
Jonathan dan Surti telah kembali dari Jogya dua minggu lalu.
Jonathan juga telah kembali berkerja, begitu pula dengan Surti.
Selama Surti kembali berkerja, dia jarang bahkan tak pernah melihat Mimi jalan bersama sahabatnya Di'ah.
Awal Surti menyangka mungkin dikarenakan kesibukan masing-masing. Apalagi Mimi saat ini telah menjadi seorang ibu.
Namun semakin kesini dia melihat seperti ada kejanggalan di antara dua sahabat ini.
Yah Surti merasa janggal, karena biasanya sesibuk apapun mereka pasti selalu bersama walau perbedaan jadwal.
Surti pernah melihat Di'ah seakan menghindar dari Mimi saat mereka hampir bertemu.
Ya di saat Mimi tiba di rumah sakit dan Di'ah juga telah selesai jadwalnya.
Surti dari kejauhan melihat Di'ah menghindari Mimi dengan mengurungkan diri untuk lewat PP inti depan. Di'ah memilih memutar melewati pintu UGD yang terhubung dengan pintu luar.
Surti merasa heran dan bertanya-tanya pada dirinya "ada masalah apa di antara Mimi dan Di'ah".
Surti melenggang masuk ke ruangan Jonathan.
"Assalamualaikum" ucap Surti. Jonathan yang sedang mengecek perkejaan berhenti sejenak dan melihat ke arah Surti dengan perut yang telah membuncit itu.
"Waalaikum salam honey." Jawab Jonathan dengan berdiri dan mendekati Surti. Ciuman kening, pipi serta bibir selalu dilayangkan Jonathan.
Tak lupa pula ciuman serta ucapan hangat di layangkan Jonathan pada sang anak yang berada di dalam perut Surti.
"Sudah enakan?" Tanya Jonathan dengan menuntun Surti ke sofa dalam ruangannya.
"Alhamdulillah, suntuk di rumah sendirian." Ucapnya dengan memeluk lengan sang suami dan menaruh kepala di dada sang suami.
"Honey." Panggil Surti.
"Hmm" jawab Jonathan dengan mengelus perut Surti.
"Kamu sudah ketemu Mimi?" Tanya Surti.
"Ya, ada apa?" Tanya Jonathan.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Surti.
"Emm baik, malah aku lihat dia sangat bahagia." Jawab Jonathan.
"Emang ada apa?" Tanya Jonathan.
"Emm tidak, aku cuma heran saja." Jawab Surti.
"Heran kenapa hmm?" Ucap Jonathan dengan memegang dagu Surti agar melihat ke arahnya.
Surti mencium bibir Jonathan, entah kenapa jika melihat bibir Jonathan bawaannya dia ingin mengecupnya.
Jonathan yang mendapat kecupan itu tak ingin melewatkan kesempatan, dia tak ingin hanya sekedar kecupan.
Jonathan menarik tengkuk leher Surti dan dia memperdalam kecupan itu menjadi ciuman hangat.
Jonathan yang notabenenya orang luar tentu lebih mahir dalam hal ciuman, kecuali Surti yang masih sulit mengimbanginya.
"Emmm" terdengar lenguhan Surti.
Jonathan melepaskan tautan bibir itu, dia menatap wajah Surti penuh dengan cinta.
"Apa yang sedang kau pikirkan honey?" Tanya Jonathan.
"Tidak, aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Cuma.." jawab Surti dengan wajah keheranan.
"Cuma apa?" Tanya Jonathan dengan memperbaiki duduk ya menjadi nyaman.
"Aku heran saja honey, ada masalah apa ya Mimi dengan sahabatnya itu" ucap Surti. Jonathan hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Humm huh, aku heran melihat mereka. Seperti mereka ada masalah gitu." Ucap Surti.
"Hanya perasaan kamu saja sayang. Aku lihat Mimi fine fine aja, begitu juga sahabatnya itu emm siapa namanya ( Jonathan sambil mengingat) emm sahabatnya namnya emm Di."
"Di'ah" ucap Surti memotong ucapan Jonathan.
"Nah itu, aku juga lihat dia baik-baik saja." Ucap Jonathan.
