DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
bagaikan arus yang mengalir


__ADS_3

Malam Minggu di bawah kerlioan bintang, langit cerah walau tanpa bulan.


Mimi yang tidak bisa tidur beranjak dari kasurnya secara perlahan, di lihatnya Muthia yang tertidur pulas karena mungkin dia merasa capek.


Yah Dimas mengajak mereka liburan di salah satu villa milik keluarganya di sebuah pedesaan yang berbukit.


Panorama desa yang asri, udara yang masih segar, di area villa di kelilingi sawah-sawah lara petani.


Mimi berjalan menuruni anak tangga, entah mengapa matanya tak ingin terpejam padahal suasana malam sangat mendukung.


Mimk berjalan sampai menuju pintu, di lihatnya pintu yang masih terbuka.


"Hmm siapa yang masih di luar jam segini." ucap Mimi sambil melihat arlojinya.


Mimk maaih terus berjalan menuju pintu itu, sebelum keluar Mimi mencoba untuk mengintip, takutnya maling yang !membuka pintu.


Mimi bernafas lega setelah mengitip tak melihat ada tanda-tanda bahaya, Mimk keluar dari rumah dan melihat ke selling villa dengan penerangan yang temaram.


Miminlihat di gazebo depan ada seseorang yang sedang duduk sendiri sambil merokok.


"Siapa itu? penjaga villa kah? kalau bukan siapa? di antara mereka tidak ada yang perokok." Mimi terus ngebatin sambil melangkahkan kaki menuju gazebo.


Sesampai di gazebo, Mimi memperlambat langkahnya. Mimi menelisik siapakah orang digazebo itu.


"Saridi." gumam Mimi "Sejak Japan dia merokok." Gumamnya lagi.


Mimk melangkah dan mendekati nya, Mimi duduk disampingnya Saridi yang sedang menatap keindahan desa di malam hari dengan rokok yang masih terselip di antara dua jarinya.


"Sar." panggil Mimi.


"Astaghfirullah, Mi Mimi." ucal nya terperanjat kaget sambil mengelus dadanya.


"Sejak kapan kamu ada disini?" tanya nya lagi sambil membuang puntung rokok di bawah dan di injaknya.


"Sejak kapan kamu jadi perokok Sar?" Mimi tidak menjawab pertanyaan Saridi melainkan bertanya kepada Saridi.


"Hmmmm huhhh" Saridi menarik nafasnya.


"Emm dahnlama cuma jarang." jawabnya.


"Kenapa merokok? ada masalah?" tanya Mimi lagi..


"Lihat Mi, indah ya desanya kalau dilihat dari atas sini di tambah kerlioan bintang." ucap Saridi !mengalihkan omongan.


"Sar." panggil Mimi.


"Nggak usah di bahas." jawab Saridi dengan terus melihat keindahan desa yang berada di bawah sana.


Mimi pun ikut melihat keindahan tersebut, udara yang segar dan dingin tak menampik jika desa ini masih terawat.


"Sar," panggil Mimi.


"Hmm.." jawabnya.


"Emm gimana Mi? apa Syahril sudah bisa di hubungi?" tanya Saridi tanpa melihat ke arah Mimi.


"Belum." jawab Mimi dengan menggelengkan kepala dengan tatapan menuju ke arah kerlioan lampu di bawah sana.


"Menurut Mimi aoa yang sedang terjadi sama dia?" tanya Saridi.


"Mimk juga tidak tau Sar, tapi enatahn!mengapa Mimi merasa ada hal yang mereka senpmbungikan dari Mimi." tanya Mimi.


"Emm aku merasa juga begitu, apa lagi Irsyad. Bukannya dia sepupu Syahril, mustahil dia tidak mengetahui dimana dia." ucap Saridi dengan opininya.


"Entah lah." jawab Mimi.


Ingin Mimi bersandar untuk menenangkan hatinya, tapi gak mungkin juga Mimi bersandar di pundak Saridi.


"Jika suatu saat mallahnbeljm membukakan pintu jodoh Mimk dengannya bagaimana?" tanya nya.


"Mungkin itu jalannyerbaik yang Allah beri." jawab Mimi.


"Mi.." panggil Saridi dengan!menghadap ke arah Mimi, Mimi melihat saridimdengan senyum.


"Aku yakin Mimi kuat." ucaonya dengan pandangan teduhnya.


"Do'a kan saja." jawab Mimi.


