DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
pencarian Syahril 2


__ADS_3

Hari yang di tunggu Syahril pun tiba, dia berangkat bersama Ryan di sore Jum'at sepulang dari kerja. mereka pulang lebih cepat dari biasanya karena merak juga sudah free, tidak ada lagi pasien yang harus di tindak maupun di visit.


Terpancarnrona kebahagian di wajahnya, sambil berjalan dia menuju ruang Ryan. Ryan yang sedang menangani pasien terakhirnya, dengan rona kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Mereka seolah ingin kmbali berpetualang di masa lalu, yang utama mereka kejar selain masakannya emak Mimi. Syahril tentunya ingin mengejar kembali cintanya.


Seperti yang pernah dia katakaan bahwa suatu saat dia akan kembali mengambil cintanya kembali.


Syahril akan berusaha mengambil hati dan cinta orang tuanya Mimi terlebih dahulu.


Sebelum mereak berangkat, mereka mampir terlebih dahulu di toko bakery Syahril. Berbagai macam am roti dan kue Syahril beli untuk kedua orang tua Mimi dan adeknya Ay.


Hampir sepuluh tahun dia tidak pernah bertemu dengan orang tua Mimi, yah semenjak kabar berita kecelakaan pesawat dan ketemunya Mimi. Syahril sengaja menjauhkan dirinya untuk menyelesaikan masalahnya.


Saat ini Syahril bagai orang yang bebas dan saat nya pula dia mengejar cintanya kembali.


Dia akan mengejar cinta yang pernah dia tinggalkan sesaat, walau kenyataannya nanti Mimi tak sendiri lagi karena Mimi menikah dengan yang lain setidaknya dia bisa melihat degan mata kepala nya sendiri kaallau orang yang di cintai nya bahagia.


Tapi hati Syahril meyakini jika cintanya juga sedang !menunggu dirinya.


"Ya Allah jika dia jodohku lancarkan langkah ku. Amin." gumam Syahril kala mereka telah sampai depan rumah Mimi di desa.


Saat mereka mendekati rumah tersebut, Syahril !mendengar ada suara anak bayi.


"Riil, ada tangisan anak bayi?" tanya Ryan. Seketika Syahril diam, jantungnya seakan berhenti untuk bergerak.


"Ya Allah, apa dia sudah bahagia dengan yang lain." gumam Syahril dalam hati yang menduga suara tangisan bayi itu adalah baginya Mimi.


Saat mereka berdua terdiam, terbuka pintu rumah dan keluar lah lelaki yang seumuran mereka.Syahril semakin terpaku terdiam ditempat kala melihat lelaki itu keluar dari rumah.


"Maaf, mas siapa? mau cari siapa?" tanya lelaki itu.


Syahril hanya diam, Ryan melihat Syahril diam mematung. Ryan pun menyangka halnyang sama dengan Syahril.


"Maaf mas siapa ya?" tanya lelaki itu lagi ketika melihat dua pemuda ini tidak menjawab pertanyaan nya,


"Aneh, di tanya koknmala ngelamun." gumam si lelaki.


"Siapa mas?" tanya perempuan dari dalam rumah. Syahril dan Ryan saling pandang bketika mendengar suara perempuan dari dalam.


Perempuan itu sambil mengendong bayi mendekat ke arah lelai yang berada di pintu yang tak lain adalah suaminya.


"Siapa sih mas?" tanya sang perempuan ketika sudah berada di samping sang suami.


"Maaf, mas mau cari siapa?" tanya si perempuan.


"Emmm anu maaf mbak, mas. Kami mau cari orang yang tinggal dirumah ini." ucap Ryan. suami istri itu saling melihat heran.


"Ya kami mas yang tinggal di rumah ini." jawab si lelaki.


"Mas ini siapa?" tanya sinlelkai itu lagi.


"Emm maaf mas, aduh gimana ya.." ucap Ryan bingung sendiri.


"Maaf mas maksud saya, saya mau cari pak Umay dan Bu Nurma pemilik rumah ini." ucap Ryan.


"Oh maaf mas, saya nggak kenal dengan nama bapak dan ibu itu. Kami juga baru disini. Em mari mas masuk dulu biar enak ngobrol nya." ucap si lelaki mempersilahkan Ryan dan Syahril masuk.


Yah mereka melihat Ryan dan Syahril dari perjalanan jauh sehingga mereka menawarkan mereka berdua untuk masuk kedalam ruang itu. Syahril dan Ryan pun menyetujui secara hari pun semakin gelap.


