
Satu jam Mimi menunggu Syahril di dalam ruangannya, jam sudah menunjukan pukul tiga sore, waktu Mimi tak banyak lagi.
"Ya Allah." ucap Mimi.
Sehabis operasi tadi Syahril sempat istirahat sebentar namun dia tidak tahu jika Mimi ada di rumah sakitnya, setelah itu dia kembali melakukan tindakan operasi.
Tak lama orang yang Mimi tunggu pun tiba, saat Syahril membuka pintu ruangannya, dia terkejut melihat gadis pujaan ya ada di dalam.
"Dek, kamu ada disini?" tanya Syahril terkejut seraya mendekati Mimi, Mimi menyalami dan menciumi tangannya.
"Iya kak " jawab Mimi dengan senyuman namun matanya terlihat menyimpan beban.
"Emm dah lama?" tanya Syahril lagi.
"Ayo duduk sini." ajak Syahril menuju sofa, Mimi pun menganghk dan duduk disampingnya.
"Kok tidak kasih tau kalau mau kesini? adek sudah lama atau baru nyampe?" tanya Syahril.
"Iya, ada yang mau Mimi sampaikan segera sama kakak, emm Mimi baru nyampe kok." jawab Mimi dengan berbohong.
"Mau nyampaikan apa?" tanya Syahril.
"Emm, Mimi mau pamit." ucap Mimi.
"Pamit? emang mau kemana? bukannya adek sudah tidak berkerja lagi di kota Padang?" tanya nya beruntun. Iya Mimi sudah menceritakan pada Syahril perihal dia sudah tidak berkerja di kota Padang, namun saat menyampaikan alasannya Syahril selalu mengalihkan pembicaraan.
"Emm iya, Mimi memang sudah tidak berkerja lagi disana. Emm Mimi mau pamit, emm Mimi mau ke Semarang nanti malam." ucap Mimi.
"Kesemarang, mendadak!" ucapnya dengan menatap Mimi tajam.
"Emm iya ini mendadak karena pagi tadi ayah Brata baru mengubungi Mimi."
"Emang kamu kembali kerja disana?" tanya nya, Mimi menggeleng.
"Terus?" cap Syahril.
"Emm sebenarnya, emm huum huh. Emm sebenarnya, ( tarik nafas pelan )Mimi merupakan bagian anggota riset jantung kak." ucap Mimi Syahril hanya diam dengan tatapan yang tak bisa diartikan, yang pasti ada rasa kekecewaannya disana.
"Emm dan berangkatnya besok." ucap Mimi dengan menunduk.
"Kenapa adek baru cerita sekarang? apa ini hanya alasan adek untuk menghindari kakak." ucapnya yang masih tenang seraya beranjak berdiri dan berjalan menuju mejanya.
"Apa tidak ada rasa lagi di hati adek, sehingga adek memutuskan untuk ikut riset itu?" tanya nya.
"Berapa lama?" tanya nya lagi.
"Berapa lama nya Mimi tidak tau," jawab Mimi yang belum selesai langsung di sela Syahril.
"Tidak tau!! heh, begitu matang adek merencanakan nya." ucapnya tanpa melihat ke arah Mimi.
"Iya semua sudah terencana semenjak.." lagi-lagi di potong Syahril.
"Apa tidak ada sedikit pun di hati adek untuk kita berdua? apa adek tidak ada niatan untuk kembali bersatu sama kakak." ucapnya.
"Baru beberapa hari lalu kita menikmati kebersamaan kita lagi dek." ucapnya lagi.
"Kak, maafkan Mimi. Semua sudah terencana semenjak dua tahun lalu. Semua ini juga bukan disengaja, Mimi juga tidak tau bakal begini dan secepat ini."
"Kenapa tidak kemaren adek katakan?" tanya nya.
"Maafkan Mimi, kemaren ada Mimi mau mengatakannya tapi, waktu kayaknya belum mengizinkan nya."
"Berapa lama?" tany Syahril mengulangi pertanyaannya sebelumnya.
"Mimi tidak tau berapa lama Mimi disana," jawab Mimi.
"Kenapa tidak tau?" tanya Syahril.
"Karena Mimi juga sekalian kembali kuliah nanti disana." jawab Mimi, Syahril menggusar rambutnya kebelakang.
"Kakak kecewa dek, kakak kecewa adek lebih memilih kesana." ujarnya.
"Ma ma maafkan Mimi. Ini semua tidak seperti yang kakak pikirkan."
"Mimi telah merencanakan semua ini dua tahun lalu, tidak ada niatan Mimi untuk mengecewakan kakak."
