
Tepat suara adzan ashar berkumandang, mereka sampai dikediaman simbah. Yang seharusnya mereka menempuh perjalanan dua jam, saat ini mereka menemluh lebih dari dua jam.
"Akhirnya sampe juga." ucap Irsyad yang langsubg merenggangkan otot-otot nya.
"Huh kenapa perjalanan kita jadi lama ya?" tanya Muthia.
"Gimaba nggak lama, lah kita berhentinya nggak tangung-tanggung.'' jawab mbak Aish.
"Yo wes Yo wes, ayo pada masuk dulu.'' ucap simbah yang telah membukakan pintu dan mengajak semua nya masuk.
Semua barang telah diturunkan, simbah terperangah kala barang-barang dari dua mobil lainnya juga ikut turun di depan rumahnya.
"Loh loh ini punya nya siapa mas?" tanya simbah Marni kala supir dan kernetnya yang tak lain karyawan toko elektonik menurunkan kardus berukuran besar itu dan membawa masuk ke dalam rumah.
"Buat ibu dan bapak." ucap abi Arsyad.
"Loh tapi simbah nggak beli barang ini semua, duh Gusti, sinten sejatine sing duwe iki( duh ya allah sebenarnya ini punya nya siapa )." ucap simbah yang khawatir mereka salah alamat.
"Mbah, nggak usah khawatir. Itu semua buat simbah.'' ucap mbak Aish dengan merangkul simbah.
"Iya bu, ini semua rezeki buat ibu dan bapak." ucap ummi dengan tersenyum.
"Ya allah, simbah jadi merasa nggak enak ati sama kalian. Simbah malah ngerepotin kalian malahan." ucap simbah dengan deraian air mata haru.
"Mbah nggak ngerepotin kok, justru kami yang ngerepotin simbah." sahut Irsyad yang baru masuk.
Mimi yang melihat simbah menangis haru juga ikut meneteskan air mata nya.
"Ndok, makasih ya." ucap simbah pada mini dan memeluk serta menciumi wajah Mimi.
"Loh kok makasihnya sama Mimi sih mbah. Yang ngasihkan mereka, abi sama umminya mbak Aish dan Irsyad.
"Iya.. Makasih ya pak, buk..Aish, Irsyad." ucap simbah pada keluarga abi Arsyad dengan senyum terukir di sudut bibir nya
"Iya mbah sama-sama." jawab ummi dan abi.
"Saya juga berterimakasih sama simbah, karena ngizinin kami liburan disini." ucap ummi dengan merangkul lengan simbah seraya memegang tangan simbah dan menepuk tangan simbah dengan lembut.
"Justru simbah yang senang kalian mau main di gubuk simbah ini." jawab simbah wedok.
"Bune bune.." teriak simbah lanang sembari masuk kedalam rumahnya.
"Onoo opo to pak teriak-teriak." jawab simbah.
"Ya Allah bune,apa sing tak impekake bengi-bengi nganti tekan angin gedhe kaya ngene bune." ucap simbah lanang dengan haru terhadap sang istri.
(Ya allah bu, mimpi apa kita semalam sampai dapat rezeki nomplok kayak gini )
"Yo yo pak, Aku ora ngerti Pak, kenapa Gusti Allah ngongkon wong-wong apik mau menyang kita. Sanajan kita dudu apa-apa ne." jawab simbah wedok yang haru atas kebaikan ummi dan abi.
( iya ya pak, aku ya tidak tau juga pak, kenapa allah mengirim orang-orang baik ini sama kita. Padahal kita bukan siapa-siapa nya)
"Ya allah gusti matur nuwun kanggo rezeki. Matur nuwun nak, muga-muga Gusti males kabeh kabecikan sampeyan marang kita"Simber mengucapkan syukur pada allah swt dan berterimakasih pada abi dan ummi.
(Ya allah terimakasih atas rezekimu, terimakasih nak, semoga allah membalas segala kebaikan kalian sama kita ).
Simbah lanang memeluk abi dengan deraian air mata nya. Sesungguhnya dia merindukan sang putra yang sudah puluhan tahun tak menjenguk mereka, usahkan menjenguk, mengirim kabar pun tidak.
"Terimakasih, terimakasih atas kebaikan kalian." ucap simbah yang masih dalam pelukan abi.
"Sama-sama pak, semoga semuanya bermanfaat." jawab abi.
