DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kesalahpahaman2


__ADS_3

Hari semakin siang, Di'ah dan Ryan serta rombongannya memilih untuk pulang setelah mereka makan siang terlebih dahulu di warung makan di dusun Bungin jaya dua.


Jam dua siang mereka pun sampai di puskesmas Bungin. Mereka kembali berkerja untuk membuat laporan hasil kunjungan mereka di dusun Bungin jaya dua tadi.


Ryan semenjak perdebatan nya dengan Di'ah pagi tadi memilih untuk diam walau hatinya sudah tidak tahan denagn sikap sang istri.


Begitu pula dengan Di'ah, dia mendiamkan Ryan karena apa yang dia inginkan tak di dapat nya.


Syahril dan Mimi masih berada di dusun Suka jaya. Mereka berdua memilih pulang sore karena sehabis kunjungan dan sehabis makan siang ternyata pasien-pasien masih banyak berkunjung untuk konsultasi terutama para ibu hamil, menyusui serta banyak juga ibu-ibu membawa putra putri mereka.


Tak hanya pasien yang berhubungan dengan kehamilan dan anak, pasien yang berkonsultasi masalah jantung ternyata juga banyak.


Yah mereka mendengar dari mulut ke mulut jika dusun mereka akan di datangi dokter spesialis jantung, maka dari itu warga pun berantusias datang ke puskesmas nya.


Miki sangat senang jika banyak warga yang antusias akan kesehatan jantung, Sebagian yang berkonsultasi pun ternya memiliki riwayat jantung.


Jika ringan atau yang telah memeriksakan secara keseluruhannya, Mimi bisa memberikan pemeriksaan lanjutan dan obat-obatan yang bisa membantu mereka semua.


Namun sekiranya jika pasien tersebut memiliki riwayat jantung yang serius dan belum pernah melakukan pemeriksaan keseluruhan maka Mimi membuatkan surat rujukan buat mereka pergi ke rumah sakit kota karena peralatan di dusun ini tidak memadai.


Terkadang ini yang membuat Mimi gregetan, Miki gregetan bila tidak bisa membantu pasien dengan detail hanya karena terhalang peralatan medis.


Walau Mimi sudah membawa peralatan canggih yang bisa dia bawa kemanapun, tetao semua itu tidak membantunya.


Setelah pasien tidak ada yang datang lagi, Mimi dan Ryan memutuskan untuk pulang. Namun mereka tidak langsung pulang.


Syahril mengajak Mimi ke pasar kecermatan untuk membeli keperluan mereka.


"Dek, kita langsung ke kecamatan ya." ucap Syahril.


"Bukannya jauh kak?" tanya Mimi.


"Ndak, dusun suka jaya ini dusun yang dekat dengan ke kecamatan. Ndak sampe sejam lah." jawabnya dengan terus menyetir.


"Em oke lah." jawab Mimi dengan tersenyum. Syahril ikut tersenyum dan mengelus kepala Mimi.


Sesampainya di pasar kecamatan, Mimi dan Syahril membeli kebutuhan mereka yang telah habis.


Mimi membeli sabun pencuci piring, baju serta sabun mandi. Mimi membeli kecap, saos dan sebagiannya. Sehabis berbelanja Syahril mengajak Mimi makan mie ayam bakso.


"Ini warung bakso terenak disini dek." ucap Syahril.


"Kakak sering kesini?" tanya Mimi.


"Sering sih tidak dek, ya cuma kalau kita kepingin ya beramai-ramai kesini." jawab Syahril.


"Oo gitu, terus pakek apa kesini nya?" tanya Mimi.


"Pakek mobil dinas lah hehehe." jawab Syahril dengan kekehan.


"Kenapa kakak Ndak bawa mobil ke sini." tanya Mimi.


"Em sebenarnya kakak maupun Ryan ingin bawa mobil. Tapi umma, Babah, ummi dan abunya Ryan Ndak memperbolehkan nya." terang Syahril.


"Kenapa?" Mimi yang terus bertanya.


"Kata mereka belajar hidup susah, jangan selalu mau enak saja." ucap Syahril mengenang ucapan keluarga mereka.


"Ya tapi kan, kalau tidak ada mobil kakak jadi susah mau kemana-mana." jawab Mimi.


"Nggak susah kok dek, kan ada mobil dinas nya disini. Jadi kakak irit di bensin juga dek ndak bawa mobil kesini." ucap Syahril


"Dek." panggil Syahril dan Mimi m boleh ke arah Syahril.