"Mimj juga tidak tau kalau semua ini bakal seperti ini, Mimi tidak tahu kalau kita akan dipertemukan kembali kemarin. Maafkan Mimi.'' ucap Mimi yang masih berusaha tenang.
"Kamu tau dek, kakak sudah berencana untuk melamar kamu lagi setelah kakak menyelesaikan semua perkerjaan kakak ini."
"Sepulang dari Papua kemarin, kakak langsung menceritakan semua sama Umma dan Babah, mereka sangat bahagia dek."
"Tali sekarang... Kakak tidak tau harus mengatakan apa lagi, semua keputusan ada di kamu. Mungkin Umma dan Babah akan kecewa juga." ucapnya melemah.
Ada rasa tidak enak di hati Mimi, namun Mimi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mimi tau dengan ini mungkin ada yang akan kecewa, jika Mimi batalkan maka kemungkinan besar Mimi tidak memiliki kesempatan lagi dan Mimi pasti akan mengecewakan ayah Brata serta almarhum.
Tidak ada pembicaraan lagi di dalam ruangan itu. Sepi, sunyi terasa di antara mereka. Syahril menghadap ke arah ke luar jendela denagn yang beraidekao di dadanya.
Sedangkan Mimi masih terdiam di tempat dengan rasa bimbang nya.
"Jika adek mau pergi, pergilah." ucap nya tiba-tiba tanpa melihat ke arah Mimi.
Nyess.. Entah mengapa hati Mimi merasa sakit saat Syahril mengucapkan kata itu, kata yang menurut Mimk sebuah pengusiran. Tak terasa air mata Mimi pun mengalir membasahi pipinya.
Semua ini merupakan impian nya, namun lagi-lagi Allah memberinya ujian harus memilih. Mimi terduduk sejenak dengan menarik nafas dalam, waktu terus berjalan.
Dengan sisa waktu yang sedikit itu Mimi harus memilih di antara nya.
"Ya Allah, bangu hamba." ucap Mimi di dalam hatinya.
"Baru hati ini ingin menerimanya kembali sesuai dengan amanah mu, tapi hamba harus menyingkirkan nya lagi untuk sementara waktu." gumam Mimi dengan nafasnya tersengal-sengal karena menhan tangis.
__ADS_1
Perlahan mimi berdirj dan beranjak berjalan, Syahril yang sedang berdiri di jendela hanya diam dan menutup matanya ketika mendengar suara langkah kaki yang disangka nya Mimi akan keluar dari ruangan itu.
Perlahan Mimi berjalan dan mendekati dimana Syahril berada. Mimi langsung memeluknya dengan erat dari arah belakang, Syahril yang merasa dipeluk hatinya merasa sakit karena rasa kecewa nya.
"Pergilah" ucap Syahril dan tak membalas pelukan Mimi. Mimi menutup matanya sejenak, sakit itu yang sedang dirasakan nya sekarang. Mimi semakin mempererat pelukannya dan menghelakan dalam wajahnya di punggung Syahril.
Syahril yang merasakan jika Mimi menangis di balik punggungnya karena kemeja yang dikenakan nya sedikit basah juga merasa sakit di hatinya.
"Pergilah dek, jika itu sudah menjadi keputusanmu, pergilah " ucapnya dengan menhan air matanya luruh.
"Mmma maafkan Mimi, maafkan Mimi." ucap Mimk di balik punggung Syahril.
"Maafkan Mimi membuat kakak kecewa, maafkan Mimi yang harus pergi." Syahril semakin menguatkan pegangannya di tepian jendela sembari menutup matanya menahan kegetiran hatinya.
"Maafkan Mimi.. Mimi sayang sama kakak, Mimk cinta sama kakak, hati Mimi hanya ada kakak dari dulu hing hingga sekarang. Maafkan Mimi yang harus mengejar ke!Bali cita-cita Mimi." ucap Mimi dengan isakan tangisnya, perlahan syahril menurunkan tangannya dari tepian jendela dan mengenggam erat tangan Mimi yang berada di perutnya.
Sekecewa apa pun hati Syahril, tetap dia tidak bisa mengabaikan orang yang selalu ada dihatinya. Syahril menggenggam erat tangan Mimk dan kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Mimi.
Di angkatnya wajah Mimi yang masih menunduk, terlihat deraian air mata membasahi pipi Mimi. Perlahan Syahril menghapusnya dengan kedua tangan nya.
Mereka saling menatap sendu, mereka tidak tau dengan takdir yang terus memberi mereka ujian.