"Pak, sekarang kita bisa liat tv lagi." ucap simbah wedok yang melihat orang dari toko sedang memasangkan kabel-kabel antena ke tv.
Mereka telah lama tidak melihat tv semenjak tv mereka jual buat pengobatan simbah lanang.
Kebahagian itu sangat sangat sederhana yaitu dengan berkumpul bersama keluarga, bersama sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.
Kebhagian yang dirasakan dua insan lanjut usia ini sangat berkesan pada mereka berdua. Dimana ke empat anak yang tak pernah berkunjung maupun berkabar, di ganti dengan orang-orang yang baik terhadap mereka.
Simbah yang biasa tunggal berdua saja di rumahnya, mqlqm ini hingga dua malam besok di temqni oleh keluarga barunya.
Simbah lanang merasa sangat senang ketika mereka tak hanya mendapatkan hadiah berupa tv dan mesin cuci serta yang lainnya.
Simbah sangat senang menerima haeiah berupa sepeda motor. Lima belas tahun sudah dia tidak mngendarai motor.
Yah limq belas tahun lalu dia menjual motornya untuk biaya kuliah anaknya nomor tiga.
Dimas mengajak simbah untuk mengetesnya naik motor kembali. Awalnya simbah takut karena telah lama tidak memakai motor, lama kelamaan akhirnya simbah pun memiliki keberanian kembali.
__ADS_1
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar,para tetangga turut bahagia dan terharu kepada dua orang tua ini.
Sebagian dari mereka tau bagaimana kehidupan simbah ini. Bahkan salah satu anak tetangga adalah teman anak simbah bahkan mereka satu perusahaan di kalimantan.
Berulang kali teman anak simbah ini menasehati tetapi dia hanya mensengarjan namun tidak ada juga niatan mereka untuk pulang menyambangi kedua orang tuanya.
Setiap anak tetangga nya pulang saat lebaran, simbah selalu datang ke tetangganya dan menanyakan perihal anaknya. Anak tetabgganyabteroaksa berbohong hingga kini karena tidak tega melihat simbah sedih penuh harap kehadiran sang buah hati di bulan suci nan fitri.
Beberapa kali simbah tidaj mendaoatkan jawaban yang memuaskan dari anak sitetangga, semenjak itu pula simbah mengubur segalq harapannya.
Malam hari merek makan bersama dengan menu sedikit mewah, ummi memasak rendang daging, namun tak lupa sayur urap buatan simbah huga ada.
Namun masakan ummi haya oara vewek yang makan karena para lelaki dirumah simbah pergi ke musholla sekaliqn akan yasinan di masjid.
Karena kami menginap mulai malam jumat dan sudah sebuah tradisi di desa, tiap malam jumat diadakan yasinan bergilir.
Namun malam ini pihak yang mendapat giliran meminta ketua yasinan bahwa bagian nya diadakan di musholla karena rumah mereka kecil.
Maka dari itu simbah lanang, abi dan para lelaki pergi ke musholla untuk turut hadir diacara itu.
Simbah dan ummi nehitu sangat dekat, ummi juga meminta tolong di pijat oleh simbah, begitu pula dengan mbak Aish.
Merka saling bercerita satu sama lain, tangan simbah sangat terampil dalam memijat, umma yang ei pijat pun merasa nyaman.
Simbah menceritakan tentang anaknya kepada ummi dan kepada semua, tqk lupa pula dia selalu memberikan nasihat-nasihatnya pada mereka swlemua.
Sehabis isya merekq pqrw lelaki pulang dengan membawa bekal dari warga yang menyelenggarakan.
"Bi, apa abi sudah makan?" tanya mimi yang ngak malu-maluin.
"Sudah tadi di musholla, kenapa nak?" tanya abi.
"Hehhee boleh nggak itu nya buat Mimi?" ucap Mimi cengengesan dengan menunjuk kresek yang dibawa abi dengan dagu dan matanya.
"Oo ini boleh, nih." jawab abi dan menyerahkan ke Mimi namun belum sampai tangan Mimi disambar mbak Aish.
''Eitss mbak duluan" ucap mbak Aish yang sudah lebih dulu mengambil bekal tersebut.
"Ya mbak, kan Mimi duluan yang minta ke abi." ucap Mimi dengan mengkrucutkan bibirnya.
"Kamu suka juga Mi bekal dari kendurian gitu?" tanya ummi.
