
Semenjak penjelasan dari Dilllah waktu itu, Mimi dan Dilllah kembali jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Mimi sibuk dengan jadwal operasi nya karena metode yang Mimi terapkan pada pasiennya belum membuahkan hasil karena pasien juga tidak mengikuti saran Mimi sehingga berujung di meja operasi.
Sedangkan Dillah dia sibukan dengan pengembangan resto dan penginapan di daerah ini.
Berulang kali Mimi memikirkan hubungannya ini, apakah akan berlanjut atau tidak. Mimi juga terus meminta kepada Allah jika dia salah mengambil langkah maka segera di tunjukkan kebenarannya.
Mimi sebenarnya ragu menerima Dillah kembali, tetapi Mimi ingin memberi kesempatan pada Dillah satu kali lagi.
Dillah memberikan penjelasannya saat itu pada Mimi, Dillah menceritakan segala apa yang terjadi padanya dengan sejujurnya tanpa dia saring kembali sehingga tanpa Dillah sadari dia membuka kedok ibunya sendiri.
Mimi tetap diam dan mencoba menerimanya. Mimi berpikir manusia tempat segala khilaf dan bisa berubah seiring waktu.
Mimi akan mencoba memaafkan orang tua Dillah yang telah meremehkannya.
Selama ini dalam karir nya, Mimi tidak pernah memiliki masalah. Karir yang Mimi bangun dengan suka cita nya kini semakin meningkat.
Tetapi roda terus berputar dan Mimi tidak pernah besar kepala, Mimi tetap menjadi Mimi yang dulu.
Namun kali ini roda yang mungkin merupakan kesialan tertimpa pada diri Mimi.
Yah di tengah padatnya jadwal operasi, Mimi yang baru selesai melakukan tindakan operasi di rumah sakit Nurani bunda tiba-tiba Mimi diberitahu asistennya kalau Mimi dapat telpon dari rumah sakit kota.
''Dok." panggil Gita asisten Mimi, saat Mimi baru masuk kedalam ruangannya.
''Iya sus, ada apa?" tanya Mimi sembari mencuci tangannya di westafel.
''Dokter dapat telpon dari rumah sakit kota, ada pasien UGD." ucapnya.
Mimi diam dan mengingat dokter jantung yang masuk sore.
"Kan ada dokter Johan." jawab Mimi.
"Dokter Johan sedang ada operasi dok." jawab sang asisten yang selalu mengikuti langkah Mimi.
"Jam berapa mereka telpon?" tanya Mimi.
"Kurang lebih hampir 39 menit lalu dok." jawab sang asisten dengan melihat arlojinya.
Mimi juga melihat ke arlojinya dan menghitung berapa jam jika di ruang operasi.
"Mungkin dokter Johan sudah selesai dan pasien itu sudah di tanganinya." jawab Mimi sembari minum..
"Emm tapi katanya dokter Johan saat pihak rumah sakit nelpon baru beberapa menit masuk ruang operasi." jawab Gita si asisten.
"O yaudah kalau gitu, saya ke sana dulu. Em Git tolong bantu ya cek keadaan pasien ya?' ucap Mimi.
"Sip dok macan." jawab Gita Mimi hanya menggelengkan kepala.
Gara-gara mendapat pasien anak-anak Mimi mendapat gelar baru dari pasien itu menjadi Dokmacan.
Dengan tergesa-gesa Mimi berjalan keluar ruangan menuju lift. Saat keluar dari lift berpapasan dengan dokter Rayhan.
''Dokter Mimi." panggilnya dan Mimi menoleh.
''Iya dokter rayhan.'' jawab Mimi dengan formal karena mereka sedang di lobi.
"Kamu mau ke rumah sakit kota?" tanya dokter Rayhan.
"Iya Dok, ada apa ya dok?" tanya Mimi.
"Em nggak ada cuma mau bilang juga kalau pihak rumah sakit kota menghubungi kembali." jawab dokter Rayhan.
"Oh gitu.. Yaudah kalau gitu Mimi duluan. Assalamualaikum." jawab Mimi dan berpamitan.
"Waalaikum salam." jawab dokter Rayhan sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelihaian dan kegesitan Mimi.
Mimi mengendarai motornya dengan kecepatan maksimal yang bisa dia lakukan untuk mengejar waktu lebih cepat. Beruntungnya jalanan tidak begitu ramai sehingga Mimi bisa cepat sampai.
