
Setelah beberapa hari acara perpisahan Syahril cs pun pergi menuju kota pedang untuk menyelesaikan administrasi nya di sebuah universitas di kota pedang.
Beberapa hari mereka mengurusnya dan mereka juga mencari tempat untuk mereka tempati pabila telah tiba waktunya masa kuliah itu tiba.
Mimi sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir semester, Mimi terus berlatih dan menghafal setiap mata pelajaran. Mimi sangat antusias dalam belajarnya, dia juga berharap kelak mendapatkan nilai terbaik dan bisa mendapatkan sebagai mahasiswa undangan.
Tak dipungkiri Mimi juga ingin meraih cita-cita nya dan ingin merubah derajat kedua orang tuanya. Mimi ingin kerja keras kedua orangtuanya tak sia-sia.
Mimi adalah harapan bagi kedua orang tua dan keluarganya karena dia merupakan anak pertama dan cucu pertama. Walau dia memiliki banyak saudara namun mereka masih kecil-kecil.
Mimi selalu terringat perkataan dikala dia ditanya ingin jadi apa oleh orang-orang sekitarnya dan dengan lantangnya pula dia ingin jadi dokter.
Sebagian ada menyemangati dan ada pula mematahkan semangat dengan mengatakan tidak mungkin bisa karena untuk menjadi seorang dokter itu butuh biaya besar sedangkan keluarga Mimi khususnya orang tua Mimi hanya seorang petani sepetak.
Miris ya emang miris bagi kita yang hidup hanya cukup buat makan sehari namun jika tuhan berkehendak maka apapun yang terjadi akan terjadi.
Terkadang orang tua Mimi pun ikut down bila mendengar tutur kata mereka yang nyelekit gitu. Tak urung pula terkadang emaknya Mimi bersedih dalam diamnya.
Kedua orang tua Mimi adalah petani yang bertransmigrasi yang mengadu nasib ke daerah lain. Namanya petani kadang ada kadang surut nya.
Dikala mereka berhasil menuai panen kadang keadaan memaksa mereka untuk berpindah kembali. Apa lagi kedua orang tua Mimi selalu berpindah-pindah.
Sebelum menjadi seorang patani bapak Mimi adalah seorang buruh bangunan dan setelah terdengar adanya terselenggaranya transmigrasi bapak pun ikut serta diri dalam penyelenggaraan itu dan Alhamdulillah mereka berhasil mendapatkan nya.
Setelah sedikit berhasil di bidang pertanian sawah lahirlah si Ay namun si Ay selalu menangis di saat siang hari mulai jam lahirnya hingga sore hari kata orang dia tidak betah tinggal di rumah yang di tempati kedua orang tua Mimi bertahun-tahun.
Setalah si Ay lebih berumur 40 hari dan Mimi pun kala itu harus di rawat karena terkena DBD maka pihak keluarga juga meminta agar kedua orang tua Mimi pindah dari sana.
Setelah pindah orang tua Mimi juga ikut kembali jalur transmigrasi sawit dan orang tua Mimi pun mendapatkan nya.
Mimi selalu bertekad dalam hatinya dia ingin sukses,dia ingin membuktikan kepada orang yang telah menghina kedua orang tuanya bahwa apa yang mereka hina akan terwujud.
Iya mereka selalu menghina tak akan mungkin bisa kedua orang tua Mimi bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tinggi.
Jika sedang belanja emaknya Mimi selalu disindir namun emak tak menanggapi nyinyiran orang yang memiliki lahan sawit berhektar-hektar.
Walau sindiran itu kadang membuatnya sakit namun dia selalu berdoa dan meminta agar selalu diberi rezeki yang halal agar bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Ujian akhir semester telah didepan mata, Syahril pun telah pulang dari kota pedang dia selalu datang kerumah Mimi untuk membantu Mimi belajar terkadang Mimi melarangnya untuk datang karena Mimi ingin fokus untuk belajar.
"Dek besok kakak kerumah ya? giliran kakak nemani adek belajar." pintanya meluk sambungan telpon.
"Eh gak usah kak," tolak Mimi tak enak.
"Kenapa?" tanya nya pula.
