DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
tahlilan2


__ADS_3

Sudah lewat dari dua Minggu, semua larabtreyua kampung masih menyarankan untuk mengadakan tahlilan buat mendoakan Mimi.


Emak hanya pasrah kepada Rabb nya, dia tidak tau harus berbuat apa lagi. Walau hatinya mengatakan kalau anaknya selamat dari tragedi itu.


Semua orang sibuk mempersiapkan makanan kecil untuk tahlilan malam ini.


Emak hanya berdiam diri, dia hanya melihat sanak saudaranya memasak dan membuat makanan kecil. Tak ada niatan hati emak untuk membantu karena baginya anaknya masih hidup.


Gas ransel Mimi telah dicucinya, pakaian yang ada beberapa stell didalamnya juga telah di cucinya. Saat meamndang pakaian yang dipakainya saat pesta pernikahan Syahril tempo hari membuat hati emak teriris bak sembilu.


Emak masuk kedalam kamar yang biasanya menjadi kamar anak sukunhu nya itu. Di peluknya pakaian Mimi, di cium nya pakaian Mimi. Dia terus berharap ada keajaiban.


"Ya Allahu berikan petunjukmu, ya Allaaah. Aku yakin ya Allah, anakku masih hidup, anakku maaihnhiduonya Allah, huhuhuhu Mimiiii blek lah nak, bakeklah anak.." ucap emak dengan tangisan tergugu sambil memanggil nama Mimi.


Semua orang diluar yang sedang memasak mendengar tangisan pilu emak. Muthia masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh kedua sahabatnya dan Di'ah.


"Maak." panggil Muthia dengan memeluk emak.


"Yang sabar Mak." ucap Selfia.


"Insya Allah Mimi di surganya Allah Mak." ucap Irma.


"Wak, sabar." ucap Di'ah ikut menguatkan emak.


"Mak yakin, Mimi masih hidup Tia, Mak yakin dia masih hidup." ucap emak dengan isakan tangis.


Semua orang ingin mengatakan kalau Mimi masih hidup karena tidak ditemukan mayat Mimi tapi kenyataan tidak berpihak pada mereka. Mereka selalu menganggap Mimi masih hidup di hati mereka.


Ba'da isya pun tiba, semua bapak-bapak telah memenuhi ruangan rumah Nyai. Ruang tengah, ruang tamu hingga serambi dipenuhi oleh bapak-bapak yang akan mendoakan Mimi.


Di ruang belakang atau dapur dipenuhi oleh ibu-ibu, tahlil pertama pun di mulai Dengan khusyuk. Emak, Nyai, binida dan yang lain menangis kala surat Yasin tersebut di baca beramai-ramai.


Orang tua syahril mengetahui kalau keluarga menyelenggarakan yasinan. Babah, abi Thoriq dan abi Mansyur ikut turut serta. Umma,ummi Parida dan Ummi Zulaikhah serta yangblain juga datang kerumah rumah Nyai Mimi.


Sejujurnya Umma sangat marah kenapa diadakan tahlilan, Umma juga merasakan kalau Mimi masih hidup. namun Umma taknbisa berbuat apa-apa, dia hanya menangis memeluk besan tertunda nya.


Syahril masihndimraway dan dijaga oleh Ryan, Zahrah akhirnya ikut pulang setelah Syahril memberitahu alasannya pada kakek Zahra dan abi Zahrah.


flasbcak off


Saat semua orang bersitegang khusunya kakelk Zahrah yang menuding Syahril walaupun sebenarnya tudingan itu benar adanya karena Syahril memang tidak menginginkan semua ini.


"Kek golongan dengarkan Syahril dulu." ucap Syahril dengan menahan rasa sakit di kepalanya


"Apalagi yang mau kau katakan, secara tidak langsung kau mengembalikan Zahrah cucuku pada kami kelurganya." ucap Kakek Zahrah.


Zahrah hanya diam sesekali terbjt senyuman kecil di bibirnya. Sesungguhnya Zahrah pun tidak menginginkan untuk tinggal disini, apa lagi mengurus orang sakit.


Zahrah terlihat santai dengan memainkan bibirnya. Ini yang dia inginkan, dia tidak ingin mengotori tangan maupun bibirnya untuk berucap. Dia ingin Syahril langsung lah yang berucap seolah disini Syahril lah yang tidak menginginkan nya.


Syahril selalu melihat gerak-gerik ekspresi Zahrah ketika sang Kakek terus menyudutkannya.


