DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
237


__ADS_3

Hari ini hari terakhir ujian, setelah ujian semua siswa disibukkan dengan hasil nilainya kelak, berhasilkah mereka !menghadapi ujian kali ini atau ada gramedi.


Ujian telah selesai, Mimi dan uang lain berkumpul di kantin Bu Ruminah, mereka semua langsung memesan kembali pesanan mereka pagi tadi dan mereka pun menyantap nasi soup, atau soup campur bakso dan ayam serta mie sedikit.


Mimi masih menunggu Syahril yang belum tiba juga di kampusnya, ponselnya juga tidak di angkat.


"Udah Mi, pesan aja." ucap Muthia.


"Emm nanti ajalah Muth, tunggu kak Syahril." jawab Mimk yang masih menckba menghubungi nomor Syahril.


Tak lama datang Irsyad yang berjalan tegap dengan gaya cool nya menghampiri Mimk dan yang lain.


Sesampainya di kantin Irsyad langsung mengambil jus Selfia yang masih baru diletakkan oleh pegawai Bu Ruminah, Irsyad langsung meminumnya tandas.


Selgia yang melihat jusnya tinggal bongkahan es melongo dan kesal.


"Irsyaaaad." teriaknya sontak SE!ua orang dinkangin melihat ke arah mereka.


"Apa!" jawab Irsyad yang langsung duduk disamling Muthia dan mengambil soup plus bakso serta ayam milik Muthia,


Ditariknya SOP tersebut dan langsung menyendokkan kedalam mulutnya, Muthia pun sama hal nya dengan Selfia yang melongo dan geram atas perbuatan Irsyad.


"Kamu tuh ya, main nyelonong aja ngambil punya orang." Ucap Muthia yang akan menarik mangkoknya namun di tahan oleh Irsyad.


"Kamunoeaqn aja lagi Muth, plis akunlaper banget." ucaonya dan menyendokkan kembali SOP berisi daging dan bakso itu.


"Isss nyebelin banget sih jadi orang." ucap Muthia yang langsung beranjak menuju ke kantin Bu Ruminah dan menghentikan kakinya kesal, Irsyad hanya acuh dan terus memakan souo nya.


"Muth, sekalian jus jeruk ya.." teriak Irsyad. Muthia tidak menggubrisnya na!jn Muthia juga memerankannya.


"Mi.. Abang sudah hubungi kami nggak?" tanya nya kepada Mimi, Mimk hanya menggeleng.


"Nggak ada Syad, ininaja nomornya di hubungi nggak di angkat-angkat." jawab Mimi.


"Emm sama, dari tadi juga aku hubungi nggak di angkat. Makanya langsung ke sini. Sebenarnya males banget jalan ke sini jauh tau." ucap Irsyad.


"Hmm" jawab Mimi.


"Nih" ucap Muthia dengan menaruh segelas jus jeruk ke hadapan Irsyad.


"Makasih Muth Muth." jawabnya.


Irsyad melihat kembali ke arah mangkok Muthia, Muthia yang menyadari itu langsung menarik mangkuknya menjauh dari Irsyad.


"Jangan bilang kamj mau tambah." ucap Muthia dengan sorot mata yang tajam.


"Hehee tau aja. Dikit Muth ya ya.." ucapnya


"Ogah, pesan aja lagi sana sama Bu Ruminah." jawab Muthia dengan langsung !menuangkan cabe, kecap serta saos kedalam mangkuk nya.


"Hmmm." jawab Irsyad.


"Mimi nggak makan? tanya Dimas yang dari tadi hanya diam memperhatikan Mimi.


"Nanti aja Dim." jawab Mimi.


"Lebih baik makkannaja dulu Mi, pasti kak Syahril ngerti lah." ucap Saridi.


"Iya, ntar aja." jawab Mimi dengan senyum.


"Syad, coba tanya Ummi apa kak Syahril masih disana atau gimana? kalau masih disana bjar di bungkus aja SOP nya." ucap Mimi.


"Hmm nanti ajalah, biarin mereka saling melepas rindu. Tau sendiri kan Ummi kalau ada Abang, aku anak aslinya aja tersingkirkan sama dia.'' ujar Irsyad dan membuat semua sahabat Mimi dengan senyum sendiri.


"Kenapa kalian dengan senyum gitu." ucap Irsyad melihat sahabat-sahabatnya Mimk dan juga menjadi sahabat nya itu dengan senyum.


"Kasiannya..Sabar ya Syad." ejek Selfia.


"Sabar Syad." ucap Saridi dan yang lain pun mengucapkan sabar pada Irsyad.


