
"Hemm mau main-main mereka." ucap Umma dan Umma langsung menuju ke dalam gedung yang berada di gedung Akper ini.
"Umma, Umma mau kemana? tanya Mimi yang melihat Umma dengan rasa geramnya karena tak hanya no ujian Mimi ternyata no ujian Di'ah pun sama diubah.
Umma terus berjalan memasuki area gedung Akper ini dengan perasaan geram di hatinya. Ummi, Mimi dan Di'ah mengejar dan mengikuti langkah Umma sampai dimana UM!a berhenti disalah satu ruangan.
Dengan nafas yang memburu Umma langsung membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar.
Brakk pintu di bukan dengan kasar dan membuat semua orang yang berada di dalam kaget.
Ummi Mimi dan Di'ah ngos-ngosan mengejar langkah Umma yang cepat. Mimi, Di'ah dan Ummi tercengang melihat aksi Umma dengan !e!buka pintu secara kasar sehingga menghasilkan suara yang bisa bikin orang jantungan.
Ummi melangkah masuk dan menabrak meja yang ada di sana kembali.
Brakk
"Siapa penanggungjawab atas hasil ujian dan pengumuman di Mading?" tanya Umma dengan sorot mata tajam.
Sebagian pegawai di Akper mengetahui dan mengenal siapa Umma.
"Ibu.." ucap salah satu pegawai.
"Siapa!!" tanya Umma dengan suara lantang sehingga !membuat para orang tua yang berada di ruangan tersebut ngeri-ngeri sedap kalau kelakuan mereka akan ikut tercyduk.
"Dasar kalian itu tak tau di untung dan tak punya hati nurani, kalian itu bekerja di gaji sama pemerintah dan kalian masih melakukan kecurangan." ucap Umma membara.
Mimi dan Di'ah masih tak hanya tercengang akan aksi Umma, namun Mimi juga tercengang kalau di dalam sini banyak orang tua dari peserta sehingga membuat Mimi dan Di'ah menduga-duga dengan pemikiran masing-masing.
"Saya tanya siapa penanggungjawab nya!!" ucapmum!a sekali lagi.
"Kalau tidak ada yang mengaku jangan salahkan saya kalau kalian akan di pecat secara tak terhormat." ucap Umma dan membuat beberapa orang ketakutan.
"Dan ini, siapa mereka? apa kepentingan mereka di ruangan ini?" tanya Umma dengan menunjuk ke arah lara orang tua yang sepertinya sedang melakukan transaksi.
"Emm maaf buk, memangnya ada kesalahan apa buk? tanya salah satu penanggungjawab disini.
"Kamu penanggungjawab nya?" tanya Umma
"Iya buk, saya salah satu dari penanggungjawab nya." ucap si bapak dengan segan.
"Oke baik, saya tanya siapa yang bertanggung jawab di bagian pengumuman di Mading?" tanya Umma.
"Itu saya buk, apa ada yang salah? saya sudah melakukan sesuai dengan prosedur." jawab cewek yang bertanggungjawab di bagian Mading.
"Apa kamu yang menempel di Mading?" tanya Umma kembali.
"I iya buk." jawabnya.
"Apa kamu juga yang bertanggung jawab dengan semua no ujian yang di prin?" tanya Umma.
"Ti tidak buk, saya hanya bagian menempel saja. Kalau bagian penulisan dan prin tugas bapaak satyo dan Bu Irma." jawabnya.
Ummi yang mendengar dan melihat dari gelagat sinpenanggung jawab hanya tersenyum.
"Gimana menurut mu dek." tanya Umma kepada Ummi.
"Dia tak ikut andil." jawab Ummi. ya Ummi adalah lulusan di bidang psikologi jadi dia bisa tahu seseorang itu berbohong atau tidak dari gelagat dia berbicara dan gelagat dari berak tubuh orang tersebut.
"Mana bu Irma dan pak Satyo." ucap Umma.
"Di dia ada di dalam ruangan nya buk." ucap pak Hendro.
"Tolong panggil dia." ucap Umma.
"Ba baik Bu." jawab pak Hendro dan berlalu pergi menuju ruangan Bu Irma dan pak Satyo.
