
Romi dan Diah pergi tanpa sepengetahuan bunda ainun dan pengurus panti lainnya, hanya Andre yang mengetahui kelebihan mereka malam ini.
Mereka berdua pergi malam hari tanpa tau kemana arah tujuan, disepanjang jalan baru mereka sadar kemana mereka akan tuju.
"Rom, ngomong-ngomong kamu tau kita akaan kemana?" tanya Diah, yang seketika membuat Romi pun tersadar akan kemana mereka pergi.
"Aku juga nggak tau Di." ucap Romi yang masih fokus pada jalanan.
"Lah terus gimana?" Tanya Diah, Romi melihat taknseberapa jauh dari jarak mereka ada sebuha taman, Romi pun berhenti sejenak di taman tersebut.
"lah kok berhenti sih Rom?" tanya Diah ketika Romi berhenti didepan sebuah taman.
"Huhhh" Romi menghembuskan nafasnya kasar, kini kepala nya pusing karena gak tau kemana arah tujuannya saat ini.
"Aku juga nggak tau Di." ucapnya sembari memasangnstandart motor nya dan dia duduk disalah satu bangku dintepi pantai.
"Jadi gimana, mana dah malam lagi?" tanya diah kembali.
"Emm, kamu tau nggak rumah nya? mungkin kak lkan ada ngajak atau ngasih tau kamu Di?" tanya Romi.
"Kak Lian nggak pernah cerita alamat rumahnya." jawab Diah.
"Emm ." ucap Romi, mereka pun memikirkan harus kemana tujuan mereka. Dilanjut mallam ini juga atau tidak sama sekali.
"Rom, mungkin besok papi nya kak Bry kepanti lagi, yaudahnkkta kasih tau aja besok." ucap Diah.
"Huh, iya kalau mereka jadi dan membuktikan omongan mereka, kalau nggak gimana?" ucap Romi.
"Hemm iya juga sih, yaudah kita datangi aja ke kampusnya." ucap Diah lagi.
"Iya kalau dia ngakuin kalau nggak yang ada kita di usir sama pihak kampus. Maksud aku Di, kita kasih tau sama orang tuanya jangan ke dia nya. Ntar dia mengelak, bukannya kak Lian juga udah ada ngasih tau sama dia namun kenyataannya dia nggak mau ngaku." ucap Romi.
"Emm kalau kita ke rumah sakit gimana?" Diah memberi usul.
"Kamu tau dia dirawat rumah sakit mana?" tanya Romi.
"Iya kan dia satu rumah sakit waktu kak Lian mendonorkan hatinya." jawab Diah lirih, sedih ketika mengingat dimana Diah mengantar Lian.
"Emm injnsudah satu Minggu, apa dia !asih di rawat?" tanya Romi ragu.
"Emm iya juga sih, tapi kita coba aja kesana Rom." ucap Diah.
"Baiklah kita kesana, semoga aja orangtuanya ada disana. Kamu tau rumah sakit mana?" ucap Romi dan bertanya di rumah sakit Manna Bryan di rawat.
"Tau, di rumah sakit X." jawab Diah.
"Yaudah, ayok." ucap Romi sang mengajak Diah untuk !melanjutkan perjalan mereka malam ini.
"Ayo " jawab Diah dan mereka langsung jalan menuju motor mereka.
Mereka berdua mengarungi malam yang dingin demi sebuah keadilan bagi seorang bayi berusia dua bulan yang telah di tinggal sang ibu untuk selama-lamanya.
Mereka melakukan semua ini karena tidak ingin Zian seperti mereka, apa lagi Zian masih memiliki ayah biologisnya bahkan Zian adalah seorang cucu dari keluarag yang kaya raya.
Salah seandainya mereka tidak menginginkan Zian, setidaknya mereka telah menyampaikan kebenarannya.
Setengah jam mereka mengarungi malam yang dingin, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit X. Mereka berdua turun dari motor dan segera memasuki rumah sakit tersebut.
"Di, kamu tau ruangannya?" tanya Romi saat mereka sudah sampai didalam rumah sakit.
"Iya Rom, kalau nggak pindah hehee." jawab Diah.
"Heleh, terus gimana dong? kalau kita tanya ke resepsionis pastinya kita disuruh pulang karena bukan jam besuk lagi." ucap Romi.
"Udah ah, kita cuek aja. Kita terus jalan ke lantai lima ruang presiden room nya." jawab Diah dan mereka segera meunju lift dan langsung tekan no 5.
