DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
218


__ADS_3

Mimi pulang ke kosan hampir tengah malam, ketiga sahabatnya telah tertidur pulas. Walau kini hatinya menjadi gundah dan bimbang akan permintaan Ummi Fatmah dan ummi Fatimah setidaknya hari ini dia bisa terhibur dengan kevomelan Roofiq anak bungsu ummi Fatimah.


Keluarga tak harus sedarah, mungkin itu yang bisa Mimi katakan. Mereka adalah keluarga dari sang kekasih namun mereka juga sangat menyayangi Mimi seperti mereka menyayangi anak-anak dan keponakan sendiri.


Permintaan yang harus Mimi pertimbangkan balik, permintaan yang !membuat Mimi bingung harus menjawab apa. Padahal mereka sudah tahu segala nya tentang Mimi.


"Huuuh." Mimi terus menghelakan nafas nya bila memikirkan permintaan mereka.


"Kenapa Mi?" tanya Irsyad di samping Mimi yang sedang fokus menyetir.


"Hmmm" Mimi hanya berucap deheman.


"Ceritalah jangan di pendam sendiri, nanti bisa sesak di dada." ucap Irsyad yang ada benarnya.


"Apa harus Syad?" tanya Mimi.


"Jika itu yang terbaik buat semua kenapa tidak." jawab Irsyad seakan ambigu.


Mimi merasa ada yang mereka sembunyikan darinya.


"Tapikan Syad." ucap Mimi langsung di cela oleh Irsyad.


"Mi... kalian berdua saling mencinta, saling memahami satu sama lain bahkan kalian berdua saling mengisi satu sama lain. Umma dan Babah pun menyukai Mimi. Ini semua demi kebaikan kalian." ucap Irsyad, Mimi hanya menunduk mencerna kata demi kata yang di ucap kan oleh Irsyad, bahkan kata-kata itu juga yang diucapkan oleh Ummi Fatmah dan ummi Fatimah tadi.


"Ya Allah, ada apa dengan semua ini? berinhamba petunjuk MU." gumam Mimi dalam hati.


"Dah sampe Mi." ucap Irsyad.


"Hmmm, malasihnya Syad." jawab Mimi.


"Iya sama-sama, pikirkan dengan matang, jangan gegabah mengambil keputusan. Irsyad pamit dulu, assalamualaikum." ucap Irsyad dan dia pun pamit.


"Waalaikum salam." jawab Mimi.


Mimi me!buka pintunpagar nya dan setelah menguncinya ke!Bali Mimi berjalan ke arah kosannya dengan gontai.


Mimi melihat kosannya sudah mati lampu di bagian ruang tamu pertanda penghuni di dalam sudah tidur. Mimi melihat jam ditangannya nya sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.


Sebelum membuka handle, Mimi memejamkan matanya sejenak mengurangi rasa penat dihatinya. Perlahan !ini membuka handle pintu, dengan lampu yang remang-remang dari luar dan dari kamar, Mimi masuk kedalam kosannya. Tak lupa dia mengucapkan salam secara perlahan.


"Assalamualaikum." jawab Mimi walau tidak ada yang menjawab karena ketiga gadis yang berada di kosannya sudah tertidur pulas.


"Waalaikum salam " Mimi menjawab sendiri dengan senyum.


Mimi mengunci pintu kosannya dan dia berjalan ke arah kamarnya, Mimi buka handle pintu kamar. Terlihat ketiga sahabat telah tertidur pulas.


Mimi masuk perlahan mendekati lemarinya untuk mengambil baju tidurnya dan setelah itu Mimi keluar kembali dari kamarnya tak lupa Mimi menutupnya kembali.


Mimi berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok giginya dan berganti pakaian nya. Setelah itu dia memasuki kamar kak Syahril dan dia bentangbkembali kasur lipat tersebut.


Perlahan Mimi merebahkan tubuh yang terasa lelah, tak hanya tubuhnya yang lelah tetapi bagi dan pikirannya pun juga ikut lelah.


"Ya Allah, apa yang harus hamba jawab." gumam Mimi.


Mimi teringat ke!Bali akan pembicaraan dirinya dengan Ummi Fatmah dan ummi Fatimah beserta suami mereka tadi.


Flasback on.


Mimi telah sampai di rumah besar Ummi Fatmah, disana ternyata sudah ada Ummi Fatimah beserta anak-anaknya dan suaminya.


"Assalamualaikum." ucap Mimi dan Irsyad !e!aauki rumahnya.


"Waalaikum salam." jawab mereka serentak di ruang keluarga.


Mimk dan Irsyad berjalan menuju ruang keluarga, disana sudah ramai oleh celotehan Roofiq dan kedua anak-anak Ummi Fatimah lainnya.