"Pergilah " ucaonya dengan bibir bergetar dengan tangan terus mengusap pipi Mimi dan manik mata menatap mata Mimi sendu.
"Ma maafkan Mimi" hanya kata maaf yang bisa Mimi ucapkan, Syahril mengangguk pelan dan memeluk Mimi dengan erat.
Syahril memeluk Mimi erat, jujur dihatinya paling dalam selain rasa kecewa dia juga bangga melihat Mimi yang terus berhasil meraih segala cita-cita nya.
"Pergilah, raihlah cita-citamu." ucapnya didalam pelukan Mimi.
"Kakak akan menunggumu, kakak akan selalu berdoa agar kami sukses." ucapnya lagi, seraya melepaskan pelukannya. Syahril memegang bahu Mimk dengan terus menatap Mimi dengan senyuman yang dipaksakan.
"Jam berapa adek berangkat?" tanya Syahril.
"Pesawat take off jam sepuluh malam nanti." jawab Mimi dengan terus melihat manik mata Syahril.
"Adek di LA kuliah di universitas mana?'' tanyanya lagi.
"Sebenarnya Mimi mengikuti beasiswa di dua universitas dan mendapatkan nya di dua universitas itu, Columbia university dan Harvard university." jawab Mimi, Syahril !menganggu dan tersenyum kagum.
"Jadi adek pilih yang mana?" tanyanya lagi dengan terus yang memeluk Mimi.
"Mimi memilih Harvard karena riset penelitian jantung akan diadakan disana." jawab Mimi, Syahril mengangguk.
"Apa adek sudah mendapatkan temlat tinggal? Atau adek tinggal di asrama nya?" tanyanya.
"Mimi akan tinggal di apartemen mendiang yang dekat dengan kampus." jawab Mimi jujur.
"Apartemen mas Abi adek?" tanyanya, Mimi mengangguk.
"Kakak juga ada apartemen dekat kampus Harvard, aprtemen mendiang dimana nya?" ucap Syahril.
"Kakak di Harvard tower, kalau adek mau adek bisa menempatinya." ucap Syahril.
"Emm Harvard tower? kalau ndak salah ayah Brata juga ada menyebutkan nama aprtemen itu." jawab Mimi.
"Oh ya" ucap Syahril.
"Iya kak, iya Mimi ingat. Ayah Brata ada bilang kalau apartemen mendiang di sana di nomoe bwrapqnya Mimi tidak tau." jawab Mimi.
"Siapa nama mendiang dek? mana tau kakak kenal dan ternyata kami satu gedung apartemen atau malah tetanggaan." ucap Syahril.
"Namanya Abizar Alzam Arfa Wijaya, dia juga seorang dokter jantung." jawab Mimi.
"Abizar Alzam Arfa Wijaya, kok kayak ndak asing ya dek." ucap Syahril sembari mengingat-ingat.
"Apa dia Dr. Abizar Alzam Arfa Wijaya.Sp.JP k FACC?" tanya Syahril.
"Kakak kenal?" tanya Mimi.
"Benar itu namanya?" ucap syahril dengan mukut sedikit terbuka karena tidak percaya, Mimi memgangguk.
"Jadi Bang Alzam mendiang calon suami adek?" ucap Syahril, Mimi terdiam.
"Alzam?" tanya Mimi heran.
"Em kami di sana memanggilnya dengan nama Alzam dek, dia senior tiga tingkat dari kakak, dia anak yang baik, dia juga merupakan ketua bagi mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia khususnya kedokteran, dia selalu membantu mahasiswa dari negara kita yang sedang kesulitan disana."
"Jika bang Alzam yang adek maksud, ya Allah...." ucap Syahril dengan mengusap mukanya.
"Apartemen dia bersebelahan dengan apartemen kakak, dia juga perintis rumah sakit jantung di Semarang dan dia juga membuka rumah sakit dekat universitas." ucap Syahril.
"Jadi dia calon suami adek?" tanya Syahril Mimi mengangguk.
"Ya Allah, ada apa dengan semua ini." ucap syahril yang lagi-lagi mengusap wajahnya.
"Emang ada apa kak?" tanya Mimi bingung.
"Beberapa tahun lalu terakhir kakak bertemu dengan dia, dia mengatakan akan menikah namun dia ada bercanda yang menurut kakak candaannya keterlaluan " ucap Syahril sambil mengenang pertemuan terakhirnya.