"Bantu do'a kan hubungan kamj baik-baik saja, walau suatu saat ada hal yang diharuskan buat kami berpisah, doakan Mimi untuk kuat menerimanya." ucap Mimi lirih.


Ya Mimi berusaha untuk tegar, Mimi berusaha untuk kuat tapi hatinya terlalu rapuh untuk berpikir hal yang tak tau apa yang bakal terjadi kedepannya.


"Iya, aku yakin Mimi bisa melewati semua." jawab Saridi.


"Sar." panggil Mimi.


"Hmm." jawabnya.


"Lupakan." ucap Mimi.


"Lupakan apa Mi?" tanya. ha dengan !menaikkan kedua alisnya.


"Lupakan masa-masa kita dulu." ucap Mimi.


"Bukannya Saridi pernah bilang biar suatunsaatnmenjadi sebuah cerita buat kita." ucap Mimi lagi, Saridi diam.


"Buka pintu hati Saridi buat yang lain." ucap Mimi lagi.


"Apa Mimi masih mengingatnya?" tanya Saridi.


"Iya, masih. Bagaiman Saridi meminta Mimi untuk jadimoacar Saridi hehee." ucap Mimi.


"Tapi itu dulu Sar, bahkan waktunitu Mimi tidak tau apa itu pacaran." ucap Mimi lagi.


"Tapi, merasa senang saja bisa mendapat teman yang jauh." ucap Mimi.


"Mimi senang mendapatkan perhatian dari Saridi waktu itu, bahkan Mimi selalu menanti balasan surat dari Saridi." ucap Mimi lagi mengenang masa-masa surat menyurat pada sahabat penanya.


"Mimi merasa perhatian Saridi pada Mimi merupakan perhatian seorang Abang sama Mimi, Mimi menganggap Saridi bukan hanya sekedar sahabat pena Mimi melainkan seorang Abang bagi Mimi." ucap Mimi, Saridi terdiam.


Saridi gak menyangka jika Mimi masih mengingat masa-masa pubernya masa si SMP dulu.


"Mimi harap sayang Saridi pada Mimi saat ini adalah rasa sayang pada seorang sahabat atau pada adiknya." ucap Mimi.


"Entahlah Mi, apa aku bisa." jawabnya.


"Perasaanku maaih sama, ditambah kita bertemu secara nyata di satu universitas ini, aku merasa sangat senang yah walau hati kamu ada orang lain." jawabnya lagi.


"Belajar lah membuka hati buat orang lain, Mimk tidak bisa menerima Saridi lebih dari sahabat. Ada hati yang harus Mimi jaga." ucap Mimi.


"Siapa? Dimas?" tanya nya.


Dimas yang ternyata juga berada di luar namun berada tak jauh di samping gazebo terkejut kala saeidi menyebut namanya.


"Apa dia mengetahui kalau aku juga menyukai Mimi?" gumam Dimas dalam hati.


Mimk tersenyum melihat dan mendengar tebakan Saridi yang tepat.


"Tak hanya Dimas, tapi ada satu hati lagi bahkan dua." jawab Mimi dan Saridi hanya mengerutkan keningnya.


"Yang utama kak Syahril." jawab Mimi dengan senyum.


"Dan hati seorang cewek yang sudah lama menyukai Saridi." jawab Mimi lagi.

__ADS_1


"Mimi tidak ingin, persahabatan kita renggag atau putus hanya karena Mimi, Mimk sayang kalian semua, kalian adalah keluarga bagi Mimk disini." ucap Mimi.


"Siapa?" tanya Saridi.


"Saridi tau siapa dia, kalau Saridi peka." jawab Mimi.


"Fia?" ucap Saridi dan Mimi hanya tersenyum dan mengangguk.


"Huh,,, tapi aku hanya menganggap nya adik Mi, tidak lebih." ucap Saridi sejujurnya.


Selfia yang ternyata juga keluar dari villa mendengar semua itu, ada rasa getir di dadanya mendengar pengakuan Saridi yang menganggu nya hanya sebagai adik.


"Emmm, kalau gitu anggap juga Mimk sebagai adik Saridi ya.. usia Mimi kan jauh dari kalian." ucap Mimk dengan candaan yang nyata.


Ya diantara mereka Saridi lah ya paling tua dan Mimi yang paling bontot. Saridi usianya lebih tua dua tahun dari Mimi dia seusia kak Syahril, rumah dan Mimk tua sagu setengah tahun sama dengan Riko, Mimk dan Fia tua Fia satu tahun dua bulan, Mimi dengan Irma tua Irma satu tahun, Mimk dan Muthia tua Muthia sebelas bulan.