Roofiq yang baru bisa berjalan itu tertatih-tatih berjalan mendekati Mimi.


"Tatak tatak." panggilnya memanggil Mimi serentak menedektai Mimi.


"Eh ada Roofiq." ucap Mimi seraya menangkap tibuh kecil nan gembul itu.


Mimi menghujani ciuman pada si gembul Roofiq.


"Hahahaaa gelyi gelyi." Roofik tertawa dan kegelian.


Sambil menggendong Roofik Mimi mendekati para tetua yang sedang duduk dinsofa dan menyalami mereka dengan menciumi punggung tangan mereka satu-persatu.


"Lama amat sampe nya?" tanya Ummi Fatimah.


"Iya Ummi, maaf." jawab Mimi dengan senyum.


"Ummi udah lama sampe sini?" tanya Mimi lagi.


"Yah dari sore tadi." jawab Ummi Fatimah.


"Mimi, apa kabar nya?" tanya Ummi Fatimah.


"Alhamdulillah seperti yang Ummi lihat." jawab Mimi.


"Abi apa kabar." tanya Mimi kepada suami Ummi Fatimah.


"Alhamdulillah baik Mi." jawab Abi suaminya Ummi Fatimah.

__ADS_1


"Mimi dah makan nak?" tanya Ummi Fatma.


"Alhamdulillah sudah Mi, tadi sebelum kesini makan dulu Samma Irsyad.


"Ckkk dasar tuh anak, Ummi itu nyuruh dia jemput Mimi kesini untuk berbuka bersama. Mimi puasakan hari ini?" tanya Ummi Fatmah.


"Alhamdulillah, iya ummi." jawab Mimi.


"Wah Ummi dah pandai buat kue Muso nih?" ucap Mimi ketika melihat di atas meja ada kue Muso.


"Iya Mi, Ummi MU sudah pandai tapi ada yang kurang." sahut abi Arsyad.


"Maksud nya bi?" tanya Mimi.


"Cicip aja." jawab Abi, Mimi melihat ke arah Ummi yang mengerucut bibirnya karena ulah sang suami yang selalu protes sedari tadi.


"Namanya juga belajar Bi" ucap Ummi dengan cemberut, Mimi tersenyum dan mengambil satu kue Muso buatan Ummi.


"Gimana Mi?" tanya Abi ketika kue itu belum masuk ke dalam mulut.


"Hmm, Bi. Belum juga masuk nih kue." jawab Mimi dan semua tertawa.


"Abi mu ini kebiasaan Mi," ucap Ummi. Mimi mengigit kue Muso itu, tidak ada yang salah dari bentuknya Bahakan lebih rapi dari Mimi, sekali gigit ternyata kesalahan ada pada adonan coklat dan hijau di atasnya.


"Gimana?" tanya Abi


"Heheee, nggak apa ya Mi. Lama-lama Ummi pasti bisa." Jawab Mimi cengengesan.


"Hmmm huh..padahal Ummi dah ngikutin resep yang Mimi beri." ucap Ummi.


"Gak apa Mi, besok-besok di banyakin dikit santan buat adonan coklat nya, nahnkalau adonan pandannya di cairin dikit jangan terlalu kental atau pun encer " jawab Mimi dan ummi pun mengangguk.


Anak-anak Ummi Fatimah bermain di ruang bermain yang ada di rumah Ummi Fatmah dengan di temani art Ummi Fatmah.


"Mi?" panggil Ummi Fatimah yang telah duduk di samping Mimi.


"Iya Mi?" jawab Mimi.


"Gimana hubunganmu dengan Syahril." tanya Ummi Fatimah.


"Alhamdulillah baik Ummi." jawab Mimi, walau sebenarnya akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja karena kak Syahril tidak ada kabarnya.


"Ummi boleh minta sesuatu?" tanya Ummi Fatimah hati-hati.


"Apa Ummi?" jawab Mimi.


"Gini Mi, setau kami. Emmm." Ummi Fatimah terhenti ucapannya seolah ragu ingin mengutarakan isi hatinya.


"Mi,?" panggil Abi Risyad suami Ummi Fatimah.


"Iya bi." jawab Mimi, Mimi sudah merasa getar getir dengan keluarga ini.


"Apa tidak sebaiknya kalian berdua menikah saja." ucap Abi Risyad to the poin.


"Maksud Abi?" tanya Mimi.


"Iya Mi, apa sebaiknya kalian berdua menikah saja." sahut Abi Arsyad.


Mimi semakin tidak !mengerti kepada mereka, kenal mereka mendadak menyarankan Mimi dan kak Syahril menikah.