"Nggak kenapa-napa sih cuma lebih baik nggak usah ya." pinta Mimi masih dengan rasa tak enak hati.
Bukan Mimi menolak untuk ditemani belajar namun bila di temani Syahril apalagi jika sepupunya juga ikut yang ada Mimi bukan fokus untuk belajar.
"Kalau Ndak ada apa-apa kenapa nolak kalau kakak temani.!" Syahril terus meminta untuk menemani Mimi belajar, Mimi terdiam harus memberi alasan apa.
"Kenapa diam?"Tanya Syahril kembali dan Mimi masih terdiam mencoba mencari alasan yang tepat untuk Syahril.
"Atau sudah ada yang nemani ya!" imbuh Syahril dengan segala praduga.
"Eh Bu bukan gitu kak." jawab Mimi terbata karena Mimi belum menemukan alasan telat buat Syahril.
"Terus apa?"Syahril lantang menyerah dia selalu menawarkan diri untuk menemani Mimi belajar.
"Mimi hanya ingin fokus belajar kak." hanya kata itu yang lolos dari bibir Mimi saat ini.
"Iya kakak tau makanya kakak akan menemani dan membantu adek belajar." ucap Syahril.
"Ndak perlu kak, Mimi ingin belajar sendiri aja. eh udah dulu ya kak Mimi dipanggil Nyai. assalamualaikum." ucap Mimi mengakhiri sambung telpon sepihak selain emang di panggil sama Nyai, Mimi juga tak ingin selalu membuang waktu hanya untuk berdebat.
Huhhh Mimi mengeluarkan deru nafas nya merasa bebas dari debatnya bersama Syahril.
"Maaf kak bukan Mimi tak ingin kakak membantu dan menemani Mimi belajar, kalau ada kakak disini yang ada waktu Mimi terbagi antara belajar dan memasak untuk kalian." gumam Mimi dan terus berjalan ke arah Nyai.
"Ada apa Nyai?" tanya Mimi setelah sampai dekat nyai.
"Tolong angkat kan kerupuk ni ke bawah." ucap nyai dan Mimi pun langsung membawa kerupuk-kerupu yang siap di jemur itu kebawah.
"Beuh, tanpa ditemani dia aja waktu kunjungan sudah terbagi gini apa lagi ada dia disini, malah tambah sibuk aku di dapur." gumam Mimi lagi dengan membayangkan kalau Syahril benar adanya nemani dia belajar.
Mimi ingin belajar sendiri biar lebih fokus kebelajrnya pabila ditemani otomatis dia juga memikirkan perut orang yang menemaninya, waktu Syahril selama ujian lalu yang pulang dan belajar di rumah Mimi aja Mimi dibuat kerepotan sudah seperti seorang istri yang harus melayani suami dengan mempersiapkan makannya.
Apalagi ini yang ujian Mimi gimana dia mau fokus belajar jika harus di bagi dengan urusan dapur, gitulah pemikiran Mimi karena biasanya kalau ujian tiba keluarganya tidak mengizinkan Mimi untuk mengerjakan di dapur seperti membantu memasak bahkan nyai selalu memanjakan Mimi.
Kalau musim ujian pakcik dan Bicik selalu otoriter terhadap Mimi, Mimi diboibta oleh mereka untuk fokus akan pelajaran mereka pun memboikot tv sehingga tidak ada namanya nonton tv selama ujian tiba.
Untuk pekerjaan rumah pun Mimi hanya mengerjakan hal yang kecil seperti biasanya sepeti mencuci piring itu pun kadang tidak diizinkan olen nyai, menyapu, mengepel dan mencuci bajunya sendiri.
Ini bagaimana jika Syahril cs datang tak mungkin pula Mimi mbjarkan mereka kelaparan disiang hari dan tak mungkin pula Mimi merepotkan Nyai atau biciknya.
Arghhhh Mimi frustasi memikirkan itu dan dia pun cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
sebelum hari ujian Syahril selalu menghubungi Mimi terkadang ada rasa bosan di hati Mimi bila selalu di ganggu seperti itu.
Dert dert dert hp Mimi bergetar dan ternyata Syahril yang menelponnya sekali dua kali Mimi abaikan jika keterusan akhirnya Mimi pun menerimanya.
