
Ummi dan Di'ah masih duduk santai di teras dapurnya, ummi juga terus menceritakan tentang keluarganya.
"Ummi dan Abi mu berbeda dengan umma dan Babah mu nak." ucap ummi Parida.
"Berbeda gimana ummi, bukannya Abi adalah adik dari Babah dan seharus nya Abi juga sama dengan Babah." ucap Di'ah.
"Kami berbeda, asal kamu tau nak, babahmu tidak mendapatkan warisan dari kakek mu. bisa di katakan kakekmu itu kejam. Dari lima orang anak laki-laki nya hanya Babah yang tidak di beri warisan."
"Tapi lihat lah Babah mu, dengan giat nya dia bisa bangkit walau tanpa warisan. Dia bisa menempuh sekolah kedokteran tanpa biaya orang tuannya. Kalau di lihat dari kegigihan dan kerja kerasnya, Babah mu merupakan cerminan Mimi saat ini."
"Kok bisa Mi, Babah tidak mendapatkan warisan." tanya Di'ah.
"Iya bisa karena Babah mu itu menentang kemauan ayahnya, dia tidak mau di jodohkan berulang kali kakek akan menjodohkannya tetap Babah Syahrief tidak mau."
"Babah Syahrief mu tetap setia pada kekasihnya yaitu Umma Aisyah mu."
"Kakek mu tidak menyetujui hubungan Babah dan umma mu waktu itu bahkan saat pernikahannya Syahril dulu."
"Emm tapi kok Babah bisa punya perusahaan ya Mi, perusahan di Jakarta yang di pegang bang Afnan." tanya Di'ah yang mulai kepo kehidupan keluarga Syahril.
"Itu bukan perusahaan Babah mu nak, itu perusahaan milik keluarga umma mu. Bisa dikatakan yang kaya itu adalah Umma mu."
"Umma mu adalah anak dari pengusaha di Jakarta, Abah nya umma adalah orang keturunan Pakistan, Jambi dan Jakarta."
"Sedangkan Ummi nya umma adalah Jambi padang. Umma itu dua bersaudara namun abangnya meninggal saat menempuh pendidikan di Kairo, makanya harta kekayaan jatuh pada umma semua,"
"Ummi sangat berterima kasih sama umma mu nak, mungkin tanpa bantuannya kepada kami ipar-iparnya, anak-anak kami tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi hingga S2."
Ummi terus bercerita kehidupannya dahulu kepada Di'ah dan Di'ah hanya menyimaknya.
"Anak-anak ummi, ummi Zulaikha di bantu sama Umma tak hanya anak kami, tapi umma mu juga membantu ponakan ummi Zulaikha Rudi."
"Terutama anak ummi Ryan, Ryan adalah anak susuan dari umma mu. Ryan dan Syahril usia nya hanya beda dua Minggu, waktu itu ummi jatuh sakit jadi harus opname dan kebetulan umma mu habis melahirkan Syahril jadi dia juga memberikan ASI-nya pada Ryan."
"Ummi sangat berterima kasih pada Umma mu itu, terkadang ummi tidak mengerti kenapa kakek mu begitu tidak menyukai nya, jika dari materi umma mu adalah anak orang kaya. Jika masalah mashab sebenarnya umma mu pun memiliki nya dia seorang Syarifah, tapi entahlah kenapa kakek begitu tidak menyukainya."
"Dan ummi sangat salut pada umma mu itu walau dia anak orang kaya dia tidak pernah menampakkan bahkan mengaku dia orang kaya, bahkan dia memilih tinggal di rumah nyai nya itu yang saat ini di tempati umma mu."
"Oh jadi rumah itu rumah nyainya umma ya Mi?"
"Iya sayang, itu rumah nyainya umma dari pihak ummi nya nyainya umma, kalau dari pihak datuknya sudah di rebut sama keponakan datuknya." terang Ummi
"Kok bisa?"
"Itulah kehidupan nak, terkadang kita banting tulang mengumpulkan harta untuk anak-anak kita namun saat kita tak memiliki anak laki-laki harta itu akan di ambil oleh keluarga pihak laki-laki."