"Mari mas duduk dulu." ucap si lelaki mempersilahkan Syahril dan Ryan duduk.


"Oh ya perkenalkan saya Andi dan ini istri saya Yuniarsih." ucap lelaki pe!ilik rumah memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan mereka


"Makasih mas, oh ya saya Ryan dan ini sepupu saya Syahril " jawab Ryan dan Syahril seraya menerima ukuran tangan itu dan kemudian mereka pun duduk. Syahril memandangi keadaan rumah itu.


Keadaan rumah yang tidak pernah berubah, masih seperti dulu. Kenangan-kenangan masa lampau seoalh berputar di kepala Syahril, Syahril terkadang terlihat tersenyum sendiri bila pengingat kenangan itu.


Canda tawa mereka saat duduk bersama di ruangan ini, canda tawa saat mereka berebut makanan apa lagi disaat mereka tepat pada bahkan petani sawit.


Mereka akan berbondong-bondong pergi ke pasar kaget, pasar yang hanya diadakan saat gajian sawit saja.


Syahril terus memandang dimana kamar Mimi berada, matanya seakan melihat Mimi ada disana sambil tersenyum padanya.


"Mas, mas nggak kenapa-kenapa kan?" tanya lelaki pemilik rumahnlada Syahril ketika melihat Syahril melamun memandangi kamar tengah Itu.


"Oh maaf mas, saya ndak kenapa-kenapa." jawab Syahril sembari mengusap wajahnya.


"Em emangnya mas ini darimana?" tanya lelaki itu.


"Kami dari Jambi mas, niat kami kesini mau liburan di rumah orang tua kami." jawab Syahril.


"Orang tua?" tanya si lelaki.


"Iya mas, dulu rumah ini rumah orangtua kami, maaf kami tidak tau kalau mereka sudah tidak tinggal disini lagi." ucap Syahril.


"Kok masnya sampe nggak tau gitu?" sahut sang istri.


"Mari mas, diminum dulu." ucap si istri pemilik rumah dengan menyajikan teh hangat serta kue.


"Iya mbak, selama ini saya tinggal di luar negeri dan baru pulang ke Jambi beberapa bulan ini." jawab Syahril dengan senyum dipaksakan.


"Oo,yaudah mas silahkan di makan kuenya saya permisi dulu mau nksuein anak saya" jawab si perempuan sembari mempersilahkan memakan kue serta dia pamit untuk menidurkan anaknya.


"Emang mas sudahbberala lama tinggal disini?" tanya Ryan.

__ADS_1


"Kami baru mas, baru enam bulan pindah disini." ucap si lelaki.


"Em mas, kok rumah depan gelap ya." tanya Ryan.


"Oh itu dah lama nggak berpenghuni mas." jawab si lelaki Ryan dan Syahril hanya mengangguk.


Begitu banyak perubahan selama sepuluh tahun mungkin lebih dari segitu karena semenjak Mimi kuliah di luar pulau, Mimi juga pulang jarang.


Ryan yang melihat jam sudah menunjuk pukul sembilan pun izin pamit.


"Emm maaf mas, kalau begitu kami pamit sudah malam juga " ucap Ryan.


"Oh nginap saja disini mas, sudah malam juga kalaubmau balik lagi ke Jambi." ucap si lelaki.


"Oh nggak usah mas makasih, kami nginap di rumah saudara saja di tebing, makasih atas segalanya." ucap Ryan.


"Maafkan kami mas kalau menganggu waktu istirahat nya." sahut Syahril.


"Oh nggak kok mas, mas juga nggak mengetahui kalau orangtua nya tpsudahbngvak disini lagi." ucal si lelaki.


"Kalau gitu kami permisi mas. assalamualaikum." ucap Ryan dengan menyalami lelkai itu.


"Nggak nginap aja mas, dah malam juga." ucap si lelaki yang masih menawarkan Ryan dan Syahril untuk tinggal


"Nggak mas, makasih banyak." jawab Ryan yang telah Samali di ambang pintu.


Saat mereka akan keluar ada balak laki-laki datang kerumah ini.


"Assalamualaikum Ndi." ucap si bapak.


"Waalaikum salam pak." jawab si pemilik ruman yang npbernama Andi.


"Dah tidur Riki?" tanya si bapak


"Sudah pak." jawab lelaki ini.


"Oo lagi ada tamu toh." ucap si bapak.