"Atau jangan-jangan kamu bukan anak Ummi mu Syad." celetuk Muthia.


Pletak Irsyad memukul kepala Muthia dengan sendok bekas dia makan.


"Aww iss Irsyad jorok." ucap Muthia dengan jengkel.


"Yah awas aja kalau jilbab aku ternodai." ujar Muthia lagi.


"Apa mau lagi, sink.." ucap Irsyad dengan mengangkat sendok di tangannya.


"Ihh Irsyad ahh." ucap Muthia dengan cemberut dan kesal.


"Wahh Muth, jilbab kamu ternodai sama kecap." ucap Selfia mengompori.


"Beneran Fi?" tanya Muthia dan di angguki oleh Selfia. Sontak Muthia langsung berdiri dan perginke arah kaca yang berada di dinding dekat pintu Kangin Bu Ruminah.


Terlihat cap sendok berwana sedikit coklat itu telat di bagian atas kening Muthia yang tertutup hijab. Dengan kesal !uthia menghentakkan kakinya dan mendekat ke arah mejanya tadi.


"Irsyaaadddd. Lihat nih, isss pasti nanti susah ngilangin nodanya." ucap Muthia.


"Gampang pakek pemutih aja muth, gitunajaa repot." jawab Irsyad.


"Enak aja kallau bilang, ini jilbabnya bukan warna putih Irrrsyaaad. Yang ada belang nantinya." ucap Muthia dengan wajah murka.


"Aisss Aini ntar aku yang cuciin." jawab Irsyad.


Lama mereka duduk di kantin namun Syahril dan Ryan gak menampakkan batang hidungnya juga.

__ADS_1


"Emm pulang aja yok." ucap Muthia.


"Iya udah gerah aku." sahut Dimas.


"Emm yaudah ayo." jawab Mimi dan mereka pun membayar makanan mereka.


Pesanan Mimi di bungkus, tak lupa Mimi lebihkan beberapa bungkus sop-nya buat lauk mereka makan nanti.


"Mi, mau diantar?" tanya Dimas.


"Nggak usah Dim, makasih Mimi jalan aja lewat samping." Mimi menolak ajakan Dimas, bukan tak mau Mimi hanya menghindari kecemburuan Syahril saja.


"Emm yaudah kalau gitu kita duluan ya.." ucap Dimas dan dia pun berlalu bersama kedua temannya.


"Iya hati-hati." jawab Mimi.


Mimk dan ketiga sahabatnya serta Irsyad pulang ke kosannya lewat gerbang samping. Mereka pulang berjalan kaki karena jarak kosannya dari gerbang juga tidaklah terlalu jauh.


Di rumah Ummi Fatimah mereka semua masih mencoba menafsirkan mimpi yang di alami oleh Syahril maupun Mimi. Mereka menduga-duga kalau itu adalah sebuah petunjuk atau jawaban namun mereka belum pas untuk menemukan jawaban atau petunjuk itu.


"Kira-kira maksdunya apa ya Bi?" tanya Ryan.


"Emm Abi juga tidak tau Yan, huh semoga itu hanya mimpi yang diberi syaitan untuk menyesatkan anak manusia." ucap Abi Risyad.


"Kalau menurut Ummi, apa mungkin Mimi menolaknya ya Bi." ucap Ummi Fatimah memberikan praduganya.


"Emm bisa jadi tuh dek, secara Mimi orangnya selalu tepat pendirian, tapi kelak apapun jawabannya mungkin itu adalah yang terbaik buat semua." ucap Ummi Fatmah.


"Emm gimana Riil, seandainya nih ya seandainya, Mimi menolak menikah dengannmu gimana?" tanya Ryan.


"Huummmm huh, maksudmu apa Yan? kamu do'a in gitu!" ucap Syahril tak suka.


"Bukan gitu, Riil. inikan misalnya." ucap Ryan "Kamu ntaunsendiri Riil nasibmu kan ada di tangan Kalina berdua, Aisss. kenapa jadi runyam gini sih." ucap Ryan yang juga pusing memikirnya.


"Abi berharap kalian bersatu, karena Abi tau pasti tak hanya salah satu kalian yang tersakiti namun banyak yang ikut tersakiti." ucap Abi Arsyad.


"Tapi mimpi itu gimana Bi, apa jawaban nya. Sedangkan Mimi saja tidak bisa menjawab karena mimpi itu begitu sulit dipecahkannya." ujar Ummi Fatmah.


"Kita sama-sama minta petunjuk sama Allah Mi," jawab Abi ke Ummi Fatmah.


