DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
keputusan


__ADS_3

Lama Mimi mematung menghadap tembok itu, menghadap sebuah benda yang menjadi salah satu identitas penting dalam diri sendiri dan keluarga.


Mimi memejamkan matanya dan menghelakan nafas panjangnya, hal yang utama yang harus diketahui lebih awal hal itu pula yang mereka berdua lupakan.


Revano yang merasa Mimi tidak ada di sampingnya lun berhenti dan melihat ke arah belakang. Dilihatnya orang yang baru !enjadi kekasihnya mematung menghadap tembok.


Revano pun menghelakan nafas panjang, bukan dia sengaja untuk berbohong namun sangking dia menyukai dan me vibgai Mimi dia meluoakan sagu hal itu.


Namun sebelum dia memutuskan untuk menembak Mimi waktu itu, dia sudah bertekad pada dirinya sendiri bahkan sudah menjadi sebuah nazar baginya.


Revano berjalan menghampiri Mimi dan dia berdiri di samping Mimi dan matanya juga merupakan lihat ke arah tembok itu.


"Maafkan aku yank, hal ini yang terlupakan bagiku." ucapnya, Mimi melihat ke arah Revano, Mimi melihat ke arah manik mata Revano yang juga sedang melihat ke arahnya.


Mimi melihat kejujuran Revano, Mimi baru mulai membuka hatinya dan baru mulai menjatuhkan pilihannya walau rasa cinta itu belum benar-benar ada.


"Maafkan aku" ucap Revano dengan !menunduk dan penuh penyesalan.


"Tapi percayalah yank, aku sudah bertekad pada diriku sendiri jika kau menerima ku, orang tua mu juga mengizinkan nya juga. Aku bertekad akan mengikutimu, aku juga sudah belajar semuanya dalam setahun ini, hanya saja aku be.." Revano berusaha menjelaskannya namun tiba-tiba sang kakak menghampirinya.


"Loh kok masih disini ayo masuk." ucap si kakak dengan senyum.


"Iya kak." jawab Revano.


"Ayo yank kita masuk." ajaknya Mimi pun mengangguk, sebelum melangkahkan kakinya Mimi mengamit tangan Revano, Revano pun melihat ke arah Mimi dengan senyum manisnya.


"Nggak apa, mereka baik kok." ucapnya dengan menggandeng lengan Mimi.


Setelah sampai di ruangan keluarga, terlihat semua keluarganya kumpul. Mimi bingung mau menyalanya bagaimana, Mimi hanya mengikuti hati nuraninya saja.


"Malam Tante, Om, semua." ucap Mimi pada semua yang ada di dalam ruangan itu.


"Malam nak, oo ini toh calon mantu ku." ucap si ibu paruh baya namun masih terlihat cantik berdiri dan mendekati Mimi, Mimi yakin jika itu adalah ibunya Revano. Mimk menyalaminya dan menciumi punggung tangannya.


"Apa kabar Tante?" tanya Mimi.


"Mami baik nak, kamu apa kabar sayang?" jawabnya dan kembali bertanya yang sama.


"Alhamdulillah Mimi juga baik Tante." jawab Mimk dengan senyuman dan si mami Revano ljn ikut tersenyum.


"Emm yaudah karena tamu yang ditunggu sudah sampai kita langsung makan aja yuk." ajak si mami Revano dan menggandeng lengan Mimi meninggalkan semuanya termasuk Revano.


Mereka yang ada di ruangan itu oun setuju dan mengikuti langkah si tuan rumah ke ruang makan, Revano terdiam ketika dirinya dikucilkan oleh keluarganya sendiri.


"Lah kok Vano di tinggal." ucap Revano ketika kakak, kakak ipar , adik serta ayahnya meninggalkan dirinya seorang diri.


"Kamu sudah biasa dirumah." ucap si ayah dengan menepuk bahu sang anak. Revano hanya melongok mendengar ucapan sang ayah.


Dengan rasa bahagia karena keluarganya menerima Mimi, Revano pun ikut dengan mereka.


