
Sepulang dari makan tekwan, Di'ah masih geram dihatinya melihat emak-emak rempongitu ternyata ngumpul di rumah tetangga samping rumahnya.
"Udah Di'ah, ndak usah di ladeni lagi. Semua orang juga tahu siapa mereka." ucap Emma.
"Hem, lihat aja kalau sampe aku dengar mereka buat gosip lagi." jawab Di'ah.
"Udahlah ndak usah di tanggapin. Mereka mau bilang apa biarin saja emang nyata benar kok Mimi di tinggal kaw*n hehee, tapi mereka tidak tau hal yang sebenarnya saja." ucap Mimi.
"Bukan mereka saja Mi, tapi kami juga belum tau." celetuk Sila.
"Oh ya, hahaa dah lah nggak perlu tau. Kalau tau nyesek di hati." jawab Mimi dan berlalu mendahului mereka.
Sesampainya di rumah, Mimi menghelakan nafas panjangnya. Mungkin jika dia sendirian dia akan meluapkan nya dengan tangisan, namun saat ini dia tidak sendirian maka dia tak akan menampakkan kesedihan di hatinya.
Malam hari mereka berkumpul sambil !e!akan camilan di serambi / teras sambil bercengkerama dengan adik-adik Mimi.
Mereka duduk santai di serambi hingga hampir larut.
Emma yang sibuk melihat ke HP nya tiba-tiba terdiam menyaksikan HP nya. Manda dan Sila melihat ke arah nya yang mendadak diam begitu pula Mimk dan Di'ah.
"Emm ada apa? kenapa diam?" tanya Sila namun tak di gubris oleh Emma.
"Emm." panggil Manda
"Emm emang ada apa sih? tuh HP kenapa kok bisa buat Emma resek terdiam." ucap Di'ah.
Huuuum huh Emma hanya menarik nafasnya dalam.
"Ada ndak orang nikah, terus nikahnya di mulut lain di hatinya lain?" ucap Emma dan membuat semua terbengong karena ucapannya.
"Maksudnya apa Ma?" tanya Manda.
"Iya maksudnya apa? mana ada nikah keg itu." ucap Sila.
"Mi, Mimi yakin ndak kalau pernikahan kak Syahril bahkan sah?" tanya Emma.
Deg semua orang tercengang akan ucapan Emma. Mimi terdiam Mimi tau kemana arah pembicaraan Emma.
"Coba kalian buka HP kalian dan buka group kita, novi ada kirim video disana." ucap Emma sontak Sila, Manda dan Di'ah pun mengambil HP nya dan melihat video kiriman Novi di group dengan caption, 'Bibir ku boleh namanya, hatiku tetap dirimu'.
Mimi melihat video itu dengan seksama yang mana video itu adalah saat Syahril berhadapan di depan penghulu untuk mengikrarkan sumpah janji suci pernikahannya.
Tak hanya Mimi ketiga sahabatnya pun melihat video itu, mereka merasa sedih ketika melihat bagaimana Syahril mengucapkan ijab dihadapan penghulu itu.
Terlihat wajah Syahril yang tak ada kehidupan disana, hanya tubuhnya yang ada di hadapan penghulu namun hati dan pikiran serta raganya entah kemana.
Mimi melihat video itu sampai menitikkan air mata, dimana disana juga terlihat Umma dan Babah yang juga ikut menitikkan air mata nya. Sesak itu yang Mimi rasakan saat ini, melihat wajah mereka bukanlah wajah kebahagiaan.
cling suara chat group masuk.
"Mimi, kebahagiaan mereka semua ada dikamuš„." chat novi diakhiri emot sedih. Bibir Mimi bergetar menahan isak tangisnya.
"Mi.." panggil Di'ah saat melihat bibir dan tubuh Mimi bergetar menahan tangis.
Huuuum huuuuh Mimi menarik nafasnya berulangkali. Semua sahabatnya memeluk Mimi untuk menguatkan Mimi.
"Ckk apa lah kerjaan Novi ini, ndak ada kerjaan lain apa." sungut Di'ah.
"Mi," panggil Emma, Mimi hanya diam dan berulang kali menarik nafasnya.
