
Setelah berpamitan pada semua Mimi langsung mengajak Di'ah dan Manda untuk pulang. Emma dan Sila yang melihat ketiga sahabtnya keluar dari acara ini, mereka pun ikut menyusul.
"Mi.." panggil Emma yang langsung memmeeluk Mimi, begitu pula sahabat yang lainnya juga ikut memeluk Mimi.
Mereka memberikan support serta kekuatan pada Mimi. Dewi dan Novi pun ikut menangis begitu pula dengan kak Rani dan kak Siska.
"Maaf ya Mimi duluan." pamit Mimi pada Emma dan Sila.
"Kita ikut." jawab mereka berdua.
Dewi dan Novi bila mereka belum menikah mungkin mereka pun akan mengikuti Mimi.
"Dewi, Novi. Mimi minta maaf ya kalau Mimk berbuat salah sama kalian berdua. Jaga ponakan Mimi ya, semoga kalian selalu bahagia." ucap Mimi.
"Maafkan Novi ya Mi." ucapnya dengan memeluk Mimi.
"Maafkan Dewi juga ya Mi." Ucap Dewi sembari memeluk Mimk dengan isakan tangis.
"Dek." ucap kak Andri, kak Rudi, kak Arfan, kak Ryan dan kak Rendi semua mengantar Mimi hingga pintu keluar.
"Terimakasih semuanya, terimakasih sudah menjadi bagian dari Mimi selama ini, makasih atas kasih sayang kalian buat Mimi selama ini. Semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan, Mimi pamit, assalamualaikum." ucap Mimk dan segera pergi meninggalkan mereka semua.
Mimi dan Di'ah terus berjalan tanpa menoleh kebelakang
lagi, saat nya Mimi menatap ke depan karena di depan ada orangnyanhnharjs Mimi jaga kehormatan dan martabatnya yaitu keluarga nya terutama!a kedua orang tuanya.
"Kita langsung pulang Mi?" tanya Emma saat mereka sampai di parkiran.
"Iya." jawab Mimk singkat, Mimi langsung naik motor bersama Di'ah menuju pulang ke rumah begigunlula Manda, Sila dan Emma yang berboncengan bertiga.
Sesampainya di rumah Nyai, Mimi langsung mandi karena merasa gerah. Ke empat sahabat nya masih di dalam kamar berganti pakaian.
Satu jam lagi Mimk berada di daerahnya, setelah itu Mimi akaan kembali ke tempat dia menuntut ilmu.
"Mi.." panggil emak.
"Iya Mak." jawab Mimi yang sudah segar karena habis mandi.
Terlihat segar dart luar namun di dalamnya Mimi telah layu, tinggal kedua orangtuanya penyemangat dirinya.
"Apa ndak bisa di batalkan nak, kita pulang saja ke desa." ucap emak, Mimi menggeleng.
"Maafkan Mimi Mak, izinkan Mimk buat !menenangkan diri Mimi. Dengan menerima orderan Mimi mungkin bisa melupakan semua." jawab Mimi dengan memeluk Mimi.
"Maafkan Mimk ya mak, maafkan Mimi yang belum bisa mebahagiakan emak dan bapak." ucap Mimk dalam pelukan emaknya.
"Menangislah nak kalau itu bisa membuatmu lega nak." ucal emak yang tau jika Mimk masih berusaha menutupi rasa sakit di dadanya.
"Maak, Mimi tidak perlu menangis lagi. Tolong do'akan Mimi buat Mimi kuat menghadapi hari-hari Mimk kedepannya nanti." ucap Mimi.
"Do'a Mak selalu buat kamu nak. Ynag sabar ya nak." ucap emak dengan deraian air mata nya. Mimk menghapus air mata itu dengan kedua tangannya.
"Ini air mata saat Mimk memutuskan nya Mak, tapi jika mii bersatu dengannya Mimi ndak tau air mata yang akan emak keluarkan. Ditambah dengan hinaan orang terhadap MU." ucap Mimi dalam hati.
"Mi, jam berapa berangkat?" tanya pakdo.
"Kalau berangkatnya jam enam pakdo, jadi berangkat dari sini ya jam lima saja biar Mimi tidak lama menunggu di bandara nanati." jawab Mimi.
Mimi duduk di hadapan seluruh keluarga nya dan keempat sahabatnya. Mimi mendekati Nyai nya, terlihat rona kesedihan di wajah nya.
