
Semenjak kejadian di bioskop Syahril terlalu protektif kepada Mimi. Sebelum dia pulang dia selalu mengingatkan tidak boleh berhubungan dan chat sama Adit atau sama lelaki mana pun.
Tidak ada malam mingguan karena malam minggu di guyur hujan deras sehingga Mimi bisa mengistirahatkan tubuh dan otak nya sejenak dari kemelut perasaan lelaki.
Di hati Mimi ada sedikit keterkejutan dengan pengakuan Adit waktu itu dan Mimi takut jika kelak Adit berbuat nekat.
Malam minggu di guyur hujan deras menghantarkan insan dunia melaju ke alam mimpi dengan cuaca nanti sejuk.
Mimi pun tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan hingga pagi hari.
Di pagi hari sesuai dengan janji Dewi, dia datang pagi-pagi ke rumah dengan membawa tas pakaian dan sebuah kardus di tangannya.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya dengan menenteng tas serta kardus hendak naik tangga.
"Waalaikumsalam Wi, ayo naik." jawab Mimi.
"Asri ndak pulang wi?" tanya Mimi setelah dewek naik dan duduk di bangku teras.
"Dia udah pulang kemaren sore Mi." Jawab nya.
"Bentar ya... Mimi ambilkan minum, Dewi udah sarapan?" tanya Mimi.
"Udah tadi Mi." Jawab nya.
"Oh." ucap Mimi dan berlalu masuk.
Sesampainya di dapur Mimi mengambil teh hangat dan nasi goreng buatan Bicik dan Mimi bawa ke teras.
"Ayo Wi, makan dulu yok!" ajak Mimi.
"Aduh Mi, aku sudah sarapan tadi." ucapnya.
"Ya ndak apa makan lagi, miki juga belum sarapan." ucap Mimi dan Dewi pun akhirnya ikut makan.
Sehabis makan Mimi mengantar piring dan gelas yang sudah kosong ke dapur. Setelah antar piring Mimi kembali ke teras.
"Oya Wi, jam berapa mobil berangkat?" tanya Mimi.
"Jam sepuluh Mi, oh ya mana titipan Mimi?" tanya nya.
"Emm titipan mimi lumayan banyak juga wi, nanti Mimi bantu antar ke halte ya? Dewi minta jemput kan sama supir travel?." ucap Mimi.
"Iya Mi, aku minta jemput soalnya aku ndak paham ke loket pakek angkot yang mana." jelas Dewi.
"Oh iya lah, kalau gitu Mimi siap-siap kita berangkat sekarang soalnya Mimi ada mau beli sepatu Ay." Ucap Mimi dan beranjak masuk kamar dan bersiap.
Setelah bersiap-siap Mimi mau ke rumah Di'ah dan mengajak dia.
"Wi...tunggu bentar ya, Mimi mau kerumah Di'ah mau ngajak dia sekalian." ucap Mimi.
"Oke Mi. " Jawab ya, Mimi pun berlalu turun dan menuju kerumah Di'ah.
"Assalamu'alaikum Di'ah." Panggil Mimi.
"Waalaikumsalam, ada apa Mi?" tanyanya.
"Di'ah kawan Mimi yok kepasar." ajak Mimi.
"Emm ... oke aku sebenarnya juga mau kepasar tadi sama mamak, tapi kalau Mimi juga mau kepasar boleh juga, tunggu bentar ya aku ganti baju dulu." cicitnya.
"Oke, Mimi tunggu di rumah yo ada dewi di rumah soalnya." ucap Mimi.
"Oke Mi." Jawabnya, Mimi pun langsung oulang dan Di'ah pun berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama Mimi pun turun bersama Dewi dan menghampiri Di'ah di rumahnya dan mereka bertiga pun pergi pasar.
**
Jam Sepuluh pagi Syahril datang kerumahnya Mimi dan dia juga berencana ingin meminta izin kepada Pakcik Mimi untuk izin selama UAN dia akan pulang ke rumah Nyai.
"Assalamu'alaikum." ucapnya.
"Waalaikumsalam." Jawab pakcik yang kebetulan duduk di teras.
"Eh Riill ayo masuk." imbuh pakcik seraya menyuruh Syahril masuk dan Syahril pun masuk dan menyalami pakcik.
"Mau cari Mimi Riil?" tanya pakcik.
"Iyo cik, Mimi ado?" ucapnya.
"Nah emang Mimi ndak kasih tau?" Tanya Pakcik lagi.
"Maksud Pakcik, Mimi balik yo cik?" tanya Syahril kepada Pakcik, dia menyangka Mimi pulang ke tungkal.