Setelah sampai Diah langsungbberjalan mendahului Romi ke KA!arah president room no 3, sampai depan kamar Diah berhengimdan menunggu Romi.
"Yang mana?" tanya Romi.
"Yang ini." jawab Diah.
"Yakin kamu? ntra salah lagi." ucap Romi.
"Iya yakin, waktu itu kak Lian ngajak aku kesini untuk melihat kak Bryan dari kaca ini." jawab Diah.
Mereka berdua ragu untuk mengetuk pintu, mereka ragu apakah mereka !asih ada di dalam atau sudah pulang. Saat romi akan mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, pintu terbuka.
"Loh kalian." tanya seorang bapak-bapak yang membuka pintu kamar.
"Apa ada masalah di panti?" tanya nya lagi, ya yang buka pintu adalah papinya Bryan.
"Eh Assalamualaikum Om." ucap Diah.
__ADS_1
"Waalaikum salam, ada apa kalian malam-malam kesini? apa panti baik-baik aja?" tanya si tuan Willy.
"Alhamdulillah, panti baik-baik aja om." jawab Diah.
"Terus ada apa nak? oh ya apa kalian mau jenguk anak om Bryan?" ucap papi Bryan dan bertanya kepada mereka.
"Yaudah ayo masuk." imbuhnya lagi
"Emm bukan Om." jawab mereka berdua dan si papi menautkan kedua alisnya seolah bertanya ada apa.
"Emm Om." Panggil Romi.
"Iya nak." jawab papi Bryan.
"Emm, kami kesini mau ketemu sama Om. Apa kita bisa bicara Om?" tanya romi hati-hati.
"Ada apa?" tanya Papi.
"Emm gimana kalau kita bicara.." Romi menjawab sambil celingak-celinguk mencari te!lat yang ada bangku.
"Yaudah, kita bicara di cafe depan rumah sakit aja." ajak papi yang seakan tau kalau Romi !mencari tempat yang enak buat ngobrol.
"Emm baik Om." jawab Romi.
"Ayok." ajak papi Bryan. Mereka pun berjalan turun dan akan menuju cafe yang berada di depan rumah sakit.
Saat mereka akan berjalan, pintu ruangan terbuka dan keluar lah mami Bryan.
"Loh pi, kok masih disini?" tanya mami ketika melihat sang suami !masih berada di depan kamar rawat anaknya.
"Eh iya Mi, ini ada emm." jawab Pali dengan !melihat ke arah ro!i dan Diah.
"Oh ya Tante Om saya Romi dan ini Diah." ucap Romi yang tau dari maksud tatapan sang papi dengan menyalami mereka dengan sopan.
"Oh iya, Tante ingat. Kalian anak-anaknya bunda Ainun kan? ada apa sayang?" jawab mami dan bertanya dengan ramah.
"Mereka ingin bertemu sama papi, Mi" jawab papi dan mami menautkan serta membanggakan wajahnya.
"Apanada masalah dengan panti?" tanya mami khawatir.
"Em tidak tante." jawab Romi.
"Gini aja Mi, ayok kita ke cafe seberang sana dan !mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan." ucap sang papi yang tidak ingin istrinya terlalu banyak pertanyaan.
"Yaudah, ayok." jawab mami dengan senyum dan mereka pun melanjutkan jalan.
Sesampainya di cafe, Si papi mencari tempat yang sunyi agar mereka bisa berbicara dengan tenang. Papi memilih tempat outdor dan kini mereka pun duduk bersama.
"Nah ayo, kita duduk disini." ucap sang papi, Romi dan Diah pun duduk. Tak lama datang waitress dan memberikan buku menu kepada tamu cafenya.
"Pilihlah, kalian mau minum dan makan apa." ucap papi kepada Romi dan Diah. Romi dan Diah pun hanya memesan minuman karena kedua orang tua yang berada di depannya juga hanya memesan minuman.
"Kalian tidak memesan makanannya?" tanya Mami.
"Tidak Tante, kami sudah kenyang." jawab Romi dan di anggukan oleh Diah, walaupun sebenarnya mereka ingin !menyantap spaghetti yang menggugah selera mereka.
"Oh begitu?" jawab Mami namun mami menambahkan pesannya makanan ringan buat mereka.
Setelah mereka memesan minuman, sang papi pun !enatap kedua anak panti ini dan kembali bertanya.
"Ehemm gimana nak, ada apa?" tanya papi dengan berdehem. Ada rasa keraguan di hati Romi, seolah nyali yang membara sewaktu berangkat dari langit hilang semua.