Mimi berusaha tegar dan kuat dihadapan semua orang walau hatinya saat ini begitu rapuh ditambah melihat video kiriman Novi di group chat.
"Maafkan Mimi kak, maafkan Mimi Umma, Babah." ucap Mimi dalam hati.
"Mi, kaalau mau nangis nangislah jangan ditahan." ucap Di'ah yang sudah!menitikkan air mata.
Sejujurnya Di'ah pun merasakan sakit di hatinya, bukan dia menyalahkan Syahril atau pun Mimi. Tapi karena perjodohan itupun dia juga berpisah dengan orang yang sangat disayangi dan dicintai nya.
Walau berulangkali Mimi memintanya agar memutuskan kak Ryan namun dia tetap memutuskan nya. Di'ah tidak bisa jika dia berduaan sama Ryan sedangkan Mimi sendiri melihat sahabatnya bahagia.
"Udah, kita tidur saja yok. Sudah malam." ucap Mimi dan mengajak mereka semua. Tanpa menunggu jawaban dari sahabat-sahabatnya Mimi langsung berlalu masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.
Otak dan Mimi hanya terbayang Syahril yang telah mengucapkan ijab qabulnya. Yang bikin Mimi sedih bukan masalah pernikahannya namun ijab yang diucapkan Syahril salah hingga tiga kali. Sehingga pak penghulu menyuruhnya untuk beristighfar berkali-kali barulah yang ke empat kali sesuai dengan yang seharusnya.
"Saya terima nikah dan lainnya Mimi Akifah binti Humayun dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan seberat 250gram tunai" terngiang-ngiang kata-kata itu di pikiran Mimi.
Yah Syahril mengucapkan ijabnya dengan nama Mimi Akifah bukan nama calon istrinya yang bernama Zulfa Azzahra, Mimi menitikkan air matanya. Mimi menangis dalam diamnya.
Keempat sahabat Mimi masih membahas soal Mimi di serambi. Di'ah pun menceritakan yang sebenarnya pada mereka bertiga. Kalau Syahril dijodohkan oleh kakeknya sedari dulu.
"Kenapa Di'ah baru bilang sekarang?" tanya Emma.
"Sebenarnya aku juga baru tahu minggu lalu dari kak Ryan." jawab Di'ah.
"Jadi Di'ah putus sama kak Ryan?" tanya Sila.
"Hemmm, mana mungkin bisa aku bahagia sedangkan Mimi... Kalian kan tau kalau kak Ryan dan kak Syahril sepupuan. Mana mungkin aku terus bersama nya bila keadaan Mimi saja tidak sedang baik-baik saja." Di'ah menjelaskan semua pada ketiga sahabatnya.
"Tapi Di'ah, pasti Mimi ndak setuju kalau Di'ah putus sama kak Ryan?" ucap Manda.
"Iya Nda, Mimi berulang kali meminta aku untuk tidak putus. Tapi aku ndak bisa Nda." ucap Di'ah yang ikut menitikkan air matanya.
"Aku merasakan disini bukan kak Syahril maupun Mimi yang sakit hatinya, tetapi kedua orang tua kak Syahril pun juga. Lihatlah di video itu saat Syahril mengucapkan ijab nya dengan nama Mimi." ucap Emma dan di betulkan oleh ketiga sahabatnya.
"Tak hanya orang tua kak Syahril, namun semua anggota yang lain pun begitu." ujar Sila.
__ADS_1
"Ya Allah, kasian Mimi. Pasti berat dia mengambil keputusan itu." ucap Manda.
"Apa kita cegah Mimi supaya ndak datang saja besok." ucap Sila.
"Bagusnya begitu, tapi aku rasa Mimi tetap harus datang untuk membuktikan bahwa dirinya kuat." ucap Emma.
"Huuum huhh" mereka menarik nafas panjang serentak.
Didalam chat Di'ah membalas chat Novi.
"Kenapa harus dikirim Nov?" Ucap Di'ah
"Apa Novi ndak kasian melihat Mimi?" ucap Di'ah lagi.
"Maaf Novi cuma mau kasih lihat, kalau kak Syahril hanya mencintainya." balas Novi.
"Kita semua tau Nov kalau mereka saling mencintai tapi bukan berarti kita tambah torehan luka di hati Mimi." jawab Di'ah.