Di ruang makan Mimi dilayani bak putri, Mimi merasa canggung dan tak enak hati akan perlakuan mereka.


"Ayo nak, duduk." ucap simami menarik kursi dan menyuruh Mimi untuk duduk.


"Makasih Tante." jawab Mimi dan duduk di kursi itu.


Si mami pun memasuki babak ke dalam piring untuk Mimi.


"Oh ha sayang kamu mau pakek lauk apa?" tanya nya, Mimi merasa ragu. Sang mami yang mengerti akan keraguan calon menantunya lun hanya tersenyum.


"Tenang nak, semua halal." ucap si Mami, Mimi mengangguk dan merasa tak enak hati.


"Maaf Tante." Mimi meminta maaf pada ibunya Revano.


"Iya nggak apa-apa, mau pakai lauk apa?" jawab si Mami dan bertanya kepada Mimi kembali perihal lauk.


"Emm nggak usah Tante." tolak Mimi pada maminya Revano namun Mimi melihat semua juga melihat pada nya.


"Em maaf, maksud Mimi biar Mimi mengambil sendiri. Tante duduk aja ya." ucap Mimk dengan beranjak berdiri dan menyuruh si Mami Revano duduk.


Mimi mengambil piring si Mami dan memasukkan nasi kedalamnya.


"Tante mau pakai sayur dan lauk apa?" tanya Mimi yang kembali melayani ibu Revano. Maminya Revano merasa senang melihat Mimi yang memperhatikan dirinya.


"Kok malah kamu yang melayani kami." ucap si Mami Revano.


"Emang sewajarnya yang muda melayani, justru Mimi merasa tak enak hati kalau Mimi yang dilayani seperti tadi." jawab Mimi, sang mami pun mengelus lengan Mimi.


"Tante mau pakai lauk apa?" tanya Mimi lagi


"Ikan bakar aja nak." ucapnya dan miminoun memasukkan sayur SOP dan ikan bakar nya dan taknluoa sambalnya.


"Ini tante, silahkan dimakan " ucap Mimi dengan memberikan piring itu dan Mimi beralih ke piring ayahnya Revano dan memasukkan nasi di dalamnya.


"Om mau pakai apa?" tanya Mimi pada ayah Revano. Ayah Revano merasa senang, dia juga mendapatkan pelayanan oleh calon menantunya.


"Samain aja sama mami nak.'' ucapnya dan Mimi pun mengangguk.


"Ini Om, silahkan." ucap Mimi.


Setelah melayani kedua orang tua Revano Mimi kembali duduk di kursinya. Saat Mimi akan duduk Mimi melihat ke arah Revano yang tersenyum padanya.

__ADS_1


"Yank, kok hanya Mami sama Papi aja?" ucapnya dengan menyodorkan piringnya ke arah Mimi.


"Helehhh" ucap semua.


Mimk tersenyum pada Revano dan mengambil piring dan memasukkan nasi serta lauk pauknya.


"Ini kak." ucap Mimi.


"Makasih sayang." ucapnya.


Mimk merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka, mereka keluarga yang baik. Namun apakah semua ini akan terus berlangsung. Itulah yang saat ini akan menjadi pikiran Mimi.


Setelah selesai makan mereka kembali menuju ruang keluarga, Mimi membantu bibi membereskan namun di cegah oleh Mami.


"Udah nak,biar mereka saja." cegah mami Revano kala Mimi hendak memberikan meja makan.


"Nggak apa Tante," elak Mimi yang masih ingin membantu.


"Nggak usah non, kalau non bantuin bibi mq yang lain jadi kurang pekerjaannya." sergah si bibi.


"Ayo" ucap si Mami, Mimi pun mengangguk.


"Maaf ya Bi." ucap Mimi kepada art.


"Iya non nggak apa-apa, makasih sudah mau nolongin." ucap si bibi dan Mimi hanya mengangguk.


Mimi berjalan bersama maminya Revano dengan lengan Mimi yang digandeng oleh maminya Revano.


Revano tidak miliki celah untuk mendekati Mimi karena sangbkekasih telah dikuasai sang mami.


