DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
terungkapnya baby twin


__ADS_3

Di bukit dusun Bungin nan asri, ketiga pria langsung menghubungi pasangannya atau keluarganya.


Kecuali Ryan dia hanya duduk di cap mobil sambil menikmati semilir angin malam di bawah sinar rembulan.


Syahril berulang kali menghubungi nomor Mimi namun tak kunjung di angkat. Syahril melihat ke arah Ryan yang duduk seorang diri di cap mobil.


Perlahan-lahan Syahril berjalan mendekati Ryan sambil terus men deal nomor Mimi.


"Longgar nelpon Di'ah Yan?" tanya Syahril dengan ponsel yang masih berbunyi deringan dert dert dert. Ryan tak menjawab dia hanya menarik nafas nya dalam-dalam.


"Coba di telpon, pasti dia sudah sampe dan pastinya dia telah memberi kabar sama kau kan?" ucap Syahril. Lagi-lagi Ryan tidak menjawabnya.


"Buang dulu ego kau tu Yan, telpon lah dia. Pasti dia juga melihat kalau pesannya sudah centang dan pasti dia juga menunggu kabar mu. Setidaknya balas lah chat dia."


"Jangan kau kenang perbuatan jeleknya, tapi kenang lah kebaikan dia juga."


"Singkir kan dulu ego kau. Kalau kau juga macam ni, macam mana permasalahan akan selesai. Kalau dia keras, setidaknya jangan pula kau balas keras juga."


"Telponlah dia, semua permasalahan pasti bisa di atasi. Selain kau terus menasehati, beri dia perhatian iringi juga dengan do'a."


"Telponlah" ucap Syahril.


"Hmm." jawab Ryan.


"Yaudah, aku ke sana dulu. Nih Mimi sudah angkat." ucap Syahril dengan menepuk pundak Ryan seraya menjauh dari Ryan.


"Assalamualaikum kak." ucap Mimi.


"Waalaikum salam sayang, apa kabar mu yank, apa kamu sibuk?" jawab Syahril dan bertanya pada Mimi.


"Alhamdulillah, Mimi baik dan sehat. Kakak bagaimana?" ucap Mimi.


"Alhamdulillah, kakak juga baik dan sehat." jawab Syahril.


"Emm selamat ya kak." ucap Mimi sambil tersenyum sendiri di balik telponnya.


Padahal Mimi ingin video call, namun percuma saja karena pastinya Mimi tidak dapat melihat wajah sang suami.


"Selamat apa nih?" tanya Syahril.


"Emm emang kakak belum baca di group chat komite?" tanya Mimi.


"Emm belum ada buka. Kakak sampe bukit langsung nelpon adek." ucap Syahril.


"Emm.. Disana pasti sudah hampir tengah malam kan? pasti kakak nelpon hampir tengah malam gini pasti ada sesuatu kan?" tanya Mimi.


Yah Mimi merasa memiliki firasat jika ada sesuatu yang akan Syahril tanya. Apa lagi ini sudah di pastikan olehnya hampir tengah malam.


"Emm, terus tadi adek ngucapi selamat buat apa?" ucap Syahril. Syahril mendengar helaan nafas Mimi.


"Apa benar kabar yg kakak dengar dek?" tanya Syahril.


"Kabar apa yang kakak dengar?" tanya Mimi.


"Dan jika kakak belum buka chat group, lalu dari siapa kakak dengar?" imbuh Mimi. Mimi juga mendengar helaan nafas Syahril.


"Jadi itu benar? bagaimana bisa" ucap Syahril terdengar kecewa dan lirih.


"Maksud kakak apa? yang kakak bilang benar itu apa? emang kakak dengar kabar apa?" ucap Mimi dengan memberondong pertanyaan pada Syahril.


"Kakak dengar dari Ryan, kalau adek melahirkan. Dan anak itu kembar, bagaimana


bisa dek." ucap Syahril.


Di balik telpon Mimi tersenyum, ingin tertawa keras tapi itu tidak mungkin karena sekarang dia berada dalam ruangannya.


"Hmm kakak percaya?" tanya Mimi. Mimi hanya bisa mendengar tarikan nafas Syahril.


