DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
raja palak di palakin balik


__ADS_3

Setelah berbuka bersama di rumah Nyai, Syahril dan Ryan mendengar cerita tentang pujaan hatinya.


Mendengar cerita itu, membuat hati mereka terasa ditambah voltase yang membuat dirinya bersemangat untuk menggapai cinta mereka kembali.


Menjelang lebaran Syahril maupun Ryan disibukkan dengan jadwal operasi. Apa lagi Syahril banyak pasien nya meminta operasi di tanggal-tanggal yang menurut merek cantik.


Tiga hari menjelang lebaran, Mimi mengajak kedua orang tua serta Ay untuk berbelanja pakaian lebaran. Mimi melihat ke arah emak. Mimi tau emak sedang memendam kesedihannya.


Ini kali ketiga Mimi dan keluarga tidak berlebaran dengan keluarga yang lengkap. Walah bagaiman pun, Mimi selalu memberikan adiknya itu pakaian lebaran serta pakaian buat sholat id nya.


"Sudah Mak, mudahan dia cepat keluar." ucap Mimi dan emak mengangguk.


Mereka pun berbelanja bersama di sore itu, setelah itu Mimi mengajak kedua orangbtua serta adiknya berbuka bersama di luar.


Mimi berbuka bersama keluarga kecilnya di tempat biasa Mimi makan bersama sahabat-sahabatnya.


Mereka sampai di temlat lima belum sebelum waktu berbuka, melihat kami telah sampai pelayan lun mengantar pesanan yang sudah Mimi pesan sebelumnya.


Sehabis berbuka sebelum makan makanan bermenu seafood itu Mimi dan keluarganya pergi ke musholla untuk sholat Maghrib terlebih dahulu.


Tak hanya Mimi yang pergi berbelanja pakaian lebaran, Ryan Syahril serta keponakan mereka pun berbelanja pakaian bersama.


"Oom" tariak Baiq keponakan Ryan, kebetulan Ryan baru pulang dari kerja dan duduk santai sejenak di teras rumahnya.


"Ada apa Iq?" tanya Ryan.


"Om, belanja baju lebaran yuk?" ajak Baiq.


"Ck kamu sendiri kan sudah bisa belanja sendiri Iq." ucap Ryan malas. Ryan tau sifat keponakan nya itu kalau sudah ngajk keluar bukan hanya berbelanja pakaian saja namun nanti ada saja yang dia beli.


"Yah kalau sendiri beda Om." ucap si Baiq yang duduk di samping Om nya itu.


Ryan dan Baiq, Paman dan keponakan dengan jarak 13 tahun itu duduk bersama. Baiq tak henti-hentinya merayu sang paman.


"Kamu itu yah." ucap Ryan.


"THR om." jawab Baiq dengan senyuman.


"Nih" ucap Ryan dengan me!berikan uang selembar pada Baiq.


"Whaaattt!! Yang benar aja om, Baiq yang udah SMA dapat cepek. Ah ndak asik Om mah." ucap Baiq yang tidak terima di beri uang 100rb.


"Kan THR." jawab Ryan menhan ketawa.


"Ckk Dina aja yang kecil pasti ogah nerimanya, Om." ucap Baiq.


"Ayo lah Om, yok belanja satu stel jga nggak ala tapi branded ya." ucap Baiq.


"Iiiuuh, melorotin aja kerja nya. Emang gaji dari cafe dan resto nggak cukup apa beli satu stel?" ucap Ryan.


"Cukup tapi kan beda alur Om, ayoklah.. Sekalian ajak Om Syahril ya." ucap Baiq.


"Yaudah habis ashar perginya.


" Yeew makasih Om, andai aja Dina dan Tiara udah di jambi pasti lebih seru." ucap Baiq.


"Seru pala mu." ucal Ryan yang terus berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Ryan tak langsung membersihkan diri melainkan rebahan di atas kasurnya.


Lelah yang dia rasakan saat ini, aktivitas menjelang libur lebaran yang sangat padat.


"Huh, capeknya." ucapnya dengan merenggangkan otot-otot nya di atas kasur.


Sebenarnya waktu Ryan dan Syahril di sini tidak lah banyak, mereka hanya meliburkan dirk selama setahun saja setelah itu mereka akan kembali ke LA.


Yah Mereka berdua juga berkerja di rumah sakit yang mereka rintis bersama sahabat-sahabatnya di LA.