"Ya dengar cerita orang tua dulu, nyainya umma tidak memiliki nak laki-laki anak yang lahir selalu perempuan namun Allah hanya memberikan nyainya umma itu satu anak perempuan saja yaitu umminya Umma saja. Dari enam bersaudara hanya umminya Umma yang hidup menemani nyainya umma hingga akhir hayat."
"Keluarganya nyainya umma juga orang terpandang di Jambi ini, tapi pihak datuknya umma berpegang akan adat dan syari'at jadi saat datuknya meninggal mereka adik-adik datuknya ini mengambil alih harta yang dimiliki datuknya."
"Ketamakan melupakan mereka bahwa harta itu adalah harta milik datuk serta nyainya umma bersama tanpa ada harta keluarga dari Datuk. Mereka juga melupakan kalau suadsra mereka meninggalkan seorang istri dan anak yatim."
"Ke irian dengki mereka, membawa mereka ke jalan tamak sehingga mereka melupakan hak anak yatim."
"Maka dari itu ummi selalu menasehati anak-anak ummi untuk tidak memiliki atau menyimpan rasa iri dengki karena akan merusak diri kita sendiri."
"Boleh kita memiliki rasa iri namun iri yang positif yang dapat menunjang kita untuk lebih giat lagi meraih dan menggapai apa yang kita inginkan, jangan iri bersifat negatif. Iri dengan milik orang tapi tidak menunjang diri kita untuk lebih giat lagi, sehingga iri itu menjadi penyakit hati dan akhirnya membuat kita terhasut untuk melukai orang lain."
"Kelak ummi juga berharap dengan kamu dan Ryan untuk mendidik anak-anak kalian untuk saling menghormati, menghargai sesama saudara. Saling bahu membahu antar saudara agar kita di jauhkan dari yang namanya penyakit hati."
"Nak," ucap ummi sambil memegang bahu Di'ah dan Di'ah menghadap ke ummi Parida.
__ADS_1
"Ummi tau, mungkin ada sedikit rasa iri di hatimu pada Mimi. Tapi ingatlah nak saat rasa itu datang segeralah beristighfar jangan sampai rasa itu terus mengrogoti hatimu."
"Selain tak baik bagi diri sendiri, itu juga akan menjauhi kita dari orang-orang disekitar kita."
"Tak perlu kita ber iri hati pada orang lain apa lagi sahabat dan keluarga kita sendiri. Jika kita butuh dan mendesak berucaplah dan minta lah bantuannya, jangan sampe kita berucap tidak baik di belakangnya." ummi Parida terus menerus memberikan nasehat nya pada Di'ah.
"Kalau ummi tau apa yang kamu iri kan dari Mimi?" tanya ummi Parida, sejenak hening dan Di'ah ada rasa enggan untuk mengutarakan perasaannya.
"Katakanlah, biar rasa yang penat di hatimu itu bisa di hilangkan." ucap ummi Parida.
Yah ummi Parida selain merupakan ahli gizi dia juga merupakan psikolog, psikolog adalah pendidikan awal ummi Parida dan setelah itu dia mencoba berkuliah lagi di bidang gizi dan dia diterima kerja di rumah sakit dahulunya yaitu di bidang gizi.
Sehingga sedikit banyak ummi Parida bisa membaca raut wajah menantunya.
"Anggaplah ummi ini ibumu nak, jika ada yang mengganjal di hatimu ceritakan lah agar hatimu lebih lega." ucap ummi Parida. Perlahan entah mengapa Di'ah meneteskan air mata nya.
"Ceritakan lah nak," pinta ummi Parida sembari menghapus air mata Di'ah.
"A aku iri melihat Mimi ummi, aku iri apa pun dia inginkan apapun yang dia citakan selalu tercapai, sedangkan aku.."
"Padahal keluarga dulu merupakan keluarga berada tapi Mimi Selakau mendapatkan apa yang dia citakan, namun aku apa yang aku citakan tak pernah kudapatkan."
"Emang apa yang kau citakan nak? bukannya kau ingin jadi perawat pun telah tercapai." ucap ummi Parida.
"Iya ummi, cita ku minimal jadi perawat memang telah ku capai, itupun karena aku bersikeras memintanya dulu."