"Bukannya kakak sudah melihat ya? emang apa ada menurut kakak Mimi berkemungkinan hamil dengan perut rata, apa lagi baby twin." ucap Mimi.


"Hmm itu dia, kakak juga ndak percaya dek. Tapi kata Ryan dia lihat foto adek gendong baby twin dan juga terlihat ada bercak darah di baju adek." ucap Syahril.


"Emm kalau itu memang benar. Maafkan Mimi tidak meminta persetujuan kakak. Tapi emang benar kalau baby twin itu anak Mimi, anak kita ... " ucap Mimi, menjelaskan tapi belum sampe selesai langsung di potong oleh Syahril.


"Hah. Astaghfirullah deekk.. Ngegolin adek aja kakak belum masa iya dek." ucap Syahril dengan menarik rambutnya kebelakang.


"Apa an sih kakak nih. ngegol ngegol emang bola." ucap Mimi.


"Ya habisnya belum cetak gol sudah dapat, dua lagi." ucap Syahril yang terdengar lucu.


Farhan dan Rudi yang tidak begitu jauh jaraknya mendengar ucapan Syahril merasa shock namun terlihat lucu.


"Fan berarti benaran kalau Mimi.." ucap Rudi namun tak dilanjutkan nya.


"Shutt, diam aja. Kita tanya Syahril nanti aja."Ucap Farhan.


"Hmm." jawab Rudi.


Back to Syahril Mimi.


"terus bagaimana ceritanya dek? emm terus cowok ber jas yang mengazani si kembar siapa?" tanya Syahril.

__ADS_1


"Emm banyak amat pertanyaan nya. Benar kak itu anak Mimi, anak kita."


"Yang mengazani itu mas Khaliq kak." jawab Mimi, Syahril merasa lega namun masih penasaran bagaimana bisa dia dan Mimi telah memiliki anak, padahal...


"Tapi dek bagaimana bisa tiba-tiba kita punya anak, padahal kan kita belum buat adonan nya dek, bahkan penggilingannya aja belum sempat." ucap Syahril yang ngaco.


"Apaan lah kakak ni, ngaco omongannya. kalau di dengar kak Ryan ngakak la dia." ucap Mimi yang tidak habis pikir kenapa sang suami berpikiran jauh dari kata positif.


Ryan yang jauh jarak tak akan mendengar namun dua pria yang sedari berteleponan dengan istri mereka keselek air ludah.


"Woyyy tu mulut.. " seru Rudi yang tidak tahan lagi buat berkomentar sambil menahan rasa nyeri di dada akibat keselek air ludah nya sendiri.


Syahril hanya menoleh namun tidak menggubris Rudi. Sedangkan Mimi merasa sangat amat malu mendengar ada orang lain di antara sang suami.


"Tuh kan kak, ngomong itu di filter dulu jangan asal sebut. Huhh sejak kapan omongan kakak jadi oleng gitu." sungut Mimi.


"Eits tunggu itu bukan suara Kaka Ryan, emang kakak lagi sama siapa?" ucap Mimi lagi saat teringat bila suara yang di dengar bukan suara Ryan.


"Itu Rudi." ucap Syahril.


"Sejak kapan kak Rudi ada Disana?" tanya Mimi.


"Sejak hari Minggu. adia gantiin dokter yang mau lanjut pendidikan. Jangan mengalihkan pembicaraan dek." ucap Syahril.


"Siapa yang mengalihkan pembicaraan. Mimi kan cuma bertanya." ucap Mimi.


"Terus masalah baby twins itu, bagaimana bisa dek." ucap Syahril.


"Ya bisa lah kak. Kakak ingat pasien kakak yang hamil dan yang kakak bantu?" tanya Mimi.


"Yang mana?" ucapnya sibuk mengingat.


"Yang Kaka bantu buat surat keterangan bantuan gratis.Dan yang kata kakam juga membantu suaminya." ucap Mimi.


"Emm entah lah." ucap Syahril, yang belum ingat.


"Tapi apa hubungan dengan mereka?" tanya Mimi.


"Mimi tidak bisa menjelaskan secara detail nya. Kalau kakak ke sini baru Mimi ceritakan, yang jelas itu anak mereka dan mereka menyerahkan bisa dikatakan diberi ke kita."