"Nyai, Nyai jangan bersedih lagi. Semua akan baik-baik aja." ucap Mimi dengan memeluk lengannya.
"Nyai do'a kan Mimi ya, do'a kan Mimi sukses.' ucap Mimi dengan menaruh kepalanya di pundak sang nenek.
"Mimi minta maaf ya Nyai, kalau sekarang Mimi membuat Nyai bersedih. Insya Allah kedepannya Mimi akan membuat Nyai bangga dan bahagia sama Mimi." ucap Mimi seraya mengangkat kepalanya dan menghapus air mata Nyai.
"Jangan menangis, Mimi baik-baik saja." ucap Mimi dengan terus menghapus air mata yang jauh dinpipi renta nyai nya.
"Pakdo, Tante Zia, Pakcik, bicik, Bi Ida dan Om Adrian. terimakasih selalu mendukung Mimi, terimakasih atas segalanya. Maafkan Mimk Bika saat ini membuat kalian khawatir dan bersedih. Mohon do'a nya agar kedepannya Mimi bisa menjalani hidup Mimi lebih baik lagi." ucap Mimi meminta maaf kepada semua.
"Emma, Manda, Sila. Maafkan Mimi ya kakaunselkama ini Mimk ada salah sama kalian, maafkan mimimkalau selama ini Mimk merepotkan kalian. Terimakasih sudah menjadinsahhabt Mimi hingga saat ini, terimakasih kalian selalu ada disaat Mimi senang Hinga terpuruk sekali pun. Bantu do'a nya ya buat Mimi biar kelak Mimi bisa menghadapi semua nya." ucap Mimi kepada ketiga sahabatnya.
Ketiga sahabatnya taknbisa berkata-kata, mereka merasa ada hal yang janggal pada diri Mimi.
"Kenapa Mimk sedari semalam selalu meminta maaf ya Allah." gumam Sika dalam hati.
"Ya Rabb lindungi selalu sahabatku, berikan dia kesehatan." gumam Manda dalam hati.
"Ada apa ini ya Rabb, kenapa dia selalu minta maaf dari kemarin, dan apa ini kenapa dia meminta maaf pada semua orang." gumam Emma dalam hati serta menggelengkan kepala.
"Ya Allah lindungi anak hamba ya Allah, lindungi dia." emak berdo'a dalam hatinya.
"Jangan kau beri kami cobaan diluar batas kemampuan kami ya Allah." Emak terus berdo'a, entah mengapa hati emak menjadi tidak tenang.
"Ya Allah ada apa dengan ponakaan hamba, lindungi dia selalu." ucap bi Ida dalam hati.
"Ya allah, jangan kau beri kami cobaan lebih berat dari ini. Lindungi selalu anak kami Mimi." bicik berdo'a dalam hatinya.
"Di'ah maafkan Mimi ya, maafkan atas kesilafan Mimi sama Di'ah selama ini. Makasih sudah menjadi sahabat sejati Mimi hingga kini. Maafkan Mimi ya, karena Mimi Di'ah ikut mengorbankan perasaan Di'ah. Maafkan Mimi, terimakasih atas pengertian dan kasih sayang Di'ah buat Mimi. Semoga kelak Di'ah selalu bahagia dan sukses." ucap Mimk sembari memeluk Di'ah dan ketiga sahabat nya.
"Terimakasih, kalian adalah sahabat sejati Mimi." ucap Mimi lagi.
Mimi melepaskan pelukannya dari keempat sahabat nya dan tersenyum melihat mereka semua. Mimi juga tersenyum melihat keluarganya.
"Jangan laginada kesedihan, jangan lagi ada tangisan. Insya Allah Mimi baik-baik saja. Bukannya rezeki, jodoh dan maut sudah diatur sama Allah SWT." ucap Mimi kepada semua keluarganya dan mendekati emaknya.
"Mak jangan nangis lagi, do'a kan Mimi sukses buat harkat dan martabat kita tidak di usik orang lagi. Dan do'akan Mimi biar cepat menyelesaikan kuliah Mimk dan segera menyandang dokter jantung sesuai dengan cita-cita Mimi. Do'a kan Mimi!jadindoktr yang dikenal oleh seluruh masyarakat negara kita atau bahkan negara lain.Biar orang yang menghina anak dari orang tak berpendidikan ini tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata pedas mereka lagi sama emak dan bapak." ucap Mimi kepada emaknya.
