DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
masih cerita mimi


__ADS_3

Mimi dan Syahril masih duduk di atas ranjang dengan posisi Mimi dalam dekapan Syahril.


"Emm jadi adek curiga sama kakak?" tanya Syahril setelah mendengar sepenggal cerita dari Mimi, Mimi melihat Syahril dengan mengangkat wajah nya dan mengangguk.


"Iya" jawab Mimi disertai anggukkan dan Syahril tersenyum sambil mentoel hidung Mimi dan akhirnya bibirnya turun mengecup bibir Mimi.


"Apa yang membuat adek sampe curiga sama kakak segitunya?" tanya nya lagi.


"Emm ya bagaimana ndak curiga coba, waktu di dusun tiba-tiba kakak bilang mau program anak kembar dengan alasan kakak ada menangani pasien yang mengandung anak kembar." ucap Mimi." ucap Mimi cemberut.


"Eh di tambah pulang dari indo dapat kabar begitu pula, mana nama si ibu itu pakai nama Mimi lagi dan parah nya di rekap medisnya nama suaminya nama kakak."


"Hahaha, kamu itu lucu dek. Bagaimana kakak mau berhubungan dengan wanita lain. Yang satu ini aja buat kakak sempat kehilangan arah." ucap Syahril.


"Dengerin kakak, kakak tidak berani berjanji tapi kakak akan berusaha dan bersumpah demi Allah, kalau di hati kakak hanya ada kamu dek, hanya ada nama kamu. Jika pun suatu saat kakak tersesat kakak berharap jangan sampai kakak tersesat walau terjadi dan itu membuat hati kamu sakit, kakak berdo'a agar Allah mencabut nyawa kakak segera. Karena kakak tidak mau menyakiti hati wanita yang sudah terpatri lama di hati ini." ucap Syahril dengan menunjuk tangannya di bagian dadanya.


Mimi yang mendengar ucapan Syahril merasa terharu, di dalam hatinya pun Mimi mengucapkan hal yang sama, Mimi tidak mau dipisahkan di saat dia masih bernyawa. Mimi berharap hubungannya menjalin biduk rumah tangga nya ini akan selalu harmonis dan dapat terlewati segala terjangan yang ada dan hanya maut saja yang dapat memisahkan mereka.


Mimi semakin mengeratkan tangannya yang berada di pinggang Syahril dan menelusup kan wajahnya di bidang dada Syahril.


"Jangan pernah ragukan suami ini ya dek, insyaallah kakak akan selalu menjaga diri ini, hati ini hanya untuk kamu." ucap Syahril serta mengecup kepala Mimi.


"Emm mungkin ibu itu melakukan itu semua pasti ada tujuannya, apa lagi dia sampe menyerahkan buah hati mereka." imbuh Syahril dengan terus mengecup serta mengusap kepala Mimi.


"Emm, benar." jawab Mimi.


"Memang nya sewaktu bertemu sama kakak mereka tidak memberitahu maksud dan tujuan mereka?" tanya Mimi dengan melihat ke arah wajah Syahril, Syahril menggelengkan kepala nya.


"Tidak ada, kakak saja bertemu sama mereka hanya tiga kali kalau tidak salah." ucap Syahril.


"Yang pertama ya waktu mereka di rumah sakit itu, itupun awalnya kakak menaruh curiga sama mereka di saat berada di ruang pendaftaran karena mereka memakai masker dan hodie". ucap Syahril mengawali cerita nya.


"Terus di saat mereka telah masuk kedalam ruang praktek kakak. kata mereka itu adalah anak pertama mereka apa lagi itu adalah penantian mereka selama kurang lebih lima tahun." ucap Syahril seraya mengingat-ingat.


"Dan mereka bertanya apa kakak berasal dari Indonesia ya kakak jawab iya dari sanalah mereka cerita kalau mereka juga berasal dari negara kita namun nasib mereka tidak beruntung dan mereka tinggal di perkampungan kumuh di negara ini."


"Dan sang istrinya bertanya apa kakak sudah nikah, ya kakak jawab iya saja dan lagi-lagi sang istri bertanya nama istri kakak, ya entah kenapa kakak lancar aja nyebut nama kamu dek."


"Dan dia juga nanya apa profesi istri kakak sama dengan kakak, kakak juga jawab iya dan mengalir aja kakak menceritakan bahwa kamu juga kerja di rumah sakit ini." ucap Syahril.


"Saat kakak bertanya mereka tinggal dimana, mereka terlihat. murung dan sungkan. Namun akhirnya mereka bercerita kau mereka selama beberapa tahun ini hidupnya tidak menentu termasuk tempat tinggal bahkan pekerjaan."