"Selama ini mereka selalu datang kerumah sakit nanyain kakak tapi sampe hpl udah kelewat hingga lima Minggu dan sampe Senin sore kemarin itulah terjadinya baru anak itu dilahirkan dengan cecar." terang Mimi.


"Kok bisa dek? kenapa mereka memberikan pada kita? emang mereka ada apa dan kenapa." tanya Syahril.


"Seperti yang Mimi bilang tadi, Mimi tidak bisa menjelaskan secara detail karena waktu. Pasti disana sudah lewat tengah malam, kakak juga butuh istirahat."


"Intinya anak ini sekarang anak kita berdua, anak yang di titipkan Allah kepada kita."


"Mereka.. Emm mereka sudah meninggal." ucap Mimi.


Innalilahi wa innailaihi roji'un." ucap Syahril yang sukses membuat kedua sahabatnya menoleh dan penasaran.


"Riil siapa yang meninggal?" tanya Rudi. Syahril hanya menaruh telunjuknya di mulut, Rudi pun tidak bertanya lagi.


"Kak, udah dulu ya. Mimi ada operasi lagi." ucap Mimi.


"Hmm yaudah dek, jangan lupa berdo'a terlebih dahulu ya sebelum melakukan tindakan." ucap Syahril mengingatkan.


"Iya kak, maaf ya Mimi tidak minta persetujuqn kakak terlebih dahuli." ucap Mimi.


"Nanti kalau kakak ke sini Mimi jelaskan semua nya, nanti jangan lupa chek chat nya ya yah." ucap Mimi lagi dengan tersenyum sendiri ketika dia memanggil Syahril dengan Yah.


"Ya" ucap Syahril.


"Emm kan udqh jadi ayah sekarang." jawab Mimi.


"Hmm iya Mom, bulan depan kakak baru kesana. Kebetulan kemarin dah ngajuan cuti tapi bulan depan." ucap Syahril.


"Oke, kami tunggu Yah." ucap Mimi.


"Oh ya dek, siapa nama si twin?" tanya Syahril.


"Belum di kasih nama Yah, tunggu ayah datang ke sini dulu ya." ucap Mimi.


"Oke deh kalau gitu. Salam peluk cium buat twins ya mom." ucap Syahril.


"Cuma sama twins aja nih?" jawab Mimi.


"Kalau sqma mommy nya bukan peluk cium lagi. Tapi semua nya." ucap Syahril.


"Yaudah, di tunggu ya Yah. Udah dulu ya Yah, nih da di panggil suster." ucap Mimi.


"Yaudah sayang, jaga kasehatan ya. Jangan lupa makannya jangan sampe telat." ucap Syahril.


"Iya Yah, ayah juga. Assalamualaikum." ucap Mimi.


"Waalaik salam." jawab Syahril.


Sehanis telpon Syahril menarik nafas dalam. Terselip rasa bahagia di hati karena dia sekarang telah menjadi seorang ayah.


Ingin rasanya Syahril terbang saat ini juga, namun apa daya selain waktu dan jarak. Perkerjaannya juga saat ini masih banyak yang harus di selesaikan.

__ADS_1


Lain Syahril lain pula dengan Ryan, rasa kecewa di hatinya membuat dirinya enggan untuk menghubungi Di'ah.


Di'ag sudah sedari pagi sampai, dia tidak lupa langsung memberitahu keluarga nya dan orang tua Ryan bahwa dirunya telah sampai.


Tak hanya pada orang tua Di'ah juga kirim pesan pada Ryan. Hingga sore dia selalu melihat ponselnya berharap jika Ryan membalas chat nya.


Di'ah terus melihat ponsel menunggu balasan Ryan. Entah mengapa sedari dia sampai dan masuk apartemen dia sangat merindukan sang suami.


Di'ah merasa sangat ingin melihat wajah Ryan, ingin mendengar suaranya.


Saat Di'ah melihat chat nya sudqh centang dua walau belum berubah warna biru, dia sangat senang.


Apalagi melihat Ryan online, sedetik hingga menit dia menunggu tapi tak kunjung Ryan menghubunginya bahkan mbalas chatnya pun tidak.