"Kau licik, lihat saja semua akan ku buktikan siapa dirimu sebenernya." ucapnsyahril dalam hati dengan mata menatap ke arah Zahrah yang masa bodoh dengan tatapan tajamnya.


"Bukan gitu kek, coba Kakek tenang dulu." ucap Syahril berusaha menenangkan hati orang tua satu ini.


"Huh dasar orangtua " gumam Ryan dalam hati yang juga geram melihat perdebatan ini, apa lagi Umma kalau tidak di tahan oleh Ummi Zulaikhah sudah keluar suara emasnya.


Syahril yang melihat Kakek dari Zahrah diam dia pun mengutarakan maksud hatinya, bukan Syahril menahan Zahrah untuk selalu menjadi istrinya namun dia akan mencari bukti-bukti yang bisa dia gunakan suatu saat nanti.


"Gini kek, maksud Syahril adalah biarlah Zahrah ikut pulang bersama kalian, biarlah dia menyelesaikan kuliahnya disana. Syahril juga sebentar lagi akan ke LA, di LA Syahril tinggal di asrama kampus, tidak mungkin Syahril membawa Zahrah ikut serta di asrama kampus." terang Syahril dan terlihat sang Kakek maupun abi Zahrah berpikir sejenak.


"Kenapa kamu tidak sewa apartemen atau membeli apartemen saja." ucap Kakek.


"Maaf kek, untuk sewa atau beli apartemen disana sanagt mahal kek, mending uangnya Syahril tabung. Dan syahril juga beli mendapatkan pekerjaan disana." jawab Syahril.


"Kelalk rencana Syahril disana Syahril akan kuliah sambi


berkerja kek, jadi waktu Syahril akan syahril pergunakan seperti biasanya yaitu untuk kerja dan kuliah." Syahril terus !e!beri penjelasan kepada sang Kakek.


"Untuk itu syahril tidak bisa mengajak Zahrah ke LA, masalah tanggung jawab Syahril btentang nafkah akan syahril kirim ke Zahrah bila Syahril sudah !mendapatkan pekerjaan, namun mungkin tidak bisa banyak karena syahril di sana juga butuh biaya."

__ADS_1


"Selama ini Syahril kuliah juga sambil berkerja." ucap Syahril terlihat ada kecemasan di dirk Zahrah, namun ada senangnya juga dihatinya kalau dia tidak harus ikut kemana Syahril pergi.


"Itu semua juga terserah Zahrah, kalau Zahrah mau ikut Syahril ya Zahrah akan tinggal di Jambi bersama Umma, karena jujur Syahril tidak akan mengajak Zahrah." ucap Syahril.


"Bagaimana kalau zahrahntegap ikut kami dan Kakek akan !e!belikanmu apartemen disana.'' ucap si Kakek.


"Si'al payah amay ngomong ma gua bangka ini." ucap Syahril dalam hati.


"Terimakasih atas perhatian Kakek, gali maaf Syahril menolaknya karena sekarang Syahril adalah seorang suami Syahril enggan menerima bantuan orang lain termasuk keluarga Syahril sendiri, Syahril ingin belajar mandiri dan Syahril mau memberikan nafkah ke Zahrah dengan keringat Syahril sendiri. Mohon dimengerti."


"Biarlah kalimini zahrah ikut Ummi dan Abi pulang, insya Allah kalau Syahril sudah dapat pekerjaan dan ada rezeki Syahril tiap libur akan ke Kairo.'' ucap syahril berupaya meyakinkan. Bibir boleh berkata begitu namun dihatinya terasa ingin muntah.


"Bagaimana nak?v tanya Umma selembut mungkin namun hatinya merutuki sikapnya itu.


"Em Zahrah nbikjt saja Umma, apa yang dikatakan Abang juga benar kuliah Zahrah juga tinggal dua tahun lagi kalau pindah takutnya tidak sesuai kurikulum dan pelajaran nya." jawab Zahrah.


"Kalau Zahrah mau pindah ke Jambi bisa tinggal bersama Umma jadi Umma ada temannya." ucap Umma lagi.


"Emm, ndak usah Umma. Zahrah ikut saran suami Zahrah saja.'' Jawab Zahrah.


"Yumkin 'an 'amut 'iidha baqit huna min al'afdal 'an 'adhhab 'iilaa almanzil , yumkinuni 'an 'astamtie mae 'uwnur" ucap Zahra dalam hati.


( bisa mati aku kalau tinggal disini, lebih baik aku pulang, aku bisa bersenang-senang dengan onour )


"Syukurlah kalau dia menolak peduli amat aku dengan nya." gumam Umma dalam hati.


