DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Apa yang harus kulakukan 2


__ADS_3

Ryan berlari cepat ke arah depan masjid, ketika melihat ruko didepan tersebut baru di buka.


Jika dilihat di jam, jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, tapi pemilik ruko sudah mulai membuka rukonya dengan peci haji yang masih melekat di kepalanya.


"Assalamualaikum." Ryan mengucap salam kepada pemilik ruko.


"Waalaikum salam, ada yang di bantu nak?" tanya bapak tersebut.


"Emm maaf pak, apa bapakmjual payung?" tanya Ryan.


"Oh ada-ada nak, bentar ya bapak buka pintu nya dulu." jawab si bapak.


"Oh iya pak, mari saya bantu." ucap Ryan dengan mendorong folding gate satunya.


Setelah terbuka keduanya si bapak mengambil payung yang ada di pojokan.


"Emm payungnya tinggal satu nak." ucap si bapak dengan memberi payung jumbo kepada Ryan.


"Oh gitunya pak, kalau mantel hujan ada?" tanya Ryan.


"Ada, bentar mau ukuran berapa?" ucap si bapak.


"Emang model yang gimana yang ada pak?" tanya Ryan.


"Ini yang ada tinggal model satu set sama celana." jawab si bapak.


"Yaudah pak paling besar aja pak." jawab kak Ryan.


"Mau berapa?" tanya si bapak.


"Dua pak, eh tiga pak." jawab kak Ryan.


"Oh baiklah, ini nak." ucap si bapak. Dengan menyerahkan tiga buah mantel hujan.


"Jadi semua berapa pak sekalian sama payungnya." tanya kak Ryan.


"230 ribu aja nak, penglaris pagi." ucap si bapak. Kak Ryan pun mengambil dompetnya dan memberikan uang 250 ribu.


"Ini pak." ucap kak Ryan dengan menyerahkan uang tersebut.


"Nggak ada uang pas nak?" tanya si bapak.


"Emm nggak ada pak, sisanya buat bapak saja, kalau gitu saya pamit ya pak assalamualaikum." ucap kak Ryan yang sudah me!akai mantel hujannya dan langsung pamit.


"Tapi nak, waalaikum salam." jawab si bapak karena kak Ryan langsung berlalu.


Bukan tak sopan namun kak Ryan selain ingin cepat pulang dia juga tak ingin berlama-lama di ruko karena kedua sepupunya sudah menunggu.


"Nih Riil, Syad." ucap kak Ryan sesampainya di masjid dan memberikan manteknkepada merwu berdua mantel.


"Lah abnag lari tadi beli ini." ucap Irsyad.


"Iya, supaya cepat pulang. Kamu kan mau kuliah dek." ucap kak Ryan.


"Eh iya juga, makasih bang." jawab Irsyad, setelah semua mengenakan mantel mereka pun pamit kepada bapak-bapak yang masih berada di masjid.


"Maaf pak kami pamit dulu, assalamualaikum." jawab Syahril.


"Waalaikum salam." jawab bapak-bapak.


"Bang, sudah beli mantel kok belum payung?" tanya Irsyad.


"Iya Yan." sahut Syahril.


"Tadi rencana mau beli payung tapi cuma ada satu ya jadi beli mantel plus payungnya aja." jawab Ryan.


"Payung ini ya supaya muka nggak kena bias hujan." sahutnya lagi.


Mereka berpayung bertiga menelusuri jalanan yang sudah di banjiri air hujan dan akhirnya mereka bertiga pun sampai.


Di dalam kosan keempat gadis baru selesai memakai pakaian mereka, setelah itu mereka menyiapkan sarapan mereka.


Mimi memindahkan nasi gemuk/ nasi lemak/ nasi uduk kedalam tempat nasi, sedangkan Irma mengambil beberapa potong dan gelas, Selfia !e!bawa samabl dan aneka toping nasinya, Muthia kebahagian membuat teh.


Semua mereka sajikan di depan TV karena mereka biasa makan bersama di sana.


"Emm Ir, kok piring ma gelasnya banyak? emang ada yang datang ikut sarapan?" tanya Mimi ketika melihat Irma membawa piring seta gelas lebih dari jumlah mereka.


"Hemm iya." jawab Irma.


"Kamu telpon Riko? syukurlah jadi kita bisa ke kampus dengan mereka." ucap Mimi yang menyangka Irma menelpon kekasihnya itu.