"Kemaren dio bilang dio ndak jadi balek cik." ucapnya kecewa. Pakcik yang melihat Syahril dengan raut kecewa nya pun ketawa.
"Hahahaa bukan itu Riil, Mimi ndak jadi balek cuma apo dio dak kasih tau kau dio hari ini pergi kepasar?" ucap Pakcik.
Deg "Apa Mimi menemui Adit diam-diam dari ku." Syahril ngebatin berprasangka jelek kepada Mimi.
"Oo gitu ya Cik,dak ado dio bilang." ucap Syahril.
"Iyo tadi dio pergi samo Di'ah terus samo siapo tadi yo emm..( pakcik sambil mikir) kalau dak salah namanya Dewi," ujar pakcik.
"Oo Dewi." jawab Syahril.
"Iyo samo Dewi, kato Mimi dio mau bantu Dewi bawakan titipan dio ke mobil, karena dak mungkin Dewi bawanya sendiri sedangkan Dewi juga bawa barang banyak." Jelas Pakcik.
"Oo gitu ya Cik" Ucapnya.
"Iyo, nah macam mano Riil besok dak kau ujian UAN?" ta ya pakcik.
__ADS_1
"Iyo cik, besok pagi mulai ujiannya. O yo cik Aril minta izin yo cik tiap balek ujian Ariil balek kerumah ni, Ariil mau minta bantuan samo Mimi buat belajar." ucaonya minta izin.
"Nah Ngapo pula minta bantuan samo Mimi Riil, diakan baru kelas duo pasti berbedalah pelajarannya." Ucap pakcik heran dengan permintaan Syahril.
"Iyo Cik emang beda, cuma kalau samo Mimi Ariil biso belajar dengan cara lempar pertanyaan cak itu Cik," jawab Syahril dengan alasan yang ambigu.
"Hahaha ado-ado bae kau ni Riil...Riil." ucap Pakcik dengan senyum serta gelengan kepala.
"Jadi boleh yo Cik?" tanya Syahril.
"Iyo boleh dengan syarat jago diri baik-baik." ucap Pakcik memberi izin.
"Iyo Cik, Ariil janji," ucapnya "Mimi dah lamo yo Cik perginya?" imbuhnya lagi.
"Sudah dari jam delapan lewat." Jawab Pakcik dan spontan Syahril melihat ke arah jam tangannya sudah menunjukkan jam 11 siang "Emm dah lamo jugo yo Cik." gumamnya.
"Coba telpon Riil." ucap Pakcik.
"Dak nyambung Cik dari tadi pagi Ariil telpon." Jawab nya.
Aril lupa kalau HP Mimi masih bersama nya dari kemaren, akibat cemburu butanya dia lupa mengembalikan HP Mimi dan HP tersebut ada di dalam tasnya.
Lama Syahril dan pakcik ngobrol sampai pukul 12 siang dan tak lama Mimi pun sampai rumah.
"Assalamu'alaikum." ucap Mimi dan terpaku memandang Syahril yang sedang duduk bersama di ruang keluarg sambil menonton TV.
"Waalaikumsalam." jawab mereka semua.
"Baru balek Mi?" tanya pakcik.
"Iyo Cik," jawab Mimi dan langsung berlalu masuk kamar untuk meletakkan belanjaannya.
Setelah membeli sepatu Ay dan menemani Dewi menunggu jemputan travel, Mimi dan Di'ah langsung pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku dan Di'ah membeli novel.
Karena asik didalam toko buku Mimi dan Di'ah jika telah berada di toko buku seperti terhipnotis untuk berlama-lama di sana hingga lupa waktu.
Setelah menaruh belajarnya di kamar Mimi ikut bergabung bersama yang lain.
"Ayo Mi kita siapkan makan siang dulu." ajak Bicik dan Mimi pun mengekori Bicik menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Setelah semua tersaji di atas karpet plastik Mimi memanggil Pakcik dan Syahril untuk makan siang.
"Cik, makan siang sudah siap." ucap Mimi.
"Iyo, ayo riil kita makan dulu." ucap pakcik
"Ayo kak, " ajak Mimi dan Ariil pun menganggukkan kepala ya dan mengekori Mimi ke belakang untuk makan siang.
Sehabis makan dan sholat dzuhur pakcik, Ryan dan bicik menuju teras. Pakcik dan bicik pamit akan pergi ke keramba kepada Syahril.
"Riil, Pakcik tinggal dulu yo." pamit Pakcik.
Mimi masih berasa di dapur untuk membereskan dapur dan dia juga mencuci piring kotor habis makan siang tadi.