Syahril, Ryan dan ke enam sahabt mereka mencetuskan ide membangun rumah sakit disana kala mereka melihat banyak dokter yang terkadang juga susah mencari rumah sakit yang bisa menerima mereka dengan menyediakan mess.


Karena kebanyakan lulusan kedokteran disana, anak-anak perantauan dan jika menyewa apartemen tentunya gaji tidak sebanding bahkan pas-pasan.


Saat Ryan memandang langit-langit kamar nya, bayangan Di'ah menggendong anak kecil terlintas.


"Andai saja dek, uang kau gendong buah hati kita." ucapnya denagn senyum mereka.


"Aku akan memperjuangkan mu kembali, kali ini aku yakinkan juga Syahril memperjuangkan cinta Mimi."


"Bersabarlah sayang, aku harap Allah menjaga hatimu hanya untukku."


"Aku masih disini mengharapkan dirimu lagi."


"Semangat, semangat Ryan.. Kejar cintamu lagi apapun rintangan nya, jangan lagi kau menyerah." ucal Ryan menyemangati dirinya.


Sang ponakan yang te!ah bersiap dan melihat sang laman tak kunjung keluar dari kamar sedari tadi dia lun menyusul dan masuk kedalam kamar sang Paman.


Beruntung pintu tidak di kunci Ryan, Baiq masuk dengan pelan karena terlihat sang paman melamun dan berbicara sendiri.


"Ckk dasar bujang lapuk.. Oooom.." sungut Baiq dan berteriak manggil sang paman.


"Baagg, kamu kira ini hutan hah, teriak-teriak." ucap Ryan dengan melempar bantal ke arah Baiq.


"Makanya cepetan nikah Om, jangan ngomong-ngomong sendiri." ucap Baiq dengan mengambil bantal yang dilempar Ryan jatuh ke lantai.


"Kayaknya Om perlu periksa syaraf on sendiri deh." ucap Baiq dengan wajah yang serius.


"Maksud kami apa?" tanya Ryan dengan dingin.


"Ya nggak asik aja on, seorang dokter sraf terkena syaratnya." ucap Baiq dan langsung beranjak lari keluar dari kamar Ryan.


"Sialan tu anak, Baiq Fatiyatirrohmiii.." teriak Ryan dengan memanggil nama lengkap dari keponakanya.


"Dasar ponakan nggak ada akhlak, huh." ucapnya sembari beranjak dari kasur mengambil handuknya, Ryan berlalunmasukmkame mandi dan berwudhu.


Di luar Baiq tertawa terbahak-bahak mendengar sang laman meneriakinya.


"Kamu ini Baiq Baiq." ucap sang Kakek dengan menggelengkan kepalanya.


Abi dan umi hanya bisa menggelengkan kepala jika dua anak usia beda usia itu jika saling menjahili. Ini belum kumpulan semua, kalau sudah kumpul maka ramailah rumah ini.


Baiq Fatiyatirrohmi anak dari abangnya Ryan yang tinggal di kota Padang.


Semenjak anak bungsu Abi dan ummi nya Ryan mengikuti jejak Ryan berkuliah ke luar negeri maka rumah itu sepi, Semenjak Baiq memutuskan berkpsekolah di Jambi maka rumah itu kembali hidup ditambah Baiq anaknya usil bila berada dirumah.


Baiq memiliki adik dua perempuan, bernama Dinalova dan Tiara. Jika mereka kumpul dan berkomplotan makanryan lah jadi sasaran mereka.


Jika ada Zacky adiknya Ryan maka Zacky pun ikut imbas dari keusilan ketiga ponakannya.


Sesuai yang direncanakan Baiq dan Ryan akan pergi berbelanja tak lupa mereka mengajak Syahril.


Di rumah Syahril, Umma dan Babah sangat senang karena anak dan cucu satu-satu mereka juga kumpul. Yah cucu dari abang Afnan seorang laki-laki yang diberi nama Malik Adam.


Abang Afkar hingga saat ini belum membuka hatinya kembali setelah kepergian istri tercintanya.


"Mau kemana Riil?" tanya Umma.


"Mau keluar Umma, biasa Baiq Ma." jawab Syahril.

__ADS_1


"Hahaa siap-siap bae lah Riil uang cash di dompet." seru bang Afnan.


"Iya nianlah bang." jawab Syahril, saat mereka mebicarakan Baiq dan Ryan, dua anak manusia itu pun sudah masuk kedalam.


"Assalamualaikum, Umma Datuk Babah." ucap Baiq.