"Makanya karena kakak lihat mereka seperti kesusahan kakak memberikan kartu nama kakak dan surat rekomendasi buat mereka menuju bagian administrasi agar mereka mendaftarkan diri sebagai pasien yang mendapatkan bantuan dari rumah sakit ini."


"Terakhir kakak ketemu suaminya disalah satu daerah ya di luar kota ini, waktu itu tanpa sengaja kakak bertabrakan dengan dia. Awalnya kakak tidak tau siapa dia, setelah melihat dia dan dia meminta bantuan akhirnya kakak bantu dia dan menyembunyikannya di dalam mobil."


"Disana lah akhirnya suami ibu itu bercerita kalau mereka sedang di kejar-kejar. Bahkan dari terkahir bertemu di praktek, mereka langsung berpindah ke daerah itu."


"Dan suami ibu itu meminta kakak untuk menyelamatkan istri dan calon anak mereka, dia tidak mau kehilang istri dan calon anak mereka."


"Karena kasian akhirnya kakak membawa mereka kembali ke kota ini dan menempatkan mereka di salah satu rumah singgah yang kami buat khusus untuk membantu orang yang membutuhkan ( rumah yang dibuat oleh Abidzar, Syahril dan kawan-kawan)."


"Yah setelah itu, seperti yang kamu tahu dek. Kakak lebih fokus berkerja di negara kita dengan mengabdi sementara di dusun." ucap Syahril mengakhiri cerita nya.


"Emm jadi jika suatu saat ada lagi yang mengaku-ngaku seperti itu jangan langsung percaya ya," ucap nya dengan mengangkat wajah Mimi untuk menghadap ke arah nya, Mimi mengangguk.


"Maaf." ucap Mimi dengan mengecup bibir Syahril.


"Terus bagaimana kelanjutan ceritanya sampai akhirnya baby twins bisa bersama kita dek?" tanya Syahril yang ingin mendengarkan lanjutan cerita Mimi.


"Emm seperti yang kakak ceritakan, bahwa mereka berasal dari negara kita dan hidup mereka seakan lintang Lantung di negara ini."


"Dan sebagian cerita nya sama seperti yang di cerita kakak tadi."


Flasback on


Setelah Mimi mendengar cerita dari dokter Angela dan membuat Mimi tidak memiliki konsentrasi buat berkerja lagi, akhirnya Mimi memutuskan untuk kembali ke apartemen, apa lagi saat ini musim salju.


Sewaktu menunggu lift Mimi bertemu rekan sejawatnya lagi, lagi dan lagi rekan dokter yang juga berprofesi sebagai dokter kandungan itu bercerita tentang si ibu itu.


"Hai Mi" sapa si dokter.


"Hai dok" jawab Mimi.


"Apa kabar nih? selamat ya atas pernikahan nya. Emm ngomong-ngomong kapan pestanya." ucapnya.

__ADS_1


"Hehehe makasih, Alhamdulillah baik. Insya Allah jika tidak ada halangan dua bulan lagi." jawab Mimi waktu itu.


"Em... oh ya Mi, apa sudah bertemu dengan. Angela?" tanya nya, Mimi hanya menautkan kedua alisnya. Seolah dia tau maksudnya Mimi menautkan kedua alis dia pun melanjutkan pembicaraannya.


"Emm sudah ya?, emm mungkin Angela sudah bercerita padamu kan?" ucapnya dengan menelisik wajah Mimi sekilas.


"Emm" ucap Mimi.


"Emm sebelumnya aku minta maaf, tapi kasian juga dengan ibu itu. Huhh" ucapnya dengan menghela kan nafasnya.


"Ini sudah hampir sebelas bulan, baru kali ini aku mendapatkan pasien yang kehamilan anak kembar bisa bertahan sampai usia segitu." ucapnya dengan menyandarkan ke dinding.


"Kalau aku boleh minta, tolong hubungi Syahril agar segera kesini."


"Aku juga heran kenapa si ibu ini tetap ingin melahirkan dengan Syahril, bahkan aku dan Angela sampai berpikir ada hubungan apa dia dengan syahril.'' ucapnya sambil menatap lurus sambil melipat tangannya.


"Tapi pikiran negatif kami langsung terpatahkan saat terakhir kemarin dia datang bersama suaminya."


"Dan sang suami pun meminta hal yang sama, emm.. Tapi tadi pagi dia bertemu dengan ku dan dia menanyakan mu Mi." ucapnya.