"Terus apa yang membuatmu heran dan berpikir kalau mereka ada masalah?" Tanya Jonathan.
"Ya beberapa hari waktu aku masuk kemaren tidak pernah melihat mereka jalan bersama gitu." Ucap Surti mengeluarkan unek-unek nya.
"Yah mungkin mereka saat ini sama-sama sibuk honey. Apalagi jadwal mereka kan tidak serentak." Ucap Jonathan.
"Di'ah sekarang jadwalnya dua minggu ambil pagi dan dua Minggu sore, karena dia mengikuti jadwal kuliahnya." Terang Jonathan.
Kenapa Jonathan tau karena dia merupakan direktur kepegawaian jadi semua tentang pegawainya dia selalu mengeceknya.
"Oo mungkin saja honey, tapi kan..'' ucap Surti yang masih belum puas.
"Tapi apa?" Tanya Jonathan.
"Tapi.. emm gini honey. Kita kan tau selama ini mereka walau sesibuk apapun pasti selalu bersama. Nah ini tadi aku lihat Di'ah seolah menghindari Mimi. Tidak hanya sekali ini saja, awal kita baru masuk aku juga pernah melihatnya begitu." Ucap Surti.
"Tapi awal aku anggap mungkin Di'ah ada keperluan lain sehingga dia memilih arah lain, tapi hari ini aku melihat Di'ah memilih jalan keluar melalui ruang UGD." Sambung Surti.
"Emm mungkin memang Di'ah lagi membantu pasien di UGD." Ucap Jonathan tak ingin menduga-duga.
"Nggak mungkinlah honey, aku lihat dia memang keluar kok." Ucap Surti. Jonathan hanya tersenyum.
"Daripada menduga-duga, mending kamu tanya langsung sama Mimi dan Di'ah." Ucap Jonathan dengan memberi usul kepada Surti.
__ADS_1
"Hmm iya nanti aku tanya." Ucap Surti.
Setelah itu mereka mulai berkerja, bukan berkerja dengan perkejaan seharusnya tetapi berkerja yang lebih extra karena hormon ibu hamil sedang ingin berkerja lebih yaitu penyatuan diri dengan alasan sang anak kangen.
Sepulang kerja Surti bertemu dengan Mimi. Mimi yang melihat Surti sangat senang.
"Mbaaak" ucap Mimi dengan menyium tangan Surti secara takzim dan cipika-cipiki serta memeluk bumil itu dengan erat.
Para suster dan dokter yang melihat tak merasa heran lagi kalau Mimi mencium tangan seperti itu.
"Wah tambah buncit aja nih perut" seloroh Mimi.
"Hmm, kamu apa kabar dek?" Tanya Surti dan mengajak Surti untuk duduk di kursi yang ada di lobi itu.
"Alhamdulillah baik mbak, enak ya yang libur lama." Ucap Mimi.
"Mbak bawa wingko nggak?" Tanya Mimi.
"Emm bawa tapi dah habis hehehe" ucap Surti.
"Ckk apaan itu.." ucap Mimi.
"Emang kamu nggak buka kulkas dek?" Tanya Surti, Mimi mengangkat kedua bahunya.
"Kulkas dimana?" Tanya Mimi.
"Diruangan mu lah dek. dah dua Minggu Lo dek." Ucap Surti.
"Ah masak?" Ucap Mimi.
"Iya adek ku sayang. Waktu itu mbak nggak ada ketemu kamu jadi ya mbak masukkan aja kedalam kulkas di ruangan mu itu." Ucap Surti.
"Habis kamu sibuk amat dek, Ampe kulkas nggak pernah di buka lagi gitu." Ucap Surti.
"Emm iya mbak, semenjak selesai ujian ya Mimi kembali ke rutinitas Mimi seperti biasa." Ucap Mimi.
"Kita keruangan Mimi aja yok." Ajak Mimi.
"Emm mbak bilang ke Jo dulu." Ucap Surti dan dia pun akan menelpon Jonathan namun Mimi halangi.
"Alah nanti juga lewat ruangannya, udah ayo mbak." Ucap Mimi dengan menarik tangan Surti.