"Hemm." jawab Irma.


Saat Mimi mengambil nasi untuknya, terdengar salam dari luar.


"Assalamualaikum." ucap seseorang di balik pintu.


Mimi yang mendengar suara salam itu !menjadi berhenti dari aktifitasnya, Mimi mencoba mendengarkan lagu untuk memastikan apa pendengarannya salahnatau tidak.


"Assalamualaikum." terdengar lagi ucapan salam.


Ketiga gadis sahabat Mimi, melihat gelagat Mimi yang diam mematung dengan centong nasi yang masih mengambang dimudaea atas piringnya.


"Waalaikum salam." jawab ketiga gadis sahabat Mimi.


"Buka gih Mi." ucap Irma namun Mimk tidak menggubris


"Mii.." panggil Irma.


"Haah i iya Ir ada apa?" tanya Mimi.


"Ckk tolong buka pintunya," Irma menyuruh Mimi membuka pintu.


"Lah kenapa harus Mimi, Irma kan sudah berdiri juga." jawab Mimi.


"Aku maunke kamar pakai jilbab dulu." ucap Irma dan langsung berlari masuk kamar dengan di ikuti Muthia.


"Fi.." panggil Mimi.

__ADS_1


"Mimi ajaa yaa, Fia lagi mager nih." ucap Fia dan akhirnya Mimi pun beranjak, saat Mimi akan membuka handle pintu.


"Mi tangkap " ucap Irma dengan melempari Mimi jilbab instan.


Mimi lun menangkap nya dan langsung memakainya, setelah itu baru dia membuka pintu.


"Assalamualaikum" salam di ucapkan lagi serentak dengan Mimi membuka pintu.


"Wa a .." Mimi terdiam ketika pintu terbuka dan melihat siapa di balik pintu itu.


Mimi diam, antara percaya ini nyata atau mimpi, Mimk bengong dengan tatapan sendu melihat lelaki yang sudah membuka mantel di depannya.


Irsyad yang melihat Mimi bengong berdiri di tengah pintu !enjadi kesal, diapun menerobos masuk.


"Ckk sama aja, bukannya disuruh masuk malah bengong di tengah jalan." sungut Irsyad dengan sengaja !menyenggol bahunmimi agar sadar.


"Issss Irsyad, sakit tau." ucap Mimi dengan mendegus.


"Salah sendiri bengong di pintu, nggak tau di luar hujan apa? basah dingin lama-lama di luar." oceh Irsyad.


"Nggakntiga gadis singa, nggak Mimi sama aja hobi bengong di pintu." Gumamnya sambil maauk ke kamar belakang karena dia tidak menemukan tasnya di depan tv.


"Barang, Cad pinjam handuk ha." serunya dari dalam kamar.


"Iya." jawab Syahril yang masih berdiri di luar.


"Kita ndak di suruh masuk dek?" tanya Syahril.


"Eh iya, masuk kak." jawab Mimi.


"Kelamaan Mi." ucap kak Ryan yang juga langsung masuk.


"Cad, Abang dulu ke kamar mandinya." ucap Ryan yang langsung berlari ke kamar mandi.


"Adek kenapa?" tanya Syahril yang !melihat Mimk seperti bingung.


"Eh ndak ndak apa-apa, Muth Mimi ndakmlagi bermimpi kan?'' Mimk menjawab dan bertanya pada Muthia yang sudah berdiri di sampingnya.


"Menurut Mimi?" tanya Muthia.


"Coba cubit Mimi Muth." ucap Mimi dengan menyerahkan lengannya ke Muthia.


"Dengan senang hati." jawab Muthia dan langsung mencubit Mimi.


"Awwww Muth tiaaa sakit Muth, niat amat nyubitnya." ucap Mimi yang mengelus-elus lengannya yang terkena cubit.


"Ckkk, emang Mimi sagka ini mimpi?" tanya Irsyad yang sudah duduk mengambil piring beserta isinya.


"Hemm ya mana tau Mimi bermimpi lagi." jawab Mimi yang ikut duduk di samping Syahri dan mengambilkan Syahril sarapan.


"Heleh, semalam aja udah pelak peluk cium cium masih di bilang mimpi." ucap Irsyad yangnaduah mulai mengunyah dan Mimk hanya cemberut.