"Hah, aku.." ucap Mimi dengan menunjukkan dirinya.


"Kita masuk lift dulu yuk." ucapnya ketika lift yang kami tunggu sudah terbuka dan mereka pun masuk kedalam lift."


"Iya tadi pagi aku bertemu dengannya, dia tetap rajin Konsul masalah kehamilan nya itu." terangnya.


"Dia ingin bertanya apa kamu sudah kembali dan masuk kerja, awal aku bilang belum. Aku tidak tau kalau kau sudah kembali."


"Aku hanya jawab mungkin besok dirimu kembali."


"Kenapa dia menanyai ku?" tanya Mimi, si dokter itu hanya mengangkat kedua bahunya.


"Mungkin, dia minta persetujuan mu kali heheh." uacobya dengan kekehan.


"Persetujuan apa?" ucap Mimi lagi.


"Ya persetujuan agar kau izinkan dia melahirkan bersama suami mu, atau minta kamu bantu persalinan nya." ucapnya.


"Ckk mana ada, bagaimana aku mau bantu persalinan nya, lah aku bidangnya beda. Seharusnya ya kamu dengan dokter Angela yang membantunya." ucap Mimi.


"Ya tak tahu lah aku." ucapnya dan lift kembali terbuka.


"Emmm oke." jawab Mimi,akhirnya mereka pun berpisah.


Di hari seninnya, Mimi sudah mulai menjalankan ujian Disertasi nya di awal tahun.


Di saat Mimi sedang ujian, ponselnya tidak Mimi aktif di sepanjang ujian tersebut sehingga Mimi tidak tau apa ada panggilan atau pesan.


Yah semenjak cerita dari dokter Angela dan rekannya, Mimi sudah berusaha menghubungi Syahril dengan mengirim pesan namun sampai saat ini Mimi belum mendapatkan kabar dari Syahril.


Disaat Mimi dan teman-temannya yang sesama dari negaranya keluar dari gedung kampusnya, Mimi di panggil seseorang.


"Mimi.." panggil orang itu dengan melambaikan tangannya, Mimi menoleh ke arah asal suara dan balas lambaian nya.


"Eh kak." ucap Mimi ketika telah sampai di hadapan orang itu yang tak lain adalah dokter Angela.


"Oh ya, ini lah dokter Mimi" ucap dokter Angela kepada seseorang yang berada di sampingnya.


"Dokter Mimi.." ucap seseorang itu dengan menyalami Mimi.


"Iya" jawab Mimi dan menerima salaman orang tersebut.


"Emm apa kita bisa bicara?" ucapnya dengan menggunakan bahasa Indonesia, Mimi terkejut jika orang yang bersama dokter Angela bisa berbahasa bahasa negara asal Mimi.


"Oh boleh." ucap Mimi dengan melihat ke arah dokter Angela meminta penjelasan.


"Dia adalah orang yang kemarin ku ceritakan padamu." ucap dokter Angela.


"Oo" ucap Mimi mengerti apa yang dimaksud.


"Emm, bagaimana kalau kita bicara di cafe depan." ucap Mimi.


"Boleh" jawabnya.


"Dokter Angela, bisa temani kami?" ucapnya lagi meminta dokter Angela untuk ikut serta.

__ADS_1


"Baiklah" ucap dokter Angela dengan tersenyum.


"Emm mari, tapi bentar saya pamit dengan sahabat saya dulu." ucap Mimi.


"Oh tidak apa dok, ajak aja sekalian temannya." kali ini yang berucap laki-laki yang berada di samping si ibu ini.


"Dia suami saya dok." ucap si ibu.


"Oh baik lah." jawab Mimi dan akhirnya Mimi pun pergi ke cafe yang berada di depan kampusnya bersama mereka dan teman-temannya.


Si suami ibu ini sengaja mencari tempat yang berada di tengah yang mana ada meja serta kursi yang cukup kami tempati.


Mimi tidak tau kenapa mereka memilih tempat duduk seperti ini, apa lagi yang dipikiran Mimi jika kedua pasangan suami istri ini pasti akan bercerita yang privasi.


"Maaf saya sengaja memilih tempat duduk seperti ini" ucapnya, Mimi hanya mengangguk.


Satu yang Mimi heran kan mereka tidak melepas hodie di kepala mereka dan masker mereka. si suami menyuruh istrinya untuk duduk membelakangi arah pintu masuk sedangkan dia berada di samping meja dengan membawa kursi lain.