Saat Mimi berjalan menuju ruang UGD, terlihat perawat dan dokter jaga yang panik bahkan ada seorang lelaki yang didampingi perempuan dan laki-laki ini marah-marah tak jelas.
Mimi juga mendengar sinlekaki mengumpat kasar pada perawat dan dokter UGD bahkan satpam pun kena umpatannya.
Mimi melebarkan langkah sambil berlari kecil.
"Dokter Mimi" panggil sang perawat uang melihat Mimi berlari kecil mendekati mereka. Dokter UGD pun melihat kearah Mimi dengan senyum.
"Dok." panggil dokter UGD dan Mimi hanya mengangguk dan masuk kedalam ruang UGD diikuti oleh perawat dan dokter UGD.
"Bagaimana dok?" tanya Mimi kepada dokter UGD.
"Pasien mengalami hipertensi dok, tekanan darah naik drastis, pasien ternyata merupakan pasien jantung yang mana tidak kontrol lagi lebih dari dua tahun.'' jelas sang dokter UGD dengan memberikan rekam medis pasien.
Mimi melihat rekam medis pasien dan membacanya secara teliti, disana memang tertulis terakhir di dua tahun lalu dan dia merupakan pasien dari dokter sebelum Mimi kerja di rumah sakit ini, Yanga mana dokter tersebut telah pindah tugas di luar daerah.
Mimi menghelakkan nafasnya dalam, terkadang beginilah resiko menjadi dokter. Pasien yang membandel dan nanti berujung dokter lah yang salah.
__ADS_1
"Ala sudah di suntikan obat untuk menstabilkan hipertensi nya?" tanya Mimi sambil mengecek kembali keadaan pasien.
"Sudah dok, ini kami terus memantaunya. Alhamdulillah berangsur stabil." jawab dokter UGD.
"Di luar siapanya?" tanya Mimi.
"Di luar yang perempuan anak dari pasien dok." jawab perawat.
"Yang laki?" tanya Mimi, perawat menggeleng.
''Em baiklah, saya akan bicara sama anaknya. Sus, tolong arahkan dia ke ruangan saya." ucap Mimi dan meminta sang perawat untuk mengajak anak pasien ke ruangan Mimi.
"Oh ya Dok, tolong bantu pantau jika dalam satu jam belum ada perubahan tekanan darahnya kita akan lakukan tindakan lain." ucap Mimi kepada dokter UGD sebelum dia melangkahkan kaki keluar.
"Oh ya segera lakukan rongent juga dok, saya takutnya ada penyakit lain." ucap Mimi
"Baik dok." jawabnya.
Mimi berjalan menelusuri ruangan menuju lantai atas karena ruangannya berada di lantai atas.
Sesampai di ruangannya, Mimi melihat sepasang anak manusia sudah duduk di kursi depan mejanya.
"Dok" ucap si perawat, Miki mengangguk dengan terus berjalan menuju kursinya.
"Sore" sapa Mimi kepada dua orang di depannya.
"Sore dok," jawab si perempuan tali tidak dengan yang laki-laki. Mimi bersalaman dengan anak pasien dan laki-laki itu menolak bersalaman, Miki hanya tersenyum dan menggeleng.
"Jadi Bu Dina ini anak dari ibu yang di UGD tadi?" tanya Mimi yang sudah mengenal anak pasien.
"Iya dok." jawab Dina.
Yah anak dari pasien bernama Dina Lorenzo seorang dosen muda di universitas UNOH.
"Terus, apa dia adik atau saudaranya bu Dina?" tanya Mimi, terlihat dosen cantik ini tersipu malu.
"Dia pacar saya Dok?" jawabnya dan Mimi hanya ber O ria.
"Jangan banyak basa basi, cepat jelaskan kenapa ibunya sampe pingsan lama gitu?' ucap si laki-laki yang tak ada akhlak nya. Dina mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Oh ya apa tadi dokter di UGD sudah menjelaskan perihal ibu nya Bu Dina?" tanya Mimi kepada dosen cantik itu.
"Sudah dok." jawab Dina Lorenzo, Mimi melihat ke arah si lelaki yang sok garang itu.
"Begini, ibu anda memiliki kelainan pada jantungnya dan sudah dua tahun lebih tidak kontrol, apa bu Dina mengetahui itu?" ucap Mimi dan bertanya pada Dina Lorenzo.
"Setau saya, ibu selalu bikang kalau dia selalu kontrol dan ibu saya juga selalu mengonsumsi obat-obatan seperti biasanya.'' terang Dina Lorenzo.