"Aku iri pada Mimi, tak hanya cita-cita yang di capai namun dia juga selalu di beri kan kasih sayang oleh orang-orang dekatnya."
"Aku iri sama dia walau dia duluntidak menjadi bagian dari keluarga ummi tapi dia masih selalu ada di hati kalian, di hati umma dan Babah. Bahkan di keluarga mendian calon suami nya dulu pun begitu. Sedangkan aku.. huhuhu" Di'ah terus mengeluarkan unek-unek di hatinya dan tergugu saat mengingat kehidupannya.
"Nak setiap kehidupan manusia itu berbeda-beda, berupaya lah buat ikhlas agar hatimu damai nak." ucap ummi Parida.
"Apa salah ku ummi, kenapa aku tidak bisa seperti Mimi. Lihatlah Mimi ummi, walau dia tak jadi bagian keluarga mendiang calon suaminya dia tetap di anggap anak, begitu pula saat Mimi tidak menjadi bagian keluarga ini kalian pun tetap menganggap nya anak. Tapi aku.."
"Astaghfirullah, kenapa bisa begitu?" ucap ummi Parida.
"Karena anak mereka menikah dengan ku anak mereka meninggal dan aku tidak memberikan mereka keturunan huhuhu" Di'ah terus mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya seorang diri
"Nak, jodoh rezeki itu ada di tangan Allah. mungkin Allah hanya memberimu jodoh bersama mendiang suami mu duku sebatas itu saja dan masalah keturunan juga kita tidak bisa menentukannya." ucap ummi Parida yang perlahan tahu jika sang menantu memendam kepedihan seorang diri.
"Apa kalian duku tidak berusaha untuk periksa?" tanya ummi Parida, Diah menggeleng.
"Bagaimana mau periksa ummi, setelah akad nikah aku mens, tiga hari pernikahan kami dia di tugaskan ke Jakarta dua bulan, aku ndak ikut karena aku juga kerja , saat masa tugasnya selesai dan dia pulang juga bertepatan aku mens dan ternyata dia di tugaskan lagi ke daerah lain dua bulan lamanya dan pas dia pulang dan saat malam itu tiba-tiba dia pingsan saat sholat Sunnah dan kami semua membawa ke rumah sakit namun Allah berkehendak lain." ucap Di'ah dengan tergugu
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Sabar nak, semua ujian pasti ada hikmahnya. Teruslah berdoa buat mendiang suami dulu dan berdoalah juga buat keluarganya."
"Emm jadi kamu sama Ryan masih perawan nak" ucap ummi Parida dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Di'ah.
"Ihh Ummi.." ucap Di'ah malu namun mengangguk membenarkan nya.
"Alhamdulillah." ucap Ummi bersyukur kalau akhirnya anaknya pula yang mendapatkan kegadisan menantunya.
"Semoga kalian disegerakan memiliki momongan." dia ummi Parida tulus.
"Amin" jawab ummi Parida bersama Di'ah.
"Yaudah yok kita masuk, sebentar lagi Abi dan yang lain pulang." ucap ummi Parida mengajak Di'ah.
"Ayok ummi." ucap Di'ah dengan merangkul lengan ummi Parida
"Ummi maaf kan aku ya dan terimakasih semuanya " ucap Di'ah dengan merangkul lengan dengan manakah serta menaruh kepalanya di bahu sang mertua
__ADS_1
"Iya nak, dan ummi harap kamu jangan lagi menyimpan rasa iri hati ya nak." ucap Ummi Parida dengan mengelus kepala Di'ah.
"Insya Allah ummi." jawab Di'ah.
Entah mengapa Di'ah merasa hatinya lebih jauh dari lega setelah mengutarakan dan menceritakan semua kepada ummi Parida dan dia juga merasa sangat bersalah sama sahabatnya Mimi.
Di'ah baru sadar jika sifatnya selama di dusun sangat tidak mengenakkan untuk Mimi.
Sedangkan di rumah Syahril, setelah berpelukan Syahril merebahkan dirinya di atas kasur.