"Nyai jangan nangis lagi. Do'a kan bae Mimi sehat, sukses ya Nyai." ucap Mimk dengan menghapus air mata Nyai.
"Jaga diri baik-baik di tempat orang, Nyai cuma bisa berdoa sama Allah agar Mimi sehat dan sukses. Cepat selesai kuliahnya dan cepat balek lagi ke rumah." ucap Nyai dengan mencium kening Mimi.
"Makasih Nyai." ucap Mimi yang berusaha agar tidak ada air mata lolos dari pipinya.
__ADS_1
"Em Pakcik kan yang anatr Mimi kebandara?" tanya Mimi kepada pakciknya.
"Iya." jawab Pakcik.
"Yaudah cik, kita berangkat sekarang sudah mau jam lima. Bentar Mimi ambil tas." ucap Mimi dan berlalu masuk kedalam kamar.
Setelah ambil tas Mimi kembalinp duduk dan memanggil adek-adeknya, Mimi memberikan mereka uang satunorang lima puluh ribu.
"Ndak usah Mi." ucap bi Ida.
"Iya yuk, jangan biar buat Ayuk bae." ucap Tante Zia yang selalu memanggil Mimi Ayuk untuk mengajari anaknya.
"Ndak apa nte, ini nyicipin adek-adek dari hasil jualan kue Mimi. Duit dari kalian masih utuh kok hehehe." ucap Mimi.
Yah para pamannya sudah memberikan uang saku buat Mimi.
"Yaudah Mi, kita berangkat." ajak Pakcik.
"Iya cik." jawab Mimi.
"Mak pak kami berangkat dulu." ucap Mimi dan berpamitan pada kedua orangtuanya taknluoa pula Mimk menyalami mereka.
Mimi juga berpamitan pada keluarga yang lain dan keempat sahabatnya. Mereka menangis mengantar Mimi hingga dibawah anak tangga. Mimi melihat ke arah mereka dengan senyuman seiring jalannya motor meninggalkan mereka semua.
Di kediaman Syahril, saat Mimi pulang terjadi kehebohan karena mempelai pria nya pingsan.
Yah Syahril melihat Mimi hingga Mimi tak terlihat oleh pandangan matanya. Syahril yang sedari kemarin kurang istirahat merasa kepala nya sakit hingga terasa ingin pecah.
Disaat semua sepuounbeserta istri mereka mengantar Mimi keluar dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya.
Umma melihat ke arah Syahril yang sudah bercucuran keringat dan tak lama Syahril pun pingsan.
"Ya Allah anakku, Syahril." ucap Umma yang langsung mendekati Syahril yang sudah terkulai di atas kursinya.
"Syahril." ucap Babah dan langsung mendekat serta mengangkat tubuh anaknya.
"Afnan, Afkar." teriak Babah. Afnan dan Afkar mendengar teriakan sang ayah dan melihat ayah yang sedang bersusah payah mengangkat adiknya pun lari tunggang langgang mendekati babahnya.
Ryan dan yang lain mendengar teriakan pun langsung berlari mendekat.
"Ya Allah." ucap Ummi Parida ketika melihat Umma pun ikut pingsan.
Acara pun diberhentikan, pihak tuan rumah pun meminta maaf pada tamu sekalian dan mengatakan bila Syahril pasca operasi dan masa penyembuhan karena kecapekan maka membuat dirinya pingsan.. Semua orang kembali sibuk mengurus Umma dan Syahril.
Setengah jam kemudian Umma sadar daei pingsannya.
"Syahril anakku." ucap Umma ketika sadar.
"Umma sabar Umma." ucap Babah.
"Ini semua karena Babah, anakku.. Ya Allah huhuhu." Umma menangis tersedu
"Bagaimana anakku Bah, bagaimana anakku." ucap Umma dengan nada keras.
"Ya Allah." ucaonya lirih.
"Ryan bagaimana Syahril?" tanya Umma ketika melihat Ryan di ruang keluarga.
"Syahril belum sadar Umma. Kita lihat satu jam ini jika belum juga kita harus segera bawa kerumah sakit." ucap kak Ryan.
