DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
keusilan Syahril


__ADS_3

Mimi terisak kembali saat menceritakan kronologi terjadinya kecelakaan terhadap kedua orangtuanya baby twins.


Perih dan sakit itu yang Mimi rasakan. Hanya karena anak yang tidak menuruti keinginan orang tua mereka, orang tua tega menghancurkan hubungan pasangan yang saling mencintai.


Tak hanya upaya untuk memisahkan hubungan semata namun mereka dengan tidak mempunyai hati menaruhkan nyawa anak-anak mereka.


"Sudahlah dek, jangan kau tangisi. Do'a kan saja mereka agar Allah mengampuni segala dosa dan menerima segala amal baik mereka." ucap Syahril dengan terus mengusap punggung Mimi.


Syahril pun merasa sakit hati kala mendengar cerita Mimi. Apa ada orang tua seperti itu?.


"Mimi selalu berdo'a sama Allah kak, agar kedua orang tua mereka di buka kan mata hatinya."


"Mimi yakin, jika kelak orang tua mereka akan menyesal seumur hidup mereka." ucap Mimi.


"Suatu saat jika si kembar bertemu dengan mereka dan mereka akan mengambil si kembar dari kita, Mimi bersumpah Mimi akan hadapi mereka dan tidak akan. melepaskan si kembar." ucap Mimi dengan sisa isakan tangis.


"Hanya karena anak menjalin hubungan, tega mereka merenggut nyawa anak mereka. Ini bukan hanya nyawa anak mereka tapi cucu-cucu mereka." ucap Mimi.


"Kita do'akan saja mereka." ucap Syahril.


"Emm yang jam berapa jadwal mu?" tanya Syahril mengalihkan perhatian Mimi.


"Jam sembilan." jawab Mimi.


"Emm yaudah Mimi mau ke bawah dulu buat sarapan, tapi sebelumnya Mimi mau lihat si kembar dulu" ucap Mimi yang sudah beranjak dari kasur dan berjalan menuju pintu.


Disaat Mimi sudah keluar dari kamar terdengar kekehan si kembar. Ternyata si kembar telah bermain bersama para kakek dan nenek mereka.


"Eh anak mommy dah bangun ya." ucap Mimi kala sudah dekat dengan si kembar dan menciumi mereka bergantian.


"Kamu kenapa Mi" tanya Umma.


"Emm ndak apa-apa Umma". ucap Mimi.


"Mana Syahril Mi, ayok kita sarapan dulu." ucap emak yang tengah menyiapkan sarapan.


"Masih di atas mak." jawab Mimi.


"Kamu masuk kerja nak?" tanya bunda.


"Iya bunda, hari ini Mimi ada jadwal operasi di rumah sakit Abidzar jam sembilan." jawab Mimi dengan menggendong baby Zav karena si Abang meminta untuk di gendong.


Melihat si Abang di gendong Mimi,si adek baby Xav pun ikut merengek minta gendong.


"Ayoyo anak-anak mommy pada minta gendong." ucap Mimi, tak berselang lama Syahril pun turun.


"Sini gendong sama ayah." ucap Syahril. Kini giliran mereka rebutan meminta gendong sama Syahril.


"Hahaha pada rebutan nih anak-anak ayah." ucap Syahril dan akhirnya Syahril pun menggendong kedua bayi itu.


"Hati-hati Riil, nanti jatoh." ucap bunda.


"Iya Riil,mereka itu masih kecil. Jangan sekaligus gitu gendong nya." sahut Umma.


Akhirnya baby twins pun di turunkan dan di letakkan di atas karpet bulu.


Bayi montok itu sudah pandai tengkurap bahkan saat tengkurap mereka telah pandai mengangkat kepala mereka.


"Yah yah yah yah." ucap baby Zavier sambil menggerakkan tangannya.


"Yah yah yah yah" baby Xavier pun tak mau kalah, dia terus menggerakkan badannya ingin melaju ke arah Syahril.


"Iya tayangnya ayah." ucap Syahril.


"Jangan ajarkan anak bicara seperti itu Riil." tegur emak.


"Biasakan ajak bicara seperti kita biasanya, supaya kelak dia pandai bicara tidak pelat " ucap emak lagi. (pelat itu sama dengan cadel seperti bahasa bayi yang kurang jelas )


"Bisa gitu ya Mak?" tanya Syahril.


"Ya iyalah, anak bayi itu ibarat kaset kosong jika di ajari bicara seperti itu maka dia akan merekam nya juga seperti itu. Jadi ajak mereka bicara ya seperti kita aja, pakai bahasa yang jelas." ucap emak lagi.


"Hahaha" terdengar baby twins tertawa kala ayah mereka di tegur oleh eyang Ino mereka.