"Iya Nov, betul apa yang dikatakan Di'ah." ucap Emma membalas chat tersebut.
"Maaf, aku hanya kecewa sama Mimi kenapa dia ambil keputusan seperti itu." balas Novi yang menyalahkan Mimi.
"Kalau ndak tau masalahnya jangan asal menyalahkan Nov. Disini bukan hanya kak Syahril yang terluka tapi Mimi juga." ucap Di'ah yang kesal dengan ucapan Novi.
"Nov, sebelum menyalahkan orang cari tau dulu kebenarannya." ucap Manda tapi novi tidak lagi membalas chat.
"Dasar Novi taunyq nyalahin orang saja." ucap Di'ah sewot.
"Mungkin dia belum tau kebenarannya Di'ah." ucap Emma.
"Kalau belum tau, sebaiknya diam atau setidaknya bertanya lah dia sama Rendi, jangan asal tuduh." ucap Di'ah yang masih merasa kesal.
"Udah lah kita tidur yok." ajak Di'ah dan mereka pun masuk kedalam kamar dan mengunci pintu pagar serta pintu rumah.
Mereka menghelakan nafas melihat badan Mimi bergetar memunggungi mereka. Mereka tau kalau Mimi sedang menangis.
"Mi, sudah tidur?" tanya Sila. Mimi tidak menjawab.
"Menangislah Mi jangan ditahan." ucap Emma dengan memeluk Mimi dari belakang.
Keesokan paginya, Mimi terbangun terlebih dahulu dari mereka. Mimi langsung menjalankan rutinitasnya. Kepala Mimi merasa pusing mungkin karena semalam dia kembali menangis.
"Ya Allah kuatkan hamba, tambahkan hati hamba. Bantu hamba agar bisa mengikhlaskannya. Berikan dia kebahagiaan, ampuni hamba jika keputusan hamba membuat semua orang sakit hati dan bersedih." Mimi berdoa setelah selesai sholat subuh.
Sehabis sholat Mimi mencuci pakaiannya dan yang lain sambil menunggu cucian dia membantu emak untuk membuat sarapan.
"Mi, apa nanti kamu jadi datang ke acara dia?" tanya emak. Mimi menghentikan mengiris bawang nya dan menghadap ke maknya dengan senyuman.
"Insya allah Mimi datang Mak." jawab Mimi.
"Mimi akan datang sesuai rencana Mimi semalam. Mimi akan datang di sore harinya." ucap Mimi lagi sambil mengiris bawang.
"Insya Allah Mimi akan baik-baik saja Mak. Do'a kan Mimi ya.'' jawab Mimi, emak hanya mengangguk dan memeluk Mimi.
Mungkin Mimi bisa membohongi mata emaknya, tapi hati seorang ibu tau kalau hati anaknya sedang tidak baik.
"Kita balek ke tebing aja ya nak." ucap emak dan Mimi menggelengkan kepala dalam dekapan emaknya.
"Ndak Mak, Mimi tetap balek ke Semarang." jawab Mimi dan melepaskan pelukan Mak.
"Yaudah terserah, tapi ingat jaga kesehatan." ucap emak.
"Iya Mak, insya Allah." jawab Mimi dengan senyuman.
Tak lama sahabat Mimi pun membantu Mimi di dapur kecuali Di'ah, dia harus pulang karena dia harus membantu emaknya.
Saat sarapan ada orang yang datang membawa rantang ke rumah Mimi dan Di'ah, orang itu adalah bang Idho dan bang Erwan. Yah mereka mengantar rantang dari rumah Syahril.
Sudah adat-istiadat disini bila ada nikahan, maka akan diantar makanan ke rumah tetangga atau kerabat.
Bang Idho terkejut kala melihat ada mimi dirumah Nyai nya.
"Mimi" ucapnya dan Mimi hanya tersenyum.
Hati bang Idho pun ikut bersedih, Mimi adalah keponakan nya, Syahril adalah sahabat nya.
"Apa kabar Mi?" tanya bang Idho seraya memberikan rantang kepada Mimi.
"Alhamdulillah seperti yang Abang lihat." jawab Mimi sembari menyalin isi rantang tersebut.