"Apa ibu anda bilang dia kontrol dimana? jika ibu anda kontrol disini maka di rekam medis nya selalu tercatat jadwal kontrol beliau." ucap Mimi.
''Saya tidak tau dok." jawab Dina Lorenzo menunduk. Miki menghelakan nafasnya.
"Kenapa bisa tidak tau? Anda tau kan penyakit jantung bukanlah penyakit yang sepele." ucap Mimi, Dina hanya diam dan menunduk.
"Seharusnya, ibu anda sudah dilakukan tindakan pemasangan ring di jantung nya pada 2.5 tahun lalu. Atau jangan-jangan Anda juga tidak tau hal ini." ucap Mimi dengan terus melihat ke arah Dina Lorenzo.
Dina Lorenzo hanya diam dan dia juga menggelengkan kepala bahwa dia membenarkan kalau dia tidak mengetahui hal itu.
Mimi menggelengkan kepala nya dan memijit pelipisnya. Mimi heran ada anak yang kurang memperhatikan ibunya apa lagi sang ibu mempunyai riwayat sakit jantung.
"Apa anda tidak tinggal serumah dengan ibu anda?" tanya Mimi lagi.
"Kami tinggal serumah dok." jawabnya. Mimi menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi saya semenjak di terima mengajar di kampus saya sebelumnya. Saya jarang mengantar ibu saya kontrol, saya selaku mempercayai ibu saya. Kata nya dia sudah kontrol setiap saya mengingatkan jadwal kontrol dia."
"Dan saya juga melihat ibu selalu meminum obatnya." jawab Dina Lorenzo.
"Terus kenapa ibu saya tadi di bilang sama dokter di bawa hipertensi ya dok?" tanya Dina.
"Anda sebagai seorang dosen tentu sedikt banyak tau tentang kesehatan."
"Orang yang memiliki riwayat penyakit jantung banyak makanan yang di pantang untuk penderita jantung."
"Saya yakin kalau anda juga tidak memperhatikan pola makan ibu anda." ucap Mimi dan Dina menunduk serta mengangguk.
"Anda adalah anak kandungnya kan?" tanya Mimi yang sedikit kesal karena melihat Dina tidak memperhatikan ibunya.
"Sa saya anak kandungnya dok." jawab Dina terbata, Mimi yakin pada dirinya kalau Dina mulai merasa bersalah terhadap ibunya.
"Sesibuk apapun anda, apa lagi serumah perhatikanlah orang tua kita terutama ibu yang melahirkan kita." ucap Mimi.
"Hei anda itu dokter, jangan sok ngatur kehidupan orang Lo." ucap cowok Dina yang mulai kurang ajar.
"Anda siapa? Anda bukan anak dari ibu itu tapi gaya anda sedari tadi membuat saya muak." ucap Mimi yang ikut terpancing emosi.
"Jika anda tidak tau masalah, lebih baik anda diam atau mempelajari dari masalah ini agar tidak terkena pada orang tua anda.'' ucap Mimi ketua lada lelaki itu.
__ADS_1
"Braaak Hei Lo jangan bawa-bawa nama orang tua gue ya Lo." ucap si cowok dengan menggebrak meja Mimi dan menunjukkan ke arah Mimi, Miki tersenyum smirk melihat tingkah bocah ingusan itu.
"Lebih baik anda diam atau keluar dari ruangan saya." ucap Mimi dengan menaikan intonasi suaranya.
"Yank, plis" ucap Dina menenangkan sang pacar dengan memegang lengan sang pacar.
Melihat semua tenang Mimi pun mulai memberitahu kan kepada Dina perihal sang ibu.
"Maaf Bu Dina kalau saya tersulut emosi."
"Iya dok tidak apa." jawab Dina Lorenzo
''Begini, saat ini ibu anda sedang mengalami hipertensi dan tekanan darahnya naik drastis. Apa sebelumnya ibu anda mengkonsumsi makanan berlemak, merokok atau minum alkohol" ucap Mimi dan bertanya pada Dina.
Dina hanya diam, dia tidak mengetahui bagaimana keseharian ibunya di rumah, sepulang mengajar dia tidak langsung pulang melainkan jalan keluar bersama lelaki bersama nya saat ini.
Mimi melihat gerak gerik Dina yang hanya diam itu, Mimi menggeleng dan meyakini kalau perempuan yang berada di depan nya pasti tidak mengetahui keseharian sang ibu.
"Emm baiklah saya tau jawaban anda," ucap Mimi.