"Kakak mau tidur dulu, soalnya nanti sore kakak mau balik lagi ke dusun." ucap Syahril, Mimi merasa tak enak hati.
"Maafkan Mimi kak." Mimi terus meminta maaf kepada pujaan hatinya.
"Hmm" jawab Syahril dengan memejamkan matanya dan memeluk guling ya berlainan arah. Mimi merasa keberadaan nya saat ini tak butuhkan lagi, Mimi pun keluar dari kamar Syahril dan turun ke lantai bawah.
"Yaudah kalau gitu Mimi turun dulu, kakak beristirahatlah dan nanti sore kalau pergi ke dusun hati-hati." ucap Mimi dengan memegang pinggul Syahril namun tak mendapatkan respon dari Syahril.
Dengan berat hati Mimi pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, dengan perasaan gundah gulana Mimi menuruni satu persatu anak tangga hingga sampailah dia di ruang keluarga.
kakek, Nini, emak dan umma masih berada di di ruang keluarga.
"Bagaimana nak?" tanya umma ketika melihat Mimi telah berada di ruang keluarga.
"Kak Syahril tidur umma, dia mau istirahat karena sore nanti dia akan balik lagi ke dusun." jawab Mimi.
"Iya Syahril juga tadi pagi bilang begitu," ucap Umma
"Emm mi, yok kita balik lagi. Kita mau kerumah nyai lagi." ucap emak mengajak Mimi, Mimi pun mengangguk.
"Yaudah Dan kalau gitu saya pulang dulu ketemu lagi nanti " ucap emak pada Umma,
"Iya San hati-hati." jawab Umma, Meraka berdua saling bersalaman dan berpelukan serta bercipika-cipiki
"Bah, ummi, saya pulang dulu." ucap emak pada kakek dan Nini.
"Iya nak sampe ketemu lagi kita nanti." jawab Nini dan kakek.
"Umma, Mimi pulang dulu." jawab Miki dengan menyalami umma, umma memeluk Mimi serta mengecup kening Mimi.
"Iya sayang hati-hati bawa mobilnya." ucap Umma.
"Kek, Nini, Mimi pulang dulu." ucap Mimi dengan menyalami serta menyium punggung tangan mereka bergantian.
"Iya sayang hati-hati." jawab Nini dan kakek dengan mengelus pundak Mimi, Nini pun menyium kening Mimi.
Mimi dan emak pun langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah nyai Mimi, saat sampai rumah nyai emak seperti biasa langsung menuju dapur, Mimi pun membawa durian serta gula durian yang dia bawa.
Emak langsung berbincang-bincang pada nyai, bicik dan Tante Zhia. Ternyata pakdo dan Tante Zhia sedang ada di Jambi untuk kontrol Tante Zhia.
Mimi duduk di teras depan rumah nyai sambil memainkan hp nya. Berkali-kali Mimi melihat isi email itu dan berulang kali pula Mimi menghelakan nafasnya.
''Ya Allah jika jalan ini yang aku ambil atas ridho mu maka lancarkan lah segalanya." Mimi berdoa di dalam hatinya.
"Ya Allah berikanlah hamba mukjizat mu untuk tidak menyakiti hati orang yang hamba sayangi namun tidak juga melepaskan apa yang aku citakan, tapi itu mustahil kan ya Rabb " ucap Mimi dalam hati.
Hingga Ashar Mimi dan emak berada di rumah nyai dan setelah sholat ashar Mimi dan emak baru pulang kerumah nya.
Sesampai rumahnya Mimi di ajak Ay untuk masuk ke kamarnya dengan alasan meminta bantunya untuk mengerjakan pekerjaan sekolahnya, Mimi mengikuti nya saja, hingga menjelang Maghrib Mimi mau mandi pun handuk serta pakaian ganti telah di siapkan oleh Ay.
Mimi tidak menaruh curiga dia pun dengan hati serta pikiran yang tak menentu tidak melihat ke adaan rumahnya sampailah Mimi menjalankan sholat Maghrib dan tiba-tiba ada dua orang masuk kedalam kamar Ay dengan membawa koper kecil dan besar.
__ADS_1
Siapakah dua orang tersebut? di next bab ya..