"Gini Mi, setau kami. Kalian kan sudah lama berhubungan, Mimi jangan salah sangka dulu." ucap Ummi Fatimah ketika melihat Mimi tidak terima jika disangka telah berbuat hal yang dilarang agama.


"Kalian berdua kan sudah berhubungan lama dan kami juga lihat kalau kalian pun sangat serius dalam hubungan kalian. Apa tidak sebaiknya kalian menikah saja seperti Rendy dan yang lain." ucap Ummi Fatimah, Mimk masih diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Iya Mi, kalian berdua saling menyayangi, saling mencintai bahkan kalian saling mengisi satu sama lain dan kalian berdua juga saling melengkapi satu sama lain." sahut Ummi Fatimah.


"Kami ingin kalian mensakralkan hubungan kalian dengan ikatan suci." ucap Ummi Fatimah.


"Iya Mi, Mimi kan tau dalam agama kita dilarang berpacaran, kalau kalian sudah saling melengkapi apa salahnya bila kalian !menikah saja." ucap Abi Risyad.


"Kami tidak melarang hubungan kalian, namun bila bisa disahkan secara agama kalian bebas melangkahkan kaki kalian." ucap Abi Arsyad.


"Mi, lihat Andri, Rudi, Rendi dan Arfan. Mereka bisa kok menjalani rumah tangga dan kuliah mereka." ucap Ummi Fatimah.


Mimk diam mencoba mencerna ucapan-ucapan mereka.


"Ya Allah ada apa ini? apa mereka mulai menentangbhubjngan kami." gumam Mimk dalam hati.


"Mi.." panggil Ummi Fatmah yang melihat Mimi diam, Mimi pun melihat ke arah Ummi Fatmah.


"Kami hanya ingin cinta kalian selalu bersama tanpa ada yang mengusiknya lagi." ucap Ummi Fatmah.


"Mengusik? apa maksudnya ya Allah?" gu!am Mimi dalam hatinya


"Iya Mi, pikirkan dengan matang ya? semua demi kebaikan kalian berdua demi rajutan cinta kalian selama ini." ucap Ummi Fatimah.


Mimi diam, Mimi melihat mereka satu persatu terlihat dari wajah mereka penuh harap.


"Ummi.. Abi.." ucap Mimi melihat ke arah dua Ummi dan dua aebi nya.


"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Mimi terlontar begitu saja.


Terlihat mereka gelagapan dari wajah mereka walau mereka berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa nak? kami hanya berharap kalian segera bersatu dalam ikrar suci. Nggak baik lama-lama." ucap Abi Arsyad.


"Dalam agama saja kita dilarang berpacaran Mi, alangkah baiknya jika kalian saling mencintai dan saling mengisi satu sama lain, kalian segera ikat cinta kalian ini." ucap Abi Risyad. Mimi memahami maksud mereka


"Karena dalam Islam ajaran kita tidak pernah mengajarkan tentang pacaran, karena dalam kenyataannya dua insan yang berlainan jenis tidak bisa terhindar dari berdua-duaan, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh.


"Perbuatan ini sama dengan mendekati zina, dan sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at Islam." ucap Abi Risyad


"Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah, ia berkata, "Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali ada mahramnya. ”(muttafaq alaihi).


Rasulullah SAW secara langsung telah memberikan rambu-rambu kepada umatnya mengenai model hubungan laki-laki dan perempuan yang terlarang.


Dalam surat al-Isra ayat 32 menerangkan, "Dan janganlah kamu. Zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."


Hal ini sangat singkron dengan hadits Rasulullah SAW yang seolah menjelaskan model tindakan yang dapat mendekatkan seseorang dalam perzinahan.


Pacaran dalam Islam tidak boleh kecuali yang dimaksud itu setelah akad nikah. Dalam Islam yang diajarkan untuk memiliki hunbungan atau ke tahap nikah itu melalui ta’aruf.


Dalam ta’aruf tidak ada pemaksaan, jika belum cocok salah satu pihak boleh saja menolak.


Namun ketika keduanya cocok, maka dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yakni pihak laki-laki melamar dan berujung pada pernikahan.


Dalam hal mahar, menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal.


Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.


Terkait dengan pacaran, adakah pacaran yang Islami?


Kemungkinan besar tak ada pacaran yang bisa di bilang islami, semua pacaran pasti memungkinkan untuk mendekatkan pada hal-hal yang zina.


Jadi, istilah pacaran Islami lebih karena pembenaran saja dari mereka yang melakukan hal tersebut.


Zina termasuk dosa yang sangat besar dan dibenci oleh ALLAH SWT. Zina masalah yang tidak bisa disepelekan.