Mau tak mau pun Surti mengikuti kemauan Mimi.
"Oh ya mbak ma Jo dah ketemu sama twins nggak?" tanya Mimi saat mereka berada dalam lift.
"Tiap hari dek," jawab Surti.
Ya setelah Surti dan Jo nyampe di negara ini. Surti tidak sabar untuk melihat twins.
"Oh ya?" ucap Mimi.
"Iya dek, malah saat baru nyampe mbak langsung minta Jo antar kesini. Ya cuma nggak pernah ketemu sama kamu.'' ucap Surti.
"Maka dari itu mbok ya di kurangi jadwal mu di rumah sakit lain itu." ucap Surti
"Ingat sekarang kamu itu sudah jadi ibu bukan single lagi." ucap Surti
Ting pintu lift pun terbuka, saat Mimi dan Surti berjalan menuju ruangan Mimi. Mereka berdua berpapasan dengan Jonathan yang baru saja dari ruang direksi lain.
Jonathan melihat sang istri jalan berdua dengan Mimi hanya menatap sang istri dengan sorot mata yang mereka berdua lah yang tau.
"Sorry bro, Mimi pinjam dulu ya." ucap Mimi ketika melihat mata Jonathan melihat Surti yang seakan bertanya ada apa.
"Hmm.'' jawab Jonathan.
"Ckk jawaban apa keg gitu, ayok mbak." ucap Mimi dengan menggandeng dan mengajak Surti berlalu dari hadapan Jonathan.
Jonathan yang sedang tidak ada perkerjaan lagi pun mengikuti dua wanita tersebut.
Pada saat pintu Mimi buka, Mimi langsung mengajak surti masuk tapi Mimi berhenti saat meliaht Jonathan juga masuk kedalam dan langsung mengambil alih Surti dan mengajak Surti duduk di sofa.
Mimi hanya menarik nafas serta menggelengkan kepala. Mimi langsung menuju kulkas dan mengambil oleh-oleh dari Surti.
Tak lupa minuman kaleng non soda dan non alkohol, Mimi juga mengambip air mineral.
"Oh ya mbak, kok Bunda sama Ayah nggak jadi datang?" tanya Mimi sembari meletakkan kue dan minuman di atas meja.
"Ckk" ucap Mimi ketika melihat Jonathan mengelus dan mencium kening Surti.
"Mungkin dua minggu lagi Mi, Ayah masih sibuk di nguris rumah sakit." Jawab Surti.
"Oh gitu, sama Umma sama Babah kak Syahril juga." ucap Mimi.
"Iya Mi, mamak dan bapak nggak kesini ya Bunda ngajak mereka barengan." ucap Surti.
"Iya mbak, Ay belum libur jadi ya sambil nunggu Ay libur." ucap Mimi.
"Mbak dah berapa bulan sih mbak?" tanya Mimi.
"Udah jalan lima Mi, kenapa?" ucap Surti dan kembali bertanya pada Mimi.
"Hah, emm keg dah delapan bulan. Atau jangan-jangan twins mbak." ucap Mimi.
"Nggak kok Mi, tunggal. Ya cuma mbal banyak makan kali ya jadi tambah gendut." ucap Surti.
"Yee kalau gendut itu wajar mbak kan mbak lagi hamil. Tapi emang perut mbak buncitnya keg dah delapan bulan aja." jawab Mimi.
"Hmm mbak juga heran tapi usg anaknya satu kok. Kata Bunda kemaren karena perut mbak tebal kulit jadi kelihatan tambah gede perutnya." ucap Surti.
"Oo mungkin juga sih." jawab Mimi.
__ADS_1
Begitu lama mereka mengobrol tak terasa waktu maghrib pun tiba. Surti dan Jonathan pamit ke ruangan mereka dan Mimi masuk ke dalam kamar nya. Mimi segera berwudhu dan menjalanlankan ibadah maghrib.
Di'ah yang sudah mengetahui tentang twins merasa tidak enak hati pada Mimi terutama pada keluarga nya.
Di'ah merasa bersalah apa lagi dia sadar jika dia selama mengetahui Mimi telah ada twins telah memfitnah Mimi dengan secara tidak langsung memgadu domba mertuanya serta mertua Mimi.