"Dia bilang sama kakak, 'Riil Abang mau nikah dalam tahun ini v
bisa jadi hitungan bulan, tapi kelak kakak titip calon istri kakak sama kamu ya' dia mengatakan hal itu, kakak anggap itu sebuah lelucon." ucap Syahril.
"Dan adek tau, orang yang memberikan tangan gadis ke tangan Abang itu siapa?" ucap Syahril, Mimi menggeleng.
"Awalnya kakak yakin jika tangan itu adalah tangan kami dek, namun beberapa bukan sebelum ita ke Papua kakak sempat bermimpi kembali dan melihat siapa laki-laki pemberi tangan gadis itu, dia adalah Abang Alzam." cerita Syahril.
"Dan kakak sempat ragu siapa tangan gadis itu, hati Kakak tetap yakin itu kamu namun dengan melihat wajah laki-laki itu dan teringat akan candaannya, membuat kakak ragu siapa pemilik tangan itu, siapa calon istri yang dia titipkan itu."
"Sekarang kakak yakin kaulah gaid itu dek. Pergilah dek, raihlah cita-citamu. Kakak yakin bang Alzam juga menginginkan kamu untuk meraih cita-cita itu."
__ADS_1
"Kakak, akan mendukung dan kakak akan menunggu mu. Kakak juga akan menyusul adek kesana nanti setelah urusan kakak di rumah sakit ini selesai." ucapnya, Mimi merasa terharu dan kembali merasa menyesal karena pernah salah mengambil keputusan dan salah memilih siapa pemilik genggaman itu.
"Pergilah sayang." ucap Syahril denagn memegang kedua pipi Mimi dan akhirnya dia mengecup kening Mimi.
"Mimi janji akan menjaga hati, mata dan cinta Mimi untuk Kakak." jawab Mimi.
"Iya Kaka percaya itu, kalau kamu macam-macam disana, saat itu juga kaklak kaw*ni kamu." ucap Syahril terkekeh.
"Enak aja." jawab Mimi.
"Lah emang nggak mau kakak kaw*ni?" tanya Syahril.
"Ya mau eh ya nggak lah, enak aja ngawini anak orang. Nikah dulu baru ngawini." ucap Mimk dengan cemberut, Syahril tertawa ngakak bisa mengerjai Mimi.
"Emm kamu jam berapa tadi berangkat?" tanya Syahril.
"Jam sepuluh take off,." jawab Mimi, Syahril melihat jam menunjukkan njam lima sore.
"Emm yaudah kakak antar pulang ha, udah jam lima. Emm tapi kakak tidak bisa antar ke bandara kakak ada operasi jam delapan nanti." ucapnya.
"Kalau kakak antar sehabis Maghrib nanti adek kelamaan disana." ucap Syahril.
"Emm Iya ndak apa kak, nanti Mimi juga dijemput." ucap Mimi.
"Emm" ucap Syahril dengan terus memandangi wajah Mimi, lama kelamaan pandangan itu menuntun ke bibir ranum Mimi, perlahan Syahril mengecup bibir Mimi yang seakan !menjadi candu untuknya.
Kecupan hingga kecapan mereka berdua lakukan, syahril terus memegang tekuk Mimi untuk memperdalam kecupan itu denagn tangan sebelah dan tangan sebelah memeluk tubuh Mimi, sedangkan Mimi kedua tangannya telah memeluk erat leher Syahril.
Entah mengapa kali ini seakan jiwa bin*t*ng mengalir ke tubuh mereka, mereka saling bertaut lidah bahkan kadang tangan Syahril pun mulai meraba ke tempat lain.
Hati dan ktaknmimi masih berkerja dengan sehat dan ingin menolak agar tidak berlebihan namun tubuhnya menginginkan hal yang berbeda, tubuh Mimi menuntun ke inginkan yang lebih.
Syahril mengangkat tubuh Mimi dengan bibir masih menyatu menuju ruangan yang ada ranjangnya, syahril meletakkan Mimk di atas ranjang itu.
Seperti kerasukan mereka terus melakukan ciuman itu dengan lebih intens lagi. Saat leguhan demi leguhan keluar dari mulut Mimi saat itulah membuat Syahril semakin menggila.
"Kaaak suuu daah " ucap Mimi berusaha mendorong tubuh Syahril, namun Syahril tidak menggubrisnya.
"Kaaak, jaaangaaan " ucap Mimi berusaha melepaskan tangan Syahril yang sama!kn menggerilya. Syahril berhenti sejenak denagn menatap Mimj yang sudah berada di bawah tubuh nya dengan mata yang penuh dengan nafsu.