"Ayo duduk." ucap si Mami Revano kala sudah sampai di ruang keluarga.


"Makasih Tante." jawab Mimk dan duduk begitu pula dengan mamknya Revano yang duduk di samping Mimi, Revano oun ikut duduk di samping Mimi.


"Vano kamu duduk sama papa sana, nyemlil aja." usir si Mami dan Revano melongok kala dirinya di usir.


Kakak, kakak ipar dan adiknya hanya tersenyum melihat dirinya di abaikan.


"Nasib nasib kenapa diriku tersisihkan." ucapnya.


"Hahaaaa" semua tertawa kecuali mami nya dan Mimi hanya tersenyum.


"Ayo ya k kita duduk disana." ucap Revano dan mengajak Mimk duduk di kursi yang kosong satunya.


"Enak aja, kamu aja Sanaa yang duduk sendirian." ucap mami dengan mengeplak tangan Revano yang akan memegang gang Mimi.


"Aduh Mami kenapa jadi kdrt sih." ucap Revano.


ponaan.


"Hmmm yaudah ayo Lala duduk sama Om aja yuk " ajak Revano lada ponakannya.


"Ndak mau, Lala maunya duduk sama aunty tantik aja." tolak Lala dan berjalan menuju ke arah Mimi dan maminya Revano.


"Lah biasanya kan sama Om kok sekarang nggak mau?" tanya Revano.


"Itukan biassanya sekalang Lala dah nggak mau biassa lagi." jawab lolos si Lala dengan gaya angkuh menjauhi Revano yang mengundang gelak tawa.


"Hah" Revano melongok mendengar celotehan si ponaan.


"Udah dek terima aja nasibmu.'' ucap si kakak.


"Nasib mu bang bang tersisihkan malam ini." ucap si adek.


Dengan gontai Revano duduk di samping sang papi yang menggeleng melihat sang anak teraniaya dan tersisihkan malam ini.


"Sabar" ucap si papi.


Revano melihat interaksi mami serta ponaan nya pada Mimi.


"Keg anal tiri Vano pi" ucap Revano dengan mata !memandangi senyum sang kekasih.


"Ha-ha-ha" sang Papi tertawa mendengar aduan anaknya.


"Aunty aunty, Lala juga mau pakai kerudung seperti aunty." ucap polos Lala.


"Hmm bagus dong, tapi apa Mama,papa Lalla setuju." jawab Mimi.


"Mah, pah, bolehkan?" tanya Lala pada kedua orangtua nya dan kedua orangtuanya mengangguk.


"Tuh aunty Mama sama papa Lala setuju." ucap Lala dan Mimk mengangguk dan mengelus rambut panjang Lala.


"Cindy juga mau pakek kerudung." ucap Cindy tiba-tiba dan semua melihat ke arah dirinya dan Cindy ntersenyum menampilkan gigi ginsulnya.


"Oh ya nak, mami mau tanya boleh?" tanya si Mami Revano yang memulai berbicara serius.


"Boleh Tante." jawab Mimi dengan tersenyum.


"Apa kamu sudah tau siapa Revano nak? !aksdu mami agama kami." ucapnya, Mimi terdiam dan menggelengkan kepala karena dia belum mengetahui, sang mami menghelakan nafasnya.


"Apa Revano tidak kasih tau?" tanya Mami, Mimi menggeleng dan lagi-lagi sang mami menghelan nafasnya dan melihat ke arah Revano begitupun yang lain.

__ADS_1


"Maaf Revano lupa." jawab Revano saat semua mata memandang ke arahnya. Semua lun menghelakan nafasnya dan menggeleng.


"Hummm, mungkin kamu sudah lihatkan nak yang ada di dinding arah mau masuk ke dalam tadi." ucap si Mami dan Mimi mengangguk, mami memegang kedua tangan Mimi


"Humm, Jujur mami suka sama kamu. Tak hanya anak mami yang jatuh hati sama kamu, mami pun juga sudah jatuh hati padamu."