"Syahril hanya kecapekan dan dehidrasi saja Umma, tidak perlu khawatir." ucap Andri.
"Bagaimana Umma tidak khawatir, kalian tau kan kalau dia habis operasi di kepalanya." ucap Umma dengan berternak.
"Kak, sabar kak." ucap Ummi Parida.
"Sabar macam mana lagi hah!! anak aku taruhannya, nyawa anak akuntaruhannya Ridaaa." ucap Umma !aaih dengan teriakan.
"Syah, sabar nak." ucap Ummi mertuanya.
"Sabar bagaiman lagi Aisyah Ummi.. Sabar bagaimana lagi. Ummi lihat Syahril Ummi, lihat Syahril huhuhu anakku, ya Allah." ucap Umma.
"Iya nak Ummi tau, Aisyah harus sabar, harus banyak berdoa nak." ucap Ummi mertuanya.
Umma kembali merasa pusing dan ummanpun kembali jatuh pingsan.
Syahril masih belum juga sadar dari pingsannya, Syahril berada di dalam kamarnya di jaga oleh istri nya.
Syahril berada di dalam kamar berdua dengan istri, setelah habis memeriksa Syahril.
Saat berduaan, Zahra menatap lelaki yang telah menjadi suaminya. Zahra melihat dari kepala hingga ujung kakinya.
"Wasim walakin la yazal wasim habibi ( tampan, tapi masih tampan kekasihku.)" ucap Zahra dengan menggunakan bahasa Arab.
"Lam 'akun 'aetaqid 'anani sa'atazawajuhu ( Tidak kusangka, aku menikah dengannya)" ucap Zahra lagi.
" 'aelam 'anak yajib 'an tudtara aydan 'iilaa hadha altawfiqi. 'aelam 'anak tuhibu tilk alfatat , wa'ana 'uhibu sadiqi aydan ( aku tahu kau pasti juga terpaksa dengan perjodohan ini. Aku tahu kau mencintai gadis tadi, Aku juga mencintai kekasihku )"
Satu jam sudah Syahril belum juga sadarkan diri. Orang tua Zahra masuk kedalam.
"Bagaimana keadaan nya nak." tanya umminya Zahra.
"Ma zilt la taerif 'umiy, belum juga sadar Ummi." jawab Zahra.
"Ummi,." panggil Zahra.
"Iya nak." jawab Ummi nya.
"Sepertinya dia sangat tertekan Ummi. Dia sudah miliki kekasih, kasian dia." ucap Zahra.
"Hmm kita bisa apa nak, semua ada di tangan kakekmu." jawab ummi Zahra.
"Ya sudah Ummi keluar dulu ya." ucap Ummi nya.
__ADS_1
"Na'am umi " jawab Zahra.
Setelah kepergian Ummi nya Zahra menghelakan nafasnya. Sebenarnya Zahra tak menyetujui perjodohan ini, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama suara telpon Zahra berdering dan tertulis nama sang kekasih.
"Assalamualaikum" ucap Zahra.
"Waalaikum salam, nasıl? evli misin?" jawab kekasih Zahra
( bagaimana? apa kamu sudah menikah?
"Hmm evet onunla evliyim." jawab Zahra ( hmm iya aku sudah menikah dengan nya ).
"Hoşuna gitti mi? bana sevdiğim şeyi verdin mi?" tanya sang kekasih.
(apa kau menyukainya? apa kau sudah memberikan hal yang aku sukai?)
"Bana dokunacağını sanmıyorum bebeğim, benimki her zaman senin olacak" jawab Zahra.
( aku rasa dia tidak akan menyentuhku sayang, milikku akan selalu menjadi milik mu)
"Vay güzel, benimkinin onun tarafından kullanılmasından hoşlanmıyorum. Seni seviyorum canım" ucap sang kekasih
( waw bagus, aku tidak suka milikku di pakai oleh nya. aku mencintaimu sayang )
"Bende seni seviyorum." Jawa Zahra
( Aku juga mencintaimu )
"Öyleyse nasıl? Onunla Endonezya'da mı yaşayacaksın? yoksa buraya geri döneceksin!" tanya sang kekasih
(Lalu bagaimana? apa kau akan tinggal bersamanya di indonesia? atau kau akan kembali kesini)
"Henüz bilmiyorum, Abi'ye sonra sorarım. Üniversitem bahanesiyle oraya geri dönmek isteyeceğim." jawab zahra
( Aku belum tahu, nanti aku akan meminta samaa Abi. Aku akan meminta untuk puoangnkesana dengan alasan kuliahku.)