"Iya kamunpaling bontot, apa lagi foto yang selalu kami kaaihnkw panitia bimbel foto SD, pipi bakpau hehee." ucap Saridi antara memuji dan mengejek.


"Ckk, mengejek pak." ucap Mimi.


"Iya haaahaa." ucap Saridi ngakakmdanntanpa sengaja Saridi melihat Dimas dan Selfia.


"Eh kalian disini juga." ucap Saridi.


Kedua orang yang terduduk menjadi salah tingkah.


"Sini gabung." ajak Mimi dan mereka berdua berjalan menuju gazebo di mana Mimk dan Saridi duduk.


"Sudah lama mas di luar?" tanya Saridi.


"Enggak baru, cuma ya seneng melihat kalian bercanda tadi." ucap Dimas berusaha tenang.


"Dan kamu Fi?" tanya Mimi.


"Baru juga Mi, tadi sih niatnya mau minum tali lihat pintunya terbuka jadi penasaran." ucap Selfia jujur tapi dia bohong kalau dia baru berada dinluar.


"Kalian sendiri dahnlama di luar?" tanya Dimas.


"Emm lumayanlah." jawab Mimi.


"Apa yang kalian lakukan berdua malam-malam?" tanya Selfia.


"Melihat keindahan desa di malam hari." jawab Saridi.


"Ooo." jawab Selfia dan Dimas.


Mereka berempat pun mengobrol di gazebo sampe dini hari, Mimi yang mulai merasa mengantuk masuk duluan.


"Emm Mimi duluan ya, sah ngantuk." ucap Mimi.


"Emm aku juga." ucap Selfia.


"Iya, sana mimpi indah." seru Dimas dan Saridi.


Mimi dan Selfia berjalan beriringan dengan sempoyongan karena sudah merasa kantuk berat.


Keesokannya mereka menikmati pagi hari yang berembun, sejuk dan segar itu yang mereka rasakan.


"Wahhh, dingin nya." seru Muthia dengan memeluk tubuhnya.


"Hmmmmm sejukkkk, segarr." seru Irma dan diikuti Selfia.


Jangan tanya Mimi kemana, kalau paginhafi rutinitas Mimi menghubungi orang tuanya, biasanya tak hanya emaknya saja melainkan menghubungi sang kekasih juga merupakan rutinitas hariannya, namun tidak untuk akhir-akhir ini.


Setelah selesai menelpon emaknya, Mimi bergabung dengan yang lain, Mimi memaakkai sweater karena cuaca hari ini kembali mendung.


Mereka pun membahas akan kemna lagi mereka hari ini, namun cuaca yang tidak mendukung karena disaat sedang asiknp membahas perjalanan mereka rintik hujan pun turun, mereka pun berlarian masuk kedalam villa.


"Yah hujan." Ucap Muthia.


"Iya kayaknya" sahut Mimi.


"Hoooaaam." Mimi menguap.


"Ngantuk Mi?" tanya Muthia.


"Iya Muth, hehhee cuaca mendukung nih " ucap Mimk dan Mimi merebahkan kepala nya di atas sofa.


Mimi memutar lagu-lagu Minang diponselnya. Mimi memutar labu Minang berjudul PANEK DI AWAK KAYO DI URANG.


Mimi mendengarkan lagu tersebut sambil memejamkan matanya.


Singkek alah di uleh sayuik alah di sambuang


Tiok di juluak tak sampai juo


Usah balamo adiak pandangi


Kalimpanan mato jadinyo


Antah bilo kalareh buah masak di ujuang


Rantiang taraso tinggi juo liriklaguminang


Lamo jo lambek ka jatuah juo


Samo disambuik jo hati suko


Batang nan tumbuh di tanah lereang


Tiok nan jatuah ka parak urang


Rancak di awak urang ka tuju


Basidakah kito dahulu


Panek di awak kayo di urang


Maso di kito bilo ka sanang


Salagi masih bausaho


Tuhan nan indak kasio-sio


Indak ka lari gunuang di kaja


Indak ka kariang lauik di timbo


Samo mancari kito jo badoa


Nan rasaki ka datang juo


Antah bilo kalareh buah masak di ujuang


Rantiang taraso tinggi juo


Lamo jo lambek ka jatuah juo


Samo disambuik jo hati suko


Batang nan tumbuh di tanah lereang


Tiok nan jatuah ka parak urang

__ADS_1


Rancak di awak urang ka tuju


Basidakah kito dahulu


Panek di awak kayo di urang


Maso di kito bilo ka sanang


Salagi masih bausaho


Tuhan nan indak kasio-sio


Indak ka lari gunuang di kaja


Indak ka kariang lauik di timbo


Samo mancari kito jo badoa


Nan rasaki ka datang juo


Irma yang mendengarnya pun mengikuti liriknya dan akhirnya Mimi dan Irma pun mengulangi lagunyersbjt dan bernyanyi berdua.