"Sebelumnya kami minta maaf jika kami menganggu dokter Mimi." ucap si suami mengawali maksud dan tujuan mereka.


"Kenalkan nama saya Syamir Ahmad, emm ini nama muslim saya." ucapnya.


"Dan ini istri saya Azzahra Rahimah, emm sebenarnya kami mau meminta tolong sama dokter Mimi dan dokter Syahril." ucap nya lagi, Mimi hanya dia menyimak dan menunggu apa yang akan dia ceritakan.


"Emm saya bertemu dengan dokter Syahril sewaktu usia kehamilan saya memasuki bulan ke empat." sambung istrinya.


"Ini adalah anak pertama kami, saya beruntung dan berterima kasih bisa bertemu dengan dokter Syahril." ucapnya.


"Mungkin tanpa bantuannya kami sudah tiada di dunia ini." ucapnya, Mimi reflek memegang tangan si ibu dan mengelusnya memberikan ketegaran.


"Ini anak pertama kami yang kami tunggu-tunggu selama lima tahun ini, semenjak bertemu dengan dokter Syahril dan atas bantuannya yang menolong kami terutama suami saya sewaktu di daerah sebelah, membuat kami semakin yakin untuk meminta pertolongan kepada dokter Syahril."


"Saya selalu datang ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan saya setiap saya periksa saya tidak bertemu dengan dokter Syahril lagi.''


"Beberapa kali saya periksa tetap tidak bertemu dan akhirnya saya bertanya kemana dokter Syahril, pihak rumah sakit menjawab kalau dokter Syahril tidak berada di negara ini."


"Ya setelah pemeriksaan awal dengan dokter Syahril, dokter selanjutnya yang saya jumpai adalah dokter Angela." terangnya.


"Sebenarnya kami bisa di negara ini karena kami kabur dari negara kami." ucapnya lagi.


"Dan maaf jika istri saya menggunakan nama dokter buat rekam medisnya dan nama saya di buat nama dokter Syahril." sambung suaminya.


"Hari ini kami memaksakan diri untuk bertemu dengan dokter Mimi, setelah kami mengetahui kalau dokter Mimi telah berada di sini." ucap sang suami.


"Maaf jika kami sampai menyusul ke kampus." imbuhnya. Mimi masih diam membiarkan mereka menceritakan semua maksud dan tujuan mereka.


"Kami berdua merasa sudah tidak punya waktu lagi sehingga kami sampai menyusul kesini."


"Sebenarnya kami ingin meminta tolong dan ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami kepada dokter Mimi."


"Istri saya dan saya dari awal bertemu dengan dokter Syahril sepakat untuk meminta tolong kepada dokter Syahril untuk menerima bayi kami." ucap si suami.


"Emm maka nya saya selama ini saya selalu bertanya kepada dokter Angela kemana dokter Syahril. Saya juga ingin yang membantu persalinan saya adalah dokter Syahril karena kami ingin langsung menyerahkan bayi kami kepada nya." ucap si istri.


Deg, detak jantung Mimi tak beraturan. Pikiran negatif itu selalu ada, "ada apa dengan emua ini" itulah yang selalu menjadi pertanyaan dalam hati Mimi.


"Kenapa kalian ingin memberikan bayi kalian kepada suami saya?" akhirnya Mimi pun mengutarakan apa yang selama ini ingin di utarakannya.


"Bukannya ini anak pertama kalian dan telah lama kalian nantikan? terus kenapa kalian ingin memberikannya kepada suami saya." ucap Mimi lagi.


Tanpa sepengetahuan Mimi dokter Angela dan salah satu sahabatnya yang sama-sama ikut ujian Disertasi tadi merekam pertemuan ini.


"Sekali lagi kami ucapkan maaf, kami berdua hanya ingin keturunan kami selamat." ucap sang suami, ucapannya ini membuat semua nya terheran.


"Menyelamatkan?" celetuk salah satu sahabat Mimi.


"Emm iya, makanya saya meminta kalian juga ikut. Kami membicarakan ini semua pun penuh dengan kewaspadaan, kami merasa waktu kami sudah tak banyak."


"Coba ceritakan mas, ada apa biar kami ikut membantu" ucap sahabat Mimi yang cowok.


"Iya betul itu, coba kalian ceritakan." ucap dokter Angela.


"Sebenarnya kehidupan kami tidak lah tenang, kemana kami pergi selalu di ikuti." ucap sang suami.


"Di ikuti siapa? dan kenapa?" tanya dokter Angela lagi.

__ADS_1


"Emm sebenarnya, emm..."


*TBC*


__ADS_2