"Hey iyi, seni burada bekliyor olacağım. Ve umarım buraya gelmez." ucap sang kekasih
(Hemm bagus, aku akan menunggumu disini. Dan mudahan dia tidak ikut kesini )
"Yurtdışına da gideceği için geleceğini sanmıyorum. Eğitimine Los Angeles'ta devam edecek. Önce ben duş alacağım, geliyor musun?" ucap Zahra dengan genit.
(Aku rasa dia tidak akan ikut karena dia juga akan pergi keluar negeri. Dia akan melanjutkan kuliahnya di LA. Sudahlah aku mau mandi dulu, apa kau akan ikut?)
"Tabii ki, ikiz dağlarınızı gerçekten özlüyorum ve mağaranızı gerçekten çok özlüyorum canım" jawab sang kekasih.
( tentu, aku sangat merindukan gunung kembarmu, dan sangat merindukan goa mu sayang )
"Hahahaha, sen bir sapıksın. Şu iki şeyi hep sevmişsindir, ikiz dağlarım ve mağaram. Ben de, uzun silahını özledim" jawab Zahra
(Hahahaha, kau memang mesum. Kau selalu menyukai dua hal itu, gunung kembarku dan goa milik ku. Aku pun sama, aku merindukan senapan panjangmu)
"Uzun zaman oldu, önce duş almak istiyorum, sonra devam ederiz" ucap Zahra dan mengakhiri sambungan telpon
(Sudah dulu ya, aku mau mandi dulu nanti kita lanjut lagi)
Sebelum masuk kamar mandi Zahra melihat lagi ke arah Syahril yang masih terpejam.
"Huum semoga dia belum sadar, walaupun sadar dia tidak akan mengerti." ucap Zahra dan berlalu masuk kamar mandi.
Tanpa sepengetahuan Zahra, Syahril sudah sadar sedari tadi tapi sayang apa yang dikatakan danndinharaoakan Zahra salah besar. Syahril mengerti apa yang dia bicarakan ditelpon.
Ketika Zahra masuk kamar mandi, Syahril pun membuka matanya.
"Cuuuih ini yang kakek bilang Solehah. Lihat saja aku akan menyelidikinya dan akaan kunbuktikan pada kakek wanita yang di bilang Solehah ini lebih hina dari pelac*r." ucap Syahril.
Syahril pun bangun dari rebahannya dan dia langsung menyelinap keluar. Dipikirannya saat ini adalah Mimi dengan langkah panjangnya Syahril yang telah mengenakan jaket langsung keluar ru!ah lewat belakang.
"Zacky.." panggi Syahril lada Zacky adiknya Ryan.
"Eh Abang, sudah sadar bang." ucap Zacky.
"Sini motornya, Abang pinjam." ucap Syahril yang langsung mengambil motor dari tangan Zacky.
"Eh Abang mau kemana? abang baru sadar bang." teriak Zacky karena Syahril sudah melesat pergi.
Zacky yang bingung langsung berlari ke atas rumah untuk mencari Abang nya Ryan.
"Abang.." panggil Zacky setelah berada di luar rumah.
"Ada apa dek? kamu kenapa?" tanya Ryan panikmkegika melihat adeknya ngos-ngosan.
"Bang Syahril bang." ucap Zacky sambil mengatur nafasnya.
"Syahril, kenapa dia? apa sudah sadar?" tanya Andri.
"Sudah bang, tapi bang Syahril tadi ambil motor Zacky dan pergi." adu Zacky.
"Apaaa!!!" ucap Ryan, Andri, Rendi, Rudi, Afnan dan Afkar.
"Mau kemana dia?" tanya bang Afnan.
"Kita langsung susul dia." ucap Ryan.
"Tapi susul kemana Yan" tanya bang Afkar.
"Kemana lagi." jawab Ryan dan mereka pun langsung pergi menuju mobil dan menyusul Syahril.
"Ya Allah Syahril, spbari sadar juga." ucap bang Afkar.
Mereka langsung menyusul Syahril ke rumah Nyai nya Mimi. mereka yakin kalau Syahril menuju kesana.
__ADS_1
tbc