Malu yang saat ini Di'ah rasakan, apa lagi terakhir kali dia memberitahu Ummi Parida mertuanya bahwa itu memang anak Mimi dan dia masih menjelekkan Mimi kepada mertua nya.
Itu dia beritahu dua minggu lalu sebelum dia tau fakta sebenarnya. Di'ah mengetahui fakta tersebut juga dari sang mertua.
Ya awal ummi Parida tidak mempercayai kabar beredar itu, karena penasaran ummi Parida datang ke runah ipar nya yaitu orang tua Syahril.
Umma dan Babah tidak menampik kalau twins adalah anak Mimi, umma dan Babah malah merasa bahagia. Karena ummi dan abi nya Ryab belum mengerti akhirnya Umma dan Babah menjelaskan semuanya.
Ya Umma dan Babah sudah mengetahui kebenarannya dari Mimi. Itu pun Umma menelpon Mimi saat Umma mendapat kabar dan ucapan selamat dari bunda Rahmah dan emak Mimi. Di tambah Umma sudah mendengar kalau Di'ah telah menjelekkan nama Mimi.
Semenjak itur Di'ah berusaha menghindar dari Mimi setiap dia melihat Mimi.
Ada rasa bersalah di hati nya namun ada pula hatinya merasa cemburu. Dia selalu menganggap Mimi memilki nasib yang beruntung.
Keesokan harinya Mimi kembali bertemu dengan Surti, mereka kembali berbicara panjang lebar sembari menuju ruangan twins.
Hari ini Mimi tidak memiliki jadwal yang padat sehingga Mimi mempunyai waktu luang yang lumayan lama untuk twins.
"Dek, kamu merasa nggak kalau twins ini wajahnya mirip dengan mendiang dan Syahril." ucap Surti ketika menggendong si adek.
"Hmm iya mbak, si adek mirip dengan kak Syahril dan si abang mirip dengan mendiang.'' jawab Mimi.
"Kuasa Allah ya dek, melalui mereka kita bisa mengobati rasa rindu kita" ucap Surti, Mimi hanya diam dan membenarkan apa yang di katakan Surti dalam hati nya.
"Yang pasti mereka mengobati rasa rindu di hatimu dek. Lihatlah wajah adek dan abang jika kamu swdang merindukan lelaki yang ada di lubuk hatimu." sambung Surti.
"Ah kalau bunda lihat abang secara langsung pasti bunda mewek." ucap Surti.
"Kamu tau dek, wajah si abang mirip banget dengan Abi waktu bayi. Wajahnya hidungnya matanya, masya allah benar-benar mirip dek." ucap Surri dengan suara serak menahan tangis.
"Ya Allah terimakasih, semoga adek hamba ditempatkan di syurgamu" ucap Surti dengan mamanjatkan doa untuk mendiang Abidzar.
"Amin ya rabbal alamin." jawab Mimi.
"Oh ya dek, kamu ada masalah dengan Di'ah?" ucap Surti tiba-tiba, Mimi hanya menggeleng.
"Nggak ada mbak. Kenapa? Kok mbak nanya gitu." ucap Mimi.
"Ya mbak heran aja dek, mbal akhir-akhir ini nggak pernah melihat kalian bersama, jalan berdua gitu." ucap Surti.
"Oo itu, ya mungkin jadwal kita sama-sama sibuk kali mbak. Apa lagi semnjak pulang kesino Mimi langsung sibuk ma kerjaan dan administrasi untuk ujian."
"Dan baru pertama ujian, hadirlah si twins jadi ya waktu Mimi Mimi habiskan untuk twins dan ujian seruta kerjaan di rumah sakit ini."
"Astaghfirullah, Mimi aja lupa loh mbak." ucap Mimi.
"Lupa kenapa dek?" tanya Surti.
"Mimi lupa buat lihat Di'ah, terakhir Mimi telponan sama kak Syahril. kak Syahril bilang kalau Di'ah dah pulang kesini, itu pun tiga minggu lalu kalau nggak salah." ucap Mimi.