"Emm baiklah kalau gitu, ala yang dikatakan Zahrah pun ada benarnya. Kuliahnya juga tinggal dua tahun lagi, ucapan Syahril pun ada benarnya jika dia kuliah sambil berkerja maka dia tidak punya waktu untuk Zahrah. Kalau begitu Zahrah kami bawa pulang." ucap Abi dengan senyum.


"Tapi dengan syarat," ucap Kakek menimpali dan semua orang menanti kelanjutannya.


"Apa kek?" tanya Syahril.


"Kalau kamj libur usahakan pulang ke Kairo atau jika kamu tidak bisa kamu beritahu kami biar kami yang ke LA." ucap Kakek.


"Insya Allah kek." jawab Syahril dengan senyum senyum Syahril bukan senyum ikhlas untuk mereka melainkan senyum kemenangan untuknya.


"Oh ya, Yan emm mana dompet aku?" tanya Syahril pasar Ryan.


"Ini peganglah. Mungkin isinya tidak seberapa, itu adalah tabunganku selama aku kuliah. Itu nafkah ku buat kamu." ucap Syahril dengan memberikan credit card itunpada Zahrah.


"Nak, tidak usah. Jika kau berikan semua tabunganmu bagaimana kamu disana nanti." ucap Abi.


"Tidak apa Bi, untuk Syahril kesana nanti Syahril bisa minta ke Umma atau Babah menjelang Syahril dapat kerjaan." jawab Syahril dengan senyum.


"Emm baiklah kalau gitu, terimakasih." ucap Abi.


"Syahril yang harus berterimakasih sama Abi, karena Abi masih membiayai Zahrah kelak disana. Syahril hanya bisa mengirim sedikit nantinya." ucap Syahril.


"Syahril minta maaf kalau Syahril merepotkan Abi dan Ummi dengan menitipkan Zahrah nanti." ucap Syahril lagi.


"Terima kasih nak, Abi tau kamu laki-laki bertanggungjawab. Abinyakin perlahan kau akaan menerima Zahrah sebagi istri mu." ucap Abi, Syahril hanya tersenyum.


"Maaf, Syahril istirahat dulu. Kepala Syahril pusing." ucap Syahril dan kembali merebahkan kepalanya di atas kasur.


"Anakku memang pandai, biarlah rugi sedikit. Semoga jalankan kita dilancarkan nak." ucap Umma dalam hati.


flasback off.


Tahlilan malam pertama pun usai, emak dan Umma tak hentinya menangis. Syahril yang tau jika di rumah Nyai Mimi diadakan tahlilan untuk Mimi merasa terpukul. Dia tidak percaya orang yang sangat disayangi nya harus pergi secepat ini.


"Dek,keluarga kita sedang mengadakan tahlilan untukmu. Jika kita memang tidak berjodoh di dunia ini semoga kita berjodoh di surganya Allah." ucap Syahril.


"Doakan kakka dek, semoga rencana kakak berhasil. Kakak akan buktikan kepada Kakek kalau orang yang dia bilang Sholehah itu lebih hina dari seorang pe*****r." ucap Syahri dengan melihat foto Mimi di layar ponselnya.


"Ingatlah dek sumlah kaklak tegap berlaku walau kau sudah tidak ada di dunia ini. Kakak tidak akan pernah membagi cinta kakak sama orang lain, kakak tidak akan memberikan jiwa raga ini pada orang lain. Semua hanya milikmu dan Allah SWT.


Ryan yang baru masuk dan melihat Syahril berbicara sendiri dengan menatap ponselnya ikut bersedih. Ryan hakkn kalau Syahril sedang bicara pada foto Mimi.


"Riil," panggil Ryan dan Syahril pun menoleh.


"Aku sduah dapat no bang Bimo." ucap Ryan "tapi..." imbuhnya.

__ADS_1


"Tapi apa Yan?" tanya Syahril.


"Bang bimo sedang sakit, dia terkena stroke." jawab Ryan dengan helaan nafas.


"Abang Jack bagaimana?" tanya Syahril lagi.


"Bang Jack sudah tidak tinggal di kota kembang dan no nya juga kata anak-anak dah ganti." jawab Ryan.


"Emm yaudahlah Yan, nanti kita bicara sama anak-anak mungkin mereka punya koneksi yang handal." ucap Syahril.


"Oh ya Yan tiket ke LA sudah dipesan?" tanya Syahril .


"Sudah hari Senin kota berangkat." jawab Ryan.