"Boleh kakak minta sesuatu?" tanya nya, Mimi menautkan kedua alisnya.


"Kedepannya jangan kamu memanjakan Di'ah." ucapnya, Mimi diam.


"Dia sudah bersuami dek, selayaknya dia yang mengurus makan Ryan bukan kamu." ucap Syahril. Mimi masih diam mendengarkan.


"Adek dengarkan omongan kakak kan?" tanya Syahril karena melihat Mimi hanya diam.


"Iya Mimi dengarkan kok, tapi kan kak.." jawab Mimi dan Syahril mencegahnya dengan menatap Mimi tajam, Mimi kembali diam.


"Kakak mohon dek, itu juga demi kebaikan dia dan rumah tangganya. Kakak tidak mau nanti Ryan membandingkan diri istrinya sama kamu." ucap Syahril.


"Kakak tau niat mu baik, cuma jangan sampe niat baikmu tambah di manfaatkan olehnya." imbuh Syahril, Mimi diam menyimaknya, tak lama makanan mereka pun tiba.


Mimi dan Syahril menyantap mie ayam bakso dan menurut Mimi mie ayam bakso disini sangat enak. Sehabis makan bakso mereka pun pulang.


Di rumah Ryan kembali berseteru dengan Di'ah.


Ryan yang merasa lelah, melihat Di'ah pulang kerja rebahan nyantai. Waktu terus berjalan namun tak ada sedikit pun dia melihat sang istri untuk masak atau apa pun.

__ADS_1


"Dek, kamu ndak masak?" tegur Ryan.


"Kan lauk tadi masih ada." jawabnya.


"Emangnya masih banyak?" tanya Ryan.


"Entah" jawabnya.


"Dek, coba di lihat. Jika kurang lebih baik adek masak sebelum Mimi dan Syahril pulang." ucap Ryan berusaha sabar.


"Jangan sampe Syahril berucap yang akan membuat mu sakit hati mendengarkan nya."


"Apa adek tidak dengar dan melihat apa yang dilakukan Syahril lagi tadi?" ucap Ryan, Di'ah hanya diam.


"Kenapa kamu jadi berubah begini?'' tanya Ryan.


"Aku tidak berubah, buktinya aku masih selalu mengalah." ucapnya.


"Mengalah apa? justru Mimi yang banyak mengalah."


"Semenjak Mimi pulang dari kota, tidak sedikit pun kamu memegang perkerjaan rumah."


"Dimana hati kamu dek?" ucap Ryan denagn menatap Di'ah malas. Di'ah duduk dari rebahan nya dan menatap Ryan.


"Perasaan kakak selalu memuji Mimi, apa-apa Mimi. Aku bukan Mimi kak.." ucapnya


"Terserah apa mau mu dek, yang jelas aku sudah mengingatkan kamu."


"Kenapa kamu jadi iri hati begini hah. Harus dengan cara apa lagi aku menasehati kamu."


"Aku hanya ingin persahabatan kamu dengan Mimi tetap seperti dulu."


"Aku tau, kau bukan Mimi. Karena Mimi memang tidak bisa disamakan sama siapa pun."


"Apa yang membuat mu berubah dan memiliki iri hati seperti ini." ucap Ryan.


"Itu karena kakak." jawabnya.


"Karena aku..? emang apa yang aku lakukan, apa!!" jawab Ryan dengan sedikit meninggikan nada suaranya bahkan dia menyebutkan nama nya sendiri dengan aku yang tak biasa dia ucapkan.


"Katakan, apa salah aku!!" ucap Ryan.


"Aku hanya ingin kakak juga bisa menikmati apa yang di nikmati kak Syahril. Kak Syahril kan sepupu kakak, apa yang dia pakai kan bisa juga kakak pakai."


"Atau setidaknya kita pergi dan pulang pakek mobil. Bukan jalan kaki." ucap Di'ah mengungkapkan kekesalannya.


"Mau berapa kali aku bilang, walau Syahril sepupuku, aku tidak berhak atas barang-barang nya."


"Apa kau menyesal menikah dengan ku hah!" ucap Ryan dengan emosi yang sudah menguasai dirinya.


"Kau mau tau hah, mobil yang kau sangka punya Syahril itu punya Mimi, ya itu punya Mimi bukan Syahril. Tau kamu!! ucap Ryan emosi.