"Revano sudah menceritakan siapa kamu pada kami, dan mami terkejut kala !mengetahui kalau anak mami ini ingin serius denganmu"


"Mami, Papi dan yang lain tidak memaksakan kehendak pada Revano, semua kami serahkan padanya karena dia sudah dewasa dan sudah tau apa yang akan diputuskannya."


"Kami sebagai orangtuanya hanya mendukungnya jika itu merupakan hal yang terbaik bagi dirinya dan hidupnya kelak."


"Nak, apa kamu yakin menerima anak Mami!" tanya sang mami pada Mimi.


Mimi diam, Mimi tidak tau harus menjawab apa karena ini sudah menyangkut aqidah dan kepercayaan.


"Mami tau kamu ragu karena perbedaan diantara kalian" ucap si Mami.


"Maaf Tante " jawab Mimi.


"Tak apa, tapi seperti yang mami katakan. Kami semua menyerahkan semua pada Vano karena dia yang akan menjalaninya." ucap si Mami tersenyum namun sorot mata ada kesedihan.


"Yank, maafkan aku. Aku melupakan satu hal itu, tapi percayalah semua sudah aku pikirkan dan aku tekadkan." Ucap Vano yang sudah berjongkok di depan Mimi, Mimk melihat ada keseriusan di mata Revano.


Keluarga yang nyaman dan tentunya keluarga idaman jika bisa menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga ini. Mimi juga merasa nyaman dengan mereka.


"Ya Allah, kenapa saat hamba akan membuka pintu hati dan ingin menjalankan ibadah mu sagu itu ada lagi halamannya." ucap Mimi pada hatinya.


Mimk sudah memutuskan lada dirinya sendiri jika dia tidak ingin berpacaran lama-lama dan Mimk akan setuju bila ada yang mengajak nya menikah dengan syarat dia tetap bisa berkuliah dan mengejar impiannya dan pastinya juga keluarga mereka baik dan menerka dirinya apa adanya.


Saat dia menemukannya ada rintangan yang dihadapinya lagi, keyakinan dan aqidah hal yang utama bagi hidupnya menjadi tombak besarnya.


"Yank, aku sudah belajar semuanya. Mengaji, rukun-rukunnya serta tata cara sholat. Aku sudah bertekad akan mengikuti keyakinan mu, aku juga sudah membicarakan semua ini pada keluargaku." ucap Revano.


"Yank" panggilnya, Mimk mengangguk dan tersenyum ada kelegaan di hati mereka semua.


"Kak, maaf sebelum nya " ucap Mimi dan melihat ke arah Revano begitupula dengan yang lain melihat ke arah Mimi, mereka khawatir Mimi menolak Revano. Miminyanh merasa diperhatikannya hanya tersenyum


"Kak, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Jangan lah kakak meninggalkan keyakinan kakak hanya karena seorang wanita" ucap Mimi yang terus melihat ke arah Revano, Mimi juga ikut duduk sejajar dengan Revano.


"Mimi tidak mau kakak lakukan semua itu sebagai keterpaksaan. Tidak mudah menjalani sebuah keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang kita dapatkan sedari lahir."


"Jangan terlalu memaksakan diri jika hati kakak ada keraguan." j


Ucap Mimi dengan tersenyum.


"Nak, jika kamu memeluk keyanikan kami atau kalian menikah beda keyakinan apa kamu mau?" tanya mami yang ingin melihat kejujuran dan kekuatan dari Mimi.


Sebelum Mimi menjawab nya, Mimi melihat mami dan semuanya dengan tersenyum.


"Maaf Tante, Mimi tidak bisa melakukan hal itu. Seperti yang Mimi katakan tidak mudah menjalani keyakinan lain Tan, tidak mudah menjalani sebuah keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang kita dapatkan sedari lahir." jawab Mimi.


"Apa lagi dikeluarga Mimi, keyakinan adalah hal utama dipertanyakan. Dalam hubungan membina suatu keluarga pun lebih baik dilakukan dengan satu keyakinan agar keluarga yang kita bina i dirahmati Allah SWT."