Dosa orang yang melakukan zina bahkan disejajarkan dengan seorang pembunuh dan orang murtad.


Jadi seseorang yang sekarang berpacaran ria dan terjerumus perzinahan, sebenarnya tanpa sadar telah melakukan perbuatan yang sangat keji dan berdosa.


Salah satu penyebab pacaran menjadi budaya, dan terjadi di kaum muslim adalah karena para wanita muslim tidak menerapkan ajaran islam dalam berbusana dan bertingkahlaku.


Salah satu hal yang bisa mencegah kita dari godaan melakukan pacaran atau hubungan diluar nikah adalah dengan segera menikah jika dirasa telah mampu.


Barangsiapa yang menunda untuk menikah, maka ditakutkan ia akan terjerumus dalam perzinahan.


Islam yang sempurna, telah membangun hubungan baik dengan lawan jenis. Hubungan ini diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan.


Melalui pernikahan inilah yang akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.


Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ


“ Kami tidak pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan. ”(HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)


Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda,


من استطاع الباءة فليتزوج, فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج, ومن لم يستطع فعليه بالصوم, فإنه له وجاء


“Barangsiapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga ********. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri. (HR. Bukhari dan Muslim).***" Abi Risyad menjelaskan tentang berpacaran kepada Mimi maupun Irysad dan mbak Aish.


Mimi diam menunduk, Mimi tau dalam agamanya tidak dibenarkan untuk berpacaran, apa lagi dia dan kak Syahril sudah lama menjalin hubungan.


Walau mereka tidak melarang nya selagi Mimi dan kak Syahril masih dalam batas sewajarnya yang tidak sampai membuat hubungan mereka ke jalan yang salah atau ke jalan yang tidak sewajarnya.


Mimi menghembuskan nafasnya berat, Mimi bingung harus !menjawab apa. Di satu sisi Mimi senang keluarga mereka menerima Mimk apa adanya dan Mimi juga ingin hubungan ini terikat dengan sumpah janji di hadapan Allah SWT.


Di satu sisi Mimi ragu, jika dia menyetujui menikah. Bagaimana dengan janjinya kepada kedua orangtuanya serta keluarganya, bagaimana dia akan menunjukan kepada orang-orang yang telah menghina keluarga nya.


Mimi maaih diam dengan ribuan pemikiran di otaknya, mengimbangi semuanya. Mimi tidak ingin salah langkah dan Mimi juga tidak ingin salah megambil keputusan.


"Istikharah lah." ucap Abi Risyad yang melihat ada keraguan di diri Mimi.


Mimi memandangi mereka satu-persatu, entah mengapa air mata Mimi mengalir begitu saja. Mungkin Mimi juga merasa lelah di tambah akhir-akhir ini mimpi buruk itu selalu menghantui dan akhir-akhir ini pula sang pujaan hati yang biasa me!buat hatinya kuat kini tak ada kabarnya.


Ummi Fatmah dan ummi Fatimah tau jika Mimi bimbang, mereka berdua mendekati Mimi dan menghapus air mata Mimi.


"Kami semua sayang sama Mimi, kami semua ingin kalian bersatu." ucap Ummi Fatimah.


"Pikirkanlah nak, demi kebaikan kalian berdua." sahut Ummi Fatmah.


"Iya kami yakin kalian bisa menjalaninya, jangan kalian anggap dengan kalian menikah cita-cita kalian tak bisa tercapai." sahut Abi Arsyad.


"Iya Mi, setidaknya kalian menikah saja dulu masalah kuliah kalian, nanti bisa kalian atur baiknya gimana." ucap Abi Risyad.


Air mata Mimi semakin deras dalam pelukan kedua umminya.


"Istikharah lah, minta petunjuk kepada Allah jawaban apa yang harus Mimi jawab, kami semua akan menunngu dan menerima apa saja jawaban Mimi. Kalau pun kalian masih ingin menundanya itu adalah hak kalian, kami tidak memaksa namun pikirkan kembali permintaan kami demi kebaikan kalian berdua.


flasback off


"Ya Allah, turunlah langkah ku ke jalan MU, beri hamba petinjukmu." ucap Mimi, Mimi melihat jam sudah jam 11 malam.


"Malam Jum'at, ya Allah tuntunlah hamba untuk mengambil sebuah jawaban yang benar, bangunkan hamba di sepertiga malam." ucap Mimk dengan berdoa.

__ADS_1


Mimi membaca ayat 2qul, ayat kursi serta doa sebelum tidur, Mimi tak ingin mimpi buruk itu hadir untuk malam ini. Setelah berdoa mimipun memejamkan matanya dan memeluk guling serta baju sang kekasih.


tbc


__ADS_2