Disaat pak Hendro akan mengetuk pintu ruang tersebut terbuka dan keluarlah beberapa orang tua dari dalam sana.
Umma yang melihat itu langsung memeluk tangannya dengan kencang.
Prok Prok Prok Prok Hebat,sungguh hebat permainan Anda berdua." ucap Umma dan membuat Bu Irma dan pak Satyo terdiam.
"Eh ada buk Syarief." ucap pak Satyo.
"Ada yang bisa saya bantu buk?" ucap bu Irma berupaya seramah mungkin.
"Apa yang kalian lakukan pada no ujian ini dan ini?" tanya Umma to the poin dengan langsung menunjukkan no ujian Mimi dan Di'ah.
"Maksud ibu apa?" bu Irma balik nanya.
"Bukannya kalian yang bertanggung jawab atas segala no ujian
peserta calon mahasiswa Akper dan yang lain?" tanya Umma.
"I iya buk." jawab mereka berdua.
"Terus apa yang kalian lakukan terhadap semua no ujian peserta yang kalian ubah?" tanya Umma lagi dengan lantang.
"Nggak bisa jawab!" ucap Umma.
"Kalian berdua tau no ujian yang yang kalian ubah salah satunya no mereka berdua." ucap Umma.
"Memang nya mereka siapa buk?" tanya pak Satyo.
"Mereka berdua anak ku." ucap Umma. "Kenapa? tak seharusnya kalian lakukan hal kotor ini sekalipun itu anak siapa." jawab Umma.
"Saya mau kalian ubah prin dengan yang aslinya, akibat ulah kalian ini kalian telah menghancurkan harapan anak-anak yang murni memakai otaknya." ucap Umma
"Seperti no ini *** dan ini *** yang kalian ubah angka dan kalian hapus namanya dengan menggunakan tipe x." ucap Umma
__ADS_1
Mereka berdua dan beberapa yang ikut andil kaget mendengarnya.
"Wah gawat, kok Bu Syarief bisa tau!." gumam pak Satyo.
"Mati aku." ucap sallaah satu yang ikut andil.
"Ya tuhan, tamatlah riwayatku baru juga di angkat jadi PNS." ucap salah satu pegawai yang baru angkat jadi PNS.
Bu Irma dan pak Satyo hanya diam !membatu karna takm!menyangka perbuatannya dan anak buahnya diketahui oleh ibu dari kepala Dinkes..
"Kenapa kalian diam!!" ucap Umma dan membuat mereka berdua kaget.
"Emm anu buk, emm." ucap bunirma dan pak Satyo gugup.
"U BAH SE PER TI SE MU LA." ucap Umma dengan penuh penekanan.
"Kenapa! tidak mau!! oke kalau gitu saya laporkan perbuatan kalian berdua ke pihak Dinkes." ucap Umma degan anca!an dan Umma langsung mengambil ponselnya di dalam tas nya.
Yang merasa bersalah bertambah ketakutan.
"Buk, em buk bisa kita bicarakan ini baik-baik." ucap Pak Satyo.
"Kalian ubah atau peemcatan secara tak terhormat." ucap Umma
Mimi dan Di'ah mendekat ke arah Umma.
"Emm Umma, sudahlah mungkin itu bukan rezeki Mimi. Mimi ngak apa-apa kok." ucap Umma.
"Iya Umma, mungkin ini bukan rezeki kita walau pun kita di curangi." ucap Di'ah dengan dongkol karena no ujiannya ikut di ubah.
Umma gak mendengarkannya, Umma menekan no telpon Babah, yah Babah saat ini menjabat sebagai kepala dinas kesehatan.
"Assalamualaikum Umma." ucap Babah di seberang sana.
"Waalaikum salam. Bah." jawab Umma. Umma sengaja hubungan telponnya di loudspeaker sehingga semua orang yang berada di ruangan tersebut mendengarkannya termasuklah para orang tua yang akan melakukan transaksi.
"Umma dimana? jadi Umma melihat Mimi dan Di'ah?" tanya Babah lagi.
"Jadi Bah, ini Umma sedang mengurus Mimi dan Di'ah dari sebuah ketidak Adilan." Jawa Mimi.
"Maksud Umma apa?!" tanya Babah.
"Ternyata masih ada pegawai Babah yang tidak jujur." ucap Umma .