"Iya Mi, dulu kalau di rumah bapak pulang yasinan Mimi selalu nungguin bekalnya." jawab Mimi dengan mata yang kesal karena bekal yang di rampas sudah di nikmatu oleh mbak Aish seorang.
"Mau mi? enak lo Mi, nih ada peyeknya juga hmmmmm uenak tuenan rek." mbak Aish menawari Mimi dengan ekpresi pamer ke Mimi, mimi melihat mbqk qish dengan sebel.
"Nih Mi," ucap Dimas dan Saridi serentak memberikan bekal nya pada Mimi.
"Eh, beneran nih?" tanya Mimi pada mereka berdua dengan girang.
"Iya" jawab mereka berdua dengan senyum.
"Wah rezeki anak sholehah minta satu dapat dua." ucap Mimi dengan berkedip mata dengan mbak Aish.
"Dek, punya kamu mana?" tanya mbak Aish pada Irsyad.
"Pubya Icad tadi Icad kasih ke anak tetangga persimpangan karena si bapak cuma bawa satu tapi ternyata anaknya ada tiga." jawab Irsyad.
"Loh simbah mu mana le?" tanya simbah wedok pasa Irsyad.
"Masih di luar mbah, tadi ketemu mas Wiryo kalau nggak salah namanya." jawab Irsyad.
"Oh jadi Wiryo dah sampe?" ucap simbah lirih.
"Emang dia siapa mbah?'' tanya ummi.
"Dia anak tetangga yang kerja di kalimantan." jawab simbah dengan menghelakan nafas panjang.
Ummi dan yang lain terdiam melihat simbah dengan mata yang sendu.
"Sudah mbah nggak usah sedih, kan sudah ada kami disini." ucap Mimi dengan langsung merangkul lengan Simbah.
"Iya untung ada kamu ndok.' jawab simbah dengan tersenyum dab mengelus lengan Mimi.
Ummi melihqt Simbah yang begitu dekat denagn Mimi merasa kagum.
"Andaikan kita bukan saudara kak, aku pastikan Mimi menjadi menantuku." gumam ummi dalam hati.
"Pantesan saja kak Aisyah dan bang Syarief sangat menyukainya. Kebaikan nya tak memndang bulu. Hatinya begitu baik,santun dan hormat pada orang tua."ummi terus memuji Mimi dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama simbah lanang samoe rumah.
"Assalamualaikum'' ucap simbah.
"Waalaikum salam.'' jawab semua.
Simbah masuknledalam rumah sengan senyum yang mengembang dan membawa satu kresek ditangannya. Simbah berjalan langsung mendekati Mimi.
"Nih ndok buat kamu." ucap simbah lanang dengan memberikan kresek yang di bawanya pada Mimi, Mimi pun menjahili mbak Aish dengan mengangkat kresek nya dengan memainkan matanya ke mbak Aish.
Mbak Aish bersidekap dada dan mengalihkan pandangan nya angkuh.
"Hahahahaa" Mimi tertawa melihat mbak Aish terpojokkan.
"Makasih mbah, ini dua aja belum Mimi buka." jawab Mimi.
"Yo wes cepet di maem." ucap simbah yang berlalu masuk kamarnya buat ganti pakaiannya.
"Siap Mbah." jawab Mimi.
Mimi mengambil dua kresek pemberian Dimas dan Saridi, dua kresek itu Mimi berikan ke Muthia dan Selfia.
"Nih buat kalian." ucap Mimi dengan menyodorkan dua kresek tersebut.
"Lah Mi itukan punya kamu." ucap Muthia.
"Eh Mi, nggak usah Mi. Buat Mimi aja" tolak Selfia.
"Nggak apa Muth, Fi. Mimi nggak maruk juga kali, ini Mimi makan yang dikasih sama Simbah." jawab Mimk dengan menunjuk kresek pemberian Simbah.
"Kalian nggak tau aja, ada kenikmatan sendiri memakan berkah begini. Cobain deh pasti nagih, walaupun masakan nya sederhana tapi nimat." ucap Mimi dengan memakan urap yang ada di dalam bekal tersebut. Jadilah para cewek makan dua kali malam ini.
Keesokan paginya Simbah nggak kepasar karena ada kami. Simbah banyak bercerita pada Abi dan Ummi, perihal rumahnya.
Yah rumah Simbah itu modelnya memanjang. Di tengah buat rumah ada ruang tamu dan kamar, di samping kiri dapur dan dibelakangnya nyambung kamar mandi, sebelah kanannya dulu kata Simbah di buat kandang kerbau.