"Ya hallo assalamualaikum." ucap Mimi enggan.
__ADS_1
"Waalaikum salam, kenapa lama sekali angkatnya dek." cerocos Syahril.
"Iya maaf, hp Mimi silent." jawab Mimi singkat.
"Kenapa disilent? kalau ada yang nelpon jadi Ndak tau kalau di silent gitu." cerocosnya.
"Hemm." jawab Mimi jengah.
"Kenapa hanya jawab hemm, emang lagi apa sih kayaknya enggan nerima telpon dari kakak." cerocos Syahril dengan terus menaruh curiga dan Mimi hanya diam dan meletakkan hp nya di atas kasur tanpa menghiraukan cerocos dari Syahril lagi.
Mimi terus belajar dan mengulang mata pelajaran yang akan di ujikan esok pagi. Mimi membolak balik buku serta buku untuk coretan dan terus berusaha agar apa yang di kerjakan tersimpan di memory nya.
Syahril selalu memanggil Mimi di sambung telpon itu.
"Hallo dek, dek masih disitu kan." ucapnya Mimi yang telah jenuh dengan Syahril akhirnya menyahutinya.
"Iya Mimi masih disini." jawab Mimi ketus.
"Emang adek sama siapa sih, sampe mengabaikan kakak, ini belum kakak berada di kota pedang sudah adek abaikan." cerocosnya.
"Mimi lagi belajar kak, udah dulu ya." jawab Mimi.
"Kakak temani ya?'' pintanya.
"Gak usah kak, Mimi ingin fokus sudah dulu ya. Assalamualaikum." Mimi sudah enggan meladeninya dan memutuskan sambungan telpon.
Mimi terus belajar namun lagi dan lagi Syahril seluruh mengganggunya.Karena jengkel Mimi pun bersungut-sungut dan itu tak luput dari perhatian pakcik yang baru pulang dari kerambah.
"Assalamualaikum." ucap pakcik.
"Waalaikum salam, eh Cik baru pulang." jawab Mimi dan langsung berdiri dan mencium punggung tangan pakcik.
"Iya Mi, kenapa merengut dan marah-marah gitu." tanya pakcik.
"Eh ndak apa cik.hehe" jawab Mimi dengan senyum padahal hati dongkol karena hp selalu bergetar dan tak lain Syahri yang menghubungi nya.
"Tuh akan hp nya." ucap pakcik ketika melihat hp Mimi kembali bergetar dan tertera nama Syahril di layar hp.
"Malas Cik dari tadi nelpon terus ganggu bae." jawab Mimi kesal.
"Kasih tau baik-baik." pakcik mengingat kan Mimi.
"Sudah cik, berkali-kali Mimi bilang kalau Mimi lagi belajar dan ingin fokus belajar tapi dia terus nelpon, hp mimi matikan dia curiga di hidupkan kayak ini nelpon terus." Mimi cerocos mengeluarkan unek-unek nya.
"Yaudah matikan Bae hp nya.terus belajar yang giat." jawab pakcik setelah mendengar serocosan Mimi dengan menggelengkan kepalanya dan berlalu masuk.
Akhirnya Mimi pun mematikan ponsel tersebut dan Mimi melanjutkan belajarnya karena esok lagi ada dua matapel yang akan diujikan dan itu dua matapel yang sangat berat karena harus menghafal rumus keduanya.
Hingga sore hari tiba Mimi menghentikan belajarnya dan Mimi beranjak pergi mandi dan sebelumnya dia mencuci piring terlebih dahulu.
"Mi makan dulu." Seru pakcik dari bilik pintu kamar Mimi.
"Iya Cik bentar," hanya kata itu terus yang Mimi ucaokan sedari sejam yang lalu.
itulah Mimi jika dia fokus untuk belajar usahkan untuk melayani orang lain untuk dirinya aja dia melupakannya.
"Mi, cepat makan dulu nanti dilanjutkan lagi " pakcik masih menyerukan Mimi agar cepat makan.
"Iya Cik bentar." jawab Mimi.
"Jangan bentar-bentar darintangan bentar tapi sudah sejam bentar nya." kini bicik yang turun tangan dengan cerocosnya.