"Apa lagi di ajaran kami tidak dibenarkan menikah beda agama. Di agama kami pernikahan beda agama dalam Islam hukumnya haram dan akad nikahnya otomatis menjadi tidak sah."


"San bagi kami jika ada yang melakukan hal itu sama saja kami melakukan perzinahan."


"Walauoun di negara kita sendiri, sudah cukup banyak pernikahan beda agama yang terjadi, antara perempuan Muslim dengan laki-laki non-Muslim atau sebaliknya. Semua juga sudah ada di undang-undang nya, yanga mana berdasarkan Undang-undang Perkawinan No 1 Tahun 1974, hukum tentang pernikahan campur, dalam arti beda agama, tidak dijelaskan secara eksplisit.


Namun, Majelis Agama Tingkat Pusat (MATP) sepakat memberikan kewenangan penuh kepada masing-masing agama untuk membuat ketentuan pernikahan sesuai ajaran agamanya, termasuk ketentuan pernikahan beda agama."


"Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah sepakat mengeluaran fatwa bahwa pernikahan beda agama dalam Islam hukumnya haram dan akad nikahnya otomatis menjadi tidak sah, tak hanya MUI saja, di keluarga kami lun mene yang hal itu."


"MUI tentunya juga tidak sembarangan mengeluarkan fatwa karena fatwa ini juga didasarkan pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221 berikut:


وَلَا تَنۡكِحُوا الۡمُشۡرِكٰتِ حَتّٰى يُؤۡمِنَّ‌ؕ وَلَاَمَةٌ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِكَةٍ وَّلَوۡ اَعۡجَبَتۡكُمۡ‌ۚ وَلَا تُنۡكِحُوا الۡمُشۡرِكِيۡنَ حَتّٰى يُؤۡمِنُوۡا ‌ؕ وَلَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِكٍ وَّلَوۡ اَعۡجَبَكُمۡؕ اُولٰٓٮِٕكَ يَدۡعُوۡنَ اِلَى النَّارِ  ۖۚ وَاللّٰهُ يَدۡعُوۡٓا اِلَى الۡجَـنَّةِ وَالۡمَغۡفِرَةِ بِاِذۡنِهٖ‌ۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ


Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran."


"Maafkan Mimi jika Mimi menolaknya." ucap Mimi.


"Apalagi Mimi anak perempuan, anak perempuan merupakan anak yang menentukan dosa kedua orangtuanya, bukan hanya anak perempuan anak laki-laki pun sama. Cuma dosa yang diperbuat anak perempuan akan berbalik pada kedua orangtuanya."


"Maka dari itu kak, Mimi harap kakak tidak gegabah dalam mengambil keputusan." ucap Mimi.


"Tidak dek, kakak tidak gegabah. Semua sduah kakak tekadkan mungkin ini juga sebuah nazar bagi kakak jika kakak bisa mengajakmu menikah kakak akan ikut keyakinan mu." ucap Revano.


"Jangan seperti itu, jangan karena Mimi kakak berpindah keyakinan." ucap Mimi.


"Tidak dek, kakak sudah yakin dan bersumpah pada diri kakak sendiri. Kakak sudah mempelajari nya dan semua tinggal mengucapkan syahadat nya saja yang belum" ucapnya.


"Dek maukan menuntun kakak? carikan kakak orang yang bisa menuntun kakak !mengucapkan syahadat." ucapnya.


Mimknyeeharu mendengar semua keseriusan Revano, tanpa disadari air mata Mimi pun jatuh. Mimi melihat keseliling nya juga penuh harap lada dirinya, Mimi mengangguk dan ingin membantu Revano.


"Baiklah kak, nanti Mimi tanyakan Abi." jaqba Mimi dan Revano pun mengangguk.


Setiap manusia memiliki jalan hidupnya sendiri, baik buruknya semua sudah di atur dalam siratan illahi. semua sudha tercatat di lauhul Mahfudz nya Allah.


tbc

__ADS_1


Assalamualaikum selamat lagi selamat beraktifitas, yok terus beri dukungan nya ya, makasih yang selalu setia di karya authore


__ADS_2