Syahril melihat bapak tersebut sambil mengingat nama bapak tersebut, begitu pula si bapak melihat Syahril dan Ryan sambil mengingat-ingat.


"Kamu bukannya Syahril ya calon mantunya pak Umay?" tanya si bapak ketika sudah ingat.


"Iya pakde, saya Syahril. Pakde apa kabar?" tanya Syahril sembari menyalami balak itu


"Alhamdulillah pakde baik, kamu gimana?" tanya bapak itu.


"Alhamdulillah saya juga baik pakde." jawab Syahril.


"Balak kenal dengan mas ini?" tanya Andi yang tak lain anak dari Pak Basuki.


"Yo kenal, dulu sering kesini. Dia mantan tunangan nya Mimi ya." jawab pak Basuki, Syahril mengangguk.


"Yah karena ada kendala pakde hehee" jawab Syahril.


"Oh ya pakde, kirao mamak sama bapak pindah kemana ya?" tanya Syahril.


"Pakde juga ndak tau dimana nya, yang pasti mereka pindah di jambi, dah mau hampir dua tahun ini." jawab pak Basuki.


"O gitu ya pakde." jawab Syahril


"Iya, kamu nggak tau? atau kamu baru pulang dari luar negeri?" tanya pak Basuki.


"Iya pakde, saya baru pulang tiga bulan ini dan langsung sibuk kerja jadi baru sekarang ada waktunya." jawab Syahril.


"Iya waktu itu Bu Nurma pernah bilang kalau kamu keluar negeri dan kalian nggak jadi nikah karena Mimi mahasiswa beasiswa katanya syaratnya belum boleh nikah, terus kamu juga mau lanjut ke luar negeri jadi di batalkan pernikahan nya." ucap pak Basuki.


"Ya Allah sungguh baik hati emak uang menutupi aib ku." ucap Syahril dalam hati.


"Ya Allah, sungguh mulia hati Emak yang tidak ingin menjelekkan Syahril di mata orang sini." ucap Ryan.


"Terus kok bisa kamu nggak tau kalau mereka pindah toh?" tanya pak Basuki lagi.


"ya nggak tau pak karena akhir-akhir itu saya sibuk kerja dan kuliah jadi nggak ada waktu untuk ngobrol, di tambah perbedaan waktu Indonesia dengan Amerika jauh, jadi ya gitu." ucap Syahril memberikan alasannya.


"Aya juga ya, talinkamu sama Mimi gimana?" tanya pak Basuki.


"Alhamdulillah baik " jawab Syahril


"Rencana mau buat kejutan maka nya nggak ngabarin eh malah Syahril yang terkejut " ucap Syahril terkekeh.


"Hehee iya juga ya, ala lagi nak Mimi juga jarang pulang semenjak kerja di kota pedang." ucap pak Basuki. Ryan dan Syahril saling pandang.


"Apa pak? Mimi kerja di kota pedang?" tanya Syahril kaget.


"Iya kata Bu Nurma, lah emang kamu nggak tau?" jawab kak Basuki.


"Nggak pak, karena terakhir yang saya tau dia kerja di rumah sakit jantung Semarang." jawab Syahril.


"Iya dulu setelah itu pindah kata Bu Nurma ingin cari tempat baru" jawab pak Basuki.


"Oh ya empat tahun lalu, pak Umay menyiapkan pernikahan Mimk kokmbujan sama kamu ya?" tanya pak Basuki yang baru keingat saat itu.


"Iya pak, kami sempat putus dan dia di kamar sama anak rektor nya." jawab Syahril.


"Oh ha mungkin belum jodohnya, semkga jodohnya Mimi itu kami." ucap pak Basuki.

__ADS_1


"Amin." jawab Syahril dan Ryan.


"Oh ya kok malah ngobrol diluar, ayo kita masuk lagi ngobrol nya biar enak." ucap pak Basuki dan megajak Ryan dan Syahril masuk.


"Oh nggak usah pakde terimakasih, kita mau ketebing pakde." jawab Syahril.


"Oh gitu, yaudah hati-hati." ucap pak Basuki.


"Iya pakde kalaubgitu kami permisi, assalamualaikum." ucap Ryan.


"Waalaikum salam." jawab pak Basuki. Syahril dan Ryan lun beranjak meninggalkan desa ini menuju Tebingtinggi rumah Bi Ida.


"Semoga Bi Ida juga ndak pindah Yan." ucap Syahril.