"Cepat kelyar makan dulu." ucap Bicik lagi dengan membuka pintu kamar Mimi.
"Iya iya." jawab Mimi sewot dan berlalu keluar kamar.
"Jangan nak manjangi bibir macam tu, cepat makan." bicik kalau sudah berkata takkan bisa dibantah.
Mimi mengambil nasi dan dimasukkan kedalam piringnya dan di bawa masuk kedalam kamar dia makan sambil membaca rumus-rumus fisika nya.
Sejam berlalu dan Mimi belum keluar kamar Bicik mencoba melihat ke arah dalam kamar Mimi dan itu membuat bicik murka karena piring Mimi masih banyak isinya.
"Mi.." teriaknya.
"Eh iya Cik." jawab Mimi kaget
"Makan yang benar, habiskan dulu nasinya baru lanjut belajar." berang ya Bicik dan Mimi langsung melanjutkan makannya dengan selalu dipantau oleh Bicik.
Setelah habis mimibou. keluar untuk mengantar piring bekas makannya ke dapur dan melewati pakcik dan Bicik yang sedang duduk menemani Eza belajar.
Bicik terus melihat Mimi sedari keluar kamar Mimi yang merasa diperhatikan pun menunjukkan piring kosongnya ke arah Bicik.
"Nih sudah habis." ucap Mimi dan berlalu pergi ke dapur.
Pakcik yang melihat kelakuan dua perempuan beda usia tersebut hanya menggelengkan kepala.
Bicik tak bermaksud untuk galak sama Mimi, apa yang dilakukan semua untuk kebaikan Mimi.
"Baguslqh lain kali makan yang benar." ucap Bicik ketus dan Mimi tak menghiraukannya.
Setelah mengantarkan piring kotornya Mimi kembali masuk dalam kamar dan kembali berkutat dengan bukunya.
Sedangkan Syahril terus sewot dan membuat ketiga sepupunya jengah dengan tingkah lakunya.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Riil?" tanya Andri yang sudah jengah akan berurusan Syahril.
"Iya bosan gue dengar gerutuan Lo." ucap Ryan.
"Gak capek Riil tuh mulut ngoceh mulu." sindir Rudi.
"Ckk kalian ini, kalau gak mau dengar ocehan gue pada pulang sono." Syahril kesal dengan sepupunya dan mengusir mereka semua.
"Ckk bukanya elo yang nyuruh kita datang kemari." jawab Ryan taknlh ketusnya.
"Iya kita datang kemari maksudnya apa? buat dengar ocehan gak jelas Lo gitu!" ucap Rudi.
"Positif thinking ajalah Riil, mungkin emang Mimi lagi ingin fokus belajar." ucap Andri.
"Masa iya mau fokus belajar gak boleh gue temanin dan kalau gue nelpon diabaikan terus." cerocos Syahril.
"Mungkin dia ingin fokus sendiri Riil, coba Lo bayangin kalau ada Lo dia pasti ti.." Syahril langsung mengcut omongan Ryan.
"Maksud Lo kau ada gue, gue ganggu dia gitu!" Syahril tersulut emosi.
"Hey Riil, calm bro." ucap Rudi dengan melerai Syahril dan Ryan yang hendak adu jotos.
"Iya Riil, tenangkan dulu pikiran Lo, mungkin Mimi hanya ingin belajar sendiri tanpa harus ada orang lain." ujar Andri.
"Coba Yan Lo tanya ma Di'ah tentang Mimi apa Di'ah ikut belajar bersama dia atau nggak." Andri memberi usul kepada Ryan untuk mengetahui kebenaran dari Di'ah dan Ryan pun langsung menelpon Di'ah.
"Hallo assalamualaikum." ucap Di'ah dari Abung telpon tersebut.
"Waalaikum salam dek, lagi apa?" tanya Syahril berbasa basi.
"Lagi belajar kak, ada apa ya?" tanya Di'ah balik.
"Adek belajar sama Mimi atau sendiri." Ryan terus bertanya
"Sendiri kak dirumah. Ada apa ya kak?" tanya Di'ah .
"Oh nggak, soalnya Syahril menghubungi Mimi Ndak aktif katanya." Ryan memberi alasan kepada Di'ah dan mereka semua mendengarkan karena Ryan meloadspeacker kan hp nya.