Mimi menggeleng meminta agar tidak dilakukan lebih lagi namun Syahril menggeleng tidak menyetujuinya. Saat Syahril kembali menciumi Mimi, pintu ruangan lun terbuka dengan lebar.
"Astaghfirullah hal adzeemmm, teriak seseorang di balik pintu ketika melihat pemandangan yang bisa membuatnya iri.
Syahril mengenai gikan aksinya dan melihat siapa yang berani masuk ke ruangan pribadinya. Mimi langsung duduk saat kunjungan Syahril longgar.
"Ckk," ucap Syahril kesal dengan seorang tersebut.
"Kalau masuk itu ketok dulu jangan main nyelonong." ucap Syahril dengan terus melangkah keluar dan menarik paksa seseorang itu yang tak lain adalah Ryan.
"Mau ketok ribuan kali ndaknbakal terdengar Riil." sungut Ryan
"Kamu ini, untung aku masuk kalau ndak setan rumah sakit ini memasuki kalian berdua." ucap Ryan kesal.
"Kalian enak-enak berduaan, lah aku.." ucapnya ngenes, ada rasa iri di hatinryan yanbbjjga ingin memeluk serta mencumbui sang kekasih.
"Ckk kenapa Mimi tidak aja Di'ah ya Riil" ucaonya yang seketika mendapat keplakan di kepalanya.
"Tadi sudah benar ucapannya, eh ternyata ngelantur." ucap Syahril seraya mereka berdua duduk di sofa
Mimi masih didalam ruangan itu, malu itunyqngbmimirasakan saat ini, berulang kali Mimi beristighfar entah mengapa dia juga sampai lepas kendali tadi. Otak Da hatinya memberontak namun tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi.
"Ya Allah ampuni hamba yang sudah terlewat batas." ucal Mimk sembari memperbaiki penampilan nya dan kemudian dia keluar.
"Sudah kalian nikah saja dari pada kelewat batas." ucap Ryan ketika melihat Mimi keluar, Mimi yang mendengar itu hanya menunduk.
"Emm kak, Mimi pulang dulunya udah jam setengah enam." ucap Mimi.
"Eh tunggu kakak antar, Ayo " ajak syahril dengan. merangkul Mimi.
"Woy enak aja main tinggal-tinggal," seru Ryan yanbbjjga ikjut keluar dari ruangan Syahril. Mimk pun di antar pulang oleh Ryan dan Syahril. Mereka berdua shokat Maghrib di rumah Mimi.
Sehabis makan malam, Ryan dan Syahril pamit apa lagi syahril akan kembali kerumah sakit.
"Kak, Mimi ikut kakak aja sekalian ya, ndak ala nanti Mimi tunggu di bandara aja " ucap Mimi.
"Tali dek nanti kamu kelamaan ndak." ucap Syahril.
"Ndak apa-apa kak, ini orang yang mau jemput katanya ndak bisa." jawab Mimi.
"Emm yaudah, ayok ikut kakak ke rumah sakit dulu ya." ajaknya dan Mimi mengangguk.
Jadilah mereka pergi kerumah sakit dulu dan Mimi menunggu Syahril, beruntungnya pasiennya tidak jadi operasi karena tiba-tiba anak dalam kandungan sudah menampakkan kepalanya di selangk*ng*n ibu nya dan akhirnya ini melahirkan secara normal.
Mimk di antar Syahril ke bandara telat waktu, sebelum Mimi menuju pesawat, Syahril memeluk Mimi erat dan menciumi seluruh wajahku Mimi.
"Hati-hati ya," ucapnya, Mimi mengangguk seraya menyalami nya.
"Mimk leegi dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam " jawab Syahril. Syahril menunggu Mimi hingga tubuh Mimk tidak terlihat kembali
"Terimakasih bang, kau kembalikan cintaku. Aku akan menjaganya." ucap Syahril dan diapun pulang.
Hamlir dua jam akhirnya Mimi lun sampai di Semarang, Mimk sudah dijemput oleh supir pribadi tak lama Mimi pun samle dirumah besar itu.
Keesokan pagi, sebelum berangkat Mimi ke rumah sakit jantung dulu dan setelah itu barulah mereka berangkat dengan memakai pesawat pribadi pemilik rumah sakit. Yah yang dikirim dari Semarang ada lima orang, supaya tidak berpencar ayah Brata mengizinkan mereka semua berangkat bersama dengannya.
"Maafkan Mimi kak untuk kain ini, samlai Kumala negeri tercinta ku, aku pergi untuk membawa kembali prestasimu." ucap Mimi ketika pesawat mulai take off.
tbc
__ADS_1