanya.
Mimi yang sedari tadi menunggu Di'ah tak kunjung ada, Mimi lun mengambil ponsel di dalam tas nya dan menghubungi nomor Di'ah hingga berkali-kali tak kunjung di angkat
Di'ah yang sedang berpelukan berkali-kali ingin lepas dari pelukan Ryan untuk mengambil ponselnya namun Ryan tak mengizinkannya. Hingga beberapa kali panggilan akhirnya Ryan lun mengalah.
"Mimi" jawab Di'ah.
"Ckk tu anak ganggu aja." ucap Ryan sembari jalan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka nya sekalian dirinya berwudhu karena waktu Dzuhur telah tiba.
Sedangkan di aula tamu semakin rame kala di siang hari, Mimk dan Syahril akhirnya naik ke atas pelaminan dpuntuk mengucakkan selamat pada Selfia.
Saat Mimi dan Syahril akan naik pelaminan, Emma juga akan naik namun kali ini Emma tidak seorang ng diri.
"Emm" panggil Mimi pada Emma. Emma hanya tersenyum dan memainkan matanya sebelah.
"Rahman." ucap Syahril ketika melihat lelaki yang bersama Emma.
"Syahril." ucap Rahman. Mimi dan Emma saling pandang.
"Hei bro apa kabar?" tanya Rahman pada Syahril.
"Baik bro, dimana kamu sekarang Man?" tanya Syahril.
"Aku di Jakarta, di Bintaro." jawabnya.
"Kok kamu ada disini Riil?"
" Kok kami ada disini Man?" Mereka berdua saling melempar pertanyaan yang sama secara serentak.
"Hahaaa" mereka bukan saling menjawab malah tertawa berdua.
"Kalian saling kenal kak?" tanya Mimi.
"Iya dek, kenalin ini sahabat kakak di LA. Kita beda fakultas." ucap Syahril memperkenalkan miminpasa temannya.
"Eh Riil, jangan bilang dia yang kamu..." ucap Rahman dengan ekspresi tak percaya.
"Iya Man, ini Mimi wanita ya h selalu ada si hati aku." jawab Syahril.
"Wawww, hai Mi. Senang berkenalan dengan kamu," ucap Rahman dengan mengulurkan tangannya dan Mimi pun menerima ukuran tangan itu. Rahman sengaja berlama-lama menjabat tangan Mimk membuat Syahril murka.
"Ckk jangan lama-lama, tuh kamu genggam saja tangan Emma." seru Syahril melepas paksa tangan Rahman.
"Hahaaa, maaf maaf. Kamu ini Riil cemburuan amat. Yaudah yok kita ke atas ucapin selamat sama penganten baru." ucap Rahman dengan merangkul Syahril dan mengajak untuk naik ke atas pelaminan.
Tak lama Ryan dan Di'ah pun sudah berada di belakang mereka.
__ADS_1
"Di'ah kamu baik-baik aja kan?" tanya Mimi ketika melihat Di'ah sudah berada di belakangnya.
"Emang Di'ah kenapa Mi?" tanya Emma.
"Ya mana tau em." ucap Mimi dengan menelisik wajah Di'ah, terlihat sedikit bengkak di bibirnya. Mimi melihat tajam ke arah Ryan, Ryan hanya cuek ketika melihat Mimi yang memandangnya cuek.
"Ayo Di'ah, sama kita aja." ucap Mimi dan menarik tangan Di'ah dari genggaman Ryan.
"Eit tidak bisa. Tuh kalau mau gandengan tangan Syahril saja atau tangan Emma yang jomblo." ucap Ryan.
"Yeee mentang-mentang lah ya susah putus jomblo." ucap Emma.
Mereka pun naik ke atas pelaminan, di pelaminan lara cowok itu kembali heboh.
"Lah bang Barack." seru Ryan ketika melihat yang jadi pengantin adalah teman dari Afkar.
"Ryan, Syahril. Kalian??" ucap Barack suami Selfia dengan menelisok wajah mereka berdua dan melihat ke arah Mimi dan sang istri.