"Emm ngomong-ngomong nkita makan siang aja dulu. Menguras tenaga juga menafsirkan mimpi ini." ucap Ummi Fatimah.


"Emm Ummi, kami pulang sekarang aja ya. sekalian mau jemput anak Ummi dan menantu Ummi. Pasti mereka sudah selesai ujiannya." ucap Syahril.


"Hemm, biarin aja Riil pasti mereka juga sudah makan dan bisa jadi tuh Irsyad dah ngorok sekarang di kosan Mimi." ucap Ummi Fatmah.


"Iya Riil sesekali makan siang bersama kita." ucap Abi Risyad. Akhirnya Syahril pun menyetujuinya dan mereka pun makan siang bersama.


"Obatnya dibawa kan Riil?" tanya Ummi Fatimah.


"Dibawa Ummi." jawab Syahril.


"Hehee namanya juga musibah." jawabnya enteng.


"Musibah kok di cari." ucap Abi Risyad.


"Hmmm.." jawabnya.


"Kamu tau Ummi Fatmah mu yang pusing diteror sama Mimi mulu." ucap umi Fatimah.


"Maaf ya Ummi." jawab nya penuh penyesalan.


"Lain kali apapun masalahnya, seberat apapun jangan gegabah, hadapi dengan kepala dingin. Yang rugi bukan hanya satu namun semua." ujar Ummi Fatmah menasehati.


"Iya Ummi." jawabnya.


"Yaudah aho makan yang banyak, jangan sampe Mimi curga lihat badnmj ikutan kurus gini." ucap umi Fatimah dengan mengambilkan nasi serta lauk dan sayur untuk Syahril.


Sehabis makan siang Syahril langsung disuguhi obat nya oleh Ryan yang selalu siaga terhadapnya.


"Makasih ya Yan, maaf aku selalu merepotkanmu." ucapnya.


"Iya sama-sama." jawab Ryan.


"Lebih baik kamu istirahat setelahnini Riil, kamunjaga haru perhatikan kesehatan kamu." ujar Ryan.


"Betul itu Riil, sana masuk kamar kamu istirahat. Kamu jangan terlalu capek." ucap Abi.


"Iya Abi, makasih." jawab Syahril dan beranjak masuk kamar yang biasa dia tempati bila kerumah umminya diantar oleh Ryan.


Sesampainya kamae syahril langsung merebahkan dirinya diatas kasur kingsize itu, lelah itunyang dirasakannya saat ini.


"Udah kamu istirahat aja." ucap Ryan.


"Yan, kamu lihat HP aku ndak?" tanyanya ketika merogoh kantong celana tidak mendapatkan hpnya.


"Hmm, ndaknlihat aku Riil." ucap Ryan.


"Yan coba kamu hubungi Mimi kasih tau dia kita masih dirumah Ummi." ucap Syahril.


"Oke bentar HP ku di bawah." ucapnya.


"Aku kebawah dulu ya, kamu tidur aja." ucap Ryan.


"Iya. Sekali lagi makasih ya." jawab Syahril. Ryan hanya mengangguk dan kembali keluar kamar.


Ryan menuruni anak tangga, sepi suasaan rumah ini mungkin mereka sedang beristirahat itulah yang dipikirkan Ryan. Dia berjalan menuju ruang keluarga dan diambilnya HP yang diraihnya dinatas meja tv.

__ADS_1


Dilihatnya layar HP nya ternyata begitu banyak penggilan dari Mimi serta Irsyad.


"Hah astaghfirullah, banyak amat panggilan Mimi dan Irsyad." ucapnya dan dibukanya layar HP nya tak hanya panggilan tak terjawab namun ada beberapa pesan dari Mimk dan Irsyad pun ada.


Pesan Mimi


"Kak, kalian dimana? mimi usah selesai ujiannya, kenapa ndak di angkat,."


"Kak, HP kak Syahril juga kenapa ndak di angkat-angkat."


"Kak, kalian masih dirumah Ummi?"


"Kak, kami pulang dulu ya," begitulah pesan terakhir dari Mimi.


Pesan dari Irsyad


"Hello bro, cas sudah selesai nih buruan."


"Ckk kalian ini kemana sih?"


"Heii bang, angkat napa telponnya."


"Aisss sama aja kalian ini ndak ada yang mau angkat."


"Capek nungguin kalian, Cad langsung jalan ke Kangin Bu Ruminah."


"Aiss masih juga tidak di angkat."


"Payahnkalaunsudah temunkangen sama Ummi anak kandung tersisihkan." begitulah isi pesan terakhir dari Irsyad dan membuat Ryan ingin ketawa terbahak-bahak.