"Udah dek, makan aja jangan banyak omong." tegah Syahril.


Irsyad pun diam dan menikmati sarapan nya. Tak lama Ryan pun ikut gabung.


"Lah dek, katanya mau mandi kok malah makan?" tanya Ryan.


"Lapar Syad?" tanya Selfia.


"Iya Fi, dingin bawaan laper." jawabnya.


Mereka pun akhirnya menikmati sarapan bersama dengan nasi lemak dengan cuaca yang dingin.


Selesai sarapan Mimi dan ketiga sahabatnya membersihkan serta membereskan bekas makan mereka, Muthia dan Irma mencuci piring, Mimi menyiapkan kue-kue nya di dalam wadah.


Irsyad yang selesai makan langsung pergi mandi, Syahril dan Ryan masih duduk di depan TV !enhnggu gilirannya mandi.


"Riil, segera diminum obatnya" ucap Ryan dengan memberi beberapa macam obat ke Syahril.


"Makasih Yan." jawabnya dengan menerima obat tersebut dan segera menelan nya.


"Emm terus gimana Riil?" tanya kak Ryan.


"Aku juga nggak tau Yan," jawab Syahril.


"Kamu tau sendiri Riil siapa Mimi, aku tidak yakin semua rencana kita berhasil." ucap kak Ryan pesimis dengan mata selalu memandang lurus ke arah dapur.


"Sama Yan, cuma apa yang harus aku lakukan?" jawab Syahril lirih.


"Apa iya aku harus melakukan ide gila itu, apa harus aku menodainya dulu agar dia setuju." ucap Syahril.


"Jangan gila bang," Sabut Irsyad yang baru selesai mandi.


"Iya Riil jangan gila kamu, jangan sampai Mimi membecimu." ucap Ryan yang tidak percaya akan ucapan Syahril.


"Terus bagaimana?" tanya Syahril.


"Bicarakan dan ceritakan yang sejujurnya aja bang." ucap Irsyad.


"Iya Riil masih ada waktu kurang lebih dua Minggu depan." ucap kak Ryan.


"Kalau dia menolak dan menyerah." ucap Syahril yang pesimis.


"Aku juga tidak tau Riil, kauntau sendiri nasib aku sama Di'ah juga ada di tanganmu." ucap kak Ryan yang sudah putus asa.


Hubungannya dengan Di'ah pun sedang tidak baik-baik saja, mungkin bisa dikatakan sedang di ujung tanduk. Semua tergantung pada Syahril dan Mimi.


"Darimana Di'ah tau bang?" tanya Irsyad.


"Hummm huhhh Di'ah.." belum Ryan menjawab Mimi sudah berjakan ke arah depan dengan meneteng tas berisi wadah-wadah kue.


"Di'ah, Di'ah kenapa kak?" tanya Mimi yang mendengar nama sahabatnya itu disebut.


"Hah Di'ah ndak apa-apa dek." jawab kak Ryan.


"Oh ya Di'ah pa kabarnya kak?" tanya Mimi lagi.


"Hmm dia baik Mi.." jawab kak Ryan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mimi sudah lama tidak chat sama dia, dua Minggu ini sih, karena Mimi sibuk ujian OSCE dan belajar buatbujjan tertulis. Ucap Mimi


"Emm kenapa kakak tidak ngajak Di'ah kesini? " tanya Mimi


"Emm diakan masih ujian Mi, dia juga mana bisa pergi-pergi liburan lagi semenjak babahnya sakit." jawab kak Ryan.


"Emmm iya juga, tidak terasa wakte Fachri sakitbsidah mau dua tahun." ucap Mimi.


"Emm Syad kita serempak ya" ucap Mimk lada Irsyad yang sibuk membaca buku.


"Emm." jawab nya yang masih fokus membaca.


"Yaudah, kakak mandi dulu" ucap kak Ryan dan beranjak ketika melihat Syahril telah selesai mandi.


Mimi melihat ang kekasih sudah mandi hanya tersenyum.


"Baju kotornya udah dimasukkan kedalam mesin kak?" tanya Mimi pada kak Syahril.


"Iya sudah." Jawabnya dengan membetulkan kemejanya.


Tak lama kak Ryan selesai juga !Andi dan sudah bersiap juga.


"Huhhh" Muthia menarik nafas dalam ketika melihat penampilan Ryan


"Kenapa Muth?" tanya Mimi.