Pali yang melihat Romi seperti ada keraguan ingin !mengatakan sesuatu dia pun kembali beratnya.
"Ada apa? katakanlah jangan sungkan." ucap si papi, namun !mereka berdua masih diam mencari kata yang pas buat !menyampaikan berita yang mungkin akan membuat kedua orang tua Bryan shock.
"Katakanlah nak? seperti nya ini sangat serius, sehingga kalian rela datang menemui kami malam-malam." ucap Mami.
"Emmm, Om.. Tante. Sebelumnya kami berdua meminta maaf kalau sudah mengganggu Om da tante." ucap Diah dengan Jedah sebentar dan melihat reaksi wajah kedua orangtua Bryan.
"Emm sebenarnya kami menemui om dan Tante untuk memberitahukan kebenaran tentang kak Berliana." imbuhnya.
"Maksudnya?" tanya mami yang merasa ada sesuatu
"Kebenaran apa nak? katakanlah?" tanya papi sambil memegang tangan istrinya dan melihat ke arah istri dan menatap mami memberi isyarat biarkan mereka berbicara.
"Iya nak, katakanlah. Kami siap mendengarkan nya?" ucap mami kemudian ketika mengerti arti dan tatapan sang suami.
"Emm begini Tante, Om. Sebelumnya kami berdua meminta maaf jika nanti kebenaran ini me!buat Om dan Tante terkejut." ucap Romi dan kedua orang tua Bryan menunggu kelanjutan nya.
"Emm ini menyangkut Zian." ucap Romi kembali.
"Kami tidak ingin Zian seperti kami om, Tante." imbuh Romi.
__ADS_1
"Zian!! siapa?" tanya mami dan papi.
"Emm Zian adalah anak kak Berliana Om,tante." jawab Diah.
"Berliana sudah punya anak?" ucap mami tak percaya.
"Lanjutkan lah nak, ceritakan kebenaran yang kalian tau." ucap papi seakan sudah mengetahui ada kebenaran yang tersembunyi, Romi oun mengangguk dan meneruskan ceritanya.
"Em Zian adalah anak kak Lian, dia dilahirkan oleh kak Lian dua bulan yang lalu. Kami tidak ingin nasib Lian sama seperti kami, padahal Zian masih ada keluarga yang bisa memberinya kasih sayang dan perhatian yang lebih dan mungkin bisa memberinya pendidikan yang lebih kelak." ucap Romi.
"Siapa keluarga Zian?" tanya mami memotong pembicaraan Romi dan papi memegang tangan mami seraya mengangguk
kepada mami untuk memberikan waktu kepada Romi agar menyelesaikan ceritanya dan mami pun mengangguk menyetujuinya.
Walau hati kecil mami banyak pertanyaan yang akan di lontarkan, dan mami merasa ada sangkut pautnya dengan anaknya. Hati seorang ibu tak bisa di ragukan, pasti akan terbesit kalau masalah ini menyangkut anaknya.
"Lanjutkan nak" ucap papi berusaha tenang.
"Em Zian adalah cucu dari Om dan Tante, dia anaknya kak Lian dan kak Bryan." ucap Romi dengan melihat ke arah kedua orang tua Bryan yang langsung terlihat syok.
Mami sudah menduganya kalau ini menyangkut anaknya, papi segera memegang tangan mami untuk memberi ketenangan.
"Lanjutkanlah nak." ucap Papi, kali ini Diah yang mengambil alih karena Diah mengetahui ceritanya dari Berliana.
"Emm kak Lian adalah pacar taruhannya kak Bryan bersama teman satu kelasnya dan mereka menjalin hubungan selama satu tahun lebih." ucap Diah dan lagi-lagi membuat mami syok tak menyangka jika anaknya akan berbuat begitu. Papi berusaha tenang. Diah pun menceritakan semua apanyang dia ketahui dari Berliana.
Flasback on di kampus.
Bryan terkenal akan keplayboyannya, dia selalu bisa menaklukkan hati para cewek di kampus, di dalam kelasnya juga ada mahasiswa yang juga dikenal playboy.
Nicko yang salah satu mahasiswa terkenal playboy geram ketika melihat Bryan mendekati gadis incarannya, sehingga Nicko dan teman-temannya memiliki ide untuk mengajak Bryan taruhan.
Di dalam kelas Nicko melihat ke arah seorang gadis berhijab berkaca mata, kalau di lihat wajah sang gadis juga terlihat cantik dan manis hanya dia menutupinya dengan memakai kaca mata serta hijab dan berbaju gamis.