"Iya Riil. Emm kira-kira emak sama bapak pindah dimana ya Riil? Dan kenapa mereka pindah?" ucap Ryan dengan mata fokir lada jalanan.


"Emm pakde Basuki aja nggak tau dimana Yan, apalagi kita. Nanti lahbkita tanya sama Bi Ida." jawab Syahril.


"Emm iya, Riil aku salut sama emak. Dia tidak mengatakan kegagalan kalian karena kamu nikah dengan yang lain." ucap Ryan.


"Iya Yan, aku merasa sangat berdosa jadinya Yan. Aku berdosa tidak bisa menjaga hati mereka." ucap Syahril.


"Kira-kira mimi di pedang dirumah sakit mana ya Riil? kok bisa kita sampe bilang akses dirinya." ucap Ryan.


"Yah mungkin di rumah sakit jantungnya Yan, secara dia kan di bidang itu." ucap Syahril.


"Emm bisa jadi." jawab Ryan. Sepanjang jalan mereka saling mengobrol hingga sampailah mereka di rumah Bi ida yang mana rumah bi ida juga sudah banyak perubahan.


"Riil kira-kira yang mana rumahnya?" tanya Ryan bingung melihat ada rumah yang baru di bangun itu.


"Mungkin yang baru di bangun itu Yan, secara posisi maaih sama." jawab Syahril celingukan mencari orang lewat. Tak lama Om Yan yang baru pulang kerja berhenti tepat didepan ramahnya dan melihat dua orang yang kebingungan.


"Syahril, Ryan." ucap Om Iyan.


"Om." jawab mereka berdua.


"Kalian kenapa di luar?" tanya Om Yan.


"Kita belum baru nyampe Om tapi bingung rumah Om yang mana?" ucap Syahril sembari menyalami dan menciumi punggung tangan Om Yan.


"Ya ini rumah Om, cuma bangun teras bae. Ayo masuk." ucap Om Yan dan mengajak mereka masuk.


"Assalamualaikum." ucap Ryan dan Syahril.


"Waalaikum salam." jawab Om Yan.


"Abng Syahril." ucap Fajri yang masih ingat dengan Syahril dan langsung menyalami Syahril serta Ryan diikuti ghoffur.


Syahril diam melihat dua orang anak Om Yan yang sedang belajar.


"Riil" ucap BI Ida.


"BI." ucap Syahril sembari menyalami dan menyiumi punggung tangan mereka.


"Ini Fajri Riil, ini Ghofur." ucap Om Yan dengan menunjuk dua anaknya.


"Iya Om Fajri tinggi jadinya." ucap Syahril.


"Kelas berapa dek?" tanya Syahril.


"Kelas satu bang." jawab Fajri.


"Ghoffur?" tanya Syahril.


"Kelas empat." jawab Ghoffur.


"Kalian kenapa malam niannke sini?" tanya BI Ida.


"Sebenarnya kami habis Maghrib sudah samoe Bi, tapi tadi kami kerumah Emak." jawab Syahril.


"Wak sama bapak kau sudah pindah hamlir dua tahun ini." sahut Om Yan.


"Iya Om, kata pemilik rumah samamoakde Basuki tadi bilang gitu." jawab Syahril.


"Tapi rumah makwo depan juga gelap kenapa ya om?" tanya Ryan.


"Makwo samo pakwo depan rumah tu sudah lama meninggal." jawab Bi Ida.


"Innalilahi" jawab Syahril dan Ryan.


"Sakit ya om?" tanya Syahril.


"Iya katanya, makwo emang sudah lama sakit gula sama rematik setahun makwo pakwo luoa yang nyusul." jawab Om Yan.


"Kalian sudah makan? tanya BI Ida.


"Sudah Bi, oh ya bentar." jawab Syahril dan dia beranjak berdiri dan keluar menuju mobil mengambil roti yang dia beli sebelum berangkat.


"Nah ini buat Fajri dan Ghofur," ucap Syahril memberikan beberapa kotak roti dan kue buat Fajri dan Ghofur.


"Pakdo masih ditempat laama kan om?" tanya Syahril.


"Masih, diakannkerja nya disitu lah ( disitu aja)" jaqba Om Yan.


"Apa kabarnya Riil? sudah berapa anak?" tanya Bi ida.

__ADS_1


Syahril hanya tersenyum dan akhirnya diapun menceritakan semua tentang dirinya kepada Om Yan dan BI Ida.


tbc


__ADS_2