"Abang kenal?" tanya Selfia.
"Iya dek, mereka berdua adalah adik dari Afkar." jawab Barack suami Selfia.
"Oo jadi abangbtemangnha abang Afkar? kok mereka panggil abang Barack?" tanya Selfia.
"Haha tanya aajansama mereka kenapa panggil itu." jawab Barack.
Ya nama suami Selfia Yudika Barack. Selama ini keluagra mereka memanggil Barack dengan nama Dika hanya Ryan dan Syahril yang entah mengapa memanggil mereka Barack.
Mereka pun saling berfoto-foto berbagai gaya mereka lakukan. Setelah berfoto Mimi dan yang lain pergi ke stand makanan untuk menyantap berbagai menu yang telah tersaji.
Malam harinya, Selfia dan Barack kembali duduk di pelaminan namun malamnini denagn konsep family yah mereka memakai pakaian gaun serta jas dan merek juga tidak terlalu banyak duduk di pelaminan namun mereka akan eebaur dengan lara tamunya nanti.
Malam ini bang Afkar serta bang Afnan turut hadir, mereka berdua tidak tau jika adik-adiknya ada di acara sahabt mereka.
Afnan yang baru masuk aula melihat Mimi yang sedang ketawa ketiwi bersama Emma, Di'ah dan Selfia serta keluarga Selfia.
"Dek, itu bukannya Mimi ya?" tanya Afnan kepada Afkar.
"Iya bang dan itu bukannya Selfia." ucap Afkar.
"Iya, kok mereka ada disini." ucap Afnan bingung.
"Yaudah kita kesana saja bang" ucap afkar dengan menunjuk ke arah dimana Yudika berada.
"Hei bro selamat ya." Ical Afkar ketika sudah berhadapan dengan Yudika.
"Hei makasih bro, Nan." ucal Yudika sembari bersalaman dengan Afkar dan Afnan.
"Bang" seru Syahril.
"Dek, kamu kok disini?" tanya Afnan.
"Hehee iya bang, tebak bang siapa jadi istrinya Abang Barack." ucap Syahril.
"Emang siapa Riil?" tanya Afkar.
"Ckk dunia kkta ternyata sempit bro." ucap Yudika sambil melambaikan tangan ke arah Selfia, Selfia lun mendekat.
"Sempit, maksudnya bro?" tanya Afnan.
"Nih, kalian pasti kenal." ucap Yudika dengan menggandengkan sang istri.
"Maksud kamu..'' ucap Afkar heboh dengan mulut menganga.
"Ya Tuhan, jadi kami dek istri dari laki-laki ini?" ucap Afnan tidak percaya, Selfia tersenyum malu.
"Astaghfirullah." ucap Afkar.
"Yah bang, kok ngucap." ucap Selfia.
"Ya terus mau ucap apa. Ternyata lari nya nggak jauh-jauh dunia sepertinya hanya selebar daun kelor ." ucap Afkar.
"Ahahaahha" mereka pun tertawa.
"Bang " ucap Mimi kepada Afnan dan Afkar sembari menyalami mereka berdua.
"Apa kabar kami dek?" tanya Afnan.
"Alhamdulillah baik bang, bpabang bagaimana kabar nya?" tanya Mimi.
"Alhamdulillah Abang juga baik." jawab Afnan dengan mengusap kepala Mimi.
"Nan, Kar, jadi miminyanh sering akkaian cerita itu dia?" ucap Yudika.
"Iya Yud, dia adik perempuan kami." jawab Afkar.
"Abang Afkar apa kabar?" tanya Mimi.
"Alhamdulillah Abang baik." ucap Afkar.
Mereka pun saling bercerita, perlahan Ryan membawa Di'ah pergi dari kerumunan, begitu pula Syahril membawa Mimi pergi. Sedangkan Emma sedari tadi !menghilang dengan Rahman.
__ADS_1
Entah kemana para cowok itu membawa bidadari itu pergi, afna. dan Afkar juga sudah undur diri untuk beristirahat di kamar mereka.
tbc