"Emm minggu ini tiga Minggu sudah Mimi tiada, Yan kenapa perasan aku mengatakan kalau Mimi masih hidup ya Yan." ucap Syahril.


"Itu hanya perasan kita saja Riil, karena kita merindukannya. Walau bagaimanapun dia tetap hidup di hati kita." Jawab Ryan.


"Han, keadaan emak gimana?" tanya Syahril yang ingat akan. emak.


"Emak beberapa Minggu ini kesehatannya menurun, Nyai juga. Huuum huh, kasian emak Riil. Begitu banyak harapannya pada Mimi." ucap Ryan sendu.


"Mimi anak yang sangat diharapkan untuk mengangkat derajat mereka kini hanya tinggal sebuah nama." imbuh Ryan.


"Emm andai aku disuruh pilih, biarlah aku gantikan nyawa aku dengan Mimi Yan, tanpa dia aku tidak punya semangat hidup lagi. Kadang aku berpikir kenapa harus dia yang diambil Tuhan, kenapa bukan aku Yan." ucap syahril dengan tetesan air mata.


"Malam ini, malam pertama tahlil buat dia, ya Allah aku ndak sanggup melihat emak menangis Yan aku ndak sanggup.'' ujar Syahril.


"Kenapa bukan aku saja Yan." imbuh Syahril dengan isakan tangis.


"Sabar Riil, ingat ada hikmahnya dibalik semua ini. Mungkin dengan ada kejadian ini Kakek bisa introspeksi diri dan berubah. Mungkin dengan ini juga kita bisa membuktikan pada kakek orang yang dianggapnya baik hanya sebuah topeng belaka." ucap Ryan.


"Yan, aku minta maaf ya." ucap Syahril.


"Minta maaf buat apa?" tanya Ryan.


"Aku minta maaf, karena kami hubungan mu dengan Di'ah juga harus berakhir." ucap Syahril. Ryan hanya manarik nafas dalam.


"Mungkin dia bukan jodohku Riil." ucap Ryan.


"Ngomong-ngomong ramalan Simbah ada benarnya juga ya Riil." ucap Ryan mengenang ucapan Simbah.


"Iya, tapi Simbah ndak bilang kalau Mimk bakal kecelakaan pesawat Yan. Kalau bilang kan kita bisa antisipasi." jawab Syahril.


"Yee kau kira Simbah Tuhan apa." ucap Ryan.


"Ya kan kalu ramal kita ya jangan setengah-setengah Yan. Tapi.. Simbah bilang kelak aku sama Mimi bakal bersatu lambat-laun hmmm semua bohong." ucap Syahril lirih.


"Yah mungkin kalian bersatu di surganya Allah Riil hehee" ucap Ryan dengan candaan.


"Hmmm.. ya namanya juga ramalan Riil, kadang tepat kadang tidak tapi apa yang dikatakan Simbah hampir semuanya benar. Bukannya Simbah bilang sama kau, harus selidiki istrimu." ucap Ryan dengan menekankan kata istrimu.


"Cuihh istri, istriku tetap Mimi Yan. Jujur waktu akad hanya bibir ku saja nyebut nama wanita itu, tapi hatiku selalu menyebut nama Mimi.


"Andai saja yang aku nikahi itu Mimi, mungkin aku lelaki yang bahagia di dunia ini hiks" Ucap Syahril.


"Andai saja impian kami terwujud taknada kata menangis dan gak ada kata bersedih." ucap Syahril.


"Oh ya Yan, waktu itu kan Mak bilang Mimk ada SMS dia dan mengatakan kalau dia sudah sampai dan SMS itu jam berapa Yan?" tanya Syahril tiba-tiba.


"Emm sekitar jam tigaan Riil,." jawab Ryan.


"Jam tiga, kecelakaan sekitar jam 6.30. Jika itu nomor Mimi siapa yang SMS? sedangkan ransel Mimi ditemukan tim Basarnas di lautan." ucap Syahril sambil memecahkan teka teki.


"Hemm apa iya HP Mimi di copet Riil?" ucap Ryan.


"Di copet! emmm coba kauntellon nomor Mimi Riil atau cek gps nomor Mimi. Kalau Mimi tidak tukar nomor dan nomor itu aktif atau HP nya aktig maka gps bisa kita lacak." ucap Syahril yang langsung mengambil ponselnya dan berupaya melacak ponsel Mimi.


Maka malam itu mereka berdua mencoba melacak gps HP Mimi.


tbc

__ADS_1


__ADS_2