"Oh Mimi memang gitu kak, kalau ujian tiba dia selalu fokus belajar." terang Di'ah.
"Oh gitu ya dek, emang adek ndak pernah belajar bersama dengan Mimi." Ryan mencoba mencari celah agar Di'ah bercerita tentang Mimi.
"Pernah kak beberapa hari lalu, cuma kalau dah dekat ujian Mimi selalu belajar sendiri kata dia, dia ingin fokus belajar. nah kau ujian gini dia juga selalu di pantai sama Bicik dan pakcik nya." Di'ah memberi penjelasan kepada Ryan.
"Maksud di lantai gimana dek?" tanya Ryan.
"Ya di pantau kak, kalau musim ujian mereka otoriter sama Mimi, Mimi dilarang mengerjakan rumah kecuali mencuci bajunya sendiri, Mimi juga dilarang nonton tv pokonya Mimi harus belajar gitu." jelas Di'ah.
"Lah kalau gitu Mimi ndak bantu-bantu masak gitu!" Rudi celetuk bertanya.
"Iya nggak kak, bahkan Nyai nya melarang nya, ya pokonya mereka ingin Mimi hanya fokus belajar selama ujian gitu aja yang aku tau." jawab Di'ah.
"Oh yaudah dek kalu gitu. belajar yang giat ya, besok kakak antar kesekolah." ucap Ryan.
"Iya kak makasih." jawab Di'ah tersipu.
"Assalamualaikum" pamit Ryan.
"Waalaikum salam." Jawab Di'ah.
"Nah Lo dah tau kan Riil, apa masih mau Lo curiga dan menggerutu ndakmjemu gitu.!" uaco Ryan setelah memutuskan telponnya.
"Tapi apa salahnya kalau gue nemani dia belajar toh gua kan mau bantu dia." Syahril masih ngotot dengan pendirian nya.
"Lo nggak salah riil, cuma sikon tak tepat. Orang yang ada diri uangnya aja meminta dia fokus untuk belajar tanpa harus memegang pekerjaan rumah." jelas Andri mencoba memberi pengertian kepada Syahril.
"Gue kan gak ngerepotin dia, gue hanya ingin membantu dia belajar." jawab Syahril.
"Sudah ngomong ama Lo!" ucap Rudi ketus.
"Coba Lo cerna omongan Di'ah tadi, utuaksud nya jika elo disana otomatis seharian Lo bakal nemani dia dan mustahil Lo nggak diberi makan ama dia dan mustahil juga dia akan merepotkan orang dirumah ya untuk masak buat makan Lo.! Andri menjelaskan dengan cermat kepada Syahril namun dasarnya Syahril keras kepala.
"Tapi kan gue." belum selesai Syahril membantah Ryan memotongnya.
"Nggak ada tapi tapian Riil, intinya Mimi disuruh fokus belajar sama pakcik dan biciknya tanpa harus mengerjakan yang lain. emang Lo kuat nemaninya seharian tanpa makan? dan emang Lo tega buat Mimi Butar konsentrasi belajarnya dengan menyenangkan hati Lo dengan membuatkan makanan buat Lo." Ryan berkata menggebu-gebu karena kesal.
"Udah lah biarkan Mimi belajar dengan cara ya sendiri, elo kan pasti tau Riil kalau Mimi ingin mengejar cita-cita nya, jangan Lo egois gitu lah.! ucap Andri.
"Udah lah gue mau balik, ngantuk gue." pamit Ryan. dan diikuti oleh kedua sepupunya yang lain.
"Lo pikirin baik-baik Riil, jangan menginginkan ego Lo!" ucap Ryan dengan menepuk bahu Syahril sebelum dia berlaku turun dari kamar Syahril.
Hai assalamualaikum selamat pagi selamat beraktifitas.
Alhamdulillah dokter jantungku bisa update lagi ini, selamat membaca dan jangan lupa terus beri dukungan yang dapat beri Krisan nya di kolom komentar ya.
vote
rate
like
komen
__ADS_1
🎆🎆🎆🎆 Terimakasih🎆🎆🎆🎆