"Sumpah Mimi lupa mbak, kalau mbqk nggak bahas soal Di'ah benar-benar lupa Mimi" imbuh Mimi
"Emm entar sore aja lah Mimi ke apartemennya, eh tapi... Jam Lima ini ada jadwal operasi di rumah sakit Bb. ucap Mimi bingung karena tak tau jika dia sudah memiliki jadwal sore hari.
"Yaudah nggak usah di pikirkan. Kan bisa lain waktu. Apa Di'ah tau kalau kamu sudah ada twins?" tanya Surti.
"Mimi rasa sudah mbak, tapi nggak tau Mimi apa dia sudagh lihat twins apa belum." jawab Mimi.
"Wah Asi kamu lancar dek?" ucap Surti
"Alhamdulillah mbak, semenjak ada twins Mimi langsung konsul dan terapi sama ahli laktasi." jawab Mimi
"Jadi berapa lama terapi nya?" tanya Surti
"Alhamdulillah mbak, Mimi terapi tiga hari langsung berhasil. Ya seribu satu sih katanya yang berhasil dalam waktu dekat begitu." jawab Mimi.
"Wak alhamdulillah ya dek, kelak mbak juga akan konsul ah biar kelak menghasilkan asi yang melimpah kayal kamu." ucap Surti.
"Iya mbak harus itu, jadi nanti mbak tetap bisa memberikan asi eksklusif buat baby walau mbak kerja." ucap Mimi.
"Kerjaan, karir janhgan dijsrikan alasan untuk tidak memberikan asi eksklusif pada baby. Jangan buru-buru memberi susu formula pada baby kalau diri kita masih mampu memberikan asupan terbaik untuk baby."
"Sebaik-baiknya nutrisi dan asupan dari sufor lebih baik adalah ASI. Intinya sih niat kita nya, buktinya Mimi." ucap Mimi.
"Iya dek intinya sih emang di niatkan. Wanita itu sangat mulia, dia bisa menjadi ibu dan juga bisa menjadi wanita karir."
"Seperti yang kamu katakan menjadi wanita karir bukan berarti melupakan tugas seorang ibu terutama dalam memberi asi." ucap Surti
"Betul mbak, tidak rugi kok memberi asi, dengan memberi asi sebenarnya itu juga menghindari dari resiko kanker payudar*."
"Oh gitu ya Mi, jadi bisa menyebabkan kanker payudar* kalau kita tidak memberikan asi pada baby." ucap Surti.
"Iya mbak, itu adalah salah satu penyebab terjadinya kanker payudar* itu. Ada bebrapa penyebab lainyya juga sih seperti haid di bawah usia 12 th, menopause setelah usia 50th, asuoan makanan yang tidak sehat, selalu terpapar asap rokok dan dengam senggaja tidak memberi asi pada baby."' terang Mimi
"Makanya di dalam agama dam di ilmu medis di sarankan untuk menyusui baby hingga dua tahun atau lebih. Selain ibunya sehat, baby pun sehat dan tak mudah ter serang penyakit." ucap Mimi.
"Hmm betul juga, kadang miris melihat seorang ibu rela tak memberikan asi nya hanya dia seorang wanita karir. Padahal sesibuk apapun dia masih bisa kok memberikan asi pada bayi nya." ucap Surti.
"Benar mbak, banyak ibu-ibu yang tidak bisa memberikam asi pada bayinya karena asi nya sedari awal memang tidak keluar, bahkab banyak juga ibu-ibu yang ingin memberikan asi dengan segala cara dilakukan agar asi keluar dan lancar. Tapi yaitu tidak semua orang bisa, sedangkan orang yang diberi anugerah asi melimpah malah tak ingin menyusui anaknya dengan sengaja karena alasan klasik." ucap Mimi.
"Iya itu Mi alasan mereka tak jauh ya karena kerja jadi nggak ada waktu atau kerja nya jauh atau juga karena takut badan melar." imbuh Surti.
"Yah gitulah manusia mbak tidak pernah bersyukur dan minim ilmu." jawab Mimi
Sehabis menyusui dan baby twins tertidur pulas, Mimi dan Surti kembali ke rutinitas masing- masing.
__ADS_1
#