"Dari bau mulut ibu anda saya mencium kalau ibu anda minum minuman beralkohol sejenis tuak." ucap Mimi.
Ya saat Mimi memeriksa keadaan pasien Mimi mencium aroma tak sedap dari mulut pasien.
"Walau kadar alkohol yang terkandung di tuak itu kecil tapi itu tidak baik di konsumsi bagi penderita jantung.' terang Mimi, Dian hanya diam.
Bukan Dina tidak mengetahui kalau sang ibu sering meneguk tuak, di tempat lama mereka ibunya bila kumpul dengan teman-temannya selalu menegak tuak.
Tak lama mereka berbicara di dalam ruangan terdengar ketukan pintu.
"Dok, pasien kejang." ucap perawat memberitahu.
"Oh baiklah," jawab Mimi tanpa ba-bi-bu langsung keluar meninggalkan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
Di ruang UGD, Mimi mengecek tekanan darah pasien naik lagi. Tanpa berpikir panjang Mimi menghubungi rekan sejawatnya dari dokter bedah,dokter penyakit dalam.
Mimi dan kedua rekanya mengadakan meeting darurat akhirnya mereka memutuskan untuk mengoperasi jalan satu-satunya karena dari hasil rongent serta city scan terdapat pembekuan darah di otak mungkin disebabkan si ibu jatuh.
Satu yang terlupakan oleh Mimi menanyakan sebelum ibu pingsan.
Tak hanya pembekuan darah di otak, si ibu ternyata pengidap diabetes dan ada penyempitan pembuluh darah di bagian jantung sehingga itu membuat si ibu kejang.
Miki sangat beruntung memiliki rekan kerja yang saling membahu, sebelum dia masuk ke ruangannya untuk bertemu anak si pasien, Mimi meminta perawat menghubungi dokter bedah serta dokter penyakit dalam.
Mimi dan kedua rekan dokter nya melakukan operasi beser pada si ibu.
Operasi yang sangat memakan waktu, Mimi dan kedua tim dokter tak hanya mengoperasi jantung melainkan juuga bagian kepala untuk mengambil darah beku di otak pasien.
Hingga subuh hari mereka baru selesai dan operasi berjalan lancar.
Namun naasnya seminggu setelah pasca operasi si ibu kolaps dan meninggal dunia saat dimana hari itu si ibu diperbolehkan pulang.
Dia hari pasca meninggalnya si ibu, Mimi yang baru selesai operasi dan Mimi juga sedang tidak enak badan di panggil dokter Rayhan di ruangannya.
Mimi mengetuk pintu ruangan dokter Rayhan dan dokter Rayhan menjawab masuk
Mimi berlahan berjalan menuju kursi di depan meja dokter Rayhan karena Mimi merasa kepalanya pusing.
"Mi" panggil dokter Rayhan ketika Mimi telah duduk
"Ya Da." jawab Mimi.
"Ini" ucap dokter Rayhan dengan menyerahkan amplop. Mimi melihat ke arah dokter Rayhan dengan menautkan kedua alisnya.
"Bukalah, itu dari kiriman dari rumah sakit kota." ucap dokter Rayhan dan Mimi membuka dan membacanya.
Miki terkejut saat membaca isi dari surat itu.
"Somasi" ucap Mimi.
"Iya itu somasi dilayangkan dari pihak pasien yang kolaps itu." jawab dokter Rayhan. Mimi menutup mulutnya dan seketika oleng karena kabar itu tak hanya kabar Mimi juga sedang pusing karena kurang istirahat.
Yah akhir-akhir ini Mimi banyak melakukan jadwal operasi sehingga dia melupakan kesehatan nya sendiri demi menyelamatkan nyawa pasiennya.
Saat dokter Rayhan membantu Mimi dan merangkul Mimi ke sofa, pintu terbuka dan terlihat kekasih dokter Rayhan mematung di tengah pintu.
"Kejarlah Da, Mimi tidak apa-apa."
"Jangan sampai ada kesalahpahaman." ucap Mimi menyuruh dokter Rayhan mengejar sang kekasih yang lari.
"Iya uda pergi dulu, nanti kita bahas dan apa solusinya." jawab Rayhan dan segera mengejar sang kekasih.
Mimi rebahan seorang diri di sofa dalam ruangan dokter Rayhan.
"Ya Allah kau telah memberikan ujian lagi untukku, terimakasih ya Allah. Bimbing hamba untuk menghadapi nya." gumam Mimi dengan melihat surat somasi itu
tbc
__ADS_1