"Mana mungkin, walau itu punya Mimi pasti kak Syahril yang beli kak. Otomatis itu tetap punya kak Syahril." seru Di'ah yang juga meninggi kan suaranya. Ryan hanya menggeleng kan kepala.


"Mana tau di kau." ucap Ryan dengan perkataan kasar.


"Kau mau tau, itu mobil real punya Mimi. Mimi membeli mobil itu asli dengan uangnya bukan uang Syahril, itu asal kau tau." ucap Ryan denagn menahan emosi. ya agar tidak meledak-ledak.


"Kau tau, Mimi membeli itu saat dia akan membawa pasien nya kembali ke dusun ini. Tak ada sedikit pun di mobil itu ada duit Syahril." ucapnya.


"Mana mungkin, emang seberapa nian uang Mimi." jawab Di'ah.


"Hahaha jadi kau memperhitungkan uang yang di miliki Mimi gitu!!!" ucap Ryan dengan mengusap rambutnya dengan kasar.


"Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullahal adziiimm" ucap Ryan dengan menarik rambutnya kebelakang.


"Ngucap dek, ngucap. Astaghfirullah, kenapa kau jadi begini dek. Kenapa iri hati membuatmu lupa akan diri sahabatmu sendiri."


"Ingat dek, dia sahabatmu sa ha bat mu." ucap Ryan.


"Jika kau mau memperhitungkan seberapa uang Mimi silahkan kau hitung sendiri seberapa lama dia berkerja selama ini."


"Apa kau tau.. Selama ini dia berkerja tidak hanya satu rumah sakit dek bukan satu ta pi ti ga, tiga dek" ucap Ryan dengan menunjuk kan tiga jari nya.


"Kau tau bagaimana dia bekerja hah! tiga rumah sakit, sehingga dia tidak pernah memiliki waktu untuk dirinya sendiri."


"Bahkan kau kasti tau berapa kali dia pulang dalam setahun dan berapa lama dia meliburkan dirinya. Tentu nya kau tau itu." ucap Ryan yang emosi.


"Kenapa kau jadi begini dek, kenapa!!! m" ucap Ryan dengan di akhiri teriakan membuat Di'ah terkejut.


"Heh, kakak membentakku.. Hanya karena membela Mimi kakak membentakku." ucap Di'ah dengan meninggi kan suaranya.


"Iya.. Iya aku meneriaki mu supaya kau sadar. tau!! Sabar ku ada batasnya dek."

__ADS_1


"Seharusnya kau tau kisah Mimi bagaimana selama ini."


"Bagaimana dia bertahan hidup di daerah orang, bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri jauh dari keluarga."


"Tak sepantasnya kau iri dengannya, seharusnya Mimi yang iri denganmu. Karena kau kuliah di biayai oleh keluargamu sedangkan dia... "Ucap Ryan menjelaskan bagaimana kehidupan Mimi selama ini.


"Apa yang sebenarnya yang kau iri kan dari nya, dari kehidupan tentu kau yang sangat beruntung selama ini."


"Jika sekarang dia bisa membeli apapun yang dia mau, itu karena buah dari kerja kerasnya."


"Kau sahabat nya tentu tau bagaimana sepak terjangnya dia. Jika kau tidak tau, kau bisa bertanya sama Selfia. Bagaimana kehidupan Mimi di perantauan."


"Kau enak, saat kau libur kau bisa jalan-jalan, kau bisa berkumpul dengan keluarga mu. Tapi Mimi.. Dia memilih berkumpul dengan keluarganya saat lebaran saja."


"Disaat liburan semester dia lebih memilih mencari uang dengan berjualan kue."


"Kau tau itu hah!! bagaimana tiap waktunya tidak sedikit pun dia luangkan untuk berleha-leha. Baginya pendidikannya nomor satu, baginya membanggakan kedua orang tua nya nomor satu."


"Kau tau sendiri kan, bagaimana perjuangan dia untuk bisa menjadi seorang dokter. Kau tau itu kan dek!!" ucap Ryan.


"Kenapa sekarang kau jadi begini. Dimana Di'ah yang aku kenal, dimana!!"


"Dimana Di'ah yang selalu mendukung sahabatnya sendiri, Diaman Di'ah yang selaku bahu membahu kepada sahabatnya, dimana!! Ryan yang tersulut emosi, tak ada lagi ucapan-ucapan lembut terlontar dari bibirnya.


"Jika ala yang kau lihat saat ini pada Mimi, itu yang membuat mu iri. Belajar lah, belajar lah dengan kerja keras agar kau bisa meraih kesusksesan juga."