Ryan segera menghubungi Irsyad, namun tidak di jawab oleh Irsyad. Lalundoa menghubungi Mimi beberapa menit baru di angkat oleh Mimi.


"Hmm assalamualaikum kak.." ucap Mimi.


"Waalaikum salam, maaf Mi kakka baru lihat HP dan pesan kamu." jawab kak Ryan.


"Oh yaudah. Kalian dimana? masih dirumah ummi?" tanya Mimi.


"Iya, kakak maaihndi rumah Ummi." ucap kak Ryan.


"Emm ogph ya Mi, apanhp Syahril ada di kosan soalnya dia nyariin dari tadi." ucap kak Ryan dengan alasan HP.


"Iya kak, ada." jawab Mimi.


"Alhamdulillah." jawab Ryan.


"Yaudah ya, kakak di tungguin Abi assalamualaikum" ucapnya dengan alasan di tungguin Abi karena takut Mimi bertanya lebih.


"Emm iya kak eh tunggu.." belum selesai Mimi bicara panggilan sudah tertutup "Waalaikum salam." jawab Mimi dan meletakkan HP nya.


Ryan sehabis menelpon Mimi merasa lega namun seketika dia merasa was-was kalau Mimi membuka HP Syahril.


"Ya Allah, HP Syahril." ucapnya, Ryan merasa was-was jika Mimi membuka HP Syahril dan melihat isinleaan dari Kakek kepada Syahril terakhir kali.


Syahril yang dikamar takmlangsungbtidur melainkan dirinya sholat terlebih dahulu, taknljpa dia selalu panjatkan do'a untuk kelancaran saat nanti dia bicara pada Mimi dan taknljpa luoa dia berdoa agar Mimi menerima ajakan nya itu.


Ryan kembali ke kamar dengan wajah yang was-was, dilihat nya syahril sedang !menengadahkan kedua tangan menghadap Kiblat.


"Ya allah, hamba mohon berikan petinjukmu lada sepupu hamba ya Rabb." doanya dalam hati.


"Eh Yan, gimana sudah menghubungi Mimi?" tanya Syahril.


"Sudah, emm." jawabnya.


"Terus kenapa muka kamu tegang gitu?" tanya Syahril lagi


"HP kami dikosannya Riil." ucap Ryan.


"Lah terus." jawab Ryan.


"Aku takut Mimi membuka nya, apa pesan Kakek sudah kami hapus?" tanya Ryan dengan kekhawatiran nya.


"Emm pesan Kakek sudah aku hapus Yan, kamu ndak usah khawatir." jawab Syahril.


"Hem syukurlah, cuma bagaimana kaalau Umma Kirin pesan mengingat kannkamu minum obat. Pasti Mimi akan bertanya-tanya lagi." ucap Ryan.


"Emm kalau itu yah mau gimana lagi, mungkin sudah saat nya dia tau Yan." jawab Syahril.


"Emm, tapi aku yakin Mimi tidak akan membuka ponsel ku tanpa izin. Kamu tau sendiri Mimi dia mana ada membuka-buka ponsel orang tanpa izin." ucap Syahril lagi.


"Emm iya juga sih." jawab Ryan.


"Riil," panggilnya yang sudah rebahan di kasur.


"Hmm." jawab Syahril yang ikut merebahkan diri.


"Emm nanti apapun jawaban dari Mimi apa kamu bisa terima?" tanya Ryan.


"Entahlah Yan, mungkin akunakkan keceewa dengannya tapi kita tau nanti." jawab Syahril.


"Emm semoga rencana kita berjalan lancar Riil, aku hanya takut aja. Disini bukan hanya satu yang merasa kecewa atau sakit hati nanti, namun dua bahkan lebih akan merasakannya." ucap Ryan dengan segala unek-unek di hatinya.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaiman jika kalian terpisahkan nanti, mungkin bisa dikatakan dunia ini kejam sama degan halnya Kakek." ujr Ryan yang tidak bisa membayangkan kedepannya.


"Kamu do'a kan saja semua lancar Yan, bantu aku. Aku juga tidak sanggup menghadapi kemungkinan terjadi nanti, kalau pun itu terjadi sampe mati pun aku tak akan memaafkan Kakek." ucap Syahril dengan meneteskan air mata ketika dia berucap sumpah itu.


"Semoga Riil,." jawab Ryan. Mereak pun merasa lelah, tak hanya lelah di badan mereka namun lelah pula di pikiran mereka. Mereka akhirnya tertidur pulas dan Ryan pun lupa untuk sholat dzuhurnya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2