Tiba-tiba terbesit di otak Nicko untuk menjadikan gadis itu sebagai tagihannya. Saat Bryan memasuki kelasnya Nicko mendekatinya.
"Hy Bry." Nicko menyapa Bryan..
"Hmm ada apa nih, tumben." jawab Bryan dengan meletakkan tas nya ke atas meja dan Bryan duduk ke kursinya.
"Nggak kenapa-napa sih, emm Bry gue liat Lo juga ngedeketin Yaya anak kedokteran." ucap Nicko
"Emm iya, kenapa!" jawab Bryan.
"Emm lo kan tau, kalau gue sudah ngedeketin dia duluan." ucap Nicko yang terpancing emosi.
"Hey bro.. Dia baru Lo dekatin belum jadi pacar Lo.So sah-sah aja kalau dia gue deketin." ucap Bryan sembari berdiri dan menepuk dada Nicko, Nicko diperlakukan begitu mulai emosi namun dia tahan.
"Emm oke.. Bagaiman, kalau kita taruhan. Jika Lo bisa ngerayu dan pacarin tuh cewek dalam waktu tiga bulan, gue nggak akan deketin Yaya dan gue serahin ke Lo, namun jika dalam waktu tiga bulan itu Lo gak bisa jalan ma tu cewek, Lo jauhin Yaya." tantang nicko dengan menunjuk ke bangku seorang gadis berhijab yang sedang membaca buku.
Brya melihat ke arah cewek yang di tunjuk oleh Nicko, Bryan menelisik wajah gadis itu. Walau sedang menunduk dan konsen akan bukunya, Bryan menangkap kalau wajah gadis itu cantik.
"Oke." jawab Bryan
"Oke, deal." ucap Nicko dengan menjabat tangan.
"Deal." jawab Bryan dengan !menerima jabatan tangan nickk tanda kesepakatan dimulai.
Saat setelah mereka meraih kesepakatan atas taruhan memperebutkan seorang cewek fakultas kedokteran, sang dosen pun masuk kedalam kelas dan pelajaran mereka pun berlangsung hingga dua jam ke depan.
Bryan sesekali menatap wajah sang gadis yang duduk tepat di sebelah kirinya berjarak satu bangku. Bryan memulai memikirkan bagaimana caranya dia bisa memenangkan taruhan ini.
Dilihatnya gadis tersebut dengan seksama sehingga dia kurang fokus ke mata pelajaran dosen ini.
"Cantik sih, tapi.. Gayanya hmm. Masa iya gue jalan MA ni cewek selama tiga bulan kalau jadian. Apa kata dunia Bryan jalan bersama gadis alim." gumam Bryan.
Dua jam sudah mata pelajaran dilewati Bryan dengan memikirkan cara bagaimana dia mendekati cewek berhijab, dan bagaimana kata orang bila dia jadian dan jalan sama cewek itu.
Saat akaan keluar Nicko mendekat ke arah Bryan dan menepuk bahu Bryan serta membisikan ke telinga Bryan.
"Go bro, go to start." ucap Nicko dengan senyum mengejek dan dia pun berlalu keluar.
"Damn." ucap Bryan.
Bryan melihat ke arah bangku cewek itu dan dia masih melihat sang cewek masih duduk di bangkunya dan membaca buku. Yah begitulah Berliana, dia jarang keluar jika ada mata pelajaran selanjutnya.
Berlina selalu !mengisi waktu kosongnya dengan membaca buku yang dia pinjam di perpustakaan sebelumnya, Berliana terkenal sebagai gadis kutu buku dikelasnya bukan berarti Berliana tak memiliki teman.
Semua cewek dalam ruangannya suka berteman dengan Berliana, Berliana anak yang periang namun juga sedikit pendiam jika menyangkut perasaan dan kehidupannya.
Teman-teman nya sudah mengetahui kalau Berliana adalah anak dari panti dan berkuliah disini karena mendapatkan beasiswa.
Berliana mahasiswa berprestasi, sehingga banyak juga yang ingin berteman dengan dirinya, namun Berliana jarang main keluar seperti teman-temannya. Bagi Berliana waktunya adalah belajar dan membantu bundanya.
__ADS_1
Bryan menatap nya dan mulai memikirkan untuk mendekatinya, perlahan Bryan melangkahkan kakinya mendekat ke arah cewek tersebut.
On Next bab ya, nyicil dulu😚