(Eyang Ino panggilan nenek perempuan untuk emak Mimi )


"Tuh Riil diketawain sama twins." sahut ayah Brata.


"Udah-udah mainnya, ayok sarapan dulu." ucap Mimi. Akhirnya mereka pun sarapan bersama begitu pula dengan kedua baby sitter.


Sehabis sarapan Mimi segera bersiap-siap untuk pergi kerja.


"Kenapa nggak cuti dulu Mi." ucap ayah Brata.


"Emm rencana lusa Yah kalau nggak ada pasien yang harus di tindak." ucap Mimi.


"Kakak jadi ikut ke rumah sakit?" tanya Mimi pada Syahril.


"Hmm jadi, tunggu kakak salin baju dulu." ucapnya dan segera naik ke lantai atas menuju kamar mereka guna berganti pakaian.


Baby twins melihat kedua orang tua mereka telah bersiap untuk berkerja merengek minta di gendong, jadilah sebelum berangkat Mimi dan Syahril menggendong mereka terlebih dahulu.


"Mak, Umma, bunda" Mimi berangkat dulu". ucap Mimi seraya menyalami mereka.


"Iya hati-hati, jangan lupa berdo'a." ucap emak.


"Hati-hati ya nak." ucap bunda dan juga Umma.


"Pak, Bah, Yah kami berangkat dulu." ucap Mimi dengan menyalami mereka juga.


"Iya hati-hati." ucap mereka.


"Abang, adek. Mommy sama ayah kerja dulu ya sayang." ucap Mimi kepada Baby twins.

__ADS_1


"Bun Bun Bun" ucap baby Zavier.


"Mimi, mom, mom." sahut baby Xavier.


"Yah yah yah." ucap mereka ketika melihat ayah mereka.


"Anak-anak ayah, ayah sama mommy kerja dulu yah." ucap Syahril dengan menciumi kedua pipi gembul twins.


Setalah berpamitan Mimi dan Syahril pun berangkat kerja.


"Kak, kok kak Ryan Ndak keluar-keluar ya" ucap Mimi ketika melihat ke pintu apartemen Ryan tertutup dan sepi.


"Emm macam tak tau Bae." ucap Syahril seraya merangkul pinggang Mimi.


"Emm emangnya kenapa?" ucap Mimi bertanya.


"Emm" ucap Syahril enggan menjawab pertanyaan Mimi.


"Am em am em." ucap Mimi.


"Penasaran?" ucap Syahril.


"Ndak juga." jawab Mimi,mereka pun masuk kedalam lift.


Hanya makan waktu lima belas menit mereka pun sampai di rumah sakit Abidzar. Mimi dan Syahril masuk keruangan Mimi sebelum Mimi pergi ke ruang operasi.


"Kak, Mimi ke arah yang operasi dulu ya." ucap Mimi.


"Oke," ucap Syahril dengan senyum.


"Emm, kakak masih mau di sini atau pulang?" tanya Mimi seraya mendekat ke arah Syahril yang masih duduk di bangku kebesaran yang selama ini mi mi tempati.


"Kakak disini saja dulu sambil mengecek laporan-laporan ini." ucap Syahril dengan menunjuk tumpukan map di atas meja dengan mata nya.


"Emm ya udah, kalau gitu Mimi kerja dulu." ucap Mimi seraya menyalami tangan Syahril.


"Hati-hati jangan lupa berdo'a sebelum melakukan tindakan." ucapan nya seraya mengelus puncak kepala Mimi.


"Iya kak, assalamualaikum." ucap Mimi.


"Waalaikum salam. cup" ucap Syahril dengan mengecup kening, kedua mata serta bibir Mimi.


Mimi tersenyum dan langsung berjalan menuju pintu keluar untuk segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang dokter yang sedang akan melakukan tindakan saat ini.


Sesampainya diruangan operasi, Mimi langsung memakai pakaian medis dan segala macam nya. Sebelum melakukan tindakan tak lupa Mimi membaca do'a.


Di apartemen Ryan, Di'ah dan Ryan masih berada dalam kamar mereka. Mereka berdua masih menikmati kebersamaan mereka berdua untuk meluapkan rasa rindu mereka.


Sedangkan Syahril saat ini berkutat dengan dokumen-dokumen di atas meja Mimi. Dia membantu mengecek laporan-laporan yang ada agar nanti Mimi tinggal menandatangani saja. Dokumen yang memerlukan revisi, Syahril sisihkan.


"Huh, pasti kamu capek dek melakukan semua ini." ucap Syahril dengan melihat tumpukan map itu.


"Tapi tunggu lah sebentar lagi dek. Insya Allah dua atau tiga tahun lagi kakak akan menghandle semua ini." ucap Syahril lagi.