"Kenapa Mimi ambil kepuasan itu dek?" tanya nya dan membantu Mimi menyalin isi rantang.
"Huuuum huuh, buat kebaikan semua bang." jawab Mimi, bang Idho sudah mengetahui semuanya tapi dia ingin tau langsung dari mulut Mimi.
"Memang benar buat kebaikan semua, tapi bagaimana dengan kalian berdua." ucap bang Idho, Mimi diam dan menghentikan acara meyalin isi rantangnya.
"Insya Allah kami berdua akan baik-baik saja." jawab Mimi yang berharap dia dan Syahril kedepannya akan baik-baik saja itulah harapan Mimi.
"Tidak, kalian berdua tidak baik-baik saja." jawab bang Idho.
"Sudah bang, sudah Mimi cuci " ucap Mimi dan memberikan rantang bersih kepada bang Idho.
"Kalian berdua saling tersakiti, kenapa kalian berdua tidak pergi saja dari negeri ini." ucap bang Idho, Mimi hanya tersenyum.
"Pergi bukanlah solusi. Dengan perginya kami maka makin banyak orang yang tersakiti bang. Emak orangtua Mimi, pakdo, bicik bahkan Nyai yang akan kena imbasnya Dari mulut-mulut orang yang tak bertanggung jawab."
__ADS_1
"Bukan dari keluarga ini saja tapi keluarga dia juga, reputasi dan kehormatannya mereka pertaruhkan. Umma, Babah, Abi, Ummi semua nya akan hancur reputasi mereka dalam sekejap karena kebahagiaan kami."
"Ndak bang, Mimi ndak bisa melihat mereka hancur Mimi ndak bisa. Mimi ndak bisa melihat orang tua Mimi, keluarga Mimi di cemooh in orang, dihina orang karena berprasangka buruk pada Mimi."
"Biarlah, sakit itu Mimi rasakan sendiri asalkan mereka jauh dari hinaan, gunjingan dan cemoohan orang lain. Mimi tidak sanggup jika kehormatan dan martabat emak bapak Mimi di remehkan orang lain. Sudah cukup mereka diremehkan, di caci orang lain. Mungkin Allah menegur Mimi dengan masalah ini, Allah menyuruh Mimi untuk terus melanjutkan visi misi Mimi untuk menaikkan derajat orang tua Mimi derajat keluarga Mimi."
"Abang bantu do'a kan Mimi ya, biar Mimi kuat menjalankan semuanya." ucap Mimi panjang lebar menjelaskan pada bang Idho pamannya.
"Huuum huh, abang kasian lihat Syahril, dia sangat tertekan. Bahkan saat ijab yang disebut bukan nama calon istrinya." ucap bang Idho.
Emak, bicik, Tante Zia dan yang lain ikut mendengar semua itu, mereka ikut bersedih, mereka tau pastinya Syahril merasa tertekan dengan semua ini.
"Ini sudah jalan Allah bang, kami hanya umatnya yang mendapatkan bagian skenario nya begini." jawab Mimi dengan menghapus air mata nya cepat.
"Mungkin Allah cuma ngasih kak Syahril sampai kemaren saja, mulai saat ini kak Syahril sudah menjadi suami orang lain." ucap Mimi dengan terus menghapus air mata nya cepat.
"Sudahlah, sana abang pergi bang Erwan sudah nungguin." ucap Mimi mengusirnya dengan menunjuk ke arah Erwan yang sudah berdiri di pintu bersama Emma.
"Hmm iyolah, kalau gitu abang permisi. Assalamualaikum" ucapnya berpamitan pada semua.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan yang lain.
Semua orang terdiam menikmati kembali sarapan mereka.
Siang hari di jam satu, emak, bapak, bicik, Pakcik dan yang lain pergi ke kondangan Syahril.
Setibanya mereka disana, mereka melihat di atas panggung tidak ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajah Syahril dan kedua orang tuanya.
Keluarga Mimi disambut oleh Abi dan Ummi nya kak Ryan serta kak Andri, karena mengenal keluarga Mimi.
"San." panggil abi kak Ryan dan kak Andri kepada bapak.
"Ayo San langsung makan saja." ucap kedua Abi terhadap bapak, pakdo, Pakcik dan Om Adrian.