Niat hati pulang dari pasar bisa istirahat dengan tidur siang jadi gatot alias gagal total.
Sehabis beberes di dapur Mimi masuk ke dalam, Mimi melihat Syahril sedang menonton sambil rebahan dalam benak Mimi mengumpat "Ih nih orang enak-enakkan rebahan merasa rumah sendiri, ughh aku jadi gatot mau tidur siang." umpat Mimi dengan memanyun dan hendak masuk ke dalam kamar.
Baru juga melangkah beberapa langkah ke dalam kamar Syahril memanggil.
"Dek, mau kemana?" tanyanya dan Mimi berhenti melangkah dan mengerutkan kening nya "Apa maksudnya dah tau ke kamar masih nanya mau kemana. " gumam Mimi dalam hati dan merasa jengkel tapi tetap membalikkan badannya.
"Mau kekamar kak." jawab Mimi.
"Jangan ke kamar dong kawani kakak disini." Ucapnya sambil menepuk di bagian sampingnya.
Semenjak kejadian kemaren Mimi merasa enggak bicara sama Syahril apa lagi HP nya tidak di kembalikan. Mimi tau diri karena HP yang beli dia makan Mimi tak berani untuk memintanya.
"Hemm." ucap Mimi dan berjalan mendekat ke arah Syahril dan duduk di sampingnya sedikit jauh.
Mimi masih diam dan pura-pura menonton TV yang mana saat ini yang Syahril buka adalah channel sepak bola.
Bosan itulah yang dirasakan Mimi saat ini, ingin tidur ada Syahril di rumah, ingin nonton yang lain remot TV ada di genggaman Syahril yang sedang asik menonton bola.
"Dek, kakak haus buatin es dong." pintanya dengan manja, Mimi oun berdiri dan berlalu melaju ke dapur untuk membuatkan setelah kecil es teh dan membawanya ke arah Syahril.
"Nih kak." ucap Mimi setelah menuangkan es teh kedalam cangkir dan di Terima Syahril dan langsung di teguk hingga tandas.
"Nih orang doyan apa emang haus." batin Mimi sambil geleng-geleng.
Karena bosan hanya duduk dan yang di tonton tidak sreg di hati Mimi, Mimi pun berdiri menuju kamar dan mengambil bahan-bahan yang dia beli tadi.
Ya mimi tadi sewaktu di swalayan menyempatkan membeli bahan-bahan untuk buat kue.
Setelah mengambil Mimi langsung menuju dapur dan mengambil mixer, Syahril terus memantau gerak gerik Mimi tanpa harus bertanya.
Setelah semua bahan dan peralatan siap Mimi memulai eksekusinya. Mimi berencana membuat brownies.
Kurang lebih satu jam berkutat di dapur sambil bolak balik dapur dan ruang tengah akhirnya brownies pun matang dan Mimi mengeluarkan loyang dari oven untuk mendinginkan nya.
Setelah hampir dingin Mimi mengeluarkan brownies dari loyang ke nampan bundar kecil
setelah itu Mimi memotong brownies dan di bawa ke ruang tengah.
"Ayo kak, dimakan." Mimi menawarkan kepada Syahril dan Syahril pun mencomot dan menghitung brownies dan diam.
Mimi yang melihat ekspresi Syahril diam sehabis menggigit kue buatannya pun bertanya.
"Kenapa kak? ndak enak ya?" tanya Mimi.
__ADS_1
"Emm enak rasa nya sama dengan buatan Umma." jawabnya dengan memasukkan gigitan terakhir ke dalam mulutnya dan setelah itu mencomot kembali.
Lama mereka berdua duduk sambil menikmati brownies dan es teh, lebih tepatnya mimi menemani Syahril menonton bola dan tak terasa brownies pun tinggal seperempat.
Syahril melihat ke arah brownies yang tinggal dikit diapun meminta agar mimi membuat lagi esok.
"Dek besok buat lagi ya brownies nya?" ucapnya seraya tersenyum manis.
"Hem insya Allah harus beli bahan-bahan yang tidak ada dulu." jawab Mimi dengan jujur.
Iya Mimi tadi hanya membeli bahan-bahan untuk sekitar buat saja.
"Apa aja bahan-bahan nya dek?" tanyanya.
"Yang ndak ada coklat batangan sama margarinnya saja, kalau tepung gula dan telur masih." jawab Mimi.
"Hem gimana kalau kita belanja bahannya sekarang." Ajak Syahril.
"Boleh, tapi tunggu adzan ashar dulu selepas ashar baru kita turun." jawab Mimi.