Yah Syahril telah berencana akan melanjutkan pekerjaannya di rumah sakit Abidzar ini. Syahril tidak akan melanjutkan di dusun setelah masa pengabdian nya selesai.


Di apartemen Mimi para nenek dan kakek masi GB Beta bermain dengan si kembar. Si kembar pun terlihat sangat amat senang, mungkin si kembar merasa rumah ya ini terasa ramai saat ini.


Kekehan serta celotehan yang terkadang terdengar jelas dan terkadang hanya terdengar gumaman membuat para kakek dan nenek itu terhibur.


Di sudut hati kecil seorang ibu merasa sangat dekat secara batin terhadap baby twins ini. Yah dia adalah bunda Rahmah, entah mengapa hatinya mengatakan jika si kembar ini juga merupakan darah dagingnya.


Para tetua ini belum ada yang mengetahui cerita sebenarnya tentang baby twins. Tapi secara garis besar mereka mengetahui dan mereka menerima dengan tangan terbuka dan lapang dada.


"Bund" panggil ayah Brata yang duduk di sebelah bunda.


"Kenapa?" tanya ayah Brata yang melihat bunda masih larut dalam lamunan.


"Em entahlah Yah, bunda merasa si kembar begitu dekat dengan kita." jawab bunda dengan mata melihat ke arah si kembar.


"Lihat lah wajah mereka, sangat mirip dengan Abidzar." ucap bunda lagi.


"Abidzar kan mirip sama ayah bund." ucap ayah Brata dengan mata terus melihat ke arah si kembar.


"Iya, coba ayah perhatikan lebih dalam. Wajah mereka mirip sama ayah." jawab bunda.


"Tidak mungkin kan yah, Abidzar melakukan hal-hal di luar." ucap bunda.


"Huss kamu ini ngomongnya semakin ngelantur." ucap ayah Brata.


"Yg ah habisnya wajah mereka.. Atau jangan-jangan ayah lagi main di belakang bunda." ucap bunda dan akhirnya menuduh ayah Brata.


"Kamu ini bund bund, kamu tahu sendiri bagaimana aku. Lah wong kita selalu bersama bagaimana ayah bisa main di luar. Apa lagi si kembar ini ni orangtuanya berada di sini, kapan waktunya ayah terbang kesini coba." ucap ayah Brata ada rasa kesal di hati ayah Brata terhadap bunda yang bisa-bisa nya menuduh dirinya selingkuh.


"Emm iya juga." ucap bunda.


"Kamu juga jangan suudzon sama mendiang anakmu bund, mana mungkin Abi melakukan hal seperti itu, Abi aja sudah meninggalkan kita cukup lama bund." ucap ayah Brata lagi


"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah." ucap bunda.


"Tapi Yah bagaimana bisa si kembar mirip dengan ayah." ucap bunda yang masih merasa heran.


"Yah bisa saja bund, bukanya di dunia ini ada orang yang mirip bahkan teramat mirip." ucap ayah Brata.


"Tapi hati kecil bunda mengatakan kalau si kembar ini benar-benar cucu kita Yah, darah daging kita." Ucap bunda.


"Lah memang dia adalah cucu kita kan sekarang. Si kembar kan anaknya Mimi putri kita." ucap ayah Brata.


Walau ayah Brata berbicara seperti itu, di sudut hati terkecilnya juga membenarkan ucapan sang istri namun dia tidak ingin menduga-duga.


"Emm nanti coba kita tanya Mimi ya Yah, siapa orang tua si kembar." ucap bunda.


"Iya." jawab ayah Brata.

__ADS_1


Setelah dia jam berkutat dengan peralatan operasi, akhirnya Mimi pun selesai dengan tugasnya dengan keberhasilan.


"Assalamualaikum" ucap Mimi saat memasuki ruangan nya.


"Waalaikum salam." jawab Syahril yang juga baru menyelesaikan pengecekan dokumen.


Mimi tersenyum dan langsung mendekat ke arah Syahril dan langsung menyalami Syahril dan Syahril pun tak lupa mengecup kening Mimi.


"Bagaimana? lancar?" tanya Syahril, Mimi mengangguk.


"Alhamdulillah lancar." jawab Mimi.


"Setelah ini masih ada jadwal atau tidak?" tanya Syahril.


"Emm ada satu nanti, tapi di rumah sakit C rumah sakit tempat Zacky." jawab Mimi.


"Jam berapa?" tanya Syahril lagi.


"Emm jadwalnya jam dua, masih ada waktu lah." jawab Mimi.


"Emm, ini udah kakak cek semua dan semua telah rapi dan tidak ada perlu revisi. Tinggal adek tanda tangani saja." jawab Syahril.