Entah mengapa Di'ah merasa sesak di dada, Di'ah merasa sedih dan tak terasa air mata nya luruh juga.


Hingga setengah jam Di'ah menangus dalam diam, dia maaih menunggu Ryan.


Saat ponselnya berdering dan terlihat nama sang suami, Di'ah merasa bahagia dengan segera dia mengangkat nya.


"Ha hallo assamualaikum." ucap Di'ah serak.


"Waalakum salam. Kamu sudah sampai?" ucap Ryan.


"Su sudah kak, jam sembilan tadi pagi." jawab Di'ah.


"Hmm.. Kamu kenapa? Sakit?'' tanya Ryan.


"Emm ti tidak, cuma pilek dikit." jawab Di'ah.


"Minum air hangat dan jangan lupa minum obat." ucap Ryan.


Di'ah yang memdengar dan mendapatkan perhatian dari Ryan sangat bahagia bahkan air matanya semakin deras mengalir.


"I iya, kakak kapan kesini?" ucap Di'ah. Terdengar suara helaan nafas Ryan.


"Lihat nanti, yang pasti tidak dalam beberapa bulan ini." jawab Ryan.


"Hiks, oo gitu." ucap Di'ah.


"Kamu nangis? ada yang sakit?" tanya Ryan, di balik rasa kecewa nya, Ryan merasa gelisah ketika mendengar tangisan Di'ah.


"Ndak kak, aku cuma rindu sama kakak. his huhuhu." ucap Di'ah dan semakin tergugu dalam tangisannya.


"Sudah lah, kamu kan tau aku kerja." ucap Ryan.


"Iya tau, tapi aku kan rindu hiks huhu, apa kakak tidak rindu sama aku." rengek Di'ah.


Ryan terdiam, berulqng kali dia menarik nafas nya sambil memejamkan matanya. Jujur di hati nya pun terselip rasa rindu.


Namun rasa kecewa yang mendalam membuay rasa rindu itu tersisihkan. Tidak munafik dia pun merindukan Di'ah.


Apa lagi beberapa minggu belakangan ini, dia dan Di'ah


"Sudah lah jangan menangis lagi." ucap Ryan. Di'ah bukannya berhenti malah semakin jadi dan itu membuat Ryan frustasi.


"Berhenti lah menangis," Ryan menarik nafas dalam.


"Kakak janji, dua atau tiga bulan lagi kakak ke sana." ucap Ryan.


Sebenarnya cuti Ryan masih ada dua minggu, namun karena dia tidak jadi ke LA cuti itu baru di batalkannya siang tadi.


"Sudah ya jangan nangis lagi." ucap Ryan.


"Tapi aku rindu kak." ucao Di'ah.


Ryan diam, dia merasa heran dengan sikap Di'ah saat ini.


Ryan terus membujuk Di'ah agar berhenti menangis, bahkam sbumgan telpon di alihkan ke video call saat Di'ah meminta nya.


Namun apa daya minim cahaya tapi Di'ah merasa senang walau tidak melihat wajah Ryan dengan jelas.


Ryan sangat jelas melihat wajah Di'ah, mata yang sembab dan pipi penuh dengan bekas air mata.


Puas Di'ah melihat wajah Ryan dan capek karena menangis, Di'ah pun tertidur.


Ryan melihat wajah damai Di'ah yang damai. Sesekali Ryan menariik nafas nya dalam-dalam.


"Wajah mu damai dek, tapi kenapa hati mu tak sedamai wajah mu di saat kau tertidur."


"Kenapa kau berubah. Dan ada apa sebenarnya? kenapa kau aneh tadi"


"Beberapa minggu ini kau begitu membuat aku keesal dan kecewa, bahkan di balik tangisanmu kemarin. tak seperti tangisan mu tadi."


"Ada apa dengan mu."


Ryan terus bergumam dalam hatinya sambil melohat wajah tuduh sang istri.


"Semoga Allah membuka mata hati mu dek, semoga Allah menghapus segala rasa iri dengki di hatimu." ucap Ryan dal hati.


Setelah semua selesai telponan dengan keluarga, mereka pun kembali ke rumah.

__ADS_1


####TBc#


__ADS_2