Deg orang yang telah berbuat curang menjadi was-was dan ketakutan atas perbuatan mereka.
"Maksudnya gimana Umma?" tanya Babah belum mengerti.
Umma pun menceritakan semua kejadian hari ini kepada Babah.
"Emm baiklah nanti Babah kirim orang untuk menyelesaikan nya, sekarang Babah mau rapat dulu, assalamualaikum ." jawab Babah dan akhirnya sambungan pun terputus.
Semua orang yang disana panas dingin !mendengar kalau pihak Dinkes akan turun tangan melihat dan mengecek bawahan dalam naungan Dinkes yang telah melakukan KKN.
"Buk, saya min minta maaf." ucap pak Satyo yang sudah merasa ketakutan. sedang kan bu Irma berusaha tenang.
"Maaf saya tidak akan mentolerir nya." ucap Umma.
"Umma,." panggil Mimi.
"Ayo kita pulang." ajak Umma kepada kami bertiga dannka!inpun pulang bersama.
Didalam perjalanan Mimi merasa tidak enak dengan orang-orang tadi karena kejeliannya membuat mereka yang berbuat terancam.
"Kenapa Mi?" tanya Umma ketika melihat raut wajah Mimi yang merasa tak enak hati akan kejadian tadi.
"Jangan merasa tak enak hati Mi, jika mereka bersalah maka harus berani bertanggung jawab." ucap Ummi.
"Tapi kasian Ummi, nanti kalau mereka di pecat tanoanhormat gimana?" jaaba Mimi.
"Kamu ini, sudah nggak usah pikirin. Itu sudah ganjarannbuatn!erka karena telah mematahkan semangat anak-anak yang mati-matian berjuang." ucap Umma.
"Hemm." jawab Mimi.
"Emm kita ke saung kito dulu ya, lapar Umma di buatnya." ucap Umma.
"Ayok Umma." jawab Mimi.
"Pasti lah umma kelaparan kan Umma habis mengerahkan segala tenaga buat aksi tadi." ucap Mimi lagi.
"Iya betul tuh Mi." jaqavbum!i dan Di'ah serentak.
"Hahahahahaa." kami semua ketawa lepas.
Tak lama mereka pun sampai di saung kito, Umma langsung memesan menu seafood dan jpberbgai jus, khususnya Mimi Umma memesankan jus jambu biji merah pakai kurma dan madu.
Sambil menunggu pesanan siap kami semua langsung menuju ke musholla yang ada di sini karena waktu Dzuhur telah tiba.
***
Hari terus berjalan keadaan Mimi telah membaik maksudnya telah baik dari sakitnya namun hati dan pikirannya masih ke tanggal jatuh tempo di bimbel Semarang.
Universitas yang di Semarang inilah satu-satunya harapan Mimi, kak Syahril juga telah mencoba mendaftarkan Mimi melalui jalur mandiri di kampusnya tapi pihak juga tidak menghampiri Mimi.
Di Akper nomor Mimi di ganti oleh pihak tak bertanggung jawab, di kampus kak Syahril nama Mimi juga tak keluar alias nggak lulus. Maka harapan satu-satunya adalah universitas di Semarang ini.
Mimi tak lagi mengungkit atau mempertanyakannya kembali ke keluarganya, Mimi hanya diam dan pasrah akan nasibnya saja saat ini.
Empat hari ke depan adalah hari dimannaa jatuh tempo untuk melaporkan, mengumpulkan atau menyelesaikan kelengkapan administrasinya, semakin dekat hari semakin membuat Mimi was-was dan gusar.
__ADS_1
Tiap malam Mimi selalu memunajatkan doa kepada sang khalik pemilik hati, Mimi selalu berdoa di turunkan keajaiban buat dirinya. Seperti di malam hari Jumat ini tepatnya sepertiganya malam Jum'at ini.
"Ya Rabb, Empat hari lagi waktu nya. Apakah aku bisa melanjutkan cita-cita ku atau pupus sudah harapanku. Rabb bantulah hambamu ini." ucap Mimi dalam do'a nya dengan deraian air mata.
Pagi hari di hari Jum'at, Mimi mendapat telpon kalau emak dan bapaknya akan ke Jambi nanti malam bersama pakdo dan BI Ida nya dengan naik mobil karyawan.