Mereka menyambut keluarga Mimi bagaikan tamu istimewa. Bagi mereka walau mimi tak menjadi menantu mereka secara nyata namun di hati mereka Mimi tetap bagian keluarga mereka.
Sang kakek melihat kedua anaknya melayani tamu lebih spesial pun mendekat dan bertanya.
"Siapa Riq" tanya Kakek pada Abi Thoriq abinya kak Ryan.
"Oh ya Bah, kenalin ini keluarga dari Mimi." ucap Abi Thoriq. Kakek terdiam, tapi tetap menerima uluran salam dari bapak.
"Dia bapaknya Mimi dan yang ini semua pamannya Mimi." ucap Abi Mansyur abinya kak Andri.
"Saya Kakek nya Syahril." ucapnya, bapak dan yang lain hanya tersenyum.
"Mari San, dimakan dulu " ucap Abi Thoriq, Kakek yang mendengar Abi Thoriq memanggil bapak dan atau besan tercengang dan melihat ke arah Abi Thoriq dan Abi Mansyur.
"Bagi kami dia adalah besan kami." ucap Abi Mansyur yang tau arti tatapan sang Babah nya.
"Jangan begitu pak Mansyur tidak enak bila ada yang mendengar ." ucap pakdo yang merasa tak enak hati.
"Kenapa tidak enak San, bagi kami Mimi tetap menantu di hati kami." jawab Abi Thoriq yang blak-blakan, karena merasa kesal dengan babahnya.
"Emm" jawab pakdo, bapak hanya diam. Dia tak ingin berucap padahal di hatinya sangat berharap Bila Syahril jadi menantunya. Mungkin seperti halnya kedua Abi Syahril, bapak pun akan menganggap Syahril tetap sebagai menantunya.
Setelah makan keluarga Mimi pun naik ke atas panggung dan bersalaman kepada kedua mempelai serta kedua orang tua mereka.
"Selamat ya nak, semoga kamu bahagia." ucap bapak sembari memeluk Syahril, Syahril menggeleng tidak terima ucapan selamat itu.
Syahril menangis melihat keluarga kekasihnya datang di hari pernikahan terkutuk baginya. Syahril berulangkali meminta maaf kepada bapak, emak dan yang lain. Bahkan Syahril sampai ingin bersujud di kaki emak dengan deraian air mata.
Emak memeluknya mencoba menguatkannya.
"Jangan lakukan itu, itu akan semakin membuat orang tua mu malu." ucap emak yang menarik namun Syahril saat akan bersujud di kakinya.
"Maafkan Syahril Mak" ucapnya dengan suara serak dalam pelukan Mak.
"Mak yang minta maaf nak, semoga kamu bahagia ya." ucap emak.
"Ndak Mak, jangan ucapkan itu. Syahril tidak punya kebahagiaan lagi." ucap Syahril.
"Sudah ya nak, terimakasih buat segalanya." ucap emak dan beralih ke orang tua Syahril.
"San." ucap Umma dengan memeluk emak.
"Selamat ya?" ucap emak pada besan tak jadinya.
"Jangan ucapkan itu." ucap Umma dengan menitikkan air mata sama halnya dengan emak.
"Belum jodohnya anak-anak kita " ucap Emak dan selain bersalaman kepada Babah nya Syahril.
"Maafkan kami " ucap Babah
"Tidak ada yang harus dimaafkan." ucap emak dan akhirnya mereka semua pun turun dari panggung itu.
Bagi yang mengenal mereka maka hari ini adalah hari kesedihan bagi mereka.
"Buk" panggil cewek dengan menyalami emak dan yang lain.
"Iya Wi, jaga kandungan kamu ya." ucap emak pada Dewi
"Iya buk, Mimi mana buk." jawab Dewi dan bertanya keberadaan Mimi.
"Dia mungkin nanti kesini." Jawab emak.
__ADS_1
Emak dan yang lain tak bisa langsung pulang karena keluarga Syahril dan Dewi masih mengajak mereka berbincang-bincang, Kakek melihat keakraban yang terjalin antara keluarganya dan keluarga Mimi menjadi terharu dan ada rasa bersalah kala melihat sang cucu juga menghormatinya.
tbc