"Eh emm ngak aada apa-apa Mi." jawabnya.


"Andai aja kakak belum ada yang punya." gumam Muthia dalam hati.


"Yaudah ayo, kakak antar " ucap Syahril.


"Hmm antarnya nanti lewat pintu samping ya kak." jawab Mimi.


"Eh enak aja, lewwat depan bang." seru Irsyad.


"Samping kak." ucap Mimi.


"Depan bang." serunya lagi.


"Isss Syad kalau dekan Mimi yang jauh jalannya mana Mimk kan bawa kue yang mau dititipkan."Ucap Mimi.


"Iya Syad ngalah napa?" ucap Selfia.


"Iya Syad ngalah ya, apa lagi kami kan cewek masak iya kami harus basah-basahan lagi, lewat arah kampus psikologi tambah jauh." ucap Irma.


"Gini aja Syad kita antar mjmk dan kedua cewek ini dulu ke kampus nya nah nanti sekalian pas abang keluar lewat kampusnya Icad." ucap Syahril menengahi.


"Emm oke lah." jawab Irsyad menyetujui dan akhirnya mereka pun berangkat ke kampus.


Karena kampus kedokteran dekat dengan gerbang samping maka mereka mengantar Mimk terlebih dahulu.


Sesampainya kampus semua turun dan langsung berjalan menuju kangin dulu. Kue-kue Mimi di bawa oleh para lelaki.


Mimi berjalan disampingnya Syahril yang memegang payung, Muthia bersama Ryan, Irsyad sendiri sedangkan Selfia bersama Irma.


Sepanjang jalan menuju kantin banyak mata memandang ke arah mereka, apa lagi cewek-cewek dari kampus seberang.


Mulailah terdengar bisik-bisik tetangga, tak hanya memuji katampanan Syahril dan kedua sepupunya tapi terdengar pula bisik-bisik mencela buat Mimi.


Mimi dan yang lain terus berjalan hingga sampai lah mereka ke kantin Bu Ruminah, Gak hanya di jalan dari parkiran yang berbisik bahkan si kantin bur Ruminah yang sudah ramai oleh mahasiswa pun mulai berbisik.


"Assalamualaikum Bu Rumi." ucap Muthia dan yang lain.


"Waalaikum salam." jawab bu Ruminah.


"Maaf Bu, Mimk kesiangan ngantar kuenya." ucap Mimi dan menaruh kue-kue nya di atas meja.


"Iya nggak apa-apa Mi, kan lagi hujan juga." jawab bu Ruminah.


"Wah kayaknya Mimi di kawal pagi ini." canda Bu Ruminah


"Hehe iya Bu," jawab Mimi.


"Nak Syahril kapan datangnya?" tanya Bu Ruminah. Yah Bu Ruminah sudah mengenal kak Syahril karena dulu Mimi pernah mengajak kak Syahril datang ke Kangin Bu Ruminah.


"Semalam Bu, ibu apa kabar?" tanya kak Syahril.


"Alhamdulillah ibu baik, Syahril gimana?" tanya Bu Ruminah balik.


"Alhamdulillah Bu, seperti yangbibu lihat." jawab kak Syahril.


"Alhamdulillah, ini mau sarapan dulu atau apa?" tanya bur Ruminah.


"Emm kita sudah sarapan Bu, nanti siang aja, tinggalin Mimk soup daging ya Bu." ucap Mimi.


"Fia juga Bu Rumi." sahut Selfia.


"Irma sama Tia juga ya Bu." sahut Muthia.


"Oke nanti ibu tinggalin buat kalian sama masnya." jawab bu Ruminah.


"Kita juga Bu" sahut Dimas, rikk dan Saridi.


"Siiip lah." ucap Bu Ruminah.


"Eh kak, jalan datang?" tanya Dimas berbasa-basi.


"Semalam Dim." jawab kak Syahril.


"Kakak baik-baik aja?" tnya Saridi. kak Syahril hanya mengangguk.


Disaat mereka bercengkrama bersama ada beberapa pasang mata melihat mereka , ada yang iri dan dengki, ada pula yang merasa panas bahkan cemburu buta.


Cicilan bab 2 sampe sini dulu.


Siapa saja mata-mata yang memandang itu, kita lanjut di Next bab.


terimakasih.

__ADS_1


tbc


__ADS_2