"Waalaikum salaam, panjang umur itu anak " ucap Babah.


"Wah ada papi Afnan." ucap Baiq ketika melihat Afnan.


"Emm Umma Afnan mau mandi dulu." ucap Afnan yang segera kabur.


"Eitss tunggu papi, jangan kabur.." teriak Baiq dengan mengejar Afnan.


"Eitsss tidak bisa kabur." ucap Baiq dengan memainkan kedua alisnya.


Umma dan Babah tertawa, mereka tau pasti anak-anak mereka akan kena palak sama cucu mereka itu.


"Aisss." ucap Afnan.


Ryan duduk di samping Umma dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Kenapa nak?" tanya Umma.


"Ndak apa-apa Umma." jawab Ryan.


"Kejar jangan di lepas lagi." ucap Umma yang sudah tau cerita anak-anak mereka dari Syahril.


"Iya Umma, Ryan bingung bagaimana caranya mendekati dia." ucap Ryan.


"Ckk umur saja yang bertambah." ucap Umma.


"Om ayok buruan nanti keburu buka di jalan." ucap Baiq.


"Lah emang niat kamu kan Iq mau berbuka di luar." ucap Syahril.


"Iya Om sekalian cuci mata, mana tau kan om-om Baiq yang mau menjadi bujang lapuk ini nanti ketempelan cewek cantik setelah berbuka di luar." ucap Baiq.


"Woyy sialan ni anak." ucap Syahril dengan melempar bantal kursinya.


"Hahaaa" semua orang tertawa.


"Eits tunggu, kok Baiq tidak lihat ayah Afkar ya? Umma Ayah Afkar mana?" ucap Baiq dan bertanya pada Umma.


"Emang kenapa?" tanya Umma.


"Ya buat tambah-tambah Umma." ucap Baiq dengan mengipasi lembaran merah sebanyak dua puluh lembar itu.


Afkar yang tau Baiq akan masuk rumah dia buru-buru masuk kamar Umma nya, dia tau kalau anak tuyul itu kalau sudah melihat dirinya dan Afnan akan memalak dan pallak nya lun tidak tanggung-tanggung.


Apa lagi selama ini dialah cucu dari keluarga besarnya walau bukan dari orang tua nya.


"Papi Afnan." panggil Baiq pada Afnan.


"Hemm" jawab Afnan.


"Ayah Afkar mana?" tanya Baiq.


"Cari saja sendiri." ucap Afnan.


Baiq melihat Malik anak berusia dua tahun itu sedang bermakn mobil-mobilan lun mendekatinya.


"Adek Malik, adeknya Abang." ucap Baiq, Malik hanya menatap Baiq dingin dan bersidekap dada.


"Ckk tatapan mu dek sama aja dengan papi mu." ucap Baiq.


"Kasih tau abang dek, nanti Abang belikan mobilan remot." ucap Baiq. Malik diam menatap Baiq dan tersenyum dia tersenyum penuh arti.


"Makanya jangan ngajarin adeknya malaki orang." ucap Syahril.


"Baiq kan malak nya halal Om." ucap Baiq.


"Mana ada malak halal Iq." seru Ryan.


"Ya adalah, Baiq kan malakin om-om nya Baiq bukan orang luar." ucap Baiq.


"Dek" ucap Baiq pada Malik dengan memainkan matanya.


"Beneran ya, belikan Malik mobil remote yang seperti ini, bentar." ucap Malik dan mendekati papinya.


"Pi, pinjam HP." ucap Malik kepada sang Papi.


"Buat apa?" tanya Afnan.


"Buat brosssing." ucap Malik dengan doble S.


"Yaelah bocah zaman now tau browsing." ucap Ryan.


"HP papi dikamar " jawab Afnan,


"Oo" jawab Malik terus dia melihat ke arah Syahril.


"BI.." panggil Malik kepada Syahril dengan menengadahkan tangannya meminta HP. Syahril yang tau maksdunya langsung memberikan pada Malik.


Malik lun langsung membuka Googleo dan menyebutkan nama mobilan yang dia inginkan dengan voice Googleo. Tak lama munculah beberapa jenis gambar mkbilan remot.


Baiq dan Ryan tercengang melihat kepintaran Malik, kepintaran yang diturunkan oleh Afnan dan tentunya oleh Umma dan Babah.


"Nah ini bang bagus." ucap Malik dengan menunjukan gambar mainan Mobil Ferrari Fxk Skala 118 2v.