"Wah makasih kak, yaudah Mimi tanda tangani ini dulu ya." ucap Mimi.


"Emm." ucap Syahril namun Syahril tidak beranjak dari kursi. Mimi melihat itu hanya memicingkan matanya.


"Kenapa? kata nya mau tanda tangan" ucap Syahril tanpa dosa.


"Emm yaudah." jawab Mimi, mengambil tumpukan map tersebut dan hendak melakukan perkejaan nya di meja sofa.


"Mau kemana?" tanya Syahril dengan memegang tangan Mimi yang sedang mengambil map-map itu.


"Mau tanda tangan." jawab Mimi.


"Terus?" ucap Syahril lagi.


"Emm ya mau tanda tangan." jawab Mimi.


"Ya terus kenapa ini map-map kamu angkat Yang." ucap Syahril.


"Ya mau Mimi bawa kesana" ucap Mimi dengan menunjuk ke arah sofa.


"Nggak perlu kesana juga kali dek, kan bisa disini." ucap Syahril.


"Emm yaudah" Mimi langsung duduk dan menarik map itu namun di tahan Syahril, Mimi melihat ke arah Syahril.


"Kamu tanda tangan disini" ucap Syahril dengan nunjuk ke arah paha nya. Mimi hanya bengong.


"Udah sini, kamu tanda tangan nya duduk di pangkuan kakak." ucap Syahril dengan menaik turunkan alisnya.


"Emm" ucap Mimi enggan tapi menurut juga.


"Apa ndak berat" ucap Mimi sebelum dia duduk di pangkuan Syahril.


"Ndak. Ayok buruan." ucap Syahril dengan menarik lengan Mimi dan mendudukkan Mimi di atas pangkuannya.


Mimi memulai membuka atau persatu berkas dan membubuhkan tanda tangan nya sedangkan Syahril memeluk pinggang Mimi namun terkadang tangan nya juga merayap kemana-mana.


"Kaak" Ucap Mimi ketika tangan Syahril merayap masuk ke dalam baju nya.


"Emm kamu fokus aja sama dokumen itu dek." jawabnya dengan mencium bahu Mimi terkadang menggigit nya.


"Kaaak" panggil Mimi dengan menggeliatkan badannya.


"Emm"gumam Syahril dengan tangan terus menelusuri setiap inti tubuh Mimi.


"Aaach kaaak" ucap Mimi ketika tangan itu telah sampai ke tempat favorit Syahril.


"Emm kaaak Achhh" ucap Mimi kala tangan itu meremas bahkan memilih.


"Emm fokus aja yang." ucap Syahril yang kini kepala nya telah menelungsup kedalam jilbab Mimi.


"Bagaimana mau fo kus aaah." ucap Mimi dengan akhiran teriakan ******* karena Syahril mengesap lehernya serta tangan yang terus meremas dan memilin.


"Umm kaak Lee pass" ucap Mimi.


"Aaahhh" desah Mimi lagi.


"Fokus Yaang." ucap Syahril.


"Bagaimana mau fokuss aaahhh." ucap Mimi.


"Emm" ucap Syahril.


"Leepass du lu." ucap Mimi.


"Oke, buruan ya kakak dah Ndak tahan." ucap nya dan di akhiri membalikkan tubuh Mimi dan kepalanya masuk kedalam baju Mimi.


"Kakak mau ngapain aahhh." ucap Mimi namun lagi-lagi Mimi kembali mendaah kala merasa mulut Syahril menyesap kuat di bagian benda yang menjadi favorit Syahril.


"Dah, buruan selesaikan dek." ucapnya dengan mengecup bibir Mimi. Syahril mengangkat tubuh Mimi dan dudukkan di atas kursi sedangkan dirinya beranjak menuju kamar di dalam ruangan itu.


"Kakak tunggu di dalam ya." ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Huh" Mimi menghirup udara sedalam-dalam mungkin karena merasa telah bebas.


Beberapa belasan menit Mimi pun selesai dengan kerjaannya, Mimi merenggangkan otot-otot tangan serta badannya dan segera beranjak dari kursinya.


Sebelum masuk kedalam kamar, Mimi mengambil air minum dan meminumnya.


"Lama benar dek?" tanya Syahril ketika melihat Mimi telah berada di dalam kamar.


Syahril beranjak dari duduk nya dan mendekat ke arah Mimi dan selanjutnya dia langsung memeluk dan mengangkat Mimi.

__ADS_1


"Kakaaak" teriak Mimi saat Syahril langsung mengangkat tubuh bahkan langsung mencium bibir Mimi.


Selanjutnya mereka berdua pun berlabuh ke telaga cinta mengarungi samudera romantisme hingga waktu tak di tentukan.


__ADS_2