Dulu Simbah juga memiliki sawah dan ladang walauntak banyak tapinitu cukup buat kebutuhan mereka sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya dulu. Tapi semua sudah terjual kala sang anak-anak duduk di bangku perkuliahan.
Terakhir mereka menjual kerbau mereka untuk biaya pernikahan anak bungsu mereka.
Sekarang harta Simbah tinggallah rumah dan pekarangan dan sisa tanah yang tak luas lagi karena juga terjual sedikit-sedikit untuk biaya pengobatan Simbah waktu itu.
Saat dimasa tuanya Simbah hanya hidup berdua tanpa ada anak maupun cucunya yang menemaninya. Harapan tinggalkan harapan, mereka tak lagi mengharapakan kedatangan si buah hati.
Mungkin sang buah hati muak terhadap mereka berdua kala Simbah butuh biaya pengobatan rawat jalan. Mereka semua hanya membantu orang tua nya sebanyak paling banyak lima kali, setelah itu semua kontak tak bisa di hubungi lagi, bahkan rumah anak bungsunya yang dahulu masih di wilayah kota ini pun telah pindah tanpa memberi kabar pada mereka berdua.
Orang tua dapat menghidupkan dan menjaga sepuluh Bahakan seratus anak. Namun satu anak tak sanggup menghidupkan kedua orang tua yang sudah renta.
"Oh ya pak, apa harapan kalian berdua sekarang?" tanya Abi pada simbah.
"Yo harapan Simbah yo nggak muluk-muluk, Simbah yo pengen kumpul sama anak mantu dan cucu." jawab simbah Lanang yang masih menaruh harapan pada anaknya.
"Anak Simbah tinggal dimana aja?" tanya Ummi.
"Kami ya nggak tau dimana mereka tinggal sekarang." jawab simbah dengan !menghelakan nafas panjang.
"Seng bungsu aja dulu tinggal di kota ini aja udah nggak tau dimana dia." ucap Simbah wedok dengan meneteskan air mata.
"Simbah nggak nanya sama tetangganya dia pindah kemana?" tanya mbak Aish.
"Sudah ndok, mereka juga ndak tau. Kata mereka si Fitri sudah berhenti diperkerjaanya dan katanya ikut suaminya." terang Simbah dengan mata yang sembab oleh air mata.
Fitri adalah anak bungsu dari empat saudara, dia kuliah di Akper, sedangkan kakaknya Wati kuliah di bagian sekretaris. dua masnya Arga anak pertama Simbah kuliah di bagian tekhnik, dan Agus di bagaian manajemen.
Semua anak Simbah menempuh pendidikan tinggi dan mereka semua merupakan anak terpelajar. Namun sikap mereka saat ini mungkin sedang teruji dengan mengabaikan kedua orang tua yang memberikan pendidikan itu kepada mereka.
"Emm kalau mas nya dimana pak?" tanya Abi pada simbah.
"Setau Simbah ya mereka berdua berkerja di perusahaan batu bara di Kalimantan, dulu awal-awal mereka juga jarang pulang karena baru berkerja, setelah itu mereka ya pulang setiap
lebaran. cuma tiga kali lebaran setelah itu nggak pernah pulang lagi." curhat Simbah Lanang.
"Itu si Wiryo teman dia yang dulu nawarin kerjaan sama mereka berdua, tapi kata Wiryo mereka sudah dipindahkan dan Wiryo juga ndak tau mereka tinggal dimana." imbuh Simbah.
"Yaudah Mbah, nanti akan saya coba cari tau lewat rekan-rekan saya yang di sana." jawab Abi ya g akan membantu Simbah.
"Iya nak, makasih banyak. Simbah hanya berharap sebelum Allah menjemput Simbah, simbah ingin berkumpul sama mereka semua." ucap Simbah dengan menghalus air matanya.
Janganlah pernah kita mengabaikan orangtua kita sekalipun mereka pernah menyinggung atau menyakiti hati kita, ingatlah surga kita ada di bawah kaki mereka berdua. Tanpa mereka hidup kita bukan apa-apa.
__ADS_1
tbc.
Assalamualaikum selamat sore, mohon maaf baru bisa up HP authore bermasalah lagi, pakek HP baheula eh nulis ini sedari pagi baru kelar karena lain yang di tulis lain pula yang muncul. Jika ada kata yang sekiranya tak bisa terbaca mohon maaf.