Setelah beduet dengan Irma, lagu pun berganti dengan judul


BASAMO MENJAGO CINTO.


Saat mendengar lagu ini, Mimi pun menghayati setiap bait liriknya, dia terkenang akan Syahril yang kini tanpa kabar berita.


Oi uda jauh di rantau


Barilah kaba denai di kampuang


Siang malam denai camehkan


Rindunyo di angan-angan


Antah bilo uda ka pulang


Suntiang ameh denai harokkan


Oh adiak usahlah cameh


Basabarlah di Ranah Minang


Kok jo cinto nan suci usahlah adiak ragukan


Kok sayang kabakeh adiak


Tali jantuang denai taruahkan


Basamo manjago cinto


Lai takana jalinan cinto


Do'akanlah denai di rantau urang


Lai den siram bungo pamenan


Bialah kambang nak jan nyo layu


Kok baitu kato uda


Suntianglah denai ondeh da sayang


Baoklah denai ka palaminan


Lapehkan den jo angan-angan


Oh adiak usahlah cameh


Basabalah di Ranah Minang


Kok jo cinto nan suci usahlah adiak ragukan


Kok sayang kabakeh adiak


Tali jantuang denai taruahkan


Basamo manjago cinto


Lai takana jalinan cinto


Do'akanlah denai di rantau urang


Lai den siram bungo pamenan


Bialah kambang nak jan nyo layu


Kok baitu kato uda


Suntianglah denai ondeh da sayang


Baoklah denai ka palaminan


Lapehkan den jo angan-angan


Tak terasa Mimi berserakan air mata, yang awalnya dia ingin menata hatinya mendengar lagu ini seakan bagaikan arus yang mengalir, mengingatkan Mimi akan permintaan keluarga Syahril yang ingin mereka segera menikah.


"Mi.." panggil Irma yang melihat Mimi kembali bersedih.


Bagaimana tidak bersedih seolah lagu itu merupakan perwakilan hatinya. Di lagu itu sang cewek meminta dirinya untuk di pinang dan segera di bawa kepelaminan, namun di dunia nyata Mimi, Mimi yang sudah di pinang ragu untuk melangkah ke pelaminan.


"Kenapa bersedih?" tanya Selfia yang tidak mengerti arti dari lagu itu.


"Emang sih lagu nya kelihatannya sedih tapi aku suka lagunya enak di dengar." Selfia berkomentar.


"Wah Mimi menghayati benar sampe sesih gitu." ucap Selfia lagi


Mimi hanya tersenyum dalam linangan air mata.


"Biasa Fia." ucap Muthia mengehentikan ocehan Fia.


"Apa sih Muth." jawab Selfia dengan cemberut dan dia juga mencari lagu-lagu Minang untuk diputar karena Mimi menghentikan YouTube nya.


"Emang apa sih arti lagu tadi, ampe Mimi sedih." ucap Selfia.


"Judulnya Basamo menjago cinto Fi." jawab Mimi dengan menghapus air matanya.


"Emm Basamo menjago cinto, berarti artinya Basamo artinya bersama, menjago artinya menjaga, contoh cinta, jadi artinya menjaga bersama cinta, gitu ya." ucap Selfia dengan mengartikan judul lagu Minang tersbut.


"Iya." jawab Irma.


"Terus kenapa Mimi menangis?" tanya nya.


"Allahu Akbar nih anak ya.." sahut Riko.


"Apa sih bang Rik." ucap Selfia dongkol, dia hanya ingin tau tapi seolah semua orang tidak memperbolehkan dirinya untuk mengetahui.


"Iya Fi, lagu itu mengingatkan Mimi dengan kak Syahril. Kami saling berjanji untuk selalu menjaga cinta kami." terang Mimi.


"Oo maaf." ucap Selfia.


"Iya nggak apa-apa." jawab Mimi dan akhirnya mereka kembali mendengarkan lagu-lagu Minang di hari yang dingin karena hujan turun dengan derasnya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2