"Siap bosque." ucap Syahril sambil memberi hormat dengan gaya dua jari.
Tak lama terdengar suara adzan terdengar Mimi dan Syahril pun bersiap menjalankan perintah Illahi. Setelah selesai sholat Mimi berganti pakaian dan mereka pun turun untuk membeli bahan-bahan kuenya.
"Em dek kota beli dimana?" tanya Syahril.
"Beli di mini market olak aja." Jawab Mimi.
"Oke." jawabnya sambil naik ke atas motor diikuti Mimi yang membonceng di bagian belakang.
Sesampainya di mini market Mimi langsung menuju ke rak bagian bahan-bahan dengan diikuti Syahril yang membawa keranjang.
Mimi membeli coklat batangan 1ktk dan margarin. Syahril yang melihat memintanya membeli itu aja pun bertanya.
"Hanya itu aja dek?"
"Iya kan hanya ini yang kurang." jawab Mimi, "kenapa ndak sekalian beli banyak?" tanya ya lagi.
"Disini mahal-mahal kak." Jawab Mimi.
"Masa iya?" tanya nya
"Iya selisih tiga ribuan." jawab Mimi maklum kalau cewek harus banyak perhitungan alias pengiritan.
"Cuma tiga ribuan aja dek." ucapnya.
"Walau cuma segitu harus diperhitungkan kak, kalau ndak bisa habis uang jajan Mimi." jawab Mimi seraya meninggalkan Syahril menuju kasir dan membayar belanjaannya.
Setalah membayar Mimi ke luar dan disusul oleh Syahril.
"Ayo kita kembali lagi ke dalam beli lagi bahan-bahan nya yang banyakan." Ucaonya seraya mengamit tangan Mimi.
"Ndak usah kak, ini aja." Jawab mkmi dan Syahril menatap tajam ke arah Mimi tidak Terima penolakan Mimi.
Mimi melihat Syahril menatapnya mendengus kasar.
"Hhuhh, kalau mau beli banyak mending di pasar di JPM selain agak murah di JPM juga ada coklat batangan yang berukuran satu kilo dan harganya lebih jauh murah dibanding beli seukuran gini." jelas Mimi dengan menunjukkan coklat batangan ke arah Syahril.
"Kalau tau gitu kenapa kita tidak belanja disana aja." ucapnya.
"Ah udahlah lain kali aja, Ayo buruan pulang." jawab Mimi kesal dan terus menaiki motor dan diikuti Syahril.
Sesampainya dirumah Syahril menghentakkan pant*at nya ke kursi di teras dan mendengus kan nafasnya kasar kesal sama Mimi.
"Kenapa?" tanya miki yang melihat wajah Syahril di tekuk.
"Kenapa kita tidak belanja di JPM aja tadi." ucapnya.
"Mau ngajak Mimi belanja bahan disana dengan menaik motor itu?" jawab momi dengan menunjuk ke motor yang berada di bawah rumah dan diikuti mata Syahril dan dia mengkerut kan keningnya.
"Apa salahnya." Ucapnya.
"Ya salah, satu pergi kepasar harus pakek helm kaka tidak bawa he kan? jelas dan tanya Mimi. Syahril yang mendengar hanya menggeleng
" Yang kedua, Mimi harus nungging gitu! pergi oke tidak masalah nungging walau risih tapi pulangnya udahlah nungging bawa barang belanjaannya pula." Sungut Mimi, Syahril tersenyum mungkin di pikiran nya telah berpikir dan membayangkan Mimi di belakang dengan nungging dan membawa barang belanjaannya.
"Yaudah nanti malam kita belanja pakek mobil bentar," ucapnya.
"Hah" ucap Mimi tidak percaya. sebenarnya bukannya Mimi menolak di ajak pergi tapi kalau untuk beli bahannya pakek uang Mimi bisa-bisa mimi memakai tabungannya bulan ini.
"Em besok kan kakak ujian emang ndak belajar." ucap Mimi dengan alasan belajar untuk menolak secara halus.
"Gampang Lah kalau belajar, pokonya nanti jam 7 dah siap supaya tidak kemalaman." ucapnya.
"Huh yaudah terserah." jawab Mimi pasrah.
Karena sudah sore Syahril oun pamit.
Hai assalamu'alaikum selamat pagi riders DOKTER JANTUNGKU. jangan pernah bosan ya menanti DOKTER JANTUNGKU dan jangnan lupa pula dukungannya
JANGAN LUPA SELALU BERI DUKUNGAN DAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN.
VOTE
RATE
LIKE
KOMEN
💖💖💖💖 TERIMAKASIH💖💖💖💖
__ADS_1