"Yang aku pinta belajarlah bagaimana cara Mimi menjalani hidup yabg keras ini, belajarlah bagaiman cara Mimi bisa meraih kesusksesan nya."


"Itu yang aku pinta, aku tidak pinta kau sama seperti dia, aku tidak meminta kau menjadi dirinya , tidak. Aku tidak meminta itu semua padamu.'


"Aku hanya meminta kau belajar bagaimana cara nya menghargai waktu."


"Oke aku salah, aku minta maaf jika menurutmu aku salah.''


"Tapi aku mohon, biang rasa iri hatimu itu. Itu tidak baik buat kesehatan dan juga dilarang oleh agama kita.'


"Aku suami mu, aku berhak menasehati mu. aku mencari rezeki untukmu, untuk kita jangan sampe rezeki itu tidak mau mendekati kita karena perangai mu itu. Ku mohon buang lah dek rasa iri hati itu." ucao Ryan yang mulai melembut.


"Ini semua untuk kamu sendiri, untuk kita. Tidak ada guna menyimpan rasa iri. Jika kau iri akan kesusksesan nya maka teruslah kau berjuang untuk meraihnya juga."


"Apa yabg kau lihat pada diri Mimi saat ini adalah buah dari kesabarannya, buah dari kerja kerasnya."


"Dan apa yang dia peroleh saat ini juga merupakan do'a dari dirinya sendiri dan doa dari kedua orang tua serta orang-orang yang menyayangi nya.''


"Aku sudah memperingati kamu. Kedepannya terserah, jangan kau menyesal." ucap Ryan yang terus keluar kamar dan meninggalkan Di'ah seorang diri.


Sepergian Ryan, Di'ah menangis seorang diri. Di'ah merasa kalau Ryan berubah dan tidak menyayanginya.


Ada rasa cemburu yang juga merasukinya karena Ryan selalu membela serta memuji Mimi.


"Apa salah ku, aku hanya ingin.. huhuhu. Aku hanya ingin juga merasakan apa yang di rasakan Mimi." ucapnya dengan ajakan tangis.


"Kenapa aku selalu kalah dengan Mimi, kenapa.." ucap Di'ah dengan memukul bantal yang di pangkuannya.


"Aku tau kak, kau masih menyukai Mimi. Aku tau itu.." ucapnya dengan menuduh Ryan masih menyukai Mimi.


Ryan duduk di pondok di belakang rumah yang telah jadi di buat. Ryan memandangi persawahan yang terbentang luas.


Berulang kali Ryan menarik nafas nya, tak terasa air mata nya pun luruh. Ryan menyesal jika dia tidak bisa membahagiakan Di'ah istrinya.


Ryan merasa gagal mendidik istrinya, Ryan juga tidak tau kenapa istrinya berubah dan memiliki rasa iri hati.


Ingin rasanya Ryan berteriak sekeras-kerasnya untuk melegakan hatinya, namun dia tidak ingin di dengar tetangganya.


"Ya Allah ampuni hamba telah menyakiti hati istri hamba."


"Ampuni hamba yang tidak bisa membahagiakan nya."


"hamba mohon bantu hamba untuk membuka mata hatinya ya Rabb.." ucap Ryan yang terus mengadu pada Illahi Rabbi.


"Hamba tidak tau kenapa jadi begini ya Allah, apa ini adalah sifat aslinya atau bukan, hamba mohon bukakan mata hatinya agar dia berubah." ucap Ryan.


Mimi dan Syahril sampai rumah, terlihat rumah sepi.


"Kemana orangnya." ucap Mimi ketika masuk rumah.


Syahril dan Mimi masuk kedalam kamar mereka dan meletakkan tas kerja mereka.


Mimi pergi kedapur dan meletakkan mie ayam bakso yang dibeli nya tadi di atas meja.


Miki melihat nasi tinggal sedikit seperti yang dia tinggalkan pagi tadi. Mimi menyalin nasi yang ada di magiccom ke wadah lain lalu Mimi pun memasak nasi kembali.


Mimi membumbui ikan lele yang sudah di cairkan Mimi pagi tadi. Rencana m akan menggoreng ikan lele, sambal terasi serta lalap Pete, rebusan pare serta kacang panjang.

__ADS_1


Syahril yang melihat Mimi kembali berkutat sendiri hanya bisa menarik nafas nya.


Tbc


__ADS_2