Baiq yang melihatnya langsung bengong dan membelalakkan matanya.


"Kenapa Iq?" tanya Ryan melihat ponakannya diam dan mata melotot.


"Yah kalau ini kamu minta sama papi kamu lah dek, hasil palakkam nggak sebanding dek " ucap Baiq.


"Emang dia minta apa?" tanya Babah.


"Ini tuk Abah." ucal Baiq dengan memberikan ponsel Syahril ke datuh babahnya.


Syahril yang duduk di samping Babah pun tertawa terpingkal-pingkal.


"Bhuahahaaa, habis hasil palakkam bakal nombokin tuh." ucap Syahril dengan ketawa


"Emang mobilan macam apa Riil yang dimau Malik?" tanya Ryan, Syahril lun mbeeikan ponselnya kepada Ryan, Ryan lun ikut tertawa melihat nafasnya sangbponakan yang di palakin adik kecilnya lebih dahsyat


"Kalau tidak mau yaudah." ucap Malik dengan melengoskan wajahnya ke arah lain dengan gaya angkuhnya.


"Ckk, yang murah aja ya.. yang ini aja ya." ucap Baiq dengan menunjukan mainan mobil eemot di bawah 300rb.


"No no no" ucap Malik dengan menggerakkan telunjuknya kiri dan kanan ke hadapan Baiq.


"Sebagai tanda tidak jadi.. emmm" ucap Malik sambil membuka kembali ponsel Syahril.


"Nah yang ini saja." ucap Malik dengan menunjukkan gambar Mainan Rc Mobil Off Road 4wd Kecepatan Tinggi Dengan Lampu Dan Musik.


Baiq yang melihat itu lagi-lagi mengenakan nafasnya.

__ADS_1


"Udah lah Iq, jadi ndak ni sah sore ni.." ucap Ryan.


"Yah Om, ini si tuyul kecil mintanya dengan harga yang lumayan." ucap Baiq.


"Hahahaa raja palak kena palak " ucap Ryan


Baiq diam mempertimbangkan jika dia dapat menemukan ayah Afkar nya dia mendapat tambahan setidaknya sama dengan papi Afnan nya, terus pasti dainjuga akan dapat daeindatuk Babah serta Umma nya juga.


"Oke deal." jawab Baiq dengan memberikan kelingking nya ke arah Malik.


Malik diam melihat kelingking Baiq, Baiq melihat ada aura yang tidak mengenalkan lagi.


"Ayo dek buruan." ucap Baiq.


"Ya Allah Pi, tambahin kalau gitu pi." ucap Baiq pada Afnan.


"Eits nggak ada." ucap Afnan.


"Yaudah." ucap Baiq.


"Tunjukkan dimana ayah, nih 10%nya." ucap Baiq dengan memberikan uang dua lembar pada Malik.


"Nah gittu dong, jadi laki itu harus menepati janjinya." ucap Malik.


"Ayah ada di tamar Umma." jawab Malik dengan menunjuk ke arah kamar Umma.


Afkar yang mendengar Malik menunjukkan keberadaan nya segera rebahan di kasur Umma dan berpura-pura tidur.


Baiq langsung melesat dan menggedor pintu kamar Atuk babahnya.


"Ayaah buka pintu." seru Baiq karena pintunkamar di kunci dari dalam.


"Ayah." panggilnya lagi, Afkar yang merasa bising karena teriakan serta hdoran pintu oleh Baiq pun akhirnya beranjak dari kasur dan membuka pintu nya.


"Hem ada ala?" ucap Afkar dingin.


"Ckk jangan lari dan bersembunyi, Baiq mau nagih THR." ucap Baiq.


"Huh, nih." ucap Afkar dengan memberikan lima belas lembar uang merah


"Kurang yah, masa iya kurang dari papi. Belum bayar pajaknya auto nggak dikembalikan kembaliannya " ucap Baiq.


"Nih" Afkar memberikan lima kembarnya lagi, Baiq pun tersenyum dan menciumi lembaran merah itu dan pipi Afkar.


"Makasih ayah." ucap Baiq dan berlalu mendekati Om nya.


"Ayo Om kita berangkat sah kesorean kita." ajak Baiq.


"Eits tidak bisa, 10% nya mana?" ucap Malik dengan tangan sebelah di pinggang dan tangan satunya menengadah ke Baiq.


"Huh, ini bocah ingat aja. Nih lunas ya?" ucap Baiq dengan memainkan matanya.