"Assalamualaikum Mak." ucap Mimi ketika menerima telpon dari sang ibu.
"Waalaikum salam, mi Mak cuma mau kasih tau nanti malam emak bapak pakdo dan Bi Ida ke Jambi pakai mobil karyawan nanti tolong bilang ke bicik ya." jawab emak dan memberitahu kepada Mimi bahwa dia akan ke Jambi.
"Hem iya." jawab Mimi pula.
"Yaudah, kalau gitu sudah dulu ya Mak lagi buat brownis, assalamualaikum." ucap emak mengakhiri.
"Waalaikum salam." jawab Mimi.
"Huh" Mimi menghela kan nafasnya kasar.
Tak lama berselang kak Syahril juga menelponnya dengan video call
"Assalamualaikum yank." ucap kak Syahril di seberang sana dengan tersenyum.
"Waw salam kak." jawab Mimi.
"Hem, kenapa? ada apa? kok muka nya masam gitu! gimana keadaannya yank? masih ada rasa pusing? sakit?." ucap kak Syahril dengan memborong segala pertanyaan.
"Hemm, itu barusan kereta api ya kak." jawab Mimi.
"Mana? perasaan gak ada suara kereta api atau pun suara bising, malah sunyi gini." ucap kak Syahril dan Mimi kembali cemberut.
"Eh tuh bibir kenapa? minta sun ya? sini ... ummmuuuuuach." ucap kak Syahril lagi dengan mendekatkan layar ponsel ke bibir nya dan mencium Mimi online.
"Isss kakak." jawab Mimi dengan manyun.
"Iya ada apa sayang, nggak usah manyun-manyun gitu tambah cantik jadi pingin ceoet halalin adek jadinya." ucap kak Syahril dengan candaan yang nyata.
"Em ada apa?" tanya nya lagi.
"Emm gak ada apa-apa." jawab Mimi dan kak Syahril hanya tersenyum.
"Percayalah dek, semua akaan baik-baik saja. Insya Allah napa yang ada impikan bakal tercapai." ucapnya seakan tahu apa yang sedang Mimi pikirkan.
"Berdo'alah lah terus dek dan minta sang pemilik hati, hanya kepadanya kita meminta." ucap kak Syahril dan seketika air mata Mimi menetes.
"Yang sabar ya, jangan nangis lagi. Kakak yakin, pasti nanti apa yang adek impikan segera terkabulkan." ucapnya berupaya menenangkan Mimi.
"Cuma satu,." ucapnya sengajantak dilanjutkan dan melihat reaksi Mimi sedangkan Mimi juga menunggu kelanjutannya, kaak syahril melihat Mimi masih menunggu lanjutannya hanya tersenyum
"" Apa kak?" akhirnya Mimi bertanya juga karena tak juga dilanjutkan oleh Syahril.
"Emm." Syahril masih menggantung lanjutannya dan membuat Mimi cemberut.
"Isss kakak." ucap Mimi.
"Kenapa dek?" kak Syahril bukannya melanjutkan nomongannya malah balik nanya.
"Isss malah balik nanya lagi." ucap Mimi sewot.
"Lah e!yang adek mau nya apa hmm." jawab kak Syahril dengan memainkan kedua matanya.
"Ah sudah lah kallau nggak mau lanjut." ucap Mimi merajuk.
"Eh Eh Eh maksudnya apa nggak mau lanjut?" tanya kak Syahril yang masih ingin menggodanya.
"Yah itu tadi." jawab Mimi dengan manyun.
"Yang mana?" tanya kak Syahril.
"Isss kakak niih." ucap Mimi.
"Yang mana sayang kuu.. " kak Syahril terus menggoda Mimi.
"Yaudah lah, malas Mimi." jawab Mimi merajuk.
"Hahhahaaa." kak Syahril ketawa renyah.
"Isss malah ketawa lagi." ucap Mimi manyun..
"Hmm apa ya!!!"
"Hemmm"
"Cie cie nungguin ya!!!"
**tbc**
Assalamualaikum Alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU up kembali, semoga ceritanya mengesankan ya..
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan nya berupa
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
__ADS_1
...TERIMAKASIH...