"Belum" ucap Malik.


"Lah kok belum sih dek, kan udah " ucap Baiq.


"Ya belumlah kan mobilannya belum ada." ucap Malik, Baiq menepuk keningnya.


"Iya nanti, udah Abang mau cuci mata dulu bye." ucap Baiq dan segera menyusul kedua pamannya.


Sesampainya di mall, ketiga lelaki yangbta lainnya si atas rata-rata itu menelusuri store-store pakaian branded di mall itu.


Mereka memilih sesuai dengan style mereka. Banyak mata para cewek melihat ke arah mereka, namun mereka bertiga hanya memandang wajah cuek dan datar.


Setelah mendapatkan yang mereka inginkan tak terasa jam ojn telah menunjuk kan jam 6:15 dan sudah waktunya berbuka.


Mereka menuju stand makanan dan mereka membeli makanan ringan untuk berbuka dan stelah itu mereka menuju Mushola yang berada di mall itu untuk sholat Maghrib


Setelah selesai mereka bertiga menuju tempat makkan favorit mereka. Tak butuh waktu lama mereka ohn sampai di temkat makan itu, mereka pun langsung duduk di meja yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Baiq yang akan duduk di lesehan nya taknswnhaja bertemu dengan Ay.


"Hai Ay." sapa Baiq.


"Hai Iq, kamu ada disini juga!" tanya Ay.


"Iya, kamu sama siapa Ay?" tanya Baiq.


"Itu samma emak, baoaak dan Ayuk Mimi, ayuknya Ay." jawab Ay.


"Baiq sama siapa?" tanya Ay balik.


"Tuh sama dua oom aku." jawab Baiq.


"Oo yaudah yq Iq, Ay duluan." ucap Ay pamit dan berlalu mendekati emak, bapak dan Mimi.


"Oh iya Ay." jawab Baiq dengan senyuman manisnya, tingkah Baiq tak luput dari pandangan kedua pamannya.


"Siapa Iq?" tanya Ryan.


"Ay teman sekolah baiq Om." jawab Baiq.


"Siapa?" tanya Ryan dan Syahril.


"Ck kalian kenapa?" tanya biq heran dengan kedua pamannya.


"Kamu bilang siapa tadi?" tanya Syahril.


"Ay om, Ayuni Safitri." jawab Baiq. Syahril dan Ryan saling pandang.


Syahril yang saat menginjak kakinya di tempat itu sudah merasa jantungnya berdetak tak karuan


"Diaman dia? sama siapa dia" tanya Syahril.


"Tuh disana, sama wmak, bapak dan ayuknya Mimi, emang om kenal sama dia?." ucap Baiq. syahril dan Ryan lagi-lagi saling pandang


"Bukan kenal lagi Iq kalau yang kamu maksud Ay adiknya Mimi " ucap Ryan. Baidpq diam menelisik kedua om nya.


"Kenapa?" tanya Ryan.


"Om Aril menyukainya!" tanya Baiq tiba-tiba.


"Iya, kenapa memangnya!" ucap Syahril,


"Om yakin dia menyukai Om?" tanya Baiq.


"Jelaslah, apa lagi Ay pasti cantik juga kan kayak ayuknya!" sahut Ryan.


"Nggak ada lagi apa om cewek di dunia ini, kenapa mesti Ay yang om suka, ingat Om umur Om beda jauh dengan Ay, biarlah Ay sama biq aja umjr nya yang masih muda."


"Masa iya Om mau rebut incaran Baiq, jelaa Baiq kalah nanti." ucap Baiq tidak terima kedua pamannnya menyukai Ay.


"Makadu kamu ala sih Iq, ndak jelas banget. Usah om mau ngejar dia dulu." ucap Syahril beranjak akan menuju meja yang Baiq tunjuk, namun takdir belum memihak padanya meja yang dia tuju ternyata sudah tidak berpenghuni.


Syahril berlari keluar namun dia juga tidak menemukan keberadaan orang yang dia cari.


"Ya Allah, pertemukan aku dengannya ya Allah.." ucapnya, saat dia akan berbalik, lewatkan dua motor di hadapan nya dan pling belakang adalah motor Mimi.

__ADS_1


Syahril melihat opgadis yang akan mengatup kaca helm nya. Saat tersadar dia pun memanggil namanya dan mengejar namun motor tersebut sudah melesat